You are on page 1of 21

EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT

Tahun 2018/2019

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

ALIFIA PUTRI R. P21335118006

LAYALIA SHAFFAMIR T. P21335118033

MARIA CAROLINA P21335118035

MUHAMMAD DIMAS S. P21335118037

VIVI ASTUTI DWI WAHYUNI P21335118070

KELAS 1 DIV - A
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II
Jl. Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12120 Telp. 021-7397641, 021-
7397643
Fax. 021-7397769 Website :www.Poltekkesjkt2.ac.id
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, Segala puji bagi Allah SWT Tuhan


Semesta Alam. Atas segala karunia nikmatNya sehingga kami dapat menyusun
makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “Pencegahan dan
Penanggulangan Penyakit” disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Epidemiologi.

Meski telah kami susun dengan maksimal namun kami menyadari masih
banyak kesalahan dalam laporan ini, baik dalam penulisan, tata bahasa, tanda baca
maupun ini. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca sekalian.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberi banyak manfaat untuk
penduduk Poltekkes Jakarta II khususnya, dan untuk masyarakat Indonesia
umumnya.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................i

DAFTAR ISI ..............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................1

1.1 Latar Belakang .....................................................................................................1

1.2 Tujuan ..................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................2

2.1 Pencegahan Penyakit Menular ....................................................................2

2.1.1 Pencegahan Tingkat Pertama ..............................................................3

2.1.2 Pencegahan Tingkat Kedua.................................................................4

2.1.3 Pencegahan Tingkat Ketiga ................................................................5

2.1.4 Strategi Pencegahan Penyakit .............................................................5

2.2 Penanggulangan Penyakit Menular ............................................................6

2.2.1 Sasaran Langsung pada Sumber Penularan Penjamu .........................7

2.2.2 Sasaran Ditujukan pada Cara Penularan .............................................8

2.2.3 Sasaran Ditujukan pada Penjamu Potensial ........................................9

ii
2.3 Surveillans Epidemiologi ...........................................................................10

2.3.1 Surveillans Epidemiologi dalam Masyarakat .....................................11

2.3.2 Surveillans Epidemiologi di Rumah Sakit ..........................................12

2.4 Pemberantasan Penyakit Menular...............................................................14

BAB III PENUTUP ...................................................................................................16

3.1 Kesimpulan .................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan telah menjadi kebutuhan utama bagi setiap manusia di dunia


dalam menjalankan aktivitas hidup. Beradasarkan pengertiannya bahwa keadaan
sehat merpakan kondisi dimana seseorang sejahtera secara fisik, mental, dan
sosialnya yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Apabila salah satu dari ketiga unsure tersebut tidak dalam kondisi yang
seharusnya (dengan kata lain sehat) maka akan timbul suatu masalah atau
gangguan kesehatan. Hal ini akan sangat merugikan penderita karena akan
menurunkan produktivitasnya terhadap kehidupan pribadi dan negaranya. Dengan
demikian, kami memaparkan materi mengenai Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit dengan tujuan untuk menghindari ketiga komponen tersebut dari kondisi
yang tidak seharusnya.

1.2 Tujuan

Adapula tujuan kami dalam memaparkan/menuliskan materi mengenai


Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit adalah :

 Mengetahui cara Pencegahan Penyakit Menular


 Mengetahui cara untuk me lakukan Penanggulangan pada Penyakit
Menular
 Mengetahui pengertian tentang apa itu Surveillans Epidemiologi
 Mengetahui cara untuk Memberantas Penyakit Menular.

1
BAB II

PEMBAHASAN

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa proses kejadian penyakit


menular dalam masyarakat ditentukan oleh tiga unsure utama yakni sumber
penularan (reservoir), cara penularan, dan keadaan pejamu yang potensial.
Sebagaimana diketahui bahwa epidemiologi merupakan ilmu dasar pencegahan
dan penanggulangan penyakit serta masalah kesehatan lainnya dalam masyarakat.

2.1 Pencegahan Penyakit Menular

Pengertian “Pencegahan” secara umum adalah mengambil tindakan


terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah untuk
pencegahan, haruslah didasarkan pada data/keterangan yang bersumber dari hasil
analisis epidemiologi atau hasil pengamatan/penelitian epidemiologis.

Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum, yakni :

1) Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)

Yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus.

2) Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)

Yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat.

3) Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)

Yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi.

Ketiga tingkat pencegahan tersebut saling berhubungan erat sehingga


dalam pelaksanaannya sering dijumpai keadaan yang tumpang tindih.

2
2.1.1 Pencegahan Tingkat Pertama

Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada faktor penyebab,


lingkungan, serta faktor pejamu.

a. Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuan untuk


mengurangi penyebab serendah mungkin dengan usaha antara lain :
 Desinfeksi
 Pasteurisasi
 Sterilisasi

Yang bertujuan untuk menghilangkan mikro-organisme penyebab


penyakit, penyemprotan/insektisida dalam rangka menurunkan dan
menghilangkan sumber penularan maupun memutuskan rantai
penularan, di samping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka
memutuskan rantai penularan. Selain itu, usaha untuk
mengurangi/menghilangkan sumber penularan dapat dilakukan
melalui :

 Pengobatan penderita serta pemusnahan sumber yang ada


(biasanya pada binatang yang menderita)
 Mengurangi/menghindari perilaku yang dapat meningkatkan
resiko perorangan dan masyarakat.
b. Mengatasi/memodifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan
fisik seperti :
 Peningkatan air bersih
 Sanitasi lingkungan dan perumahan (serta bentuk pemukiman
lainnya)
 Perbaikan dan peningkatan lingkungan biologis (seperti
pemberantasan serangga dan binatang pengerat)
 Peningkatan lingkungan sosial (seperti kepadatan rumah
tangga, hubungan antar individu dan kehidupan sosial
masyarakat)

3
c. Meningkatkan daya tahan pejamu yang meliputi :
 Perbaikan status gizi, kesehatan umum dan kualitas hidup
penduduk.
 Pemberian imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus
lainnya
 Peningkatan status psikologis
 Persiapan perkawinan
 Usaha menghindari pengaruh faktor keturunan
 Peningkatan ketahanan fisik melalui peningkatan kualitas gizi
dan olahraga kesehatan.

2.1.2 Pencegahan Tingkat Kedua

Sasaran utama pencegahan ini ditujukan pada mereka yang menderita/


dianggap menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa
tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan tingkat ke dua ini yang meliputi
diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya
penyakit atau untuk mencegah proses penyakit lebih lanjut serta mencegah
terjadinya akibat samping atau komplikasi.

a) Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha


surveillans penyakit tertentu, pemeriksaan berkala serta pemeriksaan
kelompok tertenu (calon pegawai, ABRI, mahasiswa, dan lain
sebagainya), penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara
umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perawatan yang
efektif.
b) Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang
dicurigai berada pada proses prepatogenesis dan pathogenesis penyakit
tertentu.

4
2.1.3 Pencegahan Tingkat Ketiga

Sasaran pencegahan tingkat ke tiga adalah penderita penyakit tertentu dengan


tujuan mencegah jangan sampai mengalami cacat atau kelainan permanen,
mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian
akibat penyakit tersebut. berbagai usaha dalam mencegah proses penyakit
lebih lanjut seperti pada penderita diabetes mellitus (kencing manis),
penderita tuberculosis paru yang berat, penderita penyakit measles agar
jangan terjadi komplikasi dan lain sebagainya.

Pada tingkat ini juga dilakukan rehabilitasi untuk mencegah terjadinya


akibat samping dari penyembuhan suatu penyakit tertentu. Rehabilitasi adalah
usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis, dan sosial se optimal mungkin
yang meliputi rehabilitasi fisik/medis, rehabilitasi mental/psikologis, serta
rehabilitasi sosial.

2.1.4 Strategi Pencegahan Penyakit

Dalam usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi


pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan.
Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat
pencegahan seperti di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada peningkatan
derajat kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan terhadap ancaman
dan gangguan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penanganan dan
pengurangan gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilitasi
lingkungan.

a) Sasaran yang bersifat umum yang ditujukan kepada individu meupun


organisasi masyarakat, dilakukan dengan pendekatan melalui usaha
setempat/mandiri yang sesuai dengan bentuk dan tatanan hidup
masyarakat setempat (tradisional) maupun melalui berbagai program
pelayanan kesehatan yang tersedia.

