You are on page 1of 33

GD5202 ASPEK LEGAL SPASIAL

Batas Kawasan Hutan, Perkebunan, dan Pertanian

Dosen: Heri Andreas/Agustinus Bambang Setyadji

Disusun oleh:

Litany Meliala

15115092

TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2019
I. KEHUTANAN

1. Pendahuluan
Di Indonesia segala kekayaan alam termasuk tanah, sumber daya alam hayati dan air dikuasai oleh negara.
Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sangat jelas bahwa pemerintah mewakili negara,
bertanggung jawab menjamin semua kekayaan alam tersebut dikelola dengan baik dengan menjamin
kekayaan yang di hasilkan digunakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat
Indonesia.

Setelah Konstitusi, peraturan paling penting yang berkaitan dengan pengelolaan dan distribusi manfaat
sumber daya alam yaitu TAP MPR IX tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber
Daya Alam. Hal ini secara umum dapat dilihat sebagai suatu pencapaian dan pernyataan eksplisit MPR,
dimana yang paling penting dan dibutuhkan oleh pemerintah untuk berkomitmen terhadap pembaruan
pengelolaan sumber daya alam dan pembaruan agraria. Hal ini mengharuskan Negara (termasuk
pemerintah) untuk mengkaji, mencabut dan merevisi semua peraturan perundang-undangan mengenai
tanah dan sumber sumber agrarian lainnya dan pada saat yang sama menyelesaikan konflik agraria yang
ada saat ini secara adil dan lestari. Tap MPR ini telah menjadi alat yang paling ampuh dalam proses
reformasi untuk penyempurnaan peraturan perundang undang agraria di Indonesia.

Undang-Undang Pokok Agraria no 5 tahun 1960 dan Undang-undang Kehutanan no 41 tahun 1999
merupakan dua perundang-undangan paling penting yang dalam hirarki perundangan tanah dan sumber
daya alam menduduki urutan kedua setelah Konstitusi. Kedua aturan tersebut secara langsung mengatur
pengelolaan dan distribusi sumber daya alam. Tulisan ini meninjau hubungan antar peraturan perundang-
undangan dan responsnya terhadap TAP MPR No. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan
Sumber Daya Alam. Dikemukakan analisa hukum mengenai lingkup Undang-Undang Kehutanan dan peran
pemerintah dalam mengatur sumber daya hutan.

Keadaan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia saat ini sangat beragam. Di sepanjang berjutajuta
hektar masyarakat setempat menanam dengan produktif hutan pohon pohonan, buahbuahan, getah-
getahan, kopi, coklat dan seringkali mencampurkan pohon kayu-kayuan kedalam “agroforests”. Hutan-
hutan ini menyediakan banyak jasa lingkungan, menyerupai hutan alam namun dengan sedikit lebih
rendah dalam kandungan keanekaragaman hayatinya dibandingkan dengan hutan alam. Secara garis
besar situasi hutan alam Indonesia hanya dapat digambarkan sebagai sebuah krisis, namun banyak
masyarakat yang juga melindungi hutan-hutan alam yang tersisa di dalam bentang alamnya, kadang kala
dengan kerjasama dengan pemerintah setempat termasuk petugas kehutanan maupun dilakukan secara
swasaya. Akan tetapi, angka kerusakan hutan per tahun yang mencapai 1 juta hektar, tetap konsisten
selama 10 tahun terakhir ini dan kapasitas terpasang dari industri perkayuan tetap jauh melebihi apa yang
ditetapkan sebagai batas jatah tebang tahuanan yang lestari. Analisa terakhir Departemen Kehutanan,
Jatah Tebang Tahunan tahun 2002 menurun tajam hingga hampir 10 juta kubik m³ kayu sementara kayu
yang masuk pada indutri tahun tersebut melebihi 50 juta kubik m³---terlihat 4 kali lebih besar dari kayu
dengan sumber legal dan illegal. Dengan data saat ini, tampaknya produksi hutan alam Indonesia akan
habis pada akhir dekade ini dan banyak kawasan hutan konservasi akan terancam bahaya atau bahkan
hilang sama sekali.

Konflik antara masyarakat setempat yang mengklaim hak atas tanah dan sumber daya yang ada di
kawasan hutan dan industri kehutanan serta petugas kehutanan telah mencuat secara konsisten selama
15 tahun terakhir. Ketidakjelasan penguasaan baik oleh masyarakat maupun dari pihak industri telah
menyebabkan penurunan fungsi tanah dan hutan serta seringkali diikuti dengan kekerasan. Inti dari
berbagai masalah ini adalah ketidakjelasan “aturan main” seperti yang disebutkan oleh Departemen
Kehutanan. Departemen ini menyatakan memiliki kewenangan atas daratan Indonesia namun tidak dapat
mengelola wilayah yang begitu luas dan memberikan kepastian penguasaan dan pengelolaan yang
dibutuhkan baik bagi masyarakat setempat maupun bagi industri kehutanan.

Kebingungan dan ketidaksetujuan akan siapa yang seharusnya menguasai atau memiliki hutan dan
kawasan hutan di Indonesia semakin meningkat dan dilihat sebagai penyebab utama oleh banyak
kalangan (meskipun tidak semuanya) sebagai, kegagalan Indonesia untuk mengelola kawasan hutanya.
Asal dari kebingungan ini, bagian terbesar terletak pada pengertian dasar atas apa dan dimana hutan
Indonesia serta apa dan dimana kewenangan Departemen Kehutanan. Pada waktu yang bersamaan,
konflik atas tanah dan sumber daya alam yang diakibatkan oleh ketidakjelasan tanah negara dengan tanah
rakyat akan tetap ada jika tidak ada usaha serius untuk merasionalisasikan kawasan hutan negara melalui
strategi prioritas yang jelas.

TAP MPR No. IX tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam secara
eksplisit menyebutkan bahwa peraturan perundang undangan yang saling bertentangan dan
berhubungan dengan tanah dan penguasaan sumber daya lainnya oleh department/instansi sektor
haruslah dihentikan, karena pertentangan ini menciptakan kemiskinan dan penurunan sumber daya alam.
Peraturan perundang-undangan ini harus direvisi, dicabut atau diubah menggunakan pendekatan holistik.
Pada saat yang sama konflik harus diselesaikan melalui proses yang adil. – undangan tgl 14 November
2003 di UGM-Yogyakarta, semua departemen/instansi pemerintah yang berhubungan dengan tanah dan
sumber daya alam (termasuk hutan) telah bertemu dan menyepakati bahwa revisi Undang-Undang Pokok
Agraria no 5 tahun 1960 harus menciptakan kerangka yang menaungi sistem penguasaan atas tanah
maupun sumber daya alam lainnya secara lebih baik dan menghentikan pendekatan sektoral. Beberapa
Undang undang tercatat sebagai undang undang “payung” yang menjadi rujukan /referensi yaitu Undang-
Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Tata Ruang., perlu direvisi, demikian juga Undang-undang
Sumber Daya Alam perlu segera dibuat.

Akan tetapi, Persepsi yang umum dan berkali kali ditemui yaitu 120 juta hektar wilayah Indonesia, 61%
tanah daratanya adalah “tanah hutan” yang dimiliki dan dikelola oleh Departemen Kehutanan. Hal ini
termasuk padang rumput, daerah pertanian, sebagian wilayah desa, agroforest, termasuk juga wilayah
yang luas dari hutan primer dan hutan sekunder. secara garis besar situasi hutan alam Indonesia hanya
dapat digambarkan sebagai sebuah krisis Bagaimana Departemen Kehutanan mengklaim
kewenangannya, dibahas dalam paper ini demikian pula implikasinya bagi masyarakat setempat, konflik
penguasaan tanah, dan perlindungan hutan alam.

Analisa yang tepat tentang kewenangan kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam secara garis besar
harus diawali dengan mengkaji Undang-undang Pokok Agraria no 5 tahun 1960 (UUPA). Sisi yang tepat
untuk mengawalinya adalah dengan pandangan ahli hukum pertanahan Prof. Boedi Harsono yang pada
tahun 1984 menjelaskan:

Dari pandangan hukum pertanahan, sebidang tanah yang tumbuh hutan diatasnya, pengusasaan
tanahnya diatur oleh Hukum Tanah (UUPA). Pengelolaan haknya diberikan kepada Departmen
Kehutanan seperti yang dimandatkan dalam Undang-undang Kehutanan… Dalam hal ini pemberian
dan pengakuan hak-hak atas tanah akan diterbitkan oleh BPN dengan menggunakan Hukum
Pertanahan.

