You are on page 1of 31

BAB IV

PENENTUAN STATUS MUTU KUALITAS AIR SUNGAI

JENEBERANG DENGAN METODE STORET

4.1 Peta Titik Lokasi Conto


Pengambilan conto air dalam penelitian ini dilakukan secara teratur yang

dimana pengambilan sample berjarak 100 meter pada setiap sample. Jumlah conto

yang diambil yaitu sebanyak 10 conto sampel air yang terbagi atas 7 conto di daerah

pemukiman warga dan 3 conto di daerah sekitar penambangan.Lokasi dan titik

pengambilan conto dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Peta titik lokasi conto.

4.2 Hasil Pengujian Sampel Air Sungai Jeneberang


Hasil pengambilan sampel uji air sungai Jeneberang, dengan melalui pengujian di

laboratorium kita akan mengetahui kualitas air sungai Jeneberang, untuk itu diperoleh

hasil pengujian sebagai berikut:

29
1. Hasil sampel uji pada parameter fisika
Hasil pengamatan dan pengujian pada sampel uji air Sungai Jeneberang dapat

dilihat pada Gambar 4.2 dibawah ini.

Gambar 4.2 Nilai Suhu pada Sampel Air Sungai

Nilai suhu dapat dilihat pada gambar 4.2 bahwa pengambilan sampel pada 10

titik lokasi yang berbeda memperlihatkan nilai suhu pada sampel uji bervariasi. Untuk

sampel pada lokasi pengambilan titik 1, titik 2, titik 3, dan titik 4 memperlihatkan nilai

suhu air sungai Jeneberang yang sama yaitu sebesar 26 ͦ C. Sementara suhu untuk

sampel pada lokasi titik 5 dan titik 6 memberikan nilai 26,4 o C dan 36o C. Nilai suhu

sampel air pada titik ini lebih tinggi dari nilai suhu sampel uji pada lokasi titik 1 sampai

dengan titik 4. Kemudian untuk sampel uji pada lokasi titik 7, titik 8, titik 9, dan titik 10

sampel uji memberikan nilai suhu 27 ͦ C. Nilai suhu pada lokasi titik-titik ini merupakan

nilai yang terbesar dibandingkan dengan nilai-nilai suhu pada lokasi titik-titik lainnya.

Dari data pengamatan pada semua titik di atas terlihat bahwa suhu pada lokasi sampel

uji yang diambil pada 10 titik tersebut, mempelihatkan nilai suhu bervariasi antara 25

ͦC-27 ͦ C.

Variasi suhu yang diberikan pada sampel uji masih berada dalam batas–batas

suhu normal air di daerah tropis. Adanya perbedaan suhu pada sampel uji karena

30
pengambilan sampel dilakukan pada tempat–tempat yang berbeda dan dilakukan pada

waktu siang hari. Bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suatu

suhu adalah sudut datang matahari. Sudut datang matahari adalah sudut yang

dibentuk oleh sinar matahari dan suatu bidang di permukaan bumi. Semakin besar

sudut datangnya sinar matahari, maka semakin tegak datangnya sinar matahari

sehingga suhu yang diterima bumi semakin tinggi. Sebaliknya semakin kecil sudut

datangnya sinar matahari, maka semakin miring datangnya sinar matahari dan suhu

yang diterima bumi semakin rendah. Sehingga tinggi dan bervariasinya suhu air pada

sampel uji disebabkan oleh intensitas cahaya matahari yang tinggi pada siang hari

karena pada saat itu sudut datang matahari adalah pada yang sudut besar, dan waktu

pengambilan sampel dilakukan pada pukul 11.00-14.00 WITA dengan kondisi cuaca

cerah berawan.

2. Pengujian Parameter Kimia

a. pH
Hasil pengujian pH air sampel uji pada sepuluh titik Sungai Jeneberang, dapat di

lihat pada Gambar 4.3 di bawah ini.

Gambar 4.3. Nilai pH pada sampel uji

31
Nilai pH dapat dilihat pada Gambar 4.3 bahwa pH air sampel uji pada

pengambilan di titik1 memberikan nilai pH air sebesar 8,2. Nilai pH air ini merupaka

nilai air yang terbesar diantara pH air sampel uji yang diambil pada 10 titik.

Selanjutnya pada titik 2, pH air diperoleh sebesar 7, 9. Nilai pH air ini lebih rendah dari

nilai pH air pada titik 1. Sementara pH air untuk sampel pada titik 3 dan 4, diperoleh

sebesar 7,6 dan 7,8 . Nilai ini juga lebih rendah baik terhadap pH air pada sampel

titik 1 maupun pH air pada sampel titik 2. Selanjutnya pada sampel uji titik 5 sampai

dengan sampel uji titik 10 memeperlihatkan nilai pH air yang turun naik. Pada sampel

titik 5, pH air diberikan sebesar 7,4 kemudian pH air naik menjadi 7,5 pada sampel

titik 6. Selanjutnya sampel pada titik 7, pH air turun kembali menjadi 7,4. Dan untuk

sampel uji pada titik 8, titik 9 dan titik 10 juga diberikan nilai pH air, masing-masing

sebesar 7,3, 7,4, dan 7,3.


Keseluruhan dari grafik di atas terlihat bahwa nilai pH air sampel uji dari titik 1

sampai dengan titik 10 memberikan nilai pH yang bervariasi, mulai dari 7,3 - 8,2.

Sampel uji air pada titik 1 memberikan nilai pH air yang terbesar yaitu 8,2 dan pH air

terendah diberikan oleh sampel uji pada titik 8 yaitu sebesar 7,3. Rata-rata pH air dari

10 titik sampel yang diambil memberikan nilai pH air rata-rata sebesar 7,58. Nilai pH

air yang diperoleh pada sampel uji


Secara umum dari hasil pengujian sampel uji air sungai Jeneberang pada sepuluh

titik, memberikan nilai pH air yang terlihat masih memenuhi standar baku mutu

KepMen LH no.51 / 2004 tentang baku mutu air sungai yaitu 7,0 - 8,3.

b. Unsur-unsur kimia

1. Besi
Hasil pengujian laboratorium diperoleh data kandungan besi dalam air Sungai
Jeneberang, pada sepuluh titik tempat pengambilan sampel uji, dapat dilihat pada
Gambar 4.4 dibawah ini

32
Gambar 4.4. Nilai kandungan Besi pada sampel uji
Nilai kandungan besi dapat dilihat pada Gambar 4.3 bahwa kandungan besi

dalam sampel uji air sungai Jeneberang pada titik 1, memberikan nilai kandungan besi

sebesar 17,14 mg/l. Sampel–sampel uji lainnya yaitu pada titik 2, titik 3, dan titik 4,

masing- masing memberikan nilai kandungan besi dalam air berturut-turut sebesar

17,08 mg/l, 17,02 mg/l dan 16,88 mg/l. Nilai-nilai ini terlihat lebih rendah dari nilai

kandungan besi pada titik 1. Sementra itu nilai kandungan besi pada sampel uji di titik

