Вы находитесь на странице: 1из 9

VOLUME 4 Nomor 03 November 2013 Artikel Penelitian

PENERAPAN KESELAMATAN RADIASI PADA INSTALASI RADIOLOGI DI


RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) PARU PROVINSI SUMATERA SELATAN
TAHUN 2013

APPLICATION OF RADIATION SAFETY IN RADIOLOGY INSTALLATION HOSPITAL


OF LUNG IN SOUTH SUMATRA 2013

Julianna Simanjuntak1, Anita Camelia2, Imelda G. Purba2


1
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
2
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya

ABSTRACT
Background : The high use of radiation for medical activities is the contribution of the second largest source
of radiation we receive. Besides radiation gives benefits, it can also cause danger for radiation workers,
people, and the environment. So that radiology services should pay attention to safety aspects of radiation
according to Peraturan Kepala BAPETEN No.8 in 2011. The purpose of this study is to analyze the
application and implementation of radiation safety in Department of Radiology, Pulmonary Special Hospital
Hospital, South Sumatra.
Methods : A descriptive research with a qualitative approach was implemented in this study. Methods for
obtaining information were in-depth interview, observation technique, and document review. Source of
information was obtained from six informants, one of them was a key informant.
Results : The results showed that implementation of radiation safety in Department of Radiology was not
optimal. The other findings were the absence of radiation protection organization structure, lack of training
for radiation workers, no radiologist, lack of availability of radiation protection equipment. Moreover, the
results of worker radiation film badge has not yet been reported continuously to Batan, health monitoring
has not yet been done specially for radiographers, lack of supervision or fast responsiveness to issues of
Radiology at the hospital, as well as lack of coordination between the hospitals with radiological
installations.
Conclusion : It is concluded overview of the application of radiation safety at the Hospital for Special
Pulmonary South Sumatra province have increased the awareness of the importance of safety for each
radiation worker and also in terms of coordination between hospitals and radiology installations. Expected
to be formed for SSR Lung structure and functioning of the organization of radiation protection, giving a
reprimand or sanctions for employees who do not work in accordance with the SOP, specific medical
examination immediately, and make plans for the training of radiographers.
Keywords : Application of Radiation Safety, Radiology, Hospital

ABSTRAK
Latar Belakang : Tingginya penggunaan radiasi untuk kegiatan medis merupakan kontribusi kedua terbesar
sumber radiasi yang kita terima, dimana selain memberikan manfaat , juga dapat menyebabkan bahaya baik
bagi pekerja radiasi, masyarakat, maupun lingkungan sekitar. Sehingga pelayanan radiologi harus
memperhatikan aspek keselamatan kerja radiasi menurut Peraturan Kepala BAPETEN No.8 Tahun 2011.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis penerapan dan pelaksanaan keselamatan radiasi pada Instalasi
Radiologi RSK Paru Provinsi Sumatera Selatan.
Metode : Dilakukan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan informasi
dengan wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Sumber informasi diperoleh dari tujuh
informan, salah satu adalah informan ahli.
Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil penelitian, penerapan dan pelaksanaan keselamatan radiasi pada
Instalasi Radiologi RSK Paru Provinsi Sumatera Selatan belum optimal dilakukan. Belum adanya struktur
organisasi proteksi radiasi, kurangnya pelatihan untuk pekerja radiasi, belum adanya dokter spesialis
radiologi, kurangnya ketersediaan peralatan proteksi radiasi, belum secara continue melaporkan hasil film
badge pekerja radiasi ke Batan per bulan, belum dilakukan pemantauan kesehatan secara khusus bagi
radiografer, kurangnya pengawasan atau cepat tanggap terhadap permasalahan di Instalasi Radiologi dari
pihak rumah sakit, serta kurangnya koordinasi antara pihak rumah sakit dengan instalasi radiologi.

245
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kesimpulan : Gambaran penerapan keselamatan radiasi di Rumah Sakit Khusus Paru Provinsi Sumatera
Selatan perlu ditingkatkan mengenai kebijakan keselamatan radiasi dan kesadaran akan pentingnya
keselamatan kerja bagi pekerja radiasi.
Kata Kunci : Penerapan Keselamatan Radiasi, Instalasi Radiologi, Rumah Sakit

