You are on page 1of 17

MAKALAH

TEKHNIK TERAPI KOMPLEMENTER : HUMOR (TERTAWA) DAN


INTERVENSI MUSIK
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“Keperawatan Komunitas ”

Oleh:
Kelompok 4
1. Sekar Novia R (G2A218025)
2. Melisa Afiana (G2A218026)
3. Desy Dwi N A (G2A218027)
4. Dina Madinatul M (G2A218028)
5. Ahmad Nuriyadi (G2A218029)
6. Teguh Ariwibowo (G2A218030)

7. Puji Anugroho (G2A218031)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN LINTAS JALUR


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah yang bertemakan “Tekhnik Terapi Komplementer :
Humor (Tertawa) Dan Intervensi Musik” ini.

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas perkuliahan, yaitu sebagai tugas
kelompok mata kuliah Keperawatan Komunitas Program Studi S1 Keperawatan
Lintas Jalur Universitas Muhammadiyah Semarang 2018.

Dalam penulisan makalah ini, kami banyak mendapatkan bantuan dan


dorongan dari pihak-pihak luar sehingga makalah ini terselesaikan sesuai dengan
yang diharapkan.

Ucapan terima kasih tidak lupa kami ucapkan kepada dosen Keperawatan
Komunitas yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.

Segala sesuatu di dunia ini tiada yang sempurna, begitu pula dengan
makalah ini. Saran dan kritik sangatlah kami harapkan demi kesempurnan makalah
berikutnya. Kami harapkan semoga makalah ini dapat memberikan suatu manfaat
bagi kita semua dan memilki nilai ilmu pengetahuan.

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................ii

BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................1

A. Latar belakang...........................................................................................1

B. Tujuan.........................................................................................................1

C. Manfaat......................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................2

A. Terapi Komplementer...............................................................................2

B. Terapi Humor (Tertawa).............................................................................3

C. Terapi Intervensi Musik ........................................................................7

BAB III PENUTUP.........................................................................................13

A. Kesimpulan.............................................................................................13

B. Saran.......................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di zaman millenial kini tidak semua pengobatan selalu


menggunakan obat, karena tahu bahwa konsumsi obat akan memberikan
efek samping. Salah satu pengobatan tanpa obat disebut sebagai terapi
komplementer. Terapi komplementer adalah suatu terapi non-farmakologi
atau dapat disebut terapi tanpa menggunakan obat-obatan namun
menggunakan suatu metode tertentu yang dapat mengurangi sakit yang
diderita pasien. Terapi komplementer ini biasa dilakukan oleh seorang
perawat secara mandiri sebelum melakukan kolaborasi pemberian obat
medis dengan dokter. Terapi komplementer cukup banyak ragamnya,
namun dalam makalah ini akan membahas tentang terapi humor (tertawa)
dan terapi musik. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis ingin
memaparkan hasil mengenai teknik terapi komplementer humor dan musik
untuk diimplementasikan dalam menangani penyakit tertentu.

B. TUJUAN

1. Untuk mengetahui terapi komplementer.


2. Untuk mengetahui tekhnik terapi humor (tertawa).
3. Untuk mengetahui tekhnik terapi intervensi musik.

C. MANFAAT

Memberikan pengetahuan lebih mendalam terhadap masyarakat bahwa


terdapat pengobatan non-farmakologi seperti terapi humor (tertawa) dan
terapi intervensi musik

