You are on page 1of 10

PERBEDAAN POLA PENGOLAHAN SAMPAH PADAT ANTARA MASYARAKAT

PESISIR DAN NON-PESISIR DI DESA TOULIANG OKI KECAMATAN ERIS


KABUPATEN MINAHASA
1
1. Merry Gosal 2. Weliam Kawuwung 2 3. Agusteivie Telew 3
1. merrygosal10@gmail.com 2. 3. agusteivie@yahoo.com
1. Prodi Kesmas 2. Prodi Kesmas 3. Prodi Kesmas

ABSTRAK
Permasalahan sampah merupakan sesuatu yang belum terselesaikan dengan baik,
khususnya di berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 2014, data statistik sampah di
Indonesia mencatat bahwa Indonesia menduduki negara penghasil sampah plastik kedua
terbesar di dunia setelah Cina.
Kebanyakan sampah diolah dengan cara dibakar (80%, data primer), dan hanya sekitar
10% yang dibuang ke danau, menurut pengakuan masyarakat. Namun, berdasarkan hasil
pengamatan langsung, ada banyak sampah plastik yang ditemukan di area pesisir Danau
Tondano di Desa Touliang Oki.
Penelitian ini merupaka penelitian observasional yang bersifat cross sectional dengan
desain kasus kontrol. Populasi dalam penelitian ini merupakan masyarakat yang tinggal di
Desa Touliang Oki yang dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK) dengan jumlah
557 KK. Jenis pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
purposive sampling dengan jumlah sampel sebesar 80 KK dimana sebesar 40 KK untuk
masyarakat pesisir dan sebesar 40 KK untuk masyarakat non pesisir. Instrument penelitian
menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Penelitian ini bertujuan
untuk untuk menggambarkan perbandingan perilaku pengolahan sampah padat masyarakat
Desa Touliang Oki yang memiliki rumah yang berkontak langsung dengan danau (pesisir)
dengan yang tidak berkontak langsung dengan danau (non-pesisir).
Dari hasil analisis data, diketahui bahwa masyarakat non-pesisir lebih banyak mengolah
sampah dengan cara dibakar, ditimbun, di buang di got dan di daur ulang sedangkan
masyarakat pesisir lebih banyak mengolah sampah dengan cara di buang di danau, dibiarkan
di halaman dan dijadikan kompas.
.

Kata Kunci: Pengolahan, Sampah, Peisisr, Non-Pesisir

1
Penulis
2
Pembimbing Satu
3
Pembimbing Dua
1
DIFFERENCES OF SOLID WASTE PROCESSING PATTERN BETWEEN COASTAL AND
NON-COASTAL PEOPLE IN OUR TOULIANG VILLAGE DISTRICT ERIS DISTRICT
MINAHASA
1
1. Merry Gosal 2.Weliam Kawuwung 2 3. Agusteive Telew 3
1. merrygosal10@gmail.com 2. 3. agusteivie@yahoo.com
1. Prodi Kesmas 2. Prodi Kesmas 3. Prodi Kesmas

ABSTRACT
The problem of waste is something that has not been resolved properly, especially in
various regions in Indonesia. In 2014, garbage statistics in Indonesia noted that Indonesia
occupies the second largest plastic waste generating country in the world after China.
Most of the waste is processed by burning (80%, primary data), and only about 10% are
discharged into the lake, according to community recognition. However, based on the results
of direct observation, there is a lot of plastic waste found in the coastal area of Lake Tondano
in the village of Touliang Oki.
This research is an observational research that is cross sectional with case control
design. The population in this study is the people living in the village of Touliang Oki which
is calculated based on the number of head of household (KK) with the number 557 families.
Types of sampling used in this study is purposive sampling technique with the number of
samples of 80 families that amounted to 40 families for coastal communities and for 40
families for non-coastal communities. The research instrument used a questionnaire that has
been tested for its validity and reliability. This study aims to describe the comparative
behavior of solid waste processing in the village of Touliang Oki Village which has a direct
contact with the lake (coastal) with the non-direct contact with the lake (non-coastal).
From the results of data analysis, it is known that non-coastal communities are more
processing waste by burning, stockpiling, disposing in and recycling while the coastal
community more processing waste by way of dispose in the lake, left on the page and made
compass.