5, titik 6 dan titik 7, juga memberikan nilai kandungan besi yang tidak terlalu jauh

terpaut dengan nilai–nilai pada titik sebelumnya, dengan memberikan nilai kandungan

besi sebesar 17,03 mg/l, 16,95 mg/l dan 17,1 mg/l. Selanjutnya nilai kandungan besi

mulai terlihat menurun dengan selisih yang cukup jauh dari nilai-nilai sampel uji

sebelumnya, yaitu terlihat pada sampel uji titik 8, titik 9 dan titik 10, dimana

memberikan nilai kandungan besi berturut-turut sebesar 12,28 mg/l, 12,58 mg/l dan

12,40 mg/l.
Data dari keseluruhan hasil yang ada pada gambar grafik di atas, terlihat bahwa

kandungan besi yang terkandung pada sampel - sampel uji di sepuluh titik

pengambilan, memberikan nilai kandungan besi yang bervariasi, mulai dari nilai 12,28

33
mg/l-8,2 mg/l. Nilai kandungan besi yang tertinggi yaitu 8,2 mg/l terdapat dalam

sampel uji air pada titik 1. Sementara nilai kandungan besi yang terkecil, diperlihatkan

pada sampel uji air pada titik 8 dengan nilai 12,28 mg/l.
Data di atas terlihat bahwa semua sampel uji memperlihatkan adanya

kandungan besi di dalam air dalam jumlah yang tinggi. Berdasarkan standar baku

untuk kandungan besi dalam air, tidak membolehkan adanya kandungan besi dalam

air. Sementara itu kadar besi pada perairan alami berkisar antara 0,05-0,2 mg/L (Boyd,

1998 dalam Effendi, 2003). Kadar besi > 1,0 mg/L dianggap membahayakan

kehidupan. Sehingga dari data yang ada kandungan besi yang terkandung dalam

sampel uji air sungai Jeneberang sangat membahayakan jika dikomsumsi tanpa

penyaringan terlebih dahulu.


Zat besi bentuk ion Fe2+ bentuk senyawa yang larut dan air dan tidak berwarna.

Jika air tersebut berhubungan dengan udara maka ion Fe 2+ secara perlahan akan

teroksidasi menjadi betuk senyawa ferri (Fe 3+) atau senyawa mangandioksida (Mn4+)

yang tak larut dalam air. Senyawa-senyawa ini berwarna coklat dan dapat

menimbulkan bau dan rasa yang kurang enak.


Kandungan besi dalam air dapat berasal dari larutan batu-batuan yang

mengandung senyawa Fe seperti Pyrit. Dalam buangan limbah industri kandungan besi

berasal dari korosi pipa-pipa air yang mengandung padatan larut mempunyai sifat

mengahantarkan listrik dan ini mempercepat terjadinya korosi.


2. Kadmium
Hasil pengujian kandungan zat Cadmium dalam sampel uji air pada sepuluh titik

sampel uji dapat dilihat pada Tabel 4.1. di bawah ini


Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan nilai kandungan zat Cadmiun (Cd)
Hasil pemekrisaaan
Standar Rata
No Parameter Satuan SAMPLE Max Min
Mutu -Rata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kekeruhan
439, 439, 353,
1 NTU (-) 387 360 334 350 386 410 301 287 265 287
/ Turbidity 5 5 5
Besi (Fe) 17,0 16,8 17,0 16,9 12,2 12,5 12,4 17,1 12,2 15,6
2 mg/l (-) 17,14 17,08 17,1
/Iron 2 8 3 5 8 8 6 4 8 5
< < < < < < < < < < <
Cadmium
mg/l 0,01 < < 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
(Cd)
3 0.003 0.003 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
4 Mangan mg/l (-) 0,23 0,16 0,19 0,18 0,21 0,21 0,23 0,14 0,15 0,15 0,23 0,14 0,18
(Mn)/ 5

34
Manganes
Timbal (Pb) < < < < < < < < < < <
5 mg/l 0,03 < 0.01 < 0.01
/Lead 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
0,01
6 Zn mg/l (-) 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,02 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,01 5
0,00 0,01 0,00 0,00 0,01 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00
7 Cu mg/l 0,02 0,008 0,005 5 2 4 7 2 7 4 1 0,01 4 9
5,98
8 BOD mg/l 6 4,85 5,11 4,49 6,09 7,32 6,78 7,28 6,35 4,23 7,35 7,35 4,23 5
34,3 36,1 62,3 71,2 51,1 45,8 50,1 71,2 34,3
9 COD mg/l 50 48,2 54,24 2 8 8 44,3 1 4 7 8 1 2 49,8
6,88
10 DO mg/l 3 8,23 6,4 7,36 6,4 5,76 9,1 6,87 4,8 5,75 8,14 9,1 4,8 1
11 Ph 6-9 8,2 7,9 7,8 7,6 7,4 7,5 7,4 7,3 7,4 7,3 8,2 7,3 7,58
Devias
o
12 Suhu C i3 26 26 26 26 26,5 26,5 27 27 27 27 27 26 26,5

Nilai kandungan Kadmium dapat dilihat pada Tabel 4.1 bahwa nilai kandungan

zat kadmium (Cd) dalam Sampel uji air pada semua titik, mulai dari pengambilan

sampel uji pada titik 1 sampai dengan pengambilan sampel uji pada titk 10,

memberikan nilai yang kurang lebih sama dimana nilai kandungan zat cadmium yang

diberikan berkisar dibawah nilai 0,003 mg/l. Nilai-nilai ini memperlihatkan nilai yang

aman untuk kandungan zat cadmium dalam air. Menurut standar baku untuk

kandungan Cadmium dalam air yang diperbolehkan adalah sebesar 0,01 mg/l. Hal ini

berarti bahwa kandungan zat Cadmium dalam sampel uji air sungai Jeneberang yang

berada dibawah 0,003 mg/l, masih dalam batas-batas yang aman atau masih

diperbolehkan.

3. Mangan (Mn)
Hasil pengujian kandungan zat Mangan dalam sampel uji air yang diambil pada

sepuluh titik dapat dilihat pada Gambar 4.5. di bawah ini

35
Gambar 4.5 Nilai Mangan pada sampel uji
Nilai Mangan dapat dilihat pada Gambar 4.5 bahwa nilai kandungan Mangan

diperoleh sebesar 0,23 mg/l pada sampel uji di titik 1. Nilai ini juga terlihat pada

sampel uji di titik 7 dengan perolehan nilai yang sama besar yaitu 0,32 mg/l.

