Вы находитесь на странице: 1из 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan
dari bayi sampai menjadi tua. Masa tua merupakan masa hidup manusia yang
terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental
dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-
hari lagi. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu
penanganan segera dan terintegrasi. Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana
manusia telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia
juga masa dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya
waktu.
Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang
menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO)
menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang
berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Dari 19 juta jiwa
penduduk Indonesia 8,5% mengalami stroke yaitu lansia. Proses keperawatan
adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan dan
melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk
mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Langkah –
langkahnya dimulai dari (1) pengkajian : pengumpulan data, analisis data dan
penentuan masalah, (2) diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan
keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi tindakan keperawatan. (Wahit, 2005).
Proses keperawatan pada komunitas mencakup individu, keluarga dan kelompok
khusus yang memerlukan pelayanan asuhan keperawatan.
Tahap akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi. Evaluasi mengacu
kepada penilaian, tahapan, dan perbaikan. Pada tahap ini perawat menemukan
penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat berhasil atau gagal. Perawat
menemukan reaksi klien terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan dan
menetapkan apa yang menjadi sasaran dari rencana keperawatan dapat diterima.
Evaluasi berfokus pada individu klien dan kelompok dari klien itu sendiri. Proses

1
evaluasi memerlukan beberapa keterampilan dalam menetapkan rencana asuhan
keperawatan., termasuk pengetahuan mengenai standar asuhan keperawatan,
respon klien yang normal terhadap tindakan keperawatan, dan pengetahuan
konsep teladan dari keperawatan.
Proses keperawatan komunitas juga memperhatikan adanya perbedaan
budaya di masing-masing daerah, karena hal itu Leininger (1978) mendefinisikan
transkultural di keperawatan sebagai: “ bidang kemanusiaan dan pengetahuan
pada studi formal dan praktik dalam keperawatan yang difokuskan pada
perbedaan studi budaya yang melihat adanya perbedaan dan kesamaan dalam
perawatan, kesehatan, dan pola penyakit didasari atas nilai-nilai budaya,
kepercayaan dan praktik budaya yang berbeda di dunia, dan menggunakan
pengetahuan untuk memberikan pengaruh budaya yang spesifik pada
masyarakat.”
1.2 RUMUSAN MASALAH
Di lihat dari uraian latar belakang di atas dapat di simpulkan rumusan
masalah ialah :
1. Bagaimana Definisi stroke?
2. Bagaimana Etiologi stroke?
3. Bagaimana Faktor risisko stroke?
4. Bagaimana Patofisiologi stroke?
5. Bagaimana Manifestasi klinik stroke?
6. Bagaimana Pemeriksaan penunjang stroke?
7. Bagaimana Komplikasi stroke?
8. Bagaimana Penatalaksanaan stroke?
9. Bagaimana Asuhahan keperawatan komunitas pasien dengan stroke?

2
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KONSEP MEDIS
2.1 DEFINISI
Stroke adalah suatu sindromklinis yang ditandai dengan hilangnya fungsi
otak secara akut dandapat menimbulkan kematian (World Health
Organization[WHO], 2014). Stroke adalah suatu keadaan yang mengakibatkan
seseorang mengalami kelumpuhan atau kematian karena terjadinya gangguan
perdarahandi otak yang menyebabkan kematian jaringan otak (Batticaca, 2009).
Stroke terjadi akibat pembuluh darah yang membawa darah dan oksigen ke otak
mengalami penyumbatan dan ruptur, kekurangan oksigen menyebabkan fungsi
control gerakan tubuh yang dikendalikan oleh otak tidak berfungsi (American
Heart Association[AHA], 2015)

Stroke di bagi menjadi 2 berdasarkan penyebabnya, yaitu :

