You are on page 1of 16

B.

PEMBAHASAN

1. Macam-macam Hukum Bacaan Mad


Makna dari hukum bacaan mad terbagi menjadi dua. Secara bahasa, mad
mempunyai arti memanjangkan dan menambah. Adapun menurut istilah, mad
adalah memanjangkan suara salah satu huruf dari huruf-huruf mad.1 Secara garis
besar bacaan mad dibagi menjadi dua, yaitu 1) Mad Thabi‟i, 2) Mad Far‟i.
Sedangkan mad far‟i dibagi lagi menjadi 14 sehingga keseluruhan mad ada 15
macam. Berikut penjelasan dan hukum bacaannya:
a. Mad Ashli/Thabi’i (‫)مَدََطَبَيعي‬
Mad thabi‟i adalah bacaan huruf hijaiyah yang dipanjangkan secara biasa,
atau sering disebut mad pokok (mad asli). Mad thabi‟i, yakni apabila ada alif (‫)ا‬
terletak sesudah fathah atau ya‟ sukun sesudah kasrah atau wawu sesudah
dhammah maka dihukumi mad thabi‟i. Cara membacanya yaitu dipanjangkan satu
alif (2 harakat). Disebut mad thabi‟i apabila terdapat hal-hal berikut: 2

1) Jika ada ‫ ا‬jatuh sesudah harakat fathah

Contoh: ‫ا‬ْٛ ُ ٌ‫لَب‬

2) Jika ada ‫ و‬jatuh sesudah harakat dhammah

Contoh: ‫ا‬ْٛ ُ ٌْٛ ُ ‫ل‬

3) Jika ada ‫ ي‬jatuh sesudah harakat kasrah

Contoh: َ‫ل‬
َ ٍْ ‫ِل‬

b. Mad Far’i
Mad far‟i ialah mad yang panjangnya lebih dari pada mad thabi‟i dengan
adanya beberapa sebab, yaitu apabila di hadapannya terdapat huruf hamzah yang

1
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’anul Karim dan Tajwid, (Banyuanyar:
Az-Ziyadah). h.2.
2
Rois Mahfud, Pelajaran Ilmu Tajwid, (Depok: Rajawali Press, 2017), Cet.I, h. 30.
berbaris hidup, atau huruf lainnya yang berbaris sukun (mati) atau huruf
sesudahnya itu bertasydid.3 Mad far‟i terbagi menjadi 14 macam, yaitu:
1) Mad Wajib Muttashil (‫)مَدََوَاجبَ ُمتَّصم‬
Mad wajib muttashil yaitu apabila mad thabi‟i bertemu dengan hamzah di
dalam satu kalimat atau kata. Cara membacanya wajib panjang sepanjang 5
harakat atau dua setengah kali mad thabi‟i (dua setengah alif). Contoh: 4

َ َْ ْٛ ُّ ِ‫ََٔآئ‬,َ‫َ َخ ٍْشُإٌِّ َغآ ِء‬,َْٓ ِِ َ‫َِآ ٍء‬


َُْ َُ٘ٚ

2) Mad Ja’iz Munfasshil (َ‫)مَدََجائسَمنفصم‬


Ja‟iz artinya boleh. Munfasshil artinya terpisah. Mad ja‟iz munfasshil ialah
apabila mad asli bertemu dengan huruf hamzah pada dua kata. Huruf mad pada
akhir kata yang pertama dan hamzah pada kata kedua yang menyambutnya.
Hamzah tersebut berada awal kata yang kedua. . Disebut ja‟iz karena boleh dibaca
dua, atau empat atau enam harakat. Contoh:5

َُْ ُ‫ ََلأَْٔخ‬َٚ َ-َ‫ِب َّبَأُ ْٔ ِض َي‬


Dibaca:
Bimaa unnnnzila (ma = 2 harakat)
Bimaaaa unnnnzila (ma = 4 harakat)
Bimaaaaaa unnnnzila (ma = 6 harakat).

3) Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi/Kalimi (‫)مدَالزوَ ُمخففَكهمَي‬


Lazim artinya harus. Mukhaffaf artinya diringankan. Kilmi artinya kata.
Jadi, mad lazim mukhaffaf kilmi ialah apabila setelah huruf mad terdapat huruf
mati (sukun), maka cara membacanya yaitu dengan sepanjang 6 harakat. Contoh: 6

َْ
ََْ َ‫آ‬

4) Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi/Kalimi (‫)مدَالزوَ ُمثقَّمَكهمي‬


Mutsaqqal artinya diberatkan. Mad lazim mutsaqqal kalimi/kilmi ialah
apabila ada mad thabi‟i bertemu dengan tasydid di dalam satu kata, maka cara

3
Ibid.
4
Ibid.
5
Ibid., h. 31.
6
Ibid.
membacanya harus panjang selama tiga kali mad thabi‟i atau enam harakat. Dan
kemudian masuk ke dalam huruf yang bertasydid. Contoh:7

ََِّْٗ ‫َاٌَطَّآ‬,َْٗ‫َاٌَصَّآ َّخ‬,ََْٓ ٌٍِّ‫َلَاٌضَّآ‬َٚ


Waladhdhoooooolliiiiiin, aththoooooommmmah.

