You are on page 1of 13

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT TEKNIS

Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN

1. Pekerjaan yang dilaksanakan di Kabupaten Kulon Progo antara lain :

Program : Program Pembinaan Sekolah Menengah Pertama


Kegiatan : Pembangunan / Rehabilitasi Prasarana Belajar SMP
Pekerjaan : Pembangunan dan Rehabilitasi Prasarana Belajar SMP
Paket IV - DAK 2019
Pembangunan Ruang Pusat Sumber Pendidikan Inklusif
Beserta Perabotnya SMP Negeri I Sentolo
Lokasi : Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo
Sumber Dana : DAK
Tahun Anggaran : 2019

2. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan :

I PEKERJAAN PERSIAPAN
II PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN
III PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN
IV PEKERJAAN BETON
V PEKERJAAN KAYU KUSEN PINTU DAN JENDELA
VI PEKERJAAN ATAP DAN RANGKA ATAP
VII PEKERJAAN PLAFOND
VIII PEKERJAAN LANTAI DAN PELAPISAN
IX PEKERJAAN PENGGANTUNG, PENGUNCI DAN KACA
X PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
XI PEKERJAAN PENGECATAN
XII PEKERJAAN MEBELAIR

3. Pada akhir pekerjaan, Pihak Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2S)


diharapkan membersihkan lingkungan pekerjaan dari segala kotoran dari sisa-sisa
material bahan bangunan serta gundukan tanah bekas galian dan lain sebagainya.
4. Menyediakan los-los bahan bangunan yang akan digunakan
5. Dalam melaksanakan pekerjaan tersebut di atas termasuk juga mendatangkan bahan-
bahan bangunan dalam jumlah yang cukup dan peralatan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pekerjaan
6. Membuat papan nama kegiatan dengan ukuran 90 x 60 cm

Spesifikasi Teknis 1
Pasal 2
ACUAN PELAKSANAAN

1. Menurut syarat-syarat, aturan-aturan dan ketentuan seperti tersebut dalam Rencana


Kerja dan Syarat–Syarat beserta Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (aanwijzing) atau
perubahan-perubahan dalam pelaksanaan (bila ada)
2. Menurut lampiran gambar R dan gambar detail yang telah disyahkan oleh Kepala
Sekolah
3. Menurut aturan/petunjuk dan uraian-uraian serta penjelasan-penjelasan yang akan
diberikan oleh Fasilitator .
4. Menurut syarat-syarat AV 1941, PB 1971
5. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI 1961)
6. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonsesia (PUBI 1982)
7. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983
8. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 1977) dan undang-undang Nomor : 01 tahun
1970 tentang keselamatan kerja serta peraturan lain yang berhubungan dengan
pekerjaan ini.
9. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung (SK SNI T-15-1991-03)
dan Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1971)
10. Kep Men Kimpraswil No. 441.
11. Pekerjaan harus diserahkan kepada Kepala Sekolah dalam keadaan selesai 100 %
(seratus prosen), sesuai dengan dokumen Surat Perjanjian Pelaksanaan dan Berita
Acara Perubahan Pekerjaan (bila ada).
12. Kep Men Kimpraswil No. 332/KPTS/M/2002, tanggal 21 Agustus 2002, tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Gedung Negara.
13. SNI 03 -2847 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung.
14. Standart Industri Indonesia ( SII ).
15. Standart Industri Indonesia ( SII ) 03 1726 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung.

Pasal 3
KEAMANAN DI LOKASI PEKERJAAN

1. P2S diharuskan menjaga keamanan semua barang dan peralatan, baik milik Fasilitator
maupun milik pihak lain yang mendukung pelaksanaan di lapangan.
2. Apabila terjadi kehilangan bahan bangunan atau yang lainnya yang telah disetujui oleh
Fasilitator ataupun Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2S) kegiatan baik yang
sudah terpasang maupun yang belum terpasang menjadi tanggung jawab P2S.
3. Apabila terjadi kebakaran, maka semua tanggung jawab menjadi beban P2S baik
berupa bahan/barang & keselamatan jiwa manusia.

Pasal 4
TIMBANGAN DUGA (PEILHOOTGE 0,00)

1. Timbangan duga (Peilhootge) akan disesuaikan dengan kondisi lokasi kegiatan di


lapangan/yang ditangani
2. P2S diharuskan memeriksa gambar beserta ukuran-ukurannya di lapangan
3. Apabila ternyata ada ukuran-ukuran yang tidak sesuai maka secepatnya
memberitahukan kepada Fasilitator dan Pejabat Pembuat Komitmen untuk diadakan
penyelesaian dan pertimbangan
4. Apabila ternyata ada kekeliruan di lapangan yang dilaksanakan oleh pihak P2S, maka
sepenuhnya menjadi tanggung jawab P2S.
5. Apabila ada perbedaan antara gambar dan kenyataan di lapangan maka
pelaksanaannya menyesuaikan kenyataan dilapangan.

