You are on page 1of 9

HOMEOSTASIS

Nuzulia / 1714040019 / Kelompok 2

Abstrak

Sel melakukan pertukaran zat dengan lingkungan melalui membran yang bersifat semipermeabel.
Mekanisme transpor zat melalui membran semipermeabel dari potensial tinggi ke potensial rendah disebut
osmosis. Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan eksternal dan internal, sel akan menjaga kondisi
internalnya tetp stabil dengan mekanime homeostasis. Praktikum dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2019,
di Laboratorium Biologi FMIPA UNM. Bahan utama yang digunakan adalah telur ayam, kulit katak dan
usus ayam. Hasil pengamatan kegiatan 1 membuktikan bahwalarutan NaCl lebih hipotonik dibandingkan
dengan telur ayam, pada kegiatan 2 NaCl lebih hipertonik dari aquadest dan pada kegiatan 3 mengalami
kegagalan karena menyelisihi konsep osmosis.

Kata Kunci: Semipermeabel, Osmosis, homeostasis, hipotonik, hipertonik.

A. Pendahuluan
Sel merupakan unit terkecil di dalam tubuh makhluk hidup. Antar sel dengan
lingkungannya terjadi pertukaran zat-zat melalui membran yang bersifat semipermebael
yang hanya dapat dilewati oleh zat-zat tertentu. Proses difusi dapat terjadi dari dalam sel
menuju luar sel atau pun sebaliknya, dan sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan
kondisi lingkungan. Perubahan kondisi lingkungan internal dapat timbul karena dua hal,
yaitu adanya perubahan aktivitas sel tubuh dan perubahan eksternal yang berlangsung
secara terus-menerus. Apabila aktivitas sel berubah, pengambilan zat dari lingkungan
juga berubah. Sel akan berusaha menjaga agar kondisi internal sel tetap stabil, inilah yang
dimaksud mekanisme homeistasis.
Pada dasarnya, homeostasis adala kemampuan atau mekanisme pengaturan
lingkungan oleh organisme agar kondisi internal tetap seimbang dan relatif konstan.
Homeostasis berfungsi untuk merespon terhadap perubahan lingkungan yang terjadi,
pertukaran zat antar sel dengan lingkungannya metabolisme makanan dan integrasi
aktivitas yang sangat beragam. Proses pertukaran zat oleh sel dengan lingkungannya
dapat terjadi dengan cara transpor aktif mau[un transpor pasif. Transpor pasif merupakan
perpindahan zat yang mengikuti aliran konsentrasi, terdiri atas oqmosis dan difusi.
Sedangkan transpor aktif adalah mekanisme perpindahan zat yang melawan konsentrasi
dan memerlukan energi.
Proses homeostasis dapat terjadi apabila tubuh mengalami stress yang secara alamiah
tubuh akan melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kondisi agar tetap
seimbang. Homeostasis adalah suatu proses pemeliharaan stabilitas dan adaptasi terhadap
kondisi lingkungan sekitar yang terjadi secara terus menerus. Homeostasis terdiri atas
homeostasis fisiologis dan psikologis (Rochmawati dkk, 2013). Prinsip homeostasis
mengandung makna bahwa organisme selalu mempertahankan keadaan seimbang pada
dirinya.Sehingga bila suatu saat terjadi hal yang tidak seimbang maka akan ada usaha
untuk mengembalikan pada kondisi seimbang. Prinsip homeostatis berlangsung selama
individu hidup (Amalia dkk, 2016).
Homeostasis relevan dalam banyak bidang biologi disemua tingkat organisme
biologis,dari tingkat molekuler hingga seluruh tingkat tubuh. Beberapa bidang, seperti
fisiologi, mempertimbangkan homeostasis pada tingkat makro. Bidang lain, seperti