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TERAPI KOMPLEMENTER

1. Definisi

Menurut WHO (World Health Organization), pengobatan


komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal
dari negara yang bersangkutan. Terapi komplementer adalah cara
penanggulangan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada
pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain
diluar pengobatan medis yang konvensional. Sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1109/MENKES/PER/IX/2007 Tentang Penyelanggaraan Pengobatan
Komplementer Alternatif Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, definisi
pengobatan Komplementer tradisional-alternatif adalah pengobatan non
konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, meliputi upaya promotiv,preventive,kuratif, dan
rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan
kualitas, keamanan, dan evektivitas yang tinggi berandaskan ilmu
pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran
konvensional.
2. Jenis – jenis
a. Praktek-praktek penyembukan tradisional seperti ayurweda dan
akupuntur.
b. Terapi fisik seperti chiropractic, pijat, dan yoga.
c. Homeopati atau jamu-jamuan.
d. Pemanfaatan energi seperti terapi polaritas atau reiki
e. Teknik-teknik relaksasi, termasuk meditasi (terapi musik) dan
visualisasi (terapi humor).
f. Suplemen diet, seperti vitamin dan mineral

2
3. Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer
a. Perawat adalah sebagai pelaku dari terapi komplementer selain dokter
dan praktisi terapi.
a. Perawat dapat melakukan intervensi mandiri kepada pasien dalam
fungsinya secara holistik dengan memberikan advocate dalam hal
keamanan, kenyamanan dan secara ekonomi kepada pasien.

B. TERAPI HUMOR (TERTAWA)

1. Definisi

Humor therapy atau terapi humor adalah penggunaan humor


untuk mengurangi rasa sakit fisik atau emosional dan stres. Humor dalam
keperawatan didefinisikan sebagai membantu klien “menerima,
menghargai, dan mengungkapkan sesuatu yang lucu, dapat ditertawakan,
atau menggelikan dalam upaya membina hubungan, meredakan
ketegangan, melepaskan kemarahan, memfasilitasi belajar, atau
mengatasi perasaan yang menyakitkan”.
2. Tujuan
Tujuannya adalah mengurangi stres dan meningkatkan kualitas
hidup seseorang. Perawat dalam melakukan terapi ini disaat melakukan
kegiatan keperawatan yang lain, misalnya: ketika melakukan konseling
kesehatan, menyiapkan fooding atau pada saat melakukan kegiatan santai
dengan pasien. Profesional kesehatan baru-baru ini telah memusatkan
perhatian pada pengaruh positif humor dan tertawa terhadap kesehatan
dan penyakit. Humor melibatkan kemampuan untuk menemukan,
mengungkapkan, atau menghargai ketidakpatutan secara menggelikan
atau kocak, menertawakan ketidaksempurnaan diri atau aspek kehidupan
yang aneh, dan melihat sisi lucu situasi yang serius.
3. Manfaat
Rincian manfaat humor dalam situasi keperawatan adalah sebagai
berikut:

3
a. Membina hubungan. Humor mengurangi jarak sosial antara-individu
dan membantu memudahkan individu. Pemakaian humor membantu
perawat membina hubungan dengan klien, faktor penting dalam
mencapai keberhasilan intervensi keperawatan.
b. Meredakan ketegangan dan kecemasan. Freud pada tahun 1905
menyatakan bahwa tertawa melepaskan energi psikis yang
sebelumnya digunakan untuk menghambat ekspresi impuls yang
tidak diterima secara sosial atau secara pribadi.Pemakaian humor
yang efektif meredakan ketegangan dari peristiwa yang bermuatan
emosi. Individu juga dapat menggunakan humor untuk tujuan
pencegahan guna mengurangi stres.
c. Melepaskan rasa marah dan agresi. Humor membantu individu
mengeluarkan impuls atau perasaan dengan cara yang aman dan
tidak mengancam. Humor mengeluarkan rasa marah dan agresi
dengan memfokuskan pada unsur menggelikan dari sebuah situasi.
d. Memfasilitasi belajar. Banyak kuliah dan presentasi dimulai dengan
sebuah lelucon atau kartun.Humor tidak hanya mengurangi
kecemasan penyaji, tetapi juga mendapatkan perhatian
peserta.Orang dapat belajar lebih banyak saat mereka
mengasosiakan informasi dengan sebuah lelucon. Namun,
pemakaian humor dalam instruksi perlu direncanakan secara
saksama sehingga dapat membantu pembelajaran.
e. Mengatasi perasaaan yang menyakitkan. Orang dapat menggunakan
humor untuk menumpulkan efek situasi yang baru saja dialami yang
terlalu menyakitkan, seperti efek diagnosis atau terpi yang
mengancam.Humor mengurangi kecemasan dan rasa takut serta
mengurangi ketegangan, sehingga memungkinkan orang melawan
dan mengatasi situasi tersebut.
Humor juga mempunyai manfaat fisiologis yang melibatkan
keadaan stimulasi dan relaksasi yang silih berganti.Tertawa
merangsang peningkatan frekuensi pernapasan, frekuensi jantung,