ِ ‫س ُك‬
5) Mad ‘Arid Lissukun (‫ون‬ ُّ ‫ض لِل‬
ْ ‫) َمدْ َعا ِر‬
„Arid artinya baru. Lissukun artinya karena sukun (mati). Mad „Arid
lissukun ialah apabila ada waqaf atau tempat pemberhentian membaca sedang
sebelum waqaf itu ada Mad Thabi‟i atau Mad Lein, maka cara membacanya ada
tiga macam, yaitu:
a) Yang lebih utama dibaca panjang seperti mad wajib muttashil (enam harakat),
b) Yang pertengahan dibaca empat harakat yakni dua kali mad thabi‟i,
c) Yang pendek yakni boleh hanya dibaca seperti mad thabi‟i biasa.

Contoh:8
ََْ ُْٚ ‫ٌََْٕظُش‬,ََْ ْٛ ُّ ٍَ‫حَ ْع‬

6) Mad Layyin atau Mad Lin (‫)مدَنين‬


Lin artinya lunak. Mad lin ialah apabila ada wawu sukun atau ya‟ sukun
sedang huruf sebelumnya yaitu berharakat fathah, maka cara membacanya
sekedar lunak dan lemas. Hukum atau cara membaca Mad Lin atau Mad Layyin
adalah dipanjangkan 2, 4 atau 6 harakat jika menemukan bacaan serupa hingga
akhir bacaan. Contoh:9

َ ‫ َس ْأ‬,ََِ ْٛ َ‫َاٌم‬
َِْٓ ٍ‫يَاٌْ َع‬ ْ َٓ ِِ َ,َ‫ف‬ ْ َٓ ِِ
ِ ْٛ ‫َاٌ َخ‬
7) Mad Shilah Qashirah (َ‫)مدَصهتَقصيرة‬
Mad shilah qasirah (pendek), yaitu mad shilah yang tidak diikuti hamzah.
Dibaca panjang dua harakat/satu alif. Contoh:10

7
Ibid.
8
Ibid., 32.
9
Ibid.
10
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Hadis Untuk Madrasah Tsanawiyah
Kelas IX, (Jakarta: Kementrian Agama, 2016), Cet.I, h. 6.
ُ َٗ ٌََٚ َ‫ث‬ َ ‫ِأَّ ََُٗ َو‬
ِ ‫ا‬َٛ َّ ‫َ َِبف ِىبٌ َّغ‬,َْ‫ب‬
Mad shilah terbagi menjadi dua macam, yaitu: Mad Shilah Qashirah dan
Mad Shilah Thawilah. Mad shilah qasirah artinya mad shilah yang pendek, dibaca
dua ketukan. Cirinya:11
a) Ha‟ dhomir (dhomir: kata ganti/pronoun),
b) Didahului dan diikuti oleh huruf hidup,
c) Ha dhomir hanya berharakat kasrah (i) atau dhomah,
d) Tidak bertemu dengan hamzah (kalau bertemu dengan hamzah namanya Mad
Shilah Thawilah, dan dibaca enam ketukan).

8) Mad Shilah Thawilah (‫)مدَصهتَطويهت‬


Hukum bacaan mad ini fokus kepada dua hal yaitu ha‟ dhamir/kata ganti
dan hamzah. Menurut bahasa, mad artinya panjang, shilah berarti hubungan.
Secara istilah mad shilah adalah bacaan yang terjadi karena adanya ha‟ dhamir
yang tidak didahului sukun, tidak didahului bacaan panjang, tidak diikuti sukun,
dan tidak diikuti hamzah. Bacaan mad shilah ini hanya terjadi pada ha‟ dhamir.
Namun, tidak semua ha’ itu dhamir.12 Hukum atau cara membacanya
dipanjangkan 2 sampai 6 harakat. Contoh:13

َ‫ ِاَلََّ ِب َّب َشآ َء‬,َُٖ‫ِاَلَّ ِبإِ ْر ِٔ َِٗ ِع ْٕ َذ‬


9) Mad ‘Iwadh ( ‫) مدَ ع َِوض‬
„Iwadh artinya ganti. Mad „iwadh ialah apabila ada fathatain pada bacaan
waqaf (pemberhentian) di akhir kalimat, maka cara membacanya seperti mad
thabi‟i. Contoh:14

‫اجًب‬َٛ ‫َع‬,َ‫ًب‬
ِ ‫ٌِبَبع‬

11
Ibid., h. 33.
12
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Hadis Untuk Madrasah
Tsanawiyah Kelas IX, Op. Cit., h. 5.
13
Rois Mahfud., Op. Cit., h. 34.
14
Ibid. h. 34
10) Mad Badal (َ‫)مدَبدل‬
Badal artinya, ganti. Dinamakan mad badal karena ada huruf mad (‫ ي‬,‫)و‬
menggantikan hamzah sukun. Mad badal terjadi karena adanya hamzah berharakat
fathah, dhommah, atau kasrah, bertemu hamzah sukun. Hamzah tersebut diganti
dengan harakat berdiri (,). Cara membacanya dipanjangkan dua harakat/ satu alif.
Contoh:15