5
b) Usaha pencegahan melalui pelaksanaan yang berencana dan
terprogram (bersifat wajib maupun sukarela) seperti pemberian
imunisasi dasar serta perbaikan sanitasi lingkungan dan pengadaan air
bersih, peningkatan status gizi melalui pemberian makanan tambahan
maupun berbagai usaha yang bertujuan untuk
menghentikan/mengubah kebiasaan yang mengandung resiko tinggi
atau yang dapat mempertinggi risiko penyakit tertentu.
c) Usaha yang diarahkan pada peningkatan standar hidup dan lingkungan
pemukiman seperti perbaikan perumahan dan pemukiman, perbaikan
sistem pendidikan serta sosial ekonomi masyarakat, yang pada
dasarnya merupakan kegiatan di luar bidang kesehatan.
d) Usaha pencegahan dan penanggulangan keadaan luar biasa seperti
kejadian wabah, adanya bencana alam/situasi perang serta usaha
penanggulangan melalui kegiatan rawat darurat.

Dalam menilai derajat kesehatan termasuk situasi morbiditas dan


mortalitas untuk kepentingan penyusunan dipertimbangkan pula berbagai
hal dalam masyarakat di luar bidang kesehatan seperti sistem produksi
dan persediaan makanan, keadaan kemanan, sistem perekonomian
penduduk termasuk keadaan lapangan kerja, kehidupan sosial dan adat
kebiasaan masyarakat setempat serta kebijakan pemerintah dalam
berbagai aspek kehidupan masyarakat.

2.2 Penanggulangan Penyakit Menular

Yang dimaksud dengan penanggulangan penyakit menular (control) adalah


upaya untuk menekan peristiwa penyakit menular dalam masyarakat serendah
mungkin sehingga tidak merupakan gangguan kesehatan bagi masyarakat
tersebut.

Seperti halnya pada upaya pencegahan penyakit, maka upaya penanggulangan


penyakit menular dapat pula dikelompokkan pada tiga kelompok sesuai dengan

6
sasaran utamanya yang meliputi sasaran langsung melawan sumber
penularan/reservoir, sasaran ditujukan pada cara penularan penyakit, dan sasaran
yang ditujukan terhadap pejamu dengan menurunkan kepekaan pejamu.

2.2.1 Sasaran Langsung Pada Sumber Penularan Pejamu

Keberadaan suatu sumber penularan (reservoir) dalam masyarakat


merupakan faktor yang sangat penting dalam rantai penularan. Dengan
demikian, keberadaan sumber penularan tersebut memegang peranan yang
cukup penting serta merupakan penentu cara penanggulangan yang paling
tepat dan tingkat keberhasilannya yang cukup tinggi.

1. Sumber penularan adalah binatang


Bila sumber penularan terdapat pada binatang peliharaan (domestik)
maka upaya mengatasi penularan dengan sasaran sumber penularan
lebih mudah dilakukan dengan memusnahkan binatang yang terinfeksi
serta melindungi binatang lainnya dari penyakit tersebut. (imunisasi
dan pemeriksaan berkala)
Namun bila sumber penyakit dijumpai pada binatang liar disamping
binatang peliharaan, maka keadaannya akan lebih sulit. (misal, rabies)
dalam keadaan yang demikian ini, usaha penanggulangan dilakukan
dengan kombinasi. Cara lain, dengan kerja sama instansi lain yang
terkait.

2. Sumber penularan adalah manusia


Apabila sumber penularan adalah manusia, maka cara pendekatannya
sangat berbeda mengingat bahwa dalam kadaan ini tidak mungkin
dilakukan pemusnahan sumber. Sasaran penanggulangan penyakit ini
bisa dilakukan dengan isolasi (dan karantina, pengobatan dalam
berbagai bentuk (yang menghilangkan unsur penyebab) atau
menghilangkan focus infeksi yang ada pada sumber.

