You are on page 1of 10

MAKALAH

KONTRA PEMERINTAH MEMPERBOLEHKAN


PERATURAN DAERAH SYARIAH

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3

 MUHAMMAD DENI SAPUTRA (1811001012)


 KAEIRUL JIHADI (1811001021)

UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA


FAKULTAS FEISHUM
JURUSAN PUBLIK ADMINISTRASI
2018/2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahrobbil `alamin, sebenar-benarnya puji syukur hanya milik Allah


SWT, tuhan seluruh alam yang telah memberikan sesuatu yang tak terhinggah
kepada hambanya.shalawat dan salam senantiasa tercurahnya pada sang pemimpin
umat sejati baginda Rasullulah Muhammad SAW,beserta keluarga dan para sahabat
yang selalu mengikuti jejek perjuangan beliau.semogah kita juga terhitung pada
golongan yang selalu konsisten mengikuti sunnah dan perjuangan beliau. Dengan
ini kelompok kami dapat menyusun makalah yang berjudul ”tidasetuju tentang
pemerintah memperbolehkan peraturan daerah syariah”. Dan tidak lupa kami
ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Gerry Katon Mahendra yang telah
membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, mungkin
makalah ini masih banyak kekurangan oleh karena itu kami sangat mengharapkam
saran dan kritikan yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Sleman, Desember 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

1. KATA PENGANTAR..................................................................................i
2. DAFTAR ISI................................................................................................ii
3. BAB I PENDAHULUAN...........................................................................iii
1.1. LATAR BELAKANG.....................................................................1
1.2. RUMUSAN MASALAH.................................................................4
1.3. TUJUAN DAN MANFAAT............................................................4
4. BAB.II PEMBAHASAN
2.1 PRESEPSI PERDA SYARIAH
DALAM IDIOLOGI PANCASILA...................................................5

2.2 ANALISIS KEKURAGAN


DI TERAPKAN PERDA SYARIAH.................................................6

5. BAB.III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN.....................................................................................7
3.2. SARAN ................................................................................................7
6. DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sejak bergulirnya reformasi pada tahun 1998, kemudian disusul dengan


amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia
Tahun1945. Perubahan pertama UUD 1945 yang disahkan dalam sidang Umum
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) yang
diselenggarakan dari tanggal 12 sampai dengan tanggal 19 Oktober 1999.
Pengesahan naskah perubahan pertama tersebut tepatnya dilakukan pada tanggal 19
Oktober 1999 yang dapat disebut sebagai tonggak sejarah yang berhasil
mematahkan semangat konservatisme dan romantisme di sebagian kalangan
masyarakat yang cenderung menyakralkan atau menjadikan UUD 1945 bagaikan
sesuatu yang suci dan tidak boleh disentuh ole ide perubahan sama sekali. 2
MPR-RI melalui sidang amandemen ke-2 pada tahun 2000 menetapkan keputusan
dalam salah satu pasal yaitu Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar 1945 bahwa,
“Setiap Pemerintahan Daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah. Ini berarti
bahwa Pemerintahan Daerah memiliki kewenangan dalam membentuk Peraturan
Daerah karena telah mendapat legitimasi secara konstitusional. Politik
desentralisasi melalui otonomi daerah pasca orde baru tersebut membawa implikasi
pergeseran fokus politik ke daerah-daerah memunculkan kekhawatiran akan
semakin kuatnya fragmentasi masyarakat politik di daerah berdasarkan kriteria-
kriteria lokal.

Kecenderungan inilah yang kemudian mengarah pada timbulnya pro dan kontra
ditengah-tengah masyarakat. Di berbagai daerah pun muncul tuntutan yang sangat
beragam, ada yang mau “pindah jalur” ke arah negara federal, ada yang minta
“pisah” dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan ada beberapa
daerahyang menginginkan penerapan syari’at Islam di daerahnya atau setidaknya
pemberlakuan syaria’at Islam itu muncul karena selama ini berbagai upaya telah
dilakukan oleh masyarakat (muslim) supaya hukum Islam mendapat tempat secara
wajar di Indonesia yang notabene mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi
hasilnya belum menggembirakan.
Berawal dari dibentuknya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah, kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah dan terakhir diganti dengan Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 Pasal 1 Angka 2 menyatakan bahwa pemerintahan daerah
adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-
luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.

