You are on page 1of 20

ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DAN

MELAHIRKAN DENGAN HIV/AIDS

Definisi

Kehamilan ditandai dengan berhentinya haid, mual yang timbul pada pagi hari (morning
sickness), pembesaran payudara dan pigmentasi puting, pembesaran abdomen yang progresif.
Tanda-tanda absolut kehamilan adalah gerakan janin, bunyi jantung janin, dan terlihatnya janin
melalui pemeriksaan sinar-X atau USG.

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem
kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsinya. selama infeksi berlangsung, sistem
kekebalan tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Tahap yang
lebih lanjut dari infeksi HIV adalah acquired immunodefiency syndrome (AIDS). Hal ini dapat
memekan waktu 10-15 tahun untuk orang yang terinfeksi HIV hingga berkembang menjadi
AIDS, obat antiretroviral dapat memperlambat proses lebih jauh.

AIDS (acquired immunodefiency syndrome) adalah penyakit retrovirus epidemik


menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai
depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria
homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima
transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut. (Kamus
Kedokteran Dorlan, 2002)

Ibu hamil yang positif mengidap HIV berpotensi menularkan virus tersebut kepada bayi,
baik pada masa kehamilan, persalinan, maupun pada saat menyusui. Dokter kandungan biasanya
akan memberikan berbagai jenis obat antivirus khusus, salah satunya adalah obat ARV
(antiretroviral) untuk menekan jumlah virus. Jika ibu mengonsumsi obat-obatan secara rutin
selama kehamilan hingga hari persalinan nanti, maka risiko penularan bisa ditekan sampai
tinggal 7 persen. Karena itu penting bagi ibu hamil untuk melakukan tes HIV, agar virus HIV
dapat terdeteksi lebih awal, sehingga program pencegahan HIV pun bisa dilakukan secepatnya.
Dalam proses melahirkan, bayi akan terkena darah dan cairan Miss V ketika melewati
saluran rahim yang dapat menjadi cara virus HIV dari ibu masuk ke dalam tubuhnya. Karena itu,
ibu hamil pengidap HIV disarankan untuk tidak melahirkan secara normal melalui Miss V
karena risiko bayi tertular lebih besar. Beberapa kondisi yang juga dapat mendukung penularan
HIV ke bayi pada saat persalinan adalah air ketuban yang pecah terlalu awal, bayi mengalami
keracunan ketuban dan kelahiran prematur.

Bila ibu ingin melahirkan secara normal, peluang bayi tidak tertular pun masih ada.
Namun, ada persyaratannya, yaitu:

 Telah mengonsumsi obat antivirus mulai dari usia kehamilan 14 minggu atau kurang.
 Jumlah viral load kurang dari 10.000 kopi/ml. Viral load adalah jumlah partikel virus
dalam 1 ml atau 1 cc darah. Ibu akan berpotensi tinggi menularkan virus ke bayi dan
mengalami komplikasi HIV jika ditemukan jumlah partikel virus yang banyak dalam
darah ibu.
 Proses melahirkan harus berlangsung secepat mungkin, dan bayi harus segera dibersihkan
setelah keluar.

Ibu yang memiliki viral load yang tinggi biasanya akan diberikan infus berisi obat
zidovudine pada saat melahirkan normal. Namun, ibu tetap perlu mendiskusikan kepada dokter
kandungan mengenai pemilihan metode persalinan. Jika angka viral load ibu berada di atas 4000
kopi/ml, maka dokter akan menyarankan ibu untuk melahirkan secara caesar.

Prevalensi
Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa
(47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa)
dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi
dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399),
Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada 2018 tes HIV pada ibu
hamil hanya sekitar 13,38% (761.373) dari total jumlah ibu hamil di Indonesia sebanyak
5.291.143 orang. Dari jumlah yang menjalani tes tersebut, yang diketahui positif HIV tercatat
2.955 orang. Sementara itu, yang mendapatkan terapi obat ARV (antiretroviral) dalam upaya
menekan jumlah virus (VL), lebih sedikit lagi, yakni hanya 893 ibu hamil.
Faktor Risiko

Faktor risiko epidemiologis infeksi HIV

1. Perilaku berisiko tinggi :

- Pengguna narkotika intravena : penggunaan jarum bersama

-Hubungan seksual yang tidak aman : multi partner, pasangan seks individu yang diketahui
terinfeksi HIV, kontaks seks per anal.

