Вы находитесь на странице: 1из 7

SP-002-006

Proceeding Biology Education Conference p-ISSN: 2528-5742


Volume 15, Nomor 1
Halaman 97 - 103 Oktober 2018

Implementasi Garden-Based Learning (GBL) sebagai


Upaya Menumbuhkan Peduli Lingkungan dan
Ketrampilan Konservasi pada Siswa

Implementation of Garden-Based Learning (GBL) to Establish


Awareness Environmental and Conservation Skills on Students

Dita Aulia Pratami, Muhimatul Umami*


Jurusan Tadris Biologi, FITK IAIN Syekh Nurjati Cirebon,
Jl. Perjuangan, Kesambi Cirebon, Jawa Barat, 45132, Indonesia
*Corresponding author: muhimatul.umami92@gmail.com

Abstract: The development of Science and Technology became one of the signs of the beginning the Era of Openness,
especially in the field of information. This era of openness will affect various aspects of life one of them is
education. Currently, education in Indonesia experienced a serious crisis situation, especially a concern for
the environment is low. Appropriate environmental science learning efforts need to be done so that awareness
of environmental improvement. This study aims to inform the environment learning with Garden-Based
Learning (GBL) through Eco-school to establish awareness and environmental conservation skills on
students. The research method used a qualitative approach and included research type of literature study
which analyzed descriptively. The result of the research showed that the application of learning of GBL
through Eco-school in extracurricular activities in students is able to establish environmental awareness and
conservation skills through knowledge, skill, attitude and behaviour as well towards the environment so that
learning is more active, effective and meaningful.

Keywords: Garden-based learning, Eco-school, awareness environmental, conservation skills

1. PENDAHULUAN bahkan telah menjadi permasalahan dunia.


Permasalahan lingkungan yang terjadi di negara
Perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan berkembang dengan negara maju penyebabnya
Teknologi) yang semakin pesat merupakan salah satu tidaklah sama. Permasalahan lingkungan di negara-
tanda dimulainya Era keterbukaan, terutama bidang negara maju disebabkan oleh limbah-limbah industri
informasi. Era keterbukaan merupakan suatu kondisi seperti mercuri, gas beracun, dan sebagainya.
yang memungkinkan informasi dapat diakses secara Sedangkan permasalahan lingkungan yang terjadi di
luas. Era keterbukaan ini mempengaruhi berbagai negara-negara berkembang seperti Indonesia
aspek kehidupan salah satunya yaitu, pendidikan. disebabkan oleh limbah rumah tangga dan kotoran
Dewasa ini sistem pendidikan di Indonesia manusia. (Aziz, 2013). Akan tetapi keduanya harus
mengalami keadaan krisis yang cukup serius, seperti segera ditemukan solusinya agar tidak mengancam
lebih mengutamakan pemahaman kognitif dan keberlanjutan kehidupan manusia. Hal tersebut
hafalan sehingga saat memasuki dunia perguruan karena alam merupakan sumber kebutuhan hidup
tinggi, mental akademik dan kemandirian belum manusia, antara lain penyedia udara, air, makanan,
terbentuk. Pada dasarnya siswa tidak cukup sampai
obat-obatan, estetika, dan lainnya. Oleh karena itu,
pada pemahaman teori, karena seharusnya siswa
kerusakan alam berarti sama dengan kerusakan daya
mampu menerapkan dalam kehidupan sosial
sehingga mampu memecahkan berbagai persoalan dukung kehidupan manusia. Kerusakan alam pun
yang ada dalam kehidupan sehari-hari, seperti terjadi karena adanya kesalahan dalam memandang
permasalahan lingkungan. Permasalahan lingkungan hubungan antar manusia dan lingkungan. Berbagai
merupakan dampak dari terjadinya berbagai pandangan manusia telah menjadikan lingkungan
pencemaran, serta kurangnya kepedulian masyarakat sebagai objek yang perlu dieksploitasi sebesar-
terhadap alam sekitarnya. (Irfana, F., Meti I., & Joko besarnya, tanpa memperhatikan dampak yang akan
A., 2015) ditimbulkannya. Sehingga pada dasarnya kerusakan
Permasalahan lingkungan merupakan salah satu lingkungan sebagaian besar merupakan ulah tangan
permasalahan kompleks yang terjadi di Indonesia manusia, dan ketergantungan manusia terhadap
lingkungan menjadi faktor utama pada kerusakan
98 Proceeding Biology Education Conference Vol. 15 (1): 97-103, Oktober 2018

