Вы находитесь на странице: 1из 33

PERBANDINGAN PENEGAKAN ETIKA HAKIM DI INDONESIA DENGAN DI

AZERBAIJAN

Dirsa Deandaru *

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia/Mahasiswa Mata Kuliah Kekuasaan


Kehakiman

Korespondensi: dirsasaid@hotmail.com

Abstract

A judge is someone who has the authority to determine the black and white of one's destiny.
Where the decision can eliminate one's ownership, one's freedom, even one's life. This great
authority is very useful but dangerous because on one hand it can provide justice and benefit but
on the other hand has the potential to create tyranny (especially for justice seekers). Moreover, the
facts that exist in Indonesian society today, in addition to very low public trust, the deviation of
the code of ethics and guidelines by the judges is quite common.

Initially, the institution of enforcing the judge's code of ethics was within the structure of
the Supreme Court. But because of the development of the times, and also the developmental
influence in the world at the end of the 20th and early 21st century with the emergence of ideas of
judicial commissions as 'external institutions' in the courts of many countries, we adopted the idea
of the Judicial Commission included its existence in the 1945 Constitution. The Judicial
Commission officially became a constitutional institution which was first formed in 2004 under
Law No. 22 of 2004 concerning the Judicial Commission.

The Republic of Azerbaijan, can be said to have similarities with Indonesia in terms of
enforcement agencies of judges' ethical codes. The Republic of Azerbaijan is much younger than
that Indonesia, it was just proclaimed independent in 1991 and even its constitution was adopted
in 1995. The institution authorized to enforce the code of ethics of judges in Azerbaijan is the
Judicial Legal Commission(JLC), born in 2004, the same as the Judicial Commission (KY) in
Indonesia. But even so, the rules relating to the enforcement of the judge's code of ethics in
Azerbaijan can be considered excellent, even better than in Indonesia if according to the author’s
opinion. On the basis of the similarity of the time taken by Indonesia and Azerbaijan in their efforts
to give birth to a state institution that enforces the code of ethics of judges, in this article, the author
will try to conduct a comparative study of the enforcement of a judge's code of ethics in Azerbaijan.

Abstrak

Hakim adalah seseorang yang mempunyai wewenang untuk menentukan hitam putihmya
nasib seseorang. Dimana dengan putusannya bisa menghilangkan kepemilikan seseorang,
kebebasan seseorang, bahkan nyawa seseorang. Wewenang yang besar tersebut sangat berguna
tapi berbahaya karena di satu sisi dapat memberikan keadilan dan kemanfaatan namun di sisi lain

1
berpotensi menciptakan kedzaliman (terutama kepada para pencari keadilan). Apalagi fakta yang
ada di masyarakat Indonesia saat ini, selain kepercayaan masyarkat sangat rendah, penyimpangan
kode etik dan pedoman oleh hakim pun cukup sering terjadi.1

Semula, institusi penegak kode etik hakim berada di dalam struktur Mahkamah Agung.
Namun karena perkembangan kebutuhan zaman, dan juga atas pengaruh perkembangan di dunia
pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 dengan munculnya ide-ide pembentukan komisi-
komisi yudisial sebagai ‘lembaga eksternal’ di lingkungan pengadilan di banyak negara, maka kita
mengadopsi ide Komisi Yudisial itu dengan mencantumkan keberadaannya dalam UUD 1945.
Komisi Yudisial resmi menjadi lembaga konstitusional yang untuk pertama kali dibentuk pada
tahun 2004 berdasarkan UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial

Negara Republik Aazerbaijan, bisa dikatakan mempunyai kemiripan dengan Indonesia


dalam hal lembaga penegakan penegak kode etik hakimnya. Negara Republik Azerbaijan relaitf
jauh lebih muda dibandungkan dengan Negara Indonesia, ia baru merdeka secara independen pada
tahun 1991 dan bahkan konstitusinya baru diadopsi pada tahun 1995. Lembaga yang berwenang
dalam hal penegakan kode etik para hakim di Azerbaijan adalah Judicial Legal Comission, yang
lahir pada tahun 2004, sama dengan Komisi Yudisial di Indonesia. Namun walau demikian, aturan
terkait penegakan kode etik hakim di Azerbaijan dapat dinilai sangatlah baik, bahkan lebih baik
dibandingkan dengan di Indonesia kalau menurut penulis sendiri. Atas dasar kemiripan jangka
waktu yang ditempuh oleh Negara Indonesia dan Azerbaijan dalam usahanya untuk melahirkan
sebuah lembaga Negara penegak kode etik para hakim, maka di dalam artikel ini, penulis akan
mencoba melakukan studi perbandingan penegakan kode etik hakim di Indonesia dengan di
Azerbaijan.

1
Wildan Suyuthi, Kode Etik Hakim, Kencana: Jakarta, 2013, hlm. 45

2
PENDAHULUAN

Dalam melaksanakan apa yang disebut dengan kaidah hukum, Pengadilan memiliki peran
sebagai pilar utama dalam penegakan hukum dan keadilan serta proses pembangunan peradaban
bangsa. Tegaknya hukum dan keadilan serta penghormatan terhadap nilai-nilai luhur sosial
masyarakat menjadi salah satu prasyarat tegaknya martabat dan integritas Negara. Dan hakim
sebagai aktor utama (main figure) dalam proses peradilan memiliki tanggung jawab untuk
senantiasa mengasah kepekaan nurani, memelihara integritas, kecerdasan moral dan meningkatkan
profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan bagi Masyarakat. Oleh sebab itu, segala
wewenang dan tugas yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan
hukum, kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti
diatur dalam lafal sumpah seorang hakim, di mana setiap orang memiliki kedudukan yang sama di
mata hukum dan hakim. Wewenang dan tugas hakim yang sangat besar itu menuntut
tanggungjawab yang tinggi, sehingga dalam setiap putusannya menunjukkan kewajiban hakim
dalam menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan. Selain itu setiap putusan hakim itu wajib
dipertanggungjawabkan kepada semua manusia dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Oleh sebab itu, hakim dituntut untuk selalu berperilaku dan mengamalkan yang berbudi
pekerti luhur. Hakim yang berbudi pekerti luhur dapat menunjukkan bahwa profesi hakim adalah
suatu kemuliaan (officium nobile).

Hakim adalah seseorang yang mempunyai wewenang untuk menentukan hitam putihmya
nasib seseorang. Dimana dengan putusannya bisa menghilangkan kepemilikan seseorang,
kebebasan seseorang, bahkan nyawa seseorang. Wewenang yang besar tersebut sangat berguna
tapi berbahaya karena di satu sisi dapat memberikan keadilan dan kemanfaatan namun di sisi lain
berpotensi menciptakan kedzaliman (terutama kepada para pencari keadilan). Apalagi fakta yang
ada di masyarakat Indonesia saat ini, selain kepercayaan masyarkat sangat rendah, penyimpangan
kode etik dan pedoman oleh hakim pun cukup sering terjadi.2

Semula, institusi penegak kode etik hakim berada di dalam struktur Mahkamah Agung.
Namun karena perkembangan kebutuhan zaman, dan juga atas pengaruh perkembangan di dunia
pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 dengan munculnya ide-ide pembentukan komisi-
komisi yudisial sebagai ‘lembaga eksternal’ di lingkungan pengadilan di banyak negara, maka kita
mengadopsi ide Komisi Yudisial itu dengan mencantumkan keberadaannya dalam UUD 1945.
Pencantuman Komisi Yudisial ini dalam ketentuan konstitusi menyebabkan lembaga ini menjadi
sangat ‘lux’, dan bahkan untuk sebagian orang dianggap berlebihan, karena dipengaruhi oleh
emosi sesaat sebagai akibat kekecewaan publik yang luas terhadap kinerja peradilan, khususnya
Mahkamah Agung, di masa-masa krisis yang kemudian dijawab dengan dilakukannya reformasi
yang berpuncak pada agenda reformasi konstitusi pada tahun 1999-2002. Momentum perubahan
konstitusi itulah yang dimanfaatkan oleh kaum reformis untuk mendesak ide pembentukan Komisi
Yudisial ini, dan berhasil, sehingga Komisi Yudisial resmi menjadi lembaga konstitusional yang
untuk pertama kali dibentuk pada tahun 2004 berdasarkan UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi
Yudisial

2
Ibid.

3
Negara Republik Aazerbaijan, bisa dikatakan mempunyai kemiripan dengan Indonesia
dalam hal lembaga penegakan penegak kode etik hakimnya. Sebelum membicarakan ke arah sana,
akan dijelaskan secara singkat mengenai Negara Republik Azerbaijan itu sendiri. Republik
Demokratik Azerbaijan memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1918 dan menjadi negara
Muslim demokratis pertama. Pada tahun 1920 negara ini dimasukkan ke dalam Uni Soviet sebagai
Republik Sosialis Soviet Azerbaijan. Lalu Negara Republik Azerbaijan yang modern (seperti saat
ini) memproklamasikan kemerdekaannya pada 30 Agustus 1991, sesaat sebelum bubarnya Uni
Soviet pada tahun yang sama yaitu September 1991. Lebih dari 89% populasi penduduknya adalah
Muslim Syiah. Namun Konstitusi Azerbaijan tidak menyatakan agama resmi yang diakui, dan
semua kekuatan politik utama di negara itu adalah sekuler. 3

Negara Republik Azerbaijan sama-sama menganut system hukum civil law. Konstitusi
Azerbaijan yang berlaku saat ini diadopsi pada 12 November 1995 dengan referendum rakyat.
Konstitusi ini adalah Konstitusi pertama Negara Republik Azerbaijan yang merdeka. Sedangkan
Republik Demokratik Azerbaijan yang didirikan pada tahun 1918 dan ada 23 bulan sampai 1920
tidak dapat mengadopsi konstitusinya. Oleh karena itu, sejarah pembangunan Konstitusi di
Azerbaijan umumnya dimulai dari periode Azerbaijan menjadi bagian dari Uni Soviet. Konstitusi
Azerbaijan yang pertama diadopsi pada tahun 1921 dan sesuai dengan Konstitusi Uni Soviet.
Konstitusi Republik SOsialis Soviet Azerbaijan yang terakhir diadopsi pada tanggal 21 April 1978
dan juga sejalan dan berbentuk Konstitusi Uni Soviet. Sedangkan Konstitusi pertama bagi Negara
Republik Azerbaijan yang merdeka dan independen, baru diadopsi pada 12 November 1995.
Konstitusi tersebut sudah diamandemen sebanyak 3 kali yaitu pada 24 Agustus 2002, 18 Maret
2009., dan terakhir pada 26 September 2016. 4

Sedangkan terkait dengan lembaga Negara yang berwenang dalam penegakan kode etik
para hakimnya, hingga saat inin tidak diatur di dalam konstitusinya, melainkan di UU. Lembaga
yang berwenang dalam penegakan kode etik para hakim di Azerbaijan hanya ada 1, yaitu Judicial
Legal Comission (JLC), yang lahir pada tahun 2004 berdasarkan pada Judicial Legal Council Act
2004. Sama halnya dengan KY di Indonesia yang juga lahir pada tahun 2004 berdasarkan UU No.
22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Kemudian untuk kode etiknya untuk para hakim di
Azerbaijan yang berlaku saat ini, didasarkan pada Peraturan JLC pada tahun 2007. Lagi-lagi tidak
beda jauh dengan kode etik dan pedoman perilaku hakim di Indonesia yang berlaku saat ini, yang
merupakan Peraturan Bersama MA dan KY tahun 2009.