1. Stroke hemoragic
Merupakan stroke yang disebabkan oleh perdarahan intra serebral atau
perdarahan subarakhniod karena pecahnya pembuluh darah otak pada area
tertentu sehingga darah memenuhi jaringan otak (AHA, 2015). Perdarahan
yang terjadi dapat menimbulkan gejala neurologic dengan cepat karena
tekanan pada saraf di dalam tengkorang yang ditandai dengan penurunan
kesadaran, nadi cepat, pernapasan cepat, pupil mengecil, kaku kuduk, dan
hemiplegia (Sylvia, 2005 ;Yeyen, 2013)
2. Stroke Iskemik
Merupakan strok yang disebabkan oleh suatu gangguan peredaran darah otak
berupa obstruksi atau sumbatan yang menyebabkan hipoksia pada otak dan
tidak terjadi perdarahan(AHA, 2015). Sumbatan tersebut dapat disebabkan
oleh trombus (bekuan) yang terbentuk di dalam pembuluh otak atau
pembuluh organ selain otak (Sylvia, 2005). Stroke ini ditandai dengan
kelemahan atau hemiparesis, nyeri kepala, mual muntah, pendangan kabur,
dan disfagia (Wanhari, 2008dalam Yeyen, 2013)

3
2.2 ETIOLOGI
Menurut Smeltzer dan Bare(2012) stroke biasanya diakibatkan oleh salah
satu dari empat kejadian dibawah ini, yaitu :
1. Trombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher.
Arteriosklerosis serebral adalah penyebab utama trombosis, yang adalah
penyebab paling umum dari stroke. Secara umum, trombosis tidak
terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia,
atau paresthesia padasetengah tubuh dapat mendahului paralisis berat
pada beberapa jam atau hari.
2. Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain
yangdibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain. Embolus biasanya
menyumbat arteri serebral tengah atau cabang-cabangnya yang
merusak sirkulasi serebral(Valante et al, 2015).
3. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak. Iskemia
terutamakarena konstriksi atheroma padaarteri yang menyuplai darah
ke otak(Valante et al, 2015).
4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak. Pasien dengan
perdarahan dan hemoragi mengalami penurunan nyata pada tingkat
kesadaran dan dapat menjadi stupor atau tidak responsif.

Akibat dari keempat kejadian di atas maka terjadi penghentian suplai


darah ke otak, yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen
fungsi otak dalam gerakan, berfikir, memori, bicara, atau sensasi

2.3 FAKTOR RESIKO


Faktor risiko terjadinya stroke secara garis besar dapat dikelompokkan
menjadi 2 yaitu, faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang
dapat dimodifikasi (AHA, 2015)
1. Faktor Risiko Yang Tidak Dapat Dimodifikasi
Faktor-faktor tersebut terdiri atas faktor genetikdan ras, usia, jenis
kelamin, dan riwayatstroke sebelumnya (AHA, 2015). Faktor genetik

4
seseorang berpengaruh karena individu yang memiliki riwayat keluarga
dengan stroke akan memiliki risiko tinggi mengalami stroke, ras kulit
hitam lebih sering mengalami hipertensi dari pada ras kulit putih
sehingga ras kulit hitam memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke
(AHA,2015). Stroke dapat terjadi pada semua rentang usia namun
semakin bertambahnya usia semakin tinggi pula resiko terkena stroke,
hal ini sejalan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas)
tahun 2013 yang menyatakan bahwa usia diatas 50 tahun risiko stroke
menjadi berlipat ganda pada setiap pertambahan usia. Jenis kelamin
merupakan salah satu faktor risiko stroke, menurut Wardhana (2011) laki-
laki memiliki resiko lebih tinggi terkena stroke dibandingkan perempuan,
hal ini terkait kebiasaan merokok, risiko terhadap hipertensi,
hiperurisemia, dan hipertrigliserida lebih tinggi pada laki-laki. Seseorang
yang pernah mengalami serangan stroke yang dikenal dengan Transient
Ischemic Attack (TIA) juga berisiko tinggi mengalami stroke, AHA
(2015) menyebutkan bahwa 15% kejadian stroke ditandai oleh
serangan TIA terlebih dahulu.
2. Faktor Risiko Yang Dapat Diubah
Faktor risiko yang dapat diubah adalah obesitas (kegemukan),
hipertensi, hiperlipidemia, kebiasaan merokok, penyalahgunaan alkohol
dan obat, dan pola hidup tidak sehat(AHA, 2015).Secara tidak langsung
obesitas memicu terjadinya stroke yang diperantarai oleh sekelompok
penyakit yang ditimbulkan akibat obesitas, selain itu obesitas juga salah
satu pemicu utama dalam peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler
(AHA, 2015). Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya stroke,
beberapa studi menunjukkan bahwa manajemen penurunan tekanan darah
dapat menurunkan resiko stroke sebesar 41% (AHA, 2015 ; WHO,
2014).Hiperlipidemia atau kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar
lemak di dalam darah dapat memicu terjadinya sumbatan pada aliran
darah (AHA, 2015). Menurut Stroke Association(2012) dan AHA
(2015) individu yang merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol

5
memiliki resiko lebih tinggi terkena stroke karena dapat memicu
terbentuknya plak dalam pembuluh darah. Faktor-faktor diatas dapat
diubah untuk menurunkan resiko stroke dengan menerapkan pola hidup
sehat.
2.4 PATOFISIOLOGI
Oksigen sangat penting untuk otak, jika terjadi hipoksia seperti yang
terjadi pada stroke, di otak akan mengalami perubahan metabolik, kematian
sel dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit
(AHA, 2015). Pembuluh darah yang paling sering terkena adalah arteri
serebral dan arteri karotis interna yang ada di leher (Guyton & Hall, 2012).
Adanya gangguan pada peredaran darah otak dapat mengakibatkan cedera
pada otak melalui beberapa mekanisme, yaitu 1) penebalan dinding pembuluh
darah (arteri serebral) yang menimbulkan penyembitan sehingga aliran
darah tidak adekuat yang selanjutnya akanterjadi iskemik. 2) Pecahnya
dinding pembulh darah yang menyebabkan hemoragi. 3) Pembesaran satu
atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak. 4) Edema
serebral yang merupakan pengumpulan cairan pada ruang interstitial
jaringan otak(Smeltzer danBare, 2012).
Penyempitan pembuluh darah otak mula-mula menyebabkan perubahan
padaaliran darah dan setelah terjadi stenosis cukup hebat dan melampaui
batas krisis terjadi pengurangan darah secara drastis dan cepat. Obtruksi
suatu pembuluh darah arteri di otak akan menimbulkan reduksi suatu
area dimana jaringan otak normal sekitarnya masih mempunyai peredaran
darah yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalur-jalur
anastomosis yang ada. Perubahan yang terjadi pada kortek akibat oklusi
pembuluh darah awalnya adalah gelapnya warna darah vena, penurunan
kecepatan aliran darah dan dilatasi arteri dan arteriola (AHA, 2015).
2.5 MANIFESTASI KLINIK
1. Tiba-tiba mengalami kelemahan atau kelumpuhan separo badan
2. Tiba-tiba hilang rasa peka
3. Bicara cedal atau pelo

6
4. Gangguan bicara dan bahasa
5. Gangguan penglihatan
6. Mulut mencong atau tidak simetris ketika menyeringai
7. Gangguan daya ingat
8. Nyeri kepala hebat
9. Vertigo
10. Kesadaran menurun
11. Proses kencing terganggu
12. Gangguan fungsi otak