7
2.2.2 Sasaran Ditujukan pada Cara Penularan
Sebagaimana diketahui bahwa cara penularan penyakit meliputi kontak
langsung, melalui udara, makanan, dan vektor perantara. Upaya pencegahan
penularan melalui kontak langsung biasanya di titikberatkan pada penyuluhan
kesehatan yang dilaksanakan bersama-sama dengan usaha menghilangkan
sumber penularan. Usaha pencegahan ini sangat erat hubungannya dengan
pola dan kebiasaan hidup sehari-hari, sistem sosial, dan perilaku sehat
anggota masyarakat.
Upaya mencegah dan menurunkan penularan penyakit yang ditularkan
melalui udara, terutama infeksi saluran pernapasan dilakukan desinfeksi
udara dengan bahan kimia atau dengan sinar ultra violet, ternyata kurang
berhasil. Sedangkan usaha lain dengan perbaikan sistem ventilasi serta aliran
udara dalam ruangan tampaknya lebih bermanfaat. Mengingat bahwa
sebagian besar penyakit yang ditularkan melalui udara pada umumnya
membutuhkan kontak tidak langsung di samping itu sebagian penyakit
tersebut dapat dicegah melalui imunisasi.

Adapun upaya perbaikan lingkungan dalam mencegah dan menanggulangi


penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman, dikembangkan
dengan memberantas bahan-bahan yang mengalami kontaminasi seperti
penyehatan air minum, pasteurisasi susu, serta pengawasan terhadap semua
pengobatan bahan makanan dan minuman. Usaha seperti ini biasanya
dilakukan secara bersama antara tugas pengawasan bahan berbahaya dengan
petugas kesehatan lingkungan.
Pencegahan dan penanggulangan penyakit yang ditularkan oleh vektor
terutama serangga dan binatang lainnya dilakukan melalui pemberantasan
serangga serta binatang perantara lainnya. Disamping itu, pengawasan
terhadap berbagai penyakit zoononis dilakukan dengan sasaran utama adalah
meningkatnya penularan berbagai penyakit melalui vektor oleh ulah manusia
sendiri (man made disease), seperti penularan penyakit schistosomiasis
melalui irigasi, peningkatan penularan malaria dan filariasis di daerah

8
pemukiman baru, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi hal seperti ini perlu
kerja sama instansi dalam setiap program pembangunan, terutama
pembangungan yang dapat menimbulkan perubahan ekosistem setempat.

2.2.3 Sasaran Ditujukan pada Pejamu Potensial


Sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwa faktor yang berpengaruh
pada pejamu potensial terutama tingkat kekebalan (imunitas) serta tingkat
kerentanan/kepekaan yang dipengaruhi oleh status gizi, keadaan umum serta
faktor genetika.
a) Peningkatan kekebalan khusus (imunitas)
Berbagai penyakit dewasa ini dapat dicegah melalui usaha
imunisasi yakni peningkatan kekebalan aktif pada pejamu dengan
pemberian vaksinasi. Pemberian imunisasi aktif untuk perlindungan
terhadap penyakit dipteria, pertusis, dan tetanus (DPT) merupakan
pemberian imunisasi dasar kepada anak-anak sebagai bagian
terpenting dalam program kegiatasn kesehatan masyarakat. Di
samping itu, juga termasuk imunisasi dasar yang di programkan
pemerintah secara umum di Indonesia adalah BCG (Bacillus Calmette
Guerine) untuk mencegah penyakit tuberculosis, vaksinasi campak
(measles) serta vaksinasi poliomyelitis. Sedangkan vaksinasi yang
ditujukan untuk perlindungan terhadap hepatitis belum di programkan
secara umum.
Selain pemberian imunisasi aktif tersebut diatas, juga dikenal
adanya usaha perlindungan terhadap beberapa penyakit tertentu
dengan pemberian antibody pelindung yang berasal dari pejamu lain
dalam bentuk serum antibody yang memberikan perlindungan
sementara dan disebut imunisasi pasif. Imunisasi pasif ini juga cukup
berperan seperti pada pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil untuk
kemudian dapat memindahkan antibody ibu kepada bayi melalui
placenta. Juga pemberian antisera pada mereka yang di curigai
ketularan penyakit rabies serta pemberian serum globulin imun untuk

9
pencegahan hepatitis dan pemberian anti toksin tetanus untuk luka
berat (sudah jarang digunakan).
Pemberian imunisasi dasar sebagai bagian dari program pembangunan
kesehatan ternyata cukup berhasil dalam usaha meningkatkan derajat
kesehatan serta menurunkan angka kematian bayi dan balita.
Demikian pula pemberian antisera terhadap rabies yang sudah tersedia
pada hampir setiap Puskesmas telah mampu menurunkan angka
kesakitan dan kematian penyakit rabies.

b) Peningkatan kekebalan umum (resistensi)


Berbagai usaha lainnya dalam meningkatkan daya tahan pejamu
terhadap penyakit infeksi telah diprogramkan secara luas seperti
perbaikan gizi keluarga, peningkatan gizi balita melalui program
Kartu Menuju Sehat (KMS), peningkatan derajat kesehatan
masyarakat serta pelayanan kesehatan terpadu melalui Posyandu.
Keseluruhan program ini bertujuan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh secara umum dalam usaha menangkal berbagai ancaman
penyakit infeksi.