Atas dasar kemiripan jangka waktu yang ditempuh oleh Negara Indonesia dan Azerbaijan
dalam usahanya untuk melahirkan sebuah lembaga Negara penegak kode etik para hakim, maka
di dalam artikel ini, penulis akan mencoba melakukan studi perbandingan penegakan kode etik
hakim di Indonesia dengan di Azerbaijan.

3
www.visions.az/history,268/A History of Azerbaijan: from the Furthest Past to the Present Day, diakses pada 2
April 2019 pukul 14.45

4
http://azerbaijan.az/portal/General/Constitution/constitution_01_e.html, diakses pada 2 April 2019 pukul 15.00

4
PEMBAHASAN

INDONESIA

1. Mahkamah Agung dan Komisi Yudsial

Terkait mekanisme dan prosedur kode etik profesi hakim di Indonesia, bila ada dugaan
pelanggaran kode etik oleh hakim, maka yang dapat dan perlu dilakukan adalah pengaduan ke dua
lembaga, yaitu ke Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY), apabila yang diduga
melakukan pelanggaran adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan
yang berada dibawahnya. Hal ini diatur dalam Peraturan Bersama MA dan KY Nomor
02/PB/MA/IX/2012–02/PB/P.KY/09/2012 tentang Panduan Penegakan Kode Etika dan Pedoman
Perilaku Hakim.

Dalam pasal 1, dinyatakan bahwa:

1) Angka 1: Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim adalah panduan keutamaan moral bagi
setiap hakim, baik di dalam maupun di luar kedinasan sebagaimana diatur dalam Surat
Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Ketua Komisi
Yudisial Republik Indonesia Nomor: 047/KMA/SKB/IV/2009 - 02/SKB/P.KY/IV/2009
tanggal 8 April 2009 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
2) Angka 2: Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan
yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, termasuk hakim ad
hoc dan hakim pengadilan pajak.
3) Angka 7: Pelapor adalah setiap orang atau badan yang menyampaikan laporan pengaduan
mengenai suatu dugaan pelanggaran.
4) Angka 8: Terlapor adalah Hakim yang diduga melakukan pelanggaran Kode Etik dan
Pedoman Perilaku Hakim.5

Jadi berdasarkan aturan di atas, Hakim MK tidak termasuk dalam kategori “hakim” yang
dapat dilaporkan kepada MA dan KY apabila melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman
perlikau Hakim. Namun bukan berarti Hakim MK bebas bertindak semaunya dan tidak ada sanksi
apabila melanggar kode etik dan pedoman perilaku Hakim. Tetap ada lembaga yang
mengawasinya, namun bukan MA dan KY, yang nanti akan penulis jelaskan di bawah. Selain itu
juga yang dapat melaporkan pengaduan mengenai suatu dugaan pelanggaran oleh Hakim, adalah
semua orang atau badan, tidak ada batasan.

Kemudian dalam pasal 16, dinyatakan bahwa “pemeriksaan atas dugaan pelanggaran
terhadap Pasal 12 dan Pasal 14 yang merupakan implementasi dari prinsip berdisiplin tinggi dan
prinsip bersikap profesional dilakukan oleh Mahkamah Agung atau oleh Mahkamah Agung
bersama Komisi Yudisial dalam hal ada usulan dari Komisi Yudisial untuk dilakukan pemeriksaan
bersama”. Jadi khusus untuk pelanggaran terhadap implementasi dari prinsip berdisiplin tinggi
(pasal 12) dan prinsip bersikap professional (pasal 14), pemeriksaannya dilakuakn oleh MA sendiri

5
Peraturan Bersama MA dan KY Nomor 02/PB/MA/IX/2012–02/PB/P.KY/09/2012, pasal 1
5
atau oleh MA bersama-sama dengan KY apabila KY mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan
bersama.

Kemudian pada pasal 17, diatur bahwa:

1) Dalam hal Komisi Yudisial menerima laporan dugaan pelanggaran kode etik yang juga
merupakan pelanggaran hukum acara, Komisi Yudisial dapat mengusulkan kepada
Mahkamah Agung untuk ditindaklanjuti.
2) Dalam hal Mahkamah Agung menilai hasil penelaahan atas laporan masyarakat yang
diusulkan oleh Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak layak ditindaklanjuti,
Mahkamah Agung memberitahukan hal tersebut kepada Komisi Yudisial paling lama 30
(tiga puluh) hari sejak hasil telaahan diterima.
3) Dalam hal Mahkamah Agung menilai hasil penelaahan atas laporan masyarakat yang
diusulkan oleh Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud ayat (1) layak ditindaklanjuti,
Mahkamah Agung memberitahukan hasil tindak lanjut tersebut kepada Komisi Yudisial
paling lama 60 (enam puluh) hari sejak hasil telaahan diterima6

Berikutnya akan dibahas mengenai bentuk sanksinya. Menurut pasal 19:

1) Sanksi terdiri dari:


a. sanksi ringan;
b. sanksi sedang;
c. sanksi berat.

2) Sanksi ringan terdiri dari:


a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. pernyataan tidak puas secara tertulis.

3) Sanksi sedang terdiri dari:


a. penundaan kenaikan gaji berkala paling lama 1 (satu) tahun
b. penurunan gaji sebesar 1 (satu) kali kenaikan gaji berkala paling lama 1 (satu) tahun;
c. penundaan kenaikan pangkat paling lama 1 (satu) tahun;
d. Hakim nonpalu paling lama 6 (enam) bulan;
e. mutasi ke pengadilan lain dengan kelas yang lebih rendah;
f. pembatalan atau penangguhan promosi.

4) Sanksi berat terdiri dari:


a. pembebasan dari jabatan;
b. Hakim nonpalu lebih dari 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun;
c. penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama 3 (tiga)
tahun;
d. pemberhentian tetap dengan hak pensiun;
e. pemberhentian tidak dengan hormat.

6
Ibid., pasal 17

6
5) Terhadap hakim yang diusulkan untuk dijatuhi pemberhentian tetap dan pembelaan dirinya
telah ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim, dikenakan pemberhentian sementara
berdasarkan keputusan Ketua Mahkamah Agung.
6) Tingkat dan jenis sanksi yang dijatuhkan terhadap hakim yang terbukti melakukan
pelanggaran berdasarkan tingkat dan jenis pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (1), (2), dan (3) dapat disimpangi dengan mempertimbangkan latar belakang,
tingkat keseriusan, dan/atau akibat dari pelanggaran tersebut.7

Pasal 20:

1) Sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 19 berlaku untuk hakim karir pada pengadilan
tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding.
2) Terhadap hakim di lingkungan peradilan militer, proses penjatuhan sanksi diberikan
dengan memperhatikan peraturan disiplin yang berlaku bagi prajurit Tentara Nasional
Indonesia.8

Khusus untuk sanksi bagi Hakim ad hoc dan Hakim Agung, pengaturannya berbeda. Untuk
Hakim Ad Hoc, diatur dalam pasal 21:

Tingkat dan jenis sanksi yang berlaku bagi hakim ad hoc, terdiri atas:

a. sanksi ringan berupa teguran tertulis;


b. sanksi sedang berupa nonpalu paling lama 6 (enam) bulan;
c. sanksi berat berupa pemberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat dari jabatan
hakim.9

Sedangkan untuk Hakim Agung, dalam pasal 22 diatur bahwa:

Tingkat dan jenis sanksi yang berlaku bagi Hakim Agung, terdiri atas:

a. sanksi ringan berupa teguran tertulis;


b. sanksi sedang berupa nonpalupaling lama 6 (enam) bulan;
c. sanksi berat berupa pemberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat dari jabatan
hakim;10

Kemudian untuk cara penyampaian putusannya, dalam pasal 24 diatur bahwa:

1) Keputusan penjatuhan sanksi ringan dinyatakan secara tertulis dan disampaikan oleh
pejabat yang berwenang menghukum kepada Terlapor.

7
Ibid., pasal 19
8
Ibid., pasal 20
9
Ibid., pasal 21
10
Ibid., pasal 22

7
2) Keputusan penjatuhan sanksi sedang dan berat dinyatakan secara tertulis dan disampaikan
kepada Terlapor oleh pejabat yang berwenang menghukum melalui Ketua Pengadilan
dimana Terlapor bertugas.11

Perlu diingat bahwa MA dan KY hanya dapat menindak atas dugaan pelanggaran kode etik
dan perilaku Hakim, tapi tidak bisa mempengaruhi putusan dari Hakim tersebut. Hal ini dinyatakan
dalam pasal 15 yaitu “Dalam melakukan pengawasan Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial
tidak dapat menyatakan benar atau salahnya pertimbangan yuridis dan substansi putusan hakim”.

Selanjutnya terkait putusan penjatuhan sanksi, tidak dapat dilakukan upaya hukum.
Berdasarkan pasal 25 dinyatakan bahwa: “Keputusan penjatuhan sanksi pelanggaran kode etik dan
pedoman perilaku hakim tidak dapat diajukan keberatan”.

Kemudian pasal 26 menyatakan:

1) Sanksi yang dijatuhkan kepada hakim berlaku sejak tanggal disampaikan oleh pejabat yang
berwenang kepada yang bersangkutan.
2) Apabila hakim yang dijatuhi sanksi tidak hadir pada waktu penyampaian keputusan, maka
keputusan itu berlaku pada hari ketiga puluh terhitung mulai tanggal yang ditentukan untuk
penyampaian keputusan tindakan tersebut.
3) Setiap keputusan penjatuhan sanksi kepada hakim diberikan tembusannya kepada Komisi
Yudisial.

Dalam melakukan penegakan kode etik dan pedoman perilaku para Hakim, menurut pasal
3 dilaksanakan atas prinsip-prinsip:

1) Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim didasarkan pada prinsip-
prinsip:
a. independensi hakim dan pengadilan;
b. praduga tidak bersalah;
c. penghargaan terhadap profesi hakim dan pengadilan;
d. transparansi;
e. akuntabilitas;
f. kehati-hatian dan Kerahasiaan;
g. obyektivitas;
h. efektivitas dan efisiensi;
i. perlakuan yang sama; dan
j. kemitraan.

