You are on page 1of 11

AGROFORESTRI KALIWU DI SUMBA: SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGIS

Agroforestry Kaliwu in Sumba: A Sociological Perspective

Budiyanto Dwi Prasetyo1


1
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang,
Jalan Alfons Nisnoni No. 7B Airnona, Kupang, 85115, Indonesia.
e-mail : budiyanto_dwiprasetyo@yahoo.com

Diterima ……, direvisi ……, disetujui …… (diisi oleh Sekretariat)

ABSTRACT

Agroforestry is a land management system that is already popular in Indonesia. Such system has helped farmers to
increase their agricultural production, social life and ecological stability. Traditional community in Sumba has applied
agroforestry since long time ago and known as Kaliwu. This becomes one of indigenous knowledge, as Kaliwu is a
system that is socially constructed through an intensive interaction between local people and its environment and
transmitted from generation to generation. This study sought to convey sociological aspects that are suspected as the
key factors that made this system socially existed up until now. The study was conducted a year in 2009 in Desa
Waimangura, Sumba Island. This is a social research, which employs several data collection techniques such as social
survey towards 30 respondents, in-depth interview, observation, and literature review. Data have been analyzed
through quantitative and qualitative procedures. The results indicated that sociologically, Kaliwu is a knowledge
system of traditional land management that has been constructed along with the socio-historical practices experienced
by indigenous people. Social norms (adherence to traditional values, division of labour systems, conflict management)
and social institution such as farmer group become the social factors that play significant role to make kaliwu
sustainable.

Keywords: agroforestry, traditional, kaliwu, sociological perspective, sumba.

ABSTRAK
Agroforestri merupakan salah satu system pengelolaan lahan yang populer di Indonesia terutama di daerah berlahan
kritis dan kering. Sistem ini sangat membantu masyarakat desa untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahannya melalui
fungsi ekonomi, ekologi, dan sosial budaya. Masyarakat tradisional Sumba mengenal system agroforestry dengan nama
Kaliwu. Sistem ini telah diterapkan sejak lama dan merupakan bagian dari pengetahuan asli masyarakat Sumba dalam
mengelola lahan secara turun temurun. Penelitian ini berusaha meninjau aspek sosiologis di balik praktek kaliwu yang
disinyalir manjadi faktor penentu kelestarian system ini dari generasi ke generasi. Penelitian dilakukan selama setahun
pada 2009 di Desa Waimangura, Pulau Sumba. Pengumpulan data dilakukan melalui survey sosial terhadap 30
responden, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Data dan informasi yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif
dan kualitatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa, secara sosiologis, kaliwu merupakan sebuah system pengetahuan
dalam pengelolaan lahan yang dikonstruksi secara menyejarah oleh masyarakat Sumba. Kaidah-kaidah sosial (ketaatan
pada nilai tradisional, pembagian kerja, manajemen konflik) dan lembaga sosial kelompok tani menjadi faktor sosial
yang menopang keberlanjutan kaliwu di tengah masyarakat.

Keywords: agroforestri, tradisional, kaliwu, perspektif sosiologis, sumba.


I. PENDAHULUAN kaliwu ditempatkan sebagai bagian dari proses
interkasi sosial di masyarakat dan
Sistem agroforestry tradisional merupakan mengonstruksi pengetahuan asli masyarakat
sistem pertanian yang sudah berumur ratusan secara turun-temurun. Keberadaan kaliwu
tahun dan menjadi model pertanian penting di sekaligus menjadi ikon identitas masyarakat
dunia, terutama di wilayah tropis dan subtropis. Sumba.
System agroforesty tradisional mendatangkan Terpeliharanya kaliwu hingga kini
keuntungan secara ekonomi, ekologi, dan sosial disinyalir karena adanya unsur-unsur sosiologis
budaya bagi komunitas pengelolanya (Weiwei di dalam masyarakat sebagai pengelolanya.
et al, 2014; Torres et al 2014). Misalnya, Soemardjan dan Soemardi (1964) berpendapat
agroforestry berbasis tanaman mangga bahwa aspek sosiologis membicarakan struktur
(Mangifera sp) di Bangladesh telah sosial dan proses sosial, termasuk di dalamnya
menyelamatkan para petani yang minim lahan mengenai perubahan sosial. Struktur sosial
dari kemiskinan relatif (Rahman et al, 2012). adalah keseluruhan jalinan unsur-unsur sosial
Pada komunitas Dayak di Kalimantan dikenal yang pokok, yaitu kaidah-kaidah atau norma-
system pertanian tradisional berbasis keluarga norma sosial, lembaga-lembaga sosial,
atau Kaleka yang mampu menjaga biodiversitas kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan
sekaligus melestarikan nilai-nilai sosial budaya sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal
(Rahu et. al. 2014). Sistem agroforestry balik antara pelbagai segi kehidupan bersama
tradisional juga terdapat di daerah lain di (Narwoko & Suyanto, 2006).
