You are on page 1of 9

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/267947883

Aktivitas Hipoglisemik Ekstrak Herba


Sambiloto (Andrographis paniculata Nees,
Acanthaceae)

Article

CITATIONS READS

2 348

8 authors, including:

Elin Yulinah Sukandar


Bandung Institute of Technology
80 PUBLICATIONS 181 CITATIONS

SEE PROFILE

All in-text references underlined in blue are linked to publications on ResearchGate, Available from: Elin Yulinah Sukandar
letting you access and read them immediately. Retrieved on: 17 October 2016
JMS Vol. 4 No. 2, hal. 62 - 69 Oktober 1999

Aktivitas Hipoglisemik Ekstrak Herba Sambiloto (Andrographis


paniculata Nees, Acanthaceae)

Soediro Soetarno, Elin Yulinah Sukandar, Sukrasno dan Agung Yuwono


Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesa 10, Bandung, 40132, Indonesia
Diterima tanggal 21 Desember 1999 disetujui untuk dipublikasikan 14 Februari 2000

Abstrak
Aktivitas hipoglisemik ekstrak heksana, etilasetat, etanol dan air herba sambiloto
telah diuji dengan metode pengujian toleransi glukosa. Ekstrak heksana, etilasetat dan
etanol diperoleh dari simplisia yang sama, yang diekstraksi secara sinambung berturut-
turut menggunakan heksana, etilasetat dan etanol. Sedangkan ekstrak air diperoleh secara
langsung dari simplisia seperti yang lazim dalam pemakaian tradisional. Pada dosis 0,5
g/kg bb, ekstrak heksana dan etilasetat tidak menunjukkan adanya aktivitas hipoglisemik,
sedangkan ekstrak etanol dan air menunjukkan aktivitas yang bermakna, dan ekstrak air
memberikan aktivitas yang lebih tinggi.

Abstract
Hypoglycemic activity of hexane, ethylacetate, ethanol and aqueous extract of
Andrographis paniculata herbs had been tested using glucose tolerance test. Extraction
was conducted consecutively using hexane, ethylacetate and ethanol. Aqueous extract was
obtained directly from the crude drug similar to the traditional use. At the dose level of
0.5 g/kg bw, hexane and ethylacetate extract did not show the hypoglycemic effect.
Significant activity was shown by ethanol and aqueous extract and the activity of the latter
was higher than the former.

Kata kunci: Andrographis paniculata, ekstrak-ekstrak, hipoglisemik, sambiloto.

1. Pendahuluan
Herba sambiloto (Andrographis paniculata Nees, Acanthaceae) merupakan salah
satu bahan obat tradisional yang paling banyak dipakai di Indonesia. Dalam buku resmi
tanaman obat Indonesia, herba sambiloto digunakan sebagai diuretika dan antipiretika1),
sedangkan pustaka obat tradisional lainnya menyebutkan bahwa herba sambiloto yang
digunakan bersama-sama dengan kumis kucing (Orthosiphon stamineus) digunakan
sebagai obat kencing manis2,3). Penggunaan tradisional ini didasarkan atas kenyataan
bahwa seduhan sambiloto mempunyai rasa yang pahit, sehingga diharapkan dapat
digunakan untuk menyembuhkan penyakit kencing manis (diabetes mellitus). Efek

62
JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999 63

analgetik, antipiretik dan antiulserogenik dari isolat andrografolida, suatu diterpenoid yang
diperoleh dari herba sambiloto telah dilaporkan4). Ekstrak etanol dan andrografolida dari
herba sambiloto juga menunjukkan aktivitas terhadap hepatitis yang disebabkan oleh
Plasmodium berghei5).

Dalam penelitian ini telah dikaji efek hipoglisemik ekstrak heksana, etilasetat dan
etanol dari herba sambiloto yang diperoleh secara ekstraksi bertahap berdasarkan
kepolaran mulai dari heksana hingga etanol. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji
toleransi glukosa pada tikus. Sebagai bahan perbandingan, ekstrak air yang diperoleh
langsung dari simplisia seperti pada penggunaan tradisionalnya juga diuji.

