You are on page 1of 21

PENGERTIAN FILSAFAT DAN MAKNA PENDIDIKAN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan
Jurusan/Prodi MIPA/Pendidikan Fisika
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati

Dosen Pengampu:
Diah Mulhayatiah,S.Si,M.Pd
Dindin Nasrudin,S.Pd,M.Pd

Oleh
Auva Fadhlurohman 1182070011
Fitria Cindrakasih 1182070024
M.Algi Al-Hanafi 1182070034

BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT., yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah “Pengertian Filsafat dan Makna Pendidikan”. Sholawat dan
salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW., kepada keluarga,
sahabat, dan segenap umatnya yang senantiasa patuh dan taat terhadap ajarannya.
Penulisan makalah ini berisi tentang pengertian dari filsafat, makna dari
pendidikan dan keterkaitan antara filsafat dengan pendidikan serta ruanglingkup
filsafat pendidikan. Makalah “Pengertian Filsafat dan Makna Pendidikan” ini disusun
secara sederhana, meskipun demikian, penulis mengharapkan dengan adanya
makalah ini dapat membantu pembaca lebih mengetahui tentang akhlak terpuji.
Penulis dengan segala kekurangannya, tidak mampu menyelesaikan tugas ini
tanpa arahan dan bimbingan dari semua pihak. Oleh karena itu, dengan segala
kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih. Penulis juga menyadari bahwa
makalah ini masih belum sempurna, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun sebagai bahan perbaikan.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Mudah-mudahan Allah
swt., senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua,
sehingga dimudahkan dan dilancarkan segala urusan dunia dan akhirat, Aamiin

Bandung, Februari 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i


BAB I ............................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 2
BAB II ........................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ............................................................................................................. 3
A. PENGERTIAN FILSAFAT .......................................................................................... 3
B. MAKNA PENDIDIKAN .............................................................................................. 6
C. OBJEK KAJIAN FILSAFAT PENDIDIKAN.............................................................. 8
D. RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ......................................................... 9
E. FILSAFAT PENDIDIKAN ........................................................................................ 11
F. PENDIDIKAN SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN ......................................... 12
BAB III ........................................................................................................................ 15
PENUTUP ................................................................................................................... 15
KESIMPULAN ................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 17
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya manusia adalah makhluk hidup berpikir yang berusaha untuk
mengetahui segala sesuatu, tidak mau menerima begitu saja. Segala sesuatu yang
dilihatnya, dialaminya selalu dipertanyakan dan dianalisis atau dikaji ( Tim Pengajar
Filsafat Pendidikan Unimed ). Manusia berfilsafat karena adanya keheranan,
kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan. Filsafat mendorong manusia untuk
mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah
hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak
terbatas.
Filsafat sendiri dapat diartikan sebagai jalan hidup manusia di dunia. Manusia
Bercita-cita tentang hidupnya dan selalu berfalsafah. Dalam penerapan nya filsafat
memiliki tiga peranan utama dalam hidup manusia yaitu sebagai pendobrak,
pembebas, dan pembimbing ( Jan Hendrik Rapar dalam Diktat Filsafat
Pendidikan). Hubungan nya dengan pendidikan adalah ,filsafat merupakan salah
santu landasan filosofis Pendidikan. Pendidikan sendiri menurut filsafat merupakan
alat atau sarana bagi manusia untuk mengembangkan keilmuan dan pengetahuan.
Pendidikan merupakan upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi
peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu
menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Maka, pendidikan
diharapkan memiliki standard dan dasar-dasar yang tertata, dikurikulumkan, dan jelas
teori-teori dan konsep-konsep pendidikan yang diharapkan adalah konsep dan teori
yang relepan dengan keadaan yang berlaku
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah arti dari filsafat?
2. Apakah makna dari pendidikan?
3. Bagaimana objek kajian filsafat pendidikan?