Sementara nilai kandungan zat mangan pada sampel uji di titik 2, diperorleh nilai

mangan sebesar 0,16 mg/l. Nilai kandungan mangan ini terlihat turun dari nilai zat

mangan pada sampel uji di titik 1. Selanjutnya untuk sampel uji pada titik 3,

memberikan nilai zat mangan sebesar 0,19 mg/l. Nilai ini terlihat naik terhadap sampel

di titik 1 dan turun terhadap nilai pada titik 2. Nilai kandungan zat mangan terlihat

turun kembali pada sampel uji di titik 4 terhadap nilai sampel uji pada titik 3, yaitu

dengan memberikan nilai sebesar 0,18 mg/l. Sementara untuk sampel uji di titik 5 dan

titik 6, memberikan nilai kandungan zat mangan dengan nilai yang sama besar. yaitu

sebesar 0,21 mg/l. Nilai ini lebih tinggi dari sampel uji sebelumnya yaitu sampel uji

pada titik 4,3 dan 2. Selanjutnya kandungan zat mangan terlihat menurun jauh dari

sampel–sampel sebelumnya, dengan memberikan nilai mangan sebesar 0,14 mg/l.

Nilai kandungan mangan kembali naik pada sampel uji pada titik 9 dan titik 10

36
terhadap sampel di titik 8 dengan memberikan nilai yang sama yaitu sebesar 0,15

mg/l.

keseluruhan dari data pada Gambar 4.5 diatas, terlihat bahwa nilai kandungan

mangan yang terdapat dalam sampel uji air sungai Jeneberang, memberikan nilai yang

bervariasi antara sampel-sampel uji. Juga terlihat bahwa nilai kandungan mangan yang

tertinggi terdapat pada sampel uji di titik 1 dan di titik 7 dengan memberikan nilai

tertinggi sebesar 0,32 mg/l. Dan kandungan zat mangan dengan nilai yang terendah

terdapat pada sampel uji di titik 8 , dengan memberikan nilai 0,14 mg/l. Sementara

rata-rata kandungan nilai zat mangan diperoleh sebesar 0,19 mg/l.

Rata-rata kandungan nilai zat mangan ataupun melihat nilai masing-masing

kandungan zat mangan pada sampel uji, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai yang

diperoleh tersebut mengindikasikan bahwa kandungan zat mangan pada air sungai

Jeneberang tidak memenuhi standar baku, dimana menurut standar baku untuk zat

mangan, seharusnya dalam air tidak boleh terdapat zat mangan atau nilai kandungan

zat mangan harus negatif dalam air.

4. Timbal/Lead (Pb)

Hasil pengujian laboratorium diperoleh besarnya nilai kandungan zat Timbal pada

sampel uji air sungai Jeneberang pada sepuluh titik, disajikan dalam Tabel 4.2 di

bawah ini.

Tabel 4.2 Hasil pemeriksaan nilai kandungan zat Timbal (Pb)


Hasil pemekrisaaan
Standar Rata
No Parameter Satuan SAMPLE Max Min
Mutu -Rata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kekeruhan 439, 439, 353,
1 NTU (-) 387 360 334 350 386 410 301 287 265 287
/ Turbidity 5 5 5

Besi (Fe) 17,1 17,0 17,0 16,8 17,0 16,9 12,2 12,5 12,4 17,1 12,2 15,6
2 mg/l (-) 17,1
/Iron 4 8 2 8 3 5 8 8 6 4 8 5
< < < < < < < < < < < < <
Cadmium
mg/l 0,01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
(Cd)
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

37
Mangan
(Mn)/ 0,18
4 mg/l (-) 0,23 0,16 0,19 0,18 0,21 0,21 0,23 0,14 0,15 0,15 0,23 0,14
5
Manganes
Timbal (Pb) < < < < < < < < < < < < <
5 mg/l 0,03
0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
/Lead
0,01
6 Zn mg/l (-) 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,02 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,01 5
0,00 0,00 0,00 0,01 0,00 0,00 0,01 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00
7 Cu mg/l 0,02 8 5 5 2 4 7 2 7 4 1 0,01 4 9
5,98
8 BOD mg/l 6 4,85 5,11 4,49 6,09 7,32 6,78 7,28 6,35 4,23 7,35 7,35 4,23 5
54,2 34,3 36,1 62,3 71,2 51,1 45,8 50,1 71,2 34,3
9 COD mg/l 50 48,2 4 2 8 8 44,3 1 4 7 8 1 2 49,8
6,88
10 DO mg/l 3 8,23 6,4 7,36 6,4 5,76 9,1 6,87 4,8 5,75 8,14 9,1 4,8 1
11 pH 6-9 8,2 7,9 7,8 7,6 7,4 7,5 7,4 7,3 7,4 7,3 8,2 7,3 7,58
o
12 Suhu C Deviasi 3 26 26 26 26 26,5 26,5 27 27 27 27 27 26 26,5

Nilai Timbal dapat dilihat pada Tabel 4.2 bahwa nilai zat timbal pada sampel uji

air mulai di titik 1 sampai pada sampel uji di titik 10, memberikan kandungan nilai zat

timbal dengan kisaran yang sama, yaitu diberikan dibawah kisaran dari nilai 0,01 mg/l.

Sementara nila standar mutu untuk kandungan zat timbal dalam air, diberikan dengan

nilai 0,03. Ini berarti bahwa batas yang diperbolehkan kandungan zat timbal dalam air

hanya boleh sebesar 0,03 mg/l. Melihat hasil laboratorium yang ada, maka kandungan

nilai zat timbal dalam air sungai Jeneberang, masih dalam batas normal, dimana

kandungan zat timbalnya hanya berada di bawah 0,01mg/l. Nilai ini masih jauh

dibawah dari 0,03 mg/l yang merupakan nilai standar baku zat timbal.

5. Seng (Zn)
Hasil pengujian laboratorium terhadap sampel uji air sungai Jeneberang untuk

melihat nilai kandungan zat Zn dapat dilihat pada Gambar 4.6 di bawah ini.

38
Gambar 4.6 Nilai Seng pada sampel uji

Nilai Seng dapat dilihat pada Gambar 4.6 bahwa nilai kandungan zat Zn pada

sampel uji di titik 1, titik 2 titik 3, dan juga pada titik 7 dan titik 10 memberikan nilai

dengan kandungan nilai Zn yang sama besar, yaitu sebesar 0,01 mg/l. Sementara

untuk sampel uji di titik 4, titik 5, titik 6, titik 8 dan titik 9, memperlihatkan nilai

kandungan Zn yang meningkat dari sampel lainnya, dan juga memberikan nilai

kandungan zat Mn yang sama besar yaitu sebesar 0,02 mg/l. Dari 10 data sampel uji

memberikan rata-rata nilai kandungan zat Zn sebesar 0,15 mg/l. Dengan nilai rata-

rata kandungan zat Zn sebesar 0,15 mg/l ini, menunjukkan bahwa kandungan Zn

dalam air sungai Jeneberang, tidak memenuhi standar mutu kandungan Zn. Dalam

standar mutu untuk zat Zn , tidak memperbolehkan adanya zat Zn tersebut, atau

dengan kata lain bahwa zat Zn dalam air seharusnya negatif (tidak ada).