2) Prinsip independensi hakim dan pengadilan dimaksudkan bahwa pelaksanaan pengawasan


tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara.
3) Prinsip praduga tidak bersalah dimaksudkan bahwa Terlapor yang diperiksa berkaitan
dengan adanya dugaan pelanggaran dianggap tidak bersalah sampai dengan dinyatakan
bersalah dan dijatuhi sanksi administratif berdasarkan keputusan yang ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang.
11
Ibid., pasal 24

8
4) Prinsip penghargaan terhadap profesi hakim dan lembaga pengadilan dimaksudkan bahwa
kegiatan pengawasan dan penanganan dugaan pelanggaran dilaksanakan sedemikian rupa
agar sedapat mungkin tidak menciderai kewibawaan hakim dan pengadilan.
5) Prinsip transparansi dimaksudkan bahwa masyarakat dapat selalu mengakses, baik secara
aktif maupun secara pasif, informasi publik yang berkaitan dengan kegiatan pengawasan
dan penanganan dugaan pelanggaran.
6) Prinsip akuntabilitas dimaksudkan bahwa dalam setiap kegiatan pengawasan dan
penanganan dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim, setiap pejabat
pelaksana berkewajiban mempertanggungjawabkan setiap tindakan dan/atau kebijakan
yang diambilnya, baik secara internal kepada kolega dan atasannya, maupun secara
eksternal kepada masyarakat.
7) Prinsip kehati-hatian dan kerahasiaan dimaksudkan bahwa setiap kegiatan pemeriksaan
yang berkaitan dengan dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim
dilakukan secara hati-hati dan hasilnya bersifat rahasia.
8) Prinsip obyektivitas dimaksudkan bahwa setiap kegiatan pengawasan dan penanganan
dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim didasarkan pada kriteria dan
parameter yang jelas.
9) Prinsip efektivitas dan efisiensi, dimaksudkan bahwa pengawasan dan pemeriksaan
terhadap dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim dilakukan secara
tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
10) Prinsip perlakuan yang sama dimaksudkan bahwa dalam penanganan dugaan pelanggaran
Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, Pelapor dan Terlapor memiliki hak dan diberi
kesempatan yang sama.
11) Prinsip kemitraan dimaksudkan bahwa Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial
bekerjasama dan saling mendukung dalam pengawasan dan penanganan dugaan
pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.12

Dengan demikian, apabila ada yang merasa telah terjadi dugaan pelanggaran etik oleh
hakim, bisa melaporkannya ke Mahkamah Agung (MA) ataupun Komisi Yudisial (KY). Di KY
sendiri, ada mekanisme yang harus dilewati saat melaporkan dugaan pelanggaran tersebut.
Bermula dari pengaduan, verifikasi, registrasi, masuk pemeriksaan, masuk panel. Kemudian, KY
memverifikasi laporan yang masuk. Jika hasil verifikasi tak ada dugaan pelanggaran, tidak
ditindaklanjuti. Sebaliknya, jika ada dugaan pelanggaran, maka ditindaklanjuti melalui pleno.
Kemudian oleh pleno akan ada usul penjatuhan sanksi dan rekomendasi.

Terkait dengan tim pemeriksa dugaan pelanggaran oleh Hakim, diatur lebih detil dalam
Peraturan Bersama MA dan KY Nomor 03/PB/MA/IX/2012 - 03/PB/KY/9/2012 tentang cara
pemeriksaan bersama. Dalam pasal 1 dinyatakan bahwa:

Dalam Peraturan Bersama ini yang dimaksud dengan:

a. Tim pemeriksa adalah tim gabungan yang dibentuk bersama oleh Mahkamah Agung dan Komisi
Yudisial untuk melakukan pemeriksaan bersama.

12
Ibid., pasal 3

9
b. Pemeriksaan bersama adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh satu tim pemeriksa
untuk melakukan pemeriksaan guna mendapatkan keyakinan terbukti atau tidaknya suatu
pelanggaran.

c. Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badanperadilan yang berada
dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, termasuk hakim ad hoc dan hakim
pengadilan pajak.

d. Pelanggaran adalah setiap sikap, ucapan, dan/atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang
Hakim yang bertentangan dengan norma-norma yang ditentukan dalam Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim.Ingat, bahwa apabila bentuk rekomendasi saknksinya berupa pemberhentian
hakim, maka akan dilanjutkan ke forum Majelis Kehormatan Hakim. Hal ini diatur secara detil di
peraturan bersama MA dan KY Nomor : 04/PB/MA/IX/2012 - 04/PB/P.KY/09/2012 tentang Tata
Cara Pembentukan, Tata Kerja, Dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan
Hakim. 13

Kemudian dalam pasal 2 dinyatakan:

Pasal 2

(1) Pemeriksaan bersama dilakukan dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara Komisi Yudisial
dan Mahkamah Agung mengenai usulan Komisi Yudisial tentang hasil pemeriksaan dan/atau
penjatuhan sanksi ringan, sedang, berat selain sanksi pemberhentian dengan hormat dan
pemberhentian tidak dengan hormat.

(2) Pemeriksaan bersama dapat pula dilakukan dalam hal:

a. terdapat laporan yang sama yang diajukan atau ditembuskan kepada Mahkamah Agung dan
Komisi Yudisial;

b. diketahui terdapat satu permasalahan sama yang masih dilakukan pemeriksaan oleh Mahkamah
Agung atau Komisi Yudisial; atau

c. terdapat informasi dan/atau laporan yang menarik perhatian publik dan masing-masing Lembaga
memandang perlu untuk melakukan pemeriksaan bersama.14

Mengenai sifat pemeriksaannya, diatur dalam pasal 3 dan pasal 4, yaitu:

Pasal 3

13
Peraturan Bersama MA dan KY Nomor 03/PB/MA/IX/2012 - 03/PB/KY/9/2012, pasal 1
14
Ibid., pasal 2

10
(1) Pemeriksaan bersama terhadap hakim yang diduga melanggar Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim maupun saksi-saksi dan pihak terkait bersifat tertutup.

(2) Hasil pemeriksaan bersama terhadap hakim yang diduga melanggar Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim bersifat rahasia.15

Pasal 4

Dalam melaksanakan pemeriksaan bersama, Tim Pemeriksa wajib:

a. menjaga independensi dan tidak mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus
perkara;

b. menaati norma-norma yang diatur dalam peraturan perundangundangan;

c. berpedoman kepada Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim;

d. menjaga kerahasiaan keterangan atau informasi yang diperoleh.16

Kemudian terkait dengan prosedurnya, diatur dalam pasal 5 sampai pasal 7 yang berbunyi:

Pasal 5

(1) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Komisi Yudisial, dugaan
pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim dinyatakan terbukti, Komisi Yudisial
mengusulkan sanksi terhadap hakim yang dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran kepada
Mahkamah Agung.

(2) Dalam hal sanksi yang diusulkan oleh Komisi Yudisial bukan sanksi berat berupa
pemberhentian tetap dengan hormat atau pemberhentian tidak dengan hormat, Mahkamah Agung
menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim yang diusulkan Komisi Yudisial dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari
terhitung sejak tanggal usulan diterima.

(3) Dalam hal Mahkamah Agung tidak sependapat dengan usulan penjatuhan sanksi dari Komisi
Yudisial sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Mahkamah Agung menyampaikan pendapatnya
kepada Komisi Yudisial mengenai sanksi yang dianggap patut dijatuhkan, paling lama 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak tanggal usulan diterima.

(4) Dalam hal Komisi Yudisial tidak sependapat dengan Mahkamah Agung, maka dapat
mengusulkan dilakukannya pemeriksaan bersama dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak
menerima pendapat Mahkamah Agung. 17

15
Ibid., pasal 3
16
Ibid., pasal 4
17
Ibid., pasal 5

11
(5) Dalam hal Komisi Yudisial tidak menyampaikan usulan untuk pemeriksaan bersama paling
lama 30 (tiga puluh) hari, Komisi Yudisial dianggap menyetujui pendapat Mahkamah Agung
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

Pasal 6

(1) Pemeriksaan bersama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dilaksanakan berdasarkan
usul yang disampaikan oleh Mahkamah Agung atau Komisi Yudisial.

(2) Tanggapan atas usul pemeriksaan bersama disampaikan melalui surat paling lama 14 (empat
belas) hari setelah usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima.

(3) Dalam hal usulan pemeriksaan bersama disetujui, Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial
menetapkan Tim Pemeriksa melalui penetapan bersama paling lama 14 (empat belas) hari setelah
surat tanggapan diterima.18

Pasal 7

(1) Dalam melakukan pemeriksaan bersama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), Tim
Pemeriksa terlebih dahulu meneliti dan menelaah Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) beserta
Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) yang dibuat oleh Tim Pemeriksa Komisi Yudisial dalam kasus
yang bersangkutan untuk memberi keyakinan apakah pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim
Pemeriksa Komisi Yudisial telah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam pemeriksaan.

(2) Jika dari hasil penelitian dan penelaahan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Tim Pemeriksa berpendapat bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim
Pemeriksa Komisi Yudisial telah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam pemeriksaan,
maka Tim Pemeriksa tidak perlu melakukan pemeriksaan lapangan.

(3) Jika Tim Pemeriksa berpendapat bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa
Komisi Yudisial belum sesuai dengan kaidahkaidah yang berlaku, maka Tim Pemeriksa
melakukan pemeriksaan lapangan.

(4) Seluruh dokumen hasil pemeriksaan Tim Pemeriksa Komisi Yudisial yang memenuhi syarat
menjadi dasar bagi Tim Pemeriksa dalam mengambil kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan.

(5) Kesimpulan dan rekomendasi Tim Pemeriksa diambil berdasarkan musyawarah dan mufakat.

(6) Dalam hal musyawarah Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak tercapai
mufakat, kesimpulan dan rekomendasi diambil dengan suara terbanyak.

(7) Dalam hal kesimpulan dan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat
diambil dengan suara terbanyak, diambil keputusan yang paling menguntungkan Terlapor.

18
Ibid., pasal 6

12
(8) Hasil Pemeriksaan Bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau ayat (3) dituangkan
dalam Laporan Hasil Pemeriksaan yang disampaikan kepada Mahkamah Agung dan Komisi
Yudisial.

(9) Tim Pemeriksa wajib menyelesaikan Pemeriksaan Bersama paling lama 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal penetapan Tim Pemeriksa.

(10)Mahkamah Agung melaksanakan rekomendasi Tim Pemeriksa paling lama 30 (tiga puluh)
hari sejak diterimanya Laporan Hasil Pemeriksaan.19

Lalu mengenai keanggotaan dari tim pemeriksa ini, diatur dalam pasal 9 yaitu:

Pasal 9

(1) Tim Pemeriksa untuk melaksanakan pemeriksaan bersama terdiri dari 4 (empat) orang anggota,
masing-masing 2 (dua) orang dari Mahkamah Agung dan 2 (dua) orang dari Komisi Yudisial.

(2) Tim Pemeriksa dibantu oleh 2 (dua) orang sekretaris, masing-masing 1 (satu) orang dari
Mahkamah Agung dan 1 (satu) orang dari Komisi Yudisial.

(3) Ketua Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) adalah salah satu anggota
dari Mahkamah Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung.

(4) Ketua Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) adalah salah satu anggota
dari lembaga yang mengusulkan pemeriksaan bersama yang ditetapkan oleh ketua lembaga
pengusul.