lingkungan. (Bahrudin, M. D.F., 2017) Sedangkan maupun metode yang tepat mampu menumbuhkan
tingkat kepedulian manusia terhadap lingkungan ketertarikan siswa terhadap pelajaran. Pendekatan
masih rendah. Kurangnya kesadaran lingkungan maupun metode yang digunakan di kelas juga harus
seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin
diantaranya faktor ketidaktahuan, faktor kemiskinan, dicapai dan sifat dari materi yang disampaikan
faktor kemanusiaan, dan faktor gaya hidup (tingkat (Rustaman, 2005)
sosial ekonomi). (Neolaka, 2007) Di Era Globalisasi ini, pendidikan seharusnya
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berperan secara aktif menyiapkan sumber daya
memberikan pemahaman yang baik tentang manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai
lingkungan terhadap setiap individu, seperti tantangan kehidupan, baik lokal, regional, nasional,
penerangan, penyuluhan, bimbingan, dan pendidikan maupun internasional. Sains biologi sebagai bagian
(formal dan non formal mulai dari TK, SD hingga dari pendidikan memiliki peranan penting dalam
perguruan tinggi). (Yafie, 2009). Selain itu untuk peningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam
menghadapi perubahan dan kerusakan bumi yang menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yakni
begitu cepat akibat dari pola kehidupan manusia yang manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis
hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, maka dan berinisiatif dalam menanggapi isu di kalangan
diperlukan perubahan paradigma dalam masyarakat. (Depdiknas, 2006). Pencapaian
pembangunan. (Mirza D., Enok M. & Disman., keterampilan proses sains siswa sangat penting
2016). Paradigma dan pola pikir seluruh umat karena menuntut siswa untuk berpikir dan bersikap
manusia perlu diganti sehingga dapat hidup selaras secara ilmiah. (Rustaman, 2003). Pembelajaran sains
dengan alam, karena dalam dekade mendatang sebagai bagian dari proses pendidikan memiliki
kelangsungan hidup umat manusia akan tergantung peran besar dalam upaya pengembangan individu di
pada kesadaran ekologi serta kemampuan manusia era global. (Solikhatun, I., Slamet S., & Maridi,
untuk memahami prinsip dasar ekologi dan hidup 2015)
yang sesuai. Sehingga pengembangan pendidikan Sains lingkungan merupakan salah satu cabang
untuk menumbuhkan ecoliteracy (literasi ekologis) sains biologi yang terkait dengan lingkungan dan
sangat perlu diterapkan di seluruh dunia demi segala interaksi yang terjadi. Upaya pembelajaran
mewujudkan masyarakat berkelanjutan. (Sonny K., sains lingkungan yang tepat perlu dilakukan untuk
2014). Oleh karena itu, salah satu solusi mengatasi menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap
permasalahan lingkungan hidup yaitu melalui proses lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup merupakan
pendidikan yang salah satunya dengan menerapkan bagian dari pendidikan kecakapan hidup mencakup
konsep konservasi dan sekolah berwawasan kecakapan pribadi, kecakapan sosial, serta kecakapan
lingkungan dalam bidang pendidikan. (Heru P., akademik yang berkaitan dengan pengembangan diri
Peduk R., Siti S., 2016) Pendidikan konservasi siswa. Adapun bentuk integrasinya dapat dilakukan
merupakan salah satu komponen penting dalam pada kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan
penyelenggaraan eco school. Pendidikan konservasi program sekolah. Pengintegrasian pada kegiatan
merupakan wujud aplikasi proses belajar mengajar intrakurikuler mengacu pada kurikulum yang
materi konservasi dan lingkungan hidup, serta wujud berlaku, seperti guru menyisipkan topik atau isu
partisipasi pelestarian lingkungan. (Mansyur Y. A., lingkungan pada mata pelajaran tertentu sehingga
Kartimi & Evi R., 2016) tidak mengganggu tujuan pembelajaran yang hendak
Kebijakan sekolah menjadi landasan bagi dicapai. Pengintegrasian pendidikan lingkungan
lembaga pendidikan dalam penyusunan perencanaan hidup pun dapat dilakukan pada kegiatan
dan anggaran serta arah tujuan dari lembaga ekstrakurikuler baik wajib maupun pilihan.
pendidikan, termasuk pengembangan kebijakan Sedangkan kegiatan yang diintegrasikan dengan
sekolah berwawasan lingkungan melalui suatu proses program sekolah yaitu melalui pemilahan sampah,
pendidikan yang mengkaitkan langsung dengan pengelolaan sanitasi, pemanfaatan listrik, air, dan
kehidupan. Melalui implementasi kebijakan sekolah ATK, pelayanan kantin, taman toga, taman sayur,
berwawasan lingkungan diharapkan tidak hanya tata taman kelas, perikanan, pengomposan, sumur
kelola sekolah yang menjadi semakin baik, tetapi resapan, keterampilan daur ulang barang-barang
diharapkan dapat membawa pengaruh bagi peserta bekas, dan penghematan energi. (Shanta R. & Kristi
didik, khususnya dalam upaya meningkatkan literasi W. 2018).
ekologis peserta didik. (Mirza D., Enok M. & Salah satu strategi pembelajaran lingkungan
Disman., 2017). yang diintegrasikan dengan program sekolah yaitu
Pembelajaran konstekstual merupakan suatu dilakukan melalui pembelajaran Garden-Based
proses pendidikan yang bertujuan memotivasi siswa Learning (GBL). Garden-Based Learning merupakan
untuk memahami makna materi pelajaran dan pemanfaatan kebun sebagai alat pembelajaran
mengaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari dimana siswa akan beraktivitas langsung melakukan
sehingga siswa memiliki pengetahuan dan kegiatan menanam, memupuk, menyiram, dan
keterampilan yang dapat diterapkan pada merawat tanaman sehingga memberikan pengalaman
permasalahan tertentu. Penerapan pendekatan dan motivasi bagi siswa agar melek ekologi dan
Pratami, et al. Implementasi Garden-Based Learning (GBL) 99