Keywords: Processing, Garbage, Peisisr, Non-Coastal

2
PENDAHULUAN (62,8%) lebih tinggi dibanding perkotaan
Sampah merupakan masalah universal yang (37,7%). Rata-rata penduduk yang mengolah
melanda dunia saat ini. Diperkirakan, 5 juta ton sampahnya dengan cara dibakar di sulawesi
sampah dihasilkan setiap harinya, kurang lebih utara kurang lebih 48%, sedikit lebih rendah
setengahnya adalah sampah non organik. dibandingkan nilai Indonesia pada umumnya
Dalam 20 tahun, sampah dapat menutupi areal (50,1%) (Depkes Riskesdas, 2013).
sebesar benua Australia jika tidak diolah Desa Touliang Oki merupakan bagian dari
dengan baik. Permasalahan sampah merupakan Kecamatan Eris yang terletak di pesisir Danau
sesuatu yang belum terselesaikan dengan baik, Tondano, dengan jumlah penduduk 577 kepala
khususnya di berbagai daerah di Indonesia. keluarga. Kebanyakan penduduk merupakan
Jumlah sampah terus meningkat di setiap petani dan nelayan. Masih sedikit data
tahunnya. Kesadaran pemerintah dan kesehatan yang berhasil dihimpun dari desa ini.
masyarakat tentang sampah harus digali agar Berdasarkan survey yang dilakukan oleh tim
Indonesia dapat terbebas dari permasalahan praktik belajar lapangan (PBL) Prodi Ilmu
sampah (Damanhuri, 2006). Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri
Sampah yang dihasilkan Indonesia secara Manado (Unima) tahun 2015, ditemukan
keseluruhan mencapai 175.000 ton per hari bahwa tidak terdapat satupun tempat sampah
atau 0,7 kilogram per orang. Sayangnya, pada khusus yang dibuat pemerintah untuk
2014, data statistik sampah di Indonesia pengelolaan sampah. Kebanyakan sampah
mencatat bahwa Indonesia menduduki negara diolah dengan cara dibakar (80%, data primer),
penghasil sampah plastik kedua terbesar di dan hanya sekitar 10% yang dibuang ke danau,
dunia setelah Cina. Hal ini menjadi masalah menurut pengakuan masyarakat. Namun,
serius karena permasalahan ini belum berdasarkan hasil pengamatan langsung, ada
mencapai titik terang. Jumlah sampah di banyak sampah plastik yang ditemukan di area
Indonesia akan terus meningkat jika pesisir Danau Tondano di Desa Touliang Oki,
penanganan sampah belum serius. demikian juga sampah plastik yang hanyut dan
Diprediksikan, pada 2019, produksi sampah di meluap sampai ke aliran sungai Tondano dan
Indonesia akan menyentuh 67,1 juta ton sungai-sungai kecil lainnya, seperti Roong Oki
sampah per tahun (Wardi, 2011). dan Toubeke.
Pencemaran lingkungan akibat Perilaku masyarakat dalam pengolahan
perindustrian maupun rumah tangga sangat sampah dapat tergantung dari banyak faktor,
merugikan manusia, baik secara langsung seperti pengetahuan masyarakat, tingkat
maupun tidak langsung. Melalui kegiatan pendidikan, tersedianya fasilitas pembuangan
perindustrian dan teknologi diharapkan kualitas sampah, serta intervensi yang dilakukan oleh
kehidupan dapat lebih ditingkatkan. Namun instansi kesehatan terkait, seperti penyuluhan
seringkali peningkatan teknologi juga (Mulasari, 2013). Karena di desa Touliang Oki
menyebabkan dampak negatif yang tidak belum tersedia tempat sampah umum, maka