1
4. Bagaimana manfaat filsafat pendidikan
1.3 Tujuan Penulisan
1. Memahami arti filsafat
2. Mengerti makna pendidikan
3. Mengetahui objek kajian filsafat pendidikan
4. Mengetahui manfaat filsafat pendidikan
BAB II

PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Sebelum mendefiniskan filsafat pendidikan, karena antara filsafat dengan
pendidikan merupakan dua konsep yang berbeda, konsep filsafat harus diberi
pengertian terlebih dahulu. Filsafat dapat diartikan sebagai way of life manusia
sepanjang kehidupannya di dunia. Cita-cita manusia selalu berkaitan dengan falsafah
hidupnya. Bahkan, nasib suatu bangsa dan negara bergantung pada ideology yang
dianut, yang secara substansial diciptakan oleh filsafat. Filsafat bermakna sikap yang
sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara kontemplatif dan
menyeluruh.
Filsafat merupakan bagian dari kebudayaan manusia yang amat menakjubkan,
filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philos yang berarti cinta dan shopi yang
berarti kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah “cinta kebijaksanaan”. Orang
yang mencari kebijaksanaan di sebut filsuf . Filsuf adalah orang yang belajar dan
mencari kebenaran dan kebijaksanaan tanpa mengenal batasan. (M.D.Basri,2013)
Beberapa definisi filsafat dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Filsafat adalah proses pencarian kebenaran dengan cara menelusuri hakikat
dan sumber kebenaran secara sistematis, logis, kritis, rasional, dan
spekulatif. Alat yang digunakan untuk mencari kebenaran adalah akal
yang merupakan sumber utama dalam berpikir. Dengan demikian,
kebenaran filosofis adalah kebenaran berpikir yang rasional, logis,
sitematis, kritis, radikal, dan universal.
2. Filsafat adalah penggambaran alam pikir manusia yang tidak mengenal
kenyang dengan ilmu pengetahuan dan kebenaran yang hakiki.
3. Filsafat adalah seni kritik dengan tidak membatasi diri pada destruksi
pemikiran tentang kebenaran. Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa
kritis dalam filsafat adalah kritis dalam arti bahwa filsafat tidak pernah
puas diri, tidak pernah membiarkan sesuatu sudah dianggap selesai.
Filsafat akan terus membuka kembali perdebatan, dalam arti bahwa setiap
kebenaran menjadi lebih benar dengan setiap putaran tesis-antitesis dan sistensinya.
Sifat kritis filsafat ditunjukan dengan tiga pendekatan dalam filsafat, yaitu pendekatan
ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ahli filsafat selalu berpikir kritis dengan
melakukan pemriksaan keduan terhadap segala sesuatu yang telah ditemukan secara
filosofis. Kebenaran pertama merupakan awal menuju kebenran kedua dan
seterusnya. Dengan demikian, tidak ada kata “berhenti” untuk menggali kebenaran
yang sesungguhnya “paling benar”. Kebenaran yang paling benar sepanjang
kebenaran itu dihasilkan melalui rasionalisasi. (Atang Abdul. H dan Beni Ahmad,
2008)
Seorang ahli filsuf juga menyatakan bahwa filsafat pada hakikatnya
menggunakan rasio (berpikir). tetapi, tidak semua proses berpikir disebut filsafat.
Manusia yang berpikir dapat diketahui dalam kehidupan sehari – hari, pemikiran
manusia dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Pemikiran pseudo-ilmiah
pemikiran ini beraspek kepada kepercayaan budaya dan mitos. hal ini
dapat dijumpai dalam astrologi atau kepercayaan pada buku primbon.
2. Pemikiran awam
pemikiran ini merupakan pemikiran orang orang dewasa dengan
menggunakan akal sehat ,karena bagi orang awam memecahkan suatu
masalah cukup hanya dengan menggunakan akal sehat tanpa melakukan
penelitian terlebih dahulu.
3. Pemikiran ilmiah
pemikiran ini biasanya menggunakan metode metode,tata pikir dalam
paradigma ilmu pengetahuan tertentu yang dilengkapi dengan hipotesis
untuk menguji kebenearan suatu konsep teori atau pemikiran dalam dunia
empiris (tidak pernah selesai) proses keilmuan.
4. pemikiran filosofis
pemikiran secara reflektif yang meliputi kegiatan analisis,
pemahaman,deskripsi,penilaian,penafsiran, dan perekaan yang bertujuan
untuk memperoleh kejelelasan,kecerahan, keterangan
pembenaran,pengertian,dan perpaduan objek. (M.Anwar,2015)

Filsafat tercipta karena manusia memiliki ketakjuban, ketidakpuasan, Hasrat


bertanya dan keraguan. Keempat hal tersebut lah yang mendorong lahirnya filsafat.
Aristoteles mengatakan “manusia mulai berfilsafat karena adanya ketakjuban
terhadap alam semesta. Seperti, ketakjuban pada bintang-bintang dilangit, matahari,
alam semesta, adanya siang dan malam dan lain lain. Ketakjuban ini lah yang
mendorong rasa ingin bertanya manusia”. Manusia menanyakan dari manakah
benda-benda tersebut ada.Pertanyaan manusia saat itu hanya tertuju pada pimpinan
nya saat itu. Yang melahirkan mitos-mitos .Seperti pelangi, para pemimpin saat itu
menjawab bahwa pelangi itu adalah naga yang sedang minum. Pada saat itu, manusia
harus bisa berpuas dengan jawaban seperti itu.Namun, ada manusia yang merasa
bahwa jawaban tersebut kurang memuaskan. Hal ini lah yang membuat manusia
terus-menerus mencari penjelasan dan keterangan yang membuat manusia lambat
laun mulai berfikir secara rasional. (rapar, 1995)

Manfaat filsafat alam kehidupan adalah :


1. Dasar dalam bertindak
2. Dasar dalam mengambil keputusan
3. Mengurangi salah paham dan konflik
4. Bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah
5. Mendalami konsep yang sudah baku dengan melihat substansinya
6. Merumuskan teori atau kerangka pemikiran
7. Membangun paham-paham yang mengideologis
8. Membangun sikap saling menghargai pendapat satu sama laindan tidak truth
claim
9. Mengembangkan pemahaman berbagai persoalan. (Anas Salahudin, 2011)
B. MAKNA PENDIDIKAN
Beberapa definisi pendidikan dikemukakan sebagai berikut.
1. Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata dasar didik, dan diberi awalan
men, menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi
latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda, berarti proses perubahan sikap
dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pendidikan, yaitu pendewasaan
diri melalui pengajaran dan latihan. (W.J.S.poerwadarminta,1985)
2. Pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas diri manusia dalam segala
aspeknya. Pendidikan sebagai aktivitas yang disengaja untuk mencapai tujuan
tertentu dan melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu dan
lainnya sehingga membentuk satu sistem yang saling memengaruhi. (Tedi
Priatna, 2004)
3. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan sebagai usaha untuk membimbing
keterampilan jasmaniah dan rohaniah berdasarkan hukum-hukum tertentu
menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran yang
disepakati secara normative. Misalnya, menurut ukuran-ukuran Islam yang
yang ditujukan pada pembentukan akhlak anak didik, perilaku konkret yang
member manfaat pada kehidupannya dimasyarakat. (Ahmad D. Marimba, 1980)
4. Pendidikan dalam arti mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia, baik terhadap aktivitas jasmaninya, pikiran-pikirannya,
maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nuraninya. (Hasan Basri,
2009)
Pengertian yang sangat umum dikemukakan oleh Driyarkara (1980) yang
menyatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda.
Pengangkatan manusia muda ke taraf insani harus diwujudkan di dalam seluruh
proses atau upaya pendidikan.
Di dalam Kamus Internasional Pendidikan (International Dictionary of Education)
pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga ciri utama sebagai berikut:
1. Proses mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku
lainnya di dalam masyarakat, dimana dia hidup.
2. Proses sosial, dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang
terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) untuk mencapai
kompetensi sosial dan pertumbuhan individual secara optimum.
3. Proses pengembangan pribadi atau watak manusia.
Pengertian tersebut mirip dengan pendapat G. Thompson (1957) yang
menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk
menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan-kebiasaan,
pemikiran, sikap-sikap, dan tingkah laku.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Crow and Crow (1960) mengemukakan: harus
diyakini bahwa fungsi utama pendidikan adalah bimbingan terhadap individu dalam
upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang
dimilikinya sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan
pribadi dan kehidupan sosialnya.
Pendapat tersebut memandang pendidikan bukan hanya sebagai pemberian
informasi pengetahuan dan pembentukan keterampilan melainkan lebih luas daripada
itu, meliputi usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan
individu sehingga tercapai pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan
Pendidikan dipandang bukan semata-mata sebagai sarana untuk menyiapkan
individu bagi kehidupannya di masa depan tetapi juga untuk kehidupan anak sekarang
yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaan.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat diberikan beberapa ciri atau unsur
umum dalam pendidikan, yaitu:
1. Pendidikan harus memiliki tujuan, yang pada hakikatnya adalah
pengembangan potensi individu yang bermanfaat bagi kehidupan pribadinya
maupun bagi warga negara atau warga masyarakat lainnya.
2. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan upaya yang
disengaja dan terencana yang meliputi upaya bimbingan, pengajaran dan
pelatihan.
3. Kegiatan tersebut harus diwujudkan di dalam lingkungan keluarga,
sekolah dan masyarakat yang lazim disebut dengan pendidikan formal,
informal dan nonformal.
` Menurut ki hajar dewantara Konsep pendidikan untuk mewujudkan
tercapainya tujuan pendidikan, yaitu Tri Pusat Pendidikan:
1. pendidikan keluarga;
2. pendidikan dalam alam perguruan
3. pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara memasukkan kebudayaan mulai sejak dini, seperti taman indria
(balita).
Konsep belajar ini adalah Tri No, yaitu nonton, niteni dan nirokke.Nonton
(cognitive), nonton di sini adalah secara pasif dengan segenap panca indera.Model
pendidikan ini bertujuan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja
(cognitive), Ki Hadjar Dewantara memberikan istilah bukan hanya 'ngerti', tapi harus
ada keseimbangan dengan ngroso (affective) dengan nglakoni (psychomotoric).
Dengan demikian setelah anak menjalani proses belajar mengajar maka anak akan
mengerti dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan
atau melaksanakan pengetahuan yang sudah didapat dalam kehidupan masyarakat.
C. OBJEK KAJIAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Kekuatan filsafat di ibaratkan sebagai sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk
gagal. pendidikan adalah bersumber dari filsafat.
Pendidikan dan filsafat tidak terpisahkan karena akhir dari pendidikan
adalah akhir dari filsafat, yaitu kearifan (wisdom). Dan alat dari filsafat adalah
alat dari pendidikan, yaitu pencarian (inquiry), yang mengantar seseorang pada
kebudayaan. Para ahli berkeyakinan dalam lingkungan pendidikan tentang adanya
kenyataan bahwa pendidikan itu berhubungan erat dengan filsafat. Dalam banyak hal
pendidikan perlu berlandaskan pada konsep-konsep tertentu yang perumusannya
diambil dari filsafat.
Filsafat pendidikan sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, memusatkan
perhatiannya pada penerapan pendekatan fisiologis pada bidang pendidikan dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya
dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya.
Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti cara berfikirnya
bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil
pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya
saling berhubungan. Filsafat pendidikan harus memiliki ruang lingkup pemikirannya
bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal
yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat
kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik pada masa
sekarang maupun masa mendatang.

D. RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN

a. Cosmologi, merupakan suatu pemikiran dalam permasalahan yang


berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup
manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, serta proses kejadian kejadian
dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya
b. Ontologi , merupakan pemikiran tentang asal-usul kejadian alam
semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran
ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang
menciptakan alam semesta ini.
Secara khusus yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:
 Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).
 Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan
(The Nature Of Man).
 Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama
dan kebudayaan.
 Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori
pendidikan.
 Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan
dan politik pendidikan (sistem pendidikan).

(Dr.H.Wr. Hendra Saputra,M.Hum., 2008)


Dalam pengertian yang luas, filsafat bertujuan memberikan pengertian yang
dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep hidup secara ideal dan
mendasar bagi manusia agar mendapatkan kebahagian dan kesejahteraan.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa ruang lingkup filsafat adalah semua
lapangan pemikiran manusia yang komprehensif. Segala sesuatu yang mungkin ada
dan benar-benar ada (nyata), baik material konkret maupun nonmaterial (abstrak).
Jadi, objek filsafat itu tidak terbatas.
Secara makro, apa yang menjadi objek pemikiran filsafat, yaitu permasalahan
kehidupan manusia, alam semesta, dan alam sekitarnya, juga merupakan objek
pemikiran filsafat pendidikan. Namun, ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:
1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (the nature of education)
2. Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan (the
nature of man).
3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan
kebudayaan.
4. Merumuskan secara hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, teori dan
pendidikan.
5. Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan
politik pendidikan (sistem pendidikan)
6. Merumuskan sistem sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan
tujuan pendidikan.
Dengan demikian, dari uraian di atas diperoleh suatu kesimpulan bahwa yang
menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan
dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan yang baik
dan bagai mana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang di cita-citakan.
“ Filsafat Pendidikan, yang menyelediki hakikat pelaksanaan pendidikan yang
bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara, dan hasilnya, serta hakikat ilmu
pendidikan, yang bersangkut paut dengan analisis kritis terhadap sruktur
penggunaannya”. (B. Othanel Smith, Philosophy of education, Encyclopedia of
Educational Research, hlm. 957-963)

E. FILSAFAT PENDIDIKAN
Ada beberapa pengertian filsafat pendidikan, di antaranya sebagai berikut.
1. Filsafat pendidikan adalah pengetahuan yang menyelidiki substansi
pelaksanaan pendidikan yang berkaitan dengan tujuan, latar belakang, cara,
hasil, dan hakikat ilmu pendidikan yang berhubungan dengan analisi kritis
terhadap struktur dan kegunaannya. (Redja Mudyahardjo, 2004)
2. Filsafat pendidikan adalah pengetahuan yang mengkaji proses pendidikan dan
teori-teori pendidikan.
3. Filsafat pendidikan adalah pengetahuan yang memikirkan hakikat pendidikan
secara komprehensif dan kontemplatif tentang sumber, seluk beluk
pendidikan, fungsi, dan tujuan pendidikan.
Filsafat pendidikan merupakan bentuk penerapan serangkaian keyakinan-
keyakinan filsafati dalam praktik pendidikan. (Chambliss, 2009: 324)
(Kneller, 1971)juga mengatakan bahwa filsafat pendidikan berdasar kepada
filsafat umum atau filsafat formal. Dalam hal ini, masalah-masalah pendidikan
merupakan bagian dari cara berpikir filsafat secara umum. Selain itu, filsafat
pendidikan juga merumuskan segala sesuatu yang berkaintan dengan pendidikan dan
hakikat nya. Seseorang tidak dapat memberikan kritik pada kebijakan pendidikan
yang ada atau menyarankan kebijakan yang baru tanpa memikirkan masalah-masalah
filsafat yang umum seperti hakikat kehidupan yang baik sebagai arah yang akan
dituju oleh pendidikan, kodrat manusia itu sendiri, sebab yang mendidik itu adalah
manusia, dan yang dicari adalah hakikat kenyataan yang terdalam, yang menjadi
semua pencarian cabang ilmu. Oleh karena itu, filsafat pendidikan merupakan
penerapan filsafat formal dalam lapangan pendidikan.
Sebagaimana halnya dengan filsafat umum, filsafat pendidikan bersifat spekulatif,
preskriptif, dan analitik
1) Filsafat bersifat spekulatif artinya bahwa filsafat membangun teori-teori
tentang hakikat manusia, masyarakat dan dunia dengan cara mrnyusun
sedemikian rupa dan menginterpretasikan berbagai data dari penelitian
pendidikan dan penelitian ilmu-ilmu perilaku (psikologi behavioristik).
2) Filsafat bersifat preskriptif artinya filsafat pendidikan mengkhususkan tujuan-
tujuannya, yaitu bahwa pendidikan seharusnya mengikuti tujuan-tujuan itu
dan cara-cara yang umum harus digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.
3) Filsafat pendidikan bersifat analitik tatkala filsafat pendidikan berupaya
menjelaskan pernyataan-pernyataan spekulatif dan preskriptif, menguji
rasionalitas ide-ide pendidikan, baik konsistensinya dengan ide-ide yang lain
maupun cara-cara yang berkaitan dengan adanya distorsi pemikiran.
Konsep-konsep pendidikan diuji secara kritis demikian pula dikaji juga apakah
konsep-konsep tersebut memadai ataukah tidak ketika berhadapan dengan fakta yang
berbeda yang berhubungan dengan berbagai istilah-istilah yang banyak digunakan
dalam lapangan pendidikan seperti “ kebebasan, penyesuaian, pertumbuhan,
pengalaman, kebutuhan, dan pengetahuan”. Penjernihan istilah-istilah akan sampai
pada hal-hal yang bersifat hakiki, maka kajian filsafat tentang pendidikan akan
ditelaah oleh cabang filsafat yang bernama metafisika atau ontologi.
Antologi menjadi salah satu landasan dalam filsafat pendidikan.Selain itu, kajian
pendidikan secara filsafat memerlukan landasan epistemologis dan landasan
eksiologis. (Barnadib, 1996 )

F. PENDIDIKAN SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN


Landasan dalam filsafat pendidikan ada dua yang utama, yaitu landasan filosofis
dan landasan pedagogis
1. Landasan filosofis
Berbicara landasan filosofis pendidikan artinya berkaitan dengan praktik
pendidikan sebagai bagian dari ilmu.Dalam pendekatannya menurut filsafat
ilmu landasan filosofis meliputi 3 kajian bidang yaitu landasan ontologis,
landasan epistemologis, dan landaan aksiologis.
1) Landasan Ontologis Pendidikan
Landasan ontologis atau sering juga disebut landasan metafisik
merupakan landasan filsafat yang menunjuk pada keberadaan atau subtansi
sesuatu.misalnya, pendidikan secara ilmiah ditunjukkan untuk
mensistematisasikan konsep-konsep dan praktik pendidikan yang telah dikaji
secara metodologis menjadi suatu bentuk pengetahuan tersendiri yang disebut
ilmu pendidikan
2) Landasan Epitemologis Pendidikan
Epitemologis adalah cabang filsafat yang disebut juga teori mengetahui
dan pengetahuan.Epitemologis sangat penting bagi para pendidik.Akinpelu
(1988:11) mengatakan bahwa area kajian epistemologi ada relevansinya
dengan pendidikan, khususnya untuk kegiatan belajar mengajar di dalam
kelas. Pencarian akan pengetahuan dan kebenaran adalah tugas utama baik
dalam bidang filsafat / etpistemologi maupun pendidikan.
3) Landasan Aksiologis Pendidikan
Aksiologis merupakan cabang filsafat yang membahas teori-teori nilai
dan berusaha menggambarkan apa yang dinamakan dengan kebaikan dan
perilaku yang baik. Bagian dari aksiologi adalah etika dan estetika.Etika
menunjuk pada kajian filsafati tentang nilai-nilai moral dan perilaku
manusia.Estetika berkaitan dengan kajian nilai-nilai keindahan dan
seni.Metafisika membahas tentang hakikat kenyataan terdalam, sedangkan
aksiologi menunjuk pada preskripsi perilaku moral dan keindahan.Para
pendidik selalu memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan
pembentukan nilai-nilai dalam diri para subjek didik dan mendorong kearah
perilaku yang bernilai.
2. Landasan pedagogis
Berfugsi untuk memberikan pemahaman konseptual dan praktis tentang
cara dan proses pendidikan dalam berbagai lingkungan , termasuk didalam
nya pola pengasuhan, model pembelajaran,metode pembelajaran dan lain-lain
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Manusia merupakan makhluk hidup yang di beri kemampuan berfikir yang
berusaha untuk mengetahui segala sesuatu, tidak mau menerima begitu saja. Segala
sesuatu yang dilihatnya, dialaminya selalu dipertanyakan dan dianalisis atau dikaji.
Manusia memiliki ketakjuban, ketidakpuasan, Hasrat bertanya dan keraguan.
Keempat hal tersebut lah yang mendorong lahirnya filsafat.
Filsafat adalah proses pencarian kebenaran dengan cara menelusuri hakikat
dan sumber kebenaran secara sistematis, logis, kritis, rasional, dan spekulatif. Selain
itu, filsafat merupakan seni kritik dengan tidak membatasi diri pada destruksi
pemikiran tentang kebenaran. Filsafat merupakan sesuatu yang sangat asik untuk di
perbincangkan. Ruang lingkup filsafat sendiri meliputi Pencarian kebenaran, Kritik
seni, filsafat pendidikan dll.
Pendidikan yang menurut bahasa berasal dari kata dasar didik, dan diberi
awalan men, menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan
memberi latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda, berarti proses perubahan
sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pendidikan, yaitu pendewasaan diri
melalui pengajaran dan latihan. Filsafat pendidikan merupakan landasan pendidikan
yang menunjuk pada keberadaan atau subtansi sesuatu khususnya untuk kegiatan
belajar mengajar di dalam kelas. Sifat filsafat dalam kajian pendidikan bersifat
bersifat spekulatif dan bersifat preskriptif.
Ruang lingkup filsafat pendidikan mencakup semua aspek yang berhubungan
dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan yang baik
dan bagai mana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang di cita-citakan.
Filsafat merupakan dasar dari pendidikan itu sendiri dimana filsafat merupakan
Landasan dalam pendidikan artinya pendidikan bisa muncul karena adanya filsafat
dalam hal ini landasan filsafat pendidikan adalah landasan filosofis dan landasan
pedagogis.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul.H,Atang.Jaih.Mubarok.(2000).Metodologi Studi Islam.Bandung:Rosdakarya


Dr.H.Wr. Hendra Saputra,M.Hum. 2008. Pengantar Filsafat Pendidikan. PSB FKIP
UHAMKA: Jakarta

Barnadib, i. (1996 ). filsafat pendidikan . Yogyakarta: aditya karya nusa.

Basri, M. D. (2013). Landasan pendidikan. bandung: pustaka setia.

Kneller, F. G. (1971). Introduction to Philosophy of Education. new york: John wiley and Sons
Inc.

rapar, j. h. (1995). Pengantar filsafat. yogyakarta: PT KANISSIUS.


point bertanya:
1. Dampak negatif filsafat? (akmal.f)
(+) delviana: orang yang berfilsafat mengawatirkan agamanya
(+)fadia: fase pencarian nya
(+) elang : jangan berhenti mencari tahu sampai menemukan hasil akhir
2. apa manfaat mempelajari filsafat bagi seorang muslim? (alvian)
3. apa ya
4. ngharus terlebih dahulu dipelajari ketika mempelajari filsafat? (maya)