hematologi, endokrinologi dan mikrobiologi, mempertimbangkan biologi sel level mikro
seluler. Bidang lain, seperti biokimia, genetika dan bioteknologi, mempertimbangkan
tingkat mikro molekululer. Di bidang ekologi, konsep homeostasis dipinjam untuk
menggambarkan stabilitas dinamis populasi di habitat (Michal & Sara, 2015).
Sistem kontrol homeostasis memiliki 3 komponen fungsional: sebuah reseptor, sebuah
pusat kontrol, dan sebuah efektor. Reseptor mendeteksi perubahan beberapa variabel
lingkungan internal hewan , seperti perubahan suhu tubuh. Pusat kontrol memproses
informasi yang diterima dari reseptor dan mengarahkan suatu respon yang tepat melalui
efektor (Campbell, 2002).
Menurut Guy ton (2007), Faktor-faktor lingkungan internal yang harus dipertahankan
secara homeostasis, yaitu :
1. Konsentrasi molekul zat-zat gizi
Sel-sel membutuhkan pasokan molekul nutrient yang tetap untuk digunakan
sebagai bahan bakar metabolic untuk menghasilkan energi. Energy kemudian
digunakan untuk menunjang aktifitas-aktifitas khusus dan untuk mempertahankan
hidup.
2. Konsentrasi O2 dan CO2
Sel membutuhkan O2 untuk melakukan reaksi-reaksi kimia yang menarik
sebanyak mungkin energi dari molekul nutrien digunakan oleh sel. CO2 yang
dihasilkan selama reaksi-reaksi tersebut berlangsung harus diseimbangkan dengan
CO2 yang dikeluarkan oleh paru, sehingga CO2 pembentuk asam ini tidak
meningkatkan keasaman di lingkungan internal.
3. Konsentrasi zat-zat sisa
Berbagai reaksi kimia menghasilkan proiduk-produk akhir yang berefek toksik
bagi sel apabila dibiarkan tertimbun melebihi batas tertentu.
4. pH.
Diantara efek-efek paling mencolok dari p[erubahan keasaman lingkungan cairan
internal adalah perubahan mekanisme pembentuk sinyal listrik di sel saraf dan
perubahan aktifitas enzim di semua sel.
5. Konsentrasi air,garam-garam, dan elektrolit-elektrolit lain
Karena konsentrasi relative garam (NaCl) dan air di dalam cairan ekstrasel
(lingkungan internal) mempengaruhi berapa banyak air yang masuk atau keluar
sel, konsentrasi keduanya diatur secara ketat untuk mempertahankan volume sel
yang sesuai. Sel-sel tidak dapat berfungsi secara normal apabila mereka
membengkak atau menciut. Elektrolit lain memiliki bermacam-macam fungsi fital
lainnya. Sebagai contoh denyut jantung yang teratur bergantung pada konsentrasi
kalium di cairan ekstra sel yang relative konstan.
6. Suhu.
Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentan suhu yang sempit. Sel-sel
akan mengalami perlambatanaktifitas yang hebat apabila suhunya terlalu dingin
dan yang lebih buruk protein-protein structural dan enzimatiknya akan terganggu
apabila suhunya terlalu panas.
7. Volume dan tekanan.
Komponen sirkulasi pada lingkungan internal, yaitu plasma, harus dipertahankan
pada tekanan darah dan volume yang adekuat agar penghubung vital antara sel
dan lingkungan eksternal ini dapat terdistribusi ke seluruh tubuh.
B. Metode Kerja
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2019, di Laboratorium Biologi lat. 3
Barat FMIPA UNM. Pada praktikum kali ini di laksanakan tiga kegiatan yang berkaitan
dengan mekanisme transpor zat dan homeistasis. Alat yang digunakan pada kegiatan
pertama yaittu gelas plastik, sedotan transparan, lilin, korek api dan mistar. Adapun bahan