Namun keberadaan peraturan daerah yang mengatur aspek-aspekagama telah


banyak menimbulkan kontroversi bukan saja dikalangan para ahli hukum non-
muslim yang beranggapan sebagai diskriminatif, namun dari kalangan para ahli
hukum muslim pun terjadi kontroversi, dengan alasan bahwa perda agama dianggap
tidak sesuai dengan hukum ketatanegaraan Indonesia. Salah satu landasan
argumennya adalah sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun
2014 Pasal 1 angka 2, bahwa Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan di daerah, namun secara tegas pula pada Pasal 10 ayat (2) menyatakan
bahwa, urusan pemerintahan absolute sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenagan pemerintah pusat.
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tersebut
dijelaskan pada Pasal 10 ayat (1) :
a.politik luar negeri;
b.pertahanan;
c.keamanan;
d.yustisi;
e.moneter dan fiskal nasional dan
f.agama

Untuk sementara penulismengambil kesimpulan sementara bahwa berdasarkan


Pasal 10 tersebut, berarti pemerintahan daerah tidak memiliki kewenangan dalam
mengatur urusan agama, karena pengaturannya hanya menjadi wewenang
pemerintah pusat. Kemunculan Perda-perda yang mengatur urusan agama
tersebut, juga sempat mendapat perhatian anggota DPR RI, pada tanggal
13 Juni 2006, 56 orang anggota DPR dari unsurPartai Damai Sejahtera dan Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan menyampaikan momerandum menolak dan
meminta presiden mencabut berbagai perda “antimaksiat” yang dilandasi
bermuatan syari’at Islam. Perberlakuan perda tersebut dinilai melanggar konstitusi
dan pancasila. Namun, pada tanggal 27 Juni 2006, 134orang anggota DPR dari
unsure fraksi PPP, PKS, BPD, PG, PBR dan PKB menyampaikan “kontra
memorandum” yang menolak pencabutan Perda-perda “anti maksiat” tersebut.

Karena sesungguhnya Syariat Islam itu memang harus dan wajib diberlakukan
dan bahkan sesungguhnya ia memang berlaku sampai kapan pun di kalangan umat
Islam. Kedudukan syari’at Islam tidak perlu diperjuangkan secara politik, karena
dengan sendirinya sudah berlaku seiring dengan dianutnya ajaran Islam oleh
sebagian besar penduduk Indonesia. Syari’at Islam adalah jalan hidup yang
berlaku bagi setiap orang yang mengimaninya. Syari’at Islam berlaku bagi setiap
orang Islam, terlepas dari kenyataan ada atau tidak adanya Negara. Syari’at Islam
menyangkut hokum tertinggi, yaitu keyakinan manusia akan kedaulatan Tuhan
Yang Maha Kuasa atas dirinya, sedangkan urusan kenegaraan hanyalah sebagian
kecil dari urusan manusia.

Lebih lanjut ia mengungkapkan:Bahwa hukum negara harus mencerminkanesensi


keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, memang sudah seharusnya
melalui prinsi hirarki norma dan elaborasi norma. Sumber norma yang
mencerminkan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu dapat datang
dari mana saja, termasuk dalam system syari’at Islam. Tetapi, sekali nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya telah diadopsikan, maka sumber norma syari’at itu
tidak perlu disebut lagi, karena namanya sudah menjadi hokum Negara yang
berlaku umum secara nasional. Namanya adalah hokum nasional berdasarkan
Pancasila meski isi dan esensinya adalah norma syari’at islam.

1.1 Rumusan masalah


Berdasarkan urayan di atas dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan perda syariah di di mata hukum ?


