You are on page 1of 6

PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI INDONESIA DAN DUNIA

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah
putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh
manusia. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan
gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan
oleh infeksi HIV. Hingga saat ini penyakit Human Immunodeficiency
Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) masih merupakan
permasalahan kesehatan yang cukup kompleks dan terus meningkat dari tahun ke
tahun di seluruh bagian dunia.

Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Maret 2016, HIV-AIDS
tersebar di 407 (80%) dari 507 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.
Provinsi pertama kali ditemukan adanya HIV-AIDS adalah provinsi Bali,
sedangkan yang terakhir melaporkan adalah provinsi Sulawesi Barat pada tahun
2012

1. HIV

a. Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV dilaporkan sebanyak 859,
tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun 2008 (10.362), tahun 2009
(9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031), tahun 2012 (21. 511),
tahun 2013 (29.037), tahun 2014 (32.711), tahun 2015 (30.935), tahun 2016
(41.250) dan tahun 2017 (10.376). jumlah kumulatif infeksi HIV yang
dilaporkan sampai dengan Maret 2017 sebanyak 242.699
b. Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (46.758), diikuti Jawa
Timur (33.043), Papua (25.586), Jawa Barat (24.650) dan Jawa Tengah
(18.038).

2. AIDS
a. Sampai dengan tahun 2005 jumlah AIDS yang dilaporkan sebanyak
5.239, tahun 2006 (3.680), tahun 2007 (4.828), tahun 2008 (5.298), tahun
2009 (6.744), tahun 2010 (7.470), tahun 2011 (8.279), tahun 2012
(10.862), tahun 2013 (11.741), tahun 2014 (7.963), tahun 2015 (7.185),
tahun 2016 (7.491) dan tahun 2017 (673). Jumlah kumulatif AIDS dari
tahun 1987 sampai Maret 2017 sebanyak 87.453 orang.
b. Presentase kumulatif AIDS pada tertinggi pada kelompok umur 20-29
(31,4%), kemudian diikiti kelompok umur 30-39 tahun (30,6%), 40-49
tahun (12,8%), 50-59 tahun (4,6%), dan 15-19 tahun (2,7%)
c. Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 56% dan perempuan 32%
sementara itu 12% tidak melaporkan jenis kelamin.
d. Jumlah AIDS tertinggi menurut pekerjaan/status adalah pada ibu rumah
tangga (12.302), diikuti tenaga non-profesional/karyawan (11.744),
wiraswasta (11.176), petani/peternak nelayan (4.062), buruh kasar
(3.840), penjaja seks (2.963), pegawai negeri sipil (2.219), dan anak
sekolah/ mahasiswa (2.034)
e. Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur (17.014), Papua
(13.398), DKI Jakarta (8.769), Bali (6.824), Jawa Tengah (6.531), Jawa
Barat (5.289), Sumatera Utara (3.897), Sulawesi Selatan (2.812),
Kalimantan Barat (2.597), dan NTT (1.959)
f. Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (68%), penasun
(11%), diikuti homoseksual (4%), dan penularan melalui perinatal (3%)
g. Angka kematian (CFR) AIDS menurun dari 1,11% pada tahun 2015
menjadi 0,08% pada bulan Maret tahun 2017.

Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) di dunia ada 36.9 juta
orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2017 dan 21.7 juta orang menerima
treatment antiretroviral pada akhir tahun 2017. Berdasarkan data United Nations
Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) tahun 2016, diketahui bahwa selama
tahun 2015 sebanyak 1.1 juta penduduk dunia meninggal dunia disebabkan oleh
AIDS. Laporan Epidemi HIV Global UNAIDS tahun 2016 menyatakan bahwa
hingga akhir tahun 2015 terdapat 36,7 juta penduduk di dunia mengidap penyakit
HIV, dan 5,7 % atau sekitar 2,1 juta dari jumlah tersebut merupakan kasus baru
selama tahun 2015. Pada akhir 2014 jumlah orang dengan HIV dan AIDS (ODHA)
di dunia sebesar 36.9 juta sementara pada tahun 2013 WHO mengumumkan 34
juta orang di dunia mengidap virus HIV penyebab AIDS dan sebagian besar dari
mereka hidup dalam kemiskinan dan di negara berkembang.
Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS merupakan kerangkaacuan dan
panduan untuk setiap upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, Baik oleh
pemerintah, masyarakat LSM, keluarga, perorangan, universitas dan lembaga-
lembaga penelitian, donor dan badan-badan internasional agar dapat bekerja sama
dalam kemitraan yang efektif dan saling melengkapi dalam lingkup keahlian dan
kepedulian masing-masing. penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia bertujuan
untuk memastikan tercapainya akses universal terhadap layanan pencegahan,
pengobatan dan mitigasi fampak HIV dan AIDS; berfokus pada populasi kunci
(termasuk remaja populasi kunci dan pekerja migran) di daerah geografis yang
paling beresiko;memperkuat dan mempertahankan layanan terintegrasi yang efektif
dan diskriminasi, sensitif jender dan berorientasi pada Hak Asasi Manusia; serta
menerapkan prinsip tata kelola yang baik, transparansi dan akuntabilitas.

Dalam pengembangan kebijakan nasional, prinsip-prinsip yang dipegang adalah


sebagai berikut :

1) Memperhatikan nilai-nilai Agama, budaya serta norma sosial dan


penghagaan terhadap manusia.
2) Merespon masalah sosial dan pembangunan, secara terstruktur, melibatkan
pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan masyarakat sipil.
3) Kemitraan antara masyarakat sipil, ODHA, pemerintah dan mitra
pembangunan.
4) Dukungan sosial dan ekonomi berfungsi memberdayakan ODHA dan
mereka yang terdampak untuk mempertahankan kualitas hidup.
5) Exit Strategy dari ketergantungan sumber dana luar negeri.