PENDAHULUAN radiasi), efek karsinogenesis, dan efek


genetik.4
Penggunaan teknologi nuklir sekarang
Penggunaan nuklir di rumah sakit telah
semakin meningkat di berbagai bidang, antara
memakan korban 63 orang di dunia selama 56
lain; bidang industri, kedokteran, pertanian
tahun terakhir. Umumnya korban yang jatuh
dan penelitian.1 Bidang industri dan kesehatan
diakibatkan kesalahan prosedur pengoperasian
adalah dua bidang utama pemanfaatan
alat dan kalibrasi.7 Dari kenyataan yang ada
teknologi nuklir tersebut. Penggunaan radiasi
telah terjadi sejumlah kecelakaan radiasi
untuk diagnostik, terapi, dan penggunaan
dalam radioterapi di mancanegara maupun di
radiofarmaka untuk kedokteran merupakan
Indonesia yang disebabkan antara lain oleh
aplikasi teknik nuklir di bidang kesehatan
kesalahan dalam pemberian dosis dan karena
sedangkan aplikasi teknik nuklir di bidang
pengelolaan sumber bekas yang tidak sesuai
industri adalah penggunaan radiasi untuk
ketentuan.8 Oleh karena itu, pelayanan
radiografi, gauging, dan logging.
radiologi harus memperhatikan aspek
Perbandingan pemakaian untuk radiasi buatan
keselamatan kerja radiasi. Pelayanan tersebut
pada kedua bidang tersebut adalah 85 % untuk
selain memberikan manfaat juga dapat
kesehatan dan 15% digunakan untuk industri.2
menyebabkan bahaya, baik itu bagi pekerja
Salah satu penerapan teknologi nuklir
radiasi, masyarakat umum maupun
dalam bidang kesehatan atau medik adalah
lingkungan sekitar.
pelayanan radiologi. Unit Pelayanan
Pemerintah sebelumnya telah
Radiologi merupakan salah satu instalasi
menerbitkan Peraturan Pemerintah nomor 63
penunjang medik, menggunakan sumber
Tahun 2000 tentang Keselamatan dan
radiasi pengion (sinar-X) untuk mendiagnosis
Kesehatan terhadap Pemanfaatan Radiasi
adanya suatu penyakit dalam bentuk
Pengion sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal
gambaran anatomi tubuh yang ditampilkan
16 Undang-Undang No 10 tahun 2000 tentang
dalam film radiografi.3 Data statistik
Ketenaganukliran, dimana ketentuan ini
menunjukkan bahwa sekitar 50% keputusan
dipakai oleh peneliti sebelumnya Utami,9
medis harus didasarkan pada diagnosis sinar-
mengenai manajemen keselamatan radiasi di
X, bahkan untuk beberapa negara maju angka
Instalasi Radiologi RSUD Dr. H. M. Rabain
tersebut bisa lebih besar.4 Data dari Bapeten
Muara Enim tahun 2009 yang terdiri dari
dalam Kolibu,5 menyebutkan bahwa sebanyak
tujuh elemen yaitu : elemen organisasi
24 rumah sakit di Indonesia memanfaatkan
proteksi radiasi, elemen pemantauan dosis dan
radiasi untuk radiodiagnosis (pemeriksaan)
radioaktivitas, elemen peralatan proteksi
dan radioterapi (pengobatan).
radiais, elemen pemeriksaan kesehatan,
Tingginya penggunaan radiasi untuk
elemen penyimpanan dokumentasi, elemen
kegiatan medis menjadikan kegiatan medis
jaminan kualitas, dan elemen pendidikan serta
merupakan kontribusi kedua terbesar sumber
pelatihan.
radiasi yang kita terima, yaitu sebesar 20%.6
Namun berdasarkan pertimbangan
Radiasi yang berlebih dapat menyebabkan
pemerintah RI, peraturan tersebut sudah tidak
reaksi dan penyakit pada kulit berupa
sesuai lagi dengan perkembangan ilmu
kerontokan rambut dan kerusakan kulit,
pengetahuan dan teknologi yang terjadi saat
gangguan fungsi normal (seperti pneumonitis
ini yang semakin menuntut adanya jaminan
keselamatan pekerja, masyarakat serta

Simanjuntak, Camelia, Purba, Penerapan Keselamatan Radiasi pada Instalasi Radiologi ● 246
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

