You are on page 1of 18

MAKALAH

KONSEP DASAR SEHAT DAN SAKIT MENURUT WHO, UU KES RI,


DAN ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Islam dan Keperawatan ”

Oleh:
Kelompok 3
1. Melisa Afiana (G2A218026)
2. Desy Dwi N A (G2A218027)
3. Dina Madinatul M (G2A218028)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN LINTAS JALUR


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan karunia dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami telah
menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan tepat pada waktunya. Sholawat
dan salam senantiasa kami limpah dan curahkan kepada junjunan Nabi
Muhammad SAW, para sahabatnya, dan semoga kita termasuk umatnya hingga
akhir zaman.
Kemudian kami ucapkan terimakasih kepada orang tua dan dosen pembimbing
studi islam dan keperawatan yang selalu mendoakan dan memberikan motivasi
kepada kami.
Makalah ini berjudul “Konsep Dasar Sehat dan Sakit menurut WHO, UU
RI dan, Islam“ . Makalah ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah
studi islam dalam keperawatan sebagai syarat terlaksananyanya persentasi
kelompok kami.
Makalah ini tentu jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami mohon
kritik dan saran yang membangun agar makalah kami selanjutnya terus
berkembang menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.

Penyusun
DAFTAR ISI
Lembar sampul ..............................................................................................i
Kata pengantar .............................................................................................ii
Daftar isi .........................................................................................................iii
BAB I Pendahuluan .......................................................................................1
A. Latar Belakang ..................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..............................................................................2
C. Tujuan Penulisan ...............................................................................2

BAB II Pembahasan ......................................................................................3


A. Pengertian Populasi ...........................................................................3
B. Pengertian Sampel .............................................................................5
C. Teknik Sampling ................................................................................10
D.Besar Sampel ...............................................................................................14

BAB III Penutup ............................................................................................17