(5) Ketua Tim Pemeriksa menyusun rencana kerja pemeriksaan yang meliputi:

a. penentuan pihak-pihak yang diperiksa;

b. penentuan mekanisme dan lokasi pemeriksaan;

c. penentuan teknik pemeriksaan;

d. penghitungan waktu dan jadwal pemeriksaan;

e. persiapan daftar nama dan urutan pihak yang akan diperiksa dan daftar pertanyaan yang akan
diajukan;

f. pemanggilan pihak-pihak yang akan diperiksa.20

19
Ibid., pasal 7
20
Ibid., pasal 9

13
Kemudian kalau rekomendasi sanksinya adalah berupa pemberhentian, maka usulan
tersebut harus diteruskan ke Majelis Kehormatan Hakim. Hal ini diatur dalam Peraturan Bersama
MA dan KY Nomor: 04/PB/MA/IX/2012- 04/PB/P.KY/09/2012 Tentang Tata Cara Pembentukan,
Tata Kerja, Dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim. Pasal 1 peraturan
tersebut menyatakan:

Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:

Angka 1. Majelis Kehormatan Hakim adalah forum pembelaan diri bagi hakim yang berdasarkan
hasil pemeriksaan dinyatakan terbukti melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan, serta diusulkan untuk dijatuhi sanksi berat berupa pemberhentian.

Angka 2. Pemberhentian adalah pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian tidak dengan
hormat.

Angka 4. Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang
berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, termasuk hakim ad hoc dan hakim
pengadilan pajak.

Angka 5. Hasil pemeriksaan adalah hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim pemeriksa dari
Mahkamah Agung, tim pemeriksa dari Komisi Yudisial atau tim pemeriksa bersama dari
Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.21

Kemudian, dalam pasal 2 dan pasal 3 dinyatakan:

Pasal 2

1) Majelis Kehormatan Hakim bersifat tidak tetap.

(2) Majelis Kehormatan Hakim dibentuk dengan penetapan bersama Ketua Mahkamah Agung dan
Ketua Komisi Yudisial paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya
usul pemberhentian dari Mahkamah Agung atau Komisi Yudisial.22

Pasal 3

1) Keanggotaan Majelis Kehormatan Hakim terdiri atas:

a. 3 (tiga ) orang Hakim Agung; dan

b. 4 (empat) orang Anggota Komisi Yudisial

21
Peraturan Bersama MA dan KY Nomor: 04/PB/MA/IX/2012- 04/PB/P.KY/09/2012, pasal 1
22
Ibid., pasal 2

14
(2) Anggota Majelis Kehormatan Hakim bukan merupakan anggota Tim Pemeriksa yang
melakukan pemeriksaan langsung terhadap dugaan pelanggaran.23

Jadi Keanggotaan Majelis Kehormatan Hakim baru muncul ketika ada ada usulan berupak
sanski pemberhentian, dan setelah forum tersebut selsai memberikan keputusan, maka
keanggotaannya akan bubar.

Untuk prosedur dalam forumnya, diatur dalam pasal 5 dan pasal 7 yaitu:

Pasal 5

1) Majelis Kehormatan Hakim bersidang di gedung Mahkamah Agung Republik Indonesia.

(2) Majelis Kehormatan Hakim melakukan pemeriksaan usul pemberhentian paling lama 14
(empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal pembentukan Majelis Kehormatan Hakim.

(3) Setelah Majelis Kehormatan Hakim ditetapkan, Ketua Majelis Kehormatan Hakim menetapkan
hari sidang dan memerintahkan Sekretariat Majelis Kehormatan Hakim untuk memanggil
Terlapor.

(4) Panggilan kepada Terlapor disampaikan paling lambat 3 (tiga) hari kerja sebelum hari sidang
melalui Pimpinan Pengadilan tempat Terlapor bertugas dengan menggunakan faksimili atau alat
komunikasi lain yang tercatat.24

Pasal 7

(2) Dalam sidang Majelis Kehormatan Hakim, Terlapor dapat didampingi oleh Tim pembela dari
organisasi profesi Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI).

(3) Majelis Kehormatan Hakim harus memberikan kesempatan yang cukup pada Terlapor untuk
membela diri, baik secara lisan maupun tertulis.

(4) Terlapor dapat mengajukan saksi-saksi dan bukti-bukti lain untuk mendukung pembelaan diri.

(5) Dalam hal pemeriksaan dipandang cukup, maka Ketua Majelis Kehormatan Hakim
menyatakan pemeriksaan selesai dan selanjutnya sidang diskors untuk memberi kesempatan
kepada Majelis Kehormatan Hakim bermusyawarah.25

Dan terakhir, terkait keputusan dan pelaksanaannya, diatur dalam pasal 8 dan pasal 10
yaitu:

Pasal 8

23
Ibid., pasal 3
24
Ibid., pasal 5
25
Ibid., psal 7

15
(1) Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim dilakukan secara musyawarah untuk
mufakat.

(2) Dalam hal pengambilan keputusan secara musyawarah mufakat tidak tercapai, pengambilan
keputusan dilakukan dengan suara terbanyak.

(3) Dalam hal pengambilan keputusan dengan suara terbanyak tidak juga tercapai, maka diambil
keputusan yang menguntungkan bagi Terlapor.

(4) Musyawarah Majelis Kehormatan Hakim untuk pengambilan keputusan dilakukan dalam
sidang tertutup.26

Pasal 10

(1) Salinan keputusan Majelis Kehormatan Hakim disampaikan oleh Sekretariat kepada Ketua
Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak keputusan
dibacakan.

(2) Dalam hal pembelaan diri Terlapor ditolak atau diterima sebagian, dan oleh Majelis
Kehormatan Hakim diputuskan dijatuhi sanksi berupa pemberhentian, Ketua Mahkamah Agung
menyampaikan usul pemberhentian hakim kepada Presiden paling lama 14 (empat belas) hari kerja
sejak tanggal diterimanya keputusan tersebut.

(3) Dalam hal pembelaan diri Terlapor diterima seluruhnya, Sekretariat Majelis Kehormatan
Hakim mengirimkan salinan keputusan tersebut kepada Terlapor dan Pimpinan Pengadilan di
mana Terlapor bertugas serta pejabat terkait paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak keputusan
dibacakan.

(4) Dalam hal pembelaan diri Terlapor diterima sebagian, Ketua Mahkamah Agung
memerintahkan Sekretariat Majelis Kehormatan Hakim untuk mengirimkan salinan keputusan
kepada Direktur Jenderal Badan Peradilan terkait agar diterbitkan surat keputusan penjatuhan
sanksi sesuai keputusan Majelis Kehormatan Hakim paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak keputusan
diterima dari Ketua Mahkamah Agung27

2. Mahkamah Konstitusi

Kode etik dan perilaku Hakim Konstitusi ditetapkan melalui Peraturan Mahkamah
Konstitusi Nomor 9/PMK/2006 tentang Pemberlakuan Deklarasi Kode Etik dan Perilaku Hakim
Konstitusi yang ditetapkan pada tanggal 1 Desember 2006. Untuk penegakannya, dilakukan oleh
2 lembaga yaitu Dewan Etik Hakim Konstitusi dan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi.
Dewan Etik Hakim Konstitusi dibentuk berdasarkan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 2
Tahun 2013 tentang Dewan Etik Hakim Konstitusi. Sedangkan Majelis Kehormatan Mahkamah
26
Ibid., pasal 8
27
Ibid., pasal 10

16
Konstitusi dibentuk berdasarkan ketentuan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 2 Tahun 2014
tentang Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi.

Dewan Etik bertugas menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat dan
perilaku hakim serta kode etik dan pedoman perilaku hakim konstitusi supaya hakim tidak
melakukan pelanggaran. Apabila hakim konstitusi tetap melakukan perbuatan yang melanggar
kode etik tersebut, Dewan Etik berwenang memanggil dan memeriksa hakim konstitusi yang
diduga melakukan pelanggaran tersebut. Selanjutnya, Dewan Etik berwenang memberikan teguran
baik lisan maupun tertulis kepada hakim konstitusi yang dianggap melakukan pelanggaran ringan
terhadap kode etik dan pedoman perilaku tersebut. Lebih jauh lagi, apabila hakim konstitusi
melakukan pelanggaran berat kode etik dan pedoman perilaku serta mendapat teguran lisan
dan/atau tertulis sebanyak 3 (tiga) kali, Dewan Etik berwenang mengusulkan pembentukan Majelis
Kehormatan Mahkamah Konstitusi.

A. Dewan Etik Dewan Etik Hakim Konstitusi (Dewan Etik)

Dewan Etik adalah perangkat yang dibentuk oleh Mahkamah Konstitusi untuk menjaga
dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat dan kode etik Hakim Konstitusi terkait dengan
laporan dan informasi mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Hakim Terlapor atau
Hakim Terduga yang disampaikan oleh masyarakat. Dewan Etik bersifat tetap dengan masa
jabatan 3 (tiga) tahun dan tidak dapat dipilih kembali.

Tugas Dewan Etik:

a. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat dan perilaku Hakim serta kode
etik dan pedoman perilaku Hakim Konstitusi, supaya Hakim Konstitusi tidak melakukan
pelanggaran;
b. Memeriksa Hakim Terlapor, yaitu Hakim Konstitusi yang masih aktif yang diduga
melakukan pelanggaran berdasarkan laporan yang diperoleh Dewan Etik dari masyarakat
secara tertulis, dan memeriksa Hakim Terduga yaitu Hakim Konstitusi yang masih aktif
yang diduga melakukan pelanggaran berdasarkan informasi yang diperoleh Dewan Etik
melalui pemberitaan media massa, baik cetak maupun elektronik, serta dari masyarakat.
c. Mengusulkan kepada Mahkamah Konstitusi untuk membentuk Majelis Kehormatan dan
membebaskan sementara Hakim Terlapor atau Hakim Terduga sebagai Hakim Konstitusi
apabila Hakim Terlapor atau Hakim Terduga diduga melakukan pelanggaran berat;

Wewenang Dewan Etik adalah sebagai berikut:

a. Dewan Etik berwenang memanggil dan memeriksa Hakim Terlapor atau Hakim Terduga
yang diduga melakukan pelanggaran, untuk memberikan penjelasan dan pembelaan termasuk
untuk dimintai dokumen atau alat bukti;

17
b. Memanggil dan meminta keterangan pelapor, saksi dan atau pihak lain yang terkait dengan
pelanggaran yang dilakukan oleh Hakim Terlapor atau Hakim Terduga;

c. Menjatuhkan sanksi berupa teguran lisan kepada Hakim Terlapor atau Hakim Terduga yang
terbukti melakukan pelanggaran ringan;

d. Mengusulkan kepada Mahkamah Konstitusi untuk membentuk Majelis Kehormatan untuk


memeriksa dan mengambil keputusan terhadap Hakim Terlapor atau Hakim Terduga yang
diduga telah melakukan pelanggaran berat dan untuk memeriksa dan mengambil keputusan
terhadap Hakim Terlapor atau Hakim Terduga yang telah mendapatkan teguran lisan sebanyak
3 (tiga) kali dan mengusulkan pembebastugasan Hakim Terlapor atau Hakim Terduga tersebut.