َْ‫َاٌِْ َّب‬,ََ ‫آَ َد‬


Badal artinya ganti, karena yang sebenarnya huruf mad yang ada tadi
asalnya hamzah yang jatuh sukun kemudian diganti menjadi ya atau alif atau
wawu.16
ََ ‫ََآ َد‬asalnyaَ ََ ‫أَأَد‬
ََْ‫ََ ِإ ٌْ ََّب‬asalnyaَْ‫َ ِإ ْئ َّب‬
11) Mad Lazim Harfi Mukhaffaf َ)‫)مدَالزوَحرفَ ُمخفف‬
Harfi artinya huruf. Mad lazim harfi mukhaffaf ialah mad (panjang)
dengan satu alif atau dua harakat ketika membaca huruf Ha, Ya, Tho, Hamzah,
Ra. Yang terdapat pada awal surah-surah Al-Qur‟an tertentu.17

ُ‫َح‬:َ‫ح‬
Dibaca: Hämïm

‫ٌَظ‬:َ‫ي‬
Dibaca: Yäsïn

ٗ‫َط‬:َ‫ط‬
Dibaca: Thöhä

ٗ‫َط‬:َٖ
Dibaca: Thöhä

15
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Hadis Untuk Madrasah
Tsanawiyah Kelas IX, Loc. Cit.
16
Ibid., h. 35.
17
Ibid.
‫َاٌش‬:َ‫س‬
Dibaca: Alif Lämrö

12) Mad Lazim Harfi Mutsaqqal/Musyabba’ (َ‫)مدَالزوَحرفَ ُمثقَّم‬


Mad lazim harfi mutsaqqal adalah sejumlah huruf yang terdapat pada
pembukaan surat, yang dibaca sepanjang 6 harakat. Hurufnya terdiri dari delapan
huruf, yakni:18

ََ‫َْقَصَعَطَيَن‬
Contoh:

َْ,ٌُ‫ا‬

13) Mad Tamkin (‫)مدَتمكين‬


Tamkin artinya penetapan, pemantapan atau penguatan. Mad tamkin ialah
apabila ada ya sukun () yang didahului dengan ya yang bertasydid dan harakatnya
kasrah, dan cara membacanya ditepatkan dengan 1 alif atau 2 harakat. Contoh: 19

ََْٓ ٍٍِِّ‫َٔب‬,َُْ ُ‫ ُحٍٍِّْخ‬,ََْٓ ٍٍٍِِّ‫َ ِع‬,ََْٓ ٍٍِِّ‫ِعخ‬


Dibaca: „itiyyiiiin, „iliyyiiiin, huyyiitum, nabiyyiiiin.

14) Mad Farqi (‫)مدَفرَق‬


Menurut bahasa, farqi berarti pembeda. Maksudnya bacaan mad ini
digunakan untuk membedakan antara kalimat tanya dan bukan kalimat tanya.
Yang dibaca panjang (mad) adalah kalimat tanya. Sedangkan yang dibaca pendek
(bukan mad), bukan kalimat tanya.
Panjang bacaan mad farqi ini adalah enam harakat/ tiga alif. Cara
membacanya, dengan memangjangkan hamzah istifham (kata tanya) 6 harakat
lalu diidzghomkan kepada huruf berikutnya.
Bacaan mad farqi ini tidak banyak dalam Al-Qur‟an, hanya ada pada
beberapa tempat, misalnya QS. Al-An‟am: 143-144.20

18
Ibid., h. 36.
19
Ibid.
َّ ًُْ‫ل‬
َِ ٌ‫َآٌز َو َش‬
(١٤٣).... ْٓ

َِ ٍٍََ‫َاْلُْٔث‬
(٤٤٣).... ْٓ ْ َِ َ‫َآٌز َو َشٌ َِْٓ َح َّش َََأ‬
َّ ًُْ‫ل‬

2. Ayat Al-Qur’an tentang Fenomena Alam


Allah Swt menciptakan alam semesta dengan segala isinya sekaligus
aturan dan hukum-hukum yang berlaku bagi tata kerja alam tersebut, yang biasa
disebut dengan istilah sunatullah. Dengan sifatNya Rabbul „Alamin, Allah Swt
senantiasa memelihara alam dengan segala isinya termasuk manusia, binatang dan
tumbuh-tumbuhan dalam pengawasan dan pemeliharaanNya. Dengan demikian
keamanan dan kehancuran alam semesta berada dalam genggaman Allah Swt,
maka dari itu dalam sub bab ini akan membahas berbagai fenomena yang terjadi
di alam ini sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Berikut ini,
21
pemaparannya:
a. Quran surat Al-Qari’ah ayat 1-11:

ِ ُٛ‫اػَاٌْ َّبْث‬
َ‫د‬ ِ ‫َْإٌَّبطُ َ َو ْبٌفَ َش‬ٛ
ُ ‫ ٌََََ ُى‬ْٛ ٌََ.َُ‫بس َعت‬ ْ َِ َ‫ن‬
ِ َ‫بَاٌم‬ َ ‫ َِبَأَ ْد َسا‬َٚ َ.َُ‫بس َعت‬ ْ َِ َ.َُ‫بس َعت‬
ِ َ‫بَاٌم‬ ِ َ‫ْاٌم‬
ِ ‫َفًَِ ِعٍ َش ٍتَ َس‬َٛ َُٙ‫َف‬.ٌَُُٕٗ‫اص‬
َ‫اضٍَ ٍت‬ ِ َٛ َِ َ‫ج‬ ِ ُ‫ َِْٓاٌْ َّ ْٕف‬ٙ‫َْ ْاٌ ِجبَبيَُ َوبٌْ ِع‬ٛ
ْ ٍَُ‫َفَؤ َ َِّبَ َِ َْٓثَم‬.َ‫ػ‬ٛ َُ ‫حَ ُى‬َٚ َ.
َ ‫ َِبَأَ ْد َس‬َٚ َ.َ‫ٌَت‬ٚ‫ب‬
ٍََِْٗ٘ َ‫انَ َِب‬ ِ ََُُِّ٘ٗ ُ ‫َفَؤ‬.ٌَُُٕٗ‫اص‬ ْ َّ‫أَ َِّبَ َِ َْٓ َخف‬َٚ.
ِ َٛ َِ َ‫ج‬ َ
Artinya:
“(1) Hari kiamat, (2) Apakah hari kiamat itu? (3) Tahukah kamu apakah hari
kiamat itu? (4) Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
(5) Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (6) Dan
adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, (7) Maka dia berada
dalam kehidupan yang memuaskan. (8) Dan adapun orang-orang yang ringan
timbangan (kebaikan)nya, (9) Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
(10) Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (11) (yaitu) api yang sangat
panas.”

20
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Hadis Untuk Madrasah Tsanawiyah
Kelas IX, Op. Cit., h. 7.
21
Ibid., h. 14-21.
1) Kandungan surat Al-Qari'ah
Surah Al-Qari'ah adalah surah ke-101 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri
atas 11 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyyah, diturunkan sesudah
surah Quraisy. Nama Al-Qari'ah diambil dari kata Al-Qari'ah yang terdapat pada
ayat pertama, artinya menggebrak atau mengguncang, kemudian kata ini dipakai
untuk nama hari kiamat. Pokok isi surah ini adalah kejadian-kejadian pada hari
kiamat, yaitu manusia bertebaran, gunung berhamburan, amal perbuatan manusia
ditimbang dan ancaman Neraka Hawiyah.

2) Penjelasan ayat
Ayat 1-3:
Berisi pemberitahuan akan datangnya hari kiamat, dan pertanyaan apakah
hari kiamat itu. Pertanyaan bukan berarti ketidaktahuan Allah Swt melainkan
untuk menarik perhatian siapa saja yang mendengarkan.

Ayat 4-5:
Menjelaskan peristiwa yang terjadi pada hari kiamat keadaan manusia
sangat panik, ketakutan dan kebingung. Mereka berlarian tak tentu arah sehingga
mereka digambarkan seperti anai-anai yang bertebaran. Diantara para mufassir
ada yang menjelaskan makna anai-anai adalah laron-laron yaitu binatang yang
terbang tak tentu arah, ia hanya terbang apakah ia akan selamat tau celaka. Ada
yang memaknai anai-anai dengan binatang atau serangga kecil yang sering
bertebarang mengelilingi lampu. Sedangkan gunung-gunung digambarkan seperti
bulu yang berhamburan.
Gunung adalah sesuatu yang bermateri berat dan bulu adalah sesuatu yang
sangat ringan. Bisa dibayangkan kedahsyatan kiamat pada saat itu sehingga
gunung diibaratkan seperti bulu yang dihambur-hamburkan sehingga menjadikan
manusia menjadi kebingungan. Kita biasa memikirkan, ada satu gunung berapi
mengalami erupsi, sudah menjadikan manusia kebingungan, mencari
perlindungan dan tempat yuang aman, mereka mengungsi dan meninggalkan harta
bendanya. Apa lagi ketika gunung-gunung berapai semua berhamburan,
mengeluarkan llahar panas tentu akan menjadikan situasi yang tidak menentu.