A. Simpulan ............................................................................................17
B. Saran...................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya setiap manusia menginginkan keadaan tubuhnya terus
dalam keadaan sehat, Sehat merupakan modal awal, karena dengan keadaan
tubuh yang sehat, manusia bisa menjalankan semua aktivitasnya seperti biasa.
Dalam menempuh keadaan sehat ini manusia tidak bisa hanya berdiam diri.
Sehat harus ditempuh dengan sebuah usaha. Dengan kata lain sehat
merupakan sebuah fenomena yang dinamis bukan statis. Memang sulit untuk
mendapatkan tubuh yang sehat dan segar, kebanyakan orang bilang Sehat Itu
Mahal, tetapi benarkah tentang fakta itu, tapi menurut pendapat para Ilmu
Kesehatan Dunia (WHO) , memang sehat itu mahal, karena kita harus
memakan- makanan yang penuh dengan gizi, akan kaya protein, zat besi, dan
lain-lain. Sementara itu kita harus membeli makanan itu dengan harga yang
cukup mahal, apa lagi harga sayur-mayur, susu, beras, lauk pauk, dll,
mungkin sedang melonjak harganya di pasar-pasar tradisional.
Sehat dan sakit merupakan suatu peristiwa dan keadaan yang selalu
menyertai hidup manusia sejak zaman Nabi Adam a.s. kita memahami apapun
yang menimpa manusia adalah takdir dari Allah SWT, sehgat dan sakit pun
merupakan suatu takdir dari Allah SWT. Lantas sehat dan sakit itu merupakan
takdir, mengapa ketika kita sakit harus mencari sehat/ kesembuhan?. Lantas
buat apa dan manfaat berobat?. Dari sinilah kita memahami konsep sehat dan
sakit.
Konsep sehat dan sakit dalam islam merupakan konsep yang bersumber
dari pandangan Al-quran dan hadist, berikut salah satu ayat Al-quran yang
menjelaskan hal tersebut : “(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, maka
Dialah yang memberi petunjuk kepadaku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi
makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang
menyembuhkanku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan
menghidupkanku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat”. (QS asy-Syu’arâ’ 26: 78-82). Dari
penjelasan ayat Al-quran diatas tentulah sehat dan sakit merupakan sesuatau
yang diturtunkan oleh Allah SWT dengan bertujuan untuk menguji hamba-
Nya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep sehat sakit menurut WHO dan UU RI?
2. Apakah faktor penyebab sakit danpenyakit ?
3. Bagaimanakah konsep sehat sakit menurut Islam?
4. Bagaimanakah relasi nilai agama dalam dunia kesehatan?
5. Bagaimanakah penjelasan mengenai sakit sebagai takdir yang
menguatkan iman?
6. Bagaimanakah kiat mengutkan iman ketika sakit ?
C. Tujuan
1. Mengetahui bagaimana konsep sehat sakit menurut WHO dan UU RI.
2. Mengetahui faktor penyabab sehat dan sakit.
3. Mengetahui bagaimana konsep sehat sakit menurut Islam.
4. Mengetahui bagaimana relasi nilai agama dalam dunia kesehatan.
5. Mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai sakit sebagai takdir yang
menguatkan iman
6. Mengetahui bagaimana kiat menguatkan iman ketika sakit.
D. Manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep Sehat dan Sakit Menurut WHO dan UU RI
1. Pengertian Sehat
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu
keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak
hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang
dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle.
1994).
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan
eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
Definisi sehat menurut WHO ini adalah sehat secara keseluruhan,
baik jasmani, rohani, lingkungan berikut faktor-faktor serta komponen-
komponen yang berperan di dalamnya. Sehat menurut WHO terdiri dari
suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang membentuk ‘positif
health’, yaitu:
1. Sehat Jasmani
2. Sehat Mental
3. Sehat Spiritual
4. Kesejahteraan social
Sehat menurut DEPKES RI, konsep sehat dan sakit sesungguhnya
tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor -faktor lain di luar
kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya.
Setiap pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu
hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli
filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang
ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang
konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu.
Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan
kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan
lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosiobudaya.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam
pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan
yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di
dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan
yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-
perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan
penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam
mempertahankan kesehatannya.
Jadi dapat dikatakan bahwa batasan sehat menurut WHO meliputi
fisik, mental, maupun sosial. Sedangkan batasan sehat menurut Undang-
undang Kesehatan meliputi fisik (badan), mental (jiwa), sosial dan
ekonomi. Sehat fisik yang dimaksud disini adalah tidak merasa sakit dan
memang secara klinis tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi
normal dan tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat mental (jiwa),
mencakup:
1. Sehat pikiran tercermin dari cara berpikir seseorang yakni mampu
berpikir logis (masuk akal) atau berpikir runtut
2. Sehat spiritual tercermin darai cara seseorang dalam mengekspresikan
rasa syukur, pujian, atau penyembahan terhadap pancipta alam dan
seisinya yang dapat dilihat daro praktek keagamaan dan
kepercayaannya serta perbuatan baik sesuai dengan norma-norma
masyarakat.
3. Sehat emusional tercermin dari kemampuan seseorang untuk
mengekspresikan atau pengendalian diri baik.

Sehat sosial adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan


dengan orang lain secara baik atau mampu berinteraksi dengan orang atau
kelompok lain tanpa membeda-bedakan ras, sukuj, agama, maupun
kepercayaan, status sosial, ekonomi, dan politik.
Dilihat dari aspek ekonomi yeitu mempunyai pekerjaan atau
menghasilkan secara ekonomi. Untuk anak dan remaja ataupun bagi yang
sudah tidak bekerja maka sehat dari aspek ekonomi adalah bagaimana
kemampuan seseorang untuk berlaku produktif secara sosial.
2. Pengertian Sakit
Pengertian sakit menurut WHO yauti suatu kondisi cacat atau
kelainan yang disebabkan oleh gangguan penyakit,emosional, intelektual,
dan sosial.
Definisi sakit yaitu seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita
penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang
menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang
sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak
terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak
sakit(2).
Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari
segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan
atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh
manusia. Sakit adalah keadaan tidak normal atau tidak sehat. Secar
sederhana, sakit merupakan suatu bentuk kehidupan atau keadaan diluar
batas normal. Tolak ukur yang paling mudah untuk menentukan kondisi
sakit adalah jika terjadi perubahan dari rata-rata nilai normal yang telah
ditetapkan. Menurut Parson sakit merupakan ketidakseimbangan fungsi
normal tubuh manusia, termasuk jumlah sistem biologis dan kondisi
penyesuaian. Sedangkan menuerut Menurut Bauman ada tiga kriteria
keadaan sakit yaitu adanya gejala, presepsi tentang keadaan sakit yang
dirasakan, dan kemampuan beraktifitas sehari-hari yang menurun.