sedikit. perlu diteliti tentang pola dan perilaku
Karakteristik porporsi rumah tangga yang masyarakat tentang pembuangan sampah,
mengelola sampah dengan cara diangkut terutama mereka yang tinggal di pesisir danau.
petugas lebih tinggi di perkotaan (46,0%) Dalam penelitian ini, penulis bermaksud
dibandingkan di perdesaan (3,4%), sedangkan untuk melihat apakah terdapat perbedaan
proporsi rumah tangga yang mengelola antara perilaku membuang sampah antara
sampah dengan cara dibakar di perdesaan masyarakat yang berkontak langsung dengan
3
danau dengan yang tidak, sekaligus yang bisa didaur ulang ditentukan oleh
menampilkan data deskriptif berupa perilaku timbulan sampah, komposisi sampah dan
pengolahan sampah padat rumah tanggal di karakteristik sampah. Besarnya timbulan
Desa Touliang Oki. Jika terdapat perbedaan sampah ditentukan oleh status ekonomi
perilaku antara masyarakat pesisir dan penduduk tersebut. Semakin tinggi status
masyarakat non-pesisir, maka berarti ekonomi suatu penduduk maka semakin besar
dibutuhkan intervensi yang berbeda untuk pula timbulan sampahnya (Pemerintah Kota
kedua kelompok ini. Medan, 2013).
Meskipun pengetahuan masyarakat sudah
KAJIAN TEORI baik dalam pengolahan sampah, namun
1. Sampah dibutuhkan fasilitas pengolahan sampah yang
Sampah adalah sesuatu bahan atau memadai. Sebagaimana sebuah penelitian yang
benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh dilakukan di RSUD Kebumen (Maria, 2013),
manusia, atau benda padat yang sudah Pengetahuan pengelolaan sampah yang baik
digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia sebesar 66,7%, tapi pengelolaan sampah masih
dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat belum memenuhi syarat karena fasilitas
Amerika membuat batasan, sampah (waste) pengelola sampah yang kurang memadai.
adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak Undang-undang No.4 Tahun 1992 disebutkan
dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang bahwa pemenuhan sarana dan prasarana
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, merupakan kondisi yang mutlak untuk di
dan tidak terjadi dengan sendirinya penuhi guna berfungsinya sebuah permukiman
(Notoatmodjo, 2007:187-191). (UU RI No.4 tahun 1992), maka sarana
Pengelolaan sampah dapat diartikan pengelolaan sampah juga bermanfaat dalam
menumbuhkan perilaku masyarakat untuk mendukungnya.
mengurangi memproduksi sampah. Proses 2. Pemusnahan dan Pengolahan sampah
penanganan sampah dimulai dari proses Pemusnahan dan atau pengolahan sampah
pengumpulan sampai dengan tempat padat ini dapat dilakukan melalui berbagai
pembuangan akhir (TPA) secara umum cara, antara lain:
memerlukan waktu yang berbeda sehingga a. Ditanam, yaitu pengolahan sampah
diperlukan ruang untuk menampung sampah dengan membuat lubang ditanah
pada masing-masing proses tersebut kemudian sampah dimasukkan dan
(Zurbrugg, 2002). ditimbun dengan tanah.
Sampah merupakan salah satu bentuk b. Dibakar,yaitu memusnahkan smapah
limbah yang terdapat dalam lingkungan. dengan jalan membakar didalam tungku
Sumber, bentuk jenis dan komposisnya sangat pembakaran.