memiliki kesadaran menjaga lingkungan. Kesadaran serta membedakan hubungan antara satu mata
lingkungan merupakan hal yang patut dibangun pelajaran dengan lainnya. (Direktorat Pendidikan,
sedini mungkin, sehingga kelak siswa akan mampu 1987). Adapun penelitian ini bertujuan untuk
menjaga kelangsungan alam dan pembangunan menginformasikan bentuk pembelajaran lingkungan
secara berkelanjutan, serta mampu mengatasi dengan Garden-Based Learning (GBL) pada
berbagai permasalahan lingkungan yang marak Program Eco-school melalui kegiatan ekstrakulikuler
melanda dunia. Dengan penerapan Garden-Based siswa untuk menumbuhkan kepedulian dan
Learning, siswa akan semakin peduli terhadap ketrampilan konservasi lingkungan pada siswa.
lingkungan sekitar yang akan terus melekat dalam
diri siswa sampai masa dewasa. Berdasarkan 2. METODE
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya bahwa
penerapan Garden-Based Learning sebagai salah satu Metode penelitian ini menggunakan pendekatan
strategi pembelajaran sains lingkungan dapat kualitatif. Penelitian ini termasuk jenis penelitian
menumbuhkan kecerdasan naturalis sehingga siswa studi literatur dan dianalisis secara deskriptif. Jenis
menjadi lebih peka terhadap alam sekitarnya, seperti data yang digunakan dalam penelitian yaitu data
tidak merusak tanaman, dan senantiasa menjaga sekunder yang diperoleh dari jurnal, artikel, data
kebersihan diri sendiri dan lingkungan disekitarnya. dokumenter, dan internet.
Selain itu, dengan penerapan Garden-Based
Learning akan menambah pengetahuan siswa tentang 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
jenis tanaman, hewan serta benda-benda alam di
lingkungan sekitar sekolah. (Herwina, H., & Syaodih, Era keterbukaan seharusnya mampu membawa
E., 2016). pengaruh positif bagi sistem pendidikan di Indonesia.
Sama halnya dengan Pembelajaran Garden- Berbagai informasi dapat diakses secara luas, baik
Based Learning (GBL), program Eco-school, yaitu dalam lingkup lokal ataupun Internasional, termasuk
suatu program pendidikan lingkungan yang bertujuan informasi mengenai pendekatan pembelajaran yang
meningkatkan pemahaman seluruh elemen sekolah telah berhasil diterapkan di beberapa daerah tertentu.
mengenai arti penting lingkungan bagi kehidupan Sekolah dengan berbagai strategi pembelajaran
sehingga sekolah menjadi perintis dalam pelestarian yang diselenggarakannya memiliki peranan penting
lingkungan. Beberapa program turunan Eco-school dalam menjaga lingkungan hidup, terutama sekolah
antara lain Jaga Bumi, Forum Sekolah Hijau, dan sebagai lembaga pendidikan. Suatu pembelajaran
Forum Lokakarya Kurikulum Hijau. mengenai lingkungan dipelajari melalui cabang ilmu
Banyak program lainnya yang umumnya yaitu Ilmu Biologi. Salah satu kajian dalam Biologi
diadakan di sekolah demi menunjang proses adalah Sains Lingkungan. Sains lingkungan
pendidikan. Kegiatan Ekstrakulikuler merupakan merupakan salah satu cabang biologi yang terkait
suatu program pembinaan peserta didik di sekolah dengan lingkungan dan segala interaksi yang terjadi.
yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, Penerapan sains lingkungan di sekolah dilakukan
keterampilan ke arah pengetahuan yang lebih luas. melalui program sekolah lingkungan hidup dengan
(Susilowarno,2007). Pembinaan peserta didik adalah ciri-ciri yaitu, kondisi sekolah yang rapi dan bersih
pemberian layanan kepada peserta didik di suatu dari sampah, adanya kawasan hijau yang biasa
lembaga pendidikan, baik di dalam maupun di luar disebut taman, kesadaran warga sekolah terhadap
jam belajarnya di kelas demi mewujudkan tujuan lingkungan sekitar, penguatan kelompok pecinta
pendidikan, terutama bagi pembentukan sikap peserta lingkungan yaitu sekelompok siswa yang peduli
didik. Pembinaan peserta didik dilakukan tidak hanya terhadap lingkungan khususnya lingkungan sekolah,
pada program akademik akan tetapi juga non pengelolaan sampah sekolah, pembudidayaan
akademik, seperti melalui kegiatan ekstrakulikuler. tanaman, pengintegrasian isu lingkungan ke dalam
(Ranita, V., 2017). mata pelajaran dan kampanye lingkungan. (Ranita,
Ekstrakulikuler adalah suatu program untuk V., 2017).
memenuhi kebutuhan siswa di luar jam pelajaran Sekolah lingkungan hidup yang banyak dikenal
agar tetap melakukan kegiatan yang berpotensi oleh masyarakat yaitu melalui program Eco-school,
membentuk diri dan menggali bakat. Kegiatan yang merupakan suatu program pendidikan
ekstrakulikuler ini diharapkan mampu memberikan lingkungan dengan tujuan meningkatkan pemahaman
sumbang pengetahuan baru sehingga pengalaman seluruh elemen sekolah mengenai arti penting
belajar siswa menjadi baik dan menunjang siswa agar lingkungan bagi kehidupan sehingga sekolah menjadi
berprestasi dengan baik pula. (Hardianus, D. 2014). perintis dalam pelestarian lingkungan. Eco-school ini
Tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di memiliki berbagai program turunan yaitu jaga bumi,
sekolah yaitu untuk meningkatkan aspek kognitif forum sekolah hijau, dan forum lokakarya kurikulum
(pengetahuan), afektif maupun psikomotorik siswa, hijau. Surabaya merupakan salah satu kota yang telah
mengembangkan bakat serta minat siswa dalam menerapkan program Eco-school atau sekolah ramah
upaya pembinaan pribadi menuju manusia seutuhnya lingkungan sehingga kota ini terbukti dalam hal
yang positif, dan mampu mengetahui, mengenal, pembangunan kota yang ramah lingkungan dengan
berbagai program yang telah diterapkan tersebut.
100 Proceeding Biology Education Conference Vol. 15 (1): 97-103, Oktober 2018

