Вы находитесь на странице: 1из 15

Melihat dan Memahami Pasal 197 KUHAP 21 Februari 2013 04:25:04 Diperbarui: 24 Juni 2015

17:58:03 Dibaca : 4,517 Komentar : 4 Nilai : 0 Kali ini ada dorongan untuk melihat dan
memahami pasal 197 KHUAP. Pasal 197 dibagi menjadi dua ayat, pada pasal 197 ayat (1)
KUHAP mengatur tentang status penahan dari seorang terdakwa pasca putusan hakim. Di dalam
pasal 197 ayat (1) KUHAP tersebut mengandung point-point yang harus dipenuhi didalam
keputusan hakim sehingga seseorang dapat memenuhi syarat untuk ditahan, sementara pada
pasal 197 ayat (2) KUHAP memberikan ketegasan bahwa jika ada salah satu point yang di
beberkan pada pasal 197 ayat (1) KUHAP tidak dapat terpenuhi maka keputusan tersebut
dianggap tidak penah ada dalam bahasa hukum adalah putusan tersebut batal demi hukum. Isi
dari Pasal 197 ayat (1) KUHAP adalah : (1) Surat putusan pemidanaan memuat: a) kepala
putusan yang dituliskan berbunyi : “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN
YANG MAHA ESA”; b) nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa; c) dakwaan, sebagaimana terdapat
dalam surat dakwaan; d) pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan
beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar
penentuan kesalahan terdakwa, e) tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan; f)
pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang
memberatkan dan yang meringankan terdakwa; g) hari dan tanggal diadakannya musyawarah
majelis hakim kecuali perkara diperiksa oleh hakim tunggal; h) pernyataan kesalahan terdakwa,
pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan
kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan; i) ketentuan kepada siapa biaya
perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang
bukti; j) keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan di mana Ietaknya
kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik dianggap palsu; k) perintah supaya terdakwa ditahan
atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan; l) hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum,
nama hakim yang memutus dan nama panitera; Didalam surat putusan hakim terhadap seorang
terdakwa harus memenuhi unsur-unsur yang terkandung di dalam Pasal 197 ayat (1) KUHAP,
atau putusan tersebut menjadi batal demi hukum seperti yang dijelaskan oleh Pasal 197 ayat (2)
KUHAP dibawha ini (2) Tidak dipenuhinya ketentuan dalam ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, h, j, k
dan I pasal ini mengakibatkan putusan batal demi hukum. 197 ayat (1) dan ayat (2) huruf
KUHAP memang dibuat untuk melindungi praktek manipulasi yang terjadi ditingkat pengadilan,
sehingga keputusan hakim benar-benar dapat dipertangungjawabkan dengan seutuhnya. Pada
dasarnya hukum dibuat untuk melindungi masyarakat bukan untuk menyusahkan masyrakat
namun karena ada segelintir oknum yang korop sering kali hukum diputar balikan, sehingga
terjadi kekacauan dan ketidak puasan. Sebut saja apa yang menimpa klien Yusril Ihza Mahendra,
Parlin Riduansyah yang merupakan Direktur Utama PT Satui Bara Tama (PT SBT). Dimana di
dalam surat keputusan hakim tidak memenuhi unsur K dalam pasal 197 ayat (1) KUHAP yang
menyebabkan putusan tersebut batal demi hukum. Sementara itu yang baru-baru terjadi adalah di
dalam kasus Anand Krishna dimana hal yang serupa juga terjadi dimana keputusan hakim tidak
memenuhi persyaratan unsur D, F, H dan L di dalam Pasal 197 ayat (1). Baik Parlin maupun
Anand Krishna sudah diputus bebas oleh pengadilan negeri, dan mendapatkan ketetapan hukum.
Namun kemudian JPU melakukan pelanggaran dengan melakukan kasasi, di dalam kasus Anand
Krishna sendiri terdapat kejanggalan di dalam surat keputusan kasasi yaitu masuknya kasus
orang lain yang berasal dari sengketa merek dangang. Baik Parlin maupun Anand Krishna
seharusnya tidak boleh di esekusi karena keputusan hakim tersebut tidak memenuhi pasal 197
ayat (1) KUHAP sehingga batal demi hukum, dan pengesekusian Parlin maupun Anand dapat
dikategorikan pelanggaran hukum karena telah merampas kemerdekaan dan jaksa yang
menandatangai surat perintah penahan tersebut dapat dijatuhi hukuman karena telah melanggar
KUHAP.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/lusy99/melihat-dan-memahami-pasal-197-
kuhap_552e004a6ea834b4178b4576
FAKULTAS SYARI’AH
PERBANDINAN MADZHAB DAN HUKUM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014

