You are on page 1of 9

Artikel

Untuk memenuhi tugas matakuliah Metodologi Keperawatan

Pegertian populasi dan sampel atau subyek penelitian dalam studi kasus

Oleh :

Erryna shepty Andriyani (P17220171004)

Irawati (P17220171006)

Arum Putri Febiliani (P17220173012)

Lailatul Isnaini (P17220173016)

Wahyu Irfandi (P17220173018)

Sonia Syafila Rizki (P17220173023)

Ahmad Alfiandi Nur (P17220173025)

Zumrotul Hasanah (P17220173035)

Aini Nur Rokhma (P17220173039)


Populasi dan Sampel atau Subyek Penelitian dalam Studi Kasus

A. Pengertian
1. Studi Kasus
Menurut Depdikbud (1997: 2) menjelaskan bahwa “studi kasus adalah suatu
studi atau analisa yang komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik,
bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri karakteristik berbagai jenis masalah
atau tingkah laku menyimpang baik individu maupun kelompok”.
Menurut Wibowo (1984: 79) menjelaskan bahwa “studi kasus adalah suatu
teknik untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seseorang secara mendalam
dengan tujuan untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik”.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa
studi kasus adalah suatu teknik yang mempelajari keadaan seseorang secara detail
dan mendalam, baik fisik maupun psikisnya. Selanjutnya dapat meningkatkan
perkembangan dan upaya untuk membantu individu, sehingga mampu
menyesuaikan diri dengan baik dengan lingkungannya.
Studi kasus merupakan teknik mengadakan persiapan konseling yang
memakai ciri-ciri yaitu mengumpulkan data yang lengkap, bersifat rahasia, terus 8
menerus secara ilmiah, dan data diperoleh dari beberapa pihak. (Mungin Eddy
Wibowo, 1984: 80)
2. Populasi
Menurut Margono (2004) Populasi Adalah Semua Data Yang Menjadi Pusat
Perhatian Para Peneliti Dalam Lingkup Dan Waktu. Data Terkait Populasi. Jika
Ada Orang Yang Memberikan Data, Ukuran Atau Populasi Akan Sama Dengan
Jumlah Laki-Laki.
Menurut Furchan (2004) Menjelaskan Bahwa Populasi Adalah Objek, Seluruh
Kelompok Orang, Atau Peristiwa Yang Telah Dirumuskan Oleh Para Peneliti
Jelas.
Menurut Nazir (2005) Menunjukkan Bahwa Populasi Adalah Kumpulan
Individu Dengan Kualitas Dan Karakter Yang Telah Ditetapkan Oleh Peneliti.
Karakteristik Atau Kualitas Yang Dinamakan Sebagai Variabel. Ia Membagi
Penduduk Menjadi Dua Populasi Terbatas Dan Tidak Terbatas.
Menurut Sugiono, populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi
bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi
juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi
meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu (Sugiyono:
2014, 117). Terkait dengan definisi-definisi tersebut, maka populasi dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang
memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memilki karakteristik
yang terbatas. Misalnya 5.000 orang dai pada awal tahun 1999, dengan
karakteristik; masa belajar di pesantren 10 tahun, lulusan pendidikan
Timur Tengah, dan lain-lain.
2) Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang
tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan
dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya dai di Indonesia,
yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak dai pertama ada sampai
sekarang dan yang akan datang. Dalam keadaan seperti itu jumlahnya
tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan suatu jumlah objek
secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-
orang, dahulu,sekarang dan yang akan menjadi dai.
3. Sampel Penelitian atau Subyek Penelitian
Sampel atau sampling berarti contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu
yang menjadi objek penelitian. Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti
tidak mungkin mempelajari semua populasi yang ada, misalnya karena
keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel
yang diambil dari populasi itu. Apa yang diambil dari sampel itu, kesimpulannya
akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu, sampel yang diambil dari
populasi harus betul-betul representatif (mewakili), (Sugiyono: 2014, 118).
Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel, yaitu Probability
Sampling, dan Non-Probability Sampling.