2. Bahan dan Metode


2.1 Bahan uji
Herba sambiloto diperoleh dari daerah Klaten (Jawa Tengah) dan diidentifikasi
sebagai Andrographis paniculata Nees (Acanthaceae) di Herbarium Bandungense, Jurusan
Biologi, FMIPA ITB. Herba yang telah dikeringkan digiling untuk menghasilkan serbuk.

2.2 Ekstraksi dan penyiapan bahan uji


Serbuk (500 g) diekstraksi secara sinambung dengan alat Soxhlet secara berturut-
turut menggunakan pelarut heksana, etilasetat dan etanol. Ekstrak yang diperoleh
dipekatkan pada suhu tidak lebih dari 60oC dengan tekanan diperendah. Untuk pengujian
aktivitas hipoglisemik, ekstrak kental disuspensikan dalam larutan tragakan 1%.

2.3 Uji toleransi glukosa


Prosedur pengujian anti diabetes dalam percobaan ini menggunakan metode uji
toleransi glukosa6) dengan sedikit modifikasi. Tiap kelompok uji terdiri dari 3 (tiga) ekor
tikus jantan (galur Sprague Dawley, Biofarma Bandung) dan secara keseluruhan terdiri
dari lima kelompok, yaitu: kelompok kontrol (hanya diberi tragakan 1%), kelompok
ekstrak (heksana, etilasetat dan etanol) dengan dosis 0,5 g/kg bb, serta kelompok
pembanding yang diberi tolbutamid 0,315 g/kg bb. Sebelum percobaan tikus dipuasakan
selama 18 jam, tetapi air minum tetap diberi. Setiap tikus diberi larutan percobaan sesuai
dengan kelompoknya dan satu jam kemudian diberi larutan glukosa 10% pada dosis 2,0
64 JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999

g/kg bb secara oral. Glukosa darah ditentukan pada 30, 60, 90 dan 150 menit setelah
pemberian glukosa.

2.4 Penentuan konsentrasi glukosa darah


Glukosa darah ditentukan secara enzimatis dengan pereaksi GOD-PAP7). Sampel
darah diambil dari vena ekor tikus, lebih kurang 0,1 ml darah disentrifugasi pada 3000 rpm
selama 10 menit. Pada 0,02 ml serum ditambahkan 0,2 ml larutan deproteinase dan
disentrifugasi pada 3000 rpm selama 10 menit. Pada 0,1 ml supernatan ditambahkan 2 ml
pereaksi warna (GPD-PAP). Setelah diiinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit,
serapan pada 546 nm dibaca menggunakan Clinicon Photometer (Boehringer-Mannheim).

3. Hasil Percobaan dan Pembahasan


Ekstraksi serbuk herba sambiloto dengan heksana, etilasetat dan etanol
memberikan prosentase ekstrak seperti pada tabel 1. Ekstrak etilasetat yaitu komponen
semipolar merupakan komponen terbesar dibandingkan komponen non-polar (ekstrak
heksana) dan komponen polar (ekstrak etanol). Apabila ekstraksi dilakukan langsung
dengan air panas diperoleh jumlah bahan terekstraksi yang lebih banyak. Hal ini
menunjukkan adanya komponen-komponen kimia yang larut dalam air panas tetapi tidak
larut dalam etanol, karena sebagian dari zat yang terekstraksi dalam etilasetat dan heksana
tidak terlarut dalam air panas.

Tabel 1. Jumlah bahan terekstraksi dari 500 g serbuk herba sambiloto

Jenis Ekstrak Jumah ekstrak (g) % terhadap simplisia


Heksana 2,30 0,46
Etilasetat 41,20 8,24
Etanol 21,00 4,02
Air* 61,10 12,22

*Diperoleh langsung dari simplisia

Pada uji toleransi glukosa, ekstrak heksana dan etilasetat tidak menunjukkan
adanya aktivitas hipoglisemik dibandingkan dengan kelompok kontrol (Tabel 2 dan
JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999 65

Gambar 1). Pada uji toleransi glukosa, tikus normal akan meningkat konsentrasi glukosa
darahnya, akibat pemberian sukrosa dosis tinggi, dan lama-lama akan menurun akibat kerja
dari insulin yang dihasilkan oleh sel β pulau Langerhans. Oleh karena itu diabetes yang
dihasilkan sifatnya hanya sementara. Adanya variasi yang cukup besar antara kelompok
hewan percobaan pada kenaikan glukosa darah akibat pemberian glukosa mempersulit
pembacaan aktivitas hanya berdasarkan pada data konsentrasi glukosa darah.

Data persen kenaikan konsentrasi glukosa darah yang disajikan pada Gambar 1 dan
2, diperoleh dari selisih konsentrasi glukosa darah pada waktu tertentu (Ct) dengan
konsentrasi glukosa darah awal, yaitu sebelum induksi diabetes dengan glukosa (Co)
dibagi dengan Co, dikalikan 100%. Penyajian data dalam bentuk kurva untuk
mempermudah pembandingan efek yang diberikan oleh bahan-bahan uji dan pembanding.
Efek hipoglisemik yang diberikan oleh ekstrak etanol dapat dilihat pada kecepatan
penurunan konsentrasi glukosa darah pada menit ke-60 dan 90, walaupun konsentrasi
glukosanya pada menit ke-30 dan 60 lebih besar daripada kontrol. Data ini diperkuat oleh
kenyataan bahwa tolbutamid yang merupakan obat antidiabetes juga memberikan
konsentrasi glukosa darah yang lebih tinggi daripada kontrol pada menit ke-30.

Aktifnya ekstrak etanol ini menunjukkan bahwa aktivitas hipoglisemik diberikan


oleh komponen-komponen polar dari herba sambiloto. Hal ini menunjukkan bahwa cara
pemakaian tradisional yang dilakukan dengan merebus herba sambiloto dan meminum air
rebusannya merupakan metode yang tepat.
66 JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999

Tabel 2. Konsentrasi glukosa darah tikus sebelum pemberian bahan uji dan setelah
pemberian glukosa

Kelompok Glukosa darah tikus (mg/100 ml) sebelum dan setelah perlakuan
pemberian glukosa (2 g/kg bb)
Perlakuan awal 30 menit 60 menit 90 menit 150 menit
Kontrol 95,23±17,78 128,33±13,85 115,33±27,58 105,16±10,65 81,76±11,51

Ekstrak heksana 74,63±10,49 175,32± 9,82 152,21±23,80 129,76±12,82 136,16±12,28

Ekstrak 66,56±12,98 141,13±11,37 172,76± 4,62 159,12± 9,91 125,82± 2,43


etilasetat
Ekstrak etanol 94,53±11,11 170,81±15,91 160,62± 5,35 103,92±11,81 79,31±55,43

Tolbutamid 81,92±19,83 138,63±16,34 101,91± 2,77 80,13±21,62 50,82±15,21

Ket: n = 3

Untuk melihat kemungkinan adanya antaraksi komponen-komponen ekstrak yang


dampaknya dapat saling sinergis, aditif atau antagonis pada penggunaan tradisional, telah
diuji ekstrak air herba sambiloto sesuai pemakaian. Ekstrak ini diperoleh dengan cara
melakukan perkolasi terhadap 500 g serbuk herba kering dengan air mendidih hingga
perkolat yang diperoleh tidak pahit. Kumpulan ekstrak dipekatkan dengan pengeringan
beku untuk menghindari terjadinya penguraian komponen kimia herba sambiloto. Pada
tabel 3 dan Gambar 2 terlihat bahwa ekstrak air juga menunjukkan aktivitas hipoglisemik,
bahkan aktivitasnya lebih tinggi daripada ekstrak etanol. Berbagai kemungkinan dapat
berkontribusi terhadap hasil tersebut, diantaranya adalah: 1) aktivitas hipoglisemik
disebabkan oleh komponen kimia yang larut dalam air panas tetapi kurang larut dalam
etanol, 2) adanya interaksi sinergis antar komponen kimia ekstrak air (diperoleh langsung
dari simplisia), yang menyebabkan ekstrak tersebut lebih aktif.
JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999 67