6. Tembaga (Cu)
Pada Gambar 4.7 di bawah ini menunjukkan hasil pengujian laboratorium untuk

kandungan zat Cu dalam setiap sampel uji pada sepuluh titik di sungai Jeneberang.

39
Gambar 4.7 Nilai Tembaga pada Sampel Air Sungai
Nilai Cu dapat dilihat pada Gambar 4.7 sampel uji pada titik 1 memberikan nilai

kandungan Cu sebesar 0,008 mg/l. Selanjutnya sampel pada titik 2 memperlihatkan

nilai Cu yang meningkat dari kandungan Cu pada titik 1, yaitu dengan nilai sebesar

0,005 mg/l. Nilai Cu sebesar 0,005 mg/l ini, juga diberikan oleh sampel uji pada titik 3

dengan nilai yang sama. Sementara sampel uji pada titik 4, memperlihatkan nilai

kandungan Cu yang meningkat cukup tinggi dari sampel sebelumnya, yaitu sebesar

0,012 mg/l. Dari sampel uji pada titik 1 sampai dengan titik 4, memperlihatkan nilai

kandungan Cu yang terus meningkat. Kemudian pada sampel uji di titik 5 memberikan

nilai kandungan Cu yang menurun tajam, dengan nilai kandungan Cu yang diberikan

sebesar 0,004 mg/l. Nilai kandungan Cu kembali naik pada sampel di titik 6 yaitu

sebesar 0,007 mg/l. Kemudian nilai kandungan Cu ini kembali naik menjadi 0,012 mg/l,

pada sampel uji di titik 7. Pada sampel uji di titik 8, nilai kandungan Cu menurun

menjadi 0,007 mg/l dan kembali naik menjadi 0,014 mg/l pada titik 9. Sementara

nilai kandungan Cu pada sampel uji di titik 10, memberikan nilai yang kembali turun

dengan memberikan nilai 0,011 mg/l.


Keseluruhan data sampel uji pada sepuluh titik memberikan nilai kandungan zat

Cu yang bervariasi, mulai dari nilai 0,004 mg/l – 0,014 mg/l. Nilai kandungan zat Cu

yang tertinggi sebesar 0,014 diberikan pada sampel uji di titik 9. Sementara

40
kandungan zat Cu yang terendah diberikan oleh sampel uji pada titik 5. Nilai rata-rata

kandungan zat Cu sampel uji air sungai Jeneberang yang diambil pada 10 titik

diberikan sebesar 0,011 mg/l.


Kandungan zat Cu dalam sampel air Sungai Jeneberang, baik dilihat dari hasil

kandungan masing-masing sampel uji pada setiap titik maupun melihat dari hasil rata-

rata kandungan zat Cu pada sampel uji, memberikan nilai kandungan zat Cu air sungai

Jeneberang dalam batas- batas sesuai dengan standar baku kandungan zat Cu.

Standar baku untuk nilai kandungan zat Cu dalam air adalah 0,02 mg/l, yang berarti

bahwa kandungan zat Cu dari hasil penelitian masih dalam standar baku atau berada

di bawah nilai batas standar baku, dengan nilai rata-rata yang diberikan sebesar 0,01

mg/l
7. BOD
Hasil pengujian sampel uji air sungai Jeneberang dengan menggunakan metode

storet yang diambil pada sepuluh titik dalam melihat kandungna Zat BOD, disajikan

dalam Gambar 4.8 di bawah ini.

Gambar 4.8 Nilai BOD pada sampel uji

Nilai BOD dapat dilihat pada Gambar 4.8 bahwa zat BOD pada sampel uji ti titik 1

memberikan nilai kandungan BOD sebesar 4,85 mg/l. Nilai yang diberikan pada sampel

41
uji di titik 1 ini masih berada dalam dibawah standar baku, dimana nilai standar baku

untuk zat BOD ini adalah 6 mg/l. Untuk sampel uji pada titik 2, terlihat kandungan nilai

COD diperoleh sebesar 5,11 mg/l. Nilai ini, juga masih berada di bawah nilai batas

standar baku. Pada sampel uji di titik 3, masih terlihat memberikan kandungan nilai

BOD, yang berada di bawah standar baku, dengan memberikan nilai sebesar 4,49

mg/l. Sementara itu untuk sampel uji pada titik 4 memberikan nilai kandungan zat

BOD yang meningkat dengan nilai 6,09 mg/l, dan nilai ini telah melebihi batas nilai

standar baku. Selanjutnya sampel uji pada titik 5, terlihat memberikan nilai kandungan

BOD yang terus meningkat yaitu menjadi 7,32 mg/l. Kandungan nilai BOD terlihat

menurun pada sampel uji di titik 6 dengan memberikan nilai sebesar 6,78 mg/l.

Meskipun terjadi penurunan kandungan zat BOD terhadap sampel sebelumnya (sampel

di titik 5) namun nilai tersebut masih melebihi nilai stadar baku. Terhadap sampel uji

di titik 7, nilai kandungn zat BOD terlihat kembali meningkat menjadi 7,28 mg/l.

Sementara sampel uji di titik 8, memberikan nilai kandungan BOD yang kembali turun

terhadap sampel sebelumnya, yaitu dengan memberikan nilai sebesar 6,35 mg/l.

Penurunan kandungan nilai BOD ini terus terjadi pada sampel uji di titik 9, dengan

memberikan nilai sebesar 4,23 mg/l. Penurunan nilai kandungan zat BOD pada titik 9

ini, memberikan nilai tersebut berada di bawah batas nilai standar baku. Selanjutnya

pada sampel terakhir yaitu sampel uji di titik 10, mempelihatkan peningkatan

kandungan zat BOD yang cukup tinggi dari sampel sebelumnya (Sampel titik 9),

dimana pada sampel ini memberikan nilai sebesar 7,35 mg/l. Perolehan nilai ini

merupakan nilai yang paling tinggi melewati nilai batas standar baku.