Stategi utama mengandung 4 (empat) kata kunci berikut :


1) Pencegahan komprehensif
Pengertian pencegahan komprehensif adalah agar jangan samapi seseorang
tertular virus HIV, yang apabila ia tertular HIV agar ia dapat segera dicegah
tidak masuk ke tahap AIDS serta tidak menjadi sumber penularan baru, dan
kemudian dapat dimitigasi dampak sosial ekonomi ODHA.
2) Continuum pf Care (CoC)
Pengertian CoC disini adalah agar sasaran populasi kunci mendapatkan
program penanggulangan AIDS secara berkesinambunga, mulai dari
berbagai upaya pencegahan berbasis komunitas, seperti PMTS sampai
mendapatkan layanan kesehatan seperti IMS dan tes HIV serta layanan
rujukan yang komprehensif, seperti sampai dengan upaya mempertahankan
pengobatan.
3) Populasi Kunci
Pengertian populasi kunci disini adalah agar kelompok ini menjadi sasaran
primer atau fokus dari pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.
populasi harus dapat mengakses program yang dijalankan secara efisien dan
efektif, untuk menurunkan epidemi HIV. Mereka ini terdiri dari WPS dan
pelanggannya, Penasun, LSL, Waria, LBT serta pasangan mereka.
4) Daerah prioritas
Pengertian daerah prioritas adalah agar penanggulangan AIDS juga harus
berfokus di daerah geografis dengan tingkat risiko penularan HIV yang
tinggi, beban penyakit HIV dan AIDS yang tinggi sehingga program dapat
dijalankan dengan efisien dan efektif pula untuk menurunkan epidemi HIV.

Menurut CDC (Center for Disease Control and Prevention) HIV dapat dicegah
dengan menggunakan strategi seperti Abstinence (tidak berhubungan seks diluar
nikah), membatasi jumlah pasangan seksual, tidak berbagi jarum suntik,
menggunakan kondom saat berhungungan seksual serta dapat mengonsumsi obat
untuk mencegah HIV seperti pre-exposure-prophylaxis (PrEP) dan Post exposure-
prophylaxis (PEP). Bagi orang denganHIV/AIDS (ODHA) banyak cara yang dapat
dilakukan untuk mencegah penularan kepada orang lain. Namun, yang paling
penting adalah minum obat untuk sebagai terapi HIV yang disebut terapi
antiretroviral atau ART setiap hari. Untuk menjaga kesehatan serta mengurangi
kesempatan tertular kepada orang lain.

Berdasarkan WHO, lebih dari 14 juta remaja laki laki dan dewasa yang terberada
di 14 negara bagian timur dan selatan Afrika menjalani Voluntary Medical Male
Cirmumcision (VMMC) sebagai pencegahan terhadap HIV pada tahun2007-2016
untuk membantu mengurangi infeksi baru. WHO meluncurkan pedoman baru yang
berfokus terutama pada VMMC yang dilakukan dibawah anestesi lokal pada orang
dewasa dan remaja. 14.54 juta sunat medis sukarela ini akan mencegah lebih dari
setengah juta infeksi HIV baru sampai 2030. Pada tahun 2016 2,3 juta VMMC
dilakukan, mayoritas Klien VMMC berusia 15 tahun ke atas.

Ada bukti kuat bahwa sunat laki-laki mengurangi risiki infeksi HIV yang didapat
secara heteroseksual pada pria sekitar 60%. Tiga uji coba terkontrol secara acak
telah menunjukkan bahwa sunat laki-laki yang disediakan oleh para profesional
kesehatan yang terlatih dengan baik dalam pengaturan yang dilengkapi dengan
benar adalah aman. Rekomendasi WHO/UNAIDS menekankan bahwa sunat laki-
laki harus dianggap sebagai intervensi yang efektif untuk pencegahan HIV di
negara dan wilayah dengan epidemi heteroseksual, HIV tinggi dan prevalensi sunat
laki- laki yang rendah. Sunat laki-laki hanya memberikan perlindungan parsial, dan
oleh karena itu harus hanya satu elemen dari paket pencegahan HIV komprehensif
yang meliputi : penyediaan layanan tes dan komseling HIV; pengobatan untuk
infeksi menular seksual; promosi praktik seks yang lebih aman; penyediaan
kondom pria dan wanita serta promosi penggunaan yang benar dan konsisten.

Terlepas dari tersedianya berbagai alat dan metode pencegahan HIV yang efektif
dan peningkatan besar-besaran pengobatan HIV dalam beberapa tahun terakhir,
infeksi baru diantara orang dewasa secara global belum menurun secara memadai.
Deklarasi Politik PBB Tahun 2016 tentang mengakhiri target AIDS adalah
mengurangi infeksi HIV baru menjadi jurang dari 500.000 pada tahun 2020, dari
lebih dari 1,8 juta pada tahun 2016. Tiga alasan yang saling berkaitan tampaknya
mendukung kegagalan untuk melaksanakan program yang efektif dalam skala :
kurangnya komitmen politik dan sebagai akibatnya, investasi yang tidak memadai,
keengganan untuk mengatasi isu-isu sensitif yang berkaitan dengan kebutuhan dan
hak-hak seksual dan reproduksi kaum muda, dan untuk populasi kunci dan
pengurangan dampak buruk serta kurangnya penerapan pencegahan sistematis,
bahkan dimana lingkungan kebijakan mengizinkannya.