4
ketegangan otot, dan pertukaran oksigen.Keadaan relaksasi
terbentuk setelah tertawa, ketika terjadi penurunan frekuensi
jantung, tekanan darah, pernapasan dan ketegangan otot. Humor
merangsang produksi katekolamin dan hormon.Humor juga
melepaskan endorfin, yang meningkatkan toleransi nyeri.
Humor mengeluarkan dan memdukan emosi positif individu,
harapan, keyakinan, semangat hidup, kesenangan, tujuan, dan
ketepatan.Dengan demikian humor mempunyai efek
menyembuhkan.
4. Jenis situasi dan tindakan yang menimbulkan efek humor
Humor akan membuat orang merasa rileks. Tingkat humor antara
individu satu dengan yang lain berbeda, perbedaan ini dikarenakan
keunikan dari persepsi masing – masing individu. Humor merupakan
respond dan penelitian subjektif dari maisng – masing individu. Secara
umum sesuatu hal yang mungkin dapat menimbulkan respon humor
klien, antara lain:
a. Kejutan (being staried)
Sesuatu yang mengejutkan dapat menimbulkan respon
humor.Stimulasi ini diterima dengan cepattetapi tidak dirasakan
sebagai ancaman.Misalnya, perawat memberikan fooding atau jatah
makanan klien dengan mengucapkan Selat Ulang Tahun kepada
pasien karena hari tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun pasien.
Hal tersebut akan menimbulkan perasaan bahagia dan kejuvan bagi
pasien karena perhatian perawat kepadanya.
b. Sesuatu yang tidak terduga (the unexpected future)
Sesuatu yang mengejutkan dapat menimbulkan respon humor ketika
kenyataan yang diharapkan digantikan oleh sesuatu yang tidak
diinginkan. Misalnya klien setelah dilakukan personal hygiene ileh
perawat, ternyata pasien menggunakan bedak dan baby oil karena
parfum dan bedak pasien tertinggal dirumah. Kejadian yang tidak

5
diharapkan atau diduga tersebut dapat menimbulkan respon humor
dan biasanya dijadikan bahan sebuah lelucon atau guyonan.

c. Keanehan (incongruity)
Ketika stimulus menerima sutu keadaan. Maka keanehan ini akan
menjadi sebuah reseptor humor. Pengalaman yang aneh ini mebuat
respon lucu dan menggelikan.Perawat dapat melakukan hal tersebut
dengan menceritakan pengalaman masa lalu pasien maupun perawat
yang menimbulkan keanehan namun dalam konteks kewajaran.
d. Heran serta menyenangkan
Terapi yang dapat membuat respon humor salah satunya adalah
pemberian sesuatu yang mengagetkan/mengherankan dan
menyenangkan. Ketika sedikit heran atau tertipu, pengalaman akan
menghasilkan perasaan menyenangkan. Misalnya: perawat dapat
menyanyikan satu atau dua bait lagu dari artis idola pasien secara
merdu. Hal tersebut akan menimbulkan keheranan sekaligus
pengalaman menyenangkan bagi pasien dan kemungkinan pasien
akan beranggapan perawattersebut adalah seorang yang multi talenta.
5. Prosedur
a. Memberikan pendekatan komunikasi teraupetik kepada klien
b. Bina hubungan saling percaya perawat- klien
c. Kaji apakah klien ingin mendengarkan cerita atau pengalaman unik/lucu
d. Mengkaji kegiatan apakah yang disukai klien yang dapat membuat klien
tertawa
e. Perawat menyiapkan peralatan dan fasilitas yang dibutuhkan selama
terapi
f. Tawarkan berbagai jenis media humor (buku, film lucu, kaset video
CD,dll) kepada klien
g. Tawarkan kepada klien apakah pasien ingin didampingi perawat
saatterapi