Perbedaan antara stroke hemoragik dan stroke non-hemoragik

Stroke Hemoragik Stroke Non


Gejala Klinis
PIS PSA Hemoragik
Gejala defisit local Berat Ringan Berat / ringan
SIS sebelumnya Amat jarang +/ biasa
Permulaan (onset) Menit / jam 1-2 menit Pelan jam/hari
Nyeri kepala Hebat Sangan hebat Ringan / tdk ada
Muntah pd Sering Sering Tidak,kecuali lesi
awalnya di batang otak
Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak Serign kali
Kesadaran Bisa hilang Bisa hilang Dapat hilang
sebentar
Kaku kuduk Jarang Bisa ada pada Tidak ada
permulaan
Hemiparesis Sering sejak Tidak ada Sering dari awal
awal
Deviasi mata Bisa ada Tidak ada Mungkin ada
Gangguan bicara Sering Jarang Sering
Likuor Sering Selalu berdarah Jernih
berdarah

7
Perdarahan Tidak ada Bisa ada Tidak ada
subhialoid
Paresis/gangguan - Mungkin (+) -
N III

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan radiologi
a. CT scan
Didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau
menyebar ke permukaan otak
b. MRI
Untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik
c. Anglografi srebral
Untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi
vaskuler
2. Pemeriksaan foto thoraks
Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah hipertensi kronik pada
penderita stroke
3. Pemeriksaan laboratorium
Fungsi lumbal : Pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada
perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna
likuor masih normal(xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
4. Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan kimia darah: Pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula
darah dapat mencapai 250mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur
turun kembali. Pemeriksaan darah lengkap: untuk kelainan pada darah itu
sendiri. (Judha, 2011:64)

8
2.7 KOMPLIKASI
Komplikasi ini dapat dikelompokkan berdasarkan:
1. Dalam hal imobilisasi: infeksi pernapasan, nyeri tekan konstipasi dan
tromboflebitis.
2. Dalam hal paralisi: nyeri pada daerah punggung, dislokasi sendi,
deformitas,dan terjatuh.
3. Dalam hal kerusakan otak: epilepsi dan sakit kepala. Hidrosefalus
(Muttaqin,2008:253)
2.8 PENATALAKSANAAN
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai
berikut
1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan :
a. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan
lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi,
membantu pernafasan.
b. Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha
memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
2. Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.
3. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
4. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat
mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-
latihan gerak pasif

Pengobatan Konservatif

1. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral ( ADS ) secara percobaan,


tetapi maknanya :pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
2. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra
arterial.
3. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat
reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi
alteroma

9
Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral :
1. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis , yaitu dengan
membuka arteri karotis di leher.
2. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan
manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA.
3. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut
4. Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.

B. KONSEP KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan komunitas adalah suatu proses tindakan untuk
mengenal komunitas sebagai mitra yang berperan dalam proses keperawatan
kesehatan komunitas. Tahapan pengkajian meliputi hal-hal berikut ini :
a. Kegiatan pendahuluan
Tahap pengkajian didahului dengan sosialisasi program perawatan
kesehatan komunitas serta program yang dapat dikerjakan bersama-sama
dalam komunitas tersebut. Menurut Depkes RI (2007) ada 2 kegiatan yang
dapat dilakukan dalam pengkajian komunitas yaitu :
1) Survey Mawas Diri (SMD) merupakan kegiatan pengenalan,
pengumpulan dan pengkajian masalah kesehatan oleh tokoh
masyarakat dan kader setempat di bawah bimbingan petugas kesehatan
atau perawat komunitas. Bertujuan untuk masyarakat dapat mengenal,
mengumpulkan data, dan mengkaji masalah yang ada dilingkungannya
dan menumbuhkan minat dan kesadaran untuk mengetahui masalah
kesehatan , serta bagaimana cara untuk mengatasinya.
2) Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) merupakan pertemuan seluruh
warga desa untuk membahas hasil SMD dan merencanakan
penganggulangan masalah kesehatan yang diperoleh dari SMD.
Bertujuan untuk masyarakat mengenali masalah kesehatan di
wilayahya, masyarakat sepakat untuk mengatasi masalah kesehatan,