2.Mempunyai riwayat infeksi menular seksual.

3. Riwayat menerima transfusi darah berulang tanpa penapisan.

4. Riwayat perlukaan kulit, tato, tindik, atau sirkumsisi dengan alat yang tidak disterilisasi.

Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi

Selama kehamilan

1.Viral load ibu yang tinggi (HIV / AIDS baru atau tahap lanjut)

2.Infeksi virus, bakteri, maupun parasit melaui plasenta (khususnya malaria)

3. Infeksi menular seksual

4. Malnutrisi maternal (secara tidak langsung) / kurang gizi pada ibu

Selama persalinan dan kelahiran

1. Viral load ibu yang tinggi (HIV / AIDS baru atau tahap lanjut)

2. Pecahnya ketuban > 4 jam sebelum proses persalinan dimulai

3. Prosedur persalinan invasive (cara kelahiran yang invasif)

4. Janin pertama pada kehamilan multiple (ganda)

5. Peradangan pada selaput yang menyelimuti janin (Korioamnionitis)


Selama masa menyusui

1. Viral load ibu yang tinggi (HIV / AIDS baru atau tahap lanjut)

2. Durasi lama menyusui

3. Pemberian ASI dengan nutrisi pengganti yang awal yang diberikan awal

4. Abses payudara / puting yang terinfeksi/ peradangan(lecet) pada puting

5. Malnutrisi maternal (kekurangan gizi pada ibu

6. Penyakit oral bayi (mis: trust atau luka mulut)

ETIOLOGI

Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human
Immunodeficiency Virus (HIV). yaitu virus yang masuk ke dalam kelompok virus retrovirus
yang biasanya menyerang organ-organ vital system kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dapat
ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi pathogen di dalam darah, dan penularan masa
perinatal. Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya
yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk
ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk
virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti
retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun
demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif
dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut Virus HIV hidup dalam darah, saliva,
semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit,
makrotag dan sel glia jaringan otak.

Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di antaranya :

 Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS

Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV tanpa perlindungan bisa
menularkan HIV, selama hubungan seksual berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah
dapat mengenai selaput lendir vagina, penis, dubur, atau mulut, sehingga HIV yang terdapat
dalam cairan, tersebut masuk ke aliran darah. Selama berhubungan juga bisa terjadi lesi makro
pada dinding vagina, dubur, dan mulut, yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran
darah pasangan seksual (Saiful, 2000).

 Ibu pada bayinya

Penularan HIV dari ibu terjadi pada saat kehamilan. Penularan juga terjadi selama proses
persalinan melalui tranfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membran mukosa bayi
dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses melahirkan, semakin
besar resiko penularan.

 Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS

Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk kepembuluh darah dan menyebar ke
seluruh tubuh

• Pemakaian alat yang tidak steril

Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum, tenakulum, dan alat-alat lain yang menyentuh
darah, cairan vagina, atau air mani, yang terinfeksi HIV, dan langsung digunakan untuk orang
lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan. Selain itu, alat tajam dan runcing seperti jarum, pisau,
silet, menyunat seseorang, membuat tato, memotong rambut, dan sebagainya bisa menularkan
HIV jika tidak disterilkan terlebih dahulu

• Menggunakan jarum suntik secara bergantian

Jarum suntik yang digunakan di fasilitas kesehatan, maupun yang digunakan oleh para pengguna
narkoba sangat berpotensi menularkan HIV.
TANDA GEJALA / MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis infeksi HIV sangat luas spektrumnya, karena itu ada beberapa macam
klasifikasi. Yang paling umum dipakai adalah klasifikasi yang dibuat oleh Center for Disease
Control (CDC), USA, sebagai berikut:

 Stadium awal infeksi HIV


 Stadium tanpa gejala
 Stadium ARC (AIDS related compleks)
 Stadium AIDS
 Stadium gangguan susunan saraf pusa

Masa Inkubasi
Masa inkubasi adalah waktu terjadinya infeksi sampai munculnya gejala pertama pada
pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diketahui. Dari penelitian pada sebagian besar kasus
dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun, dan bervariasi sangat lebar, yaitu antara 6 bulan
sampai lebih dari 10 tahun. rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa
walaupun belum ada gejala, tetapi yang bersangkutan telah dapat menjadi sumber penularan.