2.3 Surveillans Epidemiologi


Surveillans Epidemiologi adalah pengamatan secara teratur dan terus-
menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu.
Baik keadaan maupun penyebarannya dalam satu kelompok penduduk tertentu
untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan. Surveillans penyakit
menular adalah suatu kegiatan pengumpulan data teratur, peringkasan dan analisis
data kasus baru dari semua jenis penyakit infeksi dengan tujuan untuk identifikasi
kelompok risiko tinggi dalam masyarakat, memahami cara penularan penyakit
serta berusaha memutuskan rantai penularan. Dalam hal ini setiap kasus harus
dilaporkan secara lengkap dan tepat. Keterangan mengenai tiap kasus meliputi
diagnosis penyakit, tanggal mulainya timbul gejala, keterangan tentang orang
yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, dan nomor telepon (bila ada),

10
serta sumber rujukan bila penderita hasil rujukan (dokter, klinik, Puskesmas dan
lain-lain).
2.3.1 Surveillans Epidemiologi dalam Masyarakat
Dengan analisis secara teratur berkesinambungan terhadap data seperti
tersebut atas terhadap berbagai penyakit menular akan dapat memberikan
kesempatan lebih mengenal kecenderungan penyakit menurut musim atau
periode waktu tertentu, mengetahui daerah geografis di mana jumlah
kasus/penularan meninggi atau menurun, serta berbagai kelompok resiko
tingi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi serta
pekerjaan (penyakit akibat kerja atau lingkungan kerja).
Adapun data kejadian penyakit menular yang telah lampau yang terdapat
pada suatu wilayah administrasi atau kelompok populasi tertentu biasa
berasal dari kegiatan surveillans yang ada. Data seperti ini sangat penting
untuk mengetahui berbagai keadaan ledakan penyakit waktu lampau serta
berbagai bentuk dan sifat epidemiologisnya. Biasanya data yang demikian ini
terdapat pada pusat pelayanan kesehatan atau pusat data dan informasi
kesehatan serta psat informasi data lainnya yang selain memiliki data
kesehatan yang dikumpulkan secara sistematis, juga memiliki berbagai data
informasi lainnya termasuk data demografi.
Pelaksanaan surveillans dilakukan dengan dua cara yakni surveillans pasif
dan aktif. Surveillans pasif atau disebut juga pengumpulan keterangan tentang
kejadian penyakit dalam masyarakat yang dilakukan oleh unit surveillans
mulai dari tingkat Puskesmas sampai ke tingkat nasional. Dalam hal ini
sejumlah penyakit tertentu tsecara teratur dilaporkan baik melalui rumah sakit
maupun melalui Puskesmas atau Institusi pelayanan kesehatan lainnya. Data
yang terkumpul dari program ini dianalisis dan disebarluaskan serta
dilakukan pengamatan khusus bila ada kejadian yang bersifat luar biasa.
Surveillans aktif merupakan pengumpulan data terhadap satu atau lebih
penyakit tertentu pada suatu masa waktu tertentu yang dilakukan secara
teratur oleh petugas kesehatan yang telah ditugaskan untuk hal tersebut.
secara teratur petugas kesehatan yang telah ditunjuk, dalam masa interval

11
tertentu (biasanya mingguan) mengumpulkan keterangan tentang ada atau
tidak adanya kasus baru penyakit tersebut (yang berada di bawah surveillans)
serta mencatat data yang telah ditentukan (biasanya dengan menggunakan
formulir khusus yang telah tersedia) serta data tambahan lainnya yang
dianggap perlu.
Bentuk surveillans aktif ini biasanya dilakukan apabila ada penyakit baru
yang ditemukan, atau suatu bentuk penularan dalam masyarakat yang sedang
dalam pengamatan, atau bila ada perkiraan peningkatan resiko penduduk
karena perubahan musim, begitu pula bila adanya penyakit baru yang muncul
pada suatu daerah geografis tertentu pada suatu kelompok populiasi tertentu.
Juga surveillans aktif ini dilakukan pada masa transisi dari suatu penyakit
yang baru saja dibasmi dari suatu wilayah data populasi tertentu maupun
penyakit yang sebelumnya sudah berada di bawah tingkat penanggulangan
(under control) tetapi kemudian mulai memperlihatkan peningkatan jumlah
kasus yang berarti atau insidensi yang meninggi.