Spesifikasi Teknis 2
Pasal 5
UKURAN POKOK DAN BATAS KERJA

1. Pada gambar rencana sudah dicantumkan semua ukuran, apabila ada gambar yang
tidak dicantumkan ukuran/kurang jelas, maka dapat ditanyakan kepada Fasilitator
secepatnya.
2. Apabila dalam gambar rencana kerja tergambar, tetapi dalam Rencana Kerja dan
Syarat–Syarat tidak tertulis, maka gambar sebagai acuan kerja/mengikat
3. Apabila dalam Rencana Kerja dan Syarat–Syarat tertulis, tetapi dalam gambar tidak
tergambar /tertulis, maka Rencana Kerja dan Syarat- Syarat sebagai acuan
kerja/mengikat.
4. Apabila ada perbedaan antara gambar rencana kerja dan gambar detailnya, maka
pihak P2S wajib meminta pertimbangan kepada Fasilitator secepatnya.
5. Batas kerja yang berhubungan dengan lokasi adalah lahan yang yang telah disediakan
untuk mendirikan bangunan.

Pasal 6
PEKERJAAN PERSIAPAN

1. Pekerjaan Persiapan dilaksanakan sebelum P2S melaksanakan kegiatan, adapun


lingkup kegiatan yang harus dilaksanakan yaitu:
a.) Bongkaran bangunan lama, pada bongkaran ini acuannya adalah gambar existing
yang dipadu dengan gambar rencana (seperti dalam gambar rencana). Jadi
apabila terjadi kelebihan bongkaran, maka menjadi tangung jawab P2S.
Disebabkan ruang kerja Sekolah terbatas dan tidak dapat sekaligus dibongkar,
maka P2S harus mengatur waktu khusus bongkaran gedung, sebagai
pertimbangan pengaturan ruang kerja, supaya aktifitas Pembelajaran tidak
terganggu.
b.) Pemasangan Bouwplank dan Pengukuran
Sebelum pelaksanaan kegiatan fisik dimulai, P2S bersama-sama Fasilitator
mengadakan stake out (pengukuran dengan alat ukur) lapangan dengan
acuan /dasar gambar rencana secara teliti dan sempurna, sebagai langkah awal
pelaksanaan lapangan. Setelah pengukuran dianggap selesai dan data-data
dianggap benar baru diadakan pemasangan bouwplank secara baik & benar
c.) Papan Nama Kegiatan
Papan Nama Kegiatan dibuat dengan ukuran 90 cm x 60 cm dipasang di lokasi
kegiatan, dengan menyebutkan/menuliskan kegiatan, pekerjaan, lokasi, sumber
dana, tahun anggaran, jangka waktu pelaksanaan, besar dana, nama & alamat
P2S, Bahan pembuatan papan nama : papan dan tiang kayu dengan print out
bahan fexy
d.) Ijin Mendirikan Bangunan
Pengurusan ijin mendirikan bangunan dilakukan oleh penyedia P2S dibantu oleh
Fasilitator
e.) Brak Bahan
Brak bahan sebagai gudang penyimpanan bahan dan peralataan, dilakukan secara
tertib dan aman, sehingga tidak mengganggu aktifitas lain di sekitar lokasi
bangunan.

Pasal 7
PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN

Pekerjaan Tanah meliputi :


1. Galian Tanah Pondasi
Galian tanah untuk struktur pondasi digali sedemikian rupa seperti gambar yang
tertera dalam gambar rencana. Penggalian melebihi batas yang ditentukan harus
diurug kembali dan dipadatkan dengan rata
2. Urugan Tanah Kembali
Spesifikasi Teknis 3
Urugan tanah kembali ± ¼ galian dilakukan setelah pekerjaan pondasi dinyatakan
selesai, dan pekerjaan ini harus dipadatkan benar-benar, dengan cara pemadatan
dilakukan lapis perlapis tebal 15 cm yang diikuti dengan pasir batu
3. Urugan Pasir
Urugan pasir dilakukan apabila penggalian tanah untuk pondasi dinyatakan selesai,
urugan pasir dilakukan dengan ketebalan 10 cm di dasar tanah galian serata mungkin
dan selanjutnya disiram dengan air secara merata sebagai langkah awal penempatan
dan pemasangan struktur pondasi