Data keseluruhan yang dihasilkan, terlihat bahwa nilai kandungan zat BOD yang

diberikan setiap sampel uji dengan sampel uji lainnya pada semua titik, memberikan

nilai yang berbeda-beda. Perbedaan variasi nilai kandungan zat BOD yang diberikan

berkisar antara 4,23 mg/l – 7,35 mg/l. Terlihat pula bahwa 4 sampel uji memberikan

42
nilai kandungan zat BOD , berada di bawah batas nilai stndar baku, yang artinya nilai–

nilai tersebut memenuhi nilai standar baku. Sementara 6 sampel lainnya

menunjukkan nilai kandungan zat BOD berada di atas nilai batas standar baku, yang

juga berarti nilai-nilai pada titik-titk tersebut, tidak memenu hi batas standar baku yang

ada.
Rata-rata nilai kandungan zat BOD sampel uji dari 10 titik pengambilan sampel

uji diperoleh sebesar 6,0 mg/l. Dengan nilai rata-rata yang diperoleh ini menunjukkan

bahwa kandungan zat BOD tepat berada di ambang batas nilai standar baku, yang

berarti kandungan zat BOD masih berada di batas akhir nilai standar baku. Ini berarti

pula adanya penambahan sedikit saja zat BOD akan memberikan nilai yang melewati

nilai batas standar baku.


8. COD
Hasil pengamatan dilaboratorium terhadap kandungan nila zat COD pada sampel

uji pada 10 titik pengambilan sampel disajikan dalam Gambar 4.9 di bawah ini.

Gambar 4.9 Nilai COD pada sampel uji


Nilai COD dapat dilihat pada Gambar 4.9 bahwa sampel uji pada titik 1

memberikan nilai kandungan zat COD sebesar 46,2 mg/l. Nilai kandungan di atas 40

mg/l juga diperlihatkan pada sampel di titik 6 dan sampel uji pada titik 9 dengan

memberikan nilai sebesar 44,3 mg/l dan 45,87 mg/l. Nilai-nilai kandungan sampel uji

43
pada titik ini masih berada di bawah nilai standar baku. Standar baku yang diberikan

untuk kandungan zat COD adalah 50 mg/l. Sementara pada sampel uji di titik 2, di titik

8 dan sampel uji di titik 10, memberikan nilai masing-masing sebesar 52,24 mg/l,

51,14 mg/l dan 50,01 Nilai pada titik-titik ini , memberikan nilai kandungan COD

berada di atas nilai standar mutu. Selanjutnya pada sampel uji di titik 3 dan sampel uji

di titik 4, terlihat memberikan nilai kandungan zat COD, yaitu sebesar 34,32 mg/l dan

36,18 mg/l. Nilai pada titik-titik ini, terlihat berada jauh dibawah nilai kandungan COD

pada sampel-sampel lainnya, dan nilai ini juga berada jauh di bawah nilai batas

standar baku. Selanjutnya untuk sampel uji pada titik 5 terlihat memberikan nilai

kandungan zat COD sebesar 62,38 mg/l. Nilai pada titik 5 memerlihatkan nilai

kandungan zat COD yang cukup meningkat dari sampel-sampel sebelumnya.

Peningkatan nilai kandungan zat COD tertinggi terjadi pada sampel uji pada titik 10

dengan memberikan nilai 72,21 mg/l. Nilai ini berada jauh diatas nilai batas standar

baku.
Kandungan nilai secara keseluruhan yang diberikan pada sampel uji di sepuluh

titik memberikan nilai yang berbeda- beda pada setiap sampel uji. Nilai variasi kisaran

kandingan zat COD diberikan mulai dari 34,32 mg/l-72,21 mg/l. Nilai kandungan zat

COD terendah diberikan sampel uji pada titik 3 dan nilai kandungan COD terbesar

diberikan sampel uji pada titk 10. Dari 10 data sampel yang ada, 5 data sampel

memberikan nilai kandungan zat COD berada di bawah batas nilai standar normal dan

5 sampel lainnya memberikan nilai kandungan zat COD berada di atas nilai batas

stadar baku yang ada. Rata- rata kandungan nilai zat COD dari 10 sampel yang ada,

memberikan nilai rata- rata sebesar 50 mg/l. Nilai rata-rata yang diberikan ini

menunjukkakn bahwa nilai kandungan zat COD tepat berada diambang batas standar

baku. Dengan penambahan sedikit saja nilai zat COD akan memberikan nilai yang

melewati nilai batas standar baku.


9. DO

44
Hasil pengamatan dilaboratorium terhadap kandungan nilai zat DO pada sampel

uji pada 10 titik pengambilan sampel disajikan dalam Gambar 4.10 di bawah ini.

Gambar 4.10. Nilai DO pada sampel uji

Nilai DO dapat dilihat pada gambar 4.10 di atas terlihat bahwa sampel uji air

pada titik 1 memberikan nilai kandungan zat DO sebesar 8, 23 mg/l. Nilai ini terlihat

sangat jauh melewati nilai batas standar baku, dimana nilai standar baku adalah 3

mg/l. Selanjutnya b nilai kandungan zat DO pada sampel uji di titik 2, terlihat menurun

dari sampel uji titik 1, menjadi 6,4 mg/l. Meskipun nilai kandungan zat DO ini turun,

namun tetap memberikan nilai yang cukup tinggi dari nilai batas standar baku. Pada

sampel uji di titik 3, nilai kandungan zat DOmemberikan nilai sebesar 7,36 mg/l. Nilai

ini terlihat naik terhadap sampel uji di titik 2, dimana besarnya nilai ini juga masih

cukup jauh melewati nilai batas standar baku. Pada sampel selanjutnya yaitu sampel

uji di titik 4, memberikan nilai kandungan zat DO sebesar 6,4 mg/l. Nilai ini sama

besarnya yang diberikan pada sampel uji di titik 2 dan nilai inipun masih jauh di atas

nilai standar baku yang ada. Selanjutnya terhadap sampel uji di titik 5 dan di titik 9,

memberikan nilai kandungan DO di atas nilai 5 dengan nilai 5,76 mg/l dan 5,75 mg/l.

Nilai kandungan zat DO terlihat meningkat dengan nilai yang cukup jauh berbeda dari

sampel-sampel sebelumnya pada sampel uji di titik 6 dengan memberikan nilai

kandungan zat DO sebesar 9,1 mg/l. Nilai kandungan zat DO terlihat turun pada

45
sampel uji di titik 7 dengan memberikan nilai sebesar 6,87 mg/l. Sementara sampel uji

di titik 8 kembali memperlihatkan nilai kandungan zat DO yang turun dengan

memberikan nilai sebesar 4,8 mg/l. Kandungan zat DO pada sampel uji di titik 10

terlihat kembali memberikan nilai yang cukup tinggi dengan memberikan nilai

8,14mg/l.