PUTUSAN PENGADILAN
I. PENDAHULUAN
Penafsiran otentik dari putusan pengadilan ini terdapa dalam pasal 1 butir 11, yang
menyatakan bahwa putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam
pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas, atau lepas dari segala
tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini.
Dengan putusan hakim tersebut diakhirilah seluruh proses pemeriksaan perkara pidana
sejak awal pemeriksaan pendahuluan, yaitu penyelidikan, penuntuan dan pemeriksaan di
sidang pengadilan. Dengan demikian ketiga putusan pengadilan tersebut, yaitu putusan
bebas (vrijspraak), lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervilging)
dan pemidanaan (veroordeling) merupakan putusan akhir (vonnis).
Di samping itu, terdapat pula putusan-putusan pengadilan yang bukan merupakan
putusan akhir dan yang terakhir ini yang lazim disebut peneapan hakim (beschikking).
Dalam bahasan ini akan dibicarakan mengenai macam-macam isi putusan pengadilan,
baik putusan akhir (vonnis) maupun putusan bukan akhir (beschikking) dan juga bentuk
dari vonnis.
II. RUMUSAN MASALAH
Berangkat dari permasalahan-pemasalahan tersebut di atas, maka perlu adanya
pembahasan-pembahasan terkait permasalahan tersebut yang mana dipaparkan dalam
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Macam-macam Isi Putusan Pengadilan
2. Formalitas Isi Surat Putusan Pengadilan (vonnis)
3. Putusan-putusan lain yang bukan merupakan putusan akhir, yang lazim disebut
dengan penetapan (beschikking).
III. PEMBAHASAN
3.1. Macam-macam Isi Putusan Pengadilan
Seperti yang telah diuraikan pada pendahuluan di atas, maka KUHP hanya
mengenal tiga macam putusan pngadilan (vonnis). Adapun masing-masing putusan
pengadilan tersebut ialah putusan bebas (vrijspraak vonnis), lepas dari segala
tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging), dan pemidanaan (veroordeling).

Putusan bebas (vrijspraak vonnis)