Di sisi lain Prof. Maria Sumardjono (2001) pada saat proses revisi Undang Undang Pokok Kehutanan no 5
tahun 1967 mengatakan bahwa:

Ruang lingkup (Rancangan) Undang-undang Kehutanan seharusnya dibatasi pada penagturan


tentang pemanfaatan sumber daya hutan. Penentuan kawasan hutan diperlukan untuk membatasi
luasnya kewenangan pengelolaan pemanfaatan sumber daya htan dan tidak dimaksud untuk
membrikan wewenang untuk mengatur tentang penguasaan tanah di dalam kawasan hutan tersebut.
Pemberian hak untuk memanfaatkan kawasan hutan (HPH & HPHTI) dilakukan oleh Departemen
13Kehutanan, sedangkan pemberian hak atas tanah, misalnya HGU dll dilakukan oleh BPN.

Dengan pemahaman dua argumentasi pakar hukum pertanahan ini maka Departmen Kehutanan hanya
dapat memberikan hak pengusahaan dan hak pemungutan hasil hutan, sedangkan segala proses yang
berkaitan dengan penguasaan atas tanah dilakukan oleh instansi lain (BPN). Maka penataan batas
kawasan hutan tidaklah menjadi batasan untuk tidak menggunakan Undang Undang Pokok Agraria no 5
tahun 1960, sebagaimana lazim dipraktekan saat ini.
2. Dasar Teor

Undang-Undang Pokok Agraria no 5 tahun 1960 (UUPA)


Undang-undang ini salah satunya adalah mengatur 197 juta hektar wilayah daratan Indonesia. Undang
undang ini menuntun pemerintah dalam pengakuan dan pemberian 7 jenis hak atas tanah dan tambahan
3 jenis hak pemanfaatan sumber daya alam. Hak yang paling kuat dan paling penuh dari semua jenis
tersebut adalah hak milik. Diantara berbagai hak atas tanah, maka yang telah diatur lebih lanjut adalah
Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunandan Hak Pakai (Peraturan Pemerintah no 40 tahun 1996) Peraturan
Pemerintah no. 24 tahun 1997 tentang Pandaftaran Tanah mengatur konsep dan prosedur untuk
pengakuan atau pemberian berbagai jenis hak atas tanah. Dalam peraturan ini tanah dibagi ke dalam 2
jenis yaitu tanah bekas hak adat, yaitu hak lama yang telah diakui keberadaanya jauh sebelum adanya
UUPA serta hak lainnya diberikan dengan Aturan yang lebih rinci yaitu Hak Guna Bangunan, Hak Guna
Usaha atau Hak Pakai berdasarkan permohonan hak dengan subjek hak atas tanah, yang terdiri dari orang
per-orang dan badan hukum. Akan tetapi UUPA masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah, dalam
pembentukan peraturan perundang undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan UUPA. Pada
umumnya UUPA tidak dilengkapi dengan pemikiran yang tuntas terhadap peraturan pelaksanaannya.
Diperlukan upaya terus menerus untuk melakukan penemuan hukum dalam rangka pembangunan hukum
tanah yang bertanggung jawab.

Sementara UUPA dan banyak peraturan pengelolaan sumber daya alam lainnya memberi banyak
perhatian kepada pengakuan atas Hak Ulayat (hak Adat), akan tetapi sedikit sekali peluang untuk
pengakuan hak adat tersebut dan lebih sedikit sekali kemauan politik untuk mengakuinya. Satu
pengecualian yang penting yaitu prosedur untuk pengakuan hak ulayat (atau dengan nama lain) bagi
masyarakat hukum adat, diterbitkan pada tahun 1999 berdasar pada keputusan Menteri Negara
Agraria/Kepala BPN yang mengatur pedoman untuk penyelesaian masalah hak ulayat masyarakat hukum
adat, dimana kewenangan pengakuan keberadaan masyarakat adat diberikan kepada pemerintah daerah
kabupaten.melalui peraturan daerahnya Peraturan ini diterbitkan, antara lain karena tekanan politik
langsung dari AMAN, (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) dalam Konferensi Masyarakat Adat Nusantara
I di tahun 1998, akan tetapi belum banyak usaha serius dari berbagai kabupaten untuk mengunakan
kebijakan ini sebagai alat penyelesaian maslaha tuntutan masyarakat adat atas tanah dan sumber daya
alam lainnya.

Undang-Undang Kehutanan Tahun 1999


Undang-undang Kehutanan tahun 1999 merupakan salah satu undang-undang yang dikeluarkan setelah
masa pemerintahan Suharto atau dikenal dengan periode reformasi. Undang-undang ini memberi
kewenanangan pada pemerintah melalui Departemen Kehutanan untuk menentukan dan mengelola
Kawasan Hutan Indonesia. Dalam undang-undang tersebut tidak tercantum kewenangan Departemen
Kehutanan atas penerbitan jenis-jenis hak penguasaan atas tanah yang diatur oleh UUPA. Bahkan secara
hukum dapat dikatakan tepat bahwa “tanah hutan” tidak terdapat di Indonesia sebagai suatu definsi
hukum. Istilah tanah hutan bukanlah istilah resmi bahasa Indonesia juga bukan pernyataan yang
digunakan dalam perdebatan kehutanan dan pengelolaan hutan. Istilah yang resmi yaitu kawasan hutan
yang diterangkan sebagai “suatu kawasan yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk
dipertahankan sebagai hutan”. Maka secara hukum kawasan hutan dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

a. Kawasan Hutan Negara, yaitu wilayah dimana pemerintah (Departemen Kehutanan) telah
menetapkan bahwa tidak ada hak privat (private rights) atas tanah tersebut dan;
b. Hutan Hak, yaitu wilayah dimana tanahnya dan yang hutan diatasnya dibebani hak privat lainnya
(private rights)

3. Pengukuhan Kawasan Hutan

Kawasan Hutan
Kawasan hutan (bentuknya bukan namanya) pertama kali diperkenalkan pada masa kolonial ketika
sebagian besar besar wilayah Jawa dan sebagian kecil wilayah Sumatra ditatabas dan ditetapkan sebagai
Kawasan Hutan. Usaha-usaha pertama-tama dilakukan oleh Jawatan Kehutanan pada awal abad ke-19
dengan tujuan mengontrol tanah, pohon-pohonan dan tenaga kerja hutan. Peraturan perundang-
undangan masa itu berusaha-usaha untuk memperluas kontrol atas kawasan hutan ini tampak hingga hari
ini, dimana hampir seperempat wilayah Jawa ditetapkan sebagai kawasan hutan dan hamper seluruhnya
berada di bawah kontrol BUMN kehutanan Perum Perhutani.

Kawasan Hutan digunakan sebagai istilah resmi dalam Undang-undang Pokok tentang Kehutanan tahun
1967 dan menjadi basis kewenangan Departemen Kehutanan dalam Undang-undang Kehutanan 1999.
Prosedur penentuan kawasan hutan secara aktual dapat dilacak dalam Peraturan Pemerintah tentang
Perencanaan Kehutanan yang ditandatangani oleh Presiden Suharto pada tahun 1970 (PP33/1970 tentang
Perencanaan Hutan). Namun sangat penting untuk dicatat bahwa jauh sebelum itu pemerintah telah
memberikan konsesi pengusahaan hutan di luar Jawa, bahkan sebelum Undangundang Kehutanan tahun
1967 diterbitkan. Konsesi-konsesi tersebut terletak pada hutan alam yang pada saat itu belum ada
persyaratan hukum atau persyaratan pengelolaan untuk menentukan apakah wilayah konsesi tumpang
tindih dengan hak–hak masyarakat setempat. Tanah-tanah di dalam dan sekitar wilayah konsesi-konsesi
tersebut berada di bawah kewenangan

Departemen Agraria dan “belum terdaftar” seperti halnya sebagian besar tanah-tanah di Indonesia saat
ini.

Peraturan Pemerintah no 33 tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan, memberi kewenangan kepada
Departeman Pertanian (yang pada saat itu menginduki Dirjen Kehutanan) untuk menetapkan manakah
yang termasuk kawasan hutan negara dan yang bukan. Aturan yang digunakan untuk mengukuhkan
kawasan hutan dikeluarkan pada tahun 1974 (Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.85/74tentang
Pedoman Penataan Batsa Kawasan Hutan) dan pada pertengahan tahun 80an hampir tiga perempat dari
keseluruhan tanah Indonesia ditunjuk oleh Departemen Kehutanan yang baru sebagai Kawasan Hutan.
Proses tersebut dilaksanakan oleh Departemen sebagai Tata Guna Hutan dengan Kesepakatan (TGHK).
Hal itu dilakukan melalui data survei dan data peta vegetasi berdasarkan penginderaan jauh dan
ditentukan oleh proses penilaian biofisik dengan kriteria scoring yang rumit dan mengabaikan kedaan
kriteria sosial. Kategori hutan dibuat dengan rekapitulasinya sbb:

Tabel 1. Penunjukan Kawasan Hutan Indonesia berdasarkan TGHK

Seperti yang terlihat ternyata tingkat kesepakatan atau penerimaan para pihak tidak setinggi ketika
pertama kali diprediksi oleh Departemen Kehutanan. Pemerintah daerah seringkali menentang batas dan
kekakuan penggunaan ruang berhadapan dengan pilihan-pilihan pembangunan, yang dibatasi oleh fungsi
hutan. Antara tahun 1999 dan 2001 berbagai kompromi dicapai melalui proses perencanaan ruang tingkat
provinsi (RTRWP) dan saat ini sah bila dikatakan bahwa kawasan hutan Indonesia merupakan hasil dari
sinkronisasi TGHK dan RTRWP.