perlindungan terhadap lingkungan hidup dan Sedangkan yang menjadi informan adalah
keamanan sumber radioaktif, maka ditetapkan lima pekerja radiasi (radiografer).
Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 tahun
2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion HASIL PENELITIAN
dan Keamanan Sumber Radioaktif. Persyaratan Manajemen
Berdasarkan peraturan tersebut setiap instansi
Kepala Rumah Sakit yang bertugas
yang menggunakan radiasi pengion wajib
sebagai penanggung jawab keselamatan
menerapkan Keselamatan Radiasi sabagai
radiasi di instalasi radiologi RSK Paru serta
usaha pencegahan dan penanggulangan
Kepala Instalasi Radiologi dimana memiliki
kecelakaan radiasi.
tanggung jawab :
Secara hukum, Rumah Sakit Khusus
a. menyediakan, melaksanakan,
Paru telah menjadi rumah sakit, namun dalam
mendokumentasikan program proteksi
pelaksanaan operasionalnya belum dapat
keselamatan radiasi
menjangkau hal tersebut dikarenakan antara
b. memverifikasi secara sistematis bahwa
lain standar pelayanan rumah sakit belum
hanya personil yang sesuai dengan
terpenuhi.
kompetensi yang bekerja dalam
Peningkatan jumlah pelayanan
penggunaan pesawat sinar-X
kesehatan di RSK Paru sejalan dengan
c. menyelenggarakan pelatihan Proteksi
peningkatan penggunaan fasilitas pelayanan
Radiasi
radiologi sebagai fasilitas penunjang medik
d. menyelenggarakan pemantauan kesehatan
dalam pelaksanaan klinis pasien. Pelayanan
bagi Pekerja Radiasi
radiologi menggunakan radiasi pengion
e. menyediakan perlengkapan Proteksi
(sinar-X) untuk kegiatan foto rontgen.
Radiasi
Sehingga RSK Paru harus menerapkan
f. melaporkan kepada Kepala BAPETEN
Peraturan Kepala BAPETEN No.8 Tahun
mengenai pelaksanaan program proteksi
2011 tentang Keselamatan Radiasi dalam
dan keselamatan radiasi, dan verifikasi
Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi
keselamatan.
Diagnostik dan Intervensi untuk keselamatan
Kewajiban dan tanggung jawab Petugas
radiasi pada inslatasi radiologi yang
Proteksi Radiasi antara lain :
mencakup persyaratan manajemen,
a. Memberi instruksi kepada pekerja radiasi
persyaratan proteksi radiasi, persyaratan
b. Mengambil tindakan untuk menjamin
teknik, dan persyaratan verifikasi
tingkat penyinaran serendah mungkin dan
keselamatan. Untuk pemantauan
tidak akan pernah mencapai batas tertinggi
kesehatan/pemeriksaan kesehatan pada
yang berlaku serta pelaksanaan
pekerja instalasi radiologi belum optimal
pengelolaan limbah radioaktif sesuai
dilakukan sebagaimana diatur dalam
ketentuan
Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 6 Tahun
c. Mencegah perubahan yang dapat
2010 oleh pihak rumah sakit.
menimbulkan kecelakaan
d. Mencegah orang yang tidak
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
berkepentingan masuk ke daerah radiasi
Penelitian ini merupakan penelitian e. menyarankan pemeriksaan kesehatan
deskriptif dengan pendekatan kualitatif. f. Memberi penjelasan dan menyediakan
Dalam penelitian ini yang menjadi informan perlengkapan proteksi radiasi kepada
kunci adalah kepala ruangan radiologi yang pengunjung atau tamu bila diperlukan
sekaligus adalah petugas proteksi radiasi. Sedangkan kewajiban dan tanggung
jawab pekerja radiasi yaitu :

247 ● Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, Volume 4, Nomor 03 November 2013


Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

a. Mengetahui, memahami, melaksanakan lagi pengiriman, serta film badge yang


ketentuan keselamatan radiasi tersedia kurang untuk jumlah pekerja karena
b. Memanfaatkan peralatan keselamatan ada film badge yang rusak akibat terkena
radiasi yang tersedia, bertindak hati- banjir.
hati dan bekerja secara aman untuk penerapan optimisasi dan keselamatan
melindungi dirinya maupun pekerja radiasi di RSK Paru sesuai dengan peraturan
lain yang berlaku bahwa tidak ada pengulangan
c. Melaporkan setiap kejadian kecelakaan pada pemeriksaan radiologi pada pasien dan
bagaimanapun kecilnya kepada PPR telah bekerja sesuai dengan SOP, dan dosis
d. Melapor gangguan kesehatan yang radiasi yang digunakan pada orang dewasa
dirasakan, yang diduga akibat
untuk membentuk radiografi adalah sekitar
penyinaran lebih atau masuknya zat
0.06 mSv.
radioaktif ke dalam tubuhnya.
Personil atau petugas yang terkait
Persyaratan Teknik
dengan penggunaan sinar-X di instalasi
Radiologi yaitu radiografer dan petugas Pesawat sinar-X yang digunakan di
proteksi radiasi (PPR) dengan tamatan instalasi radiologi RSK Paru merupakan
minimal D3 Rontgen. pesawat sinar-X untuk pemeriksaan thorax
Pelatihan sangat dibutuhkan untuk dari tahun 1982. Oleh karena umur mesin
meningkatkan kualitas tenaga kerja dan terlalu tua dan setiap hari digunakan, maka
kualitas pelayanan namun baru ada dua orang mesin mengalami sedikit kerusakan seperti
yang mengikuti pelatihan proteksi radiasi lampu indikator sedang melakukan
termasuk kepala ruangan. pemeriksaan mati. instalasi radiologi RSK
Paru telah memiliki tiang penyangga tabung,
Persyaratan Proteksi kolimator, serta instrumentasi tegangan sesuai
Pelaksanaan radiologi kepada pasien dengan peraturan dari Bapeten No. 8 Tahun
untuk keperluan diagnostik harus diberikan 2011. bangunan instalasi radiologi RS Paru,
oleh dokter dalam bentuk surat rujukan atau pada dindingnya telah dilapisi Pb setebal 2
konsultasi. justifikasi penggunaan pesawat mm sesuai dengan peraturan Bapeten, dan ada
sinar-X di RSK Paru, pemeriksaan tanda peringatan pada luar pintu (AWAS
radiologinya berdasarkan rekomendasi dari RADIASI) serta memiliki ruang kontrol dan
dokter. Hal ini juga didukung dengan kamar gelap. Ruangan instalasi radiologi telah
observasi dimana karcis pada saat pendaftaran memenuhi standar luas ruangan minimum,
memang ada rekomendasi dari dokter. terdapat ruang tunggu, kamar gelap dan ruang
Limitasi dosis pada pekerja instalasi ganti pasien, ada tanda bahaya di pintu masuk.
radiologi di RSK Paru masih dibawah NBD
Verifikasi Keselamatan
yaitu 10 mrem. Selain itu juga paparan nol
terhadap masyarakat sekitar. Pekerja instalasi Pemantauan paparan radiasi dilakukan
radiologi juga menggunakan film badge oleh pihak rumah sakit terhadap fasilitas dan
ketika bekerja,akan tetapi tidak semua pekerja ruangan-ruangan pada instalasi radiologi di
menggunakannya. Mengenai pelaporan film RSK Paru. telah dilakukan uji kesesuaian
badge, tidak dilakukan secara kontinyu sesuai pesawat sinar X oleh pemegang izin pada
dengan peraturan Bapeten yang berlaku. tahun 1994.
Pelaporan film badge terkhir dilakukan pada Identifikasi paparan potensial dilakukan
tahun 2009. Hal ini dikarenakan adanya dengan mempertimbangkan kemungkinan
hambatan dalam hal biaya untuk mengirim kecelakaan sumber atau kegagalan peralatan
film badge tersebut, sehingga tidak dilakukan yang mungkin terjadi serta kesalahan

Simanjuntak, Camelia, Purba, Penerapan Keselamatan Radiasi pada Instalasi Radiologi ● 248
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

