You are on page 1of 66

PROPOSAL PENELITIAN

POLA PENGELOLAAN GUGUSAN PULAU-PULAU KECIL


DI KAWASAN BELAKANG PADANG
YANG BERKELANJUTAN

Disusun oleh :
Aunurrahman NIM : 26010117510004

PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN


SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS
DIPONEGORO SEMARANG
2018
1
2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan

Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-

Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan W ilayah Pesisir dan

Pulau-pulau Kecil adalah proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan

dan pengendalian sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil antar sektor,

antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut,

serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat.

Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2007 penetapkan Kota

Batam menjadi salah satu bagian dari Kawasan Perdagangan dan

Pelabuhan Bebas. Sebagaimana juga fungsi dan pola ruang yang

terdapat pada Peraturan Presiden No. 87 tahun 2011 tentang Rencana

Tata Ruang Kawasan Batam – Bintan – Karimun.

Penetapan ini terutama didasarkan bahwa daerah tersebut adalah

yang paling siap dan atau potensial karena kondisi infrastruktur dan

posisi geografis yang memadai. Keberadaan kawasan industri, adanya

kapasitas untuk pelayanan terpadu, berada pada lokasi yang strategis,

yaitu berada di Selat Malaka berdekatan dengan Singapura dan

Malaysia, penetapan ini diharapkan menjadi contoh pembangunan KEK


3

lainnya di seluruh Indonesia yang mampu mendorong kegiatan ekspor,

meningkatkan investasi serta dapat menjadi pendorong pertumbuhan

daerah sekitarnya.

Kota Batam sendiri memiliki luas wilayah 1.647,83 Km², yang

terdiri dari lautan 1.035,30 Km² dan daratan 612,53 Km², memiliki 186 buah

pulau dimana 80 buah telah dihuni dan 106 buah pulau belum berpenghuni.

Gugusan Kawasan Belakang Padang, yaitu Pulau Belakang

Padang, Pulau Pemping, Pulau Lumba dan Kepala Jerih memiliki potensi

yang dapat dimanfaatkan. Penelitian mengenai pola pengelolaan pulau-

pulau kecil di Kawasan Belakang Padang, diharapkan dapat

menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan dimaksud dapat dilakukan

secara berkelanjutan, dimana pengelolaan yang berkelanjutan adalah

suatu pengelolaan yang dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi

manusia saat ini, tanpa mengorbankan potensi pemenuhan kebutuhan dan

aspirasinya di masa mendatang.

Pemilihan lokasi penelitian di gugusan pulau kecil Kawasan

Belakang Padang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau dipilih karena

beberapa alasan sebagai berikut:

1. Luas wilayah Kota Batam lebih kurang 1.647,83 Km², yang terdiri dari

lautan 1.035,30 Km² dan daratan 612,53 Km², sedangkan banyaknya

pulau berjumlah 186 buah dimana 80 buah telah dihuni dan 106 buah

pulau belum berpenghuni.


4

2. Pulau kecil sejumlah 186 buah yang dimiliki Kota Batam, enam

diantaranya berada dalam satu gugusan Kawasan Belakang Padang,

yaitu Pulau Belakang Padang (berpenduduk), Pemping (berpenduduk),

Lumba (tidak berpenduduk) dan Kepala Jerih (tidak berpenduduk),

sehingga merupakan lokasi yang tepat untuk dijadikan obyek penelitian

dalam menyusun pola pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil berbasis

kawasan yang berkelanjutan.

1.2. Aktualitas, Orisinalitas dan Noveltis

1.2.1. Aktualitas dan Orisinalitas

Penelusuran dan pelacakan aktualitas, orisinalitas dan novelties

dapat dilihat pada Tabel 1.

1.2.2. Novelties

Harapan penelitian ini adalah menghasilkan novelties berupa pola

pengelolaan Kawasan Belakang Padang yang berkelanjutan, dimana

pengelolaan yang berkelanjutan adalah suatu pengelolaan yang dapat

memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia saat ini, tanpa

mengorbankan potensi pemenuhan kebutuhan dan aspirasinya di masa

mendatang
Tabel 1. Matriks Evidensi Penulusuran/Pelacakan Orisinalitas, Noveltis dan State Of The Arts.
NO PUBLIKASI MASALAH TUJUAN+ HIPOTETIS METODE HASIL (SIMPULAN, SASARAN DAN NOVELTIS)
1 Jurnal Teknologi Perikanan daya dukung, menentukan kelas kesesuaian dan  Pengumpulan data Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas
dan Kelautan Vol. 8 1 Mei ekowisata daya dukung ekowisata bahari untuk jenis biofisik : kesesuaian ekowisata bahari pulau Sayafi dan Liwo
2017: 1-17 bahari pulau kegiatan diving dan snorkeling yang dapat di 1. Kapasistas berada dalam kategori sesuai dan sangat sesuai,
PENGEMBANGAN kecil manfaatkan di pulau Sayafi dan adaptif ekosistem dengan daya tampung untuk jenis kegiatan wisata
EKOWISATA BAHARI Liwo Kecamatan Patani Utara Kabupaten terumbu karang, diving sebanyak 260 orang/hari dengan area
BERBASIS SUMBERDAYA Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 2. Parameter pemanfaatan sebesar 18.07 ha,
PULAU-PULAU KECIL DI Kualitas Perairan dan untuk wisata snorkeling dengan area
PULAU SAYAFI DAN LIWO,  Analisis kesesuaian pemanfaatan sebesar 16.01 ha, mampu
KABUPATEN HALMAHERA kawasan ekowisata menampung wisatawan sebanyak 231 orang/hari
TENGAH. bahari
DOI  Analisis daya dukung
http://dx.doi.org/10.24319/jtp kawasan
k.8.1-17  Analisis daya dukung
adaptif
2 Jurnal Teknologi Perikanan  Potensi sumberdaya alam kelautan dan  Analytical Hierarchy Potensi sumber daya unggulan gugusan pulau-
dan Kelautan Vol. 7 1 Mei perikanan pulau-pulau kecil di Process (AHP) pulau kecil di Kawasan
2016: 11-17 Kawasan Kapoposan dapat menjadi  SWOT (Strenghts, Kapoposan (Pulau Kapoposan, Pulau Gondongbali,
POLA PENGELOLAAN keunggulan komparatif yang Weaknesses, Pulau Pamanggangan,
GUGUSAN PULAU-PULAU kompetitif dalam mengisi pembangunan Opportunities dan Pulau Suranti, Pulau Tambakulu, dan Pulau
KECIL DI KAWASAN daerah dan nasional. Threats) Papandangan) adalah
KAPOPOSAN YANG  Bentuk alternatif pengelolaan yang sesuai  Pendekatan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan jasa
BERKELANJUTAN berdasarkan karakteristik dan daya dukung pola sistem SMO lingkungan sebagai objek wisata
DOI: pulau-pulau kecil di Kawasan Kapoposan (Subyek-Metoda- bahari.
http://dx.doi.org/10.24319/jtp adalah kegiatan pemanfaatan sumberdaya Obyek) Alternatif pilihan utama pengelolaan gugusan
k.6.11-17 kelautan, perikanan dan jasa-jasa  Pendekatan segitiga pulau-pulau kecil di Kawasan
lingkungan yang berbasis konservasi. pengelolaan Kapoposan adalah kegiatan wisata bahari dengan
pola exclusive tourism dengan
 Pola pengelolaan gugusan pulau-pulau sumberdaya dan
kecil di Kawasan Kapoposan dapat berjalan Interpretative konsep yield spending yang memenuhi konsep
optimal jika dilakukan melalui pendekatan  Structural Modelling pembangunan berkelanjutan di
fungsi dan keterpaduan antar pemangku (ISM) pulau-pulau kecil, yaitu economically sound, socio-
kepentingan. culturally acepted and just,
dan enviromentally friendly.
Strategi pengelolaan pengembangan gugusan
pulau-pulau kecil di

5
6

NO PUBLIKASI MASALAH TUJUAN+ HIPOTETIS METODE HASIL (SIMPULAN, SASARAN DAN NOVELTIS)
Kawasan Kapoposan adalah: (1) pengembangan
wisata bahari berbasis
konservasi; (2) penyediaan infrastruktur dasar oleh
pemerintah daerah dan
pusat; (3) kepastian hukum, mekanisme perizinan
investasi dan pelayanan
publik; (4) peningkatan kapasitas kelembagaan
lokal dalam bidang sosial,
ekonomi dan budaya; (5) wisata bahari sebagai
mata pencaharian alternatif
masyarakat pulau-pulau kecil; dan (6) kebijakan
pimpinan nasional dan daerah
berbasis negara kepulauan.
Pola pengelolaan kegiatan wisata bahari di pulau-
pulau kecil di Kawasan
Kapoposan yang berkelanjutan digambarkan
sebagai sebuah cakram hubungan
interdepedensi pengelolaan atau CHIP, yang terdiri
dari empat lingkaran meliputi:
(1) poros adalah kondisi eksisting pulau-pulau kecil
di Kawasan Kapoposan; (2)
strategi pengelolaan gugusan pulau-pulau kecil di
Kawasan Kapoposan; (3)
pemangku kepentingan meliputi Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, dunia
usaha (korporat/investor), dan institusi non birokrasi
(perguruan tinggi, LSM, dan
tokoh masyarakat/tokoh agama); dan (4) pola
exclusive tourism (wisata spesifik)
dalam pengelolaan wisata bahari pulau-pulau kecil
di Kawasan Kapoposan yang
berkelanjutan.
Beberapa aspek secara umum yang paling
berperan dalam pengembangan
gugusan pulau-pulau kecil dalam upaya
peningkatan kesejahteraan melalui
7

NO PUBLIKASI MASALAH TUJUAN+ HIPOTETIS METODE HASIL (SIMPULAN, SASARAN DAN NOVELTIS)
pemberdayaan masyarakat pulau-pulau kecil
adalah: (1) pemerintah pusat:
pemerataan pembangunan dan pembangunan
terpadu; (2) pemerintah daerah:
3 Jurnal Teknologi Perikanan indeks Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi  Analisis data pasang Hasil analisis kerentanan pantai menunjukan
dan Kelautan Vol. 7 No. 1 kerentanan bagian-bagian mana saja dari suatu pantai surut geomorfologi
Mei 2016: 21-38 pantai, yang dinilai memiliki tingkat kerentanan yang  Analisis data pantai dan kemiringan pantai merupakan variabel
ANALISIS KERENTANAN kerentanan tinggi dan faktor-faktor apa saja kedalaman perairan tingkat kerentanan tinggi hingga sangat tinggi
PANTAI TIMUR PULAU pantai yang mengakibatkan kerentanan kawasan  Analisis citra satelit dengan skor kerentanan
BINTAN MENGGUNAKAN pantai tersebut.  Analisis data arah masing-masing variabel adalah 4.75 dan 5 (rentang
DIGITAL SHORELINE dan kecepatan angin skala skor berkisar antara 1-5). Indeks kerentanan
ANALYSIS DAN COASTAL  Peramalan pantai timur Pulau
VULNERABILITY INDEX gelombang laut Bintan berkisar antara 3.16-3.54 dengan rata-rata
DOI:  Analisis perubahan 3.33 yang menunjukan bahwa tingkat kerentanan
http://dx.doi.org/10.24319/jtp garis pantai pantai timur Pulau
k.7.21-38 Bintan berada dalam kategori rendah.
4 Procedia - Social and Penelitian ini dilakukan untuk memberikan  Analytical Hierarchy Pulau Gili Timur Propinsi Jawa Timur berpotensi
Behavioral Sciences 227 ( informasi dasar Process (AHP) untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata.
2016 ) 785 – 790 kondisi biofisik dan merumuskan strategi  SWOT (Strenghts, Ini didukung
Planning for sustainable menuju pengelolaan pulau yang berkelanjutan. Weaknesses, dengan kondisi terumbu karang yang bagus di
small island management: Opportunities dan sekitar pulau. Terumbu karang pada kedalaman 5
case study of Threats) meter berada dalam kondisi baik
Gili Timur Island East Java (rata-rata tutupan karang hidup 53,72%),
Province Indonesia. sedangkan pada kedalaman 10 meter berada
doi: dalam kondisi sedang (rata-rata karang hidup
10.1016/j.sbspro.2016.06.14 tutup 34,09%). Pengelolaan pulau harus
6 mempertimbangkan aspek lingkungan melalui
upaya konservasi dan
menjaga kualitas lingkungan sebagai prioritas
utama. Pengelolaan berwawasan lingkungan
menginformasikan ekowisata
akan sangat membantu pengelolaan berkelanjutan
Pulau Gili Timur. Pendekatan ini diharapkan bisa
menunjang ekonomi
pertumbuhan penduduk setempat melalui
peningkatan produktivitas perikanan, meningkatkan
8

NO PUBLIKASI MASALAH TUJUAN+ HIPOTETIS METODE HASIL (SIMPULAN, SASARAN DAN NOVELTIS)
pendapatan dari pariwisata dan menciptakan yang
baru
5 Procedia - Social and Menilai kapasitas daya dukung Poteran untuk  Analytical Hierarchy Kedua wilayah darat dan laut miliki
Behavioral Sciences 227 ( pengembangan pulau kecil di masa depan. Process (AHP) potensi signifikan untuk pengembangan ke depan.
2016 ) 761 – 769  SWOT (Strenghts, Indeks pemanfaatan untuk perkembangan saat ini
Poteran Carrying Capacity Weaknesses, menunjukkan bahwa pulau tersebut memiliki
for Small Island Opportunities dan pemanfaatan yang tidak maksimal sehingga
Development Threats) mengakibatkan pulau tersebut dalam kondisi buruk.
doi: Indeks pemanfaatan yang rendah dengan
10.1016/j.sbspro.2016.06.14 tingkat sumber daya alam yang tinggi juga
3 menunjukkan ruang yang memadai untuk
pengembangan masa depan. Di
Kondisi kinerja di setiap desa, ketergantungan ke
pulau utama membuat pulau ini menjadi daerah
yang tertinggal. Oleh karena itu, pengembangan
intensif masa depan
penting untuk membuat pulau Poteran tidak
tergantung dengan pulau-pulau disekitarnya
6 Tourism Management Menganalisis pertumbuhan ekonomi pulau kecil  Model yang disajikan menjawab pertanyaan
Economics of tourism & yang bergantung pada pariwisata. tentang elastisitas permintaan, elastisitas
growth for small island pendapatan wisatawan dan
countries Persaingan di sektor jasa hotel memengaruhi
http://dx.doi.org/10.1016/j.tou pengembangan ekonomi pulau kecil. Salah satu
rman.2016.02.020 hasil utamanya adalah
bahwa kebijakan yang mengarah pada persaingan
yang ketat di sektor jasa
akan memaksimalkan tingkat pertumbuhan dan
pendapatan nasional. Model yang disajikan dapat
diperluas untuk menangkap hal penting lainnya
tentang aspek seperti peran undang-undang hak
atas tanah, perencanaan tata ruang, kontrol modal,
kebijakan pajak dan infrastruktur publik.
1.3. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut

sebagai berikut :

1. Masih kuatnya pengaruh paradigma pembangunan yang bertitik berat

pada pembangunan daratan (land base oriented) yang mengejar

pertumbuhan ekonomi semata. Dibutuhkan adanya suatu penyediaan

data hasil identifikasi potensi sumberdaya alam Pulau Belakang

Padang, Pemping, Kepala Jerih dan Lumba

2. Belum terpadunya keberadaan stakeholders (Pemerintah Pusat

melalui BP Batam, Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan institusi non

birokrasi), yang dengan perannya masing-masing mempengaruhi

pengambilan strategi dan kebijakan pengelolaan kawasan Belakang

Padang.

3. Pola pengelolaan yang tepat sesuai dengan kondisi eksisting

pulau-pulau kecil Kawasan Belakang Padang

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka kerangka pemikiran

penelitian ini seperti disampaikan pada Gambar 1.

9
10

Gambar 1 Rumusan masalah penelitian

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah:

1. Mengidentifikasi potensi sumberdaya pulau-pulau kecil di Kawasan

Belakang Padang bagi kepentingan pengembangan kawasan.

2. Memilih bentuk alternatif pengelolaan dan merumuskan strategi

pengelolaan sumberdaya pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang

Padang.

3. Menyusun pola pengelolaan gugusan pulau-pulau kecil di Kawasan

Belakang Padang yang berkelanjutan.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian adalah:

1. Memberikan alternatif pengelolaan gugusan pulau-pulau kecil di


11

Kawasan Belakang Padang yang sesuai pemangku kepentingan.

2. Memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi kelautan dan

perikanan yang tepat guna di kawasan pulau-pulau kecil.

3. Memberikan kontribusi bagi penelitian selanjutnya dalam menyusun

pola pengelolaan pulau-pulau kecil sesuai dengan kondisi eksisting di

wilayah lainnya di Indonesia.

4. Memberikan kontribusi bagi Pemerintah (Pusat dan Daerah) berupa

konsep pola pengelolaan pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang

Padang yang berkelanjutan.

1.6. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian adalah:

1. Potensi sumberdaya alam kelautan dan perikanan pulau-pulau kecil

di Kawasan Belakang Padang dapat menjadi keunggulan komparatif

yang kompetitif dalam mengisi pembangunan daerah dan nasional.

2. Bentuk alternatif pengelolaan yang sesuai berdasarkan karakteristik

dan daya dukung pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang Padang

adalah kegiatan pemanfaatan sumberdaya kelautan, perikanan dan

jasa-jasa lingkungan yang berbasis konservasi.

3. Pola pengelolaan gugusan pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang

Padang dapat berjalan optimal jika dilakukan melalui pendekatan fungsi

dan keterpaduan antar pemangku kepentingan.


12

Gambar 2 Kerangka teori penelitian


13

Gambar 3 Kerangka konsep penelitian


14

BAB II TINJAUAN

PUSTAKA

2.1. Batasan, Pemanfaatan, dan Karakteristik Pulau-pulau Kecil

Definisi pulau adalah area lahan (daratan) yang terbentuk

secara alami, dikelilingi oleh air,yang berada di atas muka air pada

saat pasang tertinggi (UNCLOS, 1982). Pulau Kecil adalah pulau dengan

luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km 2 (dua ribu kilometer

persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya (UU No. 1 Tahun

2014).

Mengacu kepada undang-undang yang sama pulau-pulau kecil

dan perairan di sekitarnya pemanfaatannya di prioritaskan kepada salah

satu atau lebih kepentingan diantaranya: (1) konservasi; (2) pendidikan

dan pelatihan; (3) penelitian dan pengembangan; (4) budidaya laut; (5)

pariwisata; (6) usaha perikanan dan kelautan dan industri perikanan

secara lestari; (7) pertanian organik; dan/atau (8) peternakan.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor

PER.20/MEN/2008, menyatakan bahwa pemanfaatan pulau-pulau kecil

dan perairan di sekitarnya dilakukan untuk kepentingan pembangunan di

bidang ekonomi, sosial dan budaya dengan berbasis masyarakat dan

secara berkelanjutan, yang dilakukan dengan memperhatikan aspek: (1)

keterpaduan antara kegiatan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah,

antar Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan masyarakat


15

(termasuk pemangku kepentingan lainnya seperti perguruan tinggi, lembaga

swadaya masyarakat, para tokoh masyarakat dan tokoh agama) dalam

perencanaan dan pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil dan perairan di

sekitarnya; (2) kepekaan/kerentanan ekosistem suatu kawasan yang

berupa daya dukung lingkungan, dan sistem tata air suatu pulau kecil;

(3) ekologis yang mencakup fungsi perlindungan dan konservasi; (4) kondisi

sosial dan ekonomi masyarakat; (5) politik yang mencakup fungsi

pertahanan, keamanan, dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik

Indonesia; (6) teknologi ramah lingkungan; serta (7) budaya dan masyarakat

adat, masyarakat lokal, serta masyarakat tradisional

2.2. Potensi Sumberdaya Pulau-pulau Kecil

2.2.1. Terumbu Karang (Coral Reefs)

Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang memiliki

keanekaragaman hayati yang tinggi karena didalamnya terdapat sumber

makanan dan memberikan perlindungan bagi biota yang hidup

didalamnya (Cátia et al., 2016). Terumbu karang merupakan organisme

berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat menahan gaya

gelombang laut. Sedangkan organisme–organisme yang dominan hidup

disini adalah binatang-binatang karang yang mempunyai kerangka kapur,

dan algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur (Vernon,

2010). Manikandan (2006) menyatakan Ekosistem terumbu karang

berfungsi sebagai penyedia jasa ekonomis dan ekologis.


16

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem laut yang saat ini

paling banyak menerima tekanan sehingga terus mengalami penurunan

(Lasagna et al., 2014, Michaela, 2017). Ekosistem terumbu karang sangat

dipengaruhi oleh aktifitas pembangunan diwilayah pesisir (Van der Meij et

al., 2010).

Diprakirakan sebesar 19% ekosistem terumbu karang yang ada

didunia telah mengalami kerusakan secara permanen dan 60 % dari nilai

tersebut disebabkan oleh aktifitas manusia (Baum et al., 2015).

Pencemaran dari aktifitas manusia merupakan penyebab utama dari

penurunan kesehatan terumbu karang (Johan et al., 2015). Aktifitas

perikanan maupun pariwisata berkontribusi terhadap penurunan

kesehatan terumbu karang (Brown et al, 2001). Aktifitas pariwisata

merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan termbu karang,

baik secara mekanis maupun melalui polusi yang dihasilkan dari aktifitas

tersebut (Ferrigno, 2016).

Ekosistem terumbu karang terdapat di lingkungan perairan yang

agak dangkal dan merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan

paling tinggi keanekaragaman hayatinya. Pertumbuhan maksimum

kehidupan terumbu karang berada pada perairan yang jernih, suhu yang

hangat, gerakan gelombang yang cukup besar dengan sirkulasi yang

lancar agar terhindar dari proses sedimentasi. Terumbu karang

merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan paling tinggi

keanekaragaman hayatinya. Produksi primer kotor di daerah terumbu


17

karang rata-rata bervariasi dari 300-5.000 gram karbon per meter bujur

sangkar per tahun (gC/m²/tahun), sebagai pembanding, produktivitas

laut lepas hanya berkisar 50-100 gC/m²/tahun. Potensi lestari sumberdaya

perikanan karang di perairan Indonesia sebesar 75.875 ton/tahun,

sedangkan potensi perikanan laut (tuna/cakalang, udang, demersal,

pelagis kecil dan lainnya) sekitar 4,948,824 ton/tahun. Perairan

Indonesia memiliki sekitar 350 spesies karang keras yang termasuk ke

dalam 75 genera (Supriharyono, 2000).

DKP (2007), menyebutkan terumbu karang sangat bermanfaat bagi

manusia dan sedikitnya memiliki empat fungsi meliputi:

1. Fungsi pariwisata berupa keindahan karang, kekayaan biologi, dan

kejernihan air yang membuat kawasan terumbu karang terkenal

sebagai tempat rekreasi, skin diving atau snorkeling, scuba diving dan

fotografi;

2. Fungsi perikanan, sebagai tempat ikan-ikan karang ekonomis tinggi

yang menjadi target penangkapan. Jumlah produksi ikan, kerang, dan

kepiting dari ekosistem terumbu karang secara lestari di seluruh dunia

dapat mencapai 9 juta ton atau sedikitnya 12% dari jumlah tangkapan

perikanan dunia. Terumbu karang dalam kondisi yang sangat baik

mampu menghasilkan sekitar 18 ton/km²/tahun, terumbu karang dalam

kondisi baik mampu menghasilkan 13 ton/km²/tahun, dan terumbu

karang dalam kondisi yang cukup baik mampu menghasilkan 8

ton/km²/tahun;
18

3. Fungsi pelindung pantai, sebagai terumbu tepi (fringing reef) dan

terumbu penghalang (barrier reef) terumbu karang merupakan pemecah

gelombang alami yang melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan

peristiwa perusakan lain yang diakibatkan oleh fenomena air laut.

Terumbu karang juga memberikan kontribusi untuk penumpukan pantai

dengan memberikan pasir untuk pantai dan memberikan perlindungan

terhadap desa-desa dan infrastruktur seperti jalan dan bangunan-

bangunan lain yang berada di sepanjang pantai. Apabila dirusak, maka

diperlukan milyaran rupiah untuk membuat penghalang buatan yang

setara dengan bentuk lahan terumbu karang dimaksud;

4. Fungsi keanekaragaman hayati (biodiversity), dimana ekosistem

terumbu karang memiliki produktivitas dan keanekaragaman jenis biota

yang tinggi. Produktivitas terumbu karang yang tinggi memungkinkan

kawasan dimaksud sebagai tempat pemijahan (spawning ground),

pengasuhan (nursery ground) dan mencari makan (feeding ground) dari

kebanyakan jenis ikan, yang secara otomatis membuat produksi ikan di

daerah ini pun menjadi tinggi. Selain itu, terumbu karang berfungsi pula

sebagai pelindung pantai dari abrasi, dan dari segi sosial ekonomi,

terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif dalam

meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir dan pulau-pulau

kecil, serta dapat menjadi sumber pemasukan devisa bagi negara yang

berasal dari perikanan dan pariwisata. Dewasa ini, ditenggarai berbagai

jenis biota yang hidup pada ekosistem terumbu karang ternyata


19

banyak mengandung senyawa bioaktif sebagai bahan obat-obatan,

makanan dan kosmetika.

2.2.2. Padang Lamun (Seagrass Beds)

DKP (2007), menyebutkan bahwa lamun merupakan tumbuhan berbiji

tunggal (monokotil) dari kelas angiospermae yang memiliki rhizoma,

daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut. Lamun

mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang

dihasilkan secara sexual (dioecious). Lamun umumnya membentuk

padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh

cahaya matahari untuk mendukung pertumbuhannya. Padang lamun di

perairan Indonesia sering dijumpai berdekatan dengan ekosistem mangrove

dan terumbu karang, sehingga interaksi ketiga ekosistem ini satu sama

lain sangat erat. Struktur komunitas dan sifat fisik ketiga ekosistem ini saling

mendukung, sehingga bila salah satu ekosistem terganggu, ekosistem yang

lain pun akan terpengaruh. Fungsi padang lamun di antaranya adalah

menangkap sedimen, menstabilkan substrat dasar dan menjernihkan air,

sumber makanan dan habitat beberapa jenis hewan air, serta menjadi

substrat organisme yang menempel. Meskipun produktivitas primer

komunitas lamun mencapai 1 kg C/m2/thn, dari jumlah tersebut hanya

sekitar 3% yang dimanfaatkan oleh herbivora, 37% tenggelam ke perairan

dan dimanfaatkan oleh benthos, dan 12% mengapung di permukaan dan

hilang dari ekosistem. Padang lamun


20

mendukung kehidupan biota yang beragam, berhubungan satu sama lain

dengan jaringan makanan yang kompleks.

Menurut Supriharyono (2000), padang lamun (seagrass beds)

merupakan ekosistem yang memiliki arti penting secara ekologis dan

ekonomis dengan fungsi meliputi:

1. Sebagai perangkap sedimen yang kemudian diendapkan dan

distabilkan serta menjernihkan air,

2. Lamun segar merupakan makanan bagi ikan duyung (hewan

menyusui), penyu laut, bulu babi, dan beberapa jenis ikan. Padang

lamun merupakan daerah pengembalaan (grazing ground) yang

penting artinya bagi hewan- hewan laut tersebut. Ikan laut lain dan udang

tidak makan daun segar tapi serasah (detritus) dari lamun. Detritus ini

dapat tersebar luas oleh arus ke perairan di sekitar padang lamun,

3. Merupakan habitat bagi bermacam-macam ikan (umumnya ikan

berukuran kecil) dan udang,

4. Pada permukaan daun lamun hidup melimpah ganggang-ganggang

renik (biasanya ganggang bersel tunggal), hewan-hewan renik, dan

mikroba yang merupakan makanan bagi bermacam jenis ikan yang

hidup di padang lamun,

5. Banyak jenis ikan dan udang yang hidup di perairan sekitar padang

lamun menghasilkan larva yang bermigrasi ke padang lamun untuk

tumbuh besar. Bagi larva-larva ini padang lamun memang menjanjikan


21

kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhannya. Dengan

demikian perusakan padang lamun berarti merusak daerah asuhan

(nursery ground) larva-larva tersebut,

6. Daun lamun berperan sebagai tudung pelindung yang menutupi

penghuni padang lamun dari sengatan sinar matahari,

7. Tumbuhan lamun dapat digunakan sebagai bahan makanan dan pupuk

misal: samo-samo (enhalus acoroides) oleh penduduk Kepulauan

Seribu telah dimanfaatkan bijinya sebagai bahan makanan.

2.2.3. Hutan Bakau (Mangrove)

Hutan bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai

tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang

mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai

berlumpur. Beberapa manfaat hutan mangrove diantaranya adalah: (1)

kayunya memiliki kalori yang tinggi sehingga dapat digunakan menjadi

kayu bakar atau arang; (2) kulit kayunya merupakan sumber tannin, lem

ply wood, dan zat pewarna; (3) daunnya dapat digunakan sebagai obat

tradisional dan juga sebagai makanan ternak; (4) akarnya efektif untuk

menangkap sedimen, memperlambat kecepatan arus dan erosi pantai;

(5) tempat mencari makan dan berlindung berbagai juvenile ikan dan

hewan lainnya; dan (6) merupakan suatu penyangga antara komunitas

lautan dan pesisir. Hutan bakau merupakan ekosistem pesisir yang

mempunyai produktivitas tinggi mencapai 5.000 gC/m²/tahun


22

(Supriharyono, 2000).

Hutan bakau kadang disebut juga hutan payau atau hutan

pasang surut, umumnya memiliki vegetasi yang terdiri atas jenis-jenis

yang selalu hijau (evergreen plant) dari beberapa jenis tanaman yaitu

Avicennia dan Rhizophora. Perakaran hutan bakau yang kokoh memiliki

kemampuan untuk meredam pengaruh gelombang, menahan lumpur, dan

melindungi pantai dari erosi, gelombang pasang, dan angin topan. Hutan

bakau (mangrove) memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah: (1)

secara fisik, dengan menjaga dan menstabilkan garis pantai dan tepian

sungai, serta mempercepat pertumbuhan lahan baru; (2) secara biologi,

yaitu sebagai tempat asuhan (nursery ground), mencari makan (feeding

ground), tempat berkembang biak berbagai jenis crustacea, ikan, burung,

anggrek dan paku pakis; (3) merupakan penghasil zat hara seperti

nitrogen, magnesium, natrium, kalsium, fosfor dan sulfur; (4) pemanfaatan

secara ekonomi dengan tujuan budidaya ikan, udang, kepiting, dan tiram;

serta (5) berpotensi sebagai kawasan pariwisata (Bengen, 2003).

Sumberdaya Ikan

DKP (2003), menyatakan bahwa secara ekologis, pulau-pulau kecil

di daerah tropis dan subtropis sangat berasosiasi dengan terumbu

karang, sehingga kawasan ini memiliki spesies-spesies ekonomis yang

menggunakan karang sebagai habitatnya seperti ikan kerapu, napoleon,

kima raksasa (Tridacna gigas), teripang dan lain-lain. Komoditas


23

dimaksud dapat dikatakan sebagai komoditas spesifik pulau kecil,

dengan ciri utama memiliki sifat penyebaran yang bergantung pada

terumbu karang sehingga keberlanjutan stoknya dipengaruhi oleh

kesehatan karang. Potensi sektor kelautan dan perikanan mencakup

potensi perikanan tangkap dan budidaya laut di kawasan pulau-pulau

kecil secara keseluruhan memiliki nilai sekitar US$ 72 milyar pertahun.

Menurut Dahuri (2003), rendahnya produktivitas perikanan tangkap

di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil nelayan disebabkan karena tiga

faktor utama meliputi: (1) sebagian besar nelayan masih merupakan

nelayan tradisional dengan teknologi penangkapan yang tradisional pula,

sehingga kapasitas tangkapnya rendah. Hanya sekitar 17 persen dari total

armada perikanan nasional yang dapat dikategorikan sebagai nelayan

modern. Hal ini sekaligus mencerminkan rendahnya kualitas sumberdaya

manusia nelayan dan kemampuan IPTEK penangkapan ikan; (2) adanya

ketimpangan tingkat pemanfaatan stok ikan antara satu kawasan dengan

kawasan perairan laut lainnya. Di satu pihak, terdapat kawasan-kawasan

perairan yang stok ikannya sudah mengalami kondisi overfishing, seperti

Selat Malaka, Pantai Utara Jawa, Selat Bali, dan Selatan Sulawesi; dan

sebaliknya masih cukup banyak kawasan perairan laut yang tingkat

pemanfaatan sumberdaya ikannya belum optimal atau bahkan belum

terjamah sama sekali; dan (3) telah terjadinya kerusakan lingkungan

ekosistem laut, seperti kerusakan hutan mangrove, terumbu karang, dan

padang lamun (seagrass beds), yang padahal mereka itu merupakan


24

tempat (habitat) ikan dan organisme laut lainnya berpijah, mencari makan,

atau membesarkan diri (nursery ground). Kerusakan lingkungan laut ini

juga disebabkan oleh pencemaran baik yang berasal dari kegiatan

manusia di darat maupun di laut.

Sedangkan dalam usaha budidaya perikanan, faktor-faktor yang

menyebabkan rendahnya produktivitas meliputi: (1) kemampuan teknologi

budidaya (mencakup pemilihan induk, pemijahan, penetasan, pembuahan,

pemeliharaan larva, pendederan, pembesaran, manajemen kualitas air,

manajemen pemberian pakan, genetika (breeding), manajemen kesehatan

ikan, dan teknik perkolaman) sebagian besar pembudidaya ikan masih

rendah; (2) kompetisi penggunaan ruang (lahan perairan) antara usaha

budidaya perikanan dengan kegiatan pembangunan lainnya (pemukiman,

industri, pertambangan, dan lainnya) pada umumnya merugikan usaha

budidaya perikanan. Belum ada Pemerintah Daerah (propinsi atau

kabupaten/kodya) yang menjadikan kawasan budidaya perikanan (tambak

udang) sebagai kawasan khusus/tertentu, yang harus dilindungi dari

segenap upaya konversi lahan atau pencemaran, dalam tata ruangnya; (3)

semakin memburuknya kualitas air sumber untuk budidaya perikanan,

khususnya di kawasan padat penduduk atau tinggi intensitas

pembangunannya, sehubungan dengan berkembangnya kegiatan industri,

pertanian, dan rumah tangga (pemukiman dan perkotaan) yang tidak

ramah lingkungan atau membuang limbahnya ke lingkungan alam (perairan)

tanpa memenuhi ambang batas baku mutu air buangan limbah;


25

dn (4) struktur dan mekanisasi diseminasi teknologi yang lemah disebabkan

kelangkaan tenaga penyuluh perikanan serta tenaga penyuluh pertanian,

sehingga tingkat inovasi teknologi sulit ditingkatkan (Dahuri,

2003).

Jasa-jasa Lingkungan

DKP (2003), menyatakan bahwa pulau-pulau kecil memberikan

jasa-jasa lingkungan yang tinggi nilai ekonomisnya yang dapat

dimanfaatkan terutama untuk pengembangan pariwisata dan pelayaran.

Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi

salah satu produk pariwisata yang menarik dunia internasional.

Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya

untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata

bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, yang

terwujud dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora

dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang

diperkirakan sekitar 263 jenis. Beberapa pemanfaatan jasa-jasa

lingkungan di pulau-pulau kecil untuk kegiatan pariwisata meliputi: (1)

Wisata Bahari. Kawasan ini berhubungan sangat erat dengan terumbu

karang (coral reef), khususnya hard corals.; (2) W isata Teresterial. Wisata

terestrial misalnya adalah Taman Nasional (TN) Komodo di Nusa

Tenggara Timur, sebagai lokasi Situs Warisan Dunia (World Herritage

Site); dan (3) W isata Kultural. Budaya dan kearifan tradisional masyarakat
26

lokal mempunyai nilai komoditas wisata yang tinggi sebagai obyek wisata

kultural, seperti misalnya di masyarakat Suku Lamalera di Pulau Lembata,

Nusa Tenggara Timur yang mempunyai budaya heroik berburu paus secara

tradisional (traditional whales hunter).

2.3. Pengelolaan Pulau-pulau Kecil

Kebijakan pengelolaan yang berorientasi pada wilayah darat telah

menyebabkan terjadinya ketimpangan pembangunan. Menurut

Martadiningrat (2009), menyatakan bahwa konsep pembangunan yang

lebih berorientasi pada wilayah daratan merupakan konsep yang tidak

tetap. Melihat kepada fakta bahwa Indonesia merupakan Negara

kepulauan maka pembangunan harus lebih ditekankan kepada

pembangunan di bidang kemaritiman. Lebih lanjut dinyatakan oleh Muladi

(2009), dengan mengarahkan pembangunan kepada wilayah laut tidak

berarti mengabaikan potensi yang ada di daratan, akan tetapi

pembangunan pada kedua wilayah ini dilakukan secara sinergi dan

menjadi satu kesatuan konsep.

Menurut Dahuri et.al., (2001), pengelolaan berkelanjutan memiliki

pengertian sebagai suatu usaha strategi terkait dengan pemanfaatan

ekosistem alamiah yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga dapat

memberikan manfaat dengan tetap memperhatikan kelestariannya . Pola

pemanfaatan yang demikian merupakan pola pemanfaatan yang

memperhatikan dampak terhadap subjek itu sendiri


27

Dahuri (2000), menyatakan bahwa sektor-sektor pembangunan

yang dapat dipilih menjadi sektor keunggulan lokal untuk memulihkan

kembali kemampuan dan kapasitas produksi ekonomi nasional dan

melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi, mengandung syarat-syarat

diantaranya: (1) sektor tersebut mampu menghasilkan devisa yang cukup

besar; (2) permintaan sektor tersebut di pasaran nasional dan

internasional yang tinggi; (3) faktor-faktor produksi sektor tersebut di

dalam negeri relatif tersedia dalam jumlah yang besar; (4) sektor tersebut

dapat menyerap jumlah tenaga kerja lokal yang besar untuk menekan

jumlah pengangguran yang meningkat akibat pertambahan angkatan kerja

baru; (5) sektor tersebut dapat melibatkan partisipasi masyarakat dalam

proses produksi; (6) menarik minat penanaman modal dan investasi yang

besar; serta (7) terbebasnya sektor itu dari hambatan-hambatan berusaha,

baik yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi maupun kebijakan dan

politik.

2.4. Pengembangan Wisata Bahari di Pulau-pulau Kecil

Negara kepulauan kecil cenderung bergantung pada pariwisata

daripada negara bagian yang lebih besar (Ellul, 1999; McElroy dan

Olazarri, 1997; Liu dan Jenkins, 1995; Hein, 1990 dan UNCTAD, 1990).

Alasan ini dapat dikaitkan dengan keunggulan komparatif yang

cenderung dimiliki oleh pulau-pulau kecil dalam hal pemanfaatan pada

sector pariwisata.
28

DKP (2006) menyatakan, bahwa laut Indonesia merupakan bagian

terbesar di kawasan Asia Tenggara yang memiliki potensi wisata bahari

yang beraneka ragam dengan berbagai keunikan yang lebih tinggi dan

kelangkaan yang lebih banyak. Asean yang merupakan bagian dari Asia

Tenggara memiliki potensi pariwisata bahari yang lebih baik dibandingkan

dengan kawasan Mediterranian dan Carribean. Dalam konteks tersebut,

Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari di pulau-

pulau kecil terbesar di dunia, dengan basis Marine Ecotourism, khususnya

dalam pengembangan wisata bahari, yaitu bagian dari wisata lingkungan

atau ekowisata yang kegiatannya berdasarkan daya tarik kelautan. Kegiatan

ini merupakan industri jasa-jasa kelautan yang kian hari makin menjanjikan.

Daya tarik wisata bahari mencakup kegiatan yang beragam, antara lain

perjalanan dengan moda laut, pengamatan kekayaan alam laut dan

melakukan kegiatan di laut seperti memancing, selam, selancar, dayung

maupun menyaksikan upacara adat.

DKP (2006), menyebutkan bahwa nilai ekonomi wisata bahari

di pulau- pulau kecil meliputi beberapa hal berikut:

1. Keunggulan komparatif alam Indonesia (khususnya berupa sebaran

terumbu karang di pesisir dan pulau-pulau kecil) merupakan dasar

wisata bahari berbasis ekowisata yang memberikan nilai ekonomi

sangat besar bagi pembangunan daerah dan nasional;

2. Pengembangan dan pembangunan wisata bahari dengan adanya

kunjungan wisatawan memiliki efek ganda atau multiplier effect


29

meliputi:

a. Penyerapan tenaga kerja lokal guna menekan pengangguran;

b. Pelestarian lingkungan perairan yang mendukung kelimpahan

sumberdaya ikan bagi perikanan tangkap dan terjaganya kualitas

perairan dalam mendukung kegiatan budidaya

c. Memacu pertumbuhan ekonomi sektor perikanan lokal seperti

berdirinya industri perikanan rumah tangga masyarakat lokal

meliputi penangkapan, pengolahan dan pemasaran hasil

perikanan bagi wisatawan;

d. Memacu pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan/niaga

berupa pembelian barang primer (seperti 9 bahan pokok),

sekunder (seperti hasil bumi dan kerajinan tangan), dan tersier

(seperti jasa atau service pemandu wisata serta penyewaan alat-

alat rekreasi seperti perahu, alat selam dan lainnya);

e. Pembangunan fasilitas kenyamanan seperti resort dan restoran

(oleh investor), ataupun pemanfaatan home stay dan warung makan

milik masyarakat setempat;

f. Pembukaan jalur transportasi baik udara, laut maupun darat yang

membuka keterisolasian dari lokasi pulau kecil tujuan wisata ke

pulau- pulau kecil di sekitarnya;

g. Masuknya devisa melalui wisatawan asing dan kapal-kapal pesiar

yang melintas dan singgah di Indonesia.

Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor


30

KM.67/UM.001/MKP/2004 menyatakan pula bahwa kegiatan wisata

bahari di pulau-pulau kecil yang berada dalam kawasan konservasi

secara timbal balik membutuhkan dan menyumbang beragam kebutuhan

serta manfaat bagi upaya- upaya konservasi lingkungan meliputi:

1. penerimaan keuntungan dari sektor wisata bahari merupakan

dukungan secara keuangan/finansial bagi upaya konservasi lingkungan.

2. wisata bahari telah terbukti ditopang oleh perencanaan dan

pengelolaan lingkungan yang komprehensif, pengelolaan sistem yang

efisien, bersih dan aman, yang dilakukan demi menjaga eksistensi

industri wisata bahari itu sendiri.

3. peningkatan kesadaran masyarakat lokal atas pentingnya arti

pelestarian lingkungan, karena wisata bahari berjalan dalam kerangka

konservasi lingkungan sejak lahir hingga mati (from cradle to grave) .

Menurut DKP (2006), jika ditinjau dari aspek kepentingan bangsa,

pengembangan kawasan wisata bahari di pulau-pulau kecil dan pulau- pulau

kecil terluar merupakan suatu kegiatan strategis yang sangat besar

pengaruhnya terhadap keberhasilan program-program pembangunan

daerah dan nasional yang berkelanjutan, serta diharapkan dapat

mendorong dalam upaya:

1) Meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat setempat yang akan

menyokong pertumbuhan ekonomi nasional;

2) Meningkatkan ketahanan nasional serta keutuhan bangsa dan negara,


31

karena kegiatan pariwisata bahari memberikan suatu makna akan

eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah

tersebut, terutama pulau-pulau kecil yang terletak di posisi terdepan

pada batas demarkasi dan zona ekonomi eksklusif NKRI.

2.5. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Keparawitasataan.

2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Tata Ruang.

3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan

Pokok Pertahanan Keamanan.

4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United

Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), 1982

5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1990 tentang Konservasi

Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

6. UU No. 6/1996 Tentang wilayah perairan Indonesia

7. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 Tentang

Wilayah Negara

8. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang

Perubahan atas Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang

Perikanan

9. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup

10. Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-


32

Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir

dan Pulau-pulau Kecil

11. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang

Pemerintahan Daerah

12. Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 2016 Tentang perlindungan dan

pemberdayaan nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam

13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005

Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar

14. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian

Pencemaran dan/atau Perusakan Laut

15. Peraturan Presiden No. 87 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang

Kawasan Batam –Bintan – Karimun

16. Peraturan Pemerintah (PP) No 46 Tahun 2007 tentang Kawasan

Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam

17. Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2010

tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT).

18. Peraturan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor KM.67 /

UM.001/MKP/2004 Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata Di

Pulau - Pulau Kecil. 44 hl

19. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor PER.

20/MEN/2008 tentang Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil dan Perairan di

Sekitarnya. Jakarta. 13 hlm.


33

20. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor

18/PERMEN-KP/2014 Tentang wilayah pengelolaan perikanan negara

republik Indonesia (WPPNRI 711 meliputi perairan Selat Karimata,

Laut Natuna, dan Laut China Selatan

21. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor

57/PERMEN-KP/2014 Tentang Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah

Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia

22. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor

40/PERMEN-KP/2014 Tentang Peran Serta dan Pemberdayaan

Masyarakat Dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau

Kecil

23. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor

23/permen-kp/2016 tentang perencanaan pengelolaan wilayah pesisir

dan pulau-pulau kecil

24. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor

71/PERMEN-KP/2016 Tentang Jalur Penangkapan Ikan dan

Penempatan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan

Perikanan Negara Republik Indonesia

25. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001

Tentang : Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang

26. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 2004

Tentang : Kriteria Baku Dan pedoman penentuan kerusakan mangrove

27. Keputusan Menteri Negara lingkungan hidup nomor 51 tahun 2004


34

Tentang baku mutu air laut

28. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 200 Tahun

2004 Tentang kriteria baku kerusakan dan pedoman penentuan status

padang lamun

29. Perda No.1 Tahun 2017 Tentang RTRW Provinsi Kepulauan Riau

2017-2037
35

BAB III

METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Empat pulau Kawasan Belakang Padang,

Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau meliputi: (1) Pulau Belakang

Padang, (2) Pulau Pemping, (3) Pulau Kepala Jerih dan, (4) Pulau Lumba.

Penelitian dimulai dengan penyiapan proposal hingga persetujuan

proposal penelitian pada bulan Februari 2018. Bulan Maret hingga Juni

2018 dilakukan wawancara semi terstruktur (wawancara dengan

responden kunci dan wawancara kelompok terfokus atau focus group

discussion/FGD). Kegiatan survei lapangan ke Kota Batam dan ke empat

pulau kecil di Kawasan Belakang dilakukan dalam dua tahap. Tahap

pertama dilakukan pada bulan Juli 2018 untuk mendapatkan data kondisi

eksisting sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di Kawasan

Belakang Padang dengan menggunakan analisis deskriptif, serta

melakukan wawancara semi terstruktur (wawancara dengan responden

kunci dan wawancara kelompok terfokus atau focus group discussion/FGD).

Kegiatan survei lapangan tahap kedua dilakukan pada bulan

Desember 2018. Pada tahap kedua selain untuk melengkapi data-data

sekunder dan primer yang telah diperoleh, dilakukan kembali wawancara


36

kelompok terfokus dengan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) untuk

membahas hasil analisis yang sudah diperoleh dari tahap pertama berupa

rumusan kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang

Padang ke depan. Secara keseluruhan penelitian dilaksanakan selama

sebelas bulan, yaitu dari bulan Februari 2018 sampai dengan bulan

Desember 2018.
37
3.2. Metode Pengumpulan Data

Metode penelitian menggunakan teknik survei dengan aspek yang

dikaji meliputi kondisi fisik, biologi, ekonomi, sosial, budaya lokasi,

aksesibilitas, sarana dan prasarana dasar, serta kebijakan dan

kelembagaan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan: (1)

melakukan inventarisasi dan menggali sumber- sumber data sekunder,

(2) melakukan pengamatan atau observasi langsung di lokasi penelitian,

serta (3) melakukan wawancara semi terstruktur (wawancara dengan

responden kunci dan wawancara kelompok terfokus).

1) Inventarisasi dan menggali sumber-sumber data sekunder.

Inventarisasi dilakukan dengan mengumpulkan data-data sekunder

dari berbagai sumber diantaranya dari instansi/lembaga pemerintah

dan non pemerintah/swasta baik yang berada di pusat maupun di

daerah, serta berbagai buku pustaka dan sumber informasi lainnya,

untuk mengetahui kondisi saat ini (existing conditions) dari lokasi

penelitian. Data sekunder yang diinventarisasi diantaranya meliputi:

a. Peta lokasi dan tata ruang wilayah penelitian;

b. Profil pulau-pulau kecil;

c. Data statistik Kota Batam dalam Angka;

d. Laporan tahunan;

e. Kebijakan dan hukum/peraturan terkait;

f. Rencana kebijakan dan strategi pengelolaan pulau-pulau kecil;

g. Data sekunder lainnya terkait dengan materi penelitian.

38
39

2) Pengamatan atau observasi. Pengamatan secara langsung di

lapangan dilakukan untuk mengetahui dan memberikan pemahaman

secara langsung terhadap beberapa kondisi pulau-pulau kecil di

Kawasan Belakang Padang mencakup:

a. Pengamatan terhadap keenam pulau meliputi kondisi fisik

daratan, perairan, dan kemudahan aksesibilitas menuju lokasi.

b. Pengamatan terhadap aktivitas masyarakat pulau meliputi aspek

ekonomi, politik, sosial, budaya dan kelembagaan.

c. Pengamatan terhadap sarana dan prasarana dasar yang ada

meliputi transportasi, penerangan, pendidikan, air bersih,

sarana tambat kapal, serta sarana pendukung lainnya.

d. Pengamatan terhadap pengembangan kegiatan yang dianggap

paling sesuai atau tepat bagi kawasan meliputi:

 kegiatan perikanan tangkap: data sebaran terumbu karang

dan spesies-spesies asosiasinya (ikan karang ekonomis

penting dan merupakan komoditas spesifik pulau kecil),

teknologi cara penangkapan ikan karang ekonomis yang

dilakukan masyarakat, fasilitas penangkapan, daerah

penangkapan, dan pemasaran.

 kegiatan budidaya: jenis komoditas yang dibudidayakan,

lokasi, teknologi, pengolahan pasca panen, dan pemasaran.

 kegiatan konservasi: peraturan penetapan wilayah konservasi,

pemahaman masyarakat atas konservasi, dan kesesuaian


40

zonasi.

 kegiatan wisata bahari: lokasi, potensi sumberdaya daratan

dan perairan, sarana dan prasarana pendukung, pemahaman

masyarakat, serta dukungan pemerintah daerah.

3) Wawancara semi terstruktur. Wawancara dilakukan berdasarkan

pada beberapa pertanyaan dan topik yang sudah ditentukan

sebelumnya, berupa daftar kuesioner yang fleksibel sehingga

memungkinkan terjadinya pengembangan topik pada saat

wawancara dilangsungkan. Wawancara dilaksanakan dengan dua

cara yaitu:

a. Wawancara dengan responden kunci (key person) yang

memiliki kepentingan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil

untuk mendapatkan informasi dan gambaran saat ini beserta

harapan, kendala, dan usulan- usulan dalam pengelolaan

pulau-pulau kecil.

b. Wawancara kelompok terfokus (focus group discussion/FGD)

dilakukan untuk memperoleh alternatif kegiatan yang paling

sesuai sebagai rumusan rekomendasi kebijakan pengelolaan

pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang Padang.

3.3. Analisis Data

Penelitian ini mencoba menguraikan berbagai faktor yang terkait

dengan pengelolaan pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang Padang.

Faktor pertama adalah para aktor (di luar masyarakat kawasan) yang
41

mempengaruhi pengambilan kebijakan, karena para aktor inilah

sesungguhnya para penentu kebijakan dan arah akan dibawa ke mana

pengelolaan pulau-pulau kecil. Masyarakat pulau- pulau kecil sendiri, di

sisi lain sesungguhnya selalu dalam keadaan siap mendukung kebijakan

pengelolaan yang diterapkan, selama kebijakan pengelolaan dimaksud

dapat memenuhi harapan masyarakat lokal untuk dapat memperbaiki

kualitas hidup dan tingkat kesejahteraan mereka. Para aktor tersebut

meliputi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dunia

usaha/korporat/investor, serta institusi non birokrasi (perguruan tinggi,

lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama).

Faktor berikutnya adalah isu-isu yang selalu berkembang dan

mempengaruhi para aktor tersebut dalam mengambil keputusannya, yaitu

kondisi politik, ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. Berkaitan dengan

lingkungan, isu pelestarian lingkungan adalah isu internasional yang tidak

mungkin dihindari, khususnya di era globalisasi, di mana semua negara

dituntut untuk memanfaatkan sumberdaya secara bijak demi kelestarian

lingkungan bagi umat manusia di masa mendatang. Hal ini menuntut

disusunnya suatu alternatif strategi pengelolaan pulau-pulau kecil di

Kawasan Belakang Padang sesuai kondisi eksisting yang ada.


42

3.3.1. Penyusunan alternatif strategi

Mempertimbangkan karakteristik dan adanya keterbatasan daya

dukung pulau-pulau kecil, maka dibutuhkan suatu kegiatan pengelolaan

yang sifatnya dapat memanfaatkan sumberdaya alam kelautan, perikanan

dan jasa lingkungan pulau-pulau kecil tidak hanya demi pertumbuhan

ekonomi semata, namun harus diiringi dengan upaya pelestarian

sumberdaya alam itu sendiri, seperti misalnya kegiatan wisata bahari.

Kegiatan wisata bahari adalah suatu kegiatan yang mutlak

membutuhkan terjaganya sumberdaya alam dan perairan pulau-pulau

kecil demi berlangsungnya segala aktivitas bisnis di dalamnya. Mengingat

masyarakat pulau-pulau kecil pada umumnya memiliki mata pencaharian

sebagai nelayan, maka kegiatan wisata bahari di Kawasan Belakang

Padang selayaknya dapat menjadi mata pencaharian alternatif bagi

masyarakat pulau, sehingga perlu disusun beberapa alternatif strategi

sebagaimana berikut:

Alternatif 1 : Kegiatan wisata bahari di pulau-pulau kecil di Kawasan

Belakang Padang dikembangkan bersama kegiatan

budidaya laut.

Alternatif 2 : Kegiatan wisata bahari di pulau-pulau kecil di Kawasan

Belakang Padang dikembangkan bersama kegiatan

budidaya laut dan perikanan tangkap.

Alternatif 3 : Kegiatan wisata bahari di pulau-pulau kecil di Kawasan

Belakang Padang dikembangkan bersama perikanan


43

tangkap.

Alternatif 4 : Kegiatan wisata bahari di pulau-pulau kecil di Kawasan

Belakang Padang dikembangkan berbasis konservasi.

3.3.2. Analytical Hierarchy Process (AHP)

Proses analisis AHP dalam penelitian ini meliputi:

1. Penyusunan hirarki. Aktor-aktor terkait dalam penelitian ini dijadikan

responden untuk menentukan prioritas faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap pola pengelolaan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan di

Kawasan Belakang Padang. Aktor di tingkat pusat meliputi para pejabat

Eselon II dan III lingkup Direktorat Pemberdayaan Pulau- pulau

Kecil-Departemen Kelautan dan Perikanan, dunia usaha (pengusaha

wisata bahari), dan institusi non birokrasi (perguruan tinggi dan

lembaga swadaya masyarakat). Aktor di tingkat Kota Batam meliputi

Dinas Kelautan dan Perikanan, Bappeda, Dinas Pariwisata, Dinas

Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kantor Perizinan Satu Atap,

BKPMD, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.

2. Penentuan prioritas. Perhitungan bobot dalam penentuan prioritas

dalam penelitian ini menggunakan alat bantu software expert choice.

Nilai konsistensi yang didapat dari software ini berguna untuk

nenunjukkan bahwa penilaian pada pengisian kuesioner termasuk

konsisten.

Penilaian kriteria dan alternatif dengan menggunakan skala angka

Saaty (1993), mulai dari 1 yang menggambarkan antara satu atribut


44

terhadap atribut lainnya ‘sama penting’ dan untuk atribut yang sama

selalu bernilai 1, sampai dengan 9 yang menggambarkan satu atribut

ekstrim pentingnya terhadap atribut lainnya. Bentuk hirarki dengan fokus

pola pengelolaan gugusan pulau-pulau kecil di Kawasan Belakang

Padang yang berkelanjutan seperti disampaikan pada Gambar 5.


POLA PENGELOLAAN GUGUSAN PULAU-PULAU KECIL
Fokus
DI KAWASAN BELAKANG PADANG YANG BERKELANJUTAN

PEMERINTAH PEMERINTAH INSTITUSI NON


Aktor DUNIA USAHA
PUSAT DAERAH BIROKRASI

Kriteria Politik Ekonomi Sosial Budaya Lingkungan

 Kesenjangan  Infrastuktur dasar  Kualitas SDM  Konservasi


pembangunan  Proporsi anggaran  Globalisasi  PPK rentan
 Kebijakan berbasis pembangunan  Kearifan lokal terhadap perubahan
kelautan  Ketersediaan masyarakat lingkungan
Sub Kriteria  Pemberdayaan PPK lapangan kerja  Pengaruh negatif  Tata ruang dan
sebagai isu baru  Minat investasi PPK budaya asing zonasi
nasional  Sumberdaya jasa
 Implementasi kelautan
wawasan nusantara

Alternatif I Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 4

Kegiatan wisata bahari Kegiatan wisata bahari Kegiatan wisata bahari Kegiatan wisata bahari
di pulau-pulau kecil di di pulau-pulau kecil di di pulau-pulau kecil di di pulau-pulau kecil di
Alternatif Kawasan Belakang Kawasan Belakang Kawasan Belakang Kawasan Belakang
Padang dikembangkan Padang dikembangkan Padang dikembangkan Padang dikembangkan
bersama kegiatan bersama kegiatan bersama perikanan berbasis konservasi
budidaya laut budidaya laut dan tangkap
perikanan tangkap

Gambar 5 Hirarki pola pengelolaan pulau-pulau kecil di Kawasan


Belakang Padang.
45

3.3.3. SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities dan Threats)

Analisis strategi kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil di

Kawasan Belakang Padang dilakukan dengan menggunakan SW OT

(Rangkuti, 2000), yang didahului dengan pembuatan matriks IFAS

(internal strategic factor analysis summary) dan EFAS (external strategic

factor analysis summary), yang didasarkan pada logika yang dapat

memaksimalkan strengths (kekuatan) dan opportunities (peluang), namun

secara bersamaan dapat meminimalkan weaknesses (kelemahan) dan

threats (ancaman), dengan kombinasi strategi seperti disampaikan pada

Tabel 1.

Tabel 1 Kombinasi strategi dalam SW OT

IFAS

EFAS STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W)


STRATEGI S – O STRATEGI W – O

Untuk menciptakan strategi Untuk menciptakan strategi


OPPORTUNITIES (O) yang menggunakan kekuatan yang meminimalkan
untuk memanfaatkan peluang kelemahan untuk
memanfaatkan peluang
STRATEGI S – T STRATEGI W – T

Untuk menciptakan strategi Untuk menciptakan strategi


THREATS (T) yang menggunakan kekuatan yang meminimalkan
untuk mengatasi ancaman kelemahan dan menghindari
ancaman

Sumber: Rangkuti (2000).

Penyusunan matriks IFAS dan EFAS dilakukan sebagai berikut:

1. melakukan identifikasi atas faktor-faktor:

a. IFAS: kekuatan dan kelemahan

b. EFAS: peluang dan ancaman


46

2. pembobotan terhadap masing-masing faktor, mulai dari 1,00 (sangat

penting) sampai dengan 0,00 (tidak penting). Skor jumlah bobot

untuk keseluruhan faktor adalah 1,00. Nilai bobot diperoleh dari prioritas

pada hasil AHP.

3. Penentuan rating untuk masing-masing faktor berdasarkan

pengaruhnya terhadap permasalahan. Nilai rating mulai dari 4

(outstanding) sampai dengan 1 (poor). Pemberian nilai rating:

a. IFAS: kekuatan bersifat positif (semakin besar kekuatan semakin

besar pula nilai rating yang diberikan), sedangkan untuk

kelemahan dilakukan sebaliknya (semakin besar kelemahan

semakin kecil nilai rating yang diberikan).

b. EFAS: peluang bersifat positif (semakin besar peluang

semakin besar pula nilai rating yang diberikan), sedangkan untuk

ancaman dilakukan sebaliknya (semakin besar ancaman semakin

kecil nilai rating yang diberikan).

4. Dilakukan perkalian bobot dengan rating untuk menentukan skor

terbobot dari masing-masing faktor.

5. Jumlah dari skor terbobot menentukan kondisi sistem atau organisasi:

a. IFAS: Jika nilai total skor terbobot≥ 2,5 berarti kondisi internal

memiliki kekuatan untuk mengatasi kelemahan.

b. EFAS: Jika nilai total skor terbobot ≥ 2,5 berarti kondisi eksternal

memiliki peluang untuk mengatasi ancaman.

Marimin (2004), menyatakan bahwa posisi kondisi internal dan


47

eksternal dapat dikelompokkan dalam empat kuadran, yaitu:

1) Kuadran I: merupakan posisi yang sangat menguntungkan dengan

memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan

peluang yang ada. Strategi yang harus dilakukan adalah strategi

agresif.

2) Kuadran II: merupakan posisi yang menghadapi berbagai ancaman,

namun masih memiliki kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang

jangka panjang. Strategi yang harus dilakukan adalah strategi

diversifikasi.

3) Kuadran III: merupakan posisi yang memiliki peluang yang sangat

besar, namun harus meminimalkan kelemahan internal. Strategi

yang harus dilakukan adalah strategi turn around.

4) Kuadran IV: merupakan posisi yang sangat tidak menguntungkan

karena menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.

Strategi yang harus dilakukan adalah strategi defensif.

3.3.4. Pendekatan dengan pola sistem SMO (Subyek-Metoda-Obyek)

Penyusunan pola pengelolaan gugusan pulau-pulau kecil di

Kawasan Belakang Padang dalam penelitian ini dilakukan melalui

pendekatan sistem (systems approacch), yaitu suatu upaya pemecahan

masalah yang didasarkan pertimbangan bahwa masalah yang dihadapi

tersebut diasumsikan sebagai suatu sistem terbuka, sehingga dengan

memahami struktur, proses, umpan balik dan karakteristik dari sistem


48

yang dihadapi akan dapat dipecahkan secara lebih sistematis, sistemik,

efisien dan efektif. Menurut Tunas (2007), penggunaan pendekatan

sistem soft systems approacch banyak dikonsentrasikan kepada

penanganan terhadap ketidaksetujuan dan konflik, terutama dalam

menentukan tujuan dan perumusan masalah yang dihadapi di antara

pihak-pihak yang berkepentingan dalam sistem, karena adanya

perbedaan atas latar belakang nilai, kepercayaan dan falsafah dari

pihak-pihak yang berkepentingan dimaksud. Pendekatan sistem soft

systems approacch yang digunakan adalah pola sistem SMO (Subyek-

Metoda-Obyek), yang banyak dipakai untuk mengatasi masalah yang

tidak begitu jelas dan sulit dikuantitatifkan, seperti disampaikan pada

Gambar 6.

INSTUMENTAL INPUT

INPUT SUBYEK METODE METODE OUTPUT

FEED BACK
ENVIRONMENTAL INPUT

Gambar 6 Pendekatan sistem dengan pola SMO (Sumber: Tunas,


2007).

Pola SMO (Subyek-Metoda-Obyek) menurut Tunas (2007)

merupakan pola yang bermanfaat untuk dipergunakan dalam upaya

memecahkan suatu permasalahan atau perbaikan suatu sistem yang

telah ada. Pola SMO dapat diuraikan sebagai berikut:


49

1) Input, merupakan kondisi eksisting saat ini dari suatu

organisasi/sistem yang akan diperbaiki atau ditingkatkan.

2) Instrumental input, adalah kebijakan dan peraturan terkait yang

harus diperhatikan oleh Subyek dalam menggunakan metoda untuk

memperbaiki obyek yang terkait.

3) Environmental input, merupakan lingkungan luar yang

mempengaruhi system seperti faktor politik, sosial, ekonomi,

budaya, teknologi, dan lainnya yang harus diperhatikan dalam

memproses input menjadi output. Faktor-faktor tersebut bisa

merupakan kendala yang membatasi,tetapi bisa juga merupakan

peluang yang perlu dimanfaatkan.

4) Prosesor, merupakan instrumen yang terdiri dari subyek, metoda

dan obyek yang akan diperbaiki atau ditingkatkan.

a. Subyek, adalah pelaku (bisa institusi, pejabat, dan lain

sebagainya) yang berwenang, bertanggungjawab dalam

melaksanakan upaya-upaya memperbaiki input sehingga

menjadi output yang diharapkan.

b. Metoda, adalah cara atau strategi yang akan digunakan oleh

Subyek dalam upayanya memperbaiki input hingga mencapai

output yang diinginkan.

c. Obyek, adalah komponen-komponen khusus yang difokuskan

atau yang mendapatkan penekanan khusus untuk diperbaiki dari

input yang bersangkutan, yang diharapkan akan memberikan


50

kontribusi perbaikan yang signifikan terhadap kondisi output yang

diinginkan.

5) Output, merupakan kondisi yang diharapkan atau yang ingin dicapai.

6) Feed back atau umpan balik, merupakan konsep sentral dari semua

konseptualisasi dari sistem terbuka yang merupakan informasi

evaluatif mengenai hasil kegiatan dari suatu sistem.

3.3.5. Pendekatan segitiga pengelolaan sumberdaya dan

Interpretative Structural Modelling (ISM)

Menurut Purwaka (2008), komponen sumberdaya terdiri atas tiga

komponen, yaitu komponen sumberdaya manusia (kondisi sosial, ekonomi

dan budaya masyarakat lokal), sumberdaya alam (hayati dan nir hayati) dan

sumberdaya buatan (ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum serta

kelembagaan), yang dapat digabungkan dengan tiga komponen kegiatan

pengelolaan sumberdaya, yaitu komponen: planning and organizing

(pengumpulan, pengolahan, analisis data dan informasi), actuating

pemanfaatan sumberdaya (pro poor, pro job dan pro growth), dan

pengawasan dengan sistem MCS (monitoring atau pemantauan,

controlling atau pengendalian, dan surveillance atau pengamatan). Proses

pengambilan keputusan dilakukan dengan melalui pendekatan segitiga

keterpaduan pengelolaan sumberdaya untuk memudahkan

mengalokasikan sumberdaya dalam ruang dan waktu secara

berkelanjutan, guna mewujudkan tujuan-tujuan pengelolaan yang telah


51

ditetapkan (Gambar 7).

Gambar 5 Pendekatan segitiga pengelolaan sumberdaya


(Sumber: Purwaka, 2008).

Kegiatan pengelolaan sumber daya berintikan hubungan fisik,

hubungan administrasi dan hubungan geografis, yang meskipun dapat

dilakukan sendiri- sendiri, namun akan lebih baik jika dilakukan dengan

keterpaduan pengelolaan yang melihat sumberdaya itu sendiri secara

utuh dengan saling keterhubungannya, beserta bagaimana proses

pengelolaan sumberdaya dimaksud agar memberikan manfaat bagi

masyarakat. Oleh karena itu, keterpaduan pengelolaan sumberdaya harus

dapat menggambarkan fungsi masing-masing sekaligus keterkaitannya

antara satu dengan lainnya, sehingga melalui pendekatan segitiga

pengelolaan yang dikembangkan dari Purwaka (2008), sumberdaya pulau-

pulau kecil dapat diilustrasikan terdiri dari tiga komponen, yaitu: (1)

sumberdaya alam yang memiliki tiga sub komponen meliputi sumberdaya


52

hayati, nir hayati dan jasa-jasa lingkungan; (2) sumberdaya manusia yang

memiliki tiga sub komponen meliputi kondisi sosial, ekonomi dan budaya;

dan (3) sumberdaya buatan yang memiliki tiga sub komponen meliputi

ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum yang berlaku, dan kelembagaan.

Sedangkan pemanfaatan sumberdaya harus pula dilakukan melalui

keterpaduan proses pengelolaan yang dapat diilustrasikan terdiri dari tiga

komponen, yaitu: (1) perencanaan dan pengaturan (planning and

organizing) dengan tiga sub komponen meliputi kegiatan pengumpulan

data, pengolahan data, dan analisis data; (2) implementasi (actuating)

dengan tiga sub komponen meliputi kegiatan yang ditujukan bagi

pengentasan kemiskinan (pro poor), penyediaan lapangan kerja (pro job),

dan pertumbuhan ekonomi (pro growth); serta (3) sistem pengawasan

yang memiliki tiga sub komponen meliputi kegiatan pemantauan

(monitoring), pengendalian (controlling) dan pengamatan (surveillance).

Eriyatno (2003), menyebutkan bahwa teknik interpretative structural

modelling atau ISM adalah proses pengkajian kelompok (group learning

process) di mana model-model struktural dihasilkan guna memotret

perihal yang kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang

secara seksama dengan menggunakan grafis serta kalimat. Teknik ISM

memberikan basis analisis di mana informasi yang dihasilkan sangat

berguna dalam formulasi kebijakan serta perencanaan strategis yang

dapat dibagi menjadi sembilan elemen meliputi: (1) sektor masyarakat

yang terpengaruh; (2) keutuhan dari program; (3) kendala utama; (4)
53

perubahan yang dimungkinkan; (5) tujuan dari program; (6) tolok ukur

untuk setiap tujuan; (7) aktivitas yang dibutuhkan; (8) ukuran aktivitas

guna mengevaluasi hasil yang dicapai; dan (9) lembaga yang terlibat

dalam pelaksanaan program.

Marimin (2004) menyebutkan klasifikasi subelemen mengacu pada

hasil olahan dari Reachability Matrix (RM) yang telah memenuhi aturan

transivitas.

Hasil olahan tersebut didapatkan nilai Driver-Power (DP) yang

merupakan penjumlahan total horisontal dan nilai Dependence (D) yang

merupakan penjumlahan total vertikal. Nilai DP dan D menentukan

klasifikasi sub elemen, yang secara garis besar digolongkan dalam empat

sektor yaitu:

1. Sektor 1: weak driver-weak dependent variabels (autonomus). Sub

elemen yang termasuk dalam sektor ini umumnya tidak berkaitan

dengan sistem, dan mungkin mempunyai hubungan sedikit,

meskipun hubungan tersebut bisa saja kuat. Sub elemen yang

termasuk pada sektor 1 adalah jika: nilai DP≤ 0,5X dan nilai D ≤ 0,5X,

di mana X adalah jumlah sub elemen.

2. Sektor 2: weak driver-strongly dependent variabels (dependent). Sub

elemen yang termasuk sektor ini umumnya adalah sub elemen yang

tidak bebas. Sub elemen yang termasuk pada sektor 2 adalah jika:

nilai DP ≤ 0,5X dan nilai D ≥ 0,5X, di mana X adalah jumlah sub elemen.
54

3. Sektor 3: strong driver-strongly dependent variabels (lingkage). Sub

elemen yang termasuk sektor ini harus dikaji secara hati-hati, karena

hubungan antar sub elemen tidak stabil. Sub elemen yang termasuk

pada sektor 3 adalah jika: nilai DP > 0,5X dan nilai D > 0,5X, di mana

X adalah jumlah sub elemen.

4. Sektor 4: strong driver- weak dependent variabels (independent). Sub

elemen yang termasuk sektor ini merupakan bagian sisa dari sistem dan

disebut peubah bebas. Sub elemen yang termasuk pada sektor

4 adalah jika: nilai DP > 0,5X dan nilai D < 0,5X, di mana X adalah

jumlah sub elemen.

Penyusunan SSIM (Structural Self-Interaction Matrix) menggunakan

simbol V, A, X dan O, yaitu:

V adalah eij = 1 dan eji = 0

A adalah eij = 1 dan eji = 0

X adalah eij = 1 dan eji = 0

O adalah eij = 1 dan eji = 0

Dengan pengertian: simbol 1 adalah terdapat atau ada hubungan

konstektual,sedangkan simbol O adalah tidak terdapat atau tidak ada

hubungan konstektual, anatar elemen i dan j dan sebaliknya. Setelah

SSIM dibentuk, kemudian dibuat tabel Reachability Matrix (RM) dengan

mengganti V, A, X, dan O menjadi bilangan 1 dan 0. Langkah berikutnya

adalah melakukan perhitungan menurut aturan transivity dimana dilakukan

koreksi terhadap SSIM sampai menjadi matriks yang tertutup. Hasil revisi
55

SSIM dan matriks yang memenuhi aturan transivity diproses lebih lanjut

dengan program komputer. Bagan alir metodologi penelitian ini seperti

disampaikan pada Gambar 6.

Gambar 8 Kerangka Penelitian 1


56

Gambar 9 Kerangka Penelitian 2


57

Gambar 10 Kerangka Penelitian 3


58

3.4. Rencana Publikasi Ilmiah

Penulis pada penyusunan disertasi ini berencana untuk

menerbitkan dua jurnal dengan judul

1. Jurnal 1 : Pola Pengelolaan Gugusan Pulau-pulau Kecil di Kawasan

Belakang Padang yang Berkelanjutan (Ocean & Coastal

Management)

2. Jurnal 1 : Kondisi Lingkungan dan Terumbu Karang pulau Belakang

Padang, Kota Batam, Indonesia (Regional Studies in Marine Science)


59

DAFTAR PUSTAKA

Baum, G., Januar, H.I., Ferse, S.C.A., Kunzmann, A., 2015. Local and
regional impacts of pollution on coral reefs along the
Thousand Islands north of the Megacity Jakarta, Indonesia.
PLoS One 10 (9), e0138271.

Bengen, D.G. 2003. Definisi, Batasan dan Realitas Pulau Kecil.


Makalah disampaikan dalam Semiloka Penentuan Definisi dan
Pendataan Pulau di Indonesia. Jakarta. 22 hlm.

B. Manikandan, J. Ravindran, H. Mohan, R. Periasamy, R. Mani Murali,


B.S. Ingole, Community structure and coral health status
across the depth gradients of Grande Island, Central west
coast of India, Regional Studies in Marine Science, Volume 7,
2016, Pages 150-158, ISSN 2352-4855,
https://doi.org/10.1016/j.rsma.2016.05.013.

Brown, K., Adger, W.N., Tompkins, E., Bacon, P., Shim, D., Young, K.,
2001. Trade-off Analysis for marine protected area
management. Ecol. Econ. 37 (3), 417–434.

Cátia Fernandes Barbosa, José Carlos Sícoli Seoane, Bruna Borba Dias,
Bruno Allevato, Patricia Oliveira-Silva Brooks, Ana Lídia Bertoldi
Gaspar, Renato Campello Cordeiro, Health environmental
assessment of the coral reef-supporting Tamandaré Bay (NE,
Brazil), Marine Micropaleontology, Volume 127, 2016, Pages
63-73, ISSN 0377-8398,
https://doi.org/10.1016/j.marmicro.2016.07.004.

Dahuri, R. 2003. Strategi Pembangunan Kelautan Nasional: Pemanfaatan


Potensi Laut Pulau-pulau Kecil Daerah Perbatasan. Makalah
disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional Reposisi
dan Revitalisasi Kab. Kepulauan Sangihe dan Kab. Kepulauan
Talaud. Jakarta. 26 hlm.

--------------. 2001. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perikanan


Nasional yang Tangguh, Optimal dan Berkelanjutan. Makalah
disampaikan pada Pendidikan dan Latihan Bisnis Terapan
Tingkat Nasional Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam.
Depok, 29 Januari 2001. 24 hlm.

--------------. 2000. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk


60

Kesejahteraan Rakyat. ISBN 979-96004-0-5. Lembaga


Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia. Jakarta. 146 hlm.

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). 2007. Laporan Akhir Model


Pengembangan dan Valuasi Ekonomi Kawasan Wisata Bahari
di Pulau-pulau Kecil. Jakarta. 209 hlm.

----------------. 2006. Wawasan Nusantara Melalui Pendekatan Kultural.


Makalah disampaikan pada Pelatihan Tenaga Pendamping
Desa Pesisir dan Pulau- pulau Kecil. Malang, 8 Juli 2006. 34
hlm.

----------------. 2003. Laporan Akhir Pemberdayaan Masyarakat Pulau-


pulau Kecil Melalui Kegiatan Wisata Bahari. Jakarta. 53 hlm.

Eriyatno. 2003. Ilmu Sistem, Meningkatkan Mutu dan Efektifitas


Manajemen. Bogor: IPB Press. 122 hlm.

F. Ferrigno, C.N. Bianchi, R. Lasagna, C. Morri, G.F. Russo, R. Sandulli,


Corals in high diversity reefs resist human impact, Ecological
Indicators, Volume 70, 2016, Pages 106-113, ISSN 1470-160X,
https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2016.05.050.

Johan, O., Bengen, D.G., Zamani, N.P., Suharsono, Sweet, M.J., 2015.
The distribution and abundance of black band disease and
White Syndrome in Kepulauan Seribu, Indonesia. Hayati J.
Biosci. 22, 105–112.

Lasagna, R., Gnone, G., Taruffi, M., Morri, C., Bianchi, C.N., Parravicini, V.,
Lavorano, S., 2014. A new synthetic index to evaluate reef coral
condition. Ecol. Indic. 40, 1–9.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan, Kriteria


Majemuk. ISBN 979-732-449-4. PT. Grasindo. Jakarta. 197
hlm.

Martadiningrat, Y.S. 2009. Upaya Peningkatan Kesejahteraan Nelayan


dalam Memperkokoh Ketahanan Nasional. Makalah
disampaikan pada Acara Rembug Nasional Kelautan. Gedung
Lemhanas Jakarta, 26 Februari 2009. 20 hlm.

Michaela Roberts, Nick Hanley, Sam Williams, Will Cresswell, Terrestrial


degradation impacts on coral reef health: Evidence from the
Caribbean, Ocean & Coastal Management, Volume 149, 2017,
Pages 52-68, ISSN 0964-5691,
61

https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2017.09.005.

Muladi. 2009. Geopolitik dalam Perspektif Indonesia sebagai Negara


Kepulauan. Makalah disampaikan pada Acara Rembug
Nasional Kelautan. Gedung Lemhanas Jakarta, 26 Februari
2009. 16 hlm.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor PER. 20/MEN/2008


tentang Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil dan Perairan di
Sekitarnya. Jakarta. 13 hlm.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2007


Tentang Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas
Bintan

Peraturan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor KM.67 /


UM.001/MKP/2004 Pedoman Umum Pengembangan
Pariwisata Di Pulau - Pulau Kecil. 44 hl

Purwaka. 2003. Bunga Rampai Analisis Pengembangan Kapasitas


Kelembagaan Kelautan dan Perikanan. Bahan Kuliah
Pascasarjana IPB. Bogor. 37 hlm.

Rangkuti, F. 2000. Analisis SW OT: Teknik membedah Kasus Bisnis.


ISBN 979-605-718-2. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
187 hlm.

Saaty TL. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Proses


Hierarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam situasi
yang komplek. Seri Manajemen No. 134/1993. Terjemahan
Sapta BU. Jakarta : Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta. hlm
9-20 .

Supriharyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Kantor


Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta. 116 hlm.

Tunas, B. 2007. Memahami dan Memecahkan Masalah dengan


Pendekatan Sistem. ISBN 979-9005-47-7. PT. Nimas Multima.
Jakarta. 196 hlm.

United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS). 1982. 437
hlm. Undang-Undang Negara RI Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan. Jakarta. 20 hlm.
62

Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-


Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Van der Meij, S.E.T., Suharsono, , Hoeksema, B.W ., 2010. Long-


term changes in coral assemblages under natural and
anthropogenic stress in Jakarta Bay (1920 –2005). Mar.
Pollut. Bull. 60 (9), 1442–1554.

Vernon, J. E.N. (2010).A reef in time: the great barrier reef from
beginning to end. Cambridge MA: Harvard UniversityPress.

Wiludjeng, S. 2007. Pengantar Manajemen. ISBN 978-979-756-204-5.


Graha Ilmu. Yogyakarta. 194 hlm.
Lampiran 1 Jadwal Penyelesaian Disertasi

63
64

Lampiran 2 Rencana Biaya

Survey Pendahuluan

Harga Satuan Jumlah Harga


No. Uraian Kegiatan Volume Satuan
(Rp) (Rp)

1 Mobilisasi dan demobilisas ke Lokasi 1 org 1,500,000.00 1,500,000.00


2 Penginapan Selama survey recon 5 hari 300,000.00 1,500,000.00
3 Akomodasi 1 ls 1,000,000.00 1,000,000.00
4 Transport Lokal 1 ls 150,000.00 150,000.00
Biaya Analisa 4,150,000.00
65

Survey Pendahuluan

Harga Satuan
Jumlah Volume Jumlah Harga
No. Uraian Kegiatan Satuan
Hari
(Rp) (Rp)
1 Mobilisasi dan demobilisasi 2 org 1,500,000.00 3,000,000.00
2 Alat dasar Selam 15 2 buah 50,000.00 1,500,000.00
3 Regulator dan BCD 15 2 buah 100,000.00 3,000,000.00
4 Wet suit 15 2 buah 60,000.00 1,800,000.00
5 Boot 15 2 org 35,000.00 1,050,000.00
6 Pemberat 15 2 org 50,000.00 1,500,000.00
7 Gear bag 15 2 buah 20,000.00 600,000.00
8 Tabung isi (3000 psi) 15 6 buah 25,000.00 2,250,000.00
9 kompresor 15 1 buah 300,000.00 4,500,000.00
10 underwater camera 15 1 kg 100,000.00 1,500,000.00
11 Bahan survey, oli nabati, catrige, alat tulis bawah air, alat ukur dll 1 ls 1,000,000.00 1,000,000.00
12 FGD 1 ls 5,000,000.00 5,000,000.00
Survey Utama 26,700,000.00
66

Biaya Analisa

Jumlah Harga Satuan Jumlah Harga


No. Uraian Kegiatan Volume Satuan
Hari (Rp) (Rp)

1 Kualitas Air 10 titik 750,000.00 7,500,000.00


2 Biota 10 titik 500,000.00 5,000,000.00
Biaya Analisa 12,500,000.00

Biaya Lain

Jumlah Harga Satuan Jumlah Harga


No. Uraian Kegiatan Volume Satuan
Hari (Rp) (Rp)

1 ATK 1 ls 1,000,000.00 1,000,000.00


2 Publikasi 2 buah 5,000,000.00 10,000,000.00
3 Laporan 8 buah 50,000.00 400,000.00
Survey Utama 11,400,000.00
TOTAL BIAYA 54,750,000.00