Perlu diberi catatan, bahwa Dewan Etik tidak berwenang memproses dan memeriksa laporan dari
masyarakat yang meminta Dewan Etik menganulir putusan Mahkamah Konstitusi.

Keanggotaan Dewan Etik

Keanggotaan Dewan Etik berjumlah 3 (tiga) orang, yang terdiri dari 1 (satu) orang berasal dari
mantan Hakim Konstitusi, 1 (satu) orang Guru Besar (akademisi) dalam bidang hukum, dan 1
(satu) orang tokoh masyarakat. Ke 3 (tiga) Anggota Dewan Etik tersebut dipilih oleh Panitia
Seleksi yang dipilih dalam Rapat Permusyawarahan Hakim yang bersifat tertutup. Keanggotaan
Dewan Etik ditetapkan melalui Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi.

Mekanisme Kerja

1. Rapat Pemeriksaan Dewan Etik

Rapat pemeriksaan Dewan Etik dilaksanakan untuk :

a. Melakukan pemeriksaan terhadap Hakim Terlapor atau Hakim Terduga;


b. Mendengarkan keterangan Pelapor;
c. Mendengarkan keterangan saksi dan/atau ahli;
d. Memeriksa alat bukti;
e. Mendengarkan penjelasan dan pembelaan Hakim Terlapor atau Hakim Terduga; dan
Mengambil keputusan Dewan Etik.

2. Putusan Dewan Etik

a. Menyimpulkan Hakim Terlapor atau Hakim Terduga tidak terbukti melakukan


pelanggaran;
b. Menyimpulkan terdapat pelanggaran ringan yang dilakukan oleh Hakim Terlapor atau
Terduga dan menjatuhkan sanksi berupa Teguran Lisan;
c. Menyimpulkan terdapat dugaan pelanggaran berat yang dilakukan oleh Hakim Terlapor
atau Hakim Terduga. Hakim Terduga atau Hakim Terlapor telah mendapatkan teguran
lisan sebanyak 3 (tiga) kali, Dewan Etik mengambil keputusan yang menyatakan bahwa
Hakim Terlapor atau Hakim Terduga diduga melakukan pelanggaran berat.

18
3. Sifat Keputusan Dewan Etik

Keputusan Dewan Etik bersifat final dan mengikat. Keputusan Dewan Etik dituangkan dalam
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Dewan Etik. Dalam hal Dewan Etik mengambil keputusan
Hakim Terduga atau Hakim Terlapor melakukan pelanggaran berat, maka Dewan Etik
mengajukan usul kepada Ketua Mahkamah Konstitusi untuk membentuk Majelis Kehormatan dan
usul pembebasan tugas sementara sebagai Hakim Konstitusi kepada Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga.

4. Sifat Rapat Dewan Etik

Rapat pemeriksaan Dewan Etik seperti disebutkan di atas bersifat tertutup untuk umum.

B. Majelis Kehormatan

Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi selanjutnya disebut Majelis Kehormatan


adalah perangkat yang dibentuk oleh Mahkamah Konstitusi untuk menjaga dan menegakkan
kehormatan, keluhuran martabat dan kode etik Hakim Konstitusi terkait dengan pelaporan
mengenai dugaan pelanggaran berat yang dilakukan oleh Hakim Terlapor atau Hakim Terduga
yang disampaikan oleh Dewan Etik

Tugas Majelis Kehormatan

a. Melakukan pengolahan dan penelaahan terhadap laporan yang diajukan oleh Dewan Etik
mengenai dugaan pelanggaran berat yang dilakukan oleh Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga, serta mengenai Hakim Terlapor atau Hakim Terduga yang telah mendapatkan
teguran lisan sebanyak 3 (tiga) kali;
b. Menyampaikan Keputusan Majelis Kehormatan kepada Mahkamah Konstitusi.

Wewenang Majelis Kehormatan


a. Memanggil dan memeriksa Hakim Terlapor atau Hakim Terduga yang diajukan oleh
Dewan Etik untuk memberikan penjelasan dan pembelaan, termasuk dimintai dokumen
atau alat bukti lain;
b. Memanggil dan meminta keterangan pelapor, saksi, dan/atau pihak lain. Yang terkait
dengan dugaan pelanggaran berat yang dilakukan oleh Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga untuk dimintai keterangan termasuk untuk dimintai dokumen atau alat bukti
lainnya;
c. Menjatuhkan keputusan berupa sanksi atau rehabilitasi.

Keanggotaan Majelis Kehormatan:

a. Keanggotaan Majelis Kehormatan bersifat ad hoc (Sementara)

19
b. Keanggotaan Majelis Kehormatan terdiri atas 5 (lima) orang yang terdiri dari unsur Hakim
Konstitusi 1 (satu) orang, 1 (satu) orang anggota Komisi Yudisial, 1 (satu) orang mantan
Hakim Konstitusi, 1 (satu) orang Guru Besar dalam bidang hukum dan 1 (satu) orang tokoh
masyarakat.
c. Calon Anggota Majelis Kehormatan dipilih dalam Rapat Pleno Hakim yang bersifat
tertutup (Rapat Permusyawarahan Hakim) dan ditetapkan dengan keputusan Ketua
Mahkamah Konstitusi.

Persidangan Majelis Kehormatan

Persidangan Majelis Kehormatan terdiri atas :

a) Sidang Pemeriksaan Pendahuluan;

b) Sidang Pemeriksaan Lanjutan; dan

c) Rapat Pleno Majelis Kehormatan.

Sidang Pemeriksaan Pendahuluan

Sidang Pemeriksaan Pendahuluan ini melakukan pemeriksaan pendahuluan terhadap Hakim


Terlapor atau Hakim Terduga yang diduga melakukan pelanggaran berat dan membacakan
Keputusan Majelis Kehormatan terkait dengan pemeriksaan tersebut. Sidang Pemeriksaan
Pendahuluan ini tertutup untuk umum, siding pembacaan Keputusan Majelis Kehormatan terbuka
untuk umum.

a. Apabila dalam pemeriksaan pendahuluan ini Hakim Terlapor atau Hakim Terduga tidak
terbukti melakukan pelanggaran maka Majelis Kehormatan mengambil Keputusan bahwa
Hakim Terlapor atau Hakim Terduga tidak terbukti melakukan pelanggaran dan
merehabilitasi Hakim Terlapor atau Hakim Terduga.
b. Apabila Hakim Terlapor atau Hakim Terduga terbukti melakukan pelanggaran ringan
maka Majelis Kehormatan mengambil keputusan bahwa Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga terbukti melakukan pelanggaran ringan. Keputusan Majelis Kehormatan tersebut
memuat penjatuhan sanksi terhadap Hakim Terlapor atau Hakim Terduga berupa teguran
lisan. Dalam hal Sidang Pemeriksaan Pendahuluan menyimpulkan Hakim Terlapor atau
Hakim Terduga diduga melakukan Pelanggaran Berat, Majelis Kehormatan mengambil
keputusan melanjutkan pemeriksaan terhadap Hakim Terlapor atau Hakim Terduga dalam
Sidang Pemeriksaan Lanjutan, disertai rekomendasi pemberhentian sementara.

Sidang Pemeriksaan Lanjutan

Sidang Pemeriksaan Lanjutan ini melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Hakim Terlapor atau
Hakim Terduga, yang diduga melakukan pelanggaran berat, melakukan pemeriksaan Hakim
Terlapor atau Hakim Terduga yang telah mendapatkan teguran lisan sebanyak 3 (tiga) kali dan
membacakan Keputusan Majelis Kehormatan terkait dengan pemeriksaan pada sidang

20
pemeriksaan lanjutan tersebut. Sidang pemeriksaan lanjutan tertutup untuk umum sedang siding
pemeriksaan lanjutan untuk membacakan keputusan Majelis Kehormatan terbuka untuk umum.

a. Dalam hal sidang pemeriksaan lanjutan menyimpulkan Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga tidak terbukti melakukan pelanggaran Majelis Kehormatan mengambil
keputusan bahwa Hakim Terlapor atau Hakim Terduga tidak terbukti melakukan
pelanggaran dan memberikan usul merehabilitasi yang bersangkutan. Rehabilitasi
ditetapkan dengan Keputusan Presiden atas permintaan Mahkamah Konstitusi.
b. Dalam hal sidang pemeriksaan lanjutan menyimpulkan Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga terbukti melakukan pelanggaran ringan, Keputusan Majelis Kehormatan
menyatakan Hakim Terlapor atau Hakim Terduga terbukti melakukan pelanggaran
ringan dan Keputusan tersebut memuat penjatuhan sanksi terhadap Hakim Terlapor
atau Hakim Terduga berupa teguran lisan.
c. Dalam hal sidang pemeriksaan lanjutan menyimpulkan Hakim Terlapor atau Hakim
Terduga terbukti melakukan pelanggaran berat, Majelis Kehormatan mengambil
keputusan bahwa Hakim Terlapor atau Hakim Terduga terbukti melakukan
pelanggaran berat. Keputusan Majelis Kehormatan tersebut memuat penjatuhan sanksi
berupa teguran tertulis atau pemberhentian tidak dengan hormat. Hakim Terlapor atau
Hakim Terduga. Bila dalam Keputusan Majelis Kehormatan tersebut memuat
penjatuhan sanksi berupa pemberhentian tidak dengan hormat Hakim Terlapor atau
Hakim Terduga, Mahkamah Konstitusi mengajukan permintaan pemberhentian tidak
dengan hormat Hakim Terlapor atau Hakim Terduga kepada Presiden dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya Keputusan Majelis Kehormatan oleh
Mahkamah Konstitusi.

Rapat Pleno Majelis Kehormatan

Rapat Pleno Majelis Kehormatan dilaksanakan untuk mengambil keputusan Majelis Kehormatan.
Sifat rapat pleno Majelis Kehormatan tertutup untuk umum.

Prinsip Dalam Pelaksanaan Tugas Dan Wewenang Dewan Etik Dan Majelis Kehormatan

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Dewan Etik dan Majelis Kehormatan mendasarkan
diri pada prinsip sebagai berikut:

a. Prinsip Independensi Hakim Konstitusi, yaitu Dewan Etik dan Majelis Kehormatan dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya tidak boleh mengurangi kebebasan Hakim
Konstitusi dalam memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara;
b. Prinsip Objektivitas, yaitu Dewan Etik dan Majelis Kehormatan dalam melaksanakan tugas
dan wewenangnya menggunakan kriteria, paramater, data, informasi, dan fakta yang dapat
dipertanggungjawabkan;
c. Prinsip Imparsialitas, yaitu Dewan Etik dan Majelis Kehormatan dalam melaksanakan
tugas dan wewenangnya tidak memihak kepada siapapun dan kepentingan apapun;
d. Prinsip Penghormatan kepada Profesi Hakim Konstitusi, yaitu Dewan Etik dan Majelis
Kehormatan dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya wajib menjaga kehormatan dan
keluhuran martabat Hakim Konstitusi;

21
e. Prinsip Praduga Tidak Bersalah, yaitu Hakim Terlapor atau Hakim Terduga dianggap tidak
bersalah sampai dengan dibuktikan sebaliknya berdasarkan Keputusan Dewan Etik dan
Majelis Kehormatan;
f. Prinsip Tranparansi, yaitu masyarakat dapat mengakses data, informasi, Keputusan Dewan
Etik, dan Keputusan Majelis Kehormata, kecuali hal-hal yang ditentukan lain dalam
Peraturan ini; dan
g. Prinsip Akuntabilitas, yaitu Dewan Etik dan Majelis Kehormatan harus dapat
mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan wewenang.