a) Probability Sampling

Yaitu sampling yang memberi kemungkinan sama bagi setiap unsur populasi
untuk dipilih. Dalam probability sampling, ada empat macam sampel yang
termasuk di dalamnya, yaitu:
1) Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

Yang dimaksud dengan acak atau random ialah setiap individu


atau subjek memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih dalam
keseluruhan populasi. Selain itu, kesempatan harus independen, artinya
kesempatan bagi suatu subjek untuk dipilih tidak mempengaruhi
kesempatan subjek-subjek lain untuk dipilih. Cara demikian dilakukan
bila anggota populasi dianggap homogen (Sugiyono, 2014: 120).

Kelemahan sampling acak ialah karena sukar, ada kalanya tidak


mungkin memperoleh data lengkap tentang keseluruhan populasi itu.
Sampling acakan juga kurang sesuai bila peneliti memerlukan sampel
yang mempunyai ciri-ciri tertentu, misalnya tingkat pendidikan,
kedudukan sosial, dsb.

2) Sampel Acak Proporsional dengan Berstrata (Proportionate Stratified


Random Sampling)

Teknik ini biasa digunakan pada populasi yang mempunyai


anggota/unsur yang tidak homogen dan bertingkat atau berlapis-lapis
secara proporsional. Misalnya sekolah, tentu terdapat beberapa
tingkatan kelas. Jika tingkatan dalam populasi diperhatikan, mula-mula
harus dipastikan strata yang ada, kemudian tiap strata diwakili sampel
penelitian.

3) Sampel Acak Tidak Proporsional dengan Berstrata (Disproportionate


Stratified Random Sampling)

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila


populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari
unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2,
90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP; maka tiga orang
lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel.
Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan
kelompok S1, SMU, dan SMP (Sugiyono, 2014: 121).

4) Sampel Daerah/Wilayah (Cluster Sampling)


Teknik ini digunakan jika populasi tidak terdiri dari individu-
individu, melainkan terdiri dari kelompok atau cluster. Misalnya,
penelitian dilakukan terhadap populasi penduduk dari suatu negara,
propinsi atau kabupaten, atau terhadap pelajar SMU di suatu kota.
Untuk itu, random tidak dilakukan secara langsung pada semua pelajar,
tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.

b) Non-Probability Sampling

Yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/


kemungkinan yang sama bagi setiap unsur/anggota populasi untuk dipilih.
Berdasarkan studi ini, peneliti mendapat keterangan lebih banyak tentang
populasi, dan karena itu dapat dilakukan studi yang lebih sistematis kemudian
dengan menggunakan sampling acak. Yang termasuk Non-Probability
Sampling adalah: (Sugiyono, 2014: 123)

1) Sampling Sistematis

Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel


berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua
anggota itu diberi nomot urut dari nomor 1 sampai dengan nomor 100.
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap
saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari
bilangan lima.

2) Sampling Kuota

Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari


populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang
diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang
pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan
Izin Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang.
Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut,
maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi
kuota yang ditentukan.
3) Sampling Insidental

Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel


berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara
kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai
sumber data. Keuntungan dari metode ini adalah sangat mudah, murah,
dan cepat dilakukan. Sedangkan kelemahannya, tidak representatif
sehingga tidak mungkin diambil suatu kesimpulan yang bersifat
generalisasi.

4) Sampling Purposive

Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan


pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang
kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli
makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif
atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalilsasi.

5) Sampling Jenuh

Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua


anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan
bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian
yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota
populasi dijadikan sampel.