dipengaruhi oleh tingkat budaya masyarakat c. Dijadikan pupuk, yaitu pengolahan
dan kondisi alamnya, makin maju tingkat sampah menjadi pupuk, khusunya untuk
kebudayaan masyarakat makin kompleks pula sampah organik daun-daunan, sisa
sumber dan macam sampah yang ditemui. makanan, dan sampah lain yang dapat
Peningkatan timbulan sampah dan semakin membusuk. Di daerah pedesaan hal ini
tingginya komposisi anorganik sampah serta sudah biasa, sedangkan didaerah
menurunnya efisiensi TPA menyebabkan perkotaan hal ini perlu dibudayakn.
perlunya suatu konsep untuk pengelolaan Apabila setiap rumah tangga dibiasakan
sampah lebih baik. Besarnya potensi sampah untuk memisahkan sampah organik
4
diolah menjadi pupuk tanaman dapat Intervensi sektor persampahan dapat dilakukan
dijual atau dipaki sendiri. Sedangkan dengan melakukan inovasi kegiatan
sampah organik dibuang, dan akan segera pengolahan sampah sehingga dapat
dipungut oleh para pemulung. Dengan mengurangi timbunan sampah.
demikian maka masalah sampah akan Seperti intervensi yang dilakukan di TPA
berkurang. Jatibarang, Semarang. Bentuk intervensi
3. Perilaku Pengolahan Sampah terhadap sektor persampahan adalah
Penyediaan sarana persampahan yang layak mengembangkan beberapa strategi pengelolaan
di lingkungan permukiman merupakan langkah sampah sebelum sampah tersebut ditimbun di
awal dari pelaksanaan penyehatan lingkungan. TPA, yaitu kegiatan pengolahan sampah yang
Disamping penyediaan sarana, perencanaan dilakukan pihak ketiga (perusahaan swasta)
yang komprehensif terhadap kebijakan dan dan kegiatan pengolahanan sampah skala
strategi pengelolaan persampahan akan komunitas di TPST (Tempat Pengolahan
menghasilkan pembangunan bidang kesehatan Sampah Terpadu) (Wijayanti, 2013).
lingkungan yang berkelanjutan dengan tujuan
utama peningkatan kesejahteraan masyarakat
METODOLOGI PENELITIAN
(Hermawan, 2010). Dimana, perencanaan Penelitian ini menggunakan desain
pembangunan kesehatan lingkungan yang
penelitian observasional yang bersifat cross
berkelanjutan harus mempertimbangkan
sectional dengan desain kasus kontrol, di mana
faktor-faktor yang terkait antara lain; perilaku
kelompok kasus merupakan keluarga yang
individu, pengaruh sosial kemasyarakatan,
kondisi lingkungan tempat tinggal, sosial tinggal di rumah yang berkontak langsung
ekonomi dan budaya (Healthy City dengan danau (n=40, hasil survey), sedangkan
Network,1997:22). kelompok kasus diambil dari keluarga yang
4. Konsep Prilaku rumahnya tidak berkontak langsung dengan
Perilaku dari pandangan biologis danau (n=40).
merupakan suatu kegiatan atau aktivitas Populasi merupakan masyarakat yang
organisme yang bersangkutan. Jadi, perilaku tinggal di Desa Touliang Oki yang dihitung
manusia pada hakikatnyaadalah suatu aktivitas berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK)
dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu perilaku dengan jumlah 557 KK (data sekunder
manusia mempunyai bentangan yang sangat Pemerintah Desa Touliang Oki). Sampel untuk
luas, mencakup : berjalan,berbicara, bereaksi, kelompok kasus diambil dari seluruh keluarga
dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal
yang rumahnya berada langsung di pesisir
seperti berpikir, persepsi dan emosi juga
danau (40 KK), sedangkan kelompok kontrol
merupakan perilaku manusia. Untuk
diambil sebanyak 40 KK yang tinggal di rumah
kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan
bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan yang tidak berada di pesisir danau.
organisme tersebut, baik diamati secara Instrumen dalam penelitian ini merupakan
langsung atau tidak langsung. kuesioner yang memuat pertanyaan tentang
pengolahan sampah padat rumah tangga yang
5. Intervensi Pengolahan Sampah
telah diuji validitas dan realibilitasnya.
Masalah sampah yang terus berlanjut
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2
membutuhkan berbagai intervensi berdasarkan bulan yaitu pada Agustus-September 2016.
latar belakang permasalahannya. Berbagai Tempat penelitian yaitu Desa Touliang Oki,
masalah yang ditemui dapat berupa Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa,
pengetahuan yang kurang, kurangnya fasilitas provinsi Sulawesi Utara.
pengolahan sampah dan lain sebagainya.
5
Data penelitian akan dianalisis dengan 39,51%, umur 50-59 tahun berjumlah 38,27%,
analisis univariat dan disajikan menggunakan dan umur ≥60 13,58% (tabel 4.3).
tabel distribusi frekuensi untuk Tabel 4.3.
menggambarkan setiap variabel. Distribusi Responden Berdasarkan Umur
Umur n %
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada 80 orang <30 2 2.47
responden, masing-masing 40 dari daerah 30-39 5 6.17
pesisir dan 40 dari daerah non pesisir. Dari
kelompok pesisir, 55% berjenis kelamin laki- 40-49 32 39.51
laki dan 45% perempuan. Sedangkan dari 50-59 30 38.27
kelompok non pesisir ada 62,5% berjenis
≥60 11 13.58
kelamin laki-laki dan 37.5% berjenis kelamin
perempuan (Tabel 4.1). Total 80 100.00
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin PEMBAHASAN
Berdasarkan data penelitian per rumah
Jenis Pesisir Non Pesisir
tangga, ditemui kelompok non-pesisir, sampah
Kelamin n % n % paling banyak diolah dengan cara dibakar (37
Laki-Laki 22 55 25 62,5 responden), demikian juga dengan kelompok
pesisir (28 responden). Sedangkan pada urutan
Perempuan 18 45 15 37,5 berikutnya untuk kelompok pesisir adalah:
TOTAL 40 100 40 100 ditimbun, dibiarkan di halaman, dibuang di got,
Distribusi responden berdasarkan didaur ulang, di buang di danau, dan dijadikan
pendidikan terakhir digolongkan dalam 3 kompos (Gambar 4.1). Tidak ada yang
tingkatan SD, SMP, SMA dan S1 keatas. Pada membuang di tempat sampah khusus yang
kelompok masyarakat pesisir responden disediakan pemerintah.
dengan tingkat pendidikan terakhir SD 7,5% , 37
SMP 40% , SMA 42,5%, S1 keatas 10%. 40
35 28
Sedangkan responden masyarakat non pesisir 30 25
dengan tingkat pendidikan terakhir SD 17,%, 25
20 1513 16
SMP 40%, SMA 37,5% , dan S1 keatas 7,5% 15 10 9 9
10 5
(Tabel 4.2). 5 2 3
0 0 2 1
Tabel 4.2 0
Distribusi Responden Berdasarkan
Pendidikan
Pesisir Non Pesisir
Pendidikan
N % n %
SD 3 7,5 7 17,5 Pesisir Non-pesisir