Pasal 8
PEKERJAAN PASANGAN

1. Pasangan Pondasi Batu hitam, pondasi 1pc:5pp


Batu-batu kali besar supaya dipecah dengan ukuran 10 s/d 20 cm sebelum dipasang
sebagai pasangan pondasi, celah-celah diantara batu diberikan campuran 1pc:5pp .
Batu-batu kali yang sudah dipecah sebelum dipasang, dibersihkan dari kotoran
dengan cara disiram memakai air. Pemasangan batu harus rapi tidak berongga dan
diatur secara sempurna atau tidak boleh dijatuhkan langsung dan bukan batu gundul
2. Pasangan Batu Bata (Tembok), 1pc:6pp
Batu bata yang akan dipasang harus mempunyai kwalitas baik harus keras, tidak
mudah tergores, dan padat (tidak banyak pori), tidak boleh retak yang diuji dengan
memukulkan dua buah batu bata (suara yang nyaring menunjukkan batu bata tidak
retak), tidak mudah hancur mudah patah atau batu bata benar-benar dalam kondisi
matang dalam pembakarannya. Batu bata yang akan dipasang harus disiram dengan
air, agar bersih dan dapat melekat/solid terhadap campuran pasir pasang Progo diayak
sampai halus dan lembut
Cara pemasangan batu bata :
a. Semua pasangan batu merah harus dikerjakan dengan baik dan pemasangannya
tidak boleh tinggi lebih dari 1 (satu) meter sehari. Semua batu merah digunakan
perekat sesuai ketentuan
b. Bata merah sebelum dipasang harus direndam atau disiram air sampai buih–
buihnya habis dan bersih dari kotoran.
c. Pasangan dinding harus secara kontinue dibasahi air

Pasal 9
PEKERJAAN PLESTERAN

1. Plesteran Pasangan Batu Bata, plesteran 1pc:6pp


Dilaksanakan dengan menggunakan Portland Cement, dan di campur dengan
pasir pasang yang diayak sampai lembut dan halus.
2. Plesteran Beton/trasraam, 1pc:2pp
Dilaksanakan dengan menggunakan Portland Cement di campur dengan pasir pasang
yang diayak sampai lembut dan halus
3. Plesteran Sponengan sudut, 1pc:2pp
Dilaksanakan dengan menggunakan Portland Cement di campur dengan pasir pasang
yang diayak sampai lembut dan halus

Ketentuan-ketentuan plesteran :
a.) Semua plesteran pasangan dikerjakan setelah semua pekerjaan pasangan selesai
dilaksanakan secara keseluruhan
b.) Pasangan harus dibersihkan dari segala kotoran. Sebelum dilaksanakan
pekerjaan plesteran, supaya disiram air telebih dahulu
c.) Plesteran harus menggunakan jalur – jalur selebar 15 cm dengan jarak paling
besar 100 cm. Satu sama lain jalur – jalur kepala ini merupakan patokan/pedoman
untuk plesteran selanjutnya

d.) Bidang – bidang yang telah selesai diplester harus dikontrol dengan
menggunakan mistar yang panjangnya tidak boleh kurang dari 200 cm
Spesifikasi Teknis 4
e.) Plesteran harus rata tidak boleh ada cekungan atau cembungan, tidak boleh ada
plesteran tidak vertikal dan tidak siku
f.) Perbaikan terhadap kesalahan tersebut diperbaiki dengan batas waktu maksimal 3
x 24 jam
g.) Pengacian dilakukan dengan PC setipis mungkin, rata dan rapih, pengacian
dilakukan dengan raskam kayu sehingga seluruh permukaan rata dan halus

Pasal 10
PEKERJAAN BETON

 Sloof 15/20
 Kolom praktis 11/11
 Balok latei 10/15
 Ring balk 10/15
 Rabat beton

Bahan :
1. Pasir sekwalitas sungai Progo
2. Split/batu pecah sekwalitas Clereng, Kulon Progo
3. Portland Cement sekualitas merk Holcim/SNI
4. Mutu baja tulangan U24
Perbandingan volume :
Portland cement : pasir : split = 1 : 2 : 3
Yang harus diperhatikan oleh P2S adalah :
1. Pasir yang agak kasar supaya disaring dengan saringan 3/8
2. Split/batu pecah harus dicuci bersih, supaya terhindar dari kandungan lumpur
3. Perlindungan beton /selimut beton untuk
a. Balok = 2,5 cm
b. Kolom = 3,0 cm
4. Semua pekerjaan beton harus menggunakan mesin pengaduk yang diperlengkapi
dengan takaran, baik untuk takaran semen maupun agregat lain yang disetujui oleh
Fasilitator