Dalam hal ini, Pasal 191 ayat (1) KUHP menyatakan jika pengadilan
berpendapat dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan
yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Maka
terdakwa diputus bebas. Adapun tidak terbuktinya kesalahan terdakwa tersebut ada
tiga mungkinan yang menyebabkan ialah :
a. Minimum bukti yang ditetapkan oleh undang-undang tidak dapat terpenuhi,
misalnya hanya ada keterangan terdakwa saja, atau keterangan dari seorang
saksi saja tanpa dikuatkan dengan alat bukti sah yang lain.
b. Minimum bukti yang ditetapkan oleh undang-undang telah terpenuhi,
misalnya sudah ada dua orang saksi atau lebih, akan tetapi tidak dapat
meyakinkan hakim akan kesalahan terdakwa.
c. Salah satu atau beberapa unsur dari tindak pidana yang terdapat dalam surat
dakwaan tidak dapat dibuktikan.
Putusan bebas ini mempunyai sifat negative (negative caracter), sebab putusan
ini tidak menyatakan bahwa terdakwa tidak melakukan perbuatan yang di dakwakan
itu, tetapi hanyalah menyatakan bahwa kesalahannya hal itu tidak terbukti. Dalam hal
ini, bahwa kemungkinan besar terdakwalah yang melakukan perbuatan itu, akan
tetapi di sidang pengadilan hal tersebut tidak terbukti.
Dalam membicarakan putusan bebas ini, perlu diingatkan kembali mengenai
sistem pembuktian yang dianut oleh KUHP, yang terdapat dalam pasal 183 KUHAP
yang berbunyi : “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali
apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah
yang bersalah melakukannya”
Sistem pembuktian ini disebut sistem pembuktian menurut undang-undang
negative (negatief wetteljk bewijs systeem). Disebut “wettelijk”, oleh karena untuk
membuktikan diharuskan adanya alat-alat bukti yan sah menurut undang-undang.
Sedangkan disebut “negatief” karena adanya alat-alat bukti tertentu itu saja yang
ditunjuk oleh undang-undang belum mewajbkan hakim untuk menyatakan telah
terbukti. Namun, untuk itu masih disyaratkan adanya keyakinan hakim akan
kesalahan terdakwa. Dengan lain perkataan tetang penilaian kekuatan bukti dari alat-
alat bukti yang telah diajukan dalam pesidangan itu sepenuhnya diserahkan pada
penilaian hakim sendiri.
Dalam hal hakim memtus bebas ataupun lepas dari segala tuntutan hukum,
dimana terdakwa ada dalam status tahanan, maka terdakwa diperintahan untuk
dibebaskan seketika itu juga, kecuali apabila ada alasan lain yang sah, dimana
terdakwa perlu ditahan. Dan, jika terdakwa tetap dikenakan penahanan atas dasar
alasan lain yang sah tersebut, maka alasan tersebut secara jelas diberitahukan kepada
ketua Pengadilan Negeri sebagai pengawas dan pengamat terhadap pelaksanaan
putusan pengadilan.[1]

Lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging)


Putusan ini dijatuhkan jika hakim berpendapat bahwa perbuatan yang
didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu
tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum (pasal 191
ayat 2 KUHP).
Jadi perbuatan terdakwa bukan merupakan perbuatan yang dapat dipidana, oleh
karena perbuatan yang terbukti itu sama sekali tidak dapat dimasukkan dalam salah
satu ketentuan undang-undang pidana atau karena adanya pasal 49 ayat (1), Pasal 50
dan Pasal 51 ayat (1) KUHP.
Putusan ini juga dijatuhkan oleh hakim dalam hal perbuatan yang terbukti itu
merupakan tindak pidana, akan tetapi terdakwa tidak dapat dipidana dikarenakan
tidak adanya kemampuan bertanggungjawab sebagaimana tersebut dalam pasal 44
KUHP atau disebabkan adanya alasan pemaaf (fait d’exuse) seperti tersebut dalam
pasal 49 ayat (2) dan pasal 51 ayat (2) KUHP.
Adapun perbedaan prinsipil antara putusan bebas dengan putusan lepas dari
segala tuntutan hukum ini di samping terletak dalam hal menyangkut
pembuktiannya, juga terletak di bidang upaya hukumnya. Menurut pasal 244
KUHAP, putusan bebas tidak dapat dimintakan kasasi oleh penuntut umum,
sedangkan dalam putusan lepas dari segala tuntutan hukum dapat dimintakan kasasi
oleh penuntut umum (lihat pasal 244 KUHAP).[2]