Indonesia seperti Repong Damar di Sumatera, Tinjauan sosiologis terhadap praktek
Simpunk di Kalimantan, dan Kane atau hutan agroforestry tradisional, seperti halnya kaliwu,
keluarga di Timor (Warta Kebijakan, 2003). masih belum banyak dibicarakan. Sehingga
Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur patut dimunculkan pertanyaan: realitas
(NTT), sistem agroforestry tradisional yang sosiologis seperti apa yang menyebabkan
dilakukan oleh masyarakat dikenal dengan sebuah system agroforestry kaliwu bisa tetap
istilah Kaliwu atau Kaliwo (Njurumana, 2006). lestari? Penelitian ini berusaha memaparkan
Seperti system-sistem agroforestry pada realitas sosial yang terkonstruksi secara
umumnya, model pengelolaan kaliwu memiliki sosiologis di balik praktek kaliwu di masyarakat
manfaat ekologis, ekonomis dan sosial. Secara Sumba. Sasarannya adalah diperolehnya tafsir
ekologis kaliwu dapat mencegah erosi dan sosial atas praktek kaliwu beserta faktor-faktor
meningkatkan cadangan air tanah. Masyarakat sosial yang menopang keberlanjutan Kaliwu
memanfaatkan ruang tumbuh vertikal dan pada masyarakat Sumba.
horisontal secara optimal dengan melakukan
kombinasi tanaman yang beragam (tanaman II. METODE PENELITIAN
pertanian, perkebunan, dan kehutanan)
(Njurumana & Susila, 2006). Secara ekonomi, A. Tempat dan Waktu Penelitian
hasil yang diperoleh dari tanaman perkebunan Penelitian dilaksanakan selama setahun pada
dan pangan di kaliwu dapat memenuhi 2009 di Desa Waimangura, Kecamatan
kebutuhan hidup subsiten maupun dijual ke Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya,
pasar (Njurumana et al. 2009). Secara social, Provinsi NTT. Lokasi tersebut dipilih atas
pertimbangan banyaknya jumlah sebaran III. HASIL DAN PEMBAHASAN
kaliwu yang dikelola masyarakat, aksesibilitas,
dan dinamika sosial masyarakat dalam A. Hasil
pengelolaan kaliwu. 1. Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini
B. Pengumpulan Data berjumlah 30 orang terdiri dari 26 laki-laki dan
Penelitian ini menggunakan empat 4 perempuan. Penentuan umur responden
metode pengumpulan data. Pertama, metode dilakukan dengan metode purposive sampling
survey melalui mewawancarai responden yakni dengan memilih responden yang telah
menggunakan kuisioner (Singarimbun & menikah dan berusia di atas 25 tahun.
Effendi, 1999). Responden ditentukan secara Penentuan kelompok umur responden
purposive dengan jumlah sampel sebanyak 30 didasarkan pada usia produktif dan kedewasaan
responden (n=30). Responden merupakan para seseorang dalam menyikapi masalah.
petani yang terlibat dalam pengelolaan kaliwu Responden yang diwawancarai mayoritas
secara berkelompok. Kedua adalah metode berumur 25-50 tahun. Sedangkan tingkat
wawancara mendalam (in-depth interview) pendidikan responden didominasi oleh lulusan
yang dilakukan terhadap narasumber kunci (key SMP. Lebih dari setengah responden memiliki
person), yaitu orang-orang yang memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari 6 orang.
pengetahuan mendalam tentang kaliwu di Pekerjaan utama seluruh responden adalah
antara populasi. Mereka adalah tokoh-tokoh petani. Secara lebih jelasnya karakteristik
masyarakat (ketua kelompok tani, tokoh agama, responden dapat dilihat pada tabel 1.
dan tokoh adat) dan aparatur desa. Ketiga,
dengan melakukan metode pencatatan saat Tabel 1. Karakteristik responden.
(Table 1. Characteristic of respondents).
observasi di lapangan. Keempat dilakukan No Pertanyaan Jawaban Jumlah
pendokumentasian terhadap literatur, baik (Questions) (Answers) (Numbers)
media ilmiah maupun populer seperti jurnal 1 Jenis kelamin Laki-laki 26
(Sex) (Men)
penelitian, majalah ilmiah, surat kabar, media Perempuan 4
internet, dan literatur lainnya juga dilakukan (Women)
untuk memperkuat tinjauan literatur. 2 Umur (Age) < 25 -
25-50 23
>50 7
C. Analisis Data 3 Pendidikan Tidak sekolah 4
Data dari pengisian kuisioner dianalisis (Education) (uneducated)
secara kuantitatif menggunakan statistik SD tamat 10
(primary school)
deskriptif (Usman & Setiady, 2006) dengan SLTP tamat 7
memakai program SPSS. Penyajian data (Junior high school)
statistik menggunakan tabel distribusi frekuensi SLTA tamat 9
(Senior high school)
secara tabel silang (Nurgiyantoro dkk, 2004). Perguruan tinggi -
Analisis kualitatif dilakukan terhadap data hasil (Tertiary school)
in-depth interview, observasi, dan 4 Jumlah <3 -
keluarga
pendokumentasian literatur. Penyajian hasil (family
analisis kualitatif dilakukan secara deskriptif members)
naratif guna melengkapi dan mengonfirmasi 3-6 11
>6 19
data dan informasi secara statistik. 5 Pekerjaan Petani 30
utama (Farmer)
(Main job)
2. Kaliwu dan Masyarakat mengelola kaliwu untuk tujuan subsisten dan
a. Motif pengelolaan sebatas kewajiban budaya meneruskan
Sistem kaliwu di Waimangura memiliki keberadaan kaliwu.