AZERBAIJAN

Pengaturan mengenai kode etik hakim di Negara Azerbaijan diatur dalam Ethic Codes of
Judicial Conduct (Kode Etik Perilaku Yudisial) yang dibuat oleh sebuah lembaga bernama Judicial
Legal Cuncil. Hal ini juga dinyatakan dalam Law of The Azerbaijan Republic on Courts and
Judges, pasal 99 yang menyatakan: “Kode perilaku etika untuk hakim adalah kumpulan prinsip
dan standar etika yang relevan dengan kegiatan hakim. Kode etik harus menetapkan persyaratan
etika dan perilaku dan mengatur masalah etika profesional yang berkaitan dengan perilaku yudisial
dan ekstra-yudisial, serta sikap hakim terhadap kegiatan profesional mereka. JLC (Judicial Legal
Council) akan menyetujui Kode Etik Perilaku untuk Hakim”.28 Dalam Ethic Codes of Judicial
Conduct, pada pasal 24, dinyatakan bahwa “pelanggaran persyaratan Kode Etik akan
dipertimbangkan dalam evaluasi kegiatan hakim.”29

Kode Etik Perilaku Yudisial dibuat oleh Judicial-Legal Council Azerbaijan. Menurut pasal
1 Law of the Azerbaijan Republic On Judicial-Legal Council, lembaga tersebut adalah lembaga
Republik Azerbaijan yang:

a. Mengatur sistem peradilan dan menjamin independensi peradilan,

b. Mengatur pemilihan kandidat untuk posisi hakim yang kosong

c. Mengevaluasi kinerja hakim,

d. Mengatur penggantian untuk posisi yang kosong dan mengatur pemberian promosi,

e. Mengatur tanggung jawab disipliner (evaluasi hakim),

f. Memecahkan masalah lain yang terkait dengan hakim dan kompetensi pengadilan

g. Melakukan fungsi pemerintahan sendiri sebagai kekuasaan kehakiman.30

28
Law of The Azerbaijan Republic on Courts and Judges, pasal 99
29
Ethic Codes of Judicial Conduct, pasal 24
30
Law of the Azerbaijan Republic On Judicial-Legal Council, pasal 1
22
Lalu berdasarkan Pasal 4 yang berjudul Independensi Judicial Legal Council, dinyatakan
bahwa:

4.1. Judicial Legal Council adalah badan yang berfungsi secara independen dan tidak bergantung
pada otoritas legislatif, eksekutif dan yudikatif, pemerintah daerah, ataupun badan hukum dan
perorangan dalam masalah organisasi, keuangan, dan lainnya.

4.2. Judicial Legal Council beroperasi bersama-sama dengan para legislator, eksekutif dan otoritas
yudisial, Bar Association of the Republic of Azerbaijan ,dan organisasi-organisasi ilmiah.31

Kemudian mengenai evaluasi kegiatan hakim, evaluasi ini juga dilakukan oleh Judicial Legal
Council, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 13 Law of the Azerbaijan Republic On Judicial-
Legal Council yaitu:

Pasal 13. Evaluasi kerja para hakim

13.1. Judicial Legal Council mengevaluasi kerja para hakim setidaknya setiap lima tahun.

13.2. Evaluasi pekerjaan hakim dilakukan untuk meningkatkan administrasi peradilan, mengatur
pelatihan para hakim secara memadai, serta, untuk memeriksa kemampuan hakim untuk
melanjutkan tugas-tugas peradilan mereka.

13.3. Kegiatan hakim dievaluasi berdasarkan laporan mengenai cara mereka melakukan tugasnya
yang dibuat oleh Presiden (ketua) Mahkamah Agung Republik Azerbaijan, presiden (ketua)
pengadilan Tinggi, serta presiden (ketua) pengadilan-pengadilan dalam wilayah hukum dimana
hakim ini ditunjuk. Juga informasi yang dikumpulkan oleh badan eksekutif terkait dalam
pelaksanaan fungsi-fungsinya yang disediakan oleh undang-undang dan informasi yang
disampaikan kepada Judicial Legal Council akan digunakan selama evaluasi. Informasi yang
tersedia bagi para anggota Dewan Yudisial-Hukum juga berkontribusi pada pengaturan evaluasi
tersebut.

13.4. Dewan Yudisial-Hukum (JLC) menentukan prosedur dan metodologi evaluasi kerja para
hakim.32

Sekedar penjelasan tambahan mengenai pengadilan di Negara Azerbaijan. Berdasarkan


Law of the Azerbaijan Republic On Courts and Judges, untuk pengadilan tingkat pertama ada:

1. Pengadilan Negeri (District Court)

2. Specialized court:

a. Grave Crime Courts: yang berwenang mengadili

31
Ibid., pasal 4
32
Ibid., pasal 13

23
b. Military Courts

c. Administrative-economic courts

Kemudian untuk pengadilan tingakat kedua, adalah Appeal court (Pengadilan Banding, dan untuk
pengadilan tingkat ketiga The Supreme Court (Court of third instance or Court of Cassation).
Kemudian selain itu, ada juga Constitutional Court.

Terkait dengan penegakan kode etik para hakim di Azerbaijan, apabila seorang hakim
melanggar Ethic Codes of Judicial Conduct, maka mereka dapat dievaluasi oleh Judicial Legal
Council, sebagaimana telah dinyatakan di atas yaitu pada pasal 13 Law of the Azerbaijan Republic
On Judicial-Legal Council. Pengaturan lebih detil mengenai evaluasi kerja para hakim ini, diatur
dalam Law on Courts and Judges.

Dalam pasal 111-1 yang berjudul Alasan untuk tanggung jawab disipliner para hakim,
dinyatakan bahwa: Hakim akan dipanggil untuk pertanggungjawaban disipliner (disciplinary
liability) hanya dengan alasan-alasan yang disebutkan dalam pasal itu, yang salah satunya adalah
pelanggaran etika hakim.33

Menurut pasal 111, dinyatakan bahwa:

Pasal 111. Prosedur pertanggungjawaban disipliner berkenaan dengan para hakim akan
dilaksanakan jika ada:

• keluhan dari seseorang atau badan hukum

• informasi yang dipublikasikan di media massa;

• pelanggaran hukum yang terungkap dalam proses pertimbangan kasus-kasus di tingkat banding
dan kasasi dan keputusan khusus di pengadilan tingkat tinggi oleh para hakim yang bersangkutan;

• pelanggaran hukum yang tercermin dalam keputusan Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi
Manusia dan Mahkamah Konstitusi Republik Azerbaijan;

• pelanggaran hukum yang terungkap selama evaluasi kegiatan para hakim dan ringkasan
pengalaman yudisial;

• informasi lain yang diterima oleh orang yang berhak mengajukan permohonan atas proses
pertanggungjawaban disipliner.34

Kemudian dalam pasal 112 tentang Prosedur untuk memanggil hakim untuk tanggung
jawab disipliner, diatur bahwa:

33
Law of the Azerbaijan Republic On Courts and Judges, pasal 111.1
34
Law of the Azerbaijan Republic On Courts and Judges, pasal 111
24
Hanya Judicial Legal Council (JLC) yang berhak melaksanakan lembaga pertanggungjawaban
disipliner (evaluasi kerja hakim) terhadap hakim. Ketua Mahkamah Agung, pengadilan banding,
Mahkamah Agung NAR dan badan eksekutif terkait hanya bisa, sesuai dengan kompetensinya,
mengajukan permohonan ke JLC untuk melaksanakan lembaga pertanggungjawaban disipliner
terhadap hakim yang diduga melakukan pelanggaran, sebagaimana dijelaskan pada pasal 111.
Orang perseorangan dan badan hukum, jika mereka memiliki informasi tentang elemen-elemen
yang disediakan oleh paragraf 6 Pasal 111.1 Undang-Undang ini yang menjadi dasar inisiatif
pembukaan prosedur disipliner, dapat mengajukan permohonan kepada Dewan Yudisial-Legal.
Ketua Mahkamah Agung Republik Azerbaijan berhak untuk mengajukan kepada JLC dengan mosi
untuk melaksanakan proses lembaga pertanggungjawaban disipliner terhadap semua hakim dari
pengadilan tingkat pertama, banding dan kasasi.35

Ketua Pengadilan Tinggi berhak untuk mengajukan permohonan kepada JLC dengan mosi
untuk melaksanakan proses lembaga pertanggungjawaban disipliner terhadap hakim Pengadilan
Tinggi yang relevan serta hakim pengadilan tingkat pertama dalam yurisdiksi teritorial pengadilan
terkait. 36

Badan eksekutif Republik Azerbaijan yang relevan juga berhak untuk mengajukan
permohonan kepada JLC untuk melaksanakan proses lembaga pertanggungjawaban disipliner
terhadap hakim-hakim dari tingkat pertama dan tingkat banding. Proses pertanggungjawaban
disipliner terhadap seorang hakim dapat dilembagakan dalam waktu satu tahun setelah
pengungkapan dan dalam tiga tahun setelah dilakukannya pelanggaran.37

Hanya JLC dengan keputusannya yang dapat memanggil hakim untuk hadir pada
pertanggungjawaban disipliner. JLC mengeluarkan salah satu keputusan berikut dalam prosedur
pertanggungjawaban disipliner:

• teguran terhadap hakim;

• mengusulkan badan eksekutif Republik Azerbaijan yang berkaitan untuk menurunkan jabatan
hakim yang bersangkutan;

• mengusulkan kepada badan eksekutif Republik Azerbaijan yang berkaitan untuk memindahkan
hakim tersebut ke jabatan yudisial yang berbeda;

• mengusulkan badan eksekutif yang berkaitan dari Republik Azerbaijan untuk mengakhiri otoritas
hakim;

• mengakhiri proses disipliner.

Berdasarkan pada alasan tanggung jawab disipliner yang disebutkan dalam pasal 111.1
Undang-undang ini, salah satu hukuman berikut dapat diberikan kepada hakim:

35
Ibid., pasal 112
36
Ibid.
37
Ibid.

25
• pelanggaran etika hakim - menegur hakim atau mengusulkan kepada badan eksekutif Republik
Azerbaijan yang relevan untuk dipindahkan ke jabatan yudisial yang berbeda;38

ANALISIS

Setelah dijelaskan mengenai bagaimana cara penegakan kode etik hakim di Indonesia dan
di Azerbaijan, terdapat beberapa perbedaan mendasar yang dapat kita temukan. Berikut akan
dijelaskan.