Data dari keseluruhan yang ada terlihat bahwa sampel uji di semua titik

memperlihatkan nilai kandungan zat DO di atas nilai batas standar baku. Sampel uji

yang memberikan nilai kandungan zat DO yang tinggi adalah sampel uji di pada titik 1,

titik 6 dan titik 10. Dan nilai kandungan zat DO tertinggi diperlihatkan pada sampel uji

di titik 6 dengan nilai 9,1 mg/l dan kandungan zat DO terendah terdapat pada sampel

uji di titik 8, dengan nilai 4,8 mg/l. Dari data di atas terlihat besarnya nilai kandungan

yang diberikan pada sampel uji di semua titik, terlihat memberikan nilai kandungan zat

DO yang berbeda-beda dengan variasi nilainya mulai dari 4,8 mg/l sampai dengan 9,1

mg/l. Sementara rata-rata kandungan zat DO yang diberikan oleh 10 sampel uji

diperoleh sebesar 6,9 mg/l. Nilai rata-rata kandungan zat DO sebesar 6,9 mg/l ini

menunjukkan bahwa nilai ini jauh melebihi nilai batas standar baku, dimana nilai

standar baku diberikan dengan nilai 3 mg/l. Dari hasil yang diberikan ini dapat pula

dikatakan bahwa nilai kandungan zat DO di dalam sampel uji air sungai Jeneberang

cukup tinggi dan melebihi dengan nilai yang cukup jauh dari nilai standar baku yang

ada.

4.3. Hasil analisa kualitas mutu sampel uji air menurut sistem Penilaian

Metode Storet

a. Penilaian metode storet terhadap Suhu

Hasil pengukuran suhu sampel uji air pada sepuluh titik diperoleh nilai suhu

maksimum, nilai suhu minimum, dan rata–rata suhu sampel uji serta nilai mutu baku

kualitas air disajikan dalam Tabel 4.3 dan Gambar 4.11 di bawah ini.

46
Tabel 4.3 Pengujian suhu pada sampel uji air
Rata-
No Parameter satuan Standar Mutu Max Min Score
Rata

1 Suhu normal ± 3 27,00 26,00 26,50 0,00

Gambar 4.11 Pengujian suhu pada sampel uji air

Data dari hasil pengujian untuk suhu pada sampel uji air pada Tabel 4.3 dan

Gambar 4.11 terlihat nilai pengukuran suhu pada sampel uji di sepuluh titik

memberikan nilai maksimum suhu sebesar 27 ͦ C dan nilai suhu minimum diberikan

sebesar 26 ͦ C serta rata-rata nilai suhu sampel uji air diperoleh sebesar 26,5 ͦ C. Analisa

nilai metode storet bahwa nilai baku mutu untuk suhu adalah suhu normal ± 3, dimana

suhu normal air adalah 27 ͦ C. Sementara nilai yang diperoleh pada sampel uji, baik

nilai maksimum, minimum dan rata-rata memberikan nilai dibawah dari mutu baku.

Bahwa jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu air yaitu dimana nilai hasil

pengukuran < nilai baku mutu, maka diberi nilai skor 0. Berdasarkan data pengukuran

suhu pada gambar grafik di atas dengan metode penilaian storet, diperoleh nilai skor

untuk suhu sampel dengan nilai skor 0.

b. Penilaian metode storet terhadap kandungan Besi

47
Hasil analisa data kandungan maksimum, minimum, dan rata-rata nilai zat besi,

dalam sampel uji air sungai Jeneberang disajikan dalamTabel 4.4 dan Gambar 4.12 di

bawah ini.

Tabel 4.4 Pengujian Besi (Fe) pada sampel uji air

Standar Rata-
No Parameter satuan Max Min Score
Mutu Rata

1 Besi / Iron (Fe) mg/l (-) ? 17,1 12,3 15,7 0

Gambar 4.12 Pengujian Besi pada sampel uji air


Data dari Tabel 4.4 dan Gambar 4.12 di atas terlihat bahwa nilai maksimum

untuk kandungan zat besi dalam sampel uji air pada sepuluh titik diperoleh sebesar

17,1 mg/l dan nilai kandungan zat besi terendah diperoleh sebesar 12,3 mg/l.

Sementara nilai rata-rata kandungan zat besi dari sepuluh sampel uji diberikan sebesar

15,7 mg/l.
Kandungan zat Besi tidak syaratkan dalam mutu baku air, sehingga dalam penilain

metode storet nilai kandungan zat Besi dalam sampel uji air memberikan nilai skor 0.
c. Penilaian metode storet terhadap kandungan Cadmium (Cd)

Tabel 4.5 Pengujian Cadmiun (Cd) pada sampel uji air


Rata-
No parameter Satuan Standar Mutu Max Min
Rata

48
1 Cadmium (Cd) mg/l 0,01 < 0.003 < 0.003 < 0.003

Data dari Tabel 4.5 di atas terlihat nilai maksimum kandunga zat Cadmiun dalam

sampel uji air pada sepuluh titik pengambilan sampel, diberikan dengan nilai dibawah

0,003 mg/l. Demikain pula terhadap kandungan minimum zat cadmiun memberikan

nilai dibawah nilai 0,003 mg/l. Sementara rata-rata nilai kandungan zat Cadmium pada

sampel uji air diperoleh dengan nilai di bawah 0,003 mg/l. Metode penilaian storet

memberikan nilai 0, jika data hasil pengukuran sampel uji lebh kecil dari nilai mutu

baku air. Bersasarkan data hasil pengukuran sampel uji air terlihat bahwa nilai

kandungan zat cadmiun baik dari nilai kandungan maksimum, minimum dan rata-

ratanya memberikan nilai dibawah dari nilai 0,003 mg/l. Sementara standar mutu baku

yang disyaratkan untuk kandungan zat kadmium adalah sebesar 0,01 mg/l. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa nilai kandungan zat cadmium barada di bawah nilai

mutu baku, yang berarti penilaian metode storet memberikan nilai skor untuk zat

cadmium yang dikandung sampel uji air, dengan skor nilai 0

d. Penilaian metode storet terhadap kandungan Mangan.

Tabel 4.6 Pengujian Mangan (Mn) pada sampel uji air

Standar Rata-
No parameter Satuan Max Min
Mutu Rata

1 Mangan / Manganes (Mn) mg/l (-) 0,23 0,14 0,19

49
Gambar 4.13 Pengujian Mangan (Mn) pada sampel uji air

e. Penilaian metode storet terhadap Timbal (Pb)

Data hasil pengukuran memberikan nilai maksimum, minimum dan rata – rata

kandungan zat timbal dalam sampel uji air, yang dapat dilihat pada Tabel 4.7 di

bawah ini.