karakteristik spesifik dalam pemilihan lokasi
lahan. Hamparan lahan dibentuk dengan b. Lahan dan ragam tanaman
susunan pola tata ruang, dimana lokasi kaliwu Luas keseluruhan lahan, baik lahan kering
yang ditumbuhi tanaman perkebunan berkayu maupun pekarangan yang dimiliki responden di
maupun tanaman kehutanan, biasanya diselingi Desa Waimangura dan dikelola menjadi kaliwu
dengan lahan terbuka yang ditanami tanaman adalah 43,285 ha dengan luas rata-rata lahan
pangan seperti jagung, ubi, dan keladi. Lahan yang dimiliki setiap responden adalah 1,61 ha.
terbuka tersebut kemudian disambung lagi oleh Lahan yang dikelola sebagai kaliwu tersebut
kaliwu milik warga lainnya. Hal itu dilakukan terdiri atas tata ruang berupa hamparan lahan
untuk efisiensi kerja sebab kaliwu dan lahan terbuka untuk pertanian tanaman pangan di
tanaman pangan letaknya berdekatan. Tujuan posisi lahan datar dan rendah, serta tanaman
lainnya adalah untuk menghindari erosi pada perkebunan dan kehutanan untuk lahan yang
tanah di sekitar kebun kaliwu atau di lahan berada lebih tinggi posisinya dari lahan
tanaman pangan. Erosi diantisipasi dengan pertanian tersebut. Luas kepemilikan lahan oleh
membuat terasering menggunakan batu sebagai responden di lokasi penelitian dijelaskan pada
penahan teras. Bentangan lahan kaliwu secara tabel 2.
melintang diilustrasikan dalam gambar 1.
Tabel. 2. Luas lahan milik responden Desa Waimangura.
(Table 2. The number of tenure belong to respondents in
Village Waimangura).
Lokasi Luas Kepemilikan Lahan (ha)
(locatio (numbers of tenure (ha))
n)
Sumba Lah Rata Lahan Rata Jumlah Rata-
Barat an -rata pekaran -rata lahan rata
Daya keri (app gan (app kering dan (appro
(Southw ng roxi (yard) roxi pekaranga ximate
est (dry mate mate n ly)
Sumba) land ly) ly) (dryland
) & yard in
Gambar 1. Bentang lahan kaliwu (Njurumana, 2009) total)
(Figure 1. The landscape of kaliwu, Njurumana, 2009) Waima 31.5 1.17 11.785 0.44 43.285 1.61
ngura

Tujuan ekonomis (kebutuhan pangan)


Jenis tanaman pangan yang menjadi
dan ekologis (penahan erosi) kemudian
sumber pangan utama adalah padi dan jagung.
berkembang menjadi murni komersial.
Tanaman yang dijadikan cadangan pangan
Peningkatan produksi panen yang dihasilkan
kebanyakan dari jenis ubi dan keladi. Pola
kaliwu ternyata mengalami surplus jika sekadar
konsumsi pangan dan cadangan pangan tersebut
untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Surplus
sudah berlangsung sejak lama, dimana padi dan
terjadi terutama untuk komoditi pangan, kayu
jagung menjadi pangan utama sedangkan ubi
pertukangan dan kayu bakar. Diketahui terdapat
dan keladi menjadi pendukung pangan utama
56,7% responden menyatakan, alasan mereka
sebagai sumber cadangan pangan. Komoditas
mengelola kaliwu adalah untuk pemenuhan
perkebunan yang banyak menghasilkan
kebutuhan hidup sehari-hari dan selebihnya
pendapatan bagi rumah tangga responden
dijual ke pasar. Hanya sebagian kecil saja yang
adalah jenis buah-buahan seperti pisang, Kaum perempuan (usia produktif) dan
mangga, dan jeruk serta jenis tanaman anak-anak tidak dimarginalkan dalam
perkebunan lainnya seperti kopi. Tanaman pengelolaan kaliwu. Para istri justru memainkan
kehutanan yang menjadi primadona di desa peran penting. Mereka umumnya bekerja
sampel adalah jenis mahoni (Swietenia bertani bersama-sama kepala keluarga (laki-
mahagony). Jenis ini mampu menghasilkan laki) di kaliwu. Hanya sebagian kecil saja istri-
pendapatan bagi responden dengan nilai yang istri itu yang menyatakan terlibat hanya pada
cukup tinggi. waktu-waktu tertentu saja dalam bercocok
tanam. Lebih jauh lagi, anak-anak berusia
c. Pembagian kerja kurang dari 14 tahun diketahui juga turut
Pengelolaan kaliwu di Waimangura membantu bertani meski proporsinya hanya
tidak dikerjakan sendirian oleh kepala keluarga, 40%. Karena sebagian besar anak-anak lainnya,
melainkan dilakukan melalui pembagian kerja menurut pengakuan responden, sengaja
secara tradisional dengan melibatkan anggota dibebaskan dari pekerjaan bertani dan
keluarga. Peran kepala keluarga atau laki-laki diprioritaskan untuk bersekolah. Kesadaran
usia produktif sangat sentral dalam pengelolaan orang tua akan pentingnya pendidikan dapat
agroforestri kaliwu. Kepala keluarga melakukan terlihat dari pengakuan narasumber tersebut. Ini
pekerjaan utama bertani mulai dari persiapan sama halnya dengan para lansia yang cenderung
lahan hingga pengelolaan paska panen. Pada dibebaskan dari kegiatan pengelolaan lahan.