Tabel 2. Penunjukan Kawasan Hutan Berdasarkan Paduserasi TGHK dan RTRWP

Pemahaman saya bahwa wilayah seluas 120 juta hektar ini dapat diterima sebagai kawasan hutan yang
dapat diterima (legitimate) berdasarkan kewenangan hukum Departemen Kehutanan untuk menentukan
atau menunjuk kawasan hutan. Namun hal ini bukan berarti bahwa dalam proses membatasi penggunaan
lahan untuk kegiatan kehutanan di sebagian besar wilayah negara, hakhak lokal berdasarkan peraturan
lain dapat dilanggar, baik di wilayah yang ditentukan untuk menjadi Hutan Negara dan Hutan Milik/Hutan
Rakyat. Terlihat nyata bahwa hasil-hasil proses perencanaan yang menggiring 61% wilayah daratan
Indonesia diklasifikasikan sebagai kawasan hutan sungguh tidak sebanding dalam kualitasnya. Bagian yang
luas seperti padang rumput dan pemukiman yang tidak termasuk dalam klasifikasi hutan menurut
Undang-Undang no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, dimasukan ke dalam kawasan hutan. Namun pada
saat yang sama beberapa wilayah berhutan alam tidak termasuk ke dalam kawasan hutan. Sebagai
tambahan menurut data Departemen Kehutanan sekitar 24 juta hektar kawasan hutan tidak ditumbuhi
pohon sama sekali.

Kawasan Hutan Negara

Kawasan hutan hanya dapat secara resmi dinyatakan sebagai Kawasan Hutan Negara ketika sudah
diketahui bahwa tidak ada hak lain atas tanah hutan tersebut berada (seperti hak yang diatur dalam
Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960). Tujuan dari Undang-Undang no 41 tahun 1999 tentang
Kehutanan sangat jelas dan seringkali isinya saling berkontradiksi. UUK secara bias berganggapan bahwa
Kawasan Hutan Negara sebagai seluruh wilayah yang digambarkan oleh TGHK/RTRWP dan tidak ada hak
milik (private right) lagi diatasnya. Hak milik (Private rights) dijelaskan sebagai tanah bersertifikat yang
dikeluarkan oleh BPN menurut UUPA. Penjelasan Undang-Undang Kehutanan tahun 1999 jelas
menyatakan bahwa pada prinsipnya seluruh wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Hukum Adat didalam
Kawasan Hutan masuk ke dalam kategori Hutan Negara. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan definisi
Hutan Hak dalam Undang-Undang Kehutanan tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997
tentang Pendaftaran Tanah dimana dengan disertai bukti, hak milik (private rights) dapat diakui atau
diberikan sesuai dengan UUPA 1960. Untuk menjelaskan hal ini, 4 langkah proses detail penataan kawasan
hutan dibentuk dan dikenal dengan hasilnya yaitu Berita Acara Tata Batas. Lihat gambar 1.

Hanya jika langkah keempat dan langkah terakhir telah selesai ditempuh, maka penandatanganan oleh
Departemen Kehutanan yang menandai selesainya proses BATB dapat dilakukan, maka kawasan hutan
yang statusnya belum jelas dapat dikategorikan sebagai Kawasan Hutan Negara. Pada akhir tahun 2003
Departemen Kehutanan telah sepenuhnya menetapkan 12 juta hektar dari Kawasan Hutan sebagai
Kawasan Hutan Negara. Angka tersebut mewakili 10% dari keseluruhan Kawasan Hutan di Indonesia (lihat
Gambar 1).

Dengan menandatangani BATB berikut yang melibatkan masyarakat secara adil dan benar- dimana
masyarakat setempat menandatangani berita acara yang menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki klaim
atas tanah tersebut, setelah mendapatkan penjelasan atas konsekwesni hukum- Dephut dan BPN dengan
menggunakan prinsip-prinsip UUPA, dapat mengkasifikasikan kawasan tersebut secara hukum sebagai
Kawasan Hutan Negara.
Gambar 1. Proses Penataan Batas Kawasan Hutan

Saat ini hanya hampir 10% dari daratan Indonesia telah terdaftar di bawah salah satu hak yang diatur
dalam UUPA, dengan hanya sedikit dari hak-hak tersebut merupakan hak milik. Tanah yang tersisa, lebih
banyak tanah pertanian dan hutan-hutan yang “tidak terdaftar”. Tanah-tanah tersebut digolongkan oleh
BPN sebagai tanah yang dikuasai negara tapi bukan “Tanah Negara”, sementara pemerintah belum
menentukan apakah hak-hak atas tanah-tanah tersebut ada atau tidak (seperti yang diatur dalam PP No.
24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah). Sebagai hasilnya negara tidak dapat memberikan hak kelola
atau hak pakai (bahkan jika menguasai tanah) atas wilayahwilayah tersebut sampai hal tersebut
diputuskan apakah pada tanah tersebut terdapat hak milik atau tidak. Hanya dengan cara menyelesaikan
penataan batas kawasan hutan, Departemen Kehutanan baru dapat mengeluarkan izin pengusahaan/
pemanfaatan/ pemungutan atas kawasan hutan atau kepada mereka yang telah memiliki diakui hak-
haknya dalam mengelola hutan.

Implikasinya kepada bidang kehutanan dan pertambangan cukup jauh. Hampir tanpa pengecualian izin
industri eksplorasi sumber daya alam dan penggunaan lahan yang telah dikeluarkan atas tanah yang
statusnya belum ditentukan oleh negara apakah dibebani hak milik atau tidak. Dalam kasus kehutanan,
tanah-tanah yang statusnya belum diketahui jumlahnya telah mencapai 108 juta hektar atau hampir 90%
dari kawasan yang diklaim sebagai Kawasan Hutan oleh Dephut.
Kawasan Hutan Hak
Jika hasil dari proses penetapan kawasan hutan selesai secara lengkap, seperti yang dijabarkan oleh
Departemen Kehutanan- saat ini jumlahnya 10% dari Kawasan Hutan- dapat diasumsikan sah secara
hukum, sedangkan sisanya yang 90% termasuk ketegori Kawasan Hutan Hak, atau wilayah hutan milik,
sebelum terbukti sebaliknya.

Dapat dikatakan sah secara hukum memandang kedua wilayah; Kawasan Hutan Negara dan Kawasan
Hutan Hak berada di bawah kewenangan BPN atau lembaga yang bertanggungjawab atas pengurusan
penguasaan atas tanah sesuai dengan UUPA. Dalam kasus Kawasan Hutan Negara, menurut UUPA tanah-
tanah tersebut merupakan Tanah Negara sejak BATB menyatakan tidak ada hak hak lokal diatasnya.
Sedangkan dalam kasus Kawasan Hutan Hak, hampir tanpa pengecualian, belum ditentukan ada tidaknya
hak hak lokal dan tanah-tanah ini tetap “belum terdaftar” sebagai wilayah yang ditetapkan Departeman
Kehutanan sebagai Kawasan Hutan.

“Tanah-tanah yang belum terdaftar” dikuasai oleh Negara namun secara teknis bukan “Tanah Negara”.

Pasal 12 UUK mengizinkan Departemen Kehutanan untuk melanjutkan penataan gunaan kawasan hutan
dengan menentukan fungsi hutan produksi, konservasi dan fungsi hutan lindung mengingat proses
penetapan kawasan hutan akan membutuhkan waktu yang lama. Namun demikian penatagunaan
kawasan hutan tidak dapat dilanjutkan dengan proses apapun (termasuk pemberian ijin ijin diatasnya)
sebelum ada status pengusaaannya ditentukan melalui proses pendaftaran tanah menurut PP No.24
tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah atau aturan lain yang diatur dalam UUPA atau melalui proses
penataan batas kawasan hutan yang berakhir dengan penandatanganan BATB dan penetapan resmi
sebagai Hutan Negara oleh Surat Keputusan Menteri Kehutanan.
II. PERKEBUNAN
1. Pendahuluan
Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media
tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman
tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk
mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.