Di Azerbaijan, hanya ada 1 lembaga yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili
hakim yang diduga melakukan pelanggaran kode etik, yaitu JLC, sebagaiman dikatakan dalam
pasal 112 Law on Courts and Judges yang berbunyi: hanya Judicial Legal Council (JLC) yang
berhak melaksanakan lembaga pertanggungjawaban disipliner (evaluasi kerja hakim) terhadap
hakim. Ketua Mahkamah Agung, pengadilan banding, Mahkamah Agung NAR dan badan
eksekutif terkait hanya bisa, sesuai dengan kompetensinya, mengajukan permohonan ke JLC untuk
melaksanakan lembaga pertanggungjawaban disipliner terhadap hakim yang diduga melakukan
pelanggaran.

Berbeda dengan di Indonesia yang mana terdapat beberapa lembaga penegak kode etik
(dan pedoman berperilaku) tersebut. Untuk Hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan
peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan
agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, termasuk hakim ad
hoc dan hakim pengadilan pajak, lembaga penegakannya adalah MA dan KY, dan juga forum
Majelis Kehormatan Hakim apabila ada usulan pemberhentian hakim. Kemudian kalau untuk
Hakim MK, terdapat 2 lembaga yang menegakan kode etik para hakim, yaitu Dewan Etik dan
Majelis Kehormatan.

JLC di Azerbaijan, mirip dengan KY di Indonesia namun kedudukan dan kewenangannya


lebih kuat dibandingkan dengan KY. Pertama, kalau KY hanya berwenang menangani kasus
pelanggaran hakim di luar hakim MK. Sedangkan kalau JLC berwenang menangani kasus
pelanggaran kode etik atas seluruh hakim.

Kedua, JLC tidak tergantung dengan lembaga lain dalam melakukan tugas pemeriksaan
dan mengadili kasus pelanggaran kode etik oleh hakim, karena ia merupakan satu-satunya lembaga
yang berwenang dalam hal tersebut. Sedangkan kalau KY masih tergantung dengan MA dalam
melaksanakan tugas tersebut. Hal ini bisa dilihat sallah satunya dalam pasal 17 Peraturan Bersama
MA dan KY yang mengatakan:

1) Dalam hal Komisi Yudisial menerima laporan dugaan pelanggaran kode etik yang juga
merupakan pelanggaran hukum acara, Komisi Yudisial dapat mengusulkan kepada
Mahkamah Agung untuk ditindaklanjuti.
2) Dalam hal Mahkamah Agung menilai hasil penelaahan atas laporan masyarakat yang
diusulkan oleh Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak layak ditindaklanjuti,
Mahkamah Agung memberitahukan hal tersebut kepada Komisi Yudisial paling lama 30
(tiga puluh) hari sejak hasil telaahan diterima.
38
Ibid.

26
3) Dalam hal Mahkamah Agung menilai hasil penelaahan atas laporan masyarakat yang
diusulkan oleh Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud ayat (1) layak ditindaklanjuti,
Mahkamah Agung memberitahukan hasil tindak lanjut tersebut kepada Komisi Yudisial
paling lama 60 (enam puluh) hari sejak hasil telaahan diterima.

Ketergantungan ini menurut penulis walaupun bagus untuk melaksanakan checks and balances,
namun tidaklah efektif maupun efisien karena akan lebih banyak prosedur yang harus dilalui
sekaligus memakan waktu lebih banyak pula dalam mengadili 1 kasus dugaan pelanggaran kode
etik oleh hakim.

Ketiga, jika dilihat dari segi kelembagaannya, ,enurut pasal 1 Law of the Azerbaijan
Republic On Judicial-Legal Council, lembaga JLC adalah lembaga yang:

a. Mengatur sistem peradilan dan menjamin independensi peradilan,

b. Mengatur pemilihan kandidat untuk posisi hakim yang kosong

c. Mengevaluasi kinerja hakim,

d. Mengatur penggantian untuk posisi yang kosong dan mengatur pemberian promosi,

e. Mengatur tanggung jawab disipliner (evaluasi hakim),

f. Memecahkan masalah lain yang terkait dengan hakim dan kompetensi pengadilan

g. Melakukan fungsi pemerintahan sendiri sebagai kekuasaan kehakiman.

Lalu berdasarkan Pasal 4 yang berjudul Independensi Judicial Legal Council, dinyatakan bahwa:

4.1. Judicial Legal Council adalah badan yang berfungsi secara independen dan tidak bergantung
pada otoritas legislatif, eksekutif dan yudikatif, pemerintah daerah, ataupun badan hukum dan
perorangan dalam masalah organisasi, keuangan, dan lainnya.

Sedangkan kalau KY, sesuai Pasal 13 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, Komisi
Yudisial mempunyai wewenang:

a. Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung kepada
DPR untuk mendapatkan persetujuan
b. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim;
c. Menetapkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) bersama-sama
dengan Mahkamah Agung;
d. Menjaga dan menegakkan pelaksanaan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim
(KEPPH).

27
Kemudian dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006, Mahkamah
Konstitusi menjelaskan bahwa hubungan antara Komisi Yudisial sebagai supporting organ dan
Mahkamah Agung sebagai main organ dalam bidang pengawasan perilaku hakim lebih tepat
dipahami sebagai hubungan kemitraan (partnership) tanpa mengganggu kemandirian masing-
masing. Jadi, dapat dikatakan bahwa JLC sebagai sebuah lembaga memiliki kewenangan yang
lebih kuat dibandingkan dengan KY. Padahal KY sebagai sebuah lembaga Negara, tugas dan
kewenangannya telah diatur secara eksplisit di dalam konstitusi Negara Indonesia yaitu UUD
1945, sedangkan JLC sendiri tugas dan kewenangannya tidak diatur di dalam konstitusi Negara
Azerbaijan.

Menurut penulis, prosedur penegakan kode etik hakim di Azerbaijan lebih baik karena
dengan dilakukannya penegakan kode etik hanya oleh 1 lembaga saja, bisa terlaksana dengan
efektif dan efisien. Di Azerbaijan, semua prosedur pemeriksaan hingga keluarnya keputusan atas
semua hakim di Azerbaijan dipegang oleh JLC. Sedangkan di Indonesia, lemabaga penegakan
kode etik hakim seolah-olah “tersebar”. Menurut penulis, sebaiknya kewenangan tersebut
dipegang hanya oleh 1 lembaga saja, yaitu KY.

Jika kita melihat kembali khitah keberadaan KY, sejak didirikan, tampaknya lembaga ini
terbelenggu dalam posisi kekurang pastian. Ketika wewenang lain dalam rangka menjaga dan
menegakan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim diterjemahkan dalam UU no
22/2004 hanya sebatas memangggil, memeriksa hakim, dan memberikan rekomendasi. Dengan
minimnya kewenangan tersebut KY mencoba beberapa improvisasi, salah satunya melakukan
pengawasan terhadap putusan hakim, tentu saja hal ini mendapat resistensi dari MA. Kedua
lembaga ini akhirnya terlibat dalam perbedaan penafsiran yang berpuncak pada adanya judicial
review atas UU no 22/2004 ke MK. Akibatnya KY kehilangan wewenang pengawasannya selama
tahun 2006-2008, sebelum akhirnya dikembalikan lagi oleh DPR sejak UU no 3 tahun 20009
tentang MA disahkan. 39

Di sisi lain harus diakui, dalam menjalankan wewenang dan tugasnya selama ini telah
banyak hal positif yang dilakukan KY terutama dalam melakukan selesi calon hakim agung,
namun kalau dalam tugasnya menjaga kehormatan para hakim dari perbuatan yang tercela, serta
tindakan unprofessional conduct dari para hakim belum maksimal. Masih banyak rekomendasi
yang diberikan oleh KY yang menyangkut rekomndasi penindakan terhadap seorang hakim belum
mendapat tanggapan oleh MA. KY adalah lembaga Negara yang mandiri lahir dari tuntutan
reformasi dan untuk melakukan reformasi lembaga peradilan mempunyai fungsi untuk
mengusulkan oengangkatan hakim agung dan mengawasi hakim agung dan hakim pada badan
peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah MA sebagaimana dimaksud dalam
UUD 45. Pengawasan yang dilakukan oleh KY mencakup pengawasan preventif sampai dengan
represif. 40Dengan eksistensi dan fungsi yang demikian itum KY memegang peranan penting dan
strategis dalam upaya mewujudkan lembaga peradilan yang bersih dan berwibawa, sekaligus
mereformasi lembaga peradilan dan mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri, tidak berpihak,
kompeten , transparan, menjunjung nilai-nilai keadilan dan kebenaran, serta berwibawa, mampu
menegakan wibawa hokum, pengayoman hokum, kepastian hokum dan keadilan.

39
Wildan Suyuthi, Kode Etik Hakim, Kencana: Jakarta, 2013, hlm. 130
40
Ibid., hlm. 134

28
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pada seluruh penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal dari
hasil studi perbandingan penegakan kode etik hakim di Indonesia dengan di Azerbaijan. Pertama,
Di Azerbaijan, hanya ada 1 lembaga yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili hakim yang
diduga melakukan pelanggaran kode etik, yaitu JLC. Berbeda dengan di Indonesia yang mana
terdapat beberapa lembaga penegak kode etik (dan pedoman berperilaku) tersebut. Untuk Hakim
pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada dibawahnya dalam
lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer,
lingkungan peradilan tata usaha negara, termasuk hakim ad hoc dan hakim pengadilan pajak,
lembaga penegakannya adalah MA dan KY, dan juga forum Majelis Kehormatan Hakim apabila
ada usulan pemberhentian hakim. Kemudian kalau untuk Hakim MK, terdapat 2 lembaga yang
menegakan kode etik para hakim, yaitu Dewan Etik dan Majelis Kehormatan.

Kedua, JLC tidak tergantung dengan lembaga lain dalam melakukan tugas pemeriksaan
dan mengadili kasus pelanggaran kode etik oleh hakim, karena ia merupakan satu-satunya lembaga
yang berwenang dalam hal tersebut. Sedangkan kalau KY masih tergantung dengan MA dalam
melaksanakan tugas tersebut. Ketergantungan ini menurut penulis walaupun bagus untuk
melaksanakan checks and balances, namun tidaklah efektif maupun efisien karena akan lebih
banyak prosedur yang harus dilalui sekaligus memakan waktu lebih banyak pula dalam mengadili
1 kasus dugaan pelanggaran kode etik oleh hakim. Masih banyak rekomendasi yang diberikan oleh
KY yang menyangkut rekomendasi penindakan terhadap seorang hakim belum mendapat
tanggapan oleh MA.

Ketiga, dapat dikatakan bahwa JLC sebagai sebuah lembaga memiliki kewenangan yang
lebih kuat dibandingkan dengan KY. Padahal KY sebagai sebuah lembaga Negara, tugas dan
kewenangannya telah diatur secara eksplisit di dalam konstitusi Negara Indonesia yaitu UUD
1945, sedangkan JLC sendiri tugas dan kewenangannya tidak diatur di dalam konstitusi Negara
Azerbaijan.