Ayat 6-9:
Menjelaskan adanya dua golongan manusia, yaitu golongan orang-orang
yang mempunyai timbangan kebaikannya lebih berat dan orang-orang yang
mempunyai timbangan kebaikannya ringan. Setelah hari kiamat ada yang disebut
dengan yaumul ba‟as yang artinya hari dibangkitkannya manusia dari kubur.
(ba‟ast = bangkit) sedangkan yaumul mahsyar yaitu dikumpulkannya manusia di
padang mahsyar setelah itu manusia menerima catatan amalnya selama di dunia.
Dengan catatan amal itu manusia dihisab (dihitung) dan dimizan (ditimbang)
semua amalnya. Hal tersebut dinamakan yaumul hisab.
Setelah itu manusia mendapatkan reward dan punishment atas seluruh
perbuatannya di dunia pada saat yaumul jaza‟ (jaza‟=pahala) orang yang memiliki
timbangan amal kebaikan yang banyak akan mendapatkan kehormatan dengan
dimasukkannya ke dalam kehidupan yang memuaskan (surga). Dan kebalikannya
orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang sedikit akan dimasukkan
Allah Swt ke dalam Neraka Hawiyah.

Ayat 10-11:
Menjelaskan tentang neraka Hawiyah. Hawiyah artinya yang turun. Maka
orang yang memiliki amal kebaikan yang sedikit akan dimasukkan Allah Swt ke
dalam neraka Hawiyah. Apakah dan bagaimanakah neraka hawiyah itu? Adalah
api yang panas. Api yang panas, (bergejolak).

b. Quran surat Al-Zalzalah ayat 1-8:

ِ ْ ‫لَب َي‬َٚ َ.َ‫َب‬ٌَٙ‫َاْلَسْ ضُ َأَ ْثمَب‬


ُ ‫َاْل ْٔ َغ‬
َ‫بَْ َِب‬ ْ ‫ج‬ ِ ‫أَ ْخ َش َج‬َٚ .َ‫َب‬ٌَٙ‫َص ٌْضَا‬
ِ ُ‫َاْلَسْ ض‬
ْ ‫ج‬ ِ ٌَ‫ِإ َراَ ُص ٌْ ِض‬
َ‫ا‬ْٚ ‫ َِئِ ٍزٌََصْ ُذسَُإٌَّبطُ َأَ ْشخَبحًبٌٍَُِ َش‬ْٛ ٌََ.َ‫َب‬ٌََٙ‫ َح ٰى‬ْٚ َ‫هَأ‬ َ َّْ َ ‫َبؤ‬.َ‫ب‬
َ َّ‫َسب‬ ِ َ٘‫بس‬َ َ‫ِّدَأَ ْخب‬
ُ ‫ ََِئِ ٍزَحُ َحذ‬ْٛ ٌََ.َ‫َب‬ٌَٙ
ُ َٖ‫ َِ ٌََْٓ ْع ًَّْ َ ِِ ْثمَب َيَ َر َّس ٍةَ َش ًّشاٌََ َش‬َٚ َ.َُٖ‫َفَ َّ ٌََْٓ ْع ًَّْ َ ِِ ْثمَب َيَ َر َّس ٍةَخَ ٍْشً اٌََ َش‬.َُْ ٌَُٙ‫أَ ْع َّب‬
Artinya:
“(1)Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), (2)Dan bumi
Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, (3)Dan manusia
bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", (4)Pada hari itu bumi
menceritakan beritanya, (5)Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah
memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (6) Pada hari itu manusia ke
luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan
kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, (7) Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) Dan
barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya pula.”

1) Kandungan surat Al-Zalzalah,


Surat Al-Zalzalah terdiri atas 8 ayat, surat Al Zalzalah termasuk golongan
surat-surat Madaniyah atau diturunkan di Kota Madinah. Surat Al Zalzalah
diturunkan sesudah surat An Nisaa. Nama Al Zalzalah diambil dari kata “Zalzala”
yang terdapat pada ayat pertama yang mengandung arti “ kegoncangan” Pokok-
pokok Isi Kandungan surat Al Zalzalah adalah kegoncangan bumi yang amat
hebat pada hari kiamat dan kebingungan manusia ketika itu; manusia pada hari
kiamat itu dikumpulkan untuk dihisab (dihitung) segala amal perbuatan mereka
ketika hidup di dunia.