operasional. Mengenai identifikasi paparan Pemegang izin dalam keselamatan


potensial dan paparan darurat didapat bahwa radiasi di RSK Paru Provinsi Sumatera
pesawat Sinar-X yang digunakan di instalasi Selatan adalah pihak RSK Paru Provinsi
radiologi RSK Paru sudah sangat tua, Sumatera sendiri dengan Kepala Rumah Sakit
sehingga sekarang wajar jika mengalami sebagai penanggung jawab dan personil yang
kegagalan seperti lampu indikator mati dan terkait langsung dalam pelaksanaan radiologi
perlu dilakukan identifikasi paparan potensial tersebut adalah Kepala Ruangan/PPR.
oleh pihak RSK Paru agar paparan tidak Personil atau petugas yang ada di
berkembang menjadi paparan darurat. Dari instalasi tersebut berjumlah 6 orang, yaitu 1
hasil observasi, terlihat memang lampu orang Kepala Ruangan/PPR dengan latar
indikator tidak menyala semestinya dan belakang S1 Kesehatan Masyarakat, 4 orang
memang belum ada dilakukan identifikasi radiografer (D3 rontgen), dan 1 orang
paparan radiasi oleh pihak RSK Paru setelah administrasi di Instalasi Radiologi RSK Paru
dilaporkan adanya kegagalan pada pesawat Provinsi Sumatera Selatan. Jumlah dokter
sinar-X di instalasi radiologi RSK Paru. spesialis radiologi nuklir yang dibutuhkan
tergantung pada jumlah rumah sakit yang
Pemantauan Kesehatan Pekerja Radiasi memiliki peralatannya. Menurut peraturan
Pemeriksaan kesehatan merupakan hal yang berlaku, tiap rumah sakit yang memiliki
yang penting dilakukan untuk memantau alat-alat kedokteran nuklir harus punya 1
kondisi kesehatan radiografer. dokter spesialis radiologi nuklir. Untuk
pemeriksaan/pemantauan kesehatan terhadap wilayah Indonesia yang begitu besar, Dr
radiografer di instalasi radiologi RSK Paru Kardinah menilai 30 orang dokter spesialis
belum dilaksanakan secara maksimal. Pekerja radiologi nuklir masih kurang. Itu berarti
radiografer telah memiliki kartu kesehatan belum semua provinsi memilikinya, padahal
PNS dan pernah melakukan check up, namun idealnya tiap provinsi harus punya minimal 1
belum pernah dilakukan pemeriksaan khusus dokter yang kompeten mengurusi nuklir.11
untuk radiografer oleh pihak rumah sakit, Pelatihan proteksi radiasi diperoleh
sehingga pemantauan kesehatan belum informasi bahwa pelatihan yang pernah diikuti
optimal. oleh radiografer yaitu proteksi radiasi.
Menurut Jumpeno,12 PPR harus
PEMBAHASAN memiliki sertifikat pelatihan proteksi radiasi
Persyaratan Manajemen dan mampu memberikan instruksi yang benar
Kepala Rumah Sakit sebagai pimpinan tentang proteksi radiasi kepada pekerja
di atas Kepala Ruangan Instalasi Radiologi radiasi. PPR harus memiliki SIB melalui ujian
bertugas sebagai penanggung jawab PPR yang diselenggarakan oleh Badan
keselamatan radiasi. Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Menurut Permana,10 penanggung jawab Menurut Sofyan,4 Pembinaan dan
keselamatan radiasi adalah pemegang izin dan pengembangan sumberdaya manusia adalah
pihak yang terkait dengan pelaksanaan syarat mutlak dalam rangka mendukung
pemanfaatan nuklir yaitu Petugas Proteksi upaya pemanfaatan tenaga nuklir dengan
Radiasi (PPR), dan pekerja radiasi. tingkat keselamatan yang tinggi.
Pemegang Izin harus menyediakan
Persyaratan Proteksi Radiasi
personil sebagaimana di dalam Peraturan
BAPETEN No.8 Tahun 2011 Pasal 11b, RSK Paru Provinsi Sumatera Selatan
sesuai dengan jenis pesawat sinar-X yang pada Instalasi Radiologi, bahwa semua
digunakan dan tujuan penggunaan. kegiatan radiologi dilakukan untuk

249 ● Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, Volume 4, Nomor 03 November 2013


Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

pemeriksaan kesehatan berdasarkan rujukan Persyaratan Teknik


dari dokter spesialis paru. Instalasi Radiologi RSK Paru Provinsi
Menurut Peraturan Kepala BAPETEN Sumatera Selatan didapat informasi bahwa
No. 8 Tahun 2011 dimana justifikasi pesawat sinar-X yang digunakan saat ini
pemberian paparan radiasi kepada pasien utnuk pemeriksaan foto thorax yaitu x-ray
untuk keperluan diagnostik atau Thomography Hitachi tahun 1982. Pesawat
intervensional harus diberikan oleh Dokter sinar-X untuk micro foto dan bronchography
atau Dokter Gigi dalam bentuk surat rujukan telah mengalami kerusakan sehingga tidak
atau konsultasi. digunakan lagi sekarang.
Di Instalasi Radiologi RSK Paru Pesawat Sinar-X paling kurang terdiri
Provinsi Sumatera Selatan diperoleh informasi atas komponen utama yaitu : tabung,
bahwa dosi yang diterima oleh pekerja radiasi pembangkit tegangan tinggi, panel kontrol,
di Instalasi Radiologi tersebut yaitu 10mrem dan/atau perangkat lunak.13
dan untuk masyarakat paparannya nol. instalasi radiologi RSK Paru telah
Menurut Peraturan Kepala BAPETEN memiliki tiang penyangga tabung, kolimator,
No.8 Tahun 2011 mengenai limitasi dosis serta instrumentasi tegangan sesuai dengan
untuk pekerja radiasi dosis efektif rata-rata peraturan dari Bapeten No. 8 Tahun 2011, dan
dalam satu tahun yaitu 50 mSv (milisievert) observasi yang dilakukan di Instalasi
dan bagi masyarakat dosis efektif yaitu 1 mSv Radiologi RSK Paru Sumatera Selatan.
dalam waktu satu tahun. Instalasi Radiologi RSK Paru Provinsi
Sama halnya dengan yang Sumatera Selatan, syarat konstruksinya telah
dikemukakan oleh Surat Keputusan Kepala mengikuti persyaratan konstruksi dari
Bapeten nomor 01/Ka-Bapeten/V-99 tentang Bapeten, dinding instalasi radiologi dilapisi
Kesehatan Terhadap Radiasi Pengion, nilai dengan Pb, memiliki ruang pemeriksaan dan
batas dosis (NBD) bagi pekerja radiasi yaitu ruang kontrol yang terpisah, begitupun dengan
di bawah 50 mSv per tahun atau 5000 mrem kamar gelap. serta memiliki tanda ‘AWAS
per tahun. Sedangkan nilai batas dosis untuk RADIASI’ pada pintu masuk ruangan.
masyarakat umum adalah di bawah 5 mSv per Menurut Soedardjo,14 khusus untuk
tahun atau 500 mrem per tahun. pesawat sinar-X tanda-tanda peringatan harus
Terakhir kali Instalasi Radiologi RSK beroperasi secara otomatis. Selain itu perlu
Paru mengirimkan film badge ke Batan untuk penjelasan tertulis yang berkaitan dengan
diukur dosis radiasi pada pekerja yaitu tahun tanda-tanda peringatan tersebut. Misalnya ...
2009. Alasan belum dilakukan pengiriman lampu berkedip-kedip berwarna merah yang
lagi karena hambatan biaya/pencairan dana menyatakan pesawat sinar-X sedang
dari pusat. Pelaporan yang tidak secara dioperasikan. Selain itu perlu tanda-tanda di
kontinyu dilakukan akan mendapatkan sanksi daerah tertentu misalnya “AWAS BAHAYA
administratif berupa peringatan tertulis, RADIASI, JANGAN LEWAT” dalam
kemudian penghentian sementara, dan bahasa lokal dan akan lebih baik ditambah
memungkinkan untuk pencabutan izin. dengan bahasa asing lainnya yang sering di
Para pekerja radiasi telah bekerja sesuai gunakan di daerah tersebut.
dengan SOP yang ada dan berusaha untuk Unit Radiologi yang terdapat pada
tidak melakukan pengulangan pada foto rumah sakit membutuhkan beberapa ruang
rontgen agar tidak terjadi paparan berlebih. utama yaitu ruang penyinaran, ruang operator,
Menurut Peraturan Kepala BAPETEN kamar gelap, ruang sanitasi, ruang baca film
No.8 Tahun 2011, setiap pekerja radiasi yang dan ruang perencanaan dosis. Selain ruang
melaksanakan pemeriksaan radiologi harus utama diperlukan pula ruang administrasi
mencegah tejadinya pengulangan paparan.