 Stadium awal infeksi

Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus umumnya yaitu berupa demam, sakit kepala,
sakit tenggorokan, mialgia, pembesaran kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi
dapat berat disertai kesadaran menurun.10 Sindrom ini akan menghilang dalam beberapa
minggu. Dalam waktu 3-6 bulan kemudian tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk
antibodi. Masa 3-6 bulan ini disebut window periode, dimana penderita dapat menularkan
naamun secara laboratorium hasil tes HIV-nya negative

 Stadium tanpa gejala

Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik yang lamanya bisa bertahun-tahun (5-7 tahun).
Virus yang ada didalam tubuh secara pelan-pelan terus menyerang sistem pertahanan tubuhnya.
Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat mengisolasi virus dari darah pasien dan ini berarti
bahwa selama fase ini pasien juga infeksius. Tidak diketahui secara pasti apa yang terjadi pada
HIV pada fase ini. Mungkin terjadi replikasi lambat pada sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel
lainnya. Tetapi jelas bahwa aktivitas HIV terjadi dan ini dibuktikan dengan menurunnya fungsi
sistem imun dari waktu ke waktu. Mungkin sampai jumlah virus tertentu tubuh masih dapat
mengantisipasi sistem imun.

 Stadium AIDS related compleks Stadium ARC (AIDS Related Complex)

Adalah bila terjadi 2 atau lebih gejala klinis yang berlangsung lebih dari 3 bulan, antara
lain : Berat badan turun lebih dari 10%, Demam lebih dari 380C , Keringat malam hari tanpa
sebab yang jelas. Diare kronis tanpa sebab yang jelas. Rasa lelah berkepanjangan Herpes
zoster dan kandidiasis mulut , Pembesaran kelenjar limfe, anemia, leucopenia, limfopenia,
trombositopenia ,Ditemukan antigen HIV atau antibody terhadap HIV

 Stadium AIDS

Dalam stadium ini kekebalan tubuh penderita telah demikian rusaknya, sehingga pada
tahap ini penderita mudah diserang infeksi oportunistik antara lain : TBC,
kandidiasistoxoplasmosis, pneumocystis, disamping itu juga dapat terjadi sarkoma kaposi
(kanker pembuluh darah kapiler) dan limfoma

Gejala-gejala mayor tersebut adalah: Penurunan berat badan lebih dari 10% Diare kronik
lebih dari 1 bulan Demam lebih dari 1 bulan (terus-menerus/intermitten) Sedangkan yang
termasuk gejala-gejala minor yaitu: Batuk lebih dari 1 bulan Dermatitis Herpes zoster
rekuren Kandidiasis orofaring Limfadenopatia umum Herpes simpleks diseminata yang
kronik&progresif

 Stadium gangguan susunan saraf pusat

Virus AIDS selain menyerang sel limfosit T4 yang merupakan sumber kekebalan tubuh,
ternyata juga menyerang organ-organ tubuh lain. Organ yang paling sering adalah otak dan
susunan saraf lainnya. Selain itu akibat infeksi oportunistik juga dapat menyebabkan
gangguan susunan saraf pusat.

