You are on page 1of 5

1. Alasan saya ingin menjadi seorang arsitek awalnya sangat sederhana.

Saat itu saya masih


seorang siswi Sekolah Menengah Pertama yang menginginkan tempat yang nyaman dan
layak bagi orang tua saya. Tempat untuk berkumpul bagi keluarga untuk sekedar mengobrol
dan menghabiskan waktu bersama.
Selain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam tentang dunia
kerja, alasan saya memilih Studio Atelier Cosmas Gozali adalah karena tergerak saat
membaca sebuah kutipan di halaman website Arya Cipta Graha. Disana tertulis "a building
should resemble a person, unassuming from the outside but utterly beautiful on the inside".
Saya percaya kesederhanaan niat dan tujuan yang tulus dari hati akan menghasilkan sesuatu
yang indah.

2. Tentu banyak pengalaman yang sulit untuk dilupakan selama masa saya berkuliah,
meskipun impian ini telah saya miliki sejak kecil saya benar-benar tidak tahu apa yang harus
saya lakukan saat memasuki dunia kuliah. Banyak air mata yang saya keluarkan, bahkan
pernah terbesit untuk menyerah dan melupakan impian saya. Saat berada di titik itu, nasihat
dari orang tua, dosen dan teman sangat membantu saya untuk bangkit, sampai dimana saya
sangat gembira untuk kalimat sederhana dari dosen saya yang memuji hasil kerja saya.
Sangat sederhana, namun begitu berharga.

3. Untuk masa mendatang sebenarnya banyak yang ingin saya lakukan, bekerja,
menghasilkan uang, travelling seorang diri, berlibur bersama keluarga, kembali belajar dan
menyiapkan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Untuk mewujudkannya, pertama saya ingin mencari pekerjaan terlebih dahulu, menabung
dan jika diberikan Allah kesempatan, saya ingin melanjutkan pendidikan saya.

4. Jika ditanya kelebihan mungkin saya akan menjawab tidak ada, tapi saya sedang berusaha
keras untuk mewujudkannya.

5. Kompetisi yang ketat sebenarnya hal yang baik jika kita melihatnya dari sudut pandang
positif. Dimana kita bisa terus mengembangkan kemampuan dan meningkatkan
keterampilan untuk menjadi yang lebih baik lagi. Lupakan kemampuan orang lain dan fokus
pada kemampuan diri sendiri untuk menciptakan energi positif dalam upaya mendorong
semangat bekerja dan belajar menjadi lebih baik lagi.

6. Saya sebenarnya sering mengalami hal ini, dimana hal yang benar-benar saya harapkan
tidak terpenuhi. Hal yang bisa saya lakukan hanyalah menerima kenyataan. Saya yakin,
rezeki sudah diatur oleh Allah. Tidak akan tertukar dan akan sampai pada waktunya. Bisa
jadi yang saya anggap terbaik sebenarnya membawa dampak buruk bagi saya, dan begitu
pula sebaliknya. Jadi, saya terus berfikir positif dan kalaupun gagal lagi saya hanya perlu
bangkit dan semangat untuk menyiapkan diri lagi.

7. Dilihat dari segi arsitektur, isu sosial politik yang terjadi di Indonesia menyebabkan krisis
identitas. Isu ini tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan tata ruang atau tata masa
massa bangunan saja, tetapi juga terpengaruh oleh nilai sosial dan budaya.
Sebagai arsitek, sebaiknya tidak hanya memecahkan masalah perancangan namun juga
harus bisa memposisikan diri sebagai masyarakat, khususnya sebagai subjek pengguna
perancangan. Tidak terbatas pada perancangan fisik, arsitek juga sebaiknya berorientasi
pada proses sebagai perancangan sosial yang melibatkan masyarakat. Alternatif lain adalah
dengan mengusung konsep atau solusi yang melindungi warga marjinal secara ekonomi
maupun politik dan mengayomi warga.
Menanggapi hal ini sebaiknya bangunan harus ditunjang dengan fasilitas seperti RTH yang
menyediakan lahan hijau bagi masyarakat, sehingga lahan yang dipakai untuk pembangunan
tersebut dapat memberikan dampak baik pada lingkungan. Tidak hanya itu, pembangunan
RTH dengan konsep unik dan tertata akan menarik antusias masyarakat untuk mengunjungi
taman tersebut. Menanggapi dari segi ekonomi hal yang bisa dilakukan adalah dengan
program rumah murah yang sudah pernah dilakukan oleh Yu Sing, arsitek Indonesia.
Meskipun dengan dana terbatas, masyarakat masih bisa memiliki hunian dengan arsitektur
yang indah.