Surabaya merupakan Kota Metropolitan kedua di pelajaran dan mengaitkan dengan konteks kehidupan
Indonesia setelah Jakarta. Hal tersebut berdampak sehari-hari yang dilakukan di luar kelas sehingga
terjadinya pencemaran udara. Sehingga untuk siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang dapat
mengantisipasi hal tersebut, Kota Surabaya memiliki diterapkan pada permasalahan tertentu. Adapun
komitmen untuk melestarikan lingkungan dan alam Penerapan Eco-school merupakan salah satu strategi
sekitarnya dengan cara membangunnya menjadi kota pembelajaran sains lingkungan berbasis kontekstual
hijau. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id). Out Learning.
Surabaya Eco-school 2013 adalah program Berdasarkan hasil penelitian bahwa salah satu
lingkungan hidup berkelanjutan dengan tujuan untuk bentuk inovasi pembelajaran lingkungan yaitu dapat
mengajak sekolah-sekolah di Surabaya uutuk dilakukan dengan Garden-Based Learning (GBL)
melaksanakan program lingkungan hidup melalui melalui Program Eco-school pada kegiatan
cara-cara yang edukatif, atraktif dan berkelanjutan ekstrakulikuler siswa sehingga dapat menumbuhkan
dengan melibatkan segenap warga sekolah, dengan kepedulian dan ketrampilan konservasi lingkungan
beberapa kegiatannya meliputi pengolahan sampah pada siswa. Garden-Based Learning (GBL) tidak
organik dan non organik, pemanfaatan lahan kosong hanya diartikan sebagai pemanfaatan taman atau
di sekitar sekolah dengan menanam pepohonan atau kebun sebagai sumber alat pengajaran tetapi melalui
tanaman dalam pot untuk realisasi hutan, adanya tim strategi pembelajaran Garden- Based Learning
lingkungan hidup, dan penerapkan upaya nyata (GBL) akan memberikan siswa suatu pengalaman
konservasi air. Salah satu sekolah yang ikut menarik sehingga lebih peka dan peduli terhadap
berpartisipasi sekaligus sebagai pemenang pada ajang lingkungan sekitarnya. (Desmond, 2004). Penerapan
tersebut yaitu SMAN 9 Surabaya. Program dari Garden-Based Learning (GBL) dapat dilakukan pada
Surabaya Eco-school yang telah dijalankan oleh program Eco School melalui kegiatan Ekstrakulikuler
SMAN 9 Surabaya yaitu gerakan sejuta lubang dengan tujuan sebagai pendekatan pembelajaran
resapan, yang mengajarkan siswa tentang bagaimana sains lingkungan yang juga berbasis kontekstual Out
cara membuat lubang resapan biopori dan Learning. Ekstrakulikuler merupakan wadah atau
manfaatnya terhadap lingkungan, gerakan program pembinaan peserta didik demi menunjang
penanaman pohon hutan sekolah dan hutan kota yang proses pendidikan di sekolah dalam rangka untuk
bertujuan untuk penghijauan, dan gerakan meningkatkan kemampuan, serta keterampilan ke
pengomposan sampah organik, seperti yang telah arah pengetahuan yang lebih luas. Kegiatan
dicanangkan oleh kader lingkungan dari SMAN 9 ekstrakulikuler merupakan program untuk memenuhi
Surabaya tentang pembedaan sampah yaitu antara kebutuhan siswa di luar jam pelajaran agar tetap
sampah organik dan jenis sampah anorganik. melakukan kegiatan yang berpotensi membentuk diri,
(http://sman9surabaya.wixsite.com). menggali bakat, serta sebagai sarana bagi siswa
Program pelestarian Lingkungan Hidup yang untuk menerapkan berbagai teori yang diterima siswa
diterapkan tersebut mendorong Surabaya ke posisi selama mengikuti pembelajaran di kelas (Arikunto,
terkemuka dalam bidang Pelesarian Lingkungan, 2002). Penerapan pembelajaran sains yang
sehingga Surabaya mendapat penghargaan, baik berorientasi pada pemberian pengalaman langsung
penghargaan yang bersifat nasional maupun kepada peserta didik dapat diaplikasikan salah
internasional diantaranya Adipura (penghargaan satunya melalui kegiatan ekstrakulikuler sains yang
tertinggi Nasional sebagai kota terbersih), Adiwiyata bertujuan agar siswa dilatih untuk berpikir kritis dan
(penghargaan tertinggi nasional untuk sekolah ramah lebih obyektif dalam menanggapi suatu konsep sains.
lingkungan), Kalpataru (penghargaan nasional untuk Ekstrakulikuler sains dibentuk sebagai wadah bagi
orang yang berhasil dalam melestarikan lingkungan) siswa yang memiliki minat belajar, bermain, dan
untuk bertahun-tahun secara bersamaan, Energy berkarya dengan sains sehingga dapat memberikan
Globe Award 2005, Green Apple Award 2007, manfaat, khususnya dalam pengembangan
ASEAN Environment Sustainable City, Indonesia pengetahuan dalam bidang sains. (Karyodiputro,
Green Region Award 2011, Smart City Award 2011, M.I., 2015). Pembelajaran sains tidak hanya
Future Government Awards 2013, The 2013 Asian mengedepankan pada hasil pembelajaran berupa
Townscape Award. (http://surabaya.go.id) aspek kognitif, akan tetapi aspek sikap dan
Strategi pembelajaran lingkungan memang keterampilan proses sains pun menentukan
memerlukan bentuk aplikasi secara nyata yang keberhasilan pembelajaran sains. (Ferdinandus B. S.
mendorong siswa agar belajar tidak hanya & Insih W., 2013). Oleh karena itu, Ekstrakulikuler
berdasarkan teori yang telah ada. (Hamzah & Nurdin sains bertema Eco-school merupakan salah satu
M., 2012). Konsep pembelajaran yang sesuai bagi inovasi dalam pembelajaran Out Learning Biologi
pendekatan pembelajaran sains lingkungan yaitu yang sangat diperlukan dalam pengembangan strategi
menggunakan strategi pendekatan pembelajaran pembelajaran Sains Lingkungan. Sains lingkungan
berbasis kontekstual Out Learning. Pendekatan merupakan cabang ilmu Biologi yang bersifat
pembelajaran kontekstual Out Learning merupakan aplikatif, sehingga dalam mempelajari Sains
suatu proses pendidikan dengan tujuan untuk Lingkungan tidak cukup dengan hanya sampai
memotivasi siswa agar memahami makna materi pemahaman teoritis. Keberhasilan aplikasi Sains
Pratami, et al. Implementasi Garden-Based Learning (GBL) 101