Putusan Pemidanaan
Putusan ini dijatuhkan oleh hakim, jika hakim berpendapat bahwa terdakwa
bersalah melakukan tindak pidana yang di dakwakan kepadanya maka hakim
menjatuhkan pidana (Pasal 193 ayat 1 KUHAP).
Perlu dikemukakan bahwa menurut Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997,
apabila terdakwa adalah seorang anak (telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum
mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin), maka terhadap anak tersebut
dapat dijatuhkan pidana atau tindakan.
Apabila hakim menjatuhkan pidana kepada anak, maka pidana penjara yang
dapat dijatuhkan paling lama 10 (sepuluh) tahun. Sedangkan jika hakim menjatuhkan
tindakan kepada anak, maka tindakan yang dapat dijatuhkan adalah:
a. Mengembalikan kepada orang tua, wali, orang tua asuh
b. Menyerahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan
latihan kerja, atau
c. Menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi Sosial
Kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan dan latihan
kerja.
Dalam hal ini putusan pemidanaan ini, hakim dapat memerintahkan supaya
terdakwa yang tidak ditahan agar segera dimasukkan dalam tahanan, akan tetapi
dalam hal ini di syaratkan oleh Pasal 193 ayat (2) sub a KUHAP, bahwa perintah
untuk penahanannya itu hanya dapat dikeluarkan jika terdakwa dipersalahkan
melakukan tindak pidana seperti tersebut dalam Pasal 21 KUHAP, yaitu yang
diancam dengan pidana penjara minimum 5 tahun atau lebih atau termasuk tindak
pidana yang disebut satu demi satu oleh pasl 21 KUHAP (ingat syarat obyektif
penahanan). Di samping itu, perintah penahanan terdakwa dimaksud adalah bilamana
dilakukannya penahanan tersebut karena dikhawatirkan bahwa selama putusan belum
memperoleh kekuatan hukum tetap, terdakwa akan melarikan diri, merusak atau
menghilangkan barang bukti ataupun mengulangi tindak pidana lagi (ingat syarat
subyektif penahanan).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa putusan segera masuk ini adalah merupakan
penahanan yang dilakukan oleh hakim pada akhir sidang, yang memang hal ini
menjadi wewenang hakim. Sebab dalam praktek masih terjadi kekeliruan-kekeliruan,
yang disebabkan hakim lupa adanya syarat Pasal 21 KUHAP itu. Di samping itu
“putusan segera masuk” ini kadang-kadang secara keliru pula ditafsirkan sebagai
segera masuk menjalani pidananya, sehingga pernah terjadi seorang terdakwa yang
sudah berstatus tahanan, hakim masih saja menjatuhkan putusan segera masuk,
sehingga merepotkan jaksa selaku executor.
Dalam pada itu menurut Pasal 193 ayat (2) sub b KUHAP, dalam hal terdakwa
telah ditahan, hakim dalam menjatuhkan putusannya dapat menetapkan agar
terdakwa tetap berada dalam tahanan atau dapat pula membebaskannya, apabila
terdapat alasan yang cukup untuk itu, misalnya lama masa tahannnya telah sama
dengan pidana penjara yang dijatuhkan atau bahkan melebihinya.
Selanjutnya menurut pasal 192 ayat (1) jo. Pasal 197 ayat (3) KUHAP, baik
perintah untuk penahanan atau pembebasan dari tahanan harus segera dilaksanakan
oleh jaksa segera setelah putusan diucapkan. Jadi, apabila terdakwa atau penuntut
umum mengajukan banding, sedangkan dalam putusan hakim tersebut ada perintah
agar terdakwa dikeluaran dari tahanan, maa sambil menunggu putusan dari
pengadilan tinggi terdakwa berada diluar tahanan. Sebaliknya apabila ada perintah
“segera masuk, maka terdakwa sambil menunggu putusan dari pengadilan tinggi
terdawa berada (dimasukkan) dalam tahanan. Dalam hal ini pengadilan tinggilah
yang berwenang menentukan apakah penahanannya diteruskan atau perintah
penahanan itu dicabut (Pasal 238 ayat 2 KUHAP).
Perlu dikemukakan disini bahwa dalam hal putusan bebas, atau lepas dari segala
tuntutan hukum, atau pemidanaan, hakim akan memerintahkan supaya barang-barang
bukti (stuken van overtuiging) diserahkan kepada orang yang paling berhak
menerima kembali barang tersebut yang namanya tercantum dalam putusan, kecuali
jika menurut ketentuan undang-undang barang bukti itu harus dirampas untuk