Stadium Klinis Infeksi HIV menurut WHO


1) Stadium Klinis 1

a) Asimtomatis
b) Limpa denopati persistent generalisata
c) Penampilan atau aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.
2) Stadium Klinis 2

a. Penurunan berat badan 10% dari berat badan sebelumnya


b. Manisfestasi mukokutaneus minor (dermatitis seborhhoic, prurigo, infeksi jamur pada
kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis agularis ).
c. Herpes zoster, dalam 5 tahun terakhir
d. Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (misalnya sinusitis bacterial)
3) Stadium klinis 3

a. Penurunan berat badan >10%


b. Diare kronis dengan penyebab tidak jelas >1 bulan
c. Demam dengan sebab yang tidak jelas >1 bulan
d. Kandidiasis oris
e. Oral hairy leukoplakia
f. TB pulmoner dalam 1 tahun terakhir
g. Infeksi bacterial berat misalnya pneumonia, piomiositis.
4) Stadium klinis 4

a. HIV wasting syndrome, sesuai yang di tetapkan CDC


b. PCP (pneumocystis carinii pneumonia)
c. Cryptococcosis ekstrapulmoner
d. Infeksi virus sitomegali
e. Infeksi herper simpleks >1 bulan
f. Berbagai infeksi jamur berat
g. Kandidiasis esophagus, trachea atau bronkus
h. Mikobakteriosis atypical
i. Salmonlosis non tifoid disertai setikemia
j. TB, ekstrapulmoner
k. Limfoma maligna
l. Sarcoma kaposis
m. Ensefalopati HIV
PATOFISIOLOGI

IBU HAMIL DENGAN HIV/AIDS

Faktor Resiko & Etiologi

Hubungan seks yang Penggunaan jarum Transfuse darah dengan Terpapar cairan vagina/sperma denga
bergonta-ganti pasangan suntik suntik orang (+) HIV/AIDS orang (+) HIV/AIDS

Masuknya virus HIV/AIDS kedalam darah & berikatan dengan CD4

Avirus melepas

virus melepaskan 3 enzim: Reverse Integrace, Reverse Transcriptise, Protease

Periode Post-Partum Terbentuk DNA-HIV Jumlah CD4 menurun C500 s


IBU (+)
HIIV/AIDS

Plasenta lepas Terbentuk koloni virus yang menginfeksi


Kehancuran pertahanan i
ksi CD4

Terbentuk replikasi sel pembentukan tunas HIV/AIDS DX.


Menurunnya korpus luteum, VIREMIA
Resiko
progesterone & esterogen
Infeksi
menurun, adanya isapan bayi

Virus masuk ke jaringan d

Plasenta
Jumlah lepas
CD4 yang dihancurkan meningkat
Merangsang ujung S.sensori
Respon imunologis
ATP dalam sel untuk
ke hipotalamus di Medula
Sitokin aktif metransfer energy menu
Spinalis Virus HIV meningkat
TNFa + IL-I dilepas
Merangsang Ujung
Jumlah MUDAH LELAH
IL-I dibawa ke hipotalamus anterior
sarafvirus yang ke
sensorik menstimulus Sel-T meningkat
Menekan faktor yang
hipotalamus esof
memicu sekresi prolaktin Merangsang sel endotelium
Tes HIV, Mendeteksi benda asing untuk produksi PGE2DX. Intoleransi Aktifit
Irita
PEMERIKSAAN PENUNJANG HIV

Tes-tes saat ini tidak membedakan antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat menunjukkan
tes negatif pada usia 9 sampai 15 bulan. Penelitian mencoba mengembangkan prosedur siap
pakai yang tidak mahal untuk membedakan respons antibody bayi dan ibu.
1. Pemeriksaan histologis, sitologis urin , hitung darah lengkap, feces, cairan spina, luka, sputum,
dan sekresi.
2. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
3. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi Interstisial dari PCV tahap lanjut
atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia
interstisial;Scangallium; biopsy; branskokopi.
4. Tes Antibodi
a. Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), untuk menunjukkan bahwa seseorang
terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.
b. Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan
memastikan seropositifitas HIV.
c. Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk
memastikan seropositifitas.
d. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.
e. Pendeteksian HIV.
Dilakukan dengan pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat rendah.
Bisa juga dengan pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk
mengevaluasi efek anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus
(viral burden).
Antibody yang ditimbulkan oleh infeksi HIV terjadi sejak infeksi berusia 2-3 bulan.
Antibody ini akan masuk melalui plasenta menuju janin.Infeksi langsung pada janin mulai
sejak usia 13 minggu dengan mekanisme yang tidak diketahui. Infeksi ini disebut sebagai
infeksi vertical karena berlangsung semasih intrauterin. Cara infeksi lainnya pada bayi adalah
saat pertolongan persalinan karena melalui jalan lahir dengan cairannya yang penuh dengan
virus HIV.
Penatalaksanaan Medis
1. Penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV serta maliginasi, pengentian replika
HIV lewat preparat antivirus dan penguatan serta pemulihan sistem imun melalui
penggunaan preparat imnimodulator.
2. Terapi farmakologi
a. Obat primer disetujui untuk terapi HIV yaitu azidodeoksimetidin (zidovudine, A2T
cretevir) berfungsi untuk memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta bertanya
penyakit oportunistik