Lingkungan di sekolah telah dibuktikan oleh Kota dipandang efektif dalam menanamkan kepedulian
Surabaya yang menerapkan Program Eco-school terhadap kelestarian sumberdaya alam dan
pada beberapa sekolah di kota tersebut. Keberhasilan lingkungan. (Mulyana R., 2009). Akan tetapi belum
Surabaya dalam menerapkan Program Eco-school ada penelitian yang mendeskripsikan strategi
menjadikan Kota Surabaya terdepan dalam bidang sekolah-sekolah adiwiyata dalam membentuk
pelestarian lingkungan hidup, misalnya penghargaan karakter peduli lingkungan tersebut. Adapun dari
sebagai kota Adiwiyata. Adiwiyata merupakan salah hasil penelitian yang dilakukan oleh Amirul
satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam Mukminin Al-Anwari bahwa sekolah adiwiyata telah
rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan terbukti berhasil membentuk karakter peduli
kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan melalui empat pilar strategi, yaitu
lingkungan hidup. Pelaksanaan program Adiwiyata kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah, kegiatan
diletakkan pada dua prinsip yaitu partisipatif karena ekstrakurikuler, dan penguatan dari orang tua. (Al-
seluruh komponen sekolah harus terlibat dalam Anwari, A. M., 2014) Karakter peduli lingkungan
keseluruhan proses yang meliputi perencanaan, dan tanggung jawab dalam diri siswa akan terbentuk
pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab dan melalui perilaku peduli lingkungan dan tanggung
perannya masing-masing, dan prinsip berkelanjutan jawab yang dilakukan secara terus-menerus. Prilaku
(sustainable) karena seluruh kegiatan harus dilakukan peduli lingkungan dan tanggung jawab dapat
secara terencana dan terus menerus secara dibiasakan dalam kegiatan pembelajaran yang dapat
komprehensif. (Hasyim C., 2009) mengajak siswa aktif juga bersifat menarik dan
Dalam Program Adiwiyata, terdapat empat menyenangkan serta mampu mengajak siswa
aspek sebagai kriteria sekolah adiwiyata. Keempat berinteraksi langsung dengan lingkungan.
aspek tersebut yaitu kebijakan berwawasan Pengalaman belajar yang diperoleh siswa secara
lingkungan, kurikulum sekolah berbasis lingkungan, langsung dari lingkungan dapat meningkatkan
kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana perilaku peduli lingkungan juga dapat memberikan
pendukung ramah lingkungan. Aspek-aspek tersebut efek positif terhadap peningkatan perilaku tanggung
berperan dalam mengkondisikan lingkungan sekolah jawab siswa. Ketika siswa melihat kondisi
agar siswa dan warga sekolah lainnya terbiasa lingkungan secara langsung, siswa akan mampu
berperilaku peduli lingkungan. Pembiasaan perilaku menentukan sikap yang harus dilakukan terhadap
peduli lingkungan tersebut akan membentuk karakter lingkungan, dan secara tidak langsung menumbuhkan
peduli lingkungan siswa, dan siswa akan mempunyai softskills konservasi siswa meliputi sikap peduli
kebiasaan untuk menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan, cinta lingkungan, tanggung jawab,
lingkungannya. Program Adiwiyata harus mengacu kreatif, kerja keras, dan objektif. (Sekar D. A., Savitri
pada prinsip pelestarian fungsi lingkungan alam, W., & Susilo R., 2017)
pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan Inovasi strategi pembelajaran Garden- Based
lingkungan hidup. (Maryani, I., 2014). Learning (GBL) pada Program Eco-school, melalui
Program Adiwiyata ini awalnya dilaksanakan di kegiatan ekstrakulikuler siswa dapat menumbuhkan
10 sekolah di Pulau Jawa sebagai sekolah model kepedulian lingkungan dan conservation skills
dengan melibatkan perguruan tinggi dan LSM yang melalui pemahaman, ketrampilan, attitude dan
bergerak di bidang Pendidikan lingkungan hidup. tingkah laku yang baik dan tepat terhadap lingkungan
Menurut Al-Anwari (2014) beberapa sekolah yang sehingga pembelajaran lebih aktif, efektif dan
telah mendapatkan predikat adiwiyata dianggap telah bermakna. Begitupun menurut hasil penelitian
berhasil membentuk karakter peduli lingkungan. Hal Ranita, V. (2017) menyebutkan bahwa sikap peduli
ini diketahui dari beberapa penelitian terdahulu, lingkungan peserta didik dapat diupayakan melalui
diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Andar kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Pada
Abdi Saragih yang mengemukakan bahwa ada penelitiannya yang dilakukan di SMA Negeri 2
pengaruh yang positif dari program adiwiyata Temanggung menjelaskan bahwa melalui program
terhadap kognitif, afektif, dan psikomotorik ekstrakurikuler Kelompok Peduli Lingkungan Hidup
lingkungan siswa (Saragih, 2012). Sedangkan pada (KPLH) di SMA Negeri 2 Temanggung dengan
penelitian Yupiter L. Manurung memaparkan hasil kegiatannya meliputi gerakan aksi untuk lingkungan,
yang menunjukkan bahwa Program Adiwiyata yang oxygen invest, bank sampah, green house, latihan
diimplementasikan di SDN Panggang 04 Jepara telah dasar kepemimpinan, penanaman tanaman TOGA,
menumbuh kembangkan karakter peduli lingkungan pembuatan hidroponik sederhana, pembuatan
dari warga sekolah SDN Panggang 04 Jepara. Hal mading, daur ulang barang bekas, pembuatan pupuk
tersebut dapat dilihat melalui kegiatan yang kompos, pembuatan biopori, workshop peringatan
dilaksanakan di sekolah tersebut seperti menanam hari lingkungan hidup, dan kerja bakti membersihkan
dan merawat tanaman, memilah dan membuang lingkungan sekolah dapat membentuk sikap peduli
sampah, menghemat pemakaian air, listrik dan kertas. lingkungan pada peserta didik. Selain itu juga
(Manurung, Y.L., 2011). Serta pada penelitian membentuk sikap disiplin, mandiri dan bertanggung
Rahmat Mulyana memaparkan bahwa pendidikan jawab. (Ranita, V., 2017).
lingkungan hidup yang dilakukan di sekolah
102 Proceeding Biology Education Conference Vol. 15 (1): 97-103, Oktober 2018