Pasal 11
BESI TULANGAN

1. Besi tulangan yang digunakan dalam kegiatan ini seperti yang ada dalam gambar-
gambar rencana yang sudah diperhitungkan oleh Fasilitator dengan perhitungan yang
bersifat strukturil
2. Semua ketentuan-ketentuan dan persyaratan dalam penulangan ini mengacu pada
Peraturan Beton
Bertulang Indonesia (PBI) dan SKSNI 1991
3. Toleransi pada pemotongan dan pembengkokan tulangan
a.) Batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuai dengan yang ditunjukkan
dalam gambar-gambar rencana dengan toleransi-toleransi yang disyaratkan oleh
Fasilitator. Apabila tidak ditetapkan oleh fasilitator, pada pemotongan dan
pembengkokan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi seperti tercantum dalam
ayat-ayat berikut
b.) Terhadap panjang total batang lurus yang dipotong menurut ukuran dan terhadap
panjang total dan ukuran intern dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi
sebesar ± 25 mm, kecuali mengenai yang ditetapkan dalam ayat (c) dan (d).
Terhadap panjang total batang yang diserahkan menurut sesuatu ukuran
ditetapkan toleransi sebesar + 50 mm dan – 25 mm.

c.) Terhadap jarak turun dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi sebesar ± 6
mm untuk jarak 60 cm atau kurang dan sebesar ± 12 mm untuk jarak lebih dari 60
cm
d.) Terhadap ukuran luar dari sengkang, lilitan dan ikatan-ikatan ditetapkan toleransi
sebesar ± 6 mm
Spesifikasi Teknis 5
4. Pemasangan tulangan
a.) Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak, kulit giling dan karat lepas, serta
bahan-bahan lain yang mengurangi daya lekat
b.) Tulangan harus dipasang sedemikian rupa hingga sebelum dan selama
pengecoran tidak berubah tempatnya
c.) Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal penutup beton. Untuk
itu tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang terbuat dari beton dengan
mutu paling sedikit sama dengan mutu beton yang akan dicor. Penahan-penahan
jarak dapat berbentuk blok-blok persegi atau gelang-gelang yang harus dipasang
sebanyak minimum 4 buah setiap m2 cetakan atau lantai kerja. Penahan-penahan
jarak ini harus tersebar merata
5. Toleransi pada pemasangan tulangan
a.) Batang tulangan harus dipasang pada tempatnya sesuai dengan yang ditentukan
dalam gambar-gambar rencana. Apabila tidak ditetapkan lain oleh Fasilitator pada
pemasangan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi seperti dalam ayat-ayat berikut
b.) Terhadap kedudukan di arah ukuran konstruksi yang terkecil ditetapkan toleransi
sebesar ± 6 mm untuk ukuran 60 cm atau kurang dan sebesar ± 12 mm untuk
ukuran lebih dari 60 cm
c.) Terhadap kedudukan bengkokan di arah memanjang ditetapkan toleransi sebesar
± 50 mm, kecuali pada bengkokan akhir
d.) Terhadap kedudukan bengkokan akhir dari batang ditetapkan toleransi sebesar ±
25 mm, dengan syarat tambahan bahwa tebal penutup beton di ujung batang
memenuhi yang disyaratkan
e.) Terhadap kedudukan batang-batang tulangan plat dan dinding ditetapkan toleransi
di dalam tulangan sebesar ± 50 mm
f.) Terhadap kedudukan dari sengkang-sengkang, lilitan-lilitan spiral dan ikatan-ikatan
lainnya ditetapkan toleransi sebesar ± 25 mm

Pasal 12
CETAKAN ATAU ACUAN

1. Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk, ukuran dan
batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar-gambar rencana dan
oleh uraian pekerjaan. Cetakan harus kokoh dan cukup rapat sehingga dapat dicegah
kebocoran adukan. Cetakan harus diberi ikatan-ikatan secukupnya, sehingga dapat
terjamin kedudukan dan bentuknya yang tetap. Cetakan dam acuan harus terbuat dari
bahan-bahan yang baik yang tidak mudah meresap air dan direncanakan sedemikian
rupa hingga mudah dapat dilepaskan dari beton tanpa menyebabkan kerusakan pada
beton. Pada pelaksanaan beton kelas III harus ada jaminan bahwa air beton benar-
benar tidak terserap oleh cetakan. Untuk itu maka cetakan-cetakan dapat dilapisi
dengan plastrik atau bahan-bahan lain sejenis
2. Pada cetakan kolom, dinding dan balok tinggi, harus diadakan perlengkapan-
perlengkapan untuk menyingkirkan kotoran-kotoran, serbuk gergaji, potongan-
potongan kawat pengikat, dan lain-lain
3. Apabila acuan harus memikul beban-beban yang besar dan atau harus mengatasi
bentang-bentang yang besar atau memerlukan bentuk yang khusus, maka dari acuan
tersebut harus dibuat perhitungan-perhitungan dan gambar-gambar kerja khusus.
Dalam perencanaan acuan ini harus ditinjau hal-hal berikut :
a.) Kecepatan dan cara pengecoran beton
b.) Beban-beban pelaksanaan, termasuk beban-beban vertikal, horisontal dan kejutan-
kejutan
c.) Syarat-syarat bentuk khusus yang diperlukan pada pelaksanaan konstruksi
selaput, plat-plat lipatan, ornamen-ornamen dan unsur-unsur sejenis
Disamping kekuatan dan kekakuan acuan, juga stabilitas perlu diperhitungkan
dengan baik
4. Tiang-tiang acuan dari kayu harus dipasang di atas papan kayu yang kokoh dan harus
mudah dapat disetel dengan baji. Tiang-tiang acuan tersebut tidak boleh mempunyai