8. Tokoh yang saya kagumi dalam dunia arsitek adalah Bapak Yu Sing. Beliau sangat
konsisten dalam berkarya. Setiap karyanya pun selalu berkomitmen pada kebudayaan,
potensi, dan permasalahan yang ada di Indonesia.
Saat saya berkunjung ke Studio Akanoma bersama teman-teman ketika program KKL
beberapa tahun yang lalu, saya dibuat kagum dengan suasana studio yang didominasi
material kayu dan bambu pada bagian atap, dinding, lantai bahkan perabotannya.
Di lantai bawah, ruang besar yang dikelilingi kebun bambu beliau manfaatkan untuk ruang
komunal masyarakat bagi aktivitas masyarakat seperti berdiskusi maupun tempat anak-
anak belajar di sore hari. Di lantai atas, masih dengan suasananya yang sama, angin dan
cahaya masuk melalui celah-celah bilik bambu untu menerangi dan menyejukkan ruang.
Setelah kembalinya saya dari sana, saya kemudian mencari tahu lagi biografi Yu Sing di
internet dan semakin membuat saya kagum adalah beliau mempunyai mimpi yang
sederhana namun tulus yaitu ingin membantu setidaknya lima desain rumah murah
pertahun bagi masyarakat yang ingin mempunyai hunian yang ingin membangun rumah.
Tidak hanya itu, beliau juga aktif dalam kegiatan Habitat for Humanity, sebuah lembaga
nirlaba internasional yang membantu masyarakat kurang mampu untuk memiliki atau
memperbaiki rumah dengan sistem menabung secara berkelompok.
Respect.

9. "Percaya pada diri sendiri bahwa kamu bisa"


Kalimat sederhana itu sangat membantu saya ketika saya dalam kesulitan. Kalimat
sederhana itu seingkali diucapkan oleh Ayah saya ketika menasihati saya.
10. Analisa Karya
a. Kengo Kuma ‐ V & A Museum
V & A Museum merupakan museum tingkat dunia yang didesain untuk mengintegrasikan
sistem ruang publik yang akan menghubungkan pusat kota dengan fasilitas budaya.
Perpaduan antara stasiun kereta api, Urban Plaza dan Museum akan menjadikan sekitaran
sungai disekitarnya sebagai ruang sosial yang dapat mewadahi kegiatan pameran maupun
kebudayaan disana.
Eksterior museum dan jalanan pada tepian sungai akan menciptakan koneksi antara ruang
dalam dan ruang luar, dimana material museum yang berupa fasad batu dan lantai dari kayu
yang terhubung ke tepi pantai akan menciptakan hubungan yang dinamis dan menarik. Ini
akan menghindari persepsi museum sebagai benda asing yang berdiri di sungai.
Museum ini terdapat aula besar yang berfungsi sebagai alun-alun publik yang dapat
mewadahi beberapa kegiatan seperti konser, lokakarya seni, instalasi, pameran dan banyak
lagi. Pada sepanjang public hall facade, terdapat tangga besar terbuka yang menghungkan
ruang publik ke ruang pameran di lantai atas yang berupa galeri utama.
Di atas pintu utama terdapat pusat desain dengan ruang praktisi dengan lantai mezzanine,
ruang ini hanya dapat dilihat dari sudut pandang pengunjung, sehingga tidak akan
mengganggu kegiatan para desainer selama bekerja. Selain itu museum ini juga nenyediakan
fasilitas restoran dan cafe yang menampilkan pemandangan Sungai Tay yang dapat menjadi
poin tambahan untuk menarik pengunjung internasional dan sekitar.

b. Zaha Hadid ‐ Antwerp Port House

Dengan konsep yang menginterprestasikan kebebasan dari volume baru berbentuk balok
yang dinaikkan ke atas gedung dan didukung oleh tiga pilar beton, perpanjangan ini
diposisikan secara asimetris sehingga memungkinkan cahaya masuk ke dalam bangunan
dan menjadikan desain arsitektur fasad dengan tinggi 46 meter ini sangat dinamis terhadap
lingkungan sekitarnya. Desainnya yang unik menjadikannya icon yang dapat terlihat dari
berbagai arah.
Volume baru tadi berorientasi ke Utara-Selatan menghadap ke dermaga Kattendijk,
sedangkan kepala bangunan pada sisi Selatan merupakan bingkai yang terlihat ke arah kota
dan menandai awal dari area pelabuhan.
Dinding luar menggunakan material dari panel kaca dan aluminium yang berbentuk segitiga,
beberapa transparan dan beberapa berupa cermin. Panel ini tidak seluruhnya diletakkan
pada bidanh yang sama tetapi diputar sedikit dengan memperhatikan satu sama lain,
sehingga tercipta permainan cahaya yang masuk ke dalam bangunan.

