You are on page 1of 5

Gambaran Resiko Terjadinya Ulkus Dekubitus pada Lansia

di UPT PSTW Jember Kabupaten Jember Tahun 2019

(Risk Overview of Decubitus Ulcers in the Elderly


In UPT PSTW Jember, Jember Regency)

Hanny Rasni*, Suswita Ismail*, Wardhatul Asfiah*, Dinar Maulida Herdanesia*


*Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan
Universitas Jember

Jl. Kalimantan 37 Kampus tegal Boto Jember Telp./Fax. (0331) 323450


Email: hannyrasni@yahoo.co.id

ABSTRAK
Pendahuluan: ulkus dekubitus adalah kerusakan jaringan setempat pada kulit dan atau
jaringan dibawahnya akibat tekanan atau kombinasi antara tekanan dengan pergeseran
(shear), pada bagian tubuh (tulang) yang menonjol. Proses menua merupakan proses yang
terus menerus atau berkelanjutan secara alamiah dan umumnya dialami oleh semua makhluk
hidup. Lansia dengan penurunan fungsi-fungsi fisiologis, penurunan fungsi psikologis, dan
mengalami penyakit kronis bisa saja mengalami tirah baring yang lama
Metode: peneliti menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu penghuni UPT PSTW Jember Kabupaten Jember
sebanyak 138 orang. Sampel pada penelitian ini menggunakan kuota sampling yaitu sebanyak
78 orang lansia.
Hasil: Lansia di UPT PSTW Jember Kabupaten Jember banyak yang tidak berisiko
terjadinya ulkus dekubitus dengan jumlah 65 lansia (83,3%).
Kesimpulan dan saran: Hasil Penelitian terkait gambaran norton scale pada lansia di UPT
PSTW Jember Kabupaten Jember menunjukkan bahwa paling banyak data yaitu responden
tidak berisiko terkena ulkus dekubitus. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat
meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi ulkus dekubitus.

Kata kunci: Lansia, Norton Scale, Ulkus Dekubitus

ABSTRACT
Pendahuluan
Proses menua merupakan proses yang terus menerus atau berkelanjutan
secara alamiah dan umumnya dialami oleh semua makhluk hidup. Secara fisik,
lansia mengalami perubahan organobiologik, degenerasi atau penuaan organ
tubuh, kapasitas dan fungsi-fungsi organ tubuh menurun disertai dengan
meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian (Aritonang, et al 2018).
Hasil proyeksi penduduk 2010-2035, Indonesia akan memasuki periode lansia
(ageing), dimana 10% penduduk akan berusia 60 tahun ke atas di tahun 2020
(Infodatin, 2016). Berdasarkan data CIA World Factbook (2016) Indonesia
merupakan negara ke-empat dunia dengan jumlah penduduk terbanyak setelah
China, India, Amerika Serikat. Menurut United Nations, pada tahun 2013 populasi
penduduk lansia Indonesia yang berumur 60 tahun atau lebih berada pada urutan
108 dari seluruh negara di dunia. Memang pada saat itu, populasi lansia di
Indonesia masih dikategorikan belum terlalu besar. Namun diprediksikan pula
bahwa di tahun 2050, Indonesia akan masuk menjadi sepuluh besar negara dengan
jumlah lansia terbesar, yaitu berkisar 10 juta lansia. Lansia dengan penurunan
fungsi-fungsi fisiologis, penurunan fungsi psikologis, dan mengalami penyakit
kronis bisa saja mengalami tirah baring yang lama (United Nations, 2013)
Tirah baring yang lama pada lansia mengakibatkan lansia berisiko tinggi
ulkus dikubitus. Ulkus dekubitus adalah kerusakan jaringan setempat pada kulit
dan atau jaringan dibawahnya akibat tekanan, atau kombinasi antara tekanan
dengan pergeseran (shear), pada bagian tubuh (Tulang) yang menonjol. Ulkus
dekubitus menandakan telah terjadi nekrosis jaringan lokal, sering terjadi pada
bagian tubuh yang menonjol, misalnya sakrum, tuberositas iskialgia, trokanter,
tumit. Ulkus dekubitus sering disebut sebagai ischemic ulcer, Pressure Ulcer,
Pressure sore, bed sore, decubital ulcer (Abdullah, et al, 2016). Di negara maju,
presentase terjadinya decubitus mencapai sekitasr 11% dan terjadi dalam dua
minggu pertama perawatan. Prevalensi ulkus decubitus stadium II atau lebih pada
pasien rawat akut di rumah sakit berkisar antara 3 sampai 11 persen, dengan
insidensi selama perawatan di rumah sakit antara 1-3 persen. Pada pasien yang
diperkirakan harus berbaring atau duduk selama paling tidak 1 minggu, prevalensi
ulkus stadium II atau lebih meningkat hingga 28 persen, dengan insidensi selama
perawatan berkisar antara 7 dan 29,5 persen. Ulkus dekubitus umumnya terjadi
pada 2 minggu pertama perawatan di rumah sakit, dan pada pasien yang
mengalami ulkus, 54 persennya timbul setelah masuk rumah sakit. Prevalensi
ulkus dekubitus pada lanjut usia yang dirawat di panti werdha dilaporkan sama
dengan yang ada di rumah sakit (Martono, et al, 2015)
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Gambaran Resiko Terjadinya Ulkus Dekubitus pada
Lansia di UPT PSTW Jember Kabupaten Jember”