2) Penjelasan ayat
Ayat 1-2:
Menjelaskan gambaran hari kiamat. yaitu ketika bumi digoncangkan
dengan goncangannya yang belum pernah terjadi sama sekali sebelumnya. Dan
bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Yang dimaksud
semua itu adalah seluruh isi bumi baik berupa lahar yang pijar, barang tambang,
timbunan harta maupun bangkai termasuk pula orang-orang yang telah terkubur di
dalamnya.
Ayat 3-6:
Diceritakan bahwa setiap orang yang menyaksikan akan mendapatkannya
sangat jauh berbeda dengan peristiwa-peristiwa serupa yang pernah terjadi
sebelumnya dan secara rasional mereka tidak akan dapat mengetahui apa
penyebabnya sehingga mereka bingung dan tercengang lalu berkata “apa gerangan
yang terjadi pada bumi ini?”
Pada waktu terjadinya guncangan itu bumi mengungkapkan segala yang
telah terjadi padanya, pemberitaan oleh bumi itu adalah rekonstruksi yakni semua
perubahan dan kerusakan yang terjadi akan memberitahu orang yang bertanya dan
menjelaskan keterangan yang ada padanya dan apa yang mereka lihat bukan
karena proses alamiah belaka melainkan karena Allah Swt telah memerintahkan
pada bumi untuk menjadi demikian.
Pada hari terjadi gempa besar itu, manusia keluar dari kuburnya dalam
keadaan yang bermacam-macam (ada diantara mereka yang putih mukanya dan
ada pula yang hitam dan sebagainya). Dengan kata lain mereka keluar dengan
kelompok-kelompok yang terpisah-pisah. Setiap kelompok akan mengarah ke
tempatn masing-masing (surga atau neraka). Dengan kata lain mereka keluar
berbondong-bondong lalu diperlihatkan kepada mereka balasan amal sesuai yang
mereka lakukan di dunia berdasarkan kitab/suhuf (catatan amal perbuatan semasa
di dunia) yang mereka terima setelah melewati hisab.

Ayat 7-8:
Menjelaskan bahwa semua amal akan diperhitungkan, tidak akan hilang
sekalipun sangat sedikit. Barang siapa yang berbuat kebaikan sebesar dzarroh
Allah Swt akan memberikan balasan yang setimpal begitu pula untuk amal buruk.
Dzarroh adalah semut yang paling kecil ada juga yang mengatakan debu yang
bertebangan yang terlihat pada sinar matahari yang memasuki kamar. Jadi benar
bahwa seluruh manusia akan menerima balasan yang setimpal dengan apa yang
pernah ia lakukan di dunia. Disinilah Allah Swt menunjukkan sifatnya Yang
Maha Adil.
c. Fenomena Alam dalam QS. AL-Qaari’ah dan QS.Al-Zalzalah
Surat Al-Qaari‟ah dan Surat Az-Zalzalah mempunyai kesamaan dan
keterkaitan yang erat. Keduanya sama-sama menjelaskan fenomena alam pada
saat terjadinya kiamat. Diantaranya hancurnya alam semesta, gunung meletus,
gempa bumi, angin ribut, badai dan lain-lain dalam waktu yang bersamaan dan
maha dahsyat. Yang demikian dinamakan kiamat kubro. Walau hal tersebut
merupakan gambaran keadaan alam pada hari kiamat namun fenomena alam
tersebut mungkin terjadi jauh sebelum kiamat itu terjadi, dengan tempat, skala dan
rentang waktu yang tidak bersamaan. Seperti banyak bencana-bencana alam yang
sering kita saksikan, yang demikian dinamakan kiamat sughro.
Kedua surat tersebut seutuhnya adalah peringatan akan adanya
keguncangan bumi dan alam semesta. Di dalamnya juga perintah untuk
memperbanyak amal sholih dan tidak meremehkan amal sekecil apapun karena
akan ada yaumul hisab. Seluruh fenomena alam yang terungkap pada kedua ayat
tersebut merupakan sunnatullah atau hukum alam yaitu hukum yang berlaku
sesuai dengan kodrat alam. Sehingga seluruh yang ada di alam semesta ini
mengikuti kehendak Allah Swt, dan tak ada seorangpun yang mengetahui kapan
berakhirnya kehidupan ini.

3. Ayat dan Hadits tentang Memanfaatkan Waktu dan Mencari Ilmu


Waktu atau masa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah seluruh
rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. 22
Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian,
atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Waktu adalah salah
satu nikmat yang agung dari Allah Swt kepada manusia. Sudah sepantasnya
manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk
amal shalih. Islam menganjurkan agar manusia memanfaatkan waktu dan
kesempatan yang dimiliki sehingga ia tidak termasuk golongan orang
yang merugi. Hal itu tercantum dalam Qur'an Surat. „Ashr dan Rasulullah Saw

22
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan :
Balai Pustaka, 1997), h. 48.
juga menganjurkan agar manusia memanfaatkan kesempatan yang ia miliki.
Diantaranya sebagai berikut:23
a. Quran surat al-Ashr ayat 1-3

ِ َّ ُِْ ‫ِبغ‬
ٍَُِ ‫ََّللاَاٌشَّحْ َّ َِٓاٌش َِّح‬
‫اٌْ َعصْ َِش‬َٚ َ(1)
ٍ ‫بٌََْفًَِ ُخغ‬
َ‫ْش‬ ِ ْ َّْ ‫(َ ِإ‬2)
َ ‫َاْل ْٔ َغ‬
‫صب َِْش‬
َّ ٌ‫اَبب‬ َ َٛ َ‫ح‬َٚ َِّ‫اَب ْبٌ َحك‬
ِ ْٛ ‫اص‬ َ ‫ا‬َٛ َ‫ح‬َٚ
ِ ْٛ ‫ص‬ َ ‫ث‬ َ ‫( َ ِإ ََّلَاٌَّ ِز‬3)
ِ ‫اَاٌصَّبٌِ َحب‬ٍُِّٛ ‫ َع‬َٚ َ‫ا‬َُِٕٛ ‫ٌَٓآ‬
Artinya:
“(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3)
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.” (QS. Al-'Ashr. :1-3)