c. Thomas Heatherwick ‐ Learning Hub Nanyang Technological University Singapore


Bangunan yang menyerupai sarang lebah yang panjang ini mengeksplorasi cara-cara
pembelajaran yang baru. Sebelumnya model pembelajaran selalu berhubungan dengan
siswa yang duduk mendengarkan gurunya mengajar di depan kelas. Universitas ini ingin
meninggalkan hubungan yang seperti itu dan mendorong pembelajaran yang kolaboratif.
Desain bangunan berupa tower 8 lantai yang terdiri dari ruang-ruang belajar dan
menghindari penggunaan sirkulasi dan tata ruang yang tradisional untuk meninggalkan
hierarki standar kelas dimana guru di depan dan siswa nenghadap ke arahnya. Alih-alih
koridor, setiap lantai akan memiliki galeri terbuka sebagai sirkulasi dan berkumpulnya
siswa. Pintu masuk yang diaplikasikanpun bukanlah pintu konvensional, tetapi berporos dan
terhubung satu sama lain sehingga siswa dapat masuk dari segala arah.
Desain Heatherwick ini mencerminkan taman yang rimbun dengan menempatkan tanaman
dan pohon di atap dan pada beberapa tingkat sirkulasi.

d. Gehry ‐ Guggenheim Museum Bilbao


Guggenheim Bilbao merupakan bagian dari program pembaruan urban yang dilakukan oleh
pemerintah setempat karena pusat industri dan pelabuhan yang mengalami penurunan
ekomomi. Diskusi awal berfokus pada mengubah struktur industri yang ada menjadi
museum seni pada lokasi yang lebih sentral dan fleksibel yaitu di tepian Sungai Nervión.
Museum Bilbao dibuat dari ketiadaan referensi historis dan berfokus pada rotunda sentral
atau atrium. Meskipun Bilbao mempunyai skala yang lebih besar daripada Museun
Guggenheim di New York, ruang yang dihasilkan menjadi lebih modern dari kekuatan
arsitektur dan energi yang besar.
View utama Bilbao berupa sungai yang bisa dibilang paling dramatis dan memuaskan,
meskipun begitu pintu utama berada di sisi seberang gedung, di pedestrian perumahan yang
sempit. Untuk pengunjung yang menggunakan kereta api bisa masuk melalui alun-alun batu
kapur yang luas dan melintas ke atrium. Interior bangunan sangat kompleks dan agak kacau,
volume kaca dan baja berliku-liku dan memadukan batu kapur dan dinding plaster yang
tidak beraturan. Terdapat terowongan lift yang berkilau dan jalan vertigo.
Atrium pusat (di atas) berfungsi sebagai pusat sirkulasi dan orientasi galeri, menyediakan
akses ke 20 galeri pada tiga tingkat. Sementara rangkaian galeri "klasik" berbentuk segi
empat, ruang pameran lain memiliki bentuk yang berbeda-beda, seperti dinding yang miring
atau lengkung bahkan terkadang balkon. Ruang bebas kolom yang sangat besat di sepanjang
balkon sungai depan dan di bawah jembatan yang bersebelahan sangat ideal untuk karya
patubg besar berisi instalasi oleh Richard Serra.
Penerimaan untuk desain Gehry yang tidak ortodoks ini sangag luar biasa, desain ini menarik
pengakuan internasional dari sesama arsitek dan kritikus, serta para turis yang datang dari
seluruh dunia. Tujuan awal pemerintah yang ingin memperbaiki keadaan ekonomi lokal
menjadikan salah satu karya Gehry sebagai suatu keajaiban dan membuatnya menjadi
starchitects dengan profil tinggi.

e. Alvar Alto ‐ Aalto Hochhaus Bremen

Aalto Hochhaus Bremen adalah apartemen bertingkat 22 lantai yang dibangun di Bremen
dan merupakan pembangunan perumahan terbesar di Eropa masa itu (tahun 1960-an).
Gedung tinggi ini membentuk aksen di pusat kota Neue Vahr antara pusat perbelanjaan dan
danau buatan dengan lahan berlanskap.
Desainnya yang seperti kipas membuat satu kamar di apartemen ini sangatlah kecil namun
akan mendapatkan manfaat dari pandangan yang lebih luas melalui jendela yang besar
sehingga memungkinkan pencahayaan yang optimal.
Bentuk gelombang pada bangunan memungkinkan tingkat privasi yang tinggi karena tidak
bisa melihat tetangga di apartemen mereka. Bagian depan yang bergelombang merupakan
balkon yang menghadap ke matahari sore. Lorong besar dan area umum pada lantai dasar
dimanfaatkan sebagai tempat mempromosikan aktivitas penghuni.