2. Faktor Penyebab Sakit dan Penyakit


Menurut Hendrik L. Bloom ada empat faktor yang mempengaruhi
status kesehatan masyakarat, yaitu herediter (keturunan), layanan kesehatan,
lingkungan, dan perilaku. Dari keempat faktor tersebut dapat dilihat bahwa
faktor yang paling mempengaruhi derajat kesehatan adalah faktor lingkungan,
kemudian disusul oleh faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan terakhir
keturunan. Uraian faktor – faktor tersebut adalah :
1. Keturunan
Secara sederhana, penyakit pada manusia dapat dibagi kedalam
beberapa kategori, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh
faktor gen. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit herediter atau
keturunan. Contoh penyakit ini antara lain diabetes mellitus, albino, dan
penyakit Wilson.
2. Layanan Kesehatan
Layanan kesehatan dapat mempengaruhi status kesehatan
seseorang. Beberapa aspek layanan kesehatan yang dapat mempengaruhi
status kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Tempat layanan kesehatan. Letak geografis tempat layanan
kesehatan sangat mempengaruhi keterjangkauan seseorang terhadap
layanan kesehatan. Jika letak layanan kesehatan terlalu jauh dari
pemukiman masyarakat, apalagi jika transportasi tidak memadai
akan menghambat pertolongan-segera saat seseorang menderita
sakit. Akibatnya, kondisi seseorang akan bertambah parah.
b. Kualitas petugas kesehatan. Petugas kesehatan yang tidak memiliki
kompetensi yang berkualitas, akan membahayakan pasien, karena
seorang pasien akan pasrah terhadap tindakan yang dilakukan oleh
petugas kesehatan.
c. Biaya kesehatan. Tingginya biaya pengobatan akan menyebabkan
seseorang enggan untuk memanfaatkan layanan kesehatan, karena
keadaan ekonomi yang rendah tidak memungkinkan mereka untuk
menjangkau layanan kesehatan.
d. Sistem layanan kesehatan. Layanan kesehatan terdepan bukan hanya
focus pada pengobatan, tetapi juga pada pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan, untuk itu layanan kesehatan juga harus
berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
3. Lingkungan
Lingkungan memberi pengaruh besar terhadap status kesehatan
seseorang.
4. Perilaku
Sehat atau sakitnya seseorang dipengaruhi oleh perilakunya.jika
perilaku sehat dapat dipastikan akan akan sehat hidupnya. Begitu juga
sebaliknya. Perilaku manusia buka sesuatu yang berdiri sendiri,
melainkan dipengaruhi oleh banyak factor, seperti pendidikan, adat
istiadat, kepercayaan, dan sosial ekonomi.
3. Konsep Sehat Sakit Menurut Islam
Kata sehat merupakan Indonesianisasi dari bahasa Arab “ash-shihhah”
yang berarti sembuh, sehat, selamat dari cela, nyata, benar, dan sesuai dengan
kenyataan. Kata sehat dapat diartikan pula: (1) dalam keadaan baik segenap
bada serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit) dan waras, (2) mendatangkan
kebaikan pada badan, (3) sembuh dari sakit. Dalam bahasa Arab terdapat
sinonim dari kata ash-shhihah yaitu al-‘afiah yang berarti ash-shhihah at-
tammah (sehat yang sempurna). Kedua kata ash- shihah wa al-‘afiah yang
apabila diIndonesiakan menjadi ‘sehat wal afiat’ dan artinya sehat secara
sempurna.
Meskipun kata sehat wal afiat yang merupakan Indonesiasi dalam
bahasa Arab ash-shhihah dan al’ afiah tetapi tidak satu kata pun didalam Al-
Quran menyebutkan ash-shhihah dan al’fiah, tetapi Al-Quran meneybutkan
perkataan syifa’ berarti sembuh (dari sakit), dan pengobatan (menuju
kesembuhan dari keadaan sakit). Kata syifa’ disebut dalam Al-Quran dimana
disebutkan bahwa disamping sebagai petunjuk Al-Quran juga dinyatakan
sebgaai obat yang menyembuhkan.
Firman Allah di dalam Qs. Al-Israa’ 17: 82. Artinya : “Dan kami
turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian”.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Al-Quran sebagai penyembuh
hanya kepada orang yang beriman secara islam. Non muslim dikategorikan
sebagai orang-orang lalil, otomatis tidak sehat. Dengan demikian, yang
dimaksud sehat atau sakit dalam ayat ini bersifat rohaniah. Secara fisik orang
yang dikatakan sehat. Ukuran sehat atau sakit terletak pada ‘iman’ secara
Islam. Karakteristik kesehatan yang demikian ini secraa eksplisit, yaitu
penyakit hati kata lain dari rohani, disebut kembali dalam Qs. Yunus 10 : 57.
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari Tuhanmu dan penyembuhan bagi penyakit-penyakit (yang berada)
dalam dada petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman”.