Keberhasilan pelaksanaan suatu program sangat Desmond., Grieshop., & Subramaniam. (2004). Revisiting
ditentukan oleh aktivitas kreatif guru dalam Garden- Based Learning in Basic Education,
merancang program-program lingkungan hidup dan International Institute for Educational Planning/ Food
partisipatif aktif dari siswa sehingga dapat lebih and Agriculture Organization.[online]. Diakses dari
laman http://www.fao.org/sd/erp/revisiting.pdf
peduli terhadap lingkungan. Pengawasan dan Direktorat Pendidikan. (1987). Tentang Pendidikan
pengendalian kegiatan harus berprinsip pada Menengah Kejuruan. Bandung : Citra Rineka.
konsistensi, kedisiplinan seluruh pihak dalam Ferdinandus, B.S. & Insih W. (2013). Pengaruh
menjamin keberhasilan dan keberlangsungan Implementasi The 4-E Learning Cycle Terhadap
program. (Paramita, V..S., Dian I., Ndaruhadi Pengetahuan, Keterampilan Proses Dasar, Dan Sikap
P.Y.M., Amir N., 2017) Ilmiah IPA Siswa SDK Karerobbo. Jurnal Prima
Edukasia. Volume 1, Nomor 1 : Hal 1-8. Yogyakarta :
4. SIMPULAN UNY.
Hamzah & Nurdin,M. (2012). Belajar Dengan Pendekatan
PAILKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan,
Inovasi dalam pendekatan pembelajaran sains Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan ). Jakarta: Bumi
lingkungan dapat dilakukan dengan penerapan Aksara.
pembelajaran Garden-Based Learning (GBL) pada Hardianus, D. (2014). Hubungan Kegiatan Ekstrakulikuler
program Eco-school. Penerapan Garden- Based Dengan Prestasi Belajar Siswa Smk Perindustrian
Learning (GBL) melalui kegiatan ekstrakulikuler Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta : UNY
siswa mampu menumbuhkan tingkat kepedulian Heru P., Peduk R., Siti S. (2016). Hubungan Penerapan
lingkungan dan conservation skills melalui Konsep Konservasi Lingkungan Hidup Dan Tingkat
pemahaman, ketrampilan, attitude dan tingkah laku Sosial Ekonomi Dengan Pengetahuan Lingkungan
yang baik dan tepat terhadap lingkungan sehingga Pada Siswa Kelas Iii Sdn Kalangan Tahun Pelajaran
pembelajaran lebih aktif, efektif dan bermakna. 2014/2015 ( Studi Sekolah Dasar Menuju Adiwiyata).
Adapun diperlukan adanya penelitian lebih lanjut Jurnal Geo Eco, Vol. 2, No. 2.
mengenai evaluasi terhadap penerapan Garden-based Herwina, H., & Syaodih, E. (2016). Penerapan Strategi
Learning (GBL) melalui kegiatan Ekstrakulikuler Garden Based Learning Dalam Menumbuhkan
Kecerdasan Naturalis Anak Taman Kanak-Kanak
sehingga dapat diketahui efektivitas penerapan
(Penelitian Tindakan Kelas Di Kelompok B1 Tk
strategi pembelajaran tersebut. Kartika Xix-I Cabang Siliwangi Xix-I Bandung
TAHUN AJARAN 2015-2016). Jurnal Socius, 5(2).
5. UCAPAN TERIMAKASIH Hasyim C. (2009). Program Adiwiyata Sekolah Peduli dan
Berbudaya Lingkungan. Kementerian Negara
Ucapan syukur senantiasa penulis kehadirat Allah Lingkungan Hidup : Jakarta.