kondisi ini, kultur patriarkhi terlihat sangat Pada titik ini, tampak bahwa kegiatan di dalam
dominan di masyarakat Sumba. Kultur ini kaliwu memprioritaskan tenaga kerja usia
menempatkan kepala keluarga (laki-laki usia produktif di dalam keluarga pengelola.
produktif) sebagai orang yang
bertanggungjawab atas pemenuhan pangan d. Lembaga-lembaga sosial
keluarga melalui sistem kaliwu. Sistem Keberadaan kaliwu mendapat dukungan
pembagian kerja di kaliwu dapat dilihat pada dari sistem sosial masyarakat desa, terutama
tabel 3. lembaga-lembaga sosial baik formal maupun
non-formal. Lembaga formal yang mendukung
Tabel 3. Sistem pembagian kerja dalam pengelolaan pengelolaan agroforestri tersebut berasal tidak
agroforestri kaliwu di Desa Waimangura. hanya lembaga pemerintahan desa seperti LPM,
(Table 3. Division of labour systems within kaliwu
agroforestry management in Village Waimangura).
BPD, dan organisasi kepemudaan Karang
Taruna, tapi juga lembaga non pemerintah
Jawaban Responden seperti Gereja Kristen Sumba (GKS), dan
Pembagian kerja
anggota keluarga
(The answers of respondents) Kelompok Tani. Lembaga kelompok tani
(Job descriptions Kepala Anak- merupakan institusi formal yang paling
among family Keluarga/ Istri anak Lansia
Suami (wifes) (childr (elderly) signifikan perannya dalam menggerakkan
members)
(husbands) en) masyarakat Waimangura untuk bertani kaliwu.
Bertani (farming) 100% 83,3 % - - Peran lembaga pemerintahan desa lebih
Membantu - 10 % 40 % 6,7%
bertani (help for
difungsikan secara politis dan diplomatis.
farming) Fungsi politis adalah menjadikan pemerintah
Tidak - 6,7 % 60 % 93,3% desa sebagai sarana untuk menyuarakan
bertani/tidak ada
(have not taken
kepentingan mereka kepada pemerintah
any role/nothing) kabupaten/provinsi/pusat dalam kaitannya
Total 100% 100% 100% 100% untuk melestarikan kaliwu. Fungsi diplomatis
adalah sebagai wadah untuk bernegosiasi dan
membuka akses informasi, teknologi, dan mampu mendominasi konsepsi warga yang
jaringan kerjasama dengan pihak luar untuk tadinya memeluk kepercayaan tradisional
mendukung pengelolaan kaliwu. Sumba Marapu, menjadi beragama Protestan.
Peran tokoh agama pun sangat sentral di Kondisi seperti itu berdampak pada
masyarakat karena suaranya selalu didengar melemahnya penerapan pamali/larangan terkait
warga karena dirinya adalah panutan pengelolaan lingkungan, termasuk kaliwu, yang
masyarakat. Status sosial tokoh agama dalam didasarkan pada kepercayaan adat Marapu.
sistem pelapisan sosial adalah setara dengan Akan tetapi, melemahnya pamali bukan
tokoh adat. Maka dari itu GKS menjadi berarti menihilkan sama sekali praktek pamali
lembaga keagamaan yang perannya sangat vital di kehidupan sehari-hari. Pamali yang masih
dalam memotivasi warga untuk giat bekerja dipegang teguh generasi tua penganut Marapu
berdasarkan iman yang mereka percayai. pada kenyataannya tidak berani ditentang
Sebagian anggota GKS diketahui pula generasi pemeluk Protestan. Pamali tersebut
menduduki posisi penting dalam struktur misalnya larangan menebang dan atau
lembaga kelompok tani. membakar pohon besar, terutama yang terdapat
Kunci kelestarian kaliwu di di dalam lokasi kaliwu. Sebagian besar
Waimangura ada di kelompok tani. Kelompok masyarakat Waimangura masih percaya bahwa
tani yang paling aktif dan giat melaksanakan melakukan hal tersebut berarti membunuh
program-programnya adalah Mawailo Omma. leluhur mereka sendiri. Di sisi lain, larangan itu
Kata mawailo omma dalam bahasa Marapu sejatinya bertujuan untuk menjaga ekosistem
Sumba berarti “petani harus sudah pergi ke kaliwu sebagai areal pencegah erosi akibat
kebun sebelum ayam berkokok.” Nama ini hempasan hujan serta kekeringan yang dapat
mengandung makna filosofis tentang keharusan merusak lahan sumber pangan mereka.