b. Asitimidin terkendali pada wanita hamil mengurangi resiko transmisi HIV dari wanita
yang terinfeksi kejaninnya
c. Perawatan suportif sangat penting karena infeksi HIV sangat menurunkan keadaan
imun pasien (mencangkup kelemahan malnutrisi imobilisasi kerusakan kulit dan
perubahan status mental)
d. Memberikan perawatan kesehatan efektif dengan penuh kasih sayang dan obyektif
pada semua individu (mencakup, malnutrisi, optimum, istirahat, latihan fisik, dan reduksi stress)
(purwaningsih, wahyu. 2010)

KOMPLIKASI

1. Tuberkulosis
2. MAC (Mycobacterium Avium Complex)
3. Pneumocystis Pneumonia
4. CMV (Cytomegalovirus)
5. Infeksi Oportunistik Lainnya
6. Lipodistrofi
7. Demensia
8. Kanker
9. Sindrom Wasting pada AIDS
10. Oral
Kandidiasis oral ditandai dengan bercak-bercak putih seperti krim dalam
rongga mulut. Jika tidak terobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengenai
esofagus dan lambung. Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan
menelan yang sulit dan rasa sakit dibalik sternum(nyeri retrosternal).
11. Neurologic
Ensefalopati HIV atau yang disebut sebagai dimensia AIDS (ADC; AIDS
dmentia complex). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala,
kesulitan konsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan
ataksia. Stadium lanjut menccakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam
respons verbal, hiperfleksi pareparesis spastik, psikosis, halusinasi, tremor,
inkontenensia, dan kematian (Bararah & Jauhar, 2013, p. 301)
Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise,
kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. Diagnosis
ditegakkan dengan analisis cairan serebospinal
12. Pernafasan
Pneumonia disebabkan o/ protozoa pneumocystis carini (paling
seringditemukan pd AIDS) sangat jarang mempengaruhi org sehat. Gejala:
sesak nafas, batuk-batuk, nyeri dada, demam – tdk teratasi dapat gagal
nafas(hipoksemia berat, sianosis, takipnea dan perubahan status mental).
TBC
13. Gastrointestinal
Wasting syndrome kini diikut sertakan dalam definisi kasus yang
diperbarui untuk penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penuruanan
BB > 10% dari BB awal, diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau
kelemahan yang kronis, dan demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya
penyakit lain yang dapat menjelaskan gejala ini.
Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan sarcoma kaposi. Dengan efek, penurunana berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma kaposi, obat ilegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam
atritis.
Penyakit anorektal karena abses dan dan fistula, ulkus dan inflamasi
perianal yang sebagai akibat infeksi, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare
14. Dermatologik
Infeksi opurtunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit.. Penderita
AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan
kulit yang kering dan mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema
dan psoriasis

15. Sensorik

Pandangan : sarkoma kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata , retinitis


sitomegalovirus berefek kebutaan.

Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran


dengan efek nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis,
sitomegalovirus dan reaksi-reaksi otot (Bararah & Jauhar, 2013, pp. 302-303)
Asuhan Keperawatan
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA
NO INTERVENSI
KEPERAWATAN HASIL

1. Resiko infeksi b.d Pasien akan bebas infeksi 1. Monitor tanda-


mastitis dan pengurangan setelah dilakukan tindakan tanda infeksi baru.
pemberian ASI keperawatan selama 3×24 2. Pemakaian alat
APD saat
jam dengan kriteria hasil:
DS: persalinan.
- Tidak ada luka 3. Pemakaian alat-alat
biasanya pasien Buang persalinan yang
air besar selama berhari- atau eksudat. bersih dan steril .
hari, lemas, pusing. 4. Gunakan teknik
- Tanda vital dalam aseptik pada setiap
DO: tindakan invasif.
batas normal Cuci tangan
wajah pucat, kulit dan sebelum meberikan
mukosa kering, tekanan (TD=110/70, tindakan.
turgor menurun. 5. Anjurkan pasien
RR=16-24, metode mencegah
terpapar terhadap
N=60-100, lingkungan yang
patogen.
S=36- 37)
6. Kumpulkan
- Pemeriksaan spesimen untuk tes
lab sesuai order
leukosit normal 7. Atur pemberian
antiinfeksi sesuai
(6000-10000) order
8. Berikan ibu cukup
istirahat.
9. Minum banyak
cairan dapat
membantu
memulihkan
kondisi tubuh.
10. Hindari memakai
bra yang terlalu
ketat atau terlalu
longgar.
11. Mengompres
payudara yang
bengkak dengan
menggunakan kain
hangat.
12. Menggunakan
kedua payudara
secara bergantian
ketika menyusui.
13. Berikanlah ASI
hingga semua susu
yang ada
dalam payudara habis,
sebab, susu yang tersisa
dalam payudara dapat
mengendap dan
menyebabkan
pembengkakan payudara.

14. Pastikan posisi


tubuh Anda benar,
untuk menghindari
risiko puting robek
atau terbelah.
2. Ansietas pada ibu dan Ansietas dapat teratasi Anxiety Redution (
keluarga bd transmisi dan setelah dilakukan tindakan penurunan kecemasan )
penularan interpersonal keperawatan selama 1×24
1. Gunakan pendekatan
pada bayi jam dengan criteria hasil:
yang menyenangkan
DS : anxiety Redution ( 2. pahami perspektif
pasien terhadap situasi
penurunan kecemasan )
Pasien mengeluh takut setres
bayi akan tertular virus - Mampu 3. Dorong pasien untuk
mengidentifikasi dan mengungkapkan
HIV
mengungkapkan gejalah perasaa, ketakutan, dan
DO: cemas persepsi
- Vital sign dalam batas 4. Memberi informasi
Pasien menangis normal yang diperlukan
5. Meningkatkan
Pasien tampak cemas pengetahuan dan
penerimaan pasien
terhadap penyakitnya
6. Membantu pasien
mengidentifikasi
masalah dan seberapa
jauh pasien dapat
mengontrol diri
7. Mengajarkan pasien
untuk mencuci tangan
sebelum dan sesudah
melakukan tindakan
Dehidrasi/kekurangan Dehidrasi/kekurangan 1. Pantau masukan.
Perhatikan berat jenis
volume cairan b.d volume cairan dapat teratasi urin. Anjurkan klien
distosia yang setelah dilakukan tindakan untuk mengosongkan
menyebabkan kematian keperawatan selama 1×24 kandung kemih
sedikitnya sekali setiap
ibu dan janin jam dengan criteria hasil:
hari 1 ½ jam
DS : - TD normal 2. Pantau suhu setiap 4
jam lebih sering bila
Pasien mengatakan BAB - Hidrasi kulit normal tinggi
4x sehari, pasien - Palpasi nadi perifer 3. Pantau kadar
normal hematokrit
mengatakan lemas
Kelembaban membran 4. Berikan bolus cairan
DO : mukosa normal parentral sesuai indikasi
5. Monitor kontraktilitas
o
Suhu 39 C, Nadi 60 uterus
x/menit, RR 20x/menit, 6. Monitor DJJ
7. Cek kemajuan
TD 120/90 mmHg
persalinan
pasien tampak pucat,
mukosa bibir kering,
konjungtiva anemis