2. Bagaimana tanggapan/respon terhadap penerapan peraturan daerah
syariah di indonesia ?

1.2 Tujuan dan manfaat


1.2.1 TUJUAN

1. Memberikan pemahaman tentang hakikat perda syariah


2. Memahami pentingnya perbedaan pendapat untuk mencapai satu
tujuan bersama
3. Untuk mengetahui penerapan atau implementasi PERDA
SYARIAH di indonesia dilihat dari UUD dan PANCASILA

1.2.2 MANFAAT

1. Menamba wawasan khususnya bagi akademis yang menekuni


bidang hukum dan publik mengenai kedudukan PERDA
SYARIAH
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Presepsi perda syariah dalam idiologi pancasila

Dasar Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila tepatnya sila ketiga


yakni Persatuan Indonesia mencerminkan adanya asas kebangsaan. Hal ini
berarti bahwa setiap materi muatan Peraturan Daerah harus berpedoman pada
karakteristik bangsa Indonesia yang terkenal dengan suku bangsanya yang
majemuk (pluralistik). Oleh karena itu, ketika Perda Syari’ah tersebut
diberlakukan jelas hal ini menyimpang dari asas kebangsaan, karena hanya
tertuju pada satu golongan kelompok saja. Penyelenggaraan otonomi daerah
haruslah dapat menyatukan warga negara yang hidup di Indonesia. Dengan
hanya menjadikan salah satu agama sebagai sumber materiil dari perda syariah,
penyelenggaraan otonomi daerah bukan tidak mungkin menjadi sebuah awal
dari adanya perpecahan di Indonesia.

Pada hakikatnya, Perda syariah merupakan bentuk pengingkaran terhadap


semangat pemberian otonomi daerah. Daerah sebagai satu kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai otonomi berwenang mengatur dan mengurus
Daerahnya sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakatnya sepanjang tidak
bertentangan dengan tatanan hukum nasional dan kepentingan umum. Bahkan,
pada hakikatnya Otonomi Daerah diberikan kepada rakyat sebagai satu
kesatuan masyarakat hukum yang diberi kewenangan untuk mengatur dan
mengurus sendiri Urusan Pemerintahan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat
kepada Daerah dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh kepala daerah dan
DPRD dengan dibantu oleh Perangkat Daerah. Urusan Pemerintahan yang
diserahkan ke Daerah berasal dari kekuasaan pemerintahan yang ada ditangan
Presiden. Dengan demikian, kekuasaan pemerintahan yang ada di tangan
Presiden yang diserahkan kepada daerah haruslah sesuai dengan tatanan hukum
nasional. Tatanan hukum nasional yang menghendaki adanya persatuan
tidaklah boleh hanya disandarkan pada satu nilai keagamaan semata, tetapi
harus berdasarkan konsensus bersama dari semua nilai keagamaan. Oleh
karena itu, Indonesia dengan pluralistiknya tidak membutuhkan Perda Syari’ah
dengan orientasi dalam setiap daerah terdapat berbagai macam golongan
agama, ras suku, sosial dan budaya, dimana hal ini hanya akan memecahkan
kesatuan dan persatuan bangsa apabila Perda Syari’ah tersebut diberlakukan.

Disisi lain, konstitusi juga mengamanahkan agar dalam kehidupan berbangsa


dan bernegara selalu berpegang teguh pada asas kesamaan kedudukan dalam
hukum atau sering dikenal dengan sebutan Equality Before The Law. hal ini
bisa dilihat dalam Pasal 28D Ayat (1) UUD NRI 1945 yang berbunyi “Setiap
orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Hal ini jelas bahwa
setiap materi muatan Peraturan Daerah tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat
diskriminatif berdasarkan latar belakang antara lain agama, suku, ras,
golongan, gender atau sosial.