Simanjuntak, Camelia, Purba, Penerapan Keselamatan Radiasi pada Instalasi Radiologi ● 250
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

yang mencakup antara lain ruang tata usaha, radiasi melainkan pemeriksaan kesehatan
ruang tunggu pasien, ruang kerja dokter, dan untuk Pegawai Negeri sipil secara umum.
lain sebagainya.15 Menurut Tetriana,16 untuk menjamin
keselamatan dalam penggunaan radiasi
Verifikasi Keselamatan pengion, perlu diterapkan sistem pengawasan
Instalasi Radiologi RSK Paru Provinsi kesehatan/keselamatan pekerja radiasi yang
Sumatera Selatan bahwa pemantauan paparan ketat meliputi pengawasan dosis radiasi dan
radiasi tidak dilakukan secara kontinyu oleh pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi
pihak rumah sakit. tahunan.
Untuk menjamin keselamatan radiasi Masih menurut Tetriana,16 pemeriksaan
dari adanya kegiatan perlu adanya program kesehatan ini pada prinsipnya sama seperti
pengendalian daerah kerja dari paparan radiasi halnya di tempat kerja lainnya, tetapi harus
gamma yang intensif terhadap personil dan disertakan aspek-aspek yang merefleksikan
daerah kerja berdasarkan atas prinsip ALARA efek kesehatan spesifik pada pekerja radiasi.
(As Low Reasonably Achievable). Pemeriksaan kesehatan meliputi anamnesis
Di Instalasi Radiologi RSK Paru riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan
Provinsi Sumatera Selatan mengenai uji pemeriksaan pendukung antara lain rontgen
kesesuaian pesawat sinar-X telah dilakukan dan pemeriksaan laboratorium. Riwayat
oleh pemegang izin yaitu pihak RSK Paru. kesehatan meliputi riwayat penyakit keluarga,
pihak rumah sakit telah melakukan uji penyakit pekerja radiasi itu sendiri dan
kesesuaian dimana pesawat sinar-X yang riwayat pekerjaan. Pemeriksaan fisik
digunakan adalah pesawat untuk foto thorax mencakup keadaan umum seperti tekanan
sesaui yang diatur dalam peraturan Bapeten. darah, nadi, pernafasan, kesadaran, kulit,
RSK Paru Provinsi Sumatera Selatan mata, mulut, THT, kelenjar tiroid, paru-paru,
didapat informasi bahwa identifikasi paparan jantung, saluran pencernaan, hati, ginjal,
belum dilakukan oleh pihak rumah sakit sistem genital serta pemeriksaan syaraf dan
terkait dengan adanya kemungkinan jiwa. Sedangkan pemeriksaan laboratorium
kegagalan pada pesawat sinar-X yang meliputi pemeriksaan darah rutin, kimiawi
berumur terlalu tua. Menurut Jumpeno,12 darah yang bertujuan untuk mengetahui
jaminan kualitas adalah suatu rangkaian keadaan umum dan khusus dari metabolisme
tindakan yang sistematik dan terencana yang tubuh terutama yang berhubungan dengan
diperlukan untuk memperoleh keyakinan paparan radiasi. Selain itu pemeriksaan
bahwa struktur, sistem dan komponen laboratorium juga mencakup pemeriksan
instalasi radiografi akan berfungsi secara kromosom, dan analisis sperma. Frekuensi uji
memuaskan. Memuaskan berarti terpenuhinya berkala seharusnya minimal sekali dalam
persyaratan kehandalan, ketersediaan, setahun, bergantung pada umur dan kesehatan
kemudahan pemeliharaan, keselamatan dan pekerja, sifat tugas, dan tingkat pajanan
keamanan. terhadap radiasi. Hasil pemeriksaan dicatat
dalam kartu kesehatan yang merupakan
Pemantauan Kesehatan Pekerja Radiasi catatan berisi informasi mengenai keadaan
Dari hasil penelitian yang dilakukan di kesehatan pekerja radiasi termasuk lampiran
Instalasi Radiologi RSK Paru Provinsi hasil pemeriksaan seperti rontgen dan hasil
Sumatra Selatan didapat informasi bahwa laboratorium.
pemeriksaan kesehatan yang pernah dilakukan
bukan pemeriksaan khusus untuk pekerja