Spesifikasi Teknis 6
lebih dari satu sambungan yang tidak disokong ke arah samping. Bambu tidak boleh
digunakan sebagai tiang acuan, kecuali apabila diijinkan oleh Fasilitator
5. Pembongkaran cetakan dan acuan
a.) Cetakan dan acuan hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi tersebut
dengan sistem cetakan dan acuan yang masih ada telah mencapai kekuatan yang
cukup untuk memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang bekerja
padanya. Kekuatan ini harus ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan benda uji yang
disebut dan dengan perhitungan-perhitungan. Fasilitator baru memberikan
persetujuan pembongkaran cetakan dan acuan setelah ia memeriksa hasil-hasil
pemeriksaan benda uji dan perhitungan–perhitungan tersebut. Apabila unrtuk
menentukan saat pembongkaran cetakan dan acuan tidak dibuat benda-benda uji
seperti ditentukan, maka bila tidak ditentukan lain, cetakan dan acuan baru boleh
dibongkar setelah beton berumur 3 minggu. Apabila dalam hal ini ada jaminan
bahwa setelah cetakan dan acuan dibongkar, beban yang bekerja pada bagian
konstruksi itu tidak akan melampaui 50 % darii beban rencana total, maka
pembongkaran cetakan dan acuan itu dapat dilakukan setelah beton berumur 2
minggu. Jika tidak ditentukan lain, cetakan samping dari balok, kolom dan dinding
boleh dibongkar setelah 3 hari

b.) Pada bagian-bagian konstruksi dimana akibat pembongkaran cetakan dan acuan
akan bekerja beban-beban yang lebih tinggi daripada beban rencana dan atau
akan terjadi keadaan yang lebih berbahaya dari pada keadaan yang
diperhitungkan, maka cetakan dan acuan dari bagian-bagian konstruksi itu tidak
boleh dibongkar selama keadaan tersebut tetap berlangsung. Pembongkaran
cetakan dan acuan dari konstruksi-konstruksi yang langsung akan memikul praktis
seluruh beban rencana, seperti pada atap-atap atau busur-busur, harus dilakukan
dengan sangat hati-hati
c.) Cetakan-cetakan balok dapat dibongkar setelah dari semua kolom-kolom
penunjangnya telah dibongkar cetakannya dan dari penglihatan ternyata baik
pembetonannya
d.) Bagian-bagian konstruksi dimana terjadi sarang-sarang kerikil harus diperbaiki
dengan penuh keahlian

Pasal 13
PEKERJAAN LANTAI

1. Dasar lantai adalah Rabat beton atau beton tumbuk dengan campuran 1 pc:3 pp: 5 kr
dengan ketebalan 5 cm / sesuai dengan gambar.
2. Memasang penutup lantai keramik warna motif ukuran 40/40 cm kualitas baik
(sekualitas KIA) di pasang dengan perekat 1 pc: 4 pp dan dikolot dengan pc, dan
20/25 untuk dinding
3. Untuk lantai selasar menggunakan keramik anti selip ukuran 40/40 cm kualitas baik
(sekualitas KIA)
4. Pasang Tegel Warning block Penempatan sesuai dengan gambar
5. Pasang Tegel Guiding block atau jalur difabel Penempatan sesuai dengan gambar
6. Memasang keramik dinding tegel keramik ukuran 20/25 cm dengan ketinggian ruang
kelas ketinggian keramik dibawah kusen jendela, kualitas baik (sekualitas KIA)
dipasang dengan perekat 1 pc:4 pp dan dikolot dengan pc
7. Semua pasangan tegel keramik setelah dikolot dengan semen putih/warna
menyesuaikan, setelah rapi dan kering dibersihkan (dipel dengan menggunakan obat
pembersih lantai)
8. Semua bahan yang akan digunakan harus mendapat persetujuan dari Fasilitator .
9. P2S sebelum memasang bahan-bahan tersebut diatas agar memberikan contoh
terlebih dahulu pada Fasilitator untuk mendapatkan persetujuan.