SWT. yang telah memberikan Nikmat berupa nikmat Irfana, F., Meti I., & Joko A. (2015). Penerapan Strategi
iman, islam dan juga nikmat sehat, sehingga dapat Pembelajaran Action Learning Terhadap Internalisasi
melakukan penelitian ini. Shalawat dan salam Karakter Siswa Dalam Pembelajaran Biologi. Jurnal
senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Pendidikan Biologi, Volume 7, Nomor 1: hal. 14-27.
SAW, keluarga dan para sahabatnya dan penegak Karyodiputro, M. I. (2015). Ekstrakulikuler Sains Sebagai
Upaya Pengembangan Sikap Ilmiah Dan Keterampilan
sunnah sampai nanti akhir zaman.
Proses Sains Peserta Didik Di SDIT Bina Anak Islam
Terimakasih juga diucapkan kepada civitas
Krapyak. Thesis. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga.
akademika jurusan Tadris IPA BOLOGI IAIN Syekh Mansyur Y. A., Kartimi & Evi R., 2016. Penerapan
Nurjati Cirebon yang telah mensupport, sehingga Pendekatan Saintifik Berbasis Konservasi Pada Materi
penelitian ini dapat terselesaikan tepat pada Keanekaragaman Makhluk Hidup Untuk Meningkatkan
waktunya. Tak lupa ucapan terimakasih juga kepada Hasil Belajar Siswa Di Smpn 1 Gempol. Scientiae
kedua orang tua yang telah memberikan dukungan Educatia: Jurnal Sains dan Pendidikan Sains, Vol. 5
baik moril ataupun materil No. 1
Manurung, Y.L. (2011). Program Adiwiyata Dalam
6. DAFTAR PUSTAKA Pengelolaan Lingkungan Sekolah (studi kasus SDN
Panggung 04 Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara
Al-Anwari, A. M. (2014). Strategi Pembentukan Karakter Provinsi Jawa Tengah). Thesis. Semarang: PPS
Peduli Lingkungan Di Sekolah Adiwiyata Mandiri. Universitas Diponegoro.
Ta’dib. Vol. Xix, No. 02 Maryani, I. (2014). Evaluasi Pelaksanaan Program
Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Sekolah Adiwiyata Ditinjau Dari Aspek Kegiatan
Praktek. Jakarta : PT Rineka Cipta. Partisipatif Di Sdn Ungaran I Yogyakarta. Jurnal
Aziz. (2013). Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup Pemikiran dan Pengembangan S. Jilid 1, No.3.
Melalui Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Mirza D., Enok M. & Disman. (2016). The Role of
Pelajar. School Principal Leadership in Implementation of
Bahrudin, M. D.F. (2017). Pelaksanaan Program Eco School Program as the Effort to Support
Adiwiyata Dalam Mendukung Pembentukan Karakter Sustainable Development. Advances in
Peduli Lingkungan Di Sma Negeri 4 Pandeglang. Economics, Business and Management Research,
Jurnal Pendidikan Geografi, Volume 17, Nomor 1. Volume 14
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mirza D., Enok M. & Disman. (2017). Implementasi
Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Kebijakan Sekolah Berwawasan Lingkungan Sebagai
Pratami, et al. Implementasi Garden-Based Learning (GBL) 103