Pandangan mengenai konsep sehat dan sakit dapat pula kita peroleh dari
kisah yang dialami oleh Nabi Ayyub dalam Al-Quran Surah An Anbiyya 21 :
83. Artinya : “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya
Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah
Tuhan yang Maha penyayang diantara semua penyayang”. Maka Kami pun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami kembalikan keluarganjya
kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat
dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyemgah
Allah.
Ayat di atas mengisahkan Nabi Ayyub yang ditimpa penyakit,
kehilangan harta dan anak-anaknya,. Dari seluruh tubuhnya hanya hati dan
lidahnya yang tiidak tertimpa sakit, karena dua organ inilah yang dibiarkan
Allah SWT tetap baik dan digunakan oleh Nabi Ayyub untuk berdzikir dan
memohon keridhoan Allah SWT dan Allah SWT pun mengabuklan doanya,
hingga akhirnya Nabi Ayyub sembuh dan di kembalikan harta dan
keluarganya. Dari sini dapat diambil pelajaran agar manusia tidak
berprasangka buruk kepada Allah SWT, tidak berputus asa akan rahmat Allah
SWT serta bersabar dalam menerima takdir Allah SWT. Karena kita sebagai
manusia perlu meyakini bahwa apapun bahwa apabila Allah menaktidrkan
sakit maka kita akan sakit, begitu pula apabila Allah menakdirkan
kesembuhan tiada daya upaya kecuali dengan izin-Nya kita akan sembuh.
Sakit dalam pandangan Islam bukanlah suatu kondisi yang hina atau
memalukan melainkan kedudukan mulia bagi seorang hamba karena dengan
mengalami sakit seorang hamba akan diingatkan untuk selalu bersyukur. Hal
ini karena keselamatan dan kesehatan merupakan nikmat Allah SWT yang
terbesar dan harus diterima dengan rasa syukur.
Sehat dan sakit memang merupakan ketentuan Allah SWT tetapi ketika
berada dalam kondisi sakit manusia tidak seharusnya menjadi pribadi yang
lemah dan berputus asa karena sakit adalah cara Tuhan untuk menghapus
dosa manusia, hal dijelaskan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh
Al Bukhari yang artinya “Tidak ada yang menimpa seorang muslim
kepenatan, sakit yang berkesinambungan (kronis), kebimbangan, ksedihan,
penderitaan, kesusahan, sampai pun duri yang ia tertusuk karenanya, kecuali
dengan itu Allah menghapus dosanya”.
Dari berbagai ayat dan hadist yang berkaitan dengan usaha kesembuhan
dapat disimpulkan bahwa Al-Quran maupaun As-Sunnah menjelaskan bahwa
hidup sehat itu adalah penting dan cara memperoleh kesehatan harus hati-hati,
jangan sampai jatuh kedalam praktik kemusyrikan. Menjaga kesehatan
sebagai bagian cara bersyukur kepada Allah adalah ciri muslim yang baik dan
modal untuk memperoleh kesehatan adalah dengan hidup bersih. Rasulullah
saw pernah bersabda dan amat populer di lingkungan dunia medika Islam
“An-Nadaftu min al-iman” (Bersih itu sebagaiandari iman). Lawan dari brsih
dan kotor adalah kotor dan jorok. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
kotor dan jorok itu tidak mengundang kesehatan, melainkan lawannya, yaitu
sakit. Jadi kotor kotor atau jorok mengandung penyakit atau sakit. Dari alur
pikir ini dapat di pahami bahwa independensi (saling tergantung) antara
bersih, sehat, dan iman. Bersih menyebabkan sehat, dan sehat merupakan
bagian dari iman. Disisi lain, iman yang benar menuntut supaya hidup bersih
dan buah dari hidup bersih adalah sehat.
4. Relasi Nilai Agama dalam Dunia Kesehatan
Banyak permaslahan yang dialami manusia termasuk dalam bidang
kesehatan. Bertambahnya permasalahan dalam bidang kesehatan ini tidak
seimbang dengan penyelesaian dari permasalahan sebelumnya. Masalah
tersebut terus bertambah dan bertambah, hal tersebut dikarenakan banyaknya
orang yang masih mengandalkan pemikirannya tersendiri tanpa
mengedepankan ajaran agama islam yang tepat dan memadai. Padahal islam
telah menjelaskan tentang berbagai aspek permasalahan yang bersumber dari
Al-Quran, hadist, ijmak, dan qiyas yang kebenarannya tidak perlu di ragukan
lagi. Dari permasalahan yang ada, kita bisa menganalisis secara mendalam.
Hal tersebut bisa diatasi dengan kesadaran diri kita sendiri melalui
pendekataan keagamaan. Agama kita adalah agama Islam Rahmatan Lil
‘Alamin yang menjelaskan berbagai ajaran dan praktik segala aspek
kehidupan manusia. Tergantung diri kita masing-masing untuk bisa
memanfaatkan ilmu agama dalam mengatasi masalah tersebut.
Dunia kesehatan dengn nilai-nilai agama Islam sangat berkaitan sekali
Allah SWT mengajarkan kita untuk menjaga kesehatan dan kebersihan fisik.