Pasal 14
PEKERJAAN KAYU
Spesifikasi Teknis 7
1. Konstruksi Rangka Atap
a. Nok, gording, murplat, kuda-kuda ukuran 8/12, menggunakan Kayu Kruing
diawetkan/diter
b. Papan listplank menggunakan kayu Kruing ukuran 2/20 diketam halus atau sesuai
dengan RAB
c. Sambungan nok dipasangkan 2 buah baut diameter 12 mm, letak sambungan
maksimal seperlima kali bentang dari tumpuan dan pada posisi sambungan yang
panjang di atas.
d. Usuk menggunakan kayu Kruing 5/7 cm, reng kayu kruing ukuran 2/3 cm
2. Konstruksi Kayu Lainnya
a. Kusen menggunakan kayu Kruing kualitas baik ukuran 6/12 cm toleransi maksimal
5 mm.
b. Daun pintu menggunakan panil Kruing ram kayu kruwing sesuai RAB ukuran 3,5 /
12 cm dan 3,5 / 20 cm dengan tebal toleransi 3 cm
c. Daun Jendela kaca ram ukuran 3/8 cm dengan toleransi tebal 3 mm dari kayu
kruwing RAB dan & Gambar dengan system buka atas seperti pada gambar
d. Krepyak/jalusi/angin–angin kayu kruwing ukuran 2/12 cm
e. Semua sambungan kayu dibuat secara teknis rapi.
f. Semua ukuran yang tertera pada gambar adalah ukuran jadi, sudah diketam halus
dan siap di-finis.
g. Kebenaran perhitungan dan konstruksi menjadi tanggung jawab Fasilitator

3. Pekerjaan Mebelair bahan Kayu Akasia dengan bentuk sesuai dengan gambar dan
kebutuhan sesuai dengan RAB

Pasal 15
PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI

1. Tiap daun pintu baru dipasang 3 buah engsel kualitas baik dan grendel pintu
2. Semua daun pintu baru dipasangkan Kunci tanam sekualitas “Solid” dengan Handel
terpisah di pasang luar dan dalam
3. Tiap – tiap daun jendela baru dipasangkan 2 buah engsel kupu–kupu 110 mm, 2 buah
kait angin 8, 2 buah grendel 3” dan 1 buah handel croom 4”

Pasal 16
PEKERJAAN PLAFOND

1. Untuk pekerjaan rangka plafond ditutup eternit sekualitas Klasiboard, diberi plepet
kayu Kruwing, dengan ukuran 1/3 cm, (eternit dicat); plepet tegak 1/5 cm menempel
tembok.
2. Pola pemasangan pyan/langit-langit disesuaikan pembagian ceiling Gambar Rencana,
rangka penggantung dari kayu Kruing. Sedang sisi yang menempel plafond dipasah
halus
3. Rangka plafond menggunakan kayu kruing dengan ukuran rangka atau penggantung
sebagai berikut :
3.1. Bentang : 3,5 s/d 4,5 m = 6/12 cm
3.2. Bentang : < 2,5 m = 4/6 dan semua sambungan klos reng kruing 2/3
Pada bentang 3.2 di atas dipasang Hanger minimal 2 baris ukuran 6/12
4. Sebelum pemasangan lembaran pyan/langit-langit, rangka penggantung harus cukup
kuat dengan dipasang klos dan mendapat persetujuan Fasilitator

Spesifikasi Teknis 8
Pasal 17
PEKERJAAN PENUTUP ATAP

1. Atap menggunakan genteng sekwalitas Kebumen


2. Kerpus dilapisi karpet dan dipasang dengan kualitas dan merk yang sama dengan
dengan genteng dengan perekat 1kp:2pp, bagian di luar diplester dengan spesi
1pc:3pp dan diaci pc
3. Jarak reng disesuaikan dengan gambar dan ukuran gentengnya, sebelumn
pemasangan reng di pasang Alumunium Foil double Side dan untuk jarak usuk
dihitung ukuran As 40 cm.
4. Sebelum dipasang genteng, pekerjaan konstruksi atap harus lengkap dan kuat benar
terlebih dahulu.
5. P2S wajib menyediakan genteng serep sebanyak 1% (satu persen) dari genteng yang
digunakan.
6. Pekerjaan harus rapi, kuat dan lengkap.

Pasal 18
PEKERJAAN BESI, STAINLESS DAN KACA

Angkur, Dook dan lain – lain


1. Tiap – tiap gawang baru dipasangkan 2 Dook dan 6 angkur untuk gawang
tinggi dan 4 angkur untuk gawang jendela dipasangkan 4 angkur  10 mm
2. Sambungan semua gording dan nok dilengkapi dengan 2 baut  5/8”
dilengkapi dengan ring
3. Talang datar menggunakan seng BJLS 30 lebar 60 cm di cat meni bolak
balik..
4. Semua kaca yang dipakai disesuaikan dengan Gambar Detail pintu/jendela
(tebal kaca 5 mm) pada Gambar, kecuali ditentukan lain
5. Pemasangan kaca harus rapi dan menggunakan kaca tidak bergelombang
6. Kaca yang cacat atau pecah harus diganti sebelum diserahkan
7. Pekerjaan Railing dengan Pipa stainlees dengan dimensi seperti pada
gambar