kepentingan Negara atau dimusnahkan atau dirusak sehingga tidak dapat
dipergunakan lagi (Pasal 194 ayat 1 KUHAP).
Dalam pada itu, apabila hakim menganggap perlu, misalnya barang tersebut
sangat diperlukan untuk mencari nafkah, seperti kendaraan bermotor atau alat-alat
pertanian dan lain-lain, hakim dapat juga menetapkan supaya pengembalian barang
bukti tersebut dilaksanankan segera setelah persidangan selesai (Pasal 194 ayat 2
KUHAP). Ini berarti bahwa penyerahan barang bukti tersebut dapat dilakukan
meskipun putusan hakim belum memperoleh kekuatan hukum tetap, akan tetapi
harus disertai dengan syarat tertentu, misalnya barang tersebut setiap waktu harus
dapat dihadapkan ke pengadilan dalam keadaan utuh (Pasal 194 ayat 3 KUHAP).
Selanjutnya menurut Pasal 195 KUHAP semua putusan pengadilan hanya sah
dan mempunyai kekuatan hukum jika putusan itu diucapkan di sidang terbuka untuk
umum. Hal ini sesuai dengan asas hukum acara pidana yang termaktub dalam Pasal
18 Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman.
Menurut ketentuan Pasal 196 ayat (1) KUHAP pengadilan memutus perkara
dengan hadirnya terdakwa kecuali dalam undang-undang ini menentukan lain.
Sedangkan menurut ayat (2) dari Pasal 196 tersebut dinyatakan bahwaapabila
terdapat lebih dari satu orang terdakwa dalam satu perkara, maka putusan diucapkan
dengan hadirnya terdakwa yang ada.
Menurut Pasal 196 ayat (3) KUHAP, segera setelah putusan pemidanaan
diucapkan, maka hakim ketua sidang wajib memberitahukan kepada terdakwa
tentang segala apa yang menjadi haknya, yaitu:
a. Hak segera menerima atau segera menolak putusan
b. Hak mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak
putusan, dalam tenggang waktu ang ditentukan oleh undang-undang ini (hak
pikir-pikir)
c. Hak minta penangguhan pelaksanan putusandalam tenggang waktu yang
ditentukan oleh undang-undang untuk dapat mengajukan grasi, dalam hal ia
menerima putusan
d. Hak minta diperiksa perkaranya dalam tinkat banding dalam tenggang waktu
yang ditentukan undang-undang ini, dalam hal ia menolak putusan
e. Hak mencabut pernyataan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam
tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang ini.
Dengan pemberitahuan tersebut oleh hakim ketua sidang dimaksudkan supaya
terdakwa mengetahui hak-haknya.[3]
3.2.Formalitas Isi Surat Putusan Pengadilan (vonnis)
Menurut Pasal 197 ayat (1) KUHAP, surat putusan pemidanaan memuat :
a. Kepala putusan yang dituliskan berbunyi: “DEMI KEADILAN
BEDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”
b. Nama lengkap tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan terdakwa
c. Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam dakwaan
d. Pertimbanan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan
beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang ang
menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa
e. Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan
f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau
tindakan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar
hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang
meringankan terdakwa
g. Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali perkara
diperiksa oleh hakim tunggal
h. Pernyatan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur
dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan
atau tindakan yang dijatuhkan
i. Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan
jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti
j. Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana
letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik dianggap palsu
k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan
l. Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang memutus
dan nama panitera.
Adapun mengenai huruf d di atas penjelasannya menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan “fakta dan keadaan disini” ialah segala apa yang ada dan apa yang
