You are on page 1of 9

TUGAS INDIVIDU

TEKNIK PEMBORAN II
“CEMENTING”

DOSEN PENGAMPU:
IDHAM KHALID, ST, MT

DISUSUN OLEH:
M. AGUNG OKTAVIAN
163210068
KELAS A

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2019
A. DEFINISI SEMEN

Semen merupakan suatu bahan yang bersifat hidrolis, yaitu bahan yang
akan mengalami proses pengerasan pada percampurannya dengan air ataupun
larutan asam. Penyemenan pada sumur pemboran adalah suatu proses
pencampuran (mixing) dan pendesakan (displacement) bubur semen (slurry)
melalui casing sehingga mengalir ke atas melewati annulus di belakang casing
sehingga casing terikat ke formasi. Pada umumnya penyemenan bertujuan
untuk melekatkan casing pada dinding lubang bor, melindungi casing dari
masalah-masalah mekanis sewaktu pemboran berlangsung (seperti torsi yang
tinggi dan lain-lain), melindungi casingdari fluida formasi yang bersifat
korosif dan untuk memisahkan zona yang lain di belakang casing.
Penyemenan merupakan faktor yang paling penting dalam operasi pemboran
sehingga dapat mereduksi kemungkinan-kemungkinan permasalahan secara
mekanis sewaktu melakukan pemboran.

Proses penyemenan dapat menentukan berhasil atau tidaknya sumur pada


saat memproduksikan minyak ke permukaan. Kegagalan dalam penyemenan
formasi merupakan kerugian yang sangat besar, baik secara materi dan
efisiensi waktu. Semen yang digunakan dalam dunia perminyakan adalah
semen portland. Semen portland dibuat dari bahan dasar calcareous seperti
(limestone, chalk, marl yang mengandung CaCO dan CaO) dan bahan dasar
argillaceous seperti clay, shale, slate, ash yang mengandung SiO, AlO dan
FeO, yang diproses pada rotary klin(tempat pembakaran berputar) dengan
temperatur 2.600°F-2.800°F.

B. FUNGSI SEMEN

Penyemenan adalah proses pendorongan bubur semen ke dalam casing


dan naik ke annulus yang kemudian didiamkan sampai semen tersebut
mengeras hingga mempunyai sifat melekat baik terhadap casing maupiun
formasi, Secara lebih spesifik, fungsi penyemenan dalam suatu pemboran
adalah :
• Melindungi casing / liner dari tekanan yang dating dari bagian luar casing
yang dapat menimbulkan collapse (mengkerut).
• Mencegah adanya migrasi fluida yang tidak diinginkan dari satu formasi
ke formasi yang lain.
• Melindungi casing dari fluida yang bersifat korosi.
Untuk memenuhi Fungsi-fungsi tersebut di atas, maka semen pemboran
harus memenuhi beberapa syarat :
• Semen setelah ditempatkan harus mempunyai kekuatan atau strength
yang cukup besar dalam waktu tertentu.
• Semen harus memberikan daya ikat casing dengan formasi yang cukup
baik.
• Semen tidak boleh terkontaminasi dengan fluida formasi ataupun dengan
fluida pendorong
• Semen harus impermeable (permeabilitas harus nol)

C. KLASIFIKASI SEMEN
Dalam proses penyemenan di operasi migas pemboran tentu akan ada beberapa bahan
utama atua bahan pendukung untuk mempermudah proses,untuk bahan utama semen yang di
pilih berdasarkan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan saat proses penyemenan, misalnya
untuk semen ada beberapa pembagian jenis dan tipe, semen di bedakan berdasarkan temperature
dan kedalaman, misalnya pada setiap sumur berbeda kedalaman, sumur A memiliki kedalaman
600 ft sedangkan sumur B memiliki kedalaman 1000 ft, maka pada kedua jenis sumur ini akan
berbeda jenis semen yang di gunakan, biasanya semakin dalam kedalaman sumur maka semen
yang di gunakan akan semakin bagus untuk memkuat bagian dasar dan tidak mudah mengering.
Kondisi sumur tersebut meliputi kedalaman sumur, temperatur, tekanan dan kandungan yang
terdapat pada fluida formasi (seperti sulfat dan sebagainya). Pada tugas ini klasifikasi semen
yang dibahas adalah semen kelas B dimana semen kelas B digunakan dari kedalaman 0 sampai
6000 ft dan tersedia dalam jenis yang tahan terhadap kandungan sulfat menengah dan tinggi
(moderate and high sulfat resistant).
Dalam pembuatan semen selain komponen dasar, ada juga komponen tambahan dalam
pembuatan semen pemboran. Komponen tambahan semen merupakan macam-macam additive
yang digunakan dalam operasi penyemenan untuk memperoleh sifat khusus atau kinerja yang
dibutuhkan. Additive yang umum digunakan untuk bahan campuran padasuspensi semen/slurry
antara lain :
 Raterder untuk memperlambatkan atau memperpanjang thickening time.
 Accelerator untuk mempercepat thickening time.
 Weighting Agent untuk menambah densitas suspense semen.
 Extender untuk menaikkan volume dari bubuk semen.
 Dispersant untuk menurunkan viskositas suspense semen.
 Fluid Loss Control Agent untuk mengurangi filtrate (air bebas)
 Lost Circulation Control Agent untuk mengurangi kehilangan semen.
API telah melakukan pengklasifikasian semen kedalam beberapa kelas guna
mempermudah pemilihan dan penggolongan semen yang akan digunakan,
pengklasifikasian ini berdasarkan pada kondisi sumur, temperature, tekanan dan
kandungan yang terdapat pada fluida formasi. Klasifikasi semen yang dilakukan API
terdiri dari:

Kelas A
Semen kelas A ini digunakan dari kedalaman 0 (permukaan) sampai 6.000 ft.
semen ini terdapat dalam tipe biasa (ordinary type) saja, dan mirip dengan semen
ASTM C-150 tipe I.

Kelas B
Semen kelas B digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan
tersedia dalam jenis yang tahan terhadap kandungan sulfat menengah
dan tinggi (moderate dan high sulfate resistant)

Kelas C
Semen kelas C digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan
mempunyai sifat high-early strength (proses pengerasannya cepat)
semen ini tersedia dalam jenis moderate dan high sulfate resistant.

Kelas D
Semen kelas D digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 12.000
ft, dan untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperature
tinggi. Semen ini tersedia juga dalam jenis moderate dan high sulfate
resistant.

Kelas E
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 14.000
ft, dan untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperature
tinggi. Semen ini tersedia juga dalam jenis moderate dan high sulfate
resistant.

Kelas F
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 10.000 ft sampai
16.000 ft, dan untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan
temperature tinggi. Semen ini tersedia dalam jenis high sulfate resistant.

Kelas G
Semen kelas G digunakan dari kedalaman 0 sampai 8.000 ft, dan
merupakan semen dasar. Bila ditambahkan retarder semen ini dapat
dipakai untuk sumur.
1. KOMPOSISI SEMEN TIPE LEAD
a. WCR atau Water Cementing Ratio adalah rasio berat air dengan berat semen
yang digunakan dalam campuran beton. Rasio yang lebih rendah mengarah
pada kekuatan dan daya tahan yang lebih tinggi, tetapi mungkin membuat
campuran sulit untuk dikerjakan dan dibentuk.
b. Bentonite merupakan bermineral clay. Sifat utamanya adalah dapat
menghisap air dalam jumlah banyak, sehingga volume bubur semen yang
terjadi bisa naik hingga 10 kali. Akibatnya berat jenis bubur semen dapat
turun lebi besar. Penambahan bentonite harus diiringi dengan penambahan air.
Unutk 2% bentonite kira-kira penambahan air adalah 1,3 gallon per sack.

Pengaruh lain akibat penambahan bentonite adalah:


- Yield semen naik
- Biaya lebih murah
- Kualitas perfirasi menjadi lebih baik
- Compressive strength semen naik
- Permeabilitas semen naik
- Viskositas bubur semen naik
Untuk temperature 230˚F keatas, penambahan bentonite sangat drastis
menurunkan strength semen dan menaikkan permeabilitas semen.

c. Calcium chlorida (CaCl2) 2% CaCl2 dapat melipat gandakan compressive


strength semen dalam tempo 24 jam pada temperatur 120˚F. umumnya CaCl2
yang ditambahkan berkisar antara 2% - 4%.
d. Gilsonite adalah mineral hidrokarbon yang memiliki kandungan asphalten
dan nitrogen yang cukup tinggi dan sangat mudah menyatu dengan aspal.
Gilsonite tidak memerlukan banyak air. Sehingga menurunkan compressive
strength semen akan lebih kecil dibandingkan denagn extender yang lain,
untuk pengurangan berat jenis yang sama.
e. CMC merupakan zat pengental. CMC berfungsi untuk memperlambat
thickening time.
f. HR-12 adalah retarder yang efektif untuk semua jenis semen, berguna dalam
kondisi yang terlalu parah, mampu memberikan retardasi yang sangat baik di
sumur dengan sirkulasi bottomhole setinggi 340˚F. retarder HR-12 juga
mampu memberikan pendispersi pada semen.
g. SSA-2 merupakan Strenght Stabilizing Agent adalah pasir kering no. 1
Oklahoma. Ini lebih kasar daripada SSA-1 silika. Ini membantu menstabilkan
kekuatan dan permeabilitas semen pada temperature bottomhole antara 230°F
dan 700°F.
h. Diacel-D power extender additive merupakan aditif kelas khusus dari
diatomaceous refined earth yang memungkinkan hasil formulasi tinggi, semen
dengan kepadatan rendah. Diacel-D berguna dalam aplikasi lost circulation
atau diperlukan saat tekanan hidrostatis rendah.