yang digunakan adalah telur, aquadest dan larutan NaCl 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1%, 2%, dan
4%. Langkah kerja dalam kegiatan pertama yaitu, pertama lepas cangkang telur bagian
bawa telur tanpa terkena selaputnya. Sedangkan bagian atas telur lepaskan beserta selaput
setelah itu masukkan sedotan transparan dibagian atas telur. Lalu masukkan kedalam
gelas plastik yang telah diisi dengan larutan NaCl dengan konsentrasi berbeda dari
masing masing gelas. Setelah itu amati pergerakan cairan telur yang naik kedalam
sedotan plastik. Amati pergerakannya setiap 5 menit selama 60 menit dan catat
perubahannya.
Kegiatan kedua menggunakan alat antara lain, gelas kimia, tabung reaksi, rak tabung
reaksi, mistar, penjepit tabung reaksi, karet gelang, alat seksi, dan papan seksi, sedangkan
bahan antara lain, katak, aquadest serta NaCl 6% dan 8%. Cara kerja kegiatan kedua
yaitu, bius dan kuliti kulit bagian ventral dan dorsal katak. Setelah dikuliti. Isi tabung
reaksi menggunakan larutan NaCl lalu tutup dengan kulit katak tersebut dan rekatkan
menggunakan karet gelang. Setelah itu masukkan kedalam gelas plastik yang telah terisi
aquades. Lalu ikat menggunakan karet gelang agar tidak terlalu rapat dengan bagian dasar
gelas. Setelah itu amati larutan didalam tabung reaksi setiap 30 menit selama 24 jam.
Amati dan catat perubahan yang terjadi.
Kegiatan ketiga menggunakan alat antara lain, tabung reaksi, mistar dan syringe,
sedangkan bahannya usus ayam, aquadest, dan NaCl 6% dan 8%. Cara kerja dari kegiatan
ketiga yaitu dimulai dengan mebersihkan usus ayam dari kotorannya, lalu mengikat salah
satu ujung usus ayam. Setelah itu masukkan larutan aquadest lalu tusuk bagianujung yg
lain. Masukkan NaCl ke dalam tabung reaksi lalu masukkan usus ayam tadi kedalam
tabung reaksi. Amati perubahan ketingian permukaan aquadest. Amati setiap 30 menit
selama 24 jam dan catat perubahan yang terjadi.
C. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan Kegiatan Pertama
NaCl NaCl NaCl
Menit NaCl 1% NaCl 2% NaCl 4%
0,2% 0,4% 0,8%
Ke- (Cm) (Cm) (Cm)
(Cm) (Cm) (Cm)
5 0 0 0 0,5 0 0
10 0 0 0 2 0,2 0
15 0 0 0,3 3,5 0,3 0
20 0,2 0 0,8 4,6 0,4 0
25 0,5 0 1,5 6,4 1,5 0
30 0,8 0 2,3 7,4 2 0
35 1,5 0,5 3,0 9,3 3,2 0
40 1,8 1,1 3,4 10,5 3,8 0
45 2,1 1,8 4,1 12 4,2 0
50 2,4 2,2 4,7 13 4,5 0
55 2,5 2,5 5,3 14,5 4,7 0
60 2,5 2,6 5,8 16,2 5,1 0
Tabel 2. Pengamatan Kegiatan Kedua
Bagian dorsal (Cm) Bagian Ventral (Cm)
Pengamatan Ke-
NaCl 6% NaCl 8% NaCl 6% NaCl 8%
1 9 9 9 7,5
2 8,5 9 9 7,6
3 8,2 8,7 9 8,3
4 8,2 8,5 9 8,7
5 8,2 8,5 9 8,7
6 8,3 8,6 9 8,8
7 8,5 8,6 8,9 8,8
8 8,5 8,6 8,8 8,8
9 8,3 8,4 8,6 8,8
10 8,3 8,7 8,6 8,8
11 8,3 8,3 8,6 8,9
12 8,6 8,2 8,6 8,9
13 8,7 8,3 8,6 8,9
14 8,6 8,3 8,6 8,8
15 8,6 8,3 8,6 8,8
16 8,6 8,3 8,6 8,8
17 8,7 8,3 8,6 8,8
18 8,7 8,2 8,5 8,8
19 8,7 8,2 8,5 8,8
20 8,7 8,2 8,5 8,8
21 8,7 8,2 8,5 8,8
22 8,7 8,2 8,5 8,8
23 8,7 8,2 8,5 8,8
24 8,7 8,2 8,5 8,8
25 8,7 8,2 8,5 8,8
26 8,5 8,2 8,5 8,8
27 8,5 8,3 8,5 8,8
28 8,5 8,3 8,5 8,8
29 8,5 8,3 8,5 8,9
30 8,5 8,3 8,5 8,9
31 8,5 8,3 8,5 8,9
32 8,5 8,3 8,5 8,9
33 8,5 8,3 8,4 8,9
34 8,5 8,3 8,4 8,9
35 8,5 8,3 8,4 8,8
36 8,5 8,3 8,4 8,8
37 8,5 8,3 8,4 8,8
38 8,5 8,3 8,4 8,8
39 8,5 8,3 8,4 9
40 8,5 8,3 8,4 9,1
41 8,5 8,3 8,4 9,2
42 8,5 8,3 8,4 9,3
43 8,5 8,3 8,4 9,3
44 8,5 8,3 8,4 9,3
45 8,5 8,3 8,4 9,4
46 8,5 8,3 8,4 9,5
47 8,5 8,3 8,4 9,5
48 8,5 8,3 8,4 9,5