masyarakat anggotanya memiliki etos kerja
yang tinggi. Etos tersebut masih dipelihara e. Manajemen konflik
dengan baik oleh warga Waimangura. Sebagian Intensitas konflik di Desa Waimangura
warga masih banyak yang pergi bekerja ke dalam pengelolaan kaliwu selama tiga tahun
kaliwu lebih dari dua kali dalam sehari. Etos (2006-2009) diketahui cukup minim. Hal ini
kerja yang tinggi tentunya merupakan modal kemungkinan besar dipengaruhi oleh mapannya
utama bagi pengembangan agroforestri ke arah sistem kelembagaan dan sistem hukum yang
yang lebih produktif. Lebih dari itu, kelompok diterapkan di desa tersebut. Di sisi lain,
tani juga berfungsi sebagai sarana untuk meratanya hasil panen pada semua lahan kaliwu
bersosialisasi, bermusyawarah, meningkatkan milik warga menjadi indikasi faktor penekan
kapasitas keterampilan dan pengetahuan, terjadinya konflik.
memobilisasi anggota, serta bekerja sama Lahan merupakan hal terpenting pada
dengan pihak luar dalam rangka optimalisasi masyarakat petani. Maka dari itu, potensi
pengelolaan kaliwu. konflik yang dapat muncul sewaktu-waktu
Sebaliknya, peran lembaga non formal, dapat dipastikan ada kaitannya dengan lahan.
yakni lembaga adat diketahui tidak terlalu Namun, pada lahan-lahan kaliwu di
dominan di Waimangura. Lembaga ini Waimangura, konflik lahan hanya terjadi sekali
cenderung mengurusi acara-acara seremonial dalam tiga tahun terakhir, yakni penyerobotan
seperti perkawinan dan kematian saja. Peran lahan. Hal itupun dapat diselesaikan secara
lembaga adat dalam agroforestri kaliwu sudah melalui musyawarah keluarga. Itikad untuk
sangat berkurang dikarenakan masuknya agama menuntaskan konflik secepatnya merupakan
Kristen Protestan yang diinisiasi GKS. GKS karakteristik masyarakat Desa Waimangura
yang tentunya menjadi faktor pendorong bagi tersebut (Veeger, 1985). Sehingga, berbagai
stabilitas keamanan desa tersebut. Kemingkinan unsur sosial (seperti norma, nilai, lembaga, dan
lainnya adalah karena tingginya etos kerja bahkan praktek-praktek keseharian serta
masyarakat yang tidak gemar menghabiskan pengetahuan lokal) yang membentuk realitas
waktu untuk bertengkar atau berkelahi. sosial dipandang sebagai hasil dari sebuah
Pencurian ternak adalah bentuk konflik proses interaksi sosial yang menyejarah. Hoult,
lainnya yang terjadi 5 kali dalam tiga tahun (1969) menambahkan bahwa tugas sosiologi
terakhir. Bagi masyarakat Sumba, ternak seperti tidak hanya memotret realitas sosial, namun
kerbau jantan, babi taring, kuda, dan sapi juga mengembangkan pengetahuan tentang
merupakan simbol kekayaan seseorang. Harga hubungan sosial manusia dan produk dari
ternak bisa melambung hingga puluhan juta hubungan tersebut.
per-ekor ketika dipakai untuk keperluan Dengan kata lain, fokus bahasan
upacara perkawinan atau kematian yang masih sosiologi adalah interaksi antar manusia yakni
berorientasi adat. Maka dari itu, pencurian pada pengaruh timbal-balik di antara dua orang
ternak kerap terjadi di kalangan masyarakat atau lebih dalam perasaan, sikap dan tindakan
Sumba termasuk di Waimangura. Kondisi itu (Narwoko & Suyanto, 2006). Interaksi tersebut
tentu berpengaruh terhadap pengelolaan lahan disebut pula sebagai proses sosial. Dalam sudut
kaliwu, dimana seseorang menjadi merasa pandang strukturalis, proses sosial merupakan
frustrasi ketika simbol adat dan simbol embrio munculnya struktur-struktur sosial,
kekayaannya dicuri. Sejauh ini penyelesaian yakni keseluruhan jalinan unsur-unsur sosial
konflik pencurian ternak tersebut diselesaikan yang utama seperti kaidah-kaidah sosial,
hanya melalui musyawarah keluarga dan lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok
dilakukan hingga tuntas. sosial serta lapisan-lapisan sosial. Konsepsi
inilah yang disebut Soemardjan & Soemardi
B. Pembahasan (1964) sebagai pembicaraan (diskursus)
sosiologis, yakni soal struktur dan proses sosial
1. Sosiologi dan Realitas Sosial serta produk yang muncul sebagai konsekwensi
Realitas sosial tidaklah terbentuk atas perjalanan historis keduanya.
secara alamiah melainkan sebuah produk yang
dibuat oleh manusia sebagai hasil dari proses 2. Tafsir Sosial atas Kaliwu
interaksi sosial yang menyejarah. Oleh Menafsir kaliwu secara sosiologis sangat
karenanya, sosiologi menjadi penting sebagai berbeda dari cara perspektif ilmu-ilmu lainnya
alat untuk melihat masyarakat sebagai realitas yang melihat kaliwu sebagai entitas teknis an-
objektif yang tanpa pretensi. Sosiolog dituntut sich yang terlepas dari campur tangan manusia.