METODE
Pada penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian deskriptif
analitik dengan pendekatan cross sectional yang pengukuran variabelnya diukur
dan dikumpulkan sekaligus dalam satu kali waktu (Notoatmodjo, 2010). Peneliti
melakukan pengambilan data dengan variabel Ulkus Dekubitus. Penelitian ini
menggambarkan mengenai tingkat resiko terjadinya ulkus dekubitus pada lansia
dan karakteristik pasien yang berada di UPT PSTW Jember Kabupaten Jember
yang menjadi responden. Populasi pada penelitian ini yaitu penghuni UPT PSTW
Jember Kabupaten Jember sebanyak 138 orang. Sampel pada penelitian ni
menggunakan kuota sampling yaitu sebanyak 78 orang. Kriteria inklusi: lansia
yang bersedia menjadi responnden, dan kriteria ekslusi: lansia dengan gangguan
intelektual berat; tidak mampu berkomunikasi; dan lansia yang tidak kooperatif.
Analisa data penelitian ini meliputi analisa univariat. Tujuan dari analisa
univariat adalah untuk mendreskripsikan karakteristik setiap variabel yang diteliti
(Hastono, 2007). Analisa data disajikan menggunakan distribusi frekuensi dalam
bentuk presentase dan narasi meliputi karakteristik responden serta gambaran
resiko terjadinya ulkus dekubitus.