Tabel 4.7 Pengujian Timbal (Pb) pada sampel uji air


No parameter satuan Standar Mutu Max Min Rata-Rata

1 Timbal / Lead (Pb) mg/l 0,03 < 0.01 < 0.01 < 0.01

Data dari Tabel 4.7 di atas kandungan nilai maksimum zat Timbal pada sampel

uji air diperoleh dengan nilai di bawah dari 0,01 mg/l. Demikian pula nilai minimum

dan rata-rata kandungan zat timbal pada sampel uji air di sepuluh titik pengambilan,

juga memberikan nilai dibawah dari 0,01 mg/l. Dengan data nilai hasil pengukuran

kandungan zat timbal ini, diperoleh bahwa kandungan zat timbal dalam sampel uji air

berada di bawah nilai baku mutu, dimana nila baku mutu memberikan batas

kandungan zat timbal adalah 0,03 mg/l.Penilaian dengan metode storet memberikan

nilai skor 0, jika nilai hasil pengukuran kandungan zat timbal pada sampel uji, lebih

50
kecil dari nilai baku mutu air untuk kandungan zat timbal. Sehingga hasil pengukuran

sampel uji air, dengan penilaian storet mendapakan nilai skor 0.

f. Penilaian metode storet terhadap kandungan Seng (Zn)

Data hasil pengukuran nilai maksimum, minimum dan rata-rata kandungan zat

mangan dalam sampel uji air pada sepuluh titik pengambilan sampel, disajikan pada

Tabel 4.8 dan Gambar 4.14. di bawah ini .

Tabel 4.8 Pengujian Seng (Zn) pada sampel uji air


Standar
No Parameter satuan Max Min Rata-Rata
Mutu

1 Zn mg/l (-) 0,02 0,01 0,02

Gambar 4.14 Pengujian Seng (Zn) pada sampel uji air

Data pengujian Seng (Zn) pada sampel uji air dapat dilihat pada tabel 4.8 dan

gambar 4.14 terlihat bahwa nilai maksimum, minimum dan rata – rata kandungan zat

Zn dalam sampel uji diberikan secara berurut yaitu 0,02 mg/l, 0,01 mg/l dan 0,02

mg/l. Nilai mutu baku air untuk kandungan zat Zn ini tidak disyaratkan, sehingga

penilaian metode storet, memberikan nilai kandungan zat Zn dalam sampel uji, dengan

skor nilai 0

g. Penilaian metode storet terhadap kandungan Zat Cu

51
Dari hasil data pengukuran diperoleh nilai kandungan zat Cu dalam sampel uji air

dengan nilai kandungan maksimum, minimum dan rata-rata, diberikan pada Tabel 4.9

dan Gambar 4.15 di bawah ini.

Tabel 4.9 Pengujian Tembaga (Cu) pada sampel uji air

Standar
No parameter Sat uan Max Min Rata-Rata
Mutu

8 Cu mg/l 0,020 0,014 0,004 0,009

Gambar 4.15 Pengujian Tembaga (Cu) pada sampel uji air

Data pengujian Tembaga (Cu) pada sampel uji air dapat dilihat pada Tabel 4.9

dan Gambar 4.15 terlihat memberikan nilai maksimum untuk kandungan zat Cu

dengan nilai 0,014 mg/l. Sementara nilai minimum zat Cu yang ada dalam sampel uji

terlihat sebesar 0,004 mg/l, dan nilai rata-rata kandungan zat Cu diperoleh sebesar

0,009 mg/l. Nilai standar baku mutu air menginsyaratkan nilai kandungan zat Cu

adalah 0,02 mg/l, sementara nilai hasil pengukuran kandungan zat Cu dalam sampel

uji, dengan jumlah maksimum, minimum dan rata-rata kandungan zat Cu, memberikan

nilai yang semuanya berada di bawah nilai baku mutu air. Nilai hasil pengukuran yang

diperoleh lebih kecil dari nilai baku mutu air atau berada di bawah nilai baku mutu air

52
maka penilaian metode storet memberikan nilai skor 0 untuk kandungan zat Cu dalam

sampel uji.

h. Penilaian metode storet terhadap kandungan Zat BOD

Hasil pengukuran nilai kandungan Zat BOD dengan nilai maksimum,minimum dan

rata-rata sampel uji dapat dilihat pada Tabel 4.10 dan Gambar 4.16 di bawah ini.

Tabel 4.10 Pengujian BOD pada sampel uji air

Standar
No parameter Satuan Max Min Rata-Rata
Mutu

9 BOD mg/l 6 7,35 4,23 6,0

Gambar 4.16 Pengujian BOD pada sampel uji air

Penilaian metode storet terhadap kandungan Zat BOD pada sampel uji air

dapat dilihat pada Tabel 4.10 dan Gambar 4.16 terlihat bahwa kadar maksimum zat

BOD pada sampel uji diberikan sebesar 7,35 mg/l, dan kadar minimum zat BOD

diperoleh sebesar 4,23 mg/l serta rata-rata kadar zat BOD pada sampel uji adalah 5,99

mg/l. Terlihat bahwa nilai maksimum kadar zat BOD memberikan nilai yang lebih

besar dari nilai mutu baku air, dimana mutu baku air untuk kadar BOD yang

disyaratkan adalah 6 mg/l. Dalam Penilaian metode stroret, jika nilai hasil perhitungan

sampel uji memperoleh nilai yang lebih besar dari nilai mutu baku, maka nilai skor

53
yang diberikan berdasarkan ketentuan bahwa jika nilai maksimum dari hasil

pengukuran sampel uji diatas nilai mutu baku air maka nilai skor yang diberi adalah -2.

Selanjutnya jika nilai minimum dari hasil pengukuran sampel uji memberi nilai diatas

nilai mutu baku air maka nilai skor yang diberi juga adalah -2. Sementara jika nilai

rata-rata dari hasil pengukuran sampel uji memberi nilai diatas nilai mutu baku air

maka nilai skor yang diberi adalah -6. Dengan data hasil pengukuran yang ada dengan

penilaian metode storet maka data hasil pengukuran kandungan maksimum zat BOD

pada sampel uji diberikan dengan skor nilai -2. Sementara hasil pengukuran

kandungan zat BOD pada sampel uji dengan nilai minimumnya yang memberikan nilai

dibawah dari nilai standar baku mutu air, maka penilaian metode stroret memberikan

nilai 0. Selanjutnya untuk rata-rata nilai kandungan zat BOD dalam sampel uji

diperoleh nilai sebesar 6 mg/l. Penilaian metode storet memberikan nilai pada

kandungan rata-rata zat BOD ini, yang memberikan nilai yang sama dengan mutu baku

air, dengan memberikan nilai skor 0

i. Penilaian metode storet terhadap kandungan Zat COD

Hasil pengukuran Zat COD yang terkandung pada sampel uji air dengan nilai

kandungan zat COD dengan jumlah minimum, maksimum dan rata-rata, disajikan pada

Tabel 4.11 dan Gambar 4.17 di bawah ini

Tabel 4.11 Pengujian COD pada sampel uji air


Standar
No Parameter Satuan Max Min Rata-Rata
Mutu

10 COD mg/l 50 71 34 50

54
Gambar 4.17 Pengujian COD pada sampel uji air

Hasil pengujian kandungan COD pada sample air dapat dilihat pada Tabel 4.11

dan Gambar 4.17 terlihat bahwa sampel uji air memberikan nilai maksimum, minimum,

dan rata-rata kandungan zat COD, secara berurut diberikan sebesar 71 mg/l , 34 mg/l

dan 49 mg/l. Untuk nilai maksimum kandungan zat BOD dalam sampel uji 71 mg/l,

memperlihatkan nilai yang berada di atas dari nilai standar mutu baku air, dimana nilai

standar baku memberikan nilai 50 mg/l. Penilaian metode storet memberikan nilai

dengan nilai maksimum kandungan zat COD hasil pengukuran, yang berada di atas

nilai standar baku dengan memberikan nilai skor -2. Untuk nilai minimum kandungan