Pasal 19
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

1. Persyaratan umum
1.1. Lingkup Pekerjaan
1.1.1. Pekerjaan yang harus dilaksanakan meliputi pemasangan kembali instalasi
penerangan, titik lampu SL 18 W dan untuk luar SL 5W serta stop kontak,
Instalasi listrik sesuai dengan gambar.
1.1.2. Menyediakan peralatan serta material yang diperlukan baik yang tercantum
dalam Gambar atau tidak, yang secara umum perlu untuk instalasi yang
baik dan memenuhi persyaratan instalasi listrik
1.1.3. Pekerjaan listrik ini dilaksanakan sampai menyala dengan penyambungan
pada bangunan yang terdekat dilengkapi dengan sekering dan boks
sekering sendiri
1.2. Standart
1.2.1. Pelaksanaan Instalasi listrik yang memenuhi peraturan-peraturan yang
berlaku seperti : Peraturan Umum untuk instalasi listrik
1.3. Gambar dan Label
1.3.1. Gambar kerja dikerjakan oleh instalatir. Sebelum melaksanakan pekerjaan
harus mendapat persetujuan Fasilitator
1.3.2. P2S harus membuat gambar revisi atau gambar instalasi yang sesuai
dengan instalasi yang sebenarnya

Spesifikasi Teknis 9
1.3.3. Tiap panel dan papan pembagi harus diberi label yang jelas mengenai
fungsi tiap-tiap bagiannya

1.4. Material
1.4.1. P2S wajib memberikan contoh material yang akan dipergunakan utuk
mendapatkan persetujuan dari Fasilitator dan Pejabat Pembuat Komitmen
1.4.2. Material yang dipergunakan harus baru dan berkualitas baik menurut
standar-standar yang berlaku
1.5. Sistem Pemasangan
1.5.1. Pemasangan instalasi listrik dan lampunya didasarkan atas tegangan 220
Volt
1.5.2. Semua system dipasang sampai menyala
1.5.3. Pengujian pemasangan instalasi listrik dapat diterima 100 % selesai jika
mendapat pemeriksaan baik dari instalatir
1.5.4. Kabel yang digunakan type NYY untuk luar dan NYA untuk dalam dari
produksi Kabelindo, Metal SPLN
2. Kabel, Pipa dan Peralatan (Grounding)
2.1. Pemasangan dan Kabel
2.1.1. Setiap feeder bila menembus tembok harus diberi selubung
2.1.2. Kabel (feeder) yang ditanam dalam tanah /lantai harus diberi pelindung
letak dan kedalamannya sesuai dengan standar yang berlaku
2.1.3. Setiap penyambungan kabel harus menggunakan sepatu kabel (Cable
Plugs) sesuai dengan ukuran kabel yang akan disambung kemudian dipatri
atau dipres, sambungan dan taps diberi isolasi dengan baik
3. Peralatan dan Material
3.1. Saklar (Switch) untuk pasang baru menggunakan sekualitas merk “Broco”
3.1.1. Saklar lampu-lampu penerangan dipasang 1,5 m di atas muka lantai
sekurang-kurangnya dengan rating 6 A-250 Volt
3.1.2. Semua saklar dipasang rata dengan tembok
3.2. Stop Kontak (Receptacles) untuk pasang baru menggunakan sekualitas merk
“Broco”
3.2.1. Stop kontak harus dengan pentanahan (grounding)
3.2.2. Pemasangan stop kontak disesuaikan dengan gambar dan semua stop
kontak dipasang rata dengan tembok
3.2.3. Pemasanagan kawat pentanahan untuk stop kontak sama dengan
pemasangan kawat fase

Pasal 20
PEKERJAAN PENGECATAN

1. Semua dinding, kolom, eternit, lisplank, maupun atau bahan dari kayu yang lain dicat
atau seuai dengan RAB
2. Sebelum dicat, supaya digosok bersih kemudian didempul/plamir untuk
tembok/dinding dan di meni untuk kayu serta didempul baru kemudian pekerjaan
pengecatan dilaksanakan.
3. Untuk dinding dan eternit menggunakan cat sekualitas Catylac dan kayu
menggunakan cat sekualitas Emco
4. Untuk tembok baru bagian dalam maupun luar sebelum dicat harus diplamir terlebih
dahulu sesuai dengan kualitas dan merk catnya. Pengecatan hingga rata Proses
pengecatan dilakukan setelah tembok kering.
5. Pekerjaan mebelair finishing menggunakar politur

Pasal 21
Spesifikasi Teknis 10
PEKERJAAN HALAMAN DAN LAIN-LAIN

1. Membersihkan dan merapikan halaman dari sisa bahan bangunan/ kotoran/hasil


bongkaran dan meratakan tanah sekeliling bangunan.
2. Semua kerusakan bangunan dan lingkungan yang diakibatkan oleh pelaksanaan
bangunan baru, maka pihak P2S bertanggung jawab untuk memperbakinya.
3. Semua penggunaan fasilitas di lingkungan pekerjaan, diharuskan sudah koordinasi
terlebih dahulu.