HASIL
Karakteristi Responden
Tabel 1. Distribusi karakteristik responden meliputi jenis kelamin, status
pernikahan, tingkat pendidikan, dan Wisma
Variabel Jumlah (n) Presentase (%)
1. Jenis Kelamin
a. Laki-laki 33 42,3
b. Perempuan 45 57,7
Total 78 100
2. Status pernikahan
a. Menikah 11 14,1
b. Belum Menikah 11 14,1
c. Cerai 11 14,1
d. Cerai mati 45 57,7
Total 78 100
3. Tingkat Pendidikan
a. Tidak tamat SD 36 46,2
b. SD 28 35,9
c. SLTP/SMP 6 6,4
d. SLTA/SMA 9 11,5
Total 78 100
4. Wisma
a. Mawar 13 16,7
b. Melati 6 7,7
c. Sedap malam 9 11,5
d. Seroja 6 7,7
e. Teratai 10 12,8
f. Cempaka 10 12,8
g. Sakura 9 11,5
h. Seruni 6 7,7
i. Dahlia 9 11,5
Total 78 100
Tabel 1. Menunjukkan bahwa pada variabel jenis kelamin menunjukkan
lebih banyak responden perempuan dibandingkan dengan laki-laki yaitu sebanyak
45 orang (57,7%). Status pernikahan lebih banyak status cerai mati sebanyak 45
orang (57,7%). Tingkat pendidikan menunjukkan paling banyak pada tingkat
tidak tamat SD sebanyak 36 orang (46,2%). Wisma responden paling banyak
yaitu berada di wisma mawar sebanyak 13 orang (16,7%).
Hasil Norton Score
Variabel Jumlah (n) Presentase (%)
Norton Score
a. Tidak Berisiko 65 83,3
b. Berisiko Sedang 7 9
c. Peningkatan Resiko 4 5,1
d. Resiko Tinggi 2 2,6
Total 78 100
Tabel 2. menunjukkan nilai rata-rata Norton Score di UPT PSTW Jember
pada 78 orang adalah 1 yang berarti klien di UPT PSTW Jember rata-rata tidak
berisiko terjadinya ulkus dekubitus, didapatkan data bahwa hasil terjadinya ulkus
dekubitus tidak berisiko yaitu sebanyak 65 orang, klien berisiko rendah terjadinya
ulkus dekubitus sebanyak 7 orang, klien dengan peningkatan resiko 50%
terjadinya ulkus dekubitus ada 4 orang dan resiko tinggi terjadinya ulkus
dekubitus sebanyak 2 orang.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap variabel jenis kelamin, status
pernikahan, tingkat pendidikan, dan wisma lansia. Responden lebih besar berjenis
kelamin perempuan sebesar 57,7%. Paling banyak responden berada di wisma
Mawar, wisma Mawar adalah wisma khusus lansia parsial yaitu lansia yang
membutuhkan bantuan saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Nilai mean Norton Score pada lansia yang berada di UPT PSTW Jember
di dapat data sebesar Lansia di PSTW Jember Kabupaten Jember banyak yang
tidak beriko terjadinya ulkus dekubitus dengan jumlah 65 orang (83,3%). Hal
tersebut dikarenakan lansia yang berada di PSTW Jember Kabupaten Jember
memiliki kondisi fisik yang baik, kesadaran composmentis, aktivitas: ambulasi,
mobilitas: bergerak bebas, dan pola eliminasi urin normal.
Dekubitus adalah kerusakan jaringan setempat pada kulit dan atau jaringan
dibawahnya akibat tekanan atau kombinasi antara tekanan dengan pergeseran
(shear), pada bagian tubuh (tulang) yang menonjol. Ulkus dekubitus menandakan
telah terjadi nekrosis jaringan lokal, sering terjadi pada bagian tubuh yang
menonjol, misalnya sakrum, tuberositas iskialdial, trocarter, tumit (Abdullah et al.
2016)

SIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Hasil Penelitian terkait gambaran norton scale pada lansia di UPT PSTW
Jember Kabupaten Jember menunjukkan bahwa paling banyak responden tidak
berisiko terkena ulkus dikubitus. Responden pada penelitian ini paling banyak
adalah wanita.
Saran
Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan meneliti faktor-faktor yang
mempengaruhi ulkus dekubitus. Saran untuk UPT PSTW Jember diharapkan
untuk lebih memperhatikan para lanisa agar dapat mengurangi ulkus dikubitus.

KEPUSTAKAAN
Abdullah,et al. 2016. Proceeding the 7th Aceh Internal Medicine
Symposia (AIMS). Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.
Aritonang, et al. 2018. Korelasi Tingkat Kebermaknaan Hidup Dengan
Depresi padaLansia di Posyandu Lansia Padukuhan Soropadan, Sleman,
Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.
CIA World Factbook. 2016. Sepuluh Negara dengan Jumlah Penduduk
Terbanyak di Dunia. https:// www.cia.gov/library/publication s/the-world-
factbook/geos/id. html.
Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2016.
Situasi Lanjut Usia (Lansia) di Indonesia. Report.
Martono, et al. 2015. Buku Ajar BoedhiDarmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan
Usia Lanjut). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
United Nations. (2013). World Population Ageing. http://www.
un.org/en/development/desa/population/publications/pdf/agein
g/WorldPopulationAgeing.