Penjelasan ayat Quran surat al-Ashr ayat 1-3


Banyak orang yang mengutuk waktu „Ashar. Mereka mengatakan bahwa
waktu ashar adalah waktu yang celaka atau waktu nahaas. Menurut mereka
banyak bahaya yang terjadi pada waktu Ashar.
Berkait dengan hal tersebut, turunlah Surah Al 'Ashr yang memberi
penjelasan ashar tidak salah. Kesalahan sebenarnya adalah manusia yan
menggunakan waktu tesebut untuk hal-hal yang tidak terpuji. Penjelasan Ayat
Pada ayat pertama, Allah Swt memulai surat ini dengan sumpah.
Sebagaimana َ ،ٍٓ‫اٌخ‬َٚ ،‫اٌضحى‬َٚ ،‫اٌفجش‬َٚ ،‫اٌشّظ‬ٚ, Ketika manusia bersumpah
atas nama Allah Swt, maka Allah Swt bersumpah atas nama makhlukNya. Hal
tersebut disebabkan tidak ada selain Dia kecuali makhlukNya. Dan sumpah Allah
Swt demi masa ini menunjukkan bahwa waktu itu sangat penting sehingga Allah
Swt bersumpah dengannya. Sebagaimana sumpah manusia untuk meyakinkan

23
Ibid., h. 47-61.
seseorang akan kebenaran, maka Allah Swt pun meyakinkan manusia akan
pentingnya sebuah waktu bagi manusia.
Pada ayat kedua, “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam
kerugian” menunjukkan bahwa manusia banyak yang merugi. Sangat disayangkan
bahwa kerugian manusia tersebut tidak banyak yang menyadarinya, sehingga
Allah Swt bersumpah akan hal tersebut untuk meyakinkan manusia bahwa mereka
sungguh berada dalam kerugian. Kerugian apakah yang dialami manusia? Yang
mereka alami adalah kerugian tidak dapat menggunakan waktu di dunia ini
dengan sebaik-baiknya sesuai dengan petunjuk Islam. Pada ayat ketiga, dijelaskan
bahwa ada 3 syarat agar manusia tidak dikategorikan sebagai orang merugi. Yaitu
beriman, mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan
kesabaran.
Iman adalah syarat pertama manusia sebelum syarat yang lain. Hal
tersebut menunjukkan bahwa iman merupakan hal mendasar yang tidak boleh
dilupakan manusia. Keimanan akan sangat berpengaruh pada kehidupan setiap
manusia. Siapapun yang memiliki keimanan yang kuat ia akan dapat
mengamalkannya dalam keseharian, sehingga jika iman sudah di hati maka tidak
mungkin manusia akan melupakan amal sholeh dan kebajikan, yaitu seluruh
perbuatan baik yang tidak melanggar norma-norma ajaran Islam. Demikian surat
ini menerangkan bahwa, semua manusia berada dalam keadaan merugi apabila dia
tidak mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan yang baik.

c. Hadits

Rasulullah Saw bersabda:

ََُ ٍَّ‫ َع‬َٚ


َ ِٗ ٍْ ٍَ‫َصٍَّىََّللاَ َع‬ َ ‫َأَخَ َز‬:َ‫بي‬
َ ِ‫يََُّللا‬ُْٛ ‫َسع‬ َ َ‫ ُ َّبَل‬ْٕٙ ‫ض ًَََّللاَ َع‬
ِ ‫َع َْٓ َع ْب ِذََّللاَِب َِْٓ ُع َّشَ َس‬
َ‫يَُإِ َرا‬ْٛ ُ‫وب َ ََْاب َُْٓ ُع َّشٌََُم‬َٚ ًٍَْ ٍ‫َ َعب ِب ُش َع ِب‬ْٚ َ‫َشٌْبَأ‬ َ ََّٔ‫َ ُو َْٓفًَِاٌ ُّذٍَْٔبَ َوؤ‬:‫بي‬
ِ ‫هَغ‬ َ َ‫ِب َّْٕ ِى ِبًَفَم‬
َ‫ه‬ ِ ْٓ ِِ َ‫ ُخ ْز‬َٚ َ‫َاٌ َّ َغب َء‬
َ ِ‫َص َّحخ‬ ْ ‫إِ َراَأَصْ بَحْ جَ َفَلََحَ ْٕخ َِظ ِش‬َٚ َ‫صبَب َح‬
َّ ٌ‫أَ ِْ َغٍْجَ َفَلََحَْٕخ َِظ ِشَا‬
‫اَٖاٌبخبسي‬ٚ‫هَس‬
َ ِ‫ح‬ْٛ َّ ٌَِ‫ه‬ َ ْٓ ِِ ََٚ َ‫ه‬
َ ِ‫َحٍَبح‬ َ ‫ض‬
َِ ‫ٌِ َّ َش‬.
Artinya:
“Dari Abdullah bin Umar ia berkata: ‘Rasulullah Saw memegang kedua
pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang
asing atau orang yang melewati suatu jalan.’ Ibnu Umar berkata.’ Apabila kamu
berada di sore hari janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi
hari (datang). Apabila kamu berada di pagi hari jangankah menunggu
(melakukan sesuatu) hingga sore (datang). Gunakan waktu sehatmu untuk
menghadapi sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR.
Bukhari).