Menurut penulis, prosedur penegakan kode etik hakim di Azerbaijan lebih baik karena
dengan dilakukannya penegakan kode etik hanya oleh 1 lembaga saja, bisa terlaksana dengan
efektif dan efisien. Di Azerbaijan, semua prosedur pemeriksaan hingga keluarnya keputusan atas
semua hakim di Azerbaijan dipegang oleh JLC. Sedangkan di Indonesia, lemabaga penegakan
kode etik hakim seolah-olah “tersebar”. Menurut penulis, sebaiknya kewenangan tersebut
dipegang hanya oleh 1 lembaga saja, yaitu KY.

Semula, keberadaan Komisi Yudisial sebagai institusi penegak kode etik hakim ini berada
di dalam struktur Mahkamah Agung. Namun karena perkembangan kebutuhan zaman, dan juga
atas pengaruh perkembangan di dunia pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 dengan
munculnya ide-ide pembentukan komisi-komisi yudisial sebagai ‘lembaga eksternal’ di
lingkungan pengadilan di banyak negara, maka kita mengadopsi ide Komisi Yudisial itu dengan
mencantumkan keberadaannya dalam UUD 1945. Pencantuman Komisi Yudisial ini dalam
ketentuan konstitusi menyebabkan lembaga ini menjadi sangat ‘lux’, dan bahkan untuk sebagian
orang dianggap berlebihan, karena dipengaruhi oleh emosi sesaat sebagai akibat kekecewaan
publik yang luas terhadap kinerja peradilan, khususnya Mahkamah Agung, di masa-masa krisis

29
yang kemudian dijawab dengan dilakukannya reformasi yang berpuncak pada agenda reformasi
konstitusi pada tahun 1999-2002. Momentum perubahan konstitusi itulah yang dimanfaatkan oleh
kaum reformis untuk mendesak ide pembentukan Komisi Yudisial ini, dan berhasil, sehingga
Komisi Yudisial resmi menjadi lembaga konstitusional yang untuk pertama kali dibentuk pada
tahun 2004 berdasarkan UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang kemudian diubah
dengan UU No. 18 Tahun 2011.

Namun, sangat disayangkan bahwa keberadaan Komisi Yudisial yang ditopang


keberadaannya dengan pengaturan yang sangat kuat dalam Pasal 24B UUD 1945, tidak diimbangi
oleh rumusan kewenangan yang memadai dalam skema peran yang bersifat proporsional antar
cabang dan antar fungsi-fungsi kekuasaan negara. Komisi Yudisial hanya diberi peran sebagai (i)
perekrut dan pengusul calon-calon hakim agung, dan (ii) bersama-sama Mahkamah Agung
menjadi penegak kode etik hakim di lingkungan Mahkamah Agung, serta (iii) bersama-sama
Mahkamah Agung terlibat dalam pendidikan dan pelatihan hakim.

Pembentukan KY juga merupakan konsekuensi logis dari penyatuan satu atap lembaga
peradilan pada MA, yang mana menimbulkan potensi monopoli kekuasaan kehakiman oleh MA.41
Selain itu, dikhawatirkan MA tidak mampu melaksanakan kewenangan administrasi, personel,
keuangan, dan organisasi pengadilan yang sebelumnya dilakukan oleh departemen kehakiman.
Bahkan, pandangan yang cukup pesimis menyatakan bagwa MA tidak mungkin dapat menjalanksa
fungsi yang diemban dalam penyatuan atap secara baik karena mengurus dirinya asendiri saja MA
tidak mampu.42

Cita-cita mewujudkan kekuasaan kehakikman yang merdeka tidak mungkin tercapai hanya
dengan membiarkan lembaga peradilan berjalan sendiri tanpa dukungan lembaga lain. Lembaga
yang secara formil diberi tugas dan peran mewujudkan kekuasaan kehakiman yang bebas melalui
pencalonan hakim agung dan pengawasan terhadap perilaku hakim adalah KY.43

Dengan demikian keberadaan KY sangat penting, selain merupakan amanat konstitusi,


juga diadasarkan penegasan bahwa Indonesia adalah Negara berdasarkan atas hokum. Sebagai
sebuah Negara yang berdasarkan atas hokum dituntut adanya kekuasaan kehakiman yang merdeka
dan mandiri bebas dari pengaruh pihak manapun, dan ini sebenarnya merupakan cita-cita yang
bersifat universal sebagaimana diputuskan dalam Kongres PBB ke 7 tentang The Prevention of
Crime and the Treatment if Offenders.44

Dalam salah satu kesimpulan penelitian terhadap lmbaha Komisi Yudisial di beberapa
Negara Uni Eropa, Wim Voerman, ahli hokum Belanda, mengemukakan bahwa insentif yang
penting untuk mendirikan Komisi Yudisial di hampir semua Negara yang diteliti adalah untuk
memajukan independen peradilan.45

41
Rifqi S. Assegap, Komisi Yudisial dan Eksaminasi Publik, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006, hlm. 71
42
Ibid., hlm. 72
43
Konsideran huruf b UU no 22 tahun 2004 tentang KY
44
Wim Voermans, Komisi Yudisial di Beberapa Negara Uni Eropa (Councils Dor The Judiciary In EU Countries),
Jakarta: LeIP, The Asia Foundation dan USAID, 2002, hlm. 137
45
Ibid., hlm 145

30
KY merupakan lembaga Negara yang bersifat mandiri dan pelaksaan wewenangya bebas
dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain. 46 Kemandirian KY itu dijamin dalam ketentuan
pasal 24 B UUD 1945 yang menyatakan bahwa KY bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan
pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan
menegakan kehirmatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Ketentuan ini menegaskan
bahwa kedudukan KY adalah sebagai lembaga Negara yang kedudukannya dijamin secara
konstitusional.47

Kembali pada persoalan pengawasan hakim, bahwa praktik penyalahgunaan wewenang di


badan peradilan cenderung menguat dan merusak sendi-sendi peradilan, mengakibatkan
menurunnya kewibawaan dan kepercayaan badan peradilan terhadap masyarakat dab dunia
internasional. Keadaan badan peradilan yang demikian tidak dapat dibiarkan berlangsung, perlu
dialkukan upaya-upaya luar biasa yang berorientasi pada terciptanya badan peradilan dan penegak
hokum yang sungguh-sungguh dapat menjamin masyarakat dan pencari keadilan benar-benar
memperoleh keadilan dan diperlakukan secara adil dalam praktik peradilan.48

Dalam berbagai kajian sistematis penegakan hokum dan keadilan, secara teoritis
menyatakan bahwa efektivitas penegakan hokum baru akan terpenuhi apabila 5 pilar hokum dapat
berjalan dengan baik. 5 pilar hokum itu antara instrument hukumnya, aparat penegak hukumnya,
peralatannya, masyarakatnya, dan birokrasinya. Secara empiric, efektifitas penegakan hokum juga
telah dikemukakan oleh Walter C. Reckless, yaitu harus dilihat bagaimana system dan
organisasinya bekerja, bagaimana system hukumnya, bagaimana system peradilannya dan
bagaimana birokrasinya. Dari berbagai kajian kesisteman tersebut dapat dikatakan bahwa
efektifitas penegakan hokum dalam teori maupun praktek, probelmatika yang dihadapi hamper
sama. Kemauan politik dari para pengambil keputusan merupakan faktor yang menentukan hokum
dapat tegak atau ambruk, atau setengah-setengah. 49

Dalam rangka menciptakan lembaga peradilan yang berwibawa itu dan sekaligus untuk
memberikan landasan hokum yang kuat, maka KU scara langsung diatur dalam UUD 45 pasal 24B
sebagai lembaga Negara yang bersifat mandiri. Yaitu dengan memberikan kewenangan kepada
KY untuk mewujudkan checks and balances di dalam lembaga peradilan.

Di sinilah sesungguhkan letak peranan penting dari KY dalam upaya mendukung


penegakan hokum di Indonesia. Pengawasan oleh KY ini pada prinsipnya bertujuan agar hakim
agung dan hakim dalam menjalankan wewenang dan tugasnya sungguh-sungguh didasarkan dan
sesuai peraturan perundang-undnagan yang berlaku, kebenaran, dan rasa keadilan masyarakat serta
menjunjung itnggi kode etik profesi hakim.50

46
Pasal 2 UU no 22 Tahun 2004 tentang KY
47
Ahsin Thohari, Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan, Jakarta: ELSAM, 2000, hlm. 207
48
Hermansyah, Peran Lembaga Pengawas Eksternal Terhadap Hakim, Mappi FHUI Jakarta, lihat di situs
http://www.pemantauperadilan.com/, diakses pada 3 April 2019 pukul 19.00
49
Ahsin Thohari, Komisi Yudisial dan Reformasi……, hlm. 253
50
Wildan Suyuthi, Kode Etik Hakim……, hlm. 140

31
DAFTAR PUSTAKA

Suyuthi, Wildan. Kode Etik Hakim. Kencana: Jakarta, 2013

Thohari, Ahsin. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan. Jakarta: ELSAM, 2000

Voermans, Wim. Komisi Yudisial di Beberapa Negara Uni Eropa (Councils Dor The
Judiciary In EU Countries). Jakarta: LeIP, The Asia Foundation dan USAID, 2002

Assegap, Rifqi S. Komisi Yudisial dan Eksaminasi Publik. Bandung: Citra Aditya Bakti,
2006

The Constitution of the Republic of Azerbaijan

Law of the Azerbaijan Republic On Judicial-Legal Council

Ethic Codes of Judicial Conduct

Law of the Azerbaijan Republic On Courts and Judge

Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945

Indonesia. Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. Keputusan Bersama Ketua Mahkamah
Agung RI dan Ketua Komisi Yudisial RI tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku
Hakim, Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009, 02/SKB/P.KY/IV/2009.

Indonesia. Mahkamah Konstitusi. Peraturan Mahkamah Konstitusi tentang Pemberlakuan


Deklarasi Kode Etik dan Perilaku Hakim Konstitusi, Nomor 9/PMK/2006

www.visions.az/history,268/A History of Azerbaijan: from the Furthest Past to the Present


Day, diakses pada 2 April 2019 pukul 14.45

http://azerbaijan.az/portal/General/Constitution/constitution_01_e.html, diakses pada 2


April 2019 pukul 15.00

32
Hermansyah, Peran Lembaga Pengawas Eksternal Terhadap Hakim, Mappi FHUI Jakarta,
lihat di situs http://www.pemantauperadilan.com/, diakses pada 3 April 2019 pukul
19.00

Indonesia. MA dan KY. Peraturan Bersama MA dan KY tentang Panduan Penegakan Kode
Etika dan Pedoman Perilaku Hakim, Nomor 02/PB/MA/IX/2012–02/PB/P.KY/09/2012

Indonesia. MA dan KY. Peraturan Bersama MA dan KY tentang cara pemeriksaan


bersama, Nomor 03/PB/MA/IX/2012 - 03/PB/KY/9/2012

Indonesia. MA dan KY. Peraturan Bersama MA dan KY Tentang Tata Cara Pembentukan,
Tata Kerja, Dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim, Nomor:
04/PB/MA/IX/2012- 04/PB/P.KY/09/2012

Indonesia. DPR. UU no 22 Tahun 2004 tentang KY

33