Lahan perkebunan adalah lahan usaha pertanian yang luas, biasanya terletak di daerah tropis atau
subtropis, yang digunakan untuk menghasilkan komoditas perdagangan (pertanian) dalam skala besar dan
dipasarkan ke tempat yang jauh, bukan untuk konsumsi lokal. Perkebunan dapat ditanami oleh tanaman
industri seperti kakao, kelapa, dan teh. Dalam pengertian bahasa Inggris, “perkebunan” dapat mencakup
plantation dan orchard. Ukuran luas perkebunan sangat relatif dan tergantung ukuran volume komoditas
yang dipasarkannya. Namun demikian, suatu perkebunan memerlukan suatu luas minimum untuk
menjaga keuntungan melalui sistem produksi yang diterapkannya. Selain itu, perkebunan selalu
menerapkan cara monokultur, paling tidak untuk setiap blok yang ada di dalamnya. Ciri yang lainnya,
walaupun tidak selalu demikian, adalah terdapat instalasi pengolahan atau pengemasan terhadap
komoditi yang dipanen di lahan perkebunan itu, sebelum produknya dikirim ke pembeli. Berikut adalah
sejumlah komoditas pertanian yang biasa diusahakan dalam perkebunan:

a. Henep (goni)
b. Kakao
c. Kapas
d. Karet
e. Kelapa
f. Kelapa sawit
g. Kina
h. Kopi
i. Sisal
j. Tarum
k. Tebu
l. Teh
m. Tembakau
Perbedaan Pertanian dan Perkebunan

Berasal dari campuran kata-kata Latin yang berarti pertanian lapangan dan cultura yang berarti budaya,
pertanian merujuk pada produksi makanan dan barang melalui pertanian dan kehutanan. Pertanian
dikenal sebagai aspek kunci yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan peradaban seperti ini
akhirnya mengarah pada penciptaan jaringan suplai makanan yang demikian dibudidayakan dengan
tujuan memberi makan populasi. Pertanian adalah pendudukan kepala manusia sampai revolusi industri
yang memperkenalkan mesin dan aspek lain dari yang seorang pria bisa mencari nafkah. Namun, karena
tanam mono atau budaya mono yang sering dipraktekkan di bidang pertanian, kurang keanekaragaman
hayati sedang diamati hari ini.

Berasal dari campuran kata latin hortus yang berarti taman dan cultura yang berarti budidaya, Perkebunan
mengacu pada industri dan ilmu budidaya tanaman. Perkebunan dilakukan dengan cara metodis dalam
skala tertutup petak kecil menggunakan teknik khusus seperti perbanyakan tanaman, pemuliaan
tanaman, produksi tanaman, fisiologi tanaman serta biokimia dan rekayasa genetika. Penelitian dan
pekerjaan dilakukan mengenai daerah-daerah dan juga dalam mengobati penyakit pada tanaman, hama
dan juga, metode meningkatkan kualitas tanaman, dll Perkebunan terutama berkaitan dengan buah-
buahan, berry, kacang-kacangan, sayuran, bunga, pohon, semak, dan rumput dan mempromosikan
suksesi ekologi dan keanekaragaman hayati juga.

Sementara pertanian dan Perkebunan adalah istilah yang berjalan beriringan dan seringkali cukup
membingungkan untuk membedakan, pertanian mengacu pada budidaya bidang sedangkan Perkebunan
dilakukan di plot skala kecil. Lalu, sementara pertanian tidak melibatkan segala bentuk eksperimen ilmiah,
penelitian atau metode, Perkebunan tumbuh subur di teknik ini dan sering melakukan lebih dan penelitian
lebih lanjut tentang bidang-bidang dengan tujuan memberikan solusi yang lebih baik untuk masalah yang
dihadapi dalam budidaya.

Faktor lainnya adalah, pertanian melibatkan tidak hanya makanan, tetapi bahan baku, bahan bakar dan
serat juga. Namun, Perkebunan, berkonsentrasi terutama dalam budidaya tanaman pangan dan
mengembangkan sarana di mana kualitas tanaman dapat ditingkatkan. Juga, sementara pertanian hanya
memusatkan perhatian pada penyediaan untuk kebutuhan pertumbuhan populasi dan karena itu
cenderung mono tanaman dan mengurangi keanekaragaman hayati, Perkebunan mempromosikan
keanekaragaman hayati dan suksesi ekologi. Oleh karena itu, sementara pertanian tetap menjadi salah
satu metode tertua dan tanda awal peradaban, Perkebunan adalah metode budidaya baru diperkenalkan
yang mencakup ilmu dalam misinya juga.
2. Dasar Hukum

Pemerintah RI telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan pada
tanggal 17 Oktober 2014 melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 308, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5613, selanjutnya disebut UU Perkebunan. UU Perkebunan
tersebut mempunyai spirit utama untuk mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut
ditunjukkan antara lain dengan pengaturan secara eksplisit maupun implisit mengenai keberpihakan
kepada Masyarakat Perkebunan dan Masyarakat (Hukum) Adat; Kemitraan; Peran Serta Masyarakat;
Mengutamakan Penggunaan Penanaman Modal Dalam Negeri.

UU Perkebunan dibentuk dengan latar belakang atau dasar pemikiran yaitu, pertama, dari aspek filosofis,
bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalam wilayah Negara Republik Indonesia
merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dimanfaatkan dan dipergunakan bagi sebesar-besar
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; kedua, dari aspek sosiologis, bahwa perkebunan berperan
penting dan memiliki potensi besar dalam pembangunan perekonomian nasional dalam rangka
mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan; ketiga, dari aspek yuridis, bahwa
penyelenggaraan perkebunan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang
Perkebunan sudah tidak sesuai dengan dinamika dan kebutuhan hukum masyarakat, belum mampu
memberikan hasil yang optimal, serta belum mampu meningkatkan nilai tambah usaha perkebunan
nasional, sehingga perlu diganti. Menindaklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 55/PUU-
VIII/2010 dalam perkara permohonan Pengujian UU Nomor 18 Tahun 2004.

Materi muatan UU Perkebunan terdiri dari XIX Bab dan 118 Pasal, yang mencakup Bab I tentang Ketentuan
Umum; Bab II tentang Asas, Tujuan, dan Lingkup Pengaturan; Bab III tentang Perencanaan; Bab IV tentang
Penggunaan Lahan; Bab V tentang Perbenihan; Bab VI tentang Budidaya Tanaman Perkebunan; Bab VII
tentang Usaha Perkebunan; Bab VIII tentang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan; Bab IX tentang
Penelitian dan Pengembangan; Bab X tentang Sistem dan Data Informasi; Bab XI tentang Pengembangan
Sumber Daya Manusia; Bab XII tentang Pembiayaan Usaha Perkebunan; Bab XIII tentang Penanaman
Modal; Bab XIV tentang Pembinaan dan Pengawasan; Bab XV tentang Peran Serta Masyarakat; Bab XVI
tentang Penyidikan; Bab XVII tentang Ketentuan Pidana; Bab XVIII tentang Ketentuan Peralihan; dan Bab
IX Ketentuan Penutup.