Tabel 3. Pengamatan Kegiatan Ketiga

Pengamatan Ke- NaCl 8% (Cm) NaCl 8% (Cm)

1 7,5 7,2
2 7,5 7,3
3 7,5 7,4
4 7,8 7,2
5 7,8 7,3
6 7,8 7,3
7 7,9 7,5
8 8,0 6,9
9 8,1 7,0
10 8,2 7,3
11 8,2 7,1
12 8,2 7,2
13 8,2 7,3
14 8,3 7,5
15 8,4 7,6
16 8,4 7,8
17 8,4 7,7
18 8,5 7,8
19 8,5 7,8
20 8,6 7,9
21 8,6 7,9
22 8,8 8,0
23 8,8 8,0
24 9,1 8,0
25 9,2 8,1
26 9,3 8,2
27 9,3 8,2
28 9,4 8,1
29 9,5 8,1
30 9,5 8,1
31 9,5 8,2
32 9,5 8,2
33 9,6 8,2
34 9,7 8,3
35 9,7 8,4
36 9,7 8,4
37 9,7 8,4
38 9,8 8,4
39 9,8 8,4
40 9,8 8,5
41 9,8 8,5
42 9,7 8,4
43 9,8 8,5
44 9,8 8,5
45 9,9 8,6
46 9,8 8,3
47 9,9 8,5

D. Pembahasan
Pada kegiatan pertama, telur yang diletakkan dalam larutan NaCl 4% tidak mengalami
perubahan. Hasilnya tetap konstan yaitu 0, hal ini disebabkan oleh penuangan cairan lilin
yang yang tidak tepat sehingga pipet tidak merekat dengan baik. Sedangkan semua telur
yang diletakkan pada larutan NaCl 0.2%, 0.4%, 0.8%, 1% dan 2% mengalami
peningkatan volume yang ditandai dengan naiknya cairan telur ke dalam pipet.
Peningkatan volume tertinggi ada pada telur yang diletakkan dalam larutan 2%.
Fenomena ini disebut dengan osmosis, yaitu berpindahnya zat melalui membran
semipermeabel dari bagian yang konsetrasi pelarut tinggi atau encer ke bagian yang
berkonsentrasi pelarut lebih rendah atau lebih pekat.
Pada kegiatan kedua, tabung reaksi yang ditutup dengan kulit bagian ventral dengan
konsetrasi larutan 8% mengalami pertambahan volume, hal ini telah sesuai dengan
konsep osmosis yang telah diuraikan sebelumnya. Sedangkan pengamatan yang lain
dikegiatan dua mengalami kegagalan karena volume NaCl berkurang sehingga
menyelisihi konsep osmosis. Sedangkan pada pengamatan ketiga menggunakan usus
ayam yang telah diisi dengan larutan NaCl 6% dan 8% dan diletakkan dalam tabung
reaksi yang telah diisi air suling juga mengalami kegagalan ditandai dengan
meningkatnya cairan pada tabung reaksi. Hal ini tidak sesuai dengan konsep osmosis,
dimana proses perpindahan zat dari luar ke dalam usus ayam sehingga volume tabung
reaksi berkurang dan volume cairan di dalam usus ayam bertambah.
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan kegiatan 1, 2 & 3 membuktikan bahwa peristiwa
transpor zat khususnya osmosis dalam rangka homeistasis terjadi dari air dengan
potensial tinggi menuju zat dengan potensial air rendah. Hasil pengamatan kegiatan 1
membuktikan bahwalarutan NaCl lebih hipotonik dibandingkan dengan telur ayam, pada
kegiatan 2 NaCl lebih hipertonik dari aquadest dan pada kegiatan 3 mengalami kegagalan
karena menyelisihi konsep osmosis.
Saran untuk praktikan selanjutnya adalah agar lebih memperhatikan luas membran
serta konsentrasi larutan dan lebih akurat dalam mengukur pertambahan atau
pengurangan volume zat. Untuk laboran, sebaiknya menyediakan bahan dan alat yang
digunakan sebelum kegiatan praktikum dilaksanakan.
F. Referensi
Amalia, A.D., Abdulloh R.M. & Sulianti, Ambar. 2016. Homeostasis pada Anak
Disgrafia akibat Tumor Otak. Jurnal Psikologi Integratif. Vol. 4 (I).
Campbell. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Guy Ton, Arthur C., Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed.11. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Michal, Zion & Sara, Klein. 2015. Conceptual Understanding of Homeostasis.
International Journal of Biology Education. Vol. 4 (I) : 2.
Rochmawati, D.H., Hamid, A.Y.S. & Helena, Novi. 2013. Makna Kehidupan Klien
dengan Diabetes Melitus Kronis di Kelurahan Bandarharjo Semarang Sebuah
Studi Fenomenologi. Jurnal Keperawatan Jiwa. Vol. 1 (I).