Upaya Mengembangkan Literasi Ekologis Peserta


Didik. Social Science Education Journal, 4 (2),
Mulyana, R. (2009). Penanaman Etika Lingkungan Melalui
Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan. Jurnal
Tabularasa PPs Unimed, Vol. 6 No. 2.
Neolaka A. (2007). Kesadaran Lingkungan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Paramita, V..S., Dian I., Ndaruhadi P.Y.M., Amir N.
(2017). Manajemen Sekolah Hijau Berwawasan
Lingkungan. Jurnal Dharma Bhakti Ekuitas. Volume
2. Nomor 1.
Ranita V. (2017). Upaya Sekolah Dalam Membentuk Sikap
Peduli Lingkungan Siswa Melalui Ekstrakurikuler
Kplh Di Sman 2 Temanggung. Jurnal Hanata Widya,
Volume 6 Nomor 8.
Rustaman. (2003). Strategi Belajar Mengajar Biologi.
Bandung : Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.
Rustaman. (2005). Pengembangan Kompetensi
(Pengetahuan, Keterampilan, Sikap, Dan Nilai)
Melalui Kegiatan Praktikum Biologi. Bandung :
Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI
Saragih, A. A. (2012). Pengaruh Program Adiwiyata
Terhadapa Kognitif, Afektif Dan Psikomotorik
Lingkungan Hidup Siswa Sekolah Dasar Di Kota
Medan (Studi Kasus Di SD Swasta Pertiwi Dan SDN
06 Kecamatan Medan Barat). Thesi. Medan: Sekolah
Pasacasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
Sekar D. A., Savitri W., & Susilo R. (2017). Peningkatan
Perilaku Peduli Lingkungan Dan Tanggung Jawab
Siswa Melalui Model Ejas Dengan Pendekatan Science
Edutainment. Jurnal Ilmiah “PENDIDIKAN DASAR”,
Vol. IV No. 1
Shanta R. & Kristi W. (2018). Pengintegrasian Pendidikan
Lingkungan Hidup Membentuk Karakter Peduli
Lingkungan Di Sekolah Dasar. Trihayu: Jurnal
Pendidikan Ke-SD-an, Vol. 4, No.2.
Solikhatun, I., Slamet S., & Maridi. (2015). Pengaruh
Penerapan Reality Based Learning Terhadap Hasil
Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 5
Surakarta Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal
Pendidikan Biologi, Volume 7, Nomor 3 : Hal 49-60.
Sonny K., 2014. Filsafat Lingkungan Hidup, Alam
Sebagai Sebuah Sistem Kehidupan. Yogyakarta:
Kanisius.
Susilowarno.(2007). Biologi SMA Untuk Kelas XI. Jakarta :
Grasindo.
Yafie, A. (2006). Merintis Fiqh Lingkungan Hidup.
Jakarta: Ufuk Press.
http://sman9surabaya.wixsite.com/sman9surabaya/about
(diakses tanggal 23 Juni 2018)
http://surabaya.go.id (diakses tanggal 22 Juni 2018)
http://dispendukcapil.surabaya.go.id (diakses tanggal 19
Januari 2018)