2. KOMPOSISI SEMEN TIPE TAIL


a. WCR (Water Cementing Ratio) adalah rasio berat air dengan berat semen
yang digunakan dalam campuran beton. Rasio yang lebih rendah mengarah
pada kekuatan dan daya tahan yang lebih tinggi, tetapi mungkin membuat
campuran sulit untuk dikerjakan dan dibentuk.
b. Barite merupakan bahan yang paling umum digunakan menaikkan berat jenis
bubur semen, maupun lumpur pemboran. SG dari barite adalah 4.3 dan dapat
menaikkan berat jenis bubur semen menjadi 18 ppg. Kata lain untuk barite
adalah barium sulfate. Dalam penambahan barite, perlu diiringi dengan
penambahan air untuk membasahi partikelnya, karena barite mempunyai
surface area yang besar. Air ini dapat juga melarutkan retarder dari bubuk
semen. Sehingga thickening timenya jadi singkat. Penambahan air yang
banyak dapat menurunkan compressive strength dari semen.
c. HR-4 adalah retarder kalsium lingo sulfanate, suhu rendah untuk
sumur-sumur antara dengan suhu sirkulasi bottomhole 170˚F yang
dapat digunakan untuk memperlambat thickening time, sebagai
efek sekunder retarder HR-4 bertindak sedikit dispersan.
d. CMC merupakan zat pengental. CMC berfungsi untuk memperlambat
thickening time.
e. SSA-2 merupakan Strenght Stabilizing Agent adalah pasir kering no. 1
Oklahoma. Ini lebih kasar daripada SSA-1 silika. Ini membantu menstabilkan
kekuatan dan permeabilitas semen pada temperature bottomhole antara 230°F
dan 700°F.
f. Diacel-D power extender additive merupakan aditif kelas khusus dari
diatomaceous refined earth yang memungkinkan hasil formulasi tinggi, semen
dengan kepadatan rendah. Diacel-D berguna dalam aplikasi lost circulation
atau diperlukan saat tekanan hidrostatis rendah.
g. Calcium chlorida (CaCl2) 2% CaCl2 dapat melipat gandakan compressive
strength semen dalam tempo 24 jam pada temperatur 120˚F. umumnya CaCl2
yang ditambahkan berkisar antara 2% - 4%.
h. Diacel-D power extender additive merupakan aditif kelas khusus dari
diatomaceous refined earth yang memungkinkan hasil formulasi tinggi, semen
dengan kepadatan rendah. Diacel-D berguna dalam aplikasi lost circulation
atau diperlukan saat tekanan hidrostatis rendah.

3. EVALUASI PENYEMENAN
a. CBL (Cement Bond Log) merupakan metode logging untuk mengetahui
kekuatan cement. Prinsip kerja CBL dianalogikan seperti lonceng yang
dipukul dengan cement sebagai peredam disekitarnya. Semakin kuat/padat
cement, gelombang suara yang dihasilkan akan semakin teredam.
b. BI digunakan untuk menggambarkan fraksi ikatan linkaran yang
menunjukkan apakah bond index menunjukkan nilai yang baik atau buruk
ataupun harus dilakukan cementing ulang.
c. Compressive strength adalah kemampuan suatu material atau semen untuk
mempertahan keutuhannya dibawah tekanan berasal dari arah horizontal.
Artinya berapa besar tekanan yang dapat diterima oleh material itu sebelum ia
hancur sehingga tidak dapat digunakan lagi sebagaimana yang
diperuntukkannya. TekanaN maksimum yang dapat diterima oleh suatu
material sebelum kehancurannya disebut compressive strength dari material
tersebut.
d. Shear Bond Strenght didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam menahan
tekana yang berasal dari berat casing atau menahan tekanan dalam arah yang
vertical.
e. VDL (Variable Density Log) adalah salah satu metoda evaluasi cement yang
dilakukan dengan wireline logging. Seperti halnya CBL, pada dasarnya VDL
adalah acoustic logging namun besaran yang diamati tidak hanya amplitude
sinyal akan tetapi juga travel time dari sinyal tersebut.