Jika dikaji dalam ilmu kesehatan nilai agama tersebut sangat berkaitan karena
jika kita menjaga kebersihan kita dapat meminimalisir penyakit-penyakit
yang hendak adatang ke kita.
Dunia kesehatan sebenarnya sudah ada sejak lama, salah satu tokoh
ilmuan pada zaman dahulu adalah Ar-Razi. Beliau merupakan orang yang
telah berjasa terhadap ilmu kedokteran yang telah meneliti masalah dunia
kedokteran hingga beliau mendapat gelar sebagai bapaknya dokter. Aplikasi
niali-nilai keislaman dalam dunia kesehatan adalah semua anggotan badan
manusia seperti tangan, kaki, kepala, sampai hati ini semua pada hakikatnya
adalah milik Allah SWT yang harus kita jaga. Misalnya, islam mengajarkan
kita ungtuk tidak marah-marah dan sellau tetap rendah hati. Hal tersebut bisa
dikaji dalam dunia kesehatan, setelah diteliti memang ada manfaatnya yakni
apabila kita marah-matah darah kita akan naik dan kita dapat terkena penyakit
darah tinggi
5. Sakit Sebagai Takdir yang Menguatkan Iman
Sesungguhnya ujian atau cobaan paling ringan pada diri seorang
muslim adalah ujian jasmani yang lazzim disebut sakit. Ujian jasmani ini
dimaksudkan Allah untuk menguji kesabaran dan kerelaan seorang hamba
dalam menerima takdir-Nya. Kalau ternyata ia sabar, Allah menetapkan
pahala atau menghapus sebagian dosanya atau mengangkat derajatnya
sehingga ujian itu menjadi nikmat baginya. Sabda Rasulullah saw: “Tidak
ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri yang
lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan
perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon
kayu menggugurkan daun-daunnya”. (HR. Mustafaq Alaih).
Ditinjau dari dimensi vertikal (anatara hamba dengan al-khaliq), paling
tidak ada tiga manfaat/keutamaan musibah yang ditimpa kepada mukmin.
Pertama, musibah sebagai penebus dosa yang pernah dilakukan
manusia akibat kelalaian dan pelanggrannya terhadap perintah Allah SWT.
MakaAllah memberikan ganjaran di duni secara kontan dan spontan. Hal ini
mungkin sebagai tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya sehingga si
hamba bisa keluar dari dunia ini dalam keadaan bersih.
Kedua, musibah sebagai pengingat dan penguji kualitas kesabaran
seseorang. Hal ini merupakan takdir Allah kepada hamba-Nya dan kelak
diakhirat akan diganti dengan rahmat dan ridha-Nya. Apabila seorang seorang
hamba menghadapi cobaan dan penderitaan itu dengan ridha, ikhlas, dan terus
menerus berikhtiar mencari jalan keluar dengan cara sebaik-baiknya sesuai
dengan tuntunan syara’, tidak menegluh, mengaduh, apalagi meratap dan
merintih, maka Allah akan menjanjikan akan memepermudah urusan
hisabnya dihari kiamat, maka Allah menjanjikan akan menyegerakan
pahalanya, memberkati kehidupannya sehingga timbangan amalnya berat
kearah ketetapan dan pahala, dan berkesudahan dengan jannatun-na’im.
Ketiga, musibah sebagai tangga untuk mencapai kualiatas derajat lebih
tinggi di sisi Allah. Kita tentu masih inget bagaimana musibah yang
ditimpakan kepada Nabiyullah Ayyub as, seperti yang dijelaskan pada bagian
sebelumnya.
Cobaan yang menimpa seorang hamba bertujuan untuk:
1. Menunjukan kemutlakan kekuasaan Allah terhadap manusia bahwa
manusia adalah hamba yang harus senantiasa tunduk dan patuh serta
merendahkan diri di hadapan al-Khaliq.
2. Melihat mana yang mukmin sejati dan mana yang munafik.
3. Menghapus dosa dan mengangkat derajat seorang hamba.
4. Mengungkapan hakikat manusia itu sendiri sehingga tampak jelas
kesabaran dan ketaatannya.
5. Membentuk dan menempa kepribadiannya sehingga benar-benar menjadi
pribadi yang tahan banting dan tahan uji, guna melahirkan umat berbudi
luhur.
6. Melatih dan membiasakan diri yang diuji agar bertambah sabar, kuat cita-
cita, dan tetap pendirian. Serta,
7. Melahirkan sifat dan sikap saling menolong dan mengasihi sesama.
6. Kiat Menguatkan Iman ketika sakit
a. Berbaik sangka kepada allah (husnudzan billah)
Sudah selayaknya orang yang sakit mengingat luasnya rahmat dan
ampunanAllah, dan berbaik sangka terhadapnya-Nya. Dalam sebuah hadist
di sebutkan: “ Janganlah seseorang meninggal kecuali dalam keadaan
baik sangka kepada allah.”. (HR. Muslim)
Termasuk berbaik sangka bagi si sakit, dengan berharap bahwa
musibah yang menimpanya merupakan pendahuluan dari kebaikan yang
dianugrahkan Allah kepadanya, sebagaimana tercantum dalam sebuah
hadist: “Barang siapa dikehendaki aAllah kebaikan pada dirinya, maka ia
akan di beri cobaan”.(HR. Bukhori Muslim)