Penjelasan Hadits
Hadits tersebut menjelaskan tentang pentingnya waktu. Bahwa kita
disuruh bersikap seperti orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. Ada
juga yang mengartikan orang yang menyeberang jalan. Dengan demikian kita
harus menyadari bahwa kesempatan hidup di dunia ini hanya sebentar, seperti
orang yang singgah ketika dalam perjalanan. Tidaklah mungkin orang yang
sedang menyeberang jalan, bersantai di tengah jalan sedang ia belum sampai
seberang. Tidaklah mungkin orang yang sedang singgah di perjalanan akan asyik
bersantai sedangkan perjalanan belum sampai ke tujuan. Jika kita menginginkan
tempat abadi yang memuaskan kelak, maka mestinya kita menyiapkan bekal kita,
menggunakan waktu di perjalanan kita ini sebaik-baiknya. Jangan lengah ketika
dalam perjalanan agar kendaraan kita tidak salah arah. Hendaknya kita gunakan
waktu kita dengan berbagai hal yang berguna yang tidak menyalahi aturan agama
kita. Janganlah membuang waktu percuma dengan hal-hal yang dapat mengotori
jiwa/rohani kita, yang dapat membuat kita menyesal kemudian.

َ‫إِ َراَأَصْ بَحْ جَ َفَلََحَ ْٕخ َِظ ِشَاٌْ َّ َغب َء‬َٚ َ‫صبَب َح‬
َّ ٌ‫إِ َراَأَ ِْ َغٍْجَ َفَلََحَْٕخ َِظ ِشَا‬
Artinya:
“Jika engkau berada di sore hari janganlah menunggu (melakukan sesuatu)
hingga pagi, dan jika engkau berada pada pagi hari, janganlah menunggu
(melakukan sesuatu) hingga sore hari.”
Betapa banyak menusia menunda melakukan sesuatu (yang berguna) atau
pekerjaannya atau kewajibannya pada waktu tertentu. Mereka terbiasa
menundanya sampai mereka mau melakukannya. Mereka merasa masih banyak
waktu untuk bisa melakukannya. Inilah penyakit waktu yang banyak menjangkiti
manusia. Tidak hanya dewasa, seorang remaja atau pelajar pun juga sudah banyak
yang mengidapnya. Seharusnya, seorang pelajar berusaha membiasakan diri untuk
melakukan kewajibannya sebaik-baiknya. Mestinya seorang pelajar juga berusaha
untuk berdisiplin memanfaatkan waktu dan memanfaatkan kesempatan.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

َ:‫َإغخٕ َُْخ ّْغًبَلب ًََْ َخ ّْظ‬:ََ‫يََّللاَص‬ٛ‫َلبيَسع‬:‫عَٓابَٓعببطَسضًََّللاَعَٕٗلبي‬


َ ‫غَٕبنَل ْب ًََفَ ْمش‬َٚ َ,‫ه‬
َ,‫ن‬ َ ٍ‫هَلب ًََْ ُش ْغ‬
َ ‫ف َشاغ‬َٚ,
َ ‫ه‬ َ َّ‫صحخ ََهَلب ًََْعم‬َٚ,
َ ‫ِه‬ َ َ‫َشببب‬
َ ‫هَلبْبََ٘ َش‬
َ ‫ح‬ْٛ َِ ًَْ‫هَلَب‬
ً‫م‬ٍٙ‫اٌب‬َُٚ‫َٖاٌحبو‬ٚ‫َس‬.َ‫ه‬ َ َ‫حٍَبح‬َٚ

Artinya:
“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah Saw bersabda: ‘Manfaatkan lima
keadaan sebelum datang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa
sehatmu sebelum masa sakitmu, masa sempatmu sebelum masa sempitmu, masa
kayamu sebelum datangnya fakirmu, dan masa hidupmu sebelum datangnya
matimu.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaki)

Penjelasan Hadits
Pada hadits tersebut dijelaskan, bahwa kita harus mewaspadai lima hal,
yaitu: masa muda, masa sehat, masa sempat, masa kaya, dan masa hidup. Semua
hal tersebut merupakan modal utama setiap manusia untuk mencapai
keberhasilan, termasuk dalam mencari ilmu. Sebagaimana atsar dari Imam Ali
Karramallahu wajhah. bahwa ada enam hal yang dibutuhkan seseorang dalam
mencari ilmu, salah satunya adalah waktu.