untuk mampu melihat fakta-fakta sosial secara Perspektif sosiologis menempatkan kaliwu
menyeluruh. Tidak hanya sepintas lalu dan sebagai sebuah realitas sosial yang merupakan
segera menyimpulkannya dengan tergesa-gesa. produk dari perjalanan sosio-historis proses
Sosiologi selalu berusaha “menelanjangi” sosial di masyarakat dan bergerak membentuk
realitas dengan mengungkap fakta-fakta unsur-unsur dari struktur sosial secara dialektis
tersembunyi di balik realitas yang tampak (Veeger, 1985; Soemardjan & Soemardi, 1964;
(Berger, 1985). Hoult, 1969). Lebih jauh lagi, seperti dikatakan
Sosiologi selalu mengaitkan perilaku Berger (1985), yang terpenting adalah
masyarakat yang diamatinya dengan “menelanjangi” realitas sosial kaliwu dengan
keberadaan struktur-struktur kemasyarakatan tidak hanya mencatat dan menggambarkan
dan kebudayaan yang ada di masyarakat realitas sosial kaliwu yang tampak, melainkan
menguak fakta-fakta penting di balik realitas a. Kaidah-kaidah sosial
sosial kaliwu itu sendiri. Skematika tafsir Masyarakat memiliki kaidah-kaidah
sosiologis atas kaliwu dapat dilihat pada atau aturan-aturan sosial yang membuatnya
gambar 2. berbeda dari sekumpulan binatang. Kaidah-
kaidah sosial itu merupakan seperangkat norma
PROSES SOSIAL (tertulis maupun tidak tertulis) yang dibentuk
dan disepakati bersama untuk menciptakan
MASYARAKAT UNSUR-UNSUR SOSIAL
1. Kaidah-kaidah sosial suatu keteraturan sosial atau social order di
- Nilai tradisional masyarakat (Narwoko & Suyanto, 2006).
- Pembagian kerja Kaliwu sebagai realitas sosial merupakan
KALIWU - Manajemen konflik
2. Lembaga-lembaga sosial sebuah entitas yang tersusun atas kaidah-kaidah
sosial tersebut. Terdapat tiga poin penting
MASYARAKAT terkait kaidah-kaidah sosial yang terdapat
dalam pengelolaan kaliwu.
PROSES SOSIAL
1) Pertama: kaidah nilai tradisional.
Gambar 2. Skema tafsir sosiologis atas kaliwu. Ketaatan masyarakat terhadap nilai-nilai
(Figure 2. The scheme of social construction of kaliwu. tradisional merupakan motivasi utama dalam
mengelola kaliwu. Hal tersebut muncul sebagai
Keberadaan kaliwu dibentuk oleh bentuk ekspektasi masyarakat terhadap orang
proses sosial yang menyejarah yang terjadi tua terutama leluhurnya yang telah mewariskan
pada masyarakat Waimangura. Proses sosial itu lahannya untuk dikelola sebagai kaliwu.
berjalan akibat adanya interaksi sosial yang Menurut Weber (1957, dalam Abdullah, 1985;
intensif baik antar sesama warga masyarakat Berger, 1991) orang tua dan leluhur merupakan
maupun antara masyarakat a sosial
dengan ekosistem orang-orang berpengaruh (significant others)
kaliwu. Interaksi yang demikian ini (manusia yang memiliki kharisma dan mampu
dengan manusia dan manusia-manusia dengan menciptakan ketaatan masyarakat terhadap
ekosistem kaliwu), membentuk sebuah nilai-nilai yang hendak dipelihara di dalam
konstruksi pola pikir terkait pengelolaan kaliwu masyarakat. Ketaatan terhadap nilai-nilai
yang terwariskan secara turun-temurun dan tradisional dalam mengelola kaliwu pada
kemudian menjadi sebuah pengetahuan lokal masyarakat Waimangura merupakan
yang sistemik dan orisinil (indigenous keberhasilan internalisasi nilai-nilai tradisional
knowledge) (Berkes, 1999). untuk menjaga kelestarian kaliwu yang
Proses sosial tersebut secara dialektis dilakukan oleh significant others tersebut.
membentuk unsur-unsur sosial yang tidak lain
merupakan pembentuk struktur sosial pada 2) Kedua: kaidah system pembagian kerja.
masyarakat itu sendiri. Dalam praktek Kultur patriarkhi terlihat sangat
pengelolaan kaliwu, menggunakan definisi dominan di masyarakat dalam mengelola
Soemardjan & Soemardi (1964), unsur-unsur kaliwu. Kepala keluarga atau laki-laki dewasa
sosial yang nampak dapat dibagi menjadi dua diketahui lebih dominan dan bertanggungjawab
kategori, yakni kaidah-kaidah sosial dan penuh dalam pemenuhan kebutuhan keluarga
lembaga-lembaga sosial. dalam bertani kaliwu. Akan tetapi, uniknya hal
tersebut tidak menampik keberadaan
perempuan dewasa atau kaum ibu yang juga
merasa bertanggungjawab dalam menunjang
kegiatan pertanian yang dilakukan laki-laki berpotensi mencuat saat memasuki musim
kepala keluarga. Meski porsi pekerjaan tidak pesta.