251 ● Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, Volume 4, Nomor 03 November 2013


Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

KESIMPULAN DAN SARAN landasan tugas dan tanggung jawab


1. Dari persyaratan manajemen berdasarkan masing-masing petugas proteksi radiasi
Peraturan Kepala Bapeten No.8 Tahun (PPR) dan radiografer yang ditunjuk dan
2011, yang bertanggung jawab terhadap ditandatangani oleh direktur.
keselamatan radiasi Instalasi Radiologi 2. Membiasakan diri memakai film badge
RSK Paru Provinsi Sumatera Selatan saat bekerja dan memelihara hasil
adalah pemegang izin yaitu pihak rumah pemantauan dosis pekerja dan bila
sakit. Personil yang berada di Instalasi memungkinkan membuat kartu dosis
Radiologi RSK Paru Provinsi Sumatera untuk semua personel untuk lebih
Selatan antara lain Kepala Ruangan/PPR, memudahkan pemantauan dosis tiap
dan radiografer sesuai dengan latar bulannya serta melakukan kerja sama dan
pendidikan masing-masing. koordinasi dengan pihak RS dalam hal
2. Dari persyaratan proteksi berdasarkan pengawasan perlindungan radiasi dengan
Peraturan Kepala Bapeten No.8 Tahun membuat laporan pemantauan dosis agar
2011, justifikasi penggunaan pesawat tercipta safety behaviour.
sinar-X pada Instalasi Radiologi RSK Paru 3. Pemeliharan terhadap peralatan proteksi
Provinsi Sumatera Selatan yaitu radiasi agar selalu dalam keadaan
berdasarkan rujukan dari dokter spesialis memadai, baik fisik maupun fungsi dengan
paru. melakukan perawatan dan kalibrasi sesuai
3. Dari persyaratan teknik, pada pesawat spesifikasi peralatan serta melakukan kerja
sinar-X di Instalasi Radiologi RSK Paru sama dan koordinasi dengan pihak RS
Provinsi Sumatera Selatan menggunakan dalam hal inventaris dan pemantauan cara
pesawat Hitachi Xray Thomography tahun pemakaian alat perlindungan diri (APD)
1982. Sedangkan untuk peralatan yang benar sebagai usaha proteksi radiasi.
penunjang pesawat sinar-X 4. Pihak RSK Paru segera menerbitkan
kelengkapannya sesuai dengan peraturan kebijakan tentang manajemen keselamatan
yang berlaku. radiasi terutama mengenai pengiriman film
Saran dari penelitian ini adalah sebagai badge secara rutin tiap bulan sekali ke
berikut: BATAN, serta mengadakan pemeriksaan
1. Perlu segera dibentuk Struktur dan Tata kesehatan secara khusus bagi pekerja
Kerja Organisasi Proteksi Radiasi sebagai radiasi.