2.3.2 Surveillans Epidemiologi di Rumah Sakit


Dewasa ini perkembangan rumah sakit semakin maju dan sedang
menghadapi masa transisi dari perawatan penyakit menular, sebagai tugas
utama ke arah penyakit tidak menular termasuk kecelakaan. Namun
demikian, penderita penyakit menular yang dirawat di rumah sakit masuk
cukup besar. Suatu keadaan khusus dimana faktor lingkungan, secara
bermakna dapat mendukung terjadinya resiko mendapatkan penyakit infeksi,
sehingga teknik surveillans termasuk analisis data serta control penyakit
memerlukan perlakuan tersendiri adalah pada rumah sakit besar terutama
rumah sakit regional dan rumah sakit daerah.
Pada rumah sakit umum yang memberikan pelayanan kepada masyarakat
dalam wilayah yang luas seperti rumah sakit rujukan pada tingkat provinsi
dan regional terdapat beberapa penularan penyakit dan dapat menimbulkan
infeksi nosokomial.

12
Masih tingginya angka penyakit menular dalam masyarakat sehingga
penderita (penyakit menular ataupun tidak) yang masuk ke rumah sakit
kemungkinan besar akan membawa kuman pathogen bersamanya. Di lain
pihak, setiap penderita di rumah sakit akan menerima perawatan dari
beberapa individu di mana salah seorang diantaranya mungkin akan berperan
sebagai alat pengangkut kuman antar penderita atau antar perawat dengan
penderita. Di samping itu penderita yang dirawat inap di rumah sakit
mengalami kepekaan terhadap berbagai jenis infeksi karena kadaannya
(umpamanya bayi lahir tidak cukup bulan atau premature) maupun karena
pengobatan/perawatannya yang juga mengalami keterpaparan terhadap
produksi/sumber darah, cairan intervena, jarum, kateter, serta berbagai alat
medis lainnya. Dalam hal penggunaan alat, meskipunalat-alat tersebut seperti
respirator, berbagai alat kemih serta alat-alat dapat menyebabkan timbulnya
infeksi nosokomial.

Selain itu, rumah sakit mungkin dapat menjadi tempat berkembang


biaknya serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-organisme. Pemakaian
secara luas berbagai jenis antibiotika dapat menimbulkan terjadinya resistensi
dari komponan genetic seperti plastid, serta penggunaan alat-alat khusus
pembantu resirkulasi cairan tubuh menghasilkan keadaan yang tidak biasa
dan cukup baik untuk mikro-organisme pathogen. Misal terdapatnya
pseudomonas pada alat respirasi dan hepatitis B pada alat dialisis. Juga
ventilasi serta sistem pengudaraan yang terkontaminasi dapat menybarkan
agen penyakit kepada pejamu yang peka/ potensial.

Untuk mengatasi masalah penularan penyakit infeksi di rumah sakit maka


telah dikembangkan sistem epidemiologi surveillans yang khusus dan cukup
efektif untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya penularan infeksi
nosokomial di dalam lingkungan rumah sakit.

Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut beberapa rumah sakit menyediakan


tenaga khusus yang terlatih dalam epidemiologi surveillans rumah sakit.
Dengan demikian dapat dilakukan surveillans yang teratur melalui pencatatan

13
kejadian infeksi pada unit-unit tertentu seperti pada laboratorium, angka dan
jenis infeksi di ruang-ruang perawatan, pada unit bedah, serta unit lainnya
seperti bagian persalinan dan ruang bayi, bagian anak dan yang lainnya.

Dengan kegiatan pengamatan yang terus menerus disertai dengan analisis


yang teratur serta pengamatan langsung terhadap kelompok-kelompok risiko
tinggi dalam rumah sakit, dapat memungkinkan pengenalan awal, pelacakan
serta penangkalan dan penanggulangan ledakan/kejadian luar biasa dalam
rumah sakit.