b. Bersabar
Sabar adalah menahan diri dan membawanya kea rah yang dituntut
syara’ serta menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan. Yakinlah
bahwa musibah ini akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosa yang
telah kita perbuat, sebagaimana sabda nabi :
“Tidak ada musibah yang menimpa, seperti keletihan, kelesuhan,
sakit, duka, susah, dan gangguan sekedar tusukan duri sekalipun,
melainkan dihapuskan Allah sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhori
Muslim)
Dalam sebuah hadist qudsy allah berfirman : “Jika kubebankan
kemalangan untuk salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya,
atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna,
aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat
atau membukakan buku catatan amal baginnya.” (HR. al-Qudha’I, ad-
Dailami, dan At-Tirmizdi, dan anas).
Kesabaran terhadap musibah ini ternyata membuahkan hasil yang
menakjubkan, yakni kemudahan menghadapi hisab di hari akhir.
c. Banyak bersyukur kepada Allah
Bersyukurlah karena Allah masih memberikan kesempatan bagi
kita untuk bertaubatdan membersihkan diri. Betapa banyak orang yang
menemui ajal pada saat berbuat maksiat atau berlimang dosa.
Terkadang cobaan yang menimpa kita semata-mata pertanda rasa
cinta dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya, sebagaimana yang
ditunjukkan oleh sebuah hadist : “Sesungguhnya jika Allah mencintai
suatu kaum, maka ditimpakannya cobaan pada kaum itu.” (HR. Bukhori).
Sekiranya Allah SWT menunda hukuman kepada hamba-Nya
sampai hari kiamat, niscaya hukuman yang diterima pasti akan lebih pedih
dan menyakitkan.
Seorang hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur atas
kemalangan yang menimpanya, baginya dituliskan pahala amal yang bisa
dikerjakan semasa sehatnya. Firman Allah kepada para malaikat dalam
hadist Qudsi : “Jika aku menguji salah seorang hamba-Ku yang beriman,
lalu ia memuji-Ku atas ujian itu, maka berilah dai pahala sebagaimana
pahala yang biasa kalian berikan kepadanya.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
d. Memperbanyak Istighfar dan menghisab diri sendiri (Muhasabah lin-
Nafsi)
Aktivitas istighfar dan muhasabah diperbanyak dikala sakit.
Dengan menyadari segala kelemahan dan kekurangan kita sebagai hamba
Allah, insya Allah akan mendekatkan hati kita kepada Allah serta
menjadikan ibadah dan doa kita lebih khusyu’. Kondisi ini akan lebih
mengantarkan kita pada ketenangan batin dan berimplikasi pada jasmani.
Umar bin Khattab dalam pesannya yang masyhur mengingatkan,
“Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab.”
e. Tawakkal kepada Allah
Tawakal adalah perpaduan antara sabar, doa, dan ikhtiar yang
sesuai dengan tuntutan dan tuntunan syara’. Allah SWT telah menjanjikan
dan Allah Maha Benar janji-Nya bahwa setiap penyakit ada obatnya.
Karena itu,berikhtiarlah sesuai dengan tuntunan syara’. Janganlah berobat
dengan cara atau barang yang diharamkan. Perbanyaklah doa dan ikhtiar
serta bersabarlah hingga Allah berkenan memberikan kesembuhan. Sabda
Rasulullah saw : “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan
obat. Dan menjadikan untuk kalian bahwa setiap penyakit ada obatnya.
Karena itu, berobatlah, tetapi jangan berobat dengan barang haram.”
(HR. Abu Daud).
BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Sehat merupakan suatu kondisi normal manusia dimana dengan
dengan kondisi sehat tersebut manusia dapat menjalankan berbagai
aktivitas. Kondisi sehat pada manusia dapat mencangkup fisik, mental,
sosial dan religi