DAFTAR PUSTAKA http://www.blogdetik.com. 2002. [20


September 2012].
1. Trikasjono, T., Supriyatni, Elizabeth & 3. Maryanto, Djoko., Solichin dan Abidin,
Budiyono, Hendarto.’Studi Penerimaan Zaenal. ’Analisis Keselamatan Radiasi
Dosis Eksterna Pada Pekerja Radiasi di Pesawat Sinar X di Unit Radiologi RSU
Kawasan Batan Yogyakarta’, in Seminar Kota Yogyakarta’, in Seminar Nasional
Nasional IV SDM Teknologi Nuklir. IV SDM Teknologi Nuklir. [Online],
[Online], Yogyakarta, 25-26 Ags. Yogyakarta, 25-26 Ags. Sekolah Tinggi
Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir- Teknologi Nuklir-BATAN, DIY. Dari :
BATAN, DIY. Dari : http:// jurnal.sttn- http:// jurnal.sttn-batan.ac.id. 2008. [12
batan.ac.id. 2008. [1 Juni 2013]. September 2012].
2. Iskandar, Eddy Rumhadi. Keselamatan 4. Sofyan, Hasnel., Akhadi, Mukhlis &
Kerja Dalam Pelayanan Radiodiagnostik Suyati. ’Budaya Keselamatan Dalam
Di Laboratorium Radiologi Jurusan Pemanfaatan Radiasi Di Rumah Sakit’,
Teknik Radiodiagnostik Dan Radioterapi. Buletin ALARA [Online] vol. 4 (Edisi
[Online], Jakarta. Dari Khusus) Agustus 2002. Dari :

Simanjuntak, Camelia, Purba, Penerapan Keselamatan Radiasi pada Instalasi Radiologi ● 252
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat

http://www.batan-bdg.go.id. 2002. [18 Jakarta. Dari: id.scribd.com. 2010. [3


September 2012]. Juni 2013].
5. Kolibu, Hesky Stevy. Keselamatan dan 11. Pramudiarja, Uyung. Indonesia Cuma
Kesehatan Kerja di Instalasi Punya 30 Dokter Ahli Spesialis
Radiodiagnostik [Makalah]. Teknik Radiologi. [Online]. Dari:
Fisika Institut Teknologi Bandung , healthdetik.com. 2011. [10 Juni 2013]
Bandung. [Online]. Dari.: 12. Jumpeno, Eko Budi. Program Proteksi
http://energy.tf.itb.ac.id. 2008. [11 Radiasi Bidang Radiografi Industri Di
September 2012]. Pusdiklat Batan.Widyanuklid Volume 3
6. Kurnia Endang. Pengendalian dan No.2, Agustus 2000. 2000.
Keselamatan Radiasi, [Online]. Dari : 13. Badan Pengawas Tenaga Nuklir.
http://www.batan-bdg.go.id. 2006. [18 Peraturan Kepala Badan Pengawas
September 2012]. Tenaga Nuklir Nomor 8 Tahun 2011
7. Pusat Data & Informasi Persatuan Tentang Keselamatan Radiasi
Rumah Sakit Seluruh Indonesia. RS Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan
Nasional Rawan Kecelakaan Nuklir. Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik
[Online], Jakarta. dan Intervensional. Jakarta. 2011.
Dari:http//www.pdpersi.co.id. 2003. 14. Soedardjo. ’Penahan Radiasi Sinar–X
8. Badan Tenaga Nuklir Nasional. Untuk Keperluan Radiodiagnostik Suatu
‘Pengenalan Radiasi’ [e-learning]. Pusat Puskesmas’, Buletin ALARA [Online]
Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Vol.3 Nomor 1/2, Agustus/Desember
Nuklir Nasional, Jakarta. Dari : 1999. Dari : http://www.batan-bdg.go.id.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearnin 1999. [18 September 2012].
g/. 2002. [20 September 2012]. 15. Tata Cara Perencanaan dan
9. Utami, Rian. Analisi Manajemen Perancangan Bangunan Radiologi di
Keselamatan Radiasi pada Instalasi Rumah Sakit. SNI 03-2395-1991.
Radiologi RSUD Dr. H. M. Rabain [Online]. [1 Juni 2013].
Kabupaten Muara Enim tahun 2009, 16. Tetriana, Devita., Evalisa, Maria. ‘Sangat
[Skripsi]. Fakultas Kesehatan Masyarakat Penting, Pemeriksaan Kesehatan Pekerja
Universitas Sriwijaya, Palembang. 2009. Radiasi’. Buletin ALARA [Online], Vol.7
10. Permana, Kilat. Ketentuan Keselamatan Nomor 3, April 2006, p.93-101. Dari :
dan Keamanan Radiasi. [Online], http://www.batan-bdg.go.id. 2006. [1
September 2013].

253 ● Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, Volume 4, Nomor 03 November 2013

Оценить