160

140
Kenaikan glukosa darah tikus (%)

120

100

80

60

40

20

0
Awal 30 60 90 150
-20

-40
Waktu setelah pemberian glukosa (menit)

Gambar 1. Kurva kenaikan konsentrasi glukosa darah tikus pada uji toleransi glukosa.
Kontrol (u), ekstrak heksan (n), ekstrak etilasetat (s), ekstrak etanol (6) dan
tolbutamid (Q)

Tabel 3. Perbandingan efek hipoglisemik ekstrak etanol dan ekstrak air dan setelah
pemberian glukosa

Kelompok Glukosa darah tikus (mg/100 mL) sebelum dan setelah perlakuan
pemberian glukosa (2 g/kg bb)
Perlakuan awal 30 menit 60 menit 90 menit 150 menit
Kontrol 95,23±17,78 128,33±13,85 115,33±27,58 105,16±10,65 81,76±11,51

Ekstrak etanol 94,53±11,11 170,81±15,91 160,62± 5,35 103,92±11,81 79,31±55,43

Ekstrak air 91,51±12,48 148,81±21,37 113,16± 13,41 82,72±17,63 77,10± 8,67

Percobaan lebih lanjut diperlukan untuk membandingkan efek ekstrak etanol yang
diperoleh seperti dalam percobaan ini dan ekstrak air yang diperoleh dari ampas hasil
ekstraksi dengan etanol. Hubungan antara zat pahit (andrografolida) dengan aktivitas
hipoglisemik dari ekstrak herba sambiloto juga perlu dikaji lebih lanjut. Sejauh ini,
kemampuan ekstrak dalam meningkatkan sekresi insulin yang diuji in vitro dengan
68 JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999

mengukur peningkatan produksi insulin tidak memberikan hasil yang bermakna


dibandingkan kontrol8).

90

80

70
% Kenaikan glukosa darah

60

50

40

30

20

10

0
Awal 30 60 90 150
-10

-20

Waktu setelah pemberian glukosa (menit)

Gambar 2. Kurva kenaikan konsentrasi glukosa darah tikus pada uji toleransi glukosa.
kontrol (u), ekstrak etanol (n) dan ekstrak air (s)

Kesimpulan
Hasil percobaan mendukung pemakaian tradisional yaitu menyeduh simplisia herba
sambiloto dengan air. Ekstrak-ekstrak yang diperoleh dengan pelarut organik tidak
menunjukkan adanya khasiat anti diabetes.

Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan RI. Materia Medika III, hlm. 20-25 (1979)
2. Heyne, K. Tumbuhan Berguna Indonesia (Terjemahan), Balai Penelitian Kehutanan,
Dep. Kehutanan, Jakarta, hlm. 1756 (1987).
3. Perry, L.M. Medicinal Plant of East and South East Asia, The MIT Press, Cambridge,
Massachusetts and London, hlm. 1 (1980).
JMS Vol. 4 No. 2, Oktober 1999 69

4. Madav, S., Tripathi, H.C. Tandan, J.S. & Mishra, S.K. “Analgesic, antipyretic and
antiulcerogenic effects of andrographolide” Indian J. Pharm. Sci., 57:2, hlm 121-125
(1995).
5. Chander, R.; Srivastava, V. , Tandon, J.S. & Kapoor, N.K. “Antihepatotoxic activity of
diterpenes of Andrographis paniculata (Kal Megh) against Plasmodium berghei
induced hepatic damage in mastomys natalensis”, Int. J. Pharm. 33:2, hlm. 135-138
(1995).
6. Suryawati, S. dan Santoso, B., Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinik, Kelompok
Kerja Ilmiah ‘Phytomedica’, 1993, hlm. 15-16.
7. Varley, H. & Gowenblock, A.L., Practical Clinical Biochemistry, 5th ed. William
Heinemann Medical Book Ltd., hlm. 406-414 (1980).
8. Chandrasekar, F. “Penggunaan pankreas tikus terisolasi dalam uji aktivitas ekstrak
sambiloto, Andrographis paniculata Nees (Acanthaceae) terhadap sekresi insulin”.
Skripsi. Bandung: Jurusan Farmasi FMIPA ITB. 1996.