SMP 16 40 16 40 Gambar 4.1. Pola Pengolahan Sampah


SMA 17 42,5 14 37,5 Pada Masyarakat Desa Touliang Oki
Sedangkan untuk perilaku pengolahan
S1 ke atas 4 10 3 7,5 sampah selama sebulan terakhir oleh
TOTAL 40 100 40 100 perorangan, ditemukan hasil yang serupa. Pada
Distribusi responden berdasarkan umur <30 perorangan kelompok non-pesisir, pola
tahun berjumlah 2,47% , umur 30-39 tahun terbanyak adalah membakar sampah di kintal
berjumlah 6,17%, umur 40-49 tahun berjumlah (36 responden), demikian pula pada perorangan
kelompok pesisir (27 responden). Urutan pola

6
pengolahan sampah terbanyak pada kelompok menemukan sampah domestik penduduk
non-pesisir selanjutnya adalah : menimbun kebanyakan ditimbun dalam tanah atau dibakar
sampah di lubang, lalu dengan jumlah yang (Sardiyatmo, 2005). Hal ini juga terjadi di
sama dengan pola membuang sampah di jalan, Sindulang, Manado, dimana 89% masyarakat
membuang sampah di got, dan mendaur ulang pesisir, bantaran sungai dan perbukitan
sampah, kemudian paling sedikit yaitu melakukan pengelolaan sampah dengan cara
membuang sampah di danau. Sedangkan urutan dibakar tanpa memperhatikan peraturan yang
pola pengolahan sampah perorangan kelompok berlaku (Loisa, 2014 :321-331).
pesisir selanjutnya adalah : membuang sampah Perbandingan pengolahan sampah dengan
di danau, membuang sampah di jalan, cara dibiarkan di halaman tidak memiliki
membuang sampah di lubang, membuang perbedaan yang jauh meskipun lebih banyak
sampah di got, lalu mendaur ulang sampah. dilakukan oleh masyarakat pesisir (15 rumah
Tidak ada responden yang membuang sampah tangga) dari pada non pesisir (13 rumah
di tempat sampah khusus yang disediakan tangga). Sedangkan pengolahan dengan cara
pemerintah. ditimbun di tanah, lebih banyak pada
40 36 masyarakat non pesisir (16 rumah tangga)
35 dibandingkan masyarakat pesisir (10 rumah
30 27 26
25 18 17
tangga). Jika kebiasaan membiarkan sampah di
20 halaman ataupun di atas tanah dibiarkan hal ini
15 9 9 8 9
10 5 5 4 dapat mencemari lingkungan. Sampah-sampah
5 0 0
0 yang mengandung Pb seperti baterai, plastik,
sisa kemasan pestisida, cat dan kabel
listrik akan terdekomposisi bersama sampah
organik akan merembes mengikuti gerakan air
dalam tanah sehingga dapat mengontaminasi
Pesisir Non-pesisir air di sumur (Nindhianingtyas, 2013).
Pengolahan sampah dengan cara dibuang di
Gambar 4.2. Perilaku Perorangan Dalam selokan lebih banyak pada masyrakat non
Membuang Sampah Selama Sebulan pesisir (9 rumah tangga) dibandingkan
Terakhir masyarakat pesisir (2 rumah tangga). Hal ini
mungkin disebabkan karena masyarakat pesisir
PEMBAHASAN yang ingin membuang sampah di perairan lebih
Tujuan penelitian yang telah dilakukan memilih membuang langsung ke area danau,
adalah untuk menggambarkan perbandingan disamping itu area non pesisir memiliki selokan
perilaku pengolahan sampah padat masyarakat lebih banyak dan lebih mudah ditemui. Selokan
yang memiliki rumah yang berkontak langsung seharusnya tidak menjadi tempat pembuangan
dengan danau (pesisir) dengan yang tidak sampah masyarakat karena saluran air tersebut
berkontak langsung dengan danau (non- juga mengarah ke danau.
pesisir). Dimana perilaku pengolahan sampah Desa Touliang Oki merupakan desa yang
tersebut digolongkan dalam delapan cara yaitu bersentuhan langsung dengan Danau Tondano.
dibakar, dibuang ke danau, dibiarkan di Oleh karena itu kebersihan dan keindahan
halaman, ditimbun, dibuang di got, didaur Danau Tondano perlu menjadi perhatian
ulang, dibuang ke tempat sampah khusus yang masyarakat desa Touliang Oki. Pengelolaan
disediakan pemerintah, dan dibuat kompos. sampah sangat berkaitan erat dengan kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan masyarakat, karena dari sampah tersebut akan
sampah dengan cara dibakar merupakan hidup berbagai mikroorganisme penyebab
pengolahan sampah rumah tangga terbanyak penyakit, dan juga binatang serangga sebagai
yang dilakukan masyarakat pesisir (28 rumah pemindah/penyebar penyakit. Oleh sebab itu
tangga) maupun non pesisir (37 rumah tangga). sampah harus dikelola dengan baik sampai
Sebagaimana penelitian sebelumnya sekecil mungkin tidak menggangu atau