sepenuhnya dibebankan pada kaum ibu, akan
tetapi keberadaan mereka sangatlah sentral b. Lembaga-lembaga sosial
dalam mengoptimalkan kaliwu. Peran lembaga lembaga-lembaga formal
Sikap kepedulian kaum ibu muncul yang ada di lingkup pemerintahan desa,
bukan karena paksaan, melainkan bentuk dari diketahui hanya sekedar menjadi saluran politik
tanggungjawab gender. Sebab, pada masyarakat untuk menyampaikan berbagai ide,
kenyataanya, kaum ibu yang membantu bertani gagasan, dan aspirasi yang ingin diwujudkan
di kaliwu tetap mengutamakan pekerjaannya masyarakat Waimangura untuk menunjang
untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak. pengelolaan kaliwu. Namun, lembaga formal
Peran anak-anak yang hanya membantu di tersebut tidak mampu menggerakkan
kaliwu pada saat panen dan dalam porsi masyarakat untuk mengelola kaliwu secara
pekerjaan yang ringan serta dilakukan di luar langsung. Pemerintah desa lebih sering
jam sekolah, merupakan realitas tersendiri yang kinerjanya terhalang persoalan birokrasi seperti
patut pula diperhatikan. Secara tidak langsung, tidak ada anggaran atau tidak ada instruksi dari
sistem pembagian kerja yang ada di masyarakat birokrat di level lebih tinggi. Maka, lembaga
Waimangura dalam mengelola kaliwu sudah pemerintah hanya dijadikan simbol desa secara
memperhatikan keberadaan anak sebagai administratif dan jarang terlibat aktif dalam
manusia yang patut dilindungi hak-haknya dan pengelolaan kaliwu.
bukan untuk dieksploitasi. Masyarakat menggunakan inisiatifnya
dengan membentuk kelompok tani Mawailo
3) Ketiga: kaidah manajemen konflik. Omma untuk mendukung pengelolaan kaliwu.
Konflik laten (konflik tidak nampak) Kelompok tani menjadi satu-satunya saluran
adalah interaksi sosial yang mengarah pada bagi masyarakat untuk merealisasikan segala
gesekan-gesekan sosial dalam tensi yang tinggi ide, gagasan, dan aspirasinya secara praktis dan
dan berpotensi menciptakan konflik manifest kongkrit. Keberadaan kelompok tani telah
(konflik nyata) (Mitchel 1982; Cheldelin et, al, bergerak lebih jauh dari sekadar urusan kaliwu,
2003). Intensitas konflik manifes di yakni mampu menciptakan jaringan sosial yang
Waimangura diketahui sangat minim. Lebih bisa menjadi akses untuk berinteraksi dan
dari itu, konflik yang terjadi dengan cepat dapat menciptakan posisi tawar (bargaining position)
terselesaikan melalui media musyawarah lembaga itu terhadap lembaga lainnya. Hal itu
keluarga dan diselesaikan hingga tuntas. Etos dapat dilihat dari komposisi pengurus
kerja yang tinggi pada masyarakat desa sampel kelompok tani yang ternyata juga berstatus
ternyata menjadi salah satu faktor penekan sosial aktif di lembaga pemerintahan desa,
munculnya konflik manifes ke permukaan. lembaga keagamaan (GKS), dan tokoh
Masyarakat lebih memilih bekerja di kaliwu masyarakat setempat (kepala dusun).
daripada membuang-buang waktu percuma Keberadaan GKS sebagai lembaga
untuk bersengketa atau berkelahi. keagamaan yang ada di Waimangura diketahui
Akan tetapi, potensi konflik berperan secara signifikan dalam membentuk
cenderung meningkat ketika musim pesta etos kerja. GKS mampu menciptakan sudut
(perkawinan atau kematian). Konflik biasanya pandang baru di masyarakat, terutama pada
dipicu oleh aksi pencurian terhadap hewan generasi muda, bahwa bekerja adalah ibadah,
ternak seperti babi bertaring, kerbau jantan dan dan berbagai tahyul dan pamali adalah bi’dah.
sapi. Maka dari itu, konflik laten sangat Hal ini senada dengan thesis Max Weber
tentang “Etika Protestan dan Semangat B. Saran
Kapitalisme” (1958 dalam Abdullah, 1979).
Meski demikian, masih ditemukan adanya Penelitian ini menyarankan agar dalam
upacara adat Marapu yang digelar oleh generasi melihat kaliwu kiranya perlu
tua dan dihadiri jemaat GKS yang notabene mempertimbangkan aspek sosiologis.
beragama Kristen Protestan. Hal tersebut diakui Penyusunan kebijakan dan program-program
responden untuk menjaga toleransi dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan
berkeyakinan serta menghormati orang tua. di masyarakat sebaiknya tidak melulu dibuat
Sikap toleransi tersebut merupakan modal dengan hanya melihat aspek ekologi dan
sosial dan mampu diterjemahkan secara baik biofisik saja. Hal ini penting mengingat
oleh masyarakat Waimangura dalam interaksi pengabaian terhadap pelibatan sudut pandang
bermasyarakat, termasuk dalam pengelolaan sosiologis akan menyebabkan keterbatasan
kaliwu. Misalnya dengan menerapkan sanksi pemahaman terhadap kaliwu dan dapat
dari hukum-hukum adat Marapu apabila ada berpotensi berujung pada penciptaan konflik.