2.4 Pemberantasan Penyakit Menular

Konsep pemberantasan (eradication) peyakit menular yakni penghapusan


total penyakit tersebut hingga ke akar-akarnya secara global (seluruh dunia)
merupakan impian masa lalu yang kemudian dapat menjadi kenyataan pada suatu
penyakit menular yang cukup berbahaya yakni penyakit cacar (smallpox).

Penyakit cacar merupakan salah satu penyakit menular yang memiliki potensi
endemic di berbagai belahan dunia dan dapat mewabah dan meluas ke berbagai
daerah yang potensial melalui penularan langsung. Dari pengalaman berbagai
daerah yang bebas cacar menunjukan bahwa penyakit ini tidak mudah memasuki
wilayah yang telah bebas cacar. Dari berbagai pengalaman oleh WHO diputuskan
untuk memberantas penyakit ini sampai ke akar-akarnya secara global oada awal
tahun 1940-an.

Adapun faktor-faktor yang menjadi pertimbangan kuat dalam mengambil


keputusan ini antara lain :

 Reservoir satu-satunya adalah manusia


 Penyakit ini tidak memiliki infeksi berselubung yang artinya semua
penderita muncul dengan gejala klinik yang sangat spesifik, sehingga
surveillans mudah diterapkan.

14
 Adanya vaksin yang dapat memberikan perlindungan secara meyakinkan
dan dapat berjalan seumur hidup.
 Cara pemberian imunisasi/vaksinasi relative mudah dan dapat menjangkau
penduduk yang terisolir sekalipun. Hasil yang diperoleh adalah
berhasilnya diberantas penyakit tersebut secara total di seluruh dunia dan
sejak tahun 1976 dinyatakan dunia bebas dari penyakit smallpox.

Beberapa penyakit lainnya mempunyai potensi untuk dilakukan


pemberantasan antara lain penyakit campak yang memiliki sifat mirip dengan
penyakit cacar. Pada berbagai negara maju, penyakit ini sudah dapat ditekan
sampai ke prevalensi yang sangat rendah dan adanya kasus mewabah sangat
bersifat sporadis.

Adapun penyakit menular lainnya seperti malaria, filarial, dan berbagai


penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, memiliki potensi untuk dapat ditekan
sampai batas tertentu melalui usaha penanggulangan penyakit tertentu.

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dengan penjelasan yang sudah dipaparkan sebelumnya, kesimpulan yang


kami dapat adalah materi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (khususnya
Penyakit Menular) sangat diperlukan, untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, dan juga untuk meningkatkan usia harapan hidup khususnya di
Indonesia.

Seperti yang sudah dijelaskan juga langkah-langkah dalam pencegahan penyakit


menular ini tidak mudah. Karena harus melewati langkah-langkah yang dimulai
dari pencegahan tingkat pertama, pencegahan tingkat kedua, pencegahan tingkat
ketiga dan juga strategi dalam pencegahan penyakit menular itu sendiri.

Begitu juga untuk penanggulangan pada penyakit meluarnya. Kita harus


mengetahui sasaran dari penanggulangan kita, dijelaskan diatas bahwa sasaran itu
bisa malalui sasaran langsung pada sumber penularan pejamu (manusia dan
binatang), sasaran yang ditujukan pada cara penularannya, serta sasaran yang
ditujukan pada pejamu yang potensial.

Untuk surveillans epidemiologi sendiri, pada penjelasan diatas juga dibagi


menjadi dua yaitu pada Masyarakat dan Rumah Sakit, ini sangat diperlukan
karena menyangkut pada kepentingan pencegahan dan penanggulangan penyakit
menular. Dan yang terakhir adalah cara pemberantasan penyakit menular yang
harus dilaksanakan maksimal hingga ke akar-akarnya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Noor, Nasry Nur. 2009. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. PT RINEKA


CIPTA : Jakarta.

Beaglehole, R., R. Bonita, T.Kjellstrom. Basic Epidemiology, WHO, Geneva,


1993.

Mausner, J., Kramer, S. Epidemiology : Ant Introductory Text. 2nd Edition Oxford
University Press, New York, 1980.

Friedman, Gary D. 1992. Prinsip-Prinsip Epidemiologi. Yayasan Essentia Medica


: Yogyakarta.

17