7
mengancam kesehatan masyarakat danau. Dimana kecenderungan masyarakat
(Notoatmodjo, 2007:191-192). Akan tetapi, pesisir untuk membuah sampah di danau lebih
masih ada masyarakat desa Touliang Oki yang besar dibanding masyarakat non pesisir.
membuang sampah di danau. Berdasarkan Persamaan perilaku pengolahan sampah yang
penelitian, perilaku membuang sampah di menonjol oleh masyarakat pesisir dan non
danau pada masyarakat pesisir (25 rumah pesisir ada pada cara pengolahan terbanyak
tangga) lima kali lebih banyak dibandingkan pada kedua kelompok yaitu dengan cara
pada masyarakat non pesisir (5 rumah tangga). dibakar. Selain itu pada kedua kelompok juga
Hal ini mungkin disebabkan karena masyarakat tidak ada yang membuang sampah di tempat
pesisir memiliki kontak langsung dengan danau penampungan sampah khusus desa karena
sehingga akses ke danau yang lebih mudah belum difasilitasi pemerintah. Dan pengolahan
mengakibatkan kecenderungan membuang dengan cara dibuat kompos merupakan yang
sampah ke danau yang lebih besar dibanding paling sedikit diantara cara pengolahan lainnya
masyarakat non pesisir. pada kelompok pesisir maupun non pesisir.
Daur ulang dapat menjadi salah satu
penanganan sampah yang bermanfaat bagi KESIMULAN DAN SARAN
masyarakat. Daur ulang lebih banyak dilakukan A. Kesimpulan
oleh masyarakat non pesisir (9 rumah tangga) Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat
dibandingkan masyarakat pesisir (3 rumah disimpulkan bahwa perbedaan yang paling
tangga). Solusi lain dari penanganan sampah signifikan tentang cara pengolahan sampah
yang dapat berguna bagi masyarakat adalah padat oleh masyarakat pesisir dan non pesisir
dengan dibuat kompos. Sayangnya masih yaitu dengan cara dibuang di danau dimana
sedikit yang menggunakan teknik tersebut baik masyarakat pesisir jauh lebih banyak yaitu
pada masyarakat pesisir (2 rumah tangga) sbanyak 25 rumah tangga, di bandingkan
maupun masyarakat non pesisir (1 rumah dengan masyarakat non pesisir yaitu sebanyak
tangga). Hal ini mungkin disebabkan karena 5 rumah tangga.
mayoritas pekerjaan di desa Touliang Oki yang B. Saran
adalah pengrajin kayu lebih banyak 1. Bagi Pemerintah
dibandingkan petani. Diharapkan untuk dapat menyediakan
Masyarakat pesisir maupun non pesisir tempat pembuangan sampah khusus bagi
tidak ada yang membuang sampah pada tempat masyarakat desa Touloang Oki dan melakukan
sampah khusus pemerintah. Hal ini disebabkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengolah
karena pemerintah belum memfasilitasi sampah dengan benar.
masyarakat desa Touliang Oki dengan tempat 2. Bagi Masyarakat Touliang Oki
penampungan sampah khusus. Penyediaan Diharapkan untuk meningkatkan kesadaran
sarana persampahan yang layak di lingkungan dan kepedulian akan kebersihan lingkungan
permukiman merupakan langkah awal dari dengan mengolah sampah dengan baik
pelaksanaan penyehatan lingkungan. terutama untuk tidak membuang sampah di
Disamping penyediaan sarana, perencanaan danau, di got, di halaman ataupun di tempat –
yang komprehensif terhadap kebijakan dan tempat lainnya yang tidak tepat.
strategi pengelolaan persampahan akan 3. Bagi Peneliti
menghasilkan pembangunan bidang kesehatan Diharapkan untuk melakukan penelitian
lingkungan yang berkelanjutan dengan tujuan lebih lanjut tentang pengolahan sampah yang
utama peningkatan kesejahteraan masyarakat dilakukan oleh masyarakat.
(Hermawan, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
diperoleh, dapat digambarkan bahwa
perbedaan yang paling menonjol dari
pengolahan sampah masyarakat pesisir dan non
pesisir ada pada perilaku membuang sampah di