Infeksi yang Untuk mengenali secara dini 1. Kaji bayi yang


berhubungan dengan bayi yang mempunyai risiko memiliki resiko
penularan infeksi pada menderita infeksi menderita infeksi
meliputi,
bayi sebelum, selama dan
- Kecil untuk masa
sesudah kelahiran kehamilan, besar untuk
masa kehamilan,
DO :
prematur
Suhu bayi 38oC, bayi - Nilai APGAR nbayi
dibawah normal
tampak sianosis,
- Bayi mengalami
membran mukosa pucat tindakan operasi
- Bayi yang mengalami
prosedur invasif
- Kaji riwayat ibu, status
sosial ekonomi, flora
vagina, ketuban pecah
dini, dan infeksi yang
diderita ibu
2. Kaji adanya tanda
infeksi meliputi :
Suhu tubuh yang tidak
stabil, apnea, ikterus,
refleks meghisap kurang,
,minum sedikit, distensi
abdomen, letargi atau
iritabilitas

3. Kaji tanda infeksi yang


berhubungan dengan
sistem organ, apnea,
takipnea, sianosis,
syok, hipotermia,
hipertermi, letargi,
hipotonik, hipertonik,
ikterus, ubung-ubun
cembung, muntah dan
diare
- Kaji hasil pemeriksaan
laboratorium
Dapatkan sampel untuk
pemeriksaan kultur

Keletihan berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Energi :


dengan proses penyakit keperawatan selama 1x24 a. Monitor/catat waktu
serta kebutuhan jam masalah Keletihan dan lama tidur
pasien.
psikologis dan emosional dapat teratasi dengan
b. Anjurkan pasien
yang sangat banyak kriteria hasil : untuk memilih
mengenai kehamilan aktivitas yang
- Kelelahan :Efek yang
membangun
mengganggu
ketahanan.
- Malaise : dipertahankan
c. Berikan kegiatan
pada 2 (cukup berat),
pengalihan yang
ditingkatkan ke 3
menenangkan untuk
(sedang).
meningkatkan
- Penurunan energi :
relaksasi.
dipertahankan pada 3
(sedang) ditingkatkan ke
4 (ringan). 2. Terapi Latihan :
- Gangguan aktivitas fisik Ambulas :
: dipertahankan pada 3 a. Sediakan tempat
(sedang), ditingkatkan tidur berketinggian
ke 4 (ringan). rendah, yang sesuai.
2. Tingkat Kelelahan : b. Dorong untuk
a. Kelelahan : duduk di tempat
dipertahankan pada tidur, disamping
3 (sedang), tempat tidur, atau di
ditingkatkan ke 4 kursi.
(ringan). c. Dorong pasien
b. Kegiatan sehari-hari
(ADL) : untuk bangkit
dipertahankan pada sebanyak dan
3 (cukup terganggu), sesering yang
ditingkatkan ke 4 diinginkan.
(sedikit terganggu).
c. Kualitas istirahat :
dipertahankan pada 3
(cukup terganggu),
ditingkatkan ke 4 (sedikit
terganggu)

Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tingkat


tentang persalinan keperawatan selama 1x24 pengetahuan pasien
berhubungan dengan HIV jam masalah Keletihan dapat 2. Gambarkan tanda dan
gejala yang biasa
AIDS teratasi dengan kriteria hasil
muncul pada penyakkit
: HIV AIDS
(perjalanan, penyebaran
3. Identifikasikan
penyakit, efek jangka - Dapat memahami apa itu
kemungkinan penyebab
panjang pada wanita dan HIV AIDS
HIV AIDS, dengan cara
janin) - Dapat memahami
yang tepat
perjalanan, penyebaran
4. Diskusikan pilihan
penyakit, efek jangka
terapi atau penanganan
panjang pada wanita dan
yang tepat
janin
5. Penyuluhan materi
- Dapat menambah
mengenai persalinan
wawasan
normal, meliputi (
- Dapat mengurangi
pengertian,manfaat,
kecemasan akan
dampak, cara dan
ketidaktahuan akan HIV
persalinan normal).
AIDS
Penyuluhan mengenai
SC (section caesar),
meliputi (pengertian,
manfaat, dampak, dan
cara persalinan secara
SC).