10
masyarakat dapat menyusun rencana kerja guna mengatasi masalah
kesehatan.
b. Pengumpulan data
Menurut Anderson (2008), metode windshield survey dapat digunakan
perawat komunitas untuk mengidentifikasi berbagai dimensi dari
komunitas, lingkungan, gaya hidup, masyarakat. Beberapa aspek yang
dikaji dalam metode ini antara lain adalah sebagai berikut :
1) Inti komunitas, meliiputi :
a) Sejarah, meliputi hal-hal yang diperoleh dari pengamatan
sementara di wilayah tersebut.
b) Demografi, meliputi tipe-tipe orang yang dijumpai, termasuk data
mengenai usia, jenis kelamin, dan piramida penduduk.
c) Kelompok etnis, berupa identifkasi terhadap berbagai suku atau
etnis yang dijumpai.
d) Nilai dan keyakinan, berupa identifikasi terhadap nilai dan
keyakinan dalam masyarakat. Misalnya, melalui jenis dan jumlah
rumah ibadah.
2) Subsistem, meliputi :
a) Lingkungan fisik, berupa keadaan lingkungan atau geografis.
Misalnya batas wilayah, peta wilayah, iklim, dan kondisi
perumahan
b) Pelayanan kesehatan dan social, meliputi unit pelayanan
keesehatan yang tersedia baik modern maupun tradisional, tenaga
kesehatan, home care, tempat pelayanan social, dan kesehatan
jiwa komunitas
c) Ekonomi, meliputi status ekonomi masyarakat, industry yang
tersedia, kegiatan yang menunjang roda perekonomian, dan jumlah
pengangguran.
d) Kemanan dan transportasi, meliputi cara masyarakat bepergian,
jenis transportasi umum/pribadi yang digunakan, jenis pelayanan
perlindungan yang tersedia (pemadam kebakaran, polisi, atau

11
sanitasi). Monitoring terhadap kualitas udara, jenis kejahatan pada
umumnya dan sebagainya
e) Pemerintahan dan politik, meliputi tanda aktivitas politik (poster,
pertemuan, dan sebagainya), partai mendominasi, hak komunitas
dalam pemerintahan (pemilihan bupata atau anggota DPRD),
keterlibatan masyrakat dalam pembuatan keputusan pemerintahan
setempat.
f) Komunikasi, berupa identifikasi berbagai jenis komunikasi yang
digunakan oleh masyarakat, termasuk komunikasi melalui media
cetak dan elektronik
g) Pendidikan, berupa identifikasi berbagai jenis institusi pendidikan
dan ketersediaan program UKS
h) Rekreasi, meliputi tempat anak-anak bermain, bentuk umum
rekreasi, orang-orang yang berperan serta, dan fasilitas rekreasi
yang ditemukan.

Kisi-kisi instrument pengkajian komunitas

Item Sumber
No Variable Subvariabel Strategi
pertanyaan data
1 Core Demografi Nama Data kuisioner
Usia primer
Jenis
kelamin
2 Lingkungan fisik
3 Pendidikan
4 Komunikasi
5 Layanan
kesehatan dan
social
6 Kemanan dan

12
transportasi
7 Ekonomi
8 Politik dan
pemerintahan
9 Rekreasi

3) Persepsi, meliputi :
a) Penduduk, meliputi pendapat masyarakat tentang komunitasnya,
serta identifikasi kekuatan dalam pandangan masyarakat. Persepsi
dapat diperoleh melalui analisis jawaban beberapa orang dari
kelompok berbeda (kelompok tua/muda, petani, pekerja pabrik,
professional, tokoh agama, ibu rumah tangga dan lain sabaginya)
b) Persepsi sendiri, meliputi penyataan umum perawat komunitas
mengenai kesehatan komunitas, kekuatan komunitas, serta masalah
actual atau potensial yang dapat diidentifikasi.
c. Jenis-jenis sumber data
1) Jenis data, terbagi menjadi dua :
a) Data subjektif, diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan
oleh individu, keluarga, kelompok, dan komunitas, melalui
ungkapan langsung secara lisan
b) Data objektif, diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan,
dan pengukuran
2) Sumber data, ternagi menjadi dua :
a) Data primer, yaitu data yang dikumpulkan oleh pengkaji (perawat
komunitas) dari individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian
b) Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari sumber lain yang
dapat dipercaya. Misalnya data dari kelurahan, catatan riwayat
kesehatan pasien, atau medical record.