ditemukan di sidang oleh pihak dalam proses, antara lain penuntut umum, saksi, ahli,
terdakwa, penasihat hukum dan saksi korban.
Selanjutnya ayat (2) dari Pasal 197 menyatakan bahwa tidak dipenuhi ketentuan
dalam ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, dan l pasal ini megakibatkan putusan
batal demi hukum.
Dalam hal ini, penjelasannya menyatakan bahwa kecuali yang tersebut pada
huruf a, e, f, dan h, apabila terjadi kekhilafan dan atau kekeliruan dalam penulisan
atau pengetikan tidak menyebabkan batalnya putusan demi hukum.
Dalam pada itu, menurut pasal 199 ayat (1) KUHAP surat putusan bukan
pemidanaan memuat :
a. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (1) kecuali huruf e,
f, h
b. Pernyataan bahwa terdakwa diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum, dengan menyebutkan alasan dan pasal peraturan perundang-
undangan yang menjadi dasar putusan
c. Perintah supaya terdakwa segera dibebaskan jika ia ditahan
Akhirnya dapat dikemukakan disini bahwa putusan ditandatangani oleh hakim
dan panitera seketika setelah putusan itu diucapkan (Pasal 200 KUHAP). Ketentuan
ini untuk memberikan kepastian bagi terdakwa agar tidak berlarut-larut waktunya
untuk mendapatkan surat keputusan tersebut, dalam rangka ia akan menggunakan
upaya hukum.[4]
3.3.Putusan- putusan Lain yang Bukan Merupakan Putusan Akhir (beschikking).
Putusan yang bukan merupakan putusan akhir ini biasanya diucapkan oleh
hakim pada awal persidangan yang antara lain adalah :
a. Putusan yang berisi pernyataan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili
perkara (onbevogd verklaring). Putusan ini diucapkan apabila haim setelah
meninjau perkara dari sudut formil berpendapat bahwa perkara yang
diperiksanya itu ternyata termasuk dalam kompetensi pengadilan negeri lain.
Dalam hal ini maka ia menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada
pangadilan negeri lain yang dianggap berwenang mengadilinya dengan surat
penetapan (beschikking) yang memuat alasannya (Pasal 148 ayat 1 KUHAP)
b. Putusan yang berisi pernyataan bahwa surat dakwaan batal (nietigverklaring
van de acte van dagvaarding) – Pasal 156 ayat (1)
c. Putusan yang berisi pernyataan bahwa tuntutan penuntut umum tidak dapat
diterima (niet ontvankelijk verklaring van het openbare ministerie)-Pasal 156
ayat (1) KUHAP.
Putusan ini diucapkan dalam hal tidak adanya syarat-syarat untuk dapat diadakan
penuntutan (voerwaarden voer de vervolgbaarheid), missal :
 Apabila undang-undang hukum pidana sudah dinyatakan tidak berlaku
(Pasal 2-9 KUHAP)
 Apabila perkara sudah daluwarsa (verjaard)
 Apabila terhadap perbuatan (feit) yang sama diadakan penuntutan untuk
kedua kalinya (ne bis in idem)
 Apabila dalam penuntutan terhadap seorang penerbit (uitgever) atau
pencetak (drukker) ternyata mereka telah memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan masing-masing dalam pasal 61 dan pasal 62 KUHP
 Apabila diadakan penuntutan mengeni tindak pidana pencurian dan tindak
pidana – tindak pidana terhadap harta benda (vermogendelikten) lainnya,
ternyata hal itu terjadi antara suami istri (Pasal 367, 376 dan 394 KUHP)
d. Putusan yang berisi penangguhan pemeriksaan perkara terdakwa oleh karena
ada perselisihan preyudisiil (praeujudicteel geschil). Putusan ini diberikan oleh
karena didalam perkara terdakwa tersebut dibutuhkan atau ditunggu terlebih
dahulu adan putusan dari hakim perdata, missalnya dalam hal tindak pidana
perzinahan (overspel) sebagaimaa diatur dalam pasal 284 KUHP, atau dalam
perkara pencurian atau penggelapan di mana sulit untuk di tentukan siapakah
sebenarnya pemilik dari barang tersebut.[5]
IV. KESIMPULAN
Macam-macam Isi Putusan Pengadilan
Seperti yang telah diuraikan pada pendahuluan di atas, maka KUHP hanya mengenal
tiga macam putusan pngadilan (vonnis). Adapun masing-masing putusan pengadilan
tersebut ialah putusan bebas (vrijspraak vonnis), lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag
van alle rechtsvervolging), dan pemidanaan (veroordeling).