UU Perkebunan telah mengamanatkan beberapa ketentuan untuk diatur lebih lanjut dalam peraturan
pelaksanaan, yaitu 21 (dua puluh satu) perihal yang akan diatur dalam Peraturan Pemerintah dan 12 (dua
belas) perihal yang akan diatur dalam Peraturan Menteri. Berdasarkan ketentuan Pasal 117 UU
Perkebunan, peraturan pelaksanaan tersebut harus ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun sejak UU
Perkebunan diundangkan.
21 (dua puluh satu) perihal yang akan diatur dalam Peraturan Pemerintah, meliputi, Penetapan batasan
luas maksimum dan luas minimum penggunaan lahan untuk Usaha Perkebunan (amanat Pasal 14 ayat
(3)); Sanksi administratif bagi perusahaan perkebunan yang memindahkan hak atas tanah Usaha
Perkebunan dan melanggar kewajiban mengusahakan Lahan Perkebunan (amanat Pasal 18 ayat (3));
Standar mutu atau persyaratan teknis minimal (amanat Pasal 24 ayat (4)); Tata cara pencarian,
pengumpulan, dan pelestarian sumber daya genetik (amanat Pasal 27 ayat (5)); Introduksi dari luar negeri
terkait bentuk benih atau materi induk untuk pemuliaan tanaman (Pasal 28 ayat (3)); Tata cara
pencegahan timbulnya kerusakan lingkungan hidup dan pencemaran lingkungan (amanat Pasal 32 ayat
(3)); Syarat dan tata cara pemberian izin usaha perkebunan, luasan lahan tertentu untuk usaha budi daya
Tanaman Perkebunan, dan kapasitas pabrik tertentu untuk usaha Pengolahan Hasil Perkebunan (amanat
Pasal 49); Kemitraan Usaha Perkebunan (amanat Pasal 57 ayat (3)); Fasilitasi pembangunan kebun
masyarakat (amanat Pasal 59); Sanksi administratif bagi perusahaan perkebunan yang tidak memfasilitasi
pembangunan kebun masyarakat (amanat Pasal 60 ayat (3)); Kawasan pengembangan perkebunan
(amanat Pasal 61 ayat (4)); Pengembangan perkebunan berkelanjutan (amanat Pasal 62 ayat (3));
Perlindungan wilayah geografis yang memproduksi Hasil Perkebunan yang bersifat spesifik (amanat Pasal
66); Kewajiban membangun sarana dan prasarana di dalam kawasan Perkebunan (amanat Pasal 69 ayat
(3)); Sanksi administrasi bagi setiap perusahaan yang tidak membangun sarana dan prasana di dalam
kawasan Perkebunan (Pasal 70 ayat (3)); Ketentuan mengenai pembinaan dan keterpaduan usaha
Pengolahan Hasil Perkebunan dengan usaha budi daya Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 73 ayat (3));
Jenis Pengolahan Hasil Perkebunan tertentu (amanat Pasal 74 ayat (2)); Sanksi adiministrasi bagi unit
Pengolahan Hasil Perkebunan yang berbahan baku impor yang tidak membangun kebun dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) tahun (amanat Pasal 75 ayat (3)); Ketentuan mengenai penghimpunan dana
dari Pelaku Usaha Perkebunan, lembaga pembiayaan, dan masyarakat (amanat Pasal 93 ayat (5)); Besaran
penanaman modal asing, jenis Tanaman Perkebunan, skala usaha, dan kondisi wilayah tertentu (Pasal 95
ayat (5)); Pembinaan teknis dan penilaian Usaha Perkebunan (amanat Pasal 97 ayat (3).

Sementara itu, 12 (dua belas) perihal yang diamanatkan oleh UU Perkebunan untuk diatur lebih lanjut
dalam Peraturan Menteri (Pertanian), meliputi, Sumber daya genetik Tanaman Perkebunan (amanat Pasal
23 ayat (2)); Syarat-syarat dan tata cara pelepasan atau peluncuran varietas hasil pemuliaan atau
introduksi dari luar negeri (amant Pasal 30 ayat (2)); Produksi, sertifikasi, pelabelan, dan peredaran
varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri (amanat Pasal 31 ayat (3)); Standar minimum
sarana dan prasarana pengendalian organisme pengganggu Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 35 ayat
(2); Perlindungan Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 38); Pelaksanaan integrasi dan diversifikasi usaha
(amanat Pasal 44 ayat (4)); Jenis Tanaman Perkebunan (amanat Pasal 46); Pembukaan lahan tanpa
membakar (amanat Pasal 56); Tata cara kegiatan panen dan pasca panen yang baik (amanat Pasal 72 ayat
(4)); Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (amanat Pasal 90 ayat (2); Persyaratan dan tata cara
pengawasan dalam Usaha Perkebunan (amanat Pasal 99 ayat (5); Peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan Perkebunan (amanat Pasal 101).
Apabila dibandingkan dengan UU Perkebunan yang sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 18 Tahun
2004, UU Perkebunan ini memuat beberapa pengaturan yang baru, yaitu, Penetapan Batasan Luas
Maksimum dan Minimum Lahan Usaha Perkebunan ; Perbenihan; Budi Daya Tanaman Perkebunan;
Tindakan yang Dilarang; Kewajiban Memfasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat; Kewajiban bagi Unit
Pengolahan Hasil Perkebunan Tertentu yang Berbahan Baku Impor; Sistem Data dan Informasi;
Pembatasan Penanaman Modal Asing; Pembinaan Teknis dan Evaluasi atas Kinerja Perusahaan
Perkebunan; Peran Serta Masyarakat; dan Ketentuan Pidana. Berdasarkan uraian di atas, Forum
Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB) sebagai forum independen yang salah satu
kegiatan utamanya adalah Kajian Ilmiah mempunyai pemikiran untuk melakukan kajian hukum untuk
menghasilkan rumusan/rekomendasi sebagai bahan masukkan dalam penyusunan beberapa peraturan
pelaksanaan, berupa Peraturan Pemerintah, yang diamanatkan oleh UU Perkebunan, antara lain
Peraturan Pemerintah yang mengatur perihal penetapan batasan luas maksimum dan luas minimum
penggunaan lahan untuk Usaha Perkebunan sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 14 ayat (3); Kemitraan
Usaha Perkebunan sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 57 ayat (3); Fasilitasi pembangunan kebun
masyarakat sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 59; dan Besaran penanaman modal asing, jenis
Tanaman Perkebunan, skala usaha, dan kondisi wilayah tertentu sebagaimana diamanatkan oleh
ketentuan Pasal 95 ayat (5).

Kajian hukum tersebut perlu dilakukan agar Peraturan Pemerintah yang nantinya dirumuskan selaras
dengan konsepsi dengan falsafah negara, tujuan nasional, UUD NRI Tahun 1945, UU Perkebunan dan
undang-undang lain yang telah ada dan peraturan pelaksanaannya serta kebijakan lainnya yang terkait.
Selain itu, dalam rangka penyusunan Peraturan Pemerintah tersebut, dipandang perlu adanya pengkajian
hukum dari aspek filosofis, teoritis, yuridis, dan sosiologis oleh pihak di luar Pemerintah, baik melalui
pengkajian hukum secara mendalam maupun forum konsultasi dan diskusi yang melibatkan para ahli dari
perguruan tinggi dan organisasi di bidang ekonomi, politik, hukum, hak asasi manusia, sosial, budaya,
kemasyarakatan atau profesi sesuai dengan kebutuhan—untuk memberikan masukan bagi
kesempurnaan dan penyempurnaan substansi Peraturan Pemerintah yang akan disusun, agar dapat
diterapkan serta dapat menjamin keadilan, kepastian hukum dan kebermanfaatan bagi kelangsungan dan
keberlanjutan berbagai pemangku kepentingan kegiatan perkebunan (Pemerintah, Masyarakat dan
Sektor Swasta/Industri).

3. Ketentuan Terbaru Izin Usaha Perkebunan


Pada Tahun 2013, Kementerian Pertanian mengeluarkan Peraturan terbaru yang mengatur mengenai
pedoman perizinan Perkebunan yaitu melalui Permentan Nomor 98 Tahun 2013. Dalam peraturan
tersebut Perkebunan diberikan pengertian sebagai segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu
pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan
barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan
serta menajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.

Dalam peraturan tersebut diberikan juga pengertian bahwa Usaha perkebunan adalah usaha yang
menghasilkan barang dan/atau jasa perkebunan. Usaha budi daya tanaman perkebunan merupakan
serangkaian kegiatan pratanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan, dan sortasi.
Selanjutnya Usaha industri pengolahan hasil perkebunan merupakan kegiatan pengolahan yang bahan
baku utamanya hasil perkebunan untuk memperoleh nilai tambah.

Izin Dalam Bidang Perkebunan

Dalam peraturan terbaru ini, Setiap pelaku usaha budi daya tanaman perkebunan dengan luasan tanah
tertentu dan/atau usaha industri pengolahan hasil perkebunan dengan kapasitas pabrik tertentu wajib
memiliki izin usaha perkebunan. Izin usaha dalam bidang perkebunan terdiri dari:

1. Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) adalah izin tertulis dari pejabat yang berwenang
dan wajib dimiliki oleh perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan;
2. Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) adalah izin tertulis dari pejabat yang berwenang
dan wajib dimiliki oleh perusahaan perkebunan yang melakukan usaha industri pengolahan hasil
perkebunan
3. Izin Usaha Perkebunan (IUP) adalah izin tertulis dari pejabat yag berwenang dan wajib dimiliki oleh
perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan dan terintegrasi dengan
usaha industri pengolahan hasil perkebunan.