13
d. Metode pengumpulan data
Terdapat 3 metode dalam pengumpulan data, antara lain adalah sebagai
berikut :
1) Wawancara (anamnesis)
Merupakan kegiatan komunikasi timbal balik berbentuk tanya
jawab antara perawat dengan klien atau keluarga dan orang-rang
disekitar klien terkait masalah kesehatan klien.
Wawancara hendaknya dilakukan dengan ramah, terbuka, serta
menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami klien.
Selanjutnya hasil wawancara dicatat dalam format proses keperawatan
2) Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan meliputi aspek fisik, psikologis,
perilaku, dan sikap. Pengamatan dilakukan menggunakan panca indra
yang hasilnya dicatat dalam format proses keperawatan.
3) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dalam rangka menegakkan diagnosis
keperawatan dilakukan melalui :
a) Inspeksi, yaitu pemeriksaan dilakukan melalui pengamatan pada
bagian tubuh klien atau keluarga yang sakit
b) Palpasi, yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
meraba bagian tubuh yang mengalami gangguan
c) Perkusi, yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
mengetukkan jari telunjuk atau alat hammer pada bagian tubuh
yang diperiksa
d) Auskultasi, yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
mendengarkan bunyi bagian tubuh tertentu (umunya menggunakan
stetoskop.
e. Pengolahan data
Setelah data diperoleh, selanjutnya dapat diolah menggunakan cara
sebagai berikut :
1) Klasifikasi data atau kategorisasi data berdasarkan

14
a) Karakteristik demografi
b) Karakteristik geografi
c) Karakteristik social ekonomi
d) Sumber dan pelayanan kesehatan
2) Perhitungan presentase cakupan menggunakan telly
3) Tabulasi data
4) Interpretasi data
f. Analisis data
Analisa data merupakan kemampuan untuk mengaitkan dan
menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga
dapat dihadapi oleh masyarakat. Analisis data bertujuan untuk :
1) Menetapkan kebutuhan komunitas
2) Menetapkan kekuatan
3) Mengidentifikasi pola respon komunitas
4) Mengidentifikasi kecenderungan pengguanaan layanan kesehatan
g. Perumusan masalah
Berdasarkan analisis data yang diperoleh, dapat diketahui masalah
kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sehingga dapat
dilakukan intervensi
h. Prioritas masalah
Masalah yang dirumuskan tidak dapat diatasi sekaligus. Oleh karena itu,
perlu dilakukan penyusunan prioritas dengan kriteria antara lain :
1) Perhatian masyarakat
2) Prevalensi kejadian
3) Berat ringan masalah
4) Kemungkinan masalah diatasi
5) Tersedianya sumber daya masyarakat
6) Aspek politis

15
Profil Lokasi Penelitian

Kelurahan tugu, kecamatan cimanggis kota depok. Luas wilayah 504.009


hektar. Keadaan demografi kelurahan tugu di dapatkan data bahwa jumlah
penduduk tercatat sebanyak 81.230 jiwa dengan 20.470 kepala keluarga.
Distribusi persebaran penduduk berada pada 14 RW dengan 165 RT penduduk
yang berusia 45-64 tahun berjumlah 7.753 jiwa dan penduduk yang berusia lebih
dari 65 tahun berjumlah 328 jiwa.