Putusan bebas (vrijspraak vonnis)


Dalam hal ini, Pasal 191 ayat (1) KUHP menyatakan jika pengadilan berpendapat
dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan
kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Maka terdakwa diputus bebas.

Lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging)


Putusan ini dijatuhkan jika hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan
kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka
terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum (pasal 191 ayat 2 KUHP).
Jadi perbuatan terdakwa bukan merupakan perbuatan yang dapat dipidana, oleh karena
perbuatan yang terbukti itu sama sekali tidak dapat dimasukkan dalam salah satu ketentuan
undang-undang pidana atau karena adanya pasal 49 ayat (1), Pasal 50 dan Pasal 51 ayat (1)
KUHP.
Putusan Pemidanaan
Putusan ini dijatuhkan oleh hakim, jika hakim berpendapat bahwa terdakwa bersalah
melakukan tindak pidana yang di dakwakan kepadanya maka hakim menjatuhkan pidana
(Pasal 193 ayat 1 KUHAP).

Formalitas Isi Surat Putusan Pengadilan (vonnis)


Menurut Pasal 197 ayat (1) KUHAP, surat putusan pemidanaan memuat :
a. Kepala putusan yang dituliskan berbunyi: “DEMI KEADILAN
BEDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”
b. Nama lengkap tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan terdakwa
c. Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam dakwaan
d. Pertimbanan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan
beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang ang
menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa
e. Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan
f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau
tindakan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar
hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang
meringankan terdakwa
g. Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali perkara
diperiksa oleh hakim tunggal
h. Pernyatan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur
dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan
atau tindakan yang dijatuhkan
i. Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan
jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti
j. Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana
letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik dianggap palsu
k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan
l. Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang memutus
dan nama panitera.

Putusan- putusan Lain yang Bukan Merupakan Putusan Akhir (beschikking).


Putusan yang bukan merupakan putusan akhir ini biasanya diucapkan oleh hakim
pada awal persidangan yang antara lain adalah :
a. Putusan yang berisi pernyataan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili
perkara (onbevogd verklaring).
b. Putusan yang berisi pernyataan bahwa surat dakwaan batal (nietigverklaring
van de acte van dagvaarding) – Pasal 156 ayat (1)
c. Putusan yang berisi pernyataan bahwa tuntutan penuntut umum tidak dapat
diterima (niet ontvankelijk verklaring van het openbare ministerie)-Pasal 156
ayat (1) KUHAP.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yan dapat kami sampaikan. Dengan kerendahan hati kami
sampaikan bahwa taka da gading yang tak retak . Oleh karena itu, penyusun sangat
mengharap kritik dan saran dari para pembaca untuk menyempurnakan kekurangan-
kekurangan yang ada dalam makalah ini. Akhirnya, semoga makalah singkat ini membawa
manfaat dan keberkahan bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
Sutarno, Suryono. SH, MS. Hukum Acara Pidana.Badan Penerbit Universitas Diponegoro
(Semarang:2004)