Izin Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (IUP-B)

Batasan luasan tanah tertentu yang diwajbikan untuk mendapatkan IUP-B adalah yang dengan luas lebih
dari 25 hektar, sedangkan untuk yang luasnya kurang dari luas tersebut akan dilakukan pendaftaran oleh
bupati/walikota. Untuk usaha budidaya tanaman kelapa sawit dengan luas 1.000 hektar atau lebih, teh
dengan luas 240 hektar atau lebih dan tebut dengan luas 2.000 hektar atau lebih wajib terintegrasi dalam
hubungan dengan usaha industri pengolahan hasil perkebunan, sehingga diwajibkan memiliki IUP. Batas
paling luas pemberian IUP-B untuk 1 (satu) perusahaan atau kelompok perusahaan perkebunan adalah:
Tanaman Batas Paling Luas (ha)

Kelapa 40.000

Karet 20.000

Kopi 10.000

Kakao 10.000

Jambu Mete 10.000

Lada 1.000

Cengkeh 1.000

Kapas 20.000

Tata Cara Permohonan Izin


Persyaratan dokumen IUP-B:

No. Dokumen

1. Profil Perusahaan meliputi Akta Pendirian dan


perubahan terakhir yang telah terdaftar di
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,
komposisi kepemilikan saham, susunan pengurus
dan bidang usaha perusahaan;

2. NPWP

3. Surat Izin Tempat Usaha


4. Rekomendasi kesesuaian dengan Perencanaan
Pembangunan Perkebunan Provinsi dari

gubernur untuk IUP-B yang diterbitkan oleh


bupati/walikota;

5. Izin lokasi dari bupati/walikota yang dilengkapi


dengan peta digital calon lokasi dengan skala
1:100.000 atau 1:50.000 (cetak peta dan file
elektronik) sesuai dengan peraturan
perundangundangan

6. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari dinas


yang membidangi kehutanan,

7. Rencana kerja pembangunan kebun termasuk


rencana fasilitasi pembangunan kebun masyarakat
sekitar, rencana tempat hasil produksi akan diolah;

8. Izin Lingkungan dari gubernur


atau
bupati/walikota sesuai kewenangan
9. Pernyataan kesanggupan:
1). memiliki sumber daya manusia, sarana, prasarana
dan sistem untuk melakukan pengendalian
organisme pengganggu tanaman (OPT); 2). memiliki
sumber daya manusia, sarana, prasarana dan sistem
untuk melakukan pembukaan lahan tanpa bakar
serta pengendalian kebakaran; 3). memfasilitasi
pembangunan kebun masyarakat sekitar sesuai Pasal
15 yang dilengkapi dengan rencana kerja dan
rencana pembiayaan; dan 4). melaksanakan
kemitraan

dengan Pekebun, karyawan dan masyarakat


sekitar perkebunan;

Surat Pernyataan dari Pemohon bahwa status


Perusahaan Perkebunan sebagai usaha mandiri
atau bagian dari Kelompok (Group) Perusahaan
10.
Perkebunan belum menguasai lahan melebihi
batas paling luas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17

Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP - P)


Industri pengolahan untuk mendapatkan IUP-P harus memenuhi penyediaan bahan baku paling rendah
20% berasal dari kebun sendiri dan kekurangannya wajib dipenuhi dari kebun masyarakat/perusahaan
Kapasitas paling rendah industri pengolahan yang diwajibkan untuk mendapatkan IUP - P adalah :

Komoditas Kapasitas Produk

CPO, inti sawit, tandan kosong,


Kelapa Sawit 5 ton TBS per jam
cangkang, serat, sludge

1 ton pucuk segar per hari Teh hijau


Teh
10 ton pucuksegar per hari The hitam

Tebu 1.000 ton tebu per hari Gula Kristal putih

Dengan demikian untuk industri pengolahan yang kurang dari kapasitas tersebut hanya perlu
dilakukan pendaftaran oleh bupati/walikota.
perkebunan lain melalui kemitraan pengolahan berkelanjutan. Persyaratan kemitraan pengolahan
berkelanjutan:

1. Dilakukan dengan masyarakat/perusahaan perkebunan yang tidak memiliki unit pengolahan dan
belum mempunyai ikatan kemitraan dengan Usaha Industri Pengolahan Hasil Perkebunan;
2. Dilakukan dalam bentuk perjanjian tertulis dan bermaterai cukup untuk jangka waktu peling kurang
10 tahun sesuai format dalam peraturan;

No Dokumen

1. Profil Perusahaan meliputi Akta Pendirian dan


perubahan terakhir yang telah terdaftar di
lahan melalui perluasan atau pengurangan, harus mendapat persetujuan dari gubernur atau
bupati/walikota sesuai kewenangan, dengan dua cara yaitu:
1. Mengajukan permohonan secara tertulis dilengkapi persyaratan yang sama seperti saat
mengajukan izin yang disebutkan diatas;
2. Hasil Penilaian Usaha Perkebunan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian tentang Penilaian
Usaha Perkebunan, laporan kemajuan fisik dan keuangan Perusahaan Perkebunan

3. Kewajiban Perusahaan Perkebunan


Dalam peraturan ini juga diatur mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemegang Izin
Usaha Perkebunan, yaitu:

1. memiliki sumber daya manusia, sarana, prasarana dan sistem pembukaan lahan tanpa bakar serta
pengendalian kebakaran;
2. menerapkan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar dan mengelola sumber daya alam secara
lestari;
3. memiliki sumber daya manusia, sarana, prasarana dan sistem pengendalian organisme pengganggu
tanaman;
4. menerapkan AMDAL, atau UPL dan UKL sesuai peraturan perundang-undangan;
5. menyampaikan peta digital lokasi IUP-B atau IUP skala 1:100.00 atau 1;50.000 (cetak dan
elektronik) disertai dengan koordinat yang lengkap sesuai dengan peraturan perundangundangan
kepada Direktorat Jenderal yang membidangi perkebunan dan Badan Informasi Geospasial;
6. memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat bersamaan dengan pembangunan kebun
perusahaan dan pembangunan kebun masyarakat diselesaikan paling lama dalam waktu 3 tahun;
7. melakukan kemitraan dengan Pekebun, karyawan, dan masyarakat sekitar;
8. melaporkan perkembangan Usaha Perkebunan kepada pemberi izin secara berkala seiap 6 bulan
sekali dengan tembusan kepada:

• Menteri Pertanian melalui Direktur Jenderal dan gubernur apabila izin diterbitkan oleh
bupati/walikota;
• Menteri Pertanian melalui Direktur Jenderal dan bupati/walikota apabila izin diterbitkan oleh
gubernur.

4. Larangan-Larangan yang Diatur dalam Permentan No.98 Tahun 2013


Terdapar beberapa larangan yang diatur dalam peraturan terbaru ini, adapun larangan-larangan tersebut
meliuputi antara lain Larangan untuk:

1. Memalsukan mutu dan/atau kemasan hasil perkebunan;


2. Menggunakan bahan penolong untuk pengolahan;
3. Mencampur hasil perkebunan dengan benda atau bahan lain;
4. Mengiklankan hasil usaha perkebunan yang menyesatkan konsument;
5. Menadah hasil usaha perkebunan yang diperoleh dari penjarahan dan/atau pencurian.
III. PERTANIAN

1. Definisi
Pertanian adalah kegiatan manusia di dalam memanfaatkan sumber daya hayati supaya
bisa menghasilkan bahan pangan, sumber energi, bahan baku industri serta untuk mengelola
lingkungannya, itulah arti dari pertanian pada umumnya. Pengertian pertanian secara luas
ialah pemanfaatan dari sumber daya hayati yang di lakukan oleh manusia dengan
menggunakan cara menanam tanaman yang produktif yang bisa menghasilkan serta dapat di
pergunakan bagi kehidupan, ataupun seluruh kegiatan yang mencakup kedalam pertanian,
perkebunan, peternakan, kehutanan dan juga perikanan yang hasilnya bisa digunakan bagi
kehidupan manusia. Arti pertanian secara sempit ialah proses dari budidaya tanaman pada
suatu lahan yang hasilnya bisa mencukupi dari kebutuhan manusia, ataupun proses dari
bercocok tanam yang dilakukan di lahan yang sudah di siapkan sebelumnya dan kemudian di
kelola menggunakan cara yang manual dan tidak terlalu banyak menggunakan manajemen.
Sedangkan aktivitas pertanian yang terdapat di indonesia mempunyai dua macam
antara lain pertanian basah dan juga kering. Pertanian lahan basah ialah merupakan lahan
yang digenangi oleh air atau yang lebih dikenal dengan sawah. Pertanian ini biasanya lebih
banyak dilakukan di daratan rendah dan biasanya lebih sering berlokasi sekitar 300m diatas
permukaan laut. Karena pada umumnya diwilayah tersebut terdapat banyak sungai dan juga
adanya irigasi untuk pengairan. Sedangkan pertanian lahan kering ialah pertanian yang
lahannya tidak tergenang oleh air dan tentu tanaman yang ditanam tidak membutuhkan
genangan air pada lahan tumbuhan dan juga biasanya berlokasi di atas 500m di atas
permukaan laut tetapi banyak juga yang di lakukan pada daratan rendah.