B. SARAN
Semoga makalah kami dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca
serta dapat menjaga makalah dari kelompok kami,apabila ada kritik dan
saran bagi makalah kami,kami dapat menerima. Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA
1. https://www.scribd.com/doc/214801159/Konsep-Sehat-Sakit-Menurut-Who (6
APRIL 2019)
2. https://www.scribd.com/doc/50917890/KONSEP-SEHAT-SAKIT-MENURUT-WHO

(6 april 2019)
3. Yoyoh Rokayah ,Nidaan Khofiyah ,Sitta Diana,Pujiati.Konsep sehat sakit dalam
islam.https://www.academia.edu/9441144/Konsep_Sehat_dan_Sakit_dalam_Isl
am (6 april 2019)
4. Bima Indragani Purnomo, Bima Pramana Jati, Hidayatul Ainy.2013.
Makalah Konsep Sehat Sakit Dan Faktor Penyebab Sakit Dan Penyakit.
Dari https://www.scribd.com/document/322043773/Makalah-Konsep-
Sehat-Sakit (6 april)
5. Asmadi.2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC.
6. Azizah, Nurlela. 2008. Pengertian dan Definisi Sehat. (online)
(http://www.kamusq.com/2013/08/sehat-adalah-pengertian-dan-
definisi.html#sthash.iHECjVBh.dpuf) diakses 5 Desember 2013.