Pasal 22
SYARAT – SYARAT UMUM

1. Semua bahan yang akan digunakan harus mendapat persetujuan Fasilitator dengan
memperhatikan contoh masing-masing bahan terlebih dahulu.
2. Selama waktu penyelenggaraan pekerjaan, semua bahan-bahan yang ada dalam
pekerjaan tidak diperkenankan dipindahkan, ditukar atau diangkat ke tempat lain
kecuali ada ijin tertulis dari Fasilitator.
3. Apabila ternyata bahan yang akan digunakan tidak mendapat persetujuan Fasilitator
karena tidak sesuai dengan spesifikasi maka bahan akan ditolak dan tidak
diperkenankan sebagai bahan yang akan digunakan untuk pelaksanaan.
4. Pasir
Pasir adalah batu-batu butir yang diperoleh dari sungai (pasir alam) di ayak dengan
ayakan berlobang persegi berukuran 3 mm, dan debu halus yang banyaknya tidak
melebihi 3 % dari beratnya.
5. Semen
Mengutamakan produksi dalam negeri dengan persyaratan bahan mempunyai
standar/ spesifikasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
6. Air
Air untuk mencampur adukan/spesi harus air tawar dan bahan organic yang terapung
fan hidrat arang tidak boleh terkandung di dalamnya. Selanjutnya air harus memenuhi
syarat PUBB – 1956 pasal 10, air diambil dari sumber air yang telah disetujui
7. Batu
Batu yang dipakai untuk pasangan harus bersih, nyata-nyata keras dan tahan lama.
Batu untuk pasangan berukuran 15 – 25 cm.

8. Batu pecah / Split


a). Batu pecah/Split yang digunakan harus tajam, keras dan bersih dari lumpur/
kotoran/zat – zat lain, dengan ukuran sesuai kebutuhan dan mendapat persetujuan
dari Fasilitator.
b). Batu pecah /Split diambil dari tempat yang disetujui oleh fasilitator
9. Besi beton
a). Besi dan beton tidak berkarat dan sama sekali baru.
b). Memenuhi persyaratan PUBB 1956
10. Kayu cetakan beton
a). Kayu cetakan beton dipakai kayu Tahun/sejenis dengan tebal 2,5 cm – 3
cm.
b). Untuk balok stootwerk dan stiger werk dari kayu tahun yang kuat.

Spesifikasi Teknis 11
Pasal 23
STANDAR BAHAN

Dalam penggunaan bahan-bahan bangunan berdasarkan PUBI 1982 dan standar yang
dipakai di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Cement
Cement yang digunakan adalah Cement serbaguna untuk beton struktural dengan
standar mutu SNI
2. Air
Air yang digunakan bersih tidak mengandung lumpur, minyak, benda terapung yang
bisa dilihat secara visual dan asam-asam zat organik dan sebagainya
3. Pasir Pasang
Pasir harus bersih, kadar lumpur maksimum 5 % tidak mengandung zat organik dan
angka kehalusan yang lolos ayakan 0,33 mm maksimal 15% sesuai dengan SNI-03-
1756-1990
4. Kerikil Beton/Split
 Kerikil Beton/Split yang digunakan adalah kerikil alam atau kerikil pecah yang
berukuran 5 – 25 mm.
 Persyaratan Kerikil Beton, fisik dan syarat kimia PUBI 1982 berdasarkan pasal 12
ayat 2.1 dan 2.2
5. Bata Merah (Batu bata)
 Bata merah yang digunakan adalah ukuran standar dengan toleransi ukuran
sesuai tabel 27 – 1 dan 27 – 2 PUBI 1982.
 Bagian yang pecah dari batu bata tidak boleh lebih dari 10%
 Persyaratan kuat tekan harus memenuhi yang ditentukan dalam tabel 27 – 3 PUBI
1982.

Spesifikasi Teknis 12
Pasal 24
PENUTUP

Apabila dalam spesifikasi teknis ini masih terdapat kekurang lengkapan, maka akan
disempurnakan di kemudian hari.

Kulon Progo, 2019

Mengetahui Di buat Oleh


: Fasilitator Kepala Sekolah P2S
SMP Negeri I Sentolo SMP Negeri I Sentolo SMP Negeri I Sentolo

Yulianto, ST Kuswoyo, S.Pd.,M.Pd Drs, Nasrodin


NIP. 19660509 199003 1 011 Ketua

Menyetujui
Pejabat Pembuat Komitmen

Eko Suratman, S.IP


NIP. 19720207 199903 1 004

Spesifikasi Teknis 13