6
h. Memberikan feedback yang positif krpada klien serta menunjukkan sikap
bahasgia bersama klien.
6. Hal yang perlu diperhatikan
a. Perawat dapat melakukan tindakan ini dengan menyesuaikan pada
situasi dan kondisi pasien
b. Perawat senantiasa memperhatikan keadaan umum dan reaksi pasien
c. Budaya juga berpengaruh dalam pemberian terapi tersebut, maka
perawat dapat menyesuaikan jenis humor sesuai dengan keinginan
klien.

C. TERAPI INTERVENSI MUSIK

1. Definisi
Terapi musik adalah suatu bentuk pelayanan keperawatan holistic
yang dapat diterapkan kepada klien. Terapi musik dapat dibagi menjadi
dua jenis yaitu: terapi music aktif dan terapi music pasif. Terapi musik
adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan
suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya
yang diorganisir sedemikian rupa sehingga tercipta musik yang
bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan
meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan
menjadi sebuah terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan
memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual.
2. Tujuan
Terapi musik secara umum bertujuan untuk :
a. Membuat hati dan perasaan seorang menjadi senang dan terhibur
b. Membantu mngurangi beban penderitaan seseorang
c. Tempat penyaluran bakat seseorang
Tujuan terapi musik secara khusus adalah untuk
menumbuhkembangkan potensi-potensi yang ada pada klien, serta
memfungsikan sisa-sisa kemampuan yang ada pada klien. Dengan

7
demikian klien akan lebih percaya diri dan merasa bisa beraktivitas
seperti biasanya. Dengan diberikannya terpai musik diharapkan dapat
mengurangi atau menghilangkan ketegangan-ketegangan klien pada
aspek emosional, mental intelegency dan fisik motorik. Dengan terapi
musik dapat membantu perkembangan, membangun, mendorong,
menumbuhkan percaya diri, membentuk kepribadian yang optimis,
pantang menyerah, dan dapat menerima kenyataan hidup dengan apa
adanya.
3. Manfaat
a. Meningkatkan, memulihkan dan memelihara emosional, sosial, dan
spiritual
b. Meningkatkan kualitas fisik dan mental
c. Mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran sesama
d. Merelaksasikan tubuh dan pikiran
e. Meningkatkan motivasi tubuh dan meningkatkan kekebalan tubuh
f. Menyeimbangkan tubuh dan jiwa serta meningkatkan kecerdasan
4. Jenis-jenis musik terapi
1. Musik Jazz
Penelitian oleh Blaum pada tahun 2003 mendapatkan hasil bahwa setelah
para siswa mendengarkan music jazz,mood mereka menjadi lebih ena,
sehinnhha membantu para siswa untuk belajar. Hasil penelitian ini
kemudian diterapkan oleh Norman L. Barber dan Jameson L, Barber
dengan memberikan CD Jazz for Succsess pada mahasiswa tingkat
pertama Universitas Massachusetts. Mereka memberikan CD tersebut
dengan tujuan agar mahasiswa tingkat satu dapat mengatasi emosi
negative (marah,cemas, depresi, takut) kaena sulit menyesuaikan diri
dengan dunia peruliahan. Beberapa contoh music jazz yang layak
didengarkan: Norah Jones, Natalie Cole, Nat King Cole, KLA Project
dan lain-lain.
2. Musik Rock

8
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Leigh Riby dan George Caldwell,
Psikolog dari Glasgow Cladenian University membuktikan bahwa siswa
yang mendengarkan music rock hanya membutuhkan sedikit kerja otak
untuk mengerjakan tugas dengan baik. Selain itu music rock dapat
meningkatkan produtivitasketikasedang bekerja. Beberapa contoh
muisik rock yang layak didengarkan: Dream Theater, Rush, Hammerfall,
Scorpion, SOAD, The Queen, dan lain-lain.
3. Musik Klasik
Manfaat music klasik sudah banyak diketahui terutama Efek Mozart.
Terlepas dari banyaknya pro dan kontra tentang Efek Mozart ini,
beberapa penelitian menunjukkan bahwa music Mozart bermanfaat
dalam bidang kesehatan. Samuel Halim dalam penelitiannya menemukan
bahwa efek Mozart dapat membantu penyembuhan penyakit Alzheimer.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Campbell menemukan bahwa music
klasik bisa membantu penyembuhan penyakit-penyakit, seperti stress,
kanker, dyslexia, dan tekanan darah tinggi beberapa cotoh music klasik
yang layak didengarkan: The Ultimate Mozart, Maksim, The Most
Relaxing Classical Album in The World Ever, dan lain-lain.
5. Prosedur
Pelaksanaan kegiatan terapi musik secara umum diantaranya :
a. Kegiatan terapi musik diberikan dalam keadaan pasif (diam). Contoh
penderita duduk dengan tenang sambil mendengarkan lagu anak-anak
baik dari radio atau pelatih.
b. Kegiatan terapi musik yang diberikan dalam keadaan aktif (bergerak).
Contoh anak berlatih tepuk paha, tepuk lantai, dengan hitungan satu dua
tiga, diteruskan bernyanyi bersama.
c. Latihan ritmis dengan memukul alat drum, simbal, ring bel, dengan irama
sederhana.
d. Latihan notasi yaitu pengenalan solmilasi kemudian ditingkatkan
menjadi olah vokal serta latihan memainkan alat musik yang bernada
seperti angklung, piano, gamelan, seruling.

9
e. Musik dapat diperdengarkan setelah seseorang mengalami suatu
penyakit dan masalah yang sedang dihadapi.
Sebelum memulai terapi musik :
a. Kaji apakah pasien ingin mendengarkan musik dan musik apa yang
disenangi.
b. Tawarkan berbagai jenis musik kepada pasien.
c. Apakah pasien ingin menggunakan headphones untuk meminimalkan
distraksi.
Untuk meningkatkan kualitas perawatan, terapi musik sebaiknya
menyesuaikan rencana pengobatan setiap pasien berdasarkan :
1) Tipe penyakit dan jenis gangguan
2) Tujuan pasien yang ingin dicapai
3) Tingkat kemampuan fungsional pasien
d. Memonitor perkembangan secara terus menerus dan memodifikasi
rencana tindakan keperawatan berdasarkan respon pasien.
Strategi Pelaksanaan Terapi Modalitas (Terapi Musik)
1. Tujuan Pelaksanaan Terapi Musik
a. Klien mampu mengenali musik yang didengar
b. Klien memberi respon terhadap musik
c. Klien mampu menceritakan perasannya setelah mendengarkan musik
2. Strategi pelaksanaan
a. Alat
1) Sound laptop
2) Lagu khusus
b. Metode
1) Diskusi
2) Sharing persepsi
c. Langkah kegiatn
1) Persiapan
a) Membuat kontrak dengan klien yang sesuai dengan indikasi: menarik
diri, harga diri rendah, dan tidak mau bicara.