Upaya kesehatan berbasis masyarakat kelurahan tugu tercatat 393 kader


kesehatan posyandu dan 110 kader kesehatan posbindu. Posbindu sebanyak 16
posbindu. Fasilitas pelayanan kesehatan dasar terdiri dari satu puskesmas, 67
praktek dokter, 38 praktek bidan, satu rumah sakit berstatus swasta, 14 klinik, 1
balai pengobatan.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas kesehatan


puskesmas tugu didapatkan data bahwa kasus stroke pada pra lansia dan lansia
yang melakukan rawat jalan berjumlah 363 orang, yang berusia 45-64 tahun
sebanyak 236 orang (4,60%) dan berusia lebih dati 65 tahun berjumlah 127
(9,9%).

Hasil pengkajian

Pengkajian dilakukan di wilayah kelurahan tugu selama 2 minggu pada


polulasi lansia dengan stroke. Pengkajian menggunaka metode wawancara dan
kuesioner. Wawancara dilakukan dengan pemerintah setempat, tokoh masyarakat,
kader kesehatan dan dengan beberapa keluarga tentang masalah penyakit stroke.
Penyebaran kuesioner pada keluarga dengan anggota keluarga lansia stroke
berjumlah 40 responden yang berada di wilayah kelurahan tugu, cimanggis,
depok. Setelah pengumpulan data dilakukan analisa data

Analisis Situasi Masalah Komunitas

Data yang didapatkan berdasarkan hasil wawncara dengan penanggungjawab


program lansia di puskesmas bahwa belum ada program tersendiri untuk lansia

16
secara umu dilaksanakan pada pelaksanaan posbindu. Pasien stroke biasanya akan
langsung berobat ke rumah sakit, baik terjadi serangan stroke ataupun untuk
pemeriksaan berkala

Berdasarkan hasil wawancara dengan kader kesehatan didapatkan data bahwa


kejadia stroke di masyarakat paling banyak disebabkan oleh adanyan penyakit
hipertensi dan juga keturunan. Lansia post stroke jarang yang berkunjung ke
posbindu karena tidak ada yang mengantar. Lansia stroke kebanyak tidak
melanjutkan pengobatan di rumah sakit karena alas an kesulitan biaya

Berdasarkan wawancara dengan tokoh masyarakat didapatkan data bahwa


kejadian stroke di masyarakat paling banyak disebabkan oleh penyakit hipertensi.
Sebagian besar masyarakat tidak memahami bahwa hipertensi paling banyak
dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat utamanya pola makan. Masyarakat kurang
memahami bahwa kurang olahraga dan stress dapat menjadi pemicu kejadian
penyakit stroke.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa keluarga dengan riwayat hipertensi


didapatkan data bahwa sangat sulit untuk menghindari makanan yang digoreng
ataupun yang asin. Keluarga menyatakan tidak paham dan tidak tahu cara
merawat anggota keluarga dengan stroke.

Berdasarkan hasil survey menggunakan kuesioner pada 40 responden lansia


stroke, didapatkan data yaitu jenis kelamin laki-laki 67,6% dan perempuan 32,4%;
Tidak Pernah Sekolah 17,6%, SD 26,5%, SMP 29,4%, SMA 23,5% dan PT 2,9%;
tidak bekerja 82,4% dan masih bekerja 17,6%; penghasilan keluarga sebagian
besar lebih dari satu juta rupiah yaitu 41,2%; yang tidak lagi mengikuti kegiatan
sosial 52,9%, satu kegiatan sosial 38,2% dan lebih dari satu kegiatan sosial 8,8%;
pelaku rawat utama pasangan 55,9%, anak 41,2%, dan saudara 2.9%.
Menggunakan fasilitas kesehatan yang terbanyak adalah Rumah Sakit sebesar
32,5%, Puskesmas 23,5%, dokter praktek 14,7% dan yang tidak menggunakan
fasilitas kesehatan 8,8%. Jenis layanan yang digunakan yaitu layanan pemeriksaan
55,9% dan untuk pengobatan 44,1%; sumber pembiayaan kesehatan asuransi

17
38,2% dan umum 61,8%. Informasi tentang stroke pernah mendapatkan 70,6%
dan yang tidak pernah 29,4%. Sumber informasi kesehatan bersumber petugas
kesehatan 79,4%, televisi 17,6% dan koran 2,9%; menyatakan lingkungan rumah
tidak aman 58,8% dan aman 41,2%.