[1] Sutarno, Suryono. SH, MS. Hukum Acara Pidana.Badan Penerbit Universitas Diponegoro
(Semarang:2004).hlm. 74-75
[2] Sutarno, Suryono. SH, MS. Hukum Acara Pidana.Badan Penerbit Universitas Diponegoro
(Semarang:2004).hlm.75-76
[3] Sutarno, Suryono. SH, MS. Hukum Acara Pidana.Badan Penerbit Universitas Diponegoro
(Semarang:2004).hlm.76-78
[4] Sutarno, Suryono. SH, MS. Hukum Acara Pidana.Badan Penerbit Universitas Diponegoro
(Semarang:2004).hlm.79-80
[5] Sutarno, Suryono. SH, MS. Hukum Acara Pidana.Badan Penerbit Universitas Diponegoro
(Semarang:2004).hlm.80-81

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN


PENGADILAN YANG TIDAK MEMENUHI
KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA
(Putusan Pengadilan Negeri Jember No
:139/Pid. B/2009. PN.Jr)
NURWAHID DEDY KORNIAWAN
URI: http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/16176
Date: 2014-01-17

Abstract:

Putusan Pengadilan Negeri Jember Nomor: 139/PID.B/2009/PN.Jr merupakan putusan


pengadilan yang tidak memenuhi ketentuan dalam KUHAP. Ketentuan yang tidak dipenuhi
tersebut adalah ketentuan dalam Pasal 197 ayat (1) huruf d, f dan g KUHAP di mana ketentuan
tersebut merupakan suatu ketentuan yang harus dimuat dalam suatu putusan pemidanaan
sebagaimana dengan jelas diatur dalam Pasal 197 ayat (2) KUHAP yang berbunyi tidak
dipenuhinya ketentuan dalam ayat (1) huruf a sampai huruf l pasal ini mengakibatkan putusan
batal demi hukum. Dalam kasus ini terpidana tidak mengetahui tentang hal tersebut, sehingga
tidak ada upaya yang dilakukan oleh terpidana terhadap suatu putusan yang batal demi hukum
tersebut yang pada akhirnya putusan Pengadilan Negeri Jember Nomor: 139/PID.B/2009/PN.Jr
mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Berdasarkan uraian tersebut maka
permasalahan yang akan dibahas adalah: mengenai apa pertimbangan hakim berdasarkan fakta-
fakta yang terungkap dalam persidangan dan apakah putusan pengadilan yang tidak memenuhi
ketentuan Pasal 197 KUHAP terungkap di persidangan. Tujuan penulisan skripsi ini adalah:
menganalisis pertimbangan hakim berdasarkan faktafakta yang terungkap dalam persidangan dan
menganalisis putusan pengadilan yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 197 KUHAP terungkap
dalam persidangan. Metode pendekatan masalah yang digunakan oleh penulis dalam penyusunan
skripsi ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach dan pendekatan konseptual
(conseptual approach). Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder. Kesimpulan dalam skripsi ini adalah pada Putusan Pengadilan Negeri Jember
Nomor: 139/Pid.B/2009/PN. Jr hakim sudah mempertimbangkan fakta yang terungkap dalam
persidangan. Fakta diambil dari keterangan terdakwa Abdul Hasib bin Sanidi dan surat yang
berupa Visum et repertum Nomor:474.3/583/436.7.01/2008 tanggal 30 Desember 2008.
Keterangan saksi fakta dan keadaannya kurang di bahas dalam putusan, putusan Nomor: 139/
PID. B/ 2009. PN. Jr tidak memenuhi ketentuan Pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP karena
terjadi kekhilafan dalam penulisan atau pengetikan tetapi tidak menyebabkan putusan batal demi
hukum berdasarkan penjelasan Pasal 197 ayat (2) KUHAP. Saran dalam skripsi ini adalah
penulis menyarankan kepada hakim agar dalam memberikan suatu putusan tetap
mempertimbangkan fakta yang terungkap dalam persidangan. Penulis menyarankan kepada
hakim agar dalam membuat surat putusan harus sesuai dengan ketentuan Pasal 197 ayat (1)
KUHAP.