Bangsa Indonesia memiliki latar belakang masyarakat yang pluralistik,


sehingga dalam menjalankan pengaturan dalam berbagai bidang-bidang yang
dinilai memiliki sifat penanganan yang serius menjadi kewenangan dari
pemerintah pusat. Sedangkan konsep dari otonomi daerah lebih menekankan
pada pengurusan kewenangan rumah tangga daerah masing-masing dengan
prinsip seluas-luasnya. Ini bukan berarti pusat lepas kontrol terhadap
daerahnya melainkan pemerintah pusat lebih bersifat menjaga agar pemerintah
daerah tetap dalam koridor dalam menjalankan kewenangannya. Keleluasan
yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah telah diatur
dengan batasan-batasan yang jelas dalam ketentuan Pasal 10 UU Pemda urusan
pemerintahan absolut pemerintahan pusat yang tidak diberikan pada daerah
meliputi, politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter, fiskal
nasional, dan agama. Limitasi yang diberikan undang-undang tersebut sangat
jelas bahwa agama adalah salah satu hal yang sensitif yang harus menjadi
kontol pusat sehingga secara otomatis wujud peraturan konkrit dari agama itu
sendiri yang dituangkan dalam suatu perda syariah tidak bisa diberikan pada
pemerintahan daerah. Diterapkannya perda syariah dalam otonomi daerah
adalah salah satu bukti pelanggaran yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
karena dengan ini pemerintah daerah telah melampaui batas kewenangan yang
seharusnya masalah agama merupakan kewenangan dari Pemerintah Pusat.

Selain itu, Tujuan bangsa Indonesia adalah membentuk masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila. Pemberlakukan ketentuan/syariat/hukum
agama ke dalam suatu hukum positif di daerah merupakan penyimpangan dari
tujuan dan dasar negara Indonesia sekaligus merupakan pelanggaran dari
ketentuan peraturan di atasnya. Pemberlakuan Perda Syari’ah dalam otonomi
daerah mencerminkan in-toleransi umat beragama karena Perda yang
dimaksud hanya berfokus pada satu agama saja yakni agama Islam, ini berarti
menunjukkan bahwa keinginan untuk hidup secara berdampingan dengan
kelompok agama lain sangat rendah serta penghargaan terhadap kebebasan
beragama kelompok lain pun juga menjadi sangat rendah.

2.2 Analisis Kekurangan

Dengan adanya Perda Syari’ah akan menimbulkan sekat antara kelompok


golongan Agama yang satu dengan lainnya karena Perda tersebut hanya di
berlakukan pada satu golongan saja, dengan ini maka secara otomatis akan
memunculkan kecemburuan sosial yang akhirnya berujung pada suatu konflik.
diantaranya seperti yang terjadi di jayapura siswa kelas V di SD Negeri Entrop,
Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua tersebut dikeluarkan dari
sekolah karena menggunakan jilbab. Surat tersebut ditanda-tangani oleh kepala
sekolah bernomor 421.2/105/2014 tertanggal 30 September 2014.Dari kejadian
tersebut jelas bahwa masyarakat papua yang mayoritas penduduknya non-
muslim telah memberikan sinyal-sinyal secara tersirat bahwa mereka adalah
sebuah golongan yang kental dengan kepercayaannya sehingga secara otomatis
adanya Perda Syari’ah dalam Otonomi Daerah Papua akan mengalami
penolakan oleh masyarakatnya

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Selain dapat memecah belah persatuan bangsa, Perda Syari’ah
merupakan bentuk pengingkaran terhadap semangat pemberian
otonomi daerah. Selain itu, perda syariah yang hanya menfokuskan
dirinya pada satu golongan semata merupakan bentuk pencederaan
terhadap Pasal 28D ayat (1) UUD NRI 1945.

3.2 Saran

Berdasarkan uraian diatas, agar tetap terpeliharanya moral bangsa dan


dapat terjaganya kerukunan umat beragama, maka rekomendasi yang
kami ajukan adalah sebagai berikut:

1. Berkaitan dengan substansi hukum, membentuk suatu undang-undang


yang menyebutkan bahwa perda yang menitikberatkan pada satu
golongan masyarakat tertentu dilarang untuk ditetapkan;
2. Berkaitan dengan struktur hukumnya, membentuk suatu lembaga
yang berorientasi pada pembentukan karakter bangsa yang mampu
memperbaiki moral bangsa;
3. Berkaitan dengan budaya hukumnya, memberikan pendidikan kepada
masyarakat mengenai pentingnya sebuah persatuan dalam
membangun sebuah bangsa.
DAFTAR ISI

1. https://constituendum.wordpress.com/2016/01/21/perda-syariah-
dalam-otonomi-daerah/ diakses pada tanggal 3 januari 2019
2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 menjelaskan dalam Pasal 21
Ayat (1) tentang urusan yang menjadi kewenagan pemerintah pusat