Zat COD pada sampel uji terlihat memberikan nilai dibawah dari nilai standar mutu

baku, sehingga penilaian metode storet memberikan nilai skor 0. Sementara untuk nilai

rata-rata kandungan COD dalam sampel uji sebesar 50 mg/l , terlihat memberikan nilai

yang juga sama dengan nilai mutu baku air, yaitu 50 mg/l Sehingga penilaia metode

storet memberikan nilai skor 0

j. Penilaian metode storet terhadap kandungan Zat DO

55
Dari hasil pengukuran Zat DO dalam sampel uji, diperoleh nilai kandungan zat DO

dengan jumlah maksimum, minimum dan rata-rata pada sampel uji, yang disajikan

dalam Tabel 4.12 dan Gambar 4.18 di bawah ini.

Tabel 4.12 Pengujian DO pada sampel uji air

Standar
No parameter Satuan Max Min Rata-Rata
Mutu

11 DO mg/l >3 9,10 4,80 6,88

Gambar 4.18 Pengujian DO pada sampel uji air

Data dari tabel 4.12 dan Gambar 4.18 terlihat bahwa kandungan zat DO dalam

sampel uji dengan jumlah maksimum, minimum dan rata-rata terlihat diberikan

berturut-turut sebesar 9,1 mg/l; 4,8 mg/l; dan 6,88 mg/l. Sementara nilai standar baku

mutu mensyaratkan di atas nilai 3, sehingga baik nilai maksimum, nilai minimum dan

nilai rata-rata kandungan zat DO dalam sampel uji, memperlihatkan nilai di atas dari

nilai 3, yang berarti memenuhi persyaratan nilai batu mutu air. Dalam penilaian storet,

memberikan nilai skor 0, jika hasil pengukuran sesuai dengan persyaratan standar nilai

mutu baku. Dengan data di atas dari hasil pengukuran sampel uji dimana nilai yang

diberikan berada dalam persyaratan nilai baku mutu air, maka oleh metode storet

memberikan penilaian dengan skor 0.

56
k. Penilaian metode storet terhadap pH

Dari data hasil pengukuran di laboratorium pada sampel uji, diperoleh nilai

maksimum, nilai minimum, dan nilai rata-rata terhadap pH air sampel uji, yang

disajikan dalam Tabel 4.13 dan Gambar 4.19 di bawah ini.

Tabel 4.13 Pengujian pH pada sampel uji air


Standar
No parameter satuan Max Min Rata-Rata
Mutu

12 pH 6-8,5 8,20 7,30 7,58

Gambar 4.19 Pengujian pH pada sampel uji air

Pengujian hasil pH pada sampel uji air dapat dilihat pada Tabel 4.13 dan Gambar

4.19 di atas terlihat bahwa nilai maksimum pH air memberikan nilai 8,20 mg/l. Nilai ini

masuk dalam persyaratan nilai mutu baku air, dimana pH air dalam standar baku mutu

disyaratkan berkisar antara 6-8,5. Sementara nilai minimum pH dari gambar grafik di

atas memberikan nilai 7,30 dan nilai 7,58 untuk pH rata-rata sampel uji air. Kedua nilai

inipun terlihat memberikan nilai yang disyaratkan standar mutu baku air. Sehingga

dalam penilaian metode storet memberikan nilai skor 0, dimana nilai skor 0 diberikan

jika sampel uji hasil pengukuran masuk dalamnilai standar mutu baku air.

4.4 Hasil Penjumlahan penilaian metode storet

57
Hasil penjumlahan penilaian penskoran metode stroret terhadap unsur-unsur zat

yang terkandung di dalamnya disajikan dalam Tabel 4.14 dan Gambar 4.20 di bawah

ini.
Tabel 14. Penjumlahan penilaian metode storet
Standar
No Parameter Satuan Max Min Rata-Rata Score
Mutu
1 Kekeruhan / Tubidity NTU (-) 439,50 287,00 353,50 0
2 Besi / Iron (Fe) mg/l (-) 17,14 12,28 15,65 0
3 Cadmium (Cd) mg/l 0,01 < 0.003 < 0.003 < 0.003 0
Standar
No Parameter Satuan Max Min Rata-Rata Score
Mutu

5 Timbal / Lead (Pb) mg/l 0,03 < 0.01 < 0.01 < 0.01 0
6 Zn mg/l (-) 0,02 0,01 0,02 0
7 Cu mg/l 0,02 0,01 0,00 0,01 0
8 BOD mg/l 6 7,35 4,23 5,99 -4
9 COD mg/l 50 71,21 34,32 49,80 -4
10 DO mg/l >3 9,10 4,80 6,88 0
11 pH 6-8,5 8,20 7,30 7,58 0
normal ±
12 Suhu 3 27,00 26,00 26,50 0
Jumlah -8

Gambar 4.20. Penjumlahan penilaian metode storet


Data dari Tabel 4.14 dan Gambar 4.20 di atas terlihat bahwa jumlah penskoran

terhadap kadar zat- zat yang ada dalam sampel uji memberikan nilai penskoran -8

(minus delapan).

58
Penentuan status mutu air adalah dengan menggunakan sistem nilai dari dari

“US-EPA ( Enviroment Protection Agency)” dengan mengklasifikasikan mutu air dalam

4 kelas yaitu :
1. Kelas A: Baik seklai, skor = 0 , memenuhi baku mutu
2. Kelas B: Baik sekali = -1 sampai dengan -10, cemar ringan
3. Kelas C: Sedang, skor = -11 sampai dengan -30, cemar sedang
4. Kelas D: Buruk, skor = -31, cemar berat

Berdasarkan sistem nilai dari US-EPA dengan memakai nilai penskoran dengan

metode storet, terlihat bahwa hasil penjumlahan nilai dengan metode storet diperoleh

nilai -8, sehingga mutu air sungai Jeneberang dari pengamatan dan pengujian sampel

uji air menunjukkan nilai yang masuk dalam mutu air kelas B, dimana kelas B

memberikan nila -1 sampai dengan -10. Dengan masuk pada kelas B, menunjukkan

bahwa sungai Jeneberang masuk dalam kategori tercemar ringan.

59