6) Snowball Sampling

Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang


mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju
yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan
sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi dengan dua
orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan. Maka
peneliti mencari orang yang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang
diberikan oleh dua orang sebelumnya. Penelitian kualitatif banyak
menggunakan sampel Purposive dan Snowball. Selain itu ada beberapa
cara menentukan ukuran sampel yaitu :

Terkait ukuran sampel untuk penelitian, Resco dalam bukunya,


Research Methods For Business (1982: 253) memberikan saran-saran
seperti di bawah ini:

a) Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30


s/d 500.

b) Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya pria-wanita,


pegawai negeri-swasta dan lain-lain), maka jumlah sampel setiap
kategori minimal 30.

c) Bila dalam penlitian akan melakukan analisis dengan


multivariate (korelasi atau regresi ganda misalnya), maka jumlah
anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti.
Misalnya variabel penelitiannya ada 5 (independen + dependen),
maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50.

d) Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang


menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, maka
jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s/d 20.

Subjek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan


hasil penelitian. Apabila subjek penelitiannya terbatas dan masih dalam jangkauan
sumber daya, maka dapat dilakukan studi populasi, yaitu mempelajari seluruh
objek secara langsung. Sebaliknya, apabila subjek penelitian sangat banyak dan
berada di luar jangkauan sumber daya peneliti, atau batasan populasinya tidak
mudah untuk didefinisikan, maka dapat dilakukan studi sampel.

Subjek penelitian menurut Amirin (1995) merupakan seseorang atau sesuatu


yang mengenainya ingin diperoleh keterangan, sedangkan Suharsini Arikunto
(1998) memberi batasan subjek penelitian sebagai benda, hal, atau orang dimana
tempat data untuk variabel penelitian melekat dan yang dipermasalahkan. Dari
kedua batasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
subjek penelitian adalah individu, benda, atau organisme yang dijadikan sumber
informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Atau seperti yang
diajukan Kerlinger (1998) bahwa subjek penelitian itu adalah responden, yaitu
orang yang memberi respon atas suatu perlakuan yang diberikan kepadanya.
Istilah lain yang digunakan untuk menyebut subjek penelitian adalah responden,
yaitu orang yang memberi respon atas suatu perlakuan yang diberikan kepadanya.
Di kalangan peneliti kualitatif, istilah subjek penelitian atau responden sering
disebut dengan informan, yaitu orang yang memberi informasi tentang data yang
diinginkan peneliti berkaitan dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
Kegunaan Subjek Penelitian
Secara spesifik, Lincoln dan Guba serta Bogdan dan Biklen dalam Moleong
(2013: 132) menjelaskan bahwa kegunaan informan bagi penelitian adalah sebagai
berikut:

a) Membantu agar secepatnya dan tetap seteliti mungkin dapat membenamkan


diri dalam konteks setempat, terutama bagi peneliti yang belum pernah
mengalami latihan etnografi.

b) Agar dalam waktu yang relatif singkat, banyak informasi yang terkumpul
sebagai sampling internal, karena informan dimanfaatkan untuk berbicara,
bertukar pikiran, atau membandingkan suatu kejadian yang ditentukan dari subjek
lainnya (Prastowo, 2014: 196).

3. Syarat Subjek Penelitian

Ada persyaratan tertentu yang harus ada pada subjek penelitian/informan agar
layak ditetapkan sebagai informan penelitian. Moleong menyebutkan bahwa ada
lima persyaratan yang harus dimiliki oleh seseorang agar layak dijadikan
informan:

a) Orang tersebut harus jujur dan bisa dipercaya.

b) Orang tersebut memiliki kepatuhan pada peraturan.

c) Orangnya suka berbicara, bukan orang yang sukar berbicara, apalagi pendiam.

d) Orang tersebut bukan termasuk anggota salah satu kelompok yang bertikai
dalam latar penelitian.
e) Orangnya memiliki pandangan tertentu tentang peristiwa yang terjadi.
(Moleong, 2013: 132)

Daftar Pustaka

Alfianika N. 2012. Metode penelitian pengajaran bahasa indonesia. (Online).


(http://eprints.umk.ac.id/1014/3/BAB_II.pdf). Diakses pada tanggal 12 Maret 2019.

Hadi F. 2015. SUBJEK PENELITIAN, POPULASI, DAN SAMPEL. (Online).


(https://plus.google.com/+FuadHadi80/posts/7wMZK5SeTYQ). Diakses pada tanggal 12
Maret 2019.