2. Pengendalian Tanah Pertanian


Sektor pertanian saat ini masih didominasi oleh usaha-usaha yang berskala subsisten,
kurang diminati oleh generasi muda, luas lahan yang sempit dan dengan tingkat adopsi
teknologi yang rendah, sehingga kurang mampu berproduksi secara ekonomis. Selain itu,
secara sosiologis, petani Indonesia lebih bersifat subsisten, kurang mengenal potensi dirinya
sendiri untuk bergerak lebih maju ke arah pertanian komersial (Ikhsan dan Mohammad,
1996). Sehingga setiap ada peluang bisnis, yang sigap menangkap bukan petani, melainkan
pedagang. Nilai tambah terbesar jatuh ke tangan pedagang, sedangkan petani tetap
bertahan dalam level subsisten.
Keterpurukan sektor pertanian tersebut ditandai pula dengan terjadinya percepatan
perubahan fungsi tanah dari penggunaan untuk usaha pertanian menjadi sektor ekonomi
modern, seperti industri, perumahan dan jasa. Alih fungsi penggunaan tanah pertanian ke
nonpertanian justru paling banyak terjadi di pulau Jawa yang sementara ini menyumbang
kebutuhan beras nasional yang terbesar. Dampak penyusutan luas tanah pertanian terutama
di Pulau Jawa tidaklah terbatas kepada persoalan ancaman kelangsungan penyediaan
pangan, produktivitas pertanian, lingkungan hidup dan perekonomian nasional. Penyusutan
luas tanah pertanian ini memiliki dampak lain yang lebih serius bagi masyarakat petani
berupa kehilangan penguasaan terhadap sumber daya kapital utama bagi kelangsungan
kehidupan mereka, yakni tanah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyusutan lahan pertanian adalah sebab
dan sekaligus akibat dari keterpurukan sektor pertanian. Keterpurukan sektor ini terjadi
karena proses transformasi struktur perekonomian yang timpang sebagai akibat
kebijaksanaan pembangunan yang bias kota, sehingga meskipun mampu mengangkat
pertumbuhan agregate namun secara simultan menempatkan sektor pertanian menjadi
usaha-usaha berskala subsisten, kurang prestisius, ‘ndeso’. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar petani menginginkan anaknya tidak bekerja di sektor pertanian, karena
pertanian memang sudah tidak dapat diandalkan lagi.
Ketiadaan insentif untuk bertani dan kuatnya tekanan pasar menyebabkan tanah
pertanian yang ada terus menyusut secara cepat dengan ketimpangan struktur penguasaan
yang kian memburuk. Penduduk dan aktivitasnya akan terus meningkatkan kebutuhan
terhadap tanah selalu lebih tinggi daripada penyediaannya yang relatif tetap, implikasinya
adalah apabila alokasi tanah diserahkan kepada mekanisme pasar, maka senantiasa terdapat
tekanan perubahan penggunaan tanah dari yang intensitasnya lebih rendah ke aktivitas lain
yang lebih produktif (Bracken, 1981), sehingga kehilangan tanah-tanah pertanian menjadi
semakin sulit dikendalikan. Padahal, ketersediaan tanah pertanian akan senantiasa menjadi
faktor penting untuk menjamin kelangsungan penyediaan pangan dan tempat bagi kegiatan
ekonomi bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
Dalam konteks pengamanan tanah-tanah pertanian terutama sawah irigasi teknis,
pemerintah telah menerbitkan sejumlah kebijakan/peraturan perundangan. Peraturan-
peraturan yang berkenaan dengan pengendalian konversi tanah pertanian ke nonpertanian
tersebut antara lain adalah:
1. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 590/11108/SJ tanggal 24 Oktober 1984 yang
menyatakan bahwa penyediaan tanah untuk kegiatan pembangunan sedapat mungkin
mencegah terjadinya perubahan tanah pertanian ke nonpertanian, sehingga tidak
mengganggu usaha peningkatan produksi pangan yang telah ada selama ini.
2. Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri, di mana antara lain
ditegaskan bahwa untuk kawasan industri tidak menggunakan tanah sawah dan tanah
pertanian subur lainnya. Dalam pelaksanaannya, larangan ini telah diberlakukan untuk
semua penggunaan tanah nonpertanian lainnya seperti untuk perumahan, jasa, dan lain
sebagainya.
3. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1990 tentang penggunaan tanah kawasan industri
yang antara lain berisi bahwa pemberian ijin lokasi dan ijin pembebasan tanah untuk
perusahaan kawasan industri tidak boleh mengurangi areal tanah pertanian dan harus
sesuai dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah daerah
setempat.
4. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang penyediaan tanah untuk
pembangunan bagi kepentingan umum.
5. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 2 Tahun 1993 tentang tata cara
memperoleh ijin lokasi dan hak atas tanah bagi perusahaan dalam rangka Penanaman
Modal, dengan petunjuk pelaksanaannya untuk Ijin Lokasi dengan Keputusan Menteri
Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 22 Tahun 1993.
6. Surat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua BAPPENAS kepada
Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 5334/MK/9/1994 tanggal 29 September 1994
tentang perubahan penggunaan sawah irigasi teknis untuk penggunaan tanah
nonpertanian.
7. Surat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua BAPPENAS selaku
Ketua BKTRN kepada Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 5334/MK/9/1994
tanggal 29 September 1994 tentang efisiensi pemanfaatan tanah bagi pembangunan
perumahan yang secara umum menggariskan bahwa pembangunan kawasan perumahan
tidak dilakukan di tanah sawah beririgasi teknis.
8. Surat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Ketua BAPPENAS Nomor
5417/MK/10/1994 tanggal 4 Oktober 1994; dan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor
474/4263/SJ tanggal 27 Desember 1994 yang menyatakan bahwa perubahan penggunaan
tanah pertanian ke nonpertanian tidak mengorbankan tanah pertanian subur dan
berpengairan teknis.
9. Surat Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 460-3346 tanggal 31 Oktober 1994
kepada seluruh Kantor Wilayah BPN Propinsi dan Kantor Pertanahan se-Indonesia.
Diinstruksikan untuk tetap mempertahankan tanah sawah beririgasi teknis, apabila
rencana perubahan penggunaan tanah sawah tersebut telah tertuang dalam RTRW maka
diinstruksikan agar membantu pemda setempat untuk merubah peruntukan tersebut.
10. UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
11. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN). Kawasan Peruntukan pertanian adalah kawasan yang diperuntukan
bagi kegiatan pertanian yang meliputi budidaya tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, dan peternakan.
3. Kebijakan Pemerintah
Dasar kebijaksanaan pertanahan adalah pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang dijabarkan
lebih lanjut dalam UU No 5 tahun 1960 (UUPA). Pada pasal 2 ayat (1) UUPA ditegaskan lagi
bahwa bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Selanjutnya pada ayat (2)
pasal yang sama disebutkan bahwa hak menguasai dari negara memberikan wewenang
untuk:
1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan
pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut,
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan
bumi, air, dan ruang angkasa, dan
3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan
perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa. Terhadap
asas “negara menguasai” dimaksud di atas, negara menerima kuasa dari masyarakat
untuk mengatur tentang peruntukan, persediaan dan penggunaan tanah yang harus
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Kewenangan mengatur oleh negara
pun dibatasi, baik oleh UUD maupun relevansinya dengan tujuan yang hendak dicapai
yaitu sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Berdasarkan kebijaksanaan seperti yang telah diuraikan, maka dirumuskan secara
spesifik kebijaksanaan tentang penatagunaan tanah yang merupakan penjabaran dari pasal
14 UUPA yang menyebutkan dalam penjelasannya bahwa "untuk mencapai apa yang menjadi
cita-cita Bangsa dan Negara dalam bidang pertanahan perlu adanya rencana (planning)
mengenai peruntukan, penggunaan, dan persediaan bumi, air, dan ruang angkasa untuk
berbagai kepentingan hidup rakyat dan Negara". Pemerintah membuat rencana umum
persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air, ruang angkasa serta kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya. Berdasarkan rencana umum yang meliputi seluruh wilayah
Indonesia, pemerintah daerah dapat mengatur persediaan, peruntukan dan
penggunaan tanah di wilayahnya sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing. Lebih
lanjut Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang mengamanatkan bahwa
penataan ruang diselenggarakan dengan berasaskan kepada pemanfaatan ruang bagi semua
keperluan secara terpadu, berkelanjutan, keterbukaan, persamaan, keadilan, dan
perlindungan hukum. Selain peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan UUPA
dan tata ruang, pelaksanaan pengaturan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah
juga memperhatikan peraturan perundangan yang mengatur kegiatan sektoral seperti
kehutanan, pertambangan, perindustrian, lingkungan hidup, transmigrasi, peternakan,
perumahan dan pemukiman, pariwisata, pertanian, pengairan dan sebagainya.

4. Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B)


Ditengah besarnya tanggung jawab pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan,
pembangunan pertanian menghadapi permasalahan dan tantangan yang sangat besar
terutama tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian sebagai akibat pertambahan
penduduk. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2009 total lahan sawah di Bali tercatat
seluas 81.931Ha, sedangkan pada tahun 2012 total lahan sawah tercatat 81.625 Ha . Ini
berarti dalam kurun waktu 4 (empat) tahun dari 2009 s/d tahun 2012 tercatat alih fungsi
lahan sawah sebesar 306 Ha (0,37%) atau sekitar 76,5 Ha/tahun.
Alih fungsi lahan pertanian merupakan ancaman terhadap pencapaian ketahanan
pangan menuju kedaulatan pangan. Alih fungsi lahan mempunyai implikasi yang serius
terhadap produksi pangan, lingkungan fisik serta kesejahteraan masyarakat pertanian dan
perdesaan yang kehidupannya tergantung pada lahannya. Alih fungsi lahan-lahan pertanian
subur yang selama ini terjadi kurang diimbangi dengan upaya-upaya secara terpadu dalam
pengembangan lahan pertanian melalui pencetakan lahan pertanian baru yang potensial.
Disamping itu alih fungsi lahan menyebabkan makin sempitnya luas garapan yang berdampak
kepada tidak terpenuhinya skala ekonomi usaha tani, sehingga berakibat kepada in efisiensi
dan pada akhirnya menurunnya kesejahteraan petani. Kecilnya luas garapan petani juga
disebabkan oleh peningkatan jumlah rumah tangga petani yang tidak sebanding dengan luas
lahan yang diusahakan. Akibatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tanpa
penguasaan/kepemilikan lahan terus bertambah yang berakibat kepada sulitnya upaya
peningkatan kesejahteraan petani dan pengentasan kemiskinan di kawasan pedesaan.
Dalam rangka pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan, pemerintah telah
menetapkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan. Dalam UU Nomor 41/2009 tersebut dengan jelas disebutkan bahwa
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan
untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi
kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. LP2B dapat berupa lahan
beririgasi, lahan reklamasi rawa pasang surut dan non pasang surut (lebak) dan/atau lahan
tidak beririgasi (lahan kering). Untuk menjamin kecukupan pemenuhan akan bahan pangan,
maka dalam perencanaan penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan didasarkan
kepada : 1) pertumbuhan penduduk dan kebutuhan konsumsi pangan penduduk; 2)
pertumbuhan produktivitas; 3) kebutuhan pangan nasional; 4) kebutuhan dan ketersediaan
lahan pertanian pangan; 5) pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta 6)
musyawarah petani.
Penyusunan perencanaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan secara
berjenjang, mulai dari tingkat nasional, tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Perencanaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Nasional menjadi acuan perencanaan
Lahan Pertanian Berkelanjutan provinsi dan kabupaten/kota. Perencanaan LP2B diawali
dengan penyusunan usulan perencanan oleh Pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan
pemerintah daerah kabupaten/kota yang dilakukan berdasarkan hasil inventarisasi,
identifikasi dan penelitian. Usulan selanjutnya disebarkan kepada masyarakat untuk
memperoleh tanggapan dan saran perbaikan. Untuk memberikan jaminan hukum,
penetapan Rencana LP2B dimuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP),
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Tahunan, baik nasional,
provinsi maupun kabupaten/kota. Disamping itu pada UU Nomor 41/2009 pasal 23 dengan
tegas disebutkan bahwa penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan Nasional diatur
dalam Peraturan Pemerintah mengenani Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan untuk di
Tingkat Provinsi diatur dalam Perda mengenai tata ruang wilayah provinsi serta di
kabupaten/kota diatur dalam Perda tata ruang wilayah kabupaten/kota. Demikian juga
halnya apabila suatu Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan tertentu memerlukan
perlindungan khusus, kawasan tersebut dapat ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional
(KSN).
Ketentuan lebih detail tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 1 Tahun 2011. Dalam UU Nomor
41/2009 juga dinyatakan bahwa dalam suatu hal, suatu daerah/kawasan ditetapkan sebagai
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, maka pemerintah dan pemerintah daerah
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan konservasi tanah dan air yang meliputi : 1)
perlindungan sumber daya lahan dan air; 2) pelestarian sumber daya lahan dan air; 3)
pengelolaan kualitas lahan dan air serta 4) pengendalian terhadap pencemaran. Hal ini
dilakukan guna memberikan jaminan bahwa LP2B yang telah ditetapkan, tetap produktif dan
mampu memberikan dukungan dalam proses produksi pangan dalam jangka panjang dan
berkelanjutan.
Menyadari atas keberadaan hak miliki masyarakat, terhadap lahan masyarakat yang
ditetapkan sebagai LP2B dan memperhitungkan nilai ekonomi lahan serta hasil yang
diperoleh dari pengusahaan lahan tersebut oleh pemilik lahan, maka dalam rangka
perlindungan dan pengendalian LP2B dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah
melalui pemberian : insentif, disinsentif, mekanisme perizinan, proteksi dan penyuluhan.
Insentif dapat diberikan dalam bentuk: 1) keringanan PBB; 2) pengembangan infrastruktur
pertanian; 3) pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan varietas unggul; 4)
kemudahan dalam mengkases informasi dan teknologi; 5) penyediaan sarana dan prasarana
produksi pertanian; 6) jaminan penerbitan sertifikat bidang tanah pertanian tanaman pangan
serta 7) penghargaan bagi petani berprestasi tinggi. Pemberian insentif diberikan dengan
mempertimbangkan: jenis lahan, kesuburan tanah, luas kondisi irigasi, produktivitas usaha
tani, lokasi, dll. Pemberian insentif perlindungan LP2B lebih lanjut diatur dalam Peraturan
Pemerintah RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian
Berkelanjutan. Pemberian insentif perlindungan LP2B bertujuan untuk: 1) mendorong
perwujudan LP2B yang telah ditetapkan; 2) meningkatkan upaya pengendalian alih fungsi
LP2B; 3) meningkatkan pemberdayaan, pendapatan dan kesejahteraan petani; 4)
memberikan kepastian hak atas tanah bagi petani dan 5) meningkatkan kemitraan semua
pemangku kepentingan dalam rangka pemanfaatan, pengembangan dan perlindungan LP2B.
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.62/Menhut-II/2013 tentang


Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/MENHUT-II/2012 tetang
Pengukuran Kawasan Hutan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.9/Menlhk-
II/2015 tentang Tata Cara Pemberian, Perluasan Areal Kerja dan Perpanjangan Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu Restorasi Ekosistem atau Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman
Industri pada Hutan Produksi
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.8/Menhut-II/2014 tentang Pembatasan Luasan Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dalam Hutan Alam, IUPHK Hutan Tanaman
Industri atau IUPHHK Restorasi Ekosistem pada Hutan Produksi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Kehutanan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2009
Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2013
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2014
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2015

Is, Iskandar. 2012. Tinjauan Yuridisi Tukar-Menukar dan Pelepasan Kawasan Hutan Untuk
Kepentingan NonKehutanan. Bengkulu: Fakultas Hukum Universitas Bengkulu.
Nanggara, Soelthon Gussetya dkk. 2018. Silang Sengkarut Pengelolaan Hutan Dan Lahan Di
Iindonesia. Bogor: Forest Watch Indonesia.
Irawan. 1997. Relokasi sumber daya pertanian: Tinjauan mengenai kasus alih fungsi lahan sawah.
hlm 151-164 dalam Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian
Tanah dan Agroklimat. Makalah Review. Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah
dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.
G.B. Indrarto, C. Purba, B. Steni, D. Tresya, M. Dewantama, C. Hartati, I. Apriani, A. Putri. 2013.
Potret Pelaksanaan Tata Kelola Hutan. ICEL-FWI-Huma-Sekata-Telapak.
Fauzi, Adam Irwansyah. 2018. Aspek Legal Spasial Kawasan Pertanian. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Fauzi, Adam Irwansyah. 2018. Aspek Legal Spasial Kawasan Perkebunan. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.

Paino, Christopel. 2015. Kisah Sedih Tambang Nikel di Morowali: Sasaran Empuk untuk
Dikeruk.https://www.mongabay.co.id/2015/02/16/kisah-sedih-tambang-nikel-di
morowali-sasaran-empuk-untuk-dikeruk/. Diakses pada tanggal 29 Maret 2019.
Anonim. 2017. PETA GIS ALIH FUNGSI LAHAN DAN AREAL SAWAH D.I. CIDURIAN.
http://petairigasi.blogspot.com/2017/05/peta-gis-alih-fungsi-lahan-dan-areal.html.
Diakses pada tanggal 29 Maret 2019.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan


Peraturan Pemerintah Repubik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Penglelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan