You are on page 1of 11

MAKALAH

PEMBAGIAN HADIST: DARI SEGI KUALITAS


Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas kelompok

Mata kuliah : ulumul hadist

Disusun oleh:

1.Moh.Ramdhan.Rizalussani (10010217164)

2.Zahra Sayidatti Nissa (10010217149)

3. Maharticha S.Kabalmay(10010217132)

FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb Alhamdullilah puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang

Maha Esa, yang telah memberikan kekuatan, ketekunan, kesehatan,dan bimbingan terhadap

penulis. Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin agar dapat dipahami dan

dibaca jelas oleh pembaca. Sebelum kita langsung ke pembahasan materi kami ingin

menjelaskan sedikit tentang pembagian hadist dari segi kualitas. Dari segi pembagian hadist

dari segi kualitas dibagi menjadi 3 bagian yakni shahih, hasa, dan dhaif yang nanti akan kita

bahas di bawah. Ada juga macam macam nya syarat syarat nya, kita lihat saja dan kita

pelajari.

Mohon maaf apabila ada kekurangan dalam perihal pengetikan atau pembahasan nya mohon

dimaklumi karena kami iat untuk belajar bukan untuk bergaya dan sebagainya. Sekian dan

terimakasih selamat membaca.


DAFTAR ISI

Daftar isi
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... 2
A. Latar belakang .......................................................................................................................... 4
B. Rumusan masalah ........................................................................................................................ 4
C. Tujuan ........................................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 5
A. Hadits shahih .............................................................................................................................. 5
B. Hadits Hasan ............................................................................................................................... 6
C. Hadits Dhaif ................................................................................................................................ 8
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................. 10
A. Kesimpulan .............................................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................. 11
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sebagiamana telah dikemukakan bahwa hadits muatawatir memberikan penertian yang
yaqin bi alqath, aritnya Nabi Muhammad benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan
taqrir (persetujuan) dihadapan para sahabat berdasarkan sumber-sumber yang banyak dan
mustahil mereka sepakat berdusta kepada Nabi. Karena kebenarannya sumbernya sungguh
telah meyakinkan, maka dia harus diterima dan diamalkan tanpa perlu diteliti lagi, baik
terhadap sanadnya maupun matannya. Berbeda dengan hadits ahad yang hanya
memberikan faedah zhanni (dugaan yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kita
untuk mengadakan penyelidikan, baik terhadap matan maupun sanadnya, sehingga status
hadits tersebut menjadi jelas, apakah diterima sebagai hujjah atau ditolak.
Sehubungan dengan itu, para ulama ahli hadits membagi hadits dilihat dari segi kualitasnya,
menjadi tiga bagian, yaitu hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif.

B. Rumusan masalah
1. Apa itu hadis shahih?
2. Apa itu hadis hasan?
3. Apa itu dhaif ?

C. Tujuan
1. agar si pemabaca tahu apa itu hadis shahih, hasan dhaif?

2. banyak syarat nya dan macam macam dari ketiga materi tersebut?
BAB II PEMBAHASAN

A. Hadits shahih
Menurut bahasa berarti “sah, benar, sempurna, tiada celanya”. Secara istilah, beberapa
ahli memberikan defenisi antara lain sebagai berikut :
Menurut Ibn Al-Shalah, Hadits shahih adalah “hadits yang sanadnya bersambung
(muttasil) melalui periwayatan orang yang adil dan dhabith dari orang yang adil dan
dhabith, sampai akhir sanad tidak ada kejanggalan dan tidak ber’illat”. Menurut Imam Al-
Nawawi, hadits shahih adalah “hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh
perawi yang adil lagi dhabith, tidak syaz, dan tidak ber’illat.”
Dari defenisi diatas dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadits shahih adalah;

 Sanadnya Bersambung
Setiap perawi dalam sanad hadits menerima riwayat hadits dari perawi
terdekat sebelumnya. Keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad
dari suatu hadits. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rangkaian para
perawi hadits shahih sejak perawi terakhir sampai kepada perawi pertama (para
sahabat) yang menerima hadits langsung dari Nabi, bersambung dalam
periwayatannya.
Sanad suatu hadits dianggap tidak bersambung bila terputus salah seorang
atau lebih dari rangkaian para perawinya. Bisa jadi rawi yang dianggap
putus itu adalah seorang rawi yang dha’if, sehingga hadits yang bersangkutan
tidak shahih.
 Perawinya Adil
Seseorang dikatakan adil apabila ada padanya sifat-sifat yang dapat
mendorong terpeliharanya ketaqwaan, yaitu senantiasa melaksanakan perintah
dan meninggalkan larangan, dan terjaganya sifat Muru’ah, yaitu senantiasa
berakhlak baik dalam segala tingkah laku dan hal-hal lain yang dapt merusak
harga dirinya.
 Perawinya Dhabith
Dhabit artinya cukup kuat hapalannya.
Seorang perawi dikatakan dhabit apabila perawi tersebut mempunyai daya
ingat yang sempurna terhadap hadits yang diriwayatkannya. Adapun tsiqat artinya
dapat dipercaya.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, perawi yang dhabit adalah mereka
yang kuat hafalannya terhadap apa yang pernah didengarnya, kemudian mampu
menyampaikan hafalan tersebut kapan saja manakala diperlukan. Ini artinya,
bahwa orang yang disebut dhabit harus mendengar secara utuh apa yang
diterima atau didengarnya, kemudian mampu menyampaikannya kepada orang
lain atau meriwayatkannya sebagaimana aslinya.
 Tidak Syadz
Syadz ( janggal / rancu ) atau syudzuz adalah hadits yang bertentangan
dengan hadits lain yang lebih kuat atau lebih tsiqah perawinya. Maksudnya,
suatu kondisi di mana seorang perawi berbeda dengan rawi lain yang lebih kuat
posisinya. Kondisi ini dianggap syadz karena bila ia berbeda dengan rawi lain
yang lebih kuat posisinya, baik dari segi kekuatan daya hafalannya atau jumlah
mereka lebih banyak, maka para rawi yang lain itu harus diunggulkan, dan ia
sendiri disebut syadz.Maka timbullah penilaian negatif terhadap periwayatan
hadits yang bersangkutan.
 Tidak Ber’illat
Hadits ber’illat adalah hadits-hadits yang cacat atau terdapat penyakit
karena tersembunyi atau samar-samar, yang dapat merusak keshahihan hadits.
Dikatakan samar-samar, karena jika dilihat dari segi zahirnya, hadits tersebut
terlihat shahih. Adanya kesamaran pada hadits tersebut, mengakibatkan nilai
kualitasnya menjadi tidak shahih. Dengan demikian, yang dimaksud hadits
tidak ber’illat, ialah hadits yang di dalamnya tidak terdapat kesamaran atau
keragu-raguan.

B. Hadits Hasan
dari segi bahasa hasan dari kata al-husnu (‫ ) الحسن‬bermakna al-jamal (‫ )الجمال‬yang berarti
“keindahan”. Menurut istilah para ulama memberikan defenisi hadits hasan secara
beragam. Namun, yang lebih kuat sebagaimana yang dikemukan oleh Ibnu hajar Al-
Asqolani dalam An-Nukbah, yaitu : khabar ahad yang diriwayatkan oleh orang yang
adil, sempurna kedhabitannya, bersambung sanadnya, tidak ber’illat, dan tidak ada syaz
dinamakan shahih lidztih. Jika kurang sedikit kedhabitannya disebut hasan Lidztih.
Dengan kata lain hadits hasan adalah :
Hadits hasana adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil,
kurang sedikit kedhabitannya, tidak ada keganjilan (syaz) dan tidak ‘illat.