10
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2) Orientasi
a) Salam terapeutik
(1) Salam dari terapi kepada klien
(2) Evaluasi/validasi
(3) Menanyakan keadaan klien saat ini
b) Kontrak
(1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mendengarkan musik
(2) Terapis menjelaskan aturan main, sebagai berikut:
(a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta ijin
dari terapis
(b) Lama kegiatan 45 menit
(c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
c) Tahap kerja
(1) Terapis mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri dimulai dari
terapis secara beraturan searah jarum jam
(2) Setiap kali seorang klien selesai memperkenalkan dirinya, terapis
mengajak semua klien untuk bertepuk tangan
(3) Terapis dan klien memakai papan nama
(4) Terapi menjelaskan bahwa akan diputar lagu, klien boleh bertepuk
tangan atau berjoged sesuai irama lagu. Setelah selesai klien akan
diminta menceritakan isi lagu tersebut dan perasaan klien setetlah
mendengar lagu
(5) Terapis memutar lagu, klien mendengar, boleh berjoged, atau bertepuk
tangan (kira-kira 15 menit). Musik boleh diulang beberaoa kali. Terapis
mengobservasi respon klien terhadap musik.
(6) Secara bergiliran, klien diminta menceritakan isi lagu dan perasaannya.
Sampai semua klien mendapat gilirannya
(7) Terapis memberikan pujian, setiap klien menceritakan perasaannya dan
mengajak klien lain bertepuk tangan
d) Tahap terminasi

11
(1) Evaluasi
(2) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti terapi
(3) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan klien
e) Evaluasi dan dokumentasi
(1) Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan terapi.
Untuk terapi stimulasi sensori mendengar musik, kemampuan klien yang
diharapkan adalah mengikuti kegiatan, respons terhadap musik, memberi
pendapat tentang musik yang didengar dan perasaan saat mendengarkan
musik.

(2) Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat terapi pada catatan
proses keperawatan tiap klien
f) Pengorganisasian
(1) Leader
(2) Co leader
(3) Observer
(4) Fasilitatir
(5) Setting tempat
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Perawat hendaknya memberikan pendidikan kesehatan terhadap klien
dan keluarga tentang pentingnya melakukan terapi musik untuk
mengurangi stres dan meningkatkan relaksasi
b. Dalam penerapan terapi musik, perawat terlebih dahulu mengkaji dan
beradaptasi dengan budaya klien. Suku, buadaya dan keyakinan klien
mempengaruhi pemilihan jenis musik yang disukai pasien
c. Perawat dapat meberikan alternatif kepada klien untuk memilih musik
dengan irama lembut dan berefek menenangkan bagi klien.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Terapi komplementer adalah cara penanggulangan penyakit
yang dilakukan sebagai pendukung kepada pengobatan medis
konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar
pengobatan medis yang konvensional. Terapi komplementer
memiliki macam ragam, namun dalam makalah ini membahas
tentang terapi humor (tertawa) dan intervensi musik. Humor therapy
atau terapi humor adalah penggunaan humor untuk mengurangi rasa
sakit fisik atau emosional dan stres. Terapi musik adalah usaha
meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara
yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya
yang diorganisir sedemikian rupa sehingga tercipta musik yang
bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
B. Saran
Semoga makalah kami dapat bermanfaat dan berguna bagi
pembaca serta dapat menjaga makalah dar kelompok kami,apabila
ada kritik dan saran bagi makalah kami, kami dapat menerima.
Terimakasih.

13
DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Wahid Iqbal.2009.Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi.


Jakarta : Salemba Medika
Multazam, Isa. 2007. Terapi Gamelan bagi Penderita Gangguan Kejiwaan.
Richman S. (2010). Stroke Rehabilitation: Music Therapy. Wilson Terrace,
Glendale : Cinahl Information Systems (RU)
Suryana, Dayat. 2012. Terapi musik. Jakarta.
Wahyu, Utomo A. Santoso, Agus. 2013. Studi Pengembangan Terapi Musik Islami
Sebagai Relaksasi Untuk Lansia. Volume 03. No. 01.
http://jurnalbki.uinsby.ac.id/index.php/jurnalbki/article/download/7/5 27
Oktober 2015
Martono, Hadi dan Kris Pranarka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri
(Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).Edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Maryam, R.Siti. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta :
Salemba Medika
Purwanto, B. 2013.Herbal dan Keperawatan Komplementer. Yogyakarta: Nuha
Medika.

14