Data tentang pengetahuan lansia post stroke tentang penyakit stroke yaitu
pengetahuan kurang 52,9% dan pengetahuan baik 47,1%. Sikap lansia post stroke
terhadap masalah kesehatan stroke sikap baik 79,4% dan sikap kurang baik
20,6%. Perilaku lansia post stroke yang baik 54,7% dan perilaku yang kurang baik
atau perilaku yang beresiko 45,3%.

Data lansia berdasarkan perilaku lansia stroke yang dikaitkan dengan perilaku
lansia stroke yang berisiko tinggi terdiri dari: tidak pernah berolah raga 17,6%,
selalu makan makanan berlemak 5,9%, jarang minum air putih 26,5%, tidak
pernah mengunjungi Posbindu 35,3%, tidak pernah periksa tekanan darah 5,9%,
selalu makan makanan asin 8,8%, sering makan gorengan 20,6%, selalu merokok
11,8%. Data tersebut berkaitan dengan faktor kurang pengetahuan keluarga dan
lansia stroke tentang akibat yang dapat terjadi bila faktor risiko tidak diatasi. Hal
ini sejalan dengan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat bahwa perilaku
lansia yang telah mengalami stroke biasanya tetap dengan kebiasaan yang tidak
berubah karena adanya faktor ketidaktahuan keluarga ataupun lansia.

18
2. DIAGNOSA

Diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama yaitu :

1) Problem atau masalah : problem merupakan kesenjangan atau


penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya terjadi
2) Etiologi atau penyebab : menunjukkan penyebab masalah kesehatan atau
keperawatan yang dapat memberikan arah terhadap intervensi
keperawatan, yang meliputi :
a. Perilaku individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
b. Lingkungan fisik, biologis, psikologis, dan social
c. Interaksi perilaku dan lingkungan
3) Symptom atau gejala :
a. Informasi yang perlu untuk merumuskan diagnose
b. Serangkaian petunjuk timbulnya masalah

Perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

a. Dengan rumus PES

Rumus : DK = P + E + S

DK : Diagnosis keperawatan

P : Problem atau masalah

E : Etiologi

S : Symptom atau gejala

b. Dengan rumus PE

19
Rumus : DK = P + E

DK : Diagnosis keperawatan

P : Problem atau masalah

E : Etiologi

Jadi, menegakkan diagnosis keperawatan minimal harus mengandung 2


komponen tersebut diatas, disamping mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

a. Kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah


b. Sumber daya yang tersedia dari masyarakat
c. Partisipasi dan peran serta masyarakat

Diagnosa keperawatan komunitas berrdasarkan jenis diagnosis, sebagai berikut :

1. Potensial peningkatan regimen terapeutik yang tidak efektif ditandai


dengan kurangnya yang melakukan jenis layanan pengobatan .

20
2. Resiko pemliharaan kesehatan yang tidak efektif pada populasi lansia
stroke di kelurahan tugu berhubungan dengan kurangnya penegtahuan
ditandai dengan banyaknya masyarakat yang tidak mengikuti kegiatan
sosialisasi, lingkungan rumah tidak aman, dan tidak menggunakan fasilitas
kesehatan.
3. Gangguan/masalah kesehatan lansia stroke berhubungan dengan terjadinya
peningkatan perilaku pencetus faktor resiko ditandai dengan tidak pernah
berolah raga , selalu makan makanan berlemak jarang minum air putih ,
tidak pernah mengunjungi Posbindu , tidak pernah periksa tekanan darah ,
selalu makan makanan asin , sering makan gorengan ,selalu merokok .

1. INTERVENSI
2. IMPLEMENTASI
3. EVALUASI

21