kriteria hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih. Perbedaannya hanya terletak
pada sisi kedhabitannya. Hadits shahih ke dhabitannya seluruh perawinya harus zamm
(sempurna), sedangkan dalam hadits hasan, kurang sedikit kedhabitannya jika
disbanding dengan hadits shahih. Contoh hadits Hasan:
hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari
Al-Hasan bin Urfah Al-Maharibi dari Muhammad bin Amr dari Abu salamah dari Abi
Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda :
“Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit sekali yang melebihi demikian
itu.
Sebagaimana hadits shahih yang terbagi menjadi dua macam, hadits hasan pun
terbagi menjadi dua macam, yaitu hasan lidzatih dan hasan lighairih.
Hadits hasan lidzatih adalah hadits hasan dengan sendirinya, karena telah memenuhi
segala criteria dan persyaratan yang ditemukan. Hadits hasan lidzatih ebagaimana
defenisi penjelasan diatas.
Sedangkan hadits hasan lighairih ada beberapa pendapat diantaranya adalah :
hadits dhaif jika diriwayatkan melalui jalan (sanad) lain yang sama atau lebih kuat.
hadits dhaif jika berbilangan jalan sanadnya dan sebab kedhaifan bukan karena fasik
atau dustanya perawi. Dari dua defenisi diatas dapat dipahami bahwa hadits dhaif bias
naik manjadi hasan lighairih dengan dua syarat yaitu :
1) Harus ditemukan periwayatan sanad lain yang seimbang atau lebih kuat.
2) Sebab kedhaifan hadits tidak berat seperti dusta dan fasik, tetapi ringan seperti
hafalan kurang atau terputusnya sanad atau tidak diketahui dengan jelas (majhul)
identitas perawi.
Kehujjahan Hadits hasan dapat dijadikan hujjah walaupun kualitasnya dibawah
hadits shahih. Semua fuqaha sebagian Muhadditsin dan Ushuliyyin mengamalkannya
kecuali sedikit dari kalangan orang sangat ketat dalam mempersyaratkan penerimaan
hadits (musyaddidin). Bahkan sebagian muhadditsin yang mempermudah dalam
persyaratan shahih (mutasahilin) memasukkan kedalam hadits shahih, seperti Al-
Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah.
C. Hadits Dhaif
Hadits Dhaif bagian dari hadits mardud. Dari segi bahasa dhaif (‫ )الضعيف‬berarti
lemah lawan dari Al-Qawi (‫ )القوي‬yang berarti kuat. Kelemahan hadits dhaif ini karena
sanad dan matannya tidak memenuhi criteria hadits kuat yang diterima sebagian hujjah.
Dalam istilah hadits dhaif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan
sebab satu dari beberapa syarat yang tidak terpenuhi. Atau defenisi lain yang bias
diungkapkan mayoritas ulama :
Hadits yang tidak menghimpun sifat hadits shahih dan hasan.
Jika hadits dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi sebagain atau semua persyaratan
hadits hasan dan shahih, misalnya sanadnya tidak bersambung (muttasshil), Para
perawinya tidak adil dan tidak dhabith, terjadi keganjilan baik dalam sanad atau matan
(syadz) dan terjadinya cacat yang tersembunyi (‘Illat) pada sanad atau matan. contoh
hadits dhaif
hadits yang diriwayatkan oleh At-Tarmidzi melalui jalan hakim Al-Atsram dari Abu
Tamimah Al-Hujaimi dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda :
“barang siapa yang mendatang seorang wanita menstruasi (haid) atau pada dari jalan
belakang (dubur) atau pada seorang dukun, maka dia telah mengingkari apa yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.”
Dalam sanad hadits diatas terdapat seorang dhaif yaitu Hakim Al-Atsram yang dinilai
dhaif oleh para ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Thariq At- Tahzib memberikan
komentar : ‫ فِ ْي ِه لَيِن‬padanya lemah. Hukum periwayatan hadits dhaif tidak identik
dengan hadits mawdhu’ (hadits palsu). Diantara hadits dhaif terdapat kecacatan para
perawinya yang tidak terlalu parah, seperti daya hapalan yang kurang kuat tetapi adil
dan jujur. Sedangkan hadits mawdhu’ perawinya pendusta. Maka para ulama
memperbolehkan meriwayatkan hadits dhaif sekalipun tanpa menjelaskan
kedhaifannya dengan dua syarat, yaitu :
1) tidak berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat Allah
2) Tidak menjelaskan hokum syara’ yang berkaitan dengan halal dan haram, tetapi,
berkaitan dengan masalah maui’zhah, targhib wa tarhib (hadits-hadits tentang
ancaman dan janji), kisah-kisah, dan lain-lain.
Dalam meriwayatkan hadit dhaif, jika tanpa isnad atau sanad sebaiknya tidak
menggunakan bentuk kata aktif (mabni ma’lum) yang meyakinkan (jazam)
kebenarannya dari Rasulullah, tetapi cukup menggunakan bentuk pasif (mabni
majhul) yang meragukan (tamridh) misalnya : ‫ي‬ َ ‫ ُر ِو‬diriwayatkan, ‫نُ ِق َل‬
dipindahkan, ‫ي‬َ ‫ ِفي ِْما ي ُْر ِو‬pada sesuatu yang diriwayatkan dating. Periwayatan
dhaif dilakukan karena berhati-hati (ikhtiyath).
Para ulama berpendapat dalam pengamalan hadits dhaif. Perbedaan itu dapat
dibagi menjadi 3 pendapat, yaitu :
1) Hadits dhaif tidak dapat diamalkan secara mutlak baik dalam keutamaan amal
(Fadhail al a’mal) atau dalam hokum sebagaimana yang diberitahukan oleh Ibnu
sayyid An-Nas dari Yahya bin Ma’in. pendapat pertama ini adalah pendapat Abu
Bakar Ibnu Al-Arabi, Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu hazam.
2) Hadits dhaif dapat diamalkan secara mutlak baik dalam fadhail al-a’mal atau
dalam masalah hokum (ahkam), pendapat Abu Dawud dan Imam Ahmad. Mereka
berpendapat bahwa hadits dhaif lebih kuat dari pendapat para ulama.
3) Hadits dhaif dapat diamalkan dalam fadhail al-a’mal, mau’izhah, targhib (janji-
janji yang menggemarkan), dan tarhib (ancaman yang menakutkan) jika memenuhi
beberapa persyaratan sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani,
yaitu berikut :
- Tidak terlalu dhaif, seperti diantara perawinya pendusta (hadits mawdhu’) atau
dituduh dusta (hadits matruk), orang yan daya iangat hapalannya sangat kurang,
dan berlaku pasiq dan bid’ah baik dalam perkataan atau perbuatan (hadits
mungkar).
- Masuk kedalam kategori hadits yang diamalkan (ma’mul bih) seperti hadits
muhkam (hadits maqbul yang tidak terjadi pertentanga dengan hadits lain), nasikh
(hadits yang membatalkan hokum pada hadits sebelumnya), dan rajah (hadits yang
lebih unggul dibandingkan oposisinya).
- Tidak diyakinkan secara yakin kebenaran hadits dari Nabi, tetapi karena berhati-
hati semata atau ikhtiyath.
Tingkatan hadits dhaif Sebagai salah satu syarat hadits dhaif yang dapat
diamalkan diatas adalah tidak terlalu dhaif atau tidak terlalu buruk kedhaifannya.
Hadits yang terlalu buruk kedhaifannya tidak dapat diamalkan sekalipun dalam
fadhail al-a’mal. Menurut Ibnu Hajar urutan hadits dhaif yang terburuk adalah
mawdhu’’, matruk, mu’allal, mudraj, maqlub, kemudian mudhatahrib.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan

hadits bila ditinjau dari segi kualitas hadits dapat dibagi menjadi dua macam yaitu hadits
maqbul dan hadits mardud. Hadits maqbul terbagi menjadi dua macam yaitu hadits mutawatir
dan hadits ahad yang shahih dan hasan, sedangkan hadits mardud adalah hadits yang dahif.
DAFTAR PUSTAKA
edoc tips. (8 juni 2017). PEMBAGIAN HADIS DARI SEGI KUANTITAS DAN KUALITAS HADIS. Edoc.tips.

khon, a. m. (2012). haji abdul majid khon. jakarta: AMZAH.

nano, s. (t.thn.). hadits dari segi kuantitas(perawi) dan kualitas(sanad dan matan). academia.