pelanggaran yang terjadi di lahan pemilik yang Guna melestarikan system kaliwu secara sosial,
masih memercayai keyakinan Marapu. perlu diupayakan pembuatan kebijakan
pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan
IV. KESIMPULAN DAN SARAN yang mengakomodir pelestarian system kaliwu
tersebut. Misalnya saja dengan melakukan
A. Kesimpulan pencangan desa model kaliwu.
Sosiologi sebagai ilmu memandang
realitas sosial sebagai sebuah produk dari DAFTAR PUSTAKA
proses sosial di masyarakat. Cara pandang
tersebut tidak berhenti pada pencatatan atas Abdullah, T. (1985). Sejarah lokal di
fakta-fakta sosial yang nampak melainkan Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada
berlanjut kepada upaya menguak fakta-fakta University Press.
lainnya yang ada di balik realitas tersebut. Abdullah, T., (ed), (1979), Agama, Etos Kerja,
Dalam perspektif sosiologis, kaliwu dipandang dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta:
sebagai sebuah entitas yang tidak hanya sebagai LP3ES.
ekosistem dalam artian teknis. Akan tetapi, Berger, P.L., (1985), Humanisme Sosiologi,
kaliwu diartikan sebagai sebuah realitas sosial Jakarta: Inti Sarana Aksara.
yang lahir dari proses sosial yang panjang dan Berger, P.L., & Luckmann, T. (1991). Tafsir
menyejarah. Proses sosial tersebut melibatkan sosial atas kenyataan: Sebuah risalah
unsur-unsur sosial yang tak lain pembentuk tentang sosiologi pengetahuan.
struktur sosial di masyarakat. Kaidah-kaidah Penerjemah: Hasan Basari. Jakarta:
sosial (di antaranya ketaatan pada nilai-nilai LP3ES.
tradisional, system pembagian kerja, dan Berkes F., (1999), Sacred Ecology: Traditional
manajemen konflik) dan lembaga-lembaga Ecological Knowledge and
sosial merupakan unsur-unsur sosial yang Management Systems, London: Taylor
menonjol dan berkontribusi besar terhadap & Francis.
keberlanjutan kaliwu hingga saat ini. Cheldelin I.S, Druckman D, Fast L. (eds),
(2003), Conflict: From Analysis to
Intervention, London-New York:
Continuum.
Hoult, T.F., (1969), Dictionary of Modern Rahu, A.A., Hidayat, K.K., Ariyadi, M., &
Sociology. The University of Michigan: Hakim, L. (2014). Management of
Littlefield Adams. Kaleka (Traditional Gardens) in Dayak
Mitchell C. R. (1981), The Structure of community in Kapuas, Central
International Conflict. Great Britain: Kalimantan. International Journal of
MacMilland Press Ltd. Science and Research 3 (3), 205-210.
Narwoko, J.D., & Suyanto, B. (ed). (2006). Singarimbun, M., & Effendi, S. (ed). (1999).
Sosiologi: Teks pengantar dan terapan. Metode Penelitian Survey. Jakarta:
Jakarta: Penerbit Kencana. LP3ES.
Njurumana, G.N. (2006). Pendekatan Soemardjan S., & Soemardi S., (1964),
rehabilitasi lahan kritis melalui Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta:
pengembangan Mamar: Studi kasus Jajasan Peneribit Fakultas Ekonomi UI.
Mamar di Kabupaten Timor Tengah Torres, B., Maza, O.J., Aguirre, P., Hinojosa L.,
Selatan. Prosiding Sosialisasi Hasil & Gunter, S. (2014). Contribution of
Hasil Penelitian dan pengembangan Traditional Agroforestry to Climate
Kehutanan, Kupang 14 Februari 2006. Change Adaptation in the Ecuadorian
Bogor: Pusat Penelitian dan Amazon: The Chakra System. Handbook
Pengembangan Hutan dan Konservasi of Climate Change Adaptation. Verlag
Alam. Berlin Heidelberg: Springer.
Njurumana, G.N., & Susila I.W. (2006). Kajian Usman, H., & Setiady, P. (2006). Pengantar
rehabilitasi lahan kritis melalui Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.
pengembangan hutan rakyat berbasis Veeger K.J., (1985), Realitas Sosial, Jakarta:
sistem kaliwu di Pulau Sumba. Jurnal Gramedia.
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Warta Kebijakan. (2003, February 9).
3 (1). Perhutanan Sosial. Center for
Njurumana N.D.G., Raharjo, S.A.S., Pujiono, International Forestry Research (Cifor).
E., Prasetyo, B.D., Rianawati, H., Bogor Indonesia: CIFOR.
Puspiyatun., R.Y. (2009). Weiwei, L., Wenhua, L., Moucheng, L., &
Pengembangan agroforestry berbasis Fuller, A.M. (2014). Traditional
masyarakat dalam mendukung Agroforestry Systems: One Type of
ketahanan pangan. (Laporan Penelitian: Globally Important Agricultural
Program Insentif Riset untuk Peneliti). Heritage Systems. Journal of Resources
Kupang: Direktorat Jenderal Pendidikan and Ecology 5(4), 306-313.
Tinggi. Departemen Pendidikan
Nasional (Tidak diterbitkan).
Nurgiyantoro, Burhan, G., & Marzuki. (2004).
Statistik terapan untuk penelitian ilmu-
ilmu sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Rahman, S.A., Imam M.H., Snelder, D.J., &
Sunderland, T. (2012). Agroforestry for
livelihood security in agrarian
landscapes of the Padma floodplain in
Bangladesh. Small-scale Forestry (11),
529–538.