You are on page 1of 2

Rani Mutrika 1710711045

Gangguan Pada Jantung

Ada begitu banyak jenis dan golongan narkoba sehingga mekanisme efek yang timbul pada
jantung pun dapat berbeda-beda. Namun, secara umum penyalahgunaan narkoba dapat
menimbulkan berbagai masalah pada sistem jantung dan pembuluh darah di seluruh tubuh, mulai
dari gangguan irama jantung hingga serangan jantung.

Bahkan, penggunaan narkoba jenis suntik dapat menyebabkan penyempitan pada pembuluh
vena, infeksi bakteri di peredaran darah dan juga katup jantung.

 Narkoba jenis psikostimulan

Penggunaan narkoba jenis psikostimulan, seperti kokain, amfetamin, metamfetamin (sabu-sabu),


dan ekstasi dapat memberikan stimulasi pada sistem saraf simpatik yang dapat mengatur
pengeluaran adrenalin dan respons “fight or flight” (naluri tubuh untuk menghadapi ancaman
atau melarikan diri).

Narkoba jenis ini dapat memberikan efek peningkatan frekuensi denyut jantung (takikardia),
irama jantung tidak teratur (aritmia), penyempitan pembuluh darah, dan peningkatan tekanan
darah (hipertensi). Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan aliran darah
ke otot jantung yang dapat berujung serangan jantung.

Selain itu, penggunaan jangka panjang narkoba jenis psikostimulan dapat menyebabkan
ketegangan pada otot jantung. Kondisi ini dapat berakhir pada gangguan suplai oksigen ke organ
jantung. Pada akhirnya, jantung tidak dapat menyuplai darah yang kaya nutrisi dan oksigen ke
seluruh tubuh.

 Narkoba jenis opioid

Penggunaan narkoba jenis opioid, seperti heroin dan kodein, akan memberikan efek penurunan
kerja sistem saraf simpatis dan peningkatan kerja sistem saraf parasimpatis.

Sistem saraf parasimpatis mengatur rest and digest (proses istirahat dan mencerna) berbagai
organ tubuh. Pada jantung dapat menimbulkan penurunan tekanan darah secara abnormal
(hipotensi), menurunnya frekuensi denyut jantung (bradikardia), dan aritmia.

Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, tentu dapat memaksakan fungsi kerja jantung
menjadi tidak sesuai kemampuannya.

 Narkoba jenis ganja

Penggunaan narkoba jenis ganja dapat menimbulkan efek yang beragam pada jantung –
tergantung dari jumlah yang digunakan. Efek yang ditimbulkan adalah dapat meningkatkan
tekanan darah dan frekuensi jantung pada dosis rendah atau sedang.

Sedangkan, pada dosis yang tinggi ganja dapat merangsang kerja sistem saraf parasimpatis yang
berujung pada penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Pada pengguna ganja,
didapatkan pula kasus penyakit jantung koroner yang sebenarnya berhubungan pula dengan
gangguan suplai oksigen ke jaringan otot jantung.

Pada kasus yang jarang, ganja dapat mencetuskan serangan jantung, terutama 1 jam setelah
dikonsumsi.

Kemampuan kognitif menurun

Hampir semua narkoba bisa berdampak buruk bagi otak dan kemampuan kognitifnya, seperti
ekstasi yang membuat orang kehilangan ingatan dalam jangka waktu lama, tidak mampu
berpikir, ekstasi membuat sulit konsentrasi, ganja menyebabkan gangguan persepsi dan berpikir,
serta shabu yang menyebabkan gangguan saraf.
Otak menggunakan sejumlah senyawa neurokimiawi sebagai pembawa pesan untuk komunikasi
berbagai beagian di otak dan sistem syaraf. Senyawa neurokimiawi ini, dikenal sebagai
neurotransmiter, sangat esensial bagi semua fungsi otak. Sebagai pembawa pesan, mereka datang
dari satu tempat dan pergi ke tempat lain untuk menyampaikan pesan-pesannya. Bila satu sel
syaraf (neuron) berakhir, di dekatnya ada neuron lainnya. Satu neuron mengirimkan pesan
dengan mengeluarkan neurotrasmiter menuju ke dendrit neuron di dekatnya melalui celah
sinaptik, ditangkap reseptor-reseptor pada celah sinaptik tersebut (Steiger, 2011).
Narkoba merupakan bahan-kimia yang menepuk sistem komunikasi otak dan meniru atau
mengganggu cara-cara sel saraf mengirim, menerima, dan memproses informasi secara normal.
Beberapa zat psikoaktif, seperti ganja dan heroin, dapat mengaktifkan neuron-neuron karena
struktur kimiawi mereka menyerupai neurotransmiter alami. Kemiripan struktur kimia ini dapat
mengelabuhi reseptor dan membiarkan zat psikoaktif ini mengunci dan mengaktifkan sel saraf.
Sementara itu, neurotransmiter-neurotransmiter alami dihalangi untuk berkomunikasi dengan sel
neuron. Meski zat psikoaktif ini menyerupai bahan kimiawi di dalam otak, mereka tidak
mengaktifkan sel saraf dengan cara yang sama seperti neurotransmiter alami, dan mereka
memancarkan pesan-pesan abnormal dalam jaringan otak. Zat psikoaktif lain, seperti amfetamin
atau kokain, dapat menyebabkan sel-sel syaraf melepaskan sejumlah besar neurotransmiter-
neurotransmiter alami atau mencegah pengambilan kembali (reuptake) bahan-kimia otak ini.
Gangguan pada sistem neurotransmiter ini menyebabkan terganggunya fungsi kognitif (Kapeta,
2013).