8
DAFTAR PUSTAKA Mohamad F,dkk. 2012. Pemberdayaan
Damanhuri, E., 2006. Teknologi dan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Sampah Kota di Indonesia. di Dukuh Mrican Sleman Yogyakarta,
In Workshop Nasional Biokonversi Jurnal Health and Sport VOL 05, NO 03,
Limbah, Universitas Brawijaya. 2012
Departemen Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar Mulasari, S.A. 2013. Hubungan tingkat
2013. Jakarta: Badan Penelitian dan pengetahuan dan sikap terhadap
Pengembangan Kesehatan Kementerian perilaku masyarakat dalam mengolah
Kesehatan RI; 2013. sampah di Dusun Padukuhan Desa
Fitriana A, dkk. 2013. Perilaku Ibu Rumah Sidokarto Kecamatan Godean
Tangga dalam Pengelolaan Sampah di Kabupaten Sleman Yogyakarta, Jurnal
Desa Bluru Kidul RW 11 Kecamatan Kesehatan Masyarakat (Journal of
Sidoarjo, Jurnal Promkes volume 1(2) Public Health), 6(3).
132-137 Nindhianingtyas Widyasari, N.,
Healthy City Network. 1997. City Planning for Moelyaningrum, AD., Pujiati, RS. 2013.
Health and Sustainable Development. Analisis Potensi Pencemaran Timbal
Copenhagen (Pb) pada Tanah, Air Lindi dan Air
Hermawan EW. 2010. Perilaku Masyarakat Tanah (Sumur Monitoring) di TPA
dalam Mengelola Sampah Permukiman Pakusari Kabupaten Jember. Artikel
di Kampung Kamboja Kota Pontianak. Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa
Tesis, Program Pascasarjana Magister 2013. Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Jember (UNEJ)
Universitas Diponegoro Semarang. Notoatmodjo S. 2007. Kesehatan Masyarakat:
Loisa Novany dkk. 2014. Analisis Pengelolaan Ilmu dan Seni. Jakarta: PT Rineka
Persampahan di Kelurahan Sindulang Cipta.
Satu Kecamatan Tuminting Kota Pemerintah Kota Medan. 2013. Kajian Model
Manado. Sabua Vol.6, No.3: 321 - 331 Pengelolaan Sampah dan SDM
Manoso F, dkk., 2013. Hubungan Antara Kebersihan di Kota Medan.
Tingkat Pendidikan dan Tingkat http://balitbang.pemkomedan.go.id/tiny
Pendapatan dengan Tindakan mcpuk/
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di gambar/file/Kajian%20Pengolahan%20
Lingkungan II Kelurahan Sumompo Sampah.pdf diakses 4 September 2016,
Kecamatan Tuminting Kota Manado 6.24 pm
Correlations Between Education And
Income Towards The Management, Sardiyatmo. 2005. Kepedulian Masyarakat
Universitas Sam Ratulangi. diakses Pesisir Karimunjawa terhadap Masalah
18/9/2016 dari Pencemaran. Skripsi. Fakultas Ilmu
http://fkm.unsrat.ac.id/wp- Perikanan dan Kelautan Universitas
content/uploads/2013/08/jurnal-Fatia- Diponegoro.
Manoso-091511037-kesling.pdf Sudibya D. 2002. Perilaku Pengumpul Sampah
Maria YM. 2013. Hubungan antara Rumah Tangga di Kota Depok
Pengetahuan dan Sikap Petugas Kabupaten Sleman. Tesis, Universitas
Sanitasi dalam Praktik Pengelolaan Diponegoro Semarang.
Sampah Medis di RSUD Kabupaten Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4
Kebumen tahun 2013. Skripsi, Fakultas Tahun 1992 Tentang Perumahan dan
Kesehatan. Permukiman. Jakarta : Lembaran
http://eprints.dinus.ac.id/id/eprint Negara Republik Indonesia Tahun 1992
/7848 diakses 4 September 2016, Nomor 23, Sekretariat Kabinet RI.1992
6.14pm Wardi, I. N. (2011). Pengelolaan Sampah
Berbasis Sosial Budaya: Upaya

9
Mengatasi Masalah Lingkungan di Bali.
Bumi Lestari,Volume 11(1): 167-177.
Wijayanti WP., 2013. Peluang Pengelolaan
Sampah Sebagai Strategi Mitigasi
dalam Mewujudkan Ketahanan Iklim
Kota Semarang, Jurnal Pembangunan
Wilayah dan Kota Volume 9 (2): 152-
162 Juni 2013.
Zurbrugg, C. 2002. Urban solid waste
management in low-income countries of
Asia: How to cope with the garbage
crisis. Presented for: Scientific
Committee on Problems of the
Environment (SCOPE) Urban Solid
Waste Management Review Session,
Durban, South Africa, 1-13. Diakses
dari:
http://www.eawag.ch/fileadmin/Domain
1/Abteilungen/sandec/publikationen/SW
M/General_Overview/Zurbruegg_2003_
Crisis.pdf

10