You are on page 1of 3

“Dek!!! Oi!!

Aish yang bener aja, pagi pagi buta juga.

“Woi ketiak kuda! Udah jam tujuh woi!!”

Akhirnya Alexa membuka pintu, seperti yang diduganya, Gabi berdiri di sana dengan kerah
baju berantakan. Ah. Dia terlambat bangun.

“persis kaya yang diharapin” dia mengangkat ledua tangannya kedepan, pasrah dengan
penampilan Alexa. Lalu berjalan pergi dengan lemas. Waah benar benar. Dia hanya mengganggu jam
tidur Alexa. Harusnya dia bisa tidur hingga jam setengah delapan. Dan sekarang sudah benar benar
tanggung. Alexa memutuskan untuk menyeret kakiknya ke kamar mandi dan bersiap siap pergi ke
sekolah. dia tidak cukup gila untuk melewatkan ulangan harian fisikanya dan melakukan ulangan
susulan di kantor guru yang menyesakkan.

Namanya Alexandra White. Seorang anak kedua yang juga merupakan putri tunggal dari
keluarga White. Sebelumnya dia tinggal di London, lalu sempat pindah ke Berlin beberapa bulan
sesudahnya sebelum dia memutuskan untuk menetap disini bersama kakak laki lakinya, Gabriel
White yang sudah tinggal disini sejak dia masuk SMA. Daripada dia harus mengikuti ayah dan ibunya
yang sibuk mengurus pekerjaan dan pindah seminggu sekali, lebih baik dia menetap bersama
kakaknya.

“Oh! Alexandra! Masuklah! Kamu terlambat? Apa dirumah ada masalah?” itu Bu Tamara.
Guru yang piket hari ini. Alexa tersenyum simpul, “Oh tentu saja, dirumah tanpa orang tua sesulit itu
kah?” katanya lalu menepuk pundak Alexa. “dengar, jika kamu butuh sesuatu, hubungi saja ibu ya?”
tanyanya. Agar tidak memperpanjang urusan, Alexandra tersenyum lalu berjalan masuk. Dari jauh
terdengar Bu Tamara kembali memarahi anak anak yang datang terlambat.

Alexa menatap jam tangannya. Ada 30 menit sebelum jam pelajaran pertama berakhir. Dia
akan masuk setelah itu saja. Akan aneh jika dia masuk saat pelajaran berlangsung.dia memutuskan
untuk menikmati angin pagi di atap sekolah sambil menikmati eskrimnya

Atap sekolah adalah tempat favoritnya. Sejak dia pindah ke sekolah ini, dia hanya fokus
mencari tempat yang cocok untuk dinikmatinya sendiri. Tempat yang hanya dia tau sendiri. Yang
sepi, kosong. Dan damai. Dia menemukan tempat ini dihari ketiganya bersekolah. Dengan
menguping percakapan tentang guru yang mengatakan bahwa atap sekolah adalah tempat yang
berhantudan tentang tak ada dari warga sekolah yang berani datang ke atap. Konyol sekali. Bahkan
guru masih mempercayai hal seperti itu.

Saat Alexa mengunyah bagian terakhir cone eskrimnya, handphonenya berdering. Itu Alicia.
Teman sebangkunya.

“uh, ada apa?”

“woah yang bener aja, lo bolos terus pas gue telpon lo nanya uh ada apa? Woah, masuk
sekarang buru.” Alexa terkekeh.
“iya iya sori ” Jawabnya sambil terkikik. “gue kesana, puas?” katanya lalu menutup
teleponnya. Alexa yang tadinya duduk mulai berdiri dan berjalan menuju kelas.

“kenapa? Marathon drama?” tanya Eira yang duduk di depannya. Alexa memamerkan
cengirannya. Yang dibalas Eira dengan decakan.

“liat keadaan dong. Emang lo udah ngerti materi yang diujianin nanti? Pake acara drama
malem malem. Hukum gravitasi susah loh.” Alexa hanya mengangkat kedua bahunya.

“udah sih, dikit dikit. Liat nanti.” Ujarnya pasrah. Eira dan Alicia menghela napas panjang.

***

Alexa mengetuk ngetukkan pulpennya ke meja. Tak lama kemudian dia mulai mengetuk
ngetukkan jarinya. Mungkin sebentar lagi dia akan mengetuk ngetukkan kepalanya. Oh ternyata
tidak. Dia melihat kiri kanannya, yang dilihat sejauh mata memandang adalah wajah menderita
teman teman sekelasnya. Sampai sekarang Alexa masih heran mengapa mereka harus belajar keras
tepat sebelum ujian. Jika saat dijelaskan mereka mengerti, maka itu akan selalu melekat kan? Tak
perlu diulang lagi. Hanya perlu menjawabnya sesuai dengan arahan hati. Tidak sulit. lihat?

20 menit sejak kertas ulangan dibagikan. Dan Alexa benar benar bosan sekarang. Berkali kali
dia menggumam tak jelas. Melihat ke kanan dan kiri. Mengetuk ngetukkan jari. Dan mempraktekkan
dialog dari drama yang ditontonnya semalam. Sambil menunggu kalimat sakral yang akan keluar dari
mulut Pak Eza jika telah muak mendengar ocehan Alexa.

“Bagi yang sudah selesai, boleh istirahat lebih awal”

Alexa tersenyum puas. Kalimat yang ditunggunya akhirnya keluar. Dengan pasti dia
melangkah kedepan untuk mengumpulkan kertas ulangannya, lalu keluar dari kelas sesudah
memberikan lambaian dan senyuman penuh kemenangan kearah Eira dan Alicia yang menatapnya
tajam.

Alexa berjalan ke kantin sambil terkikik kecil. Dia memesan 3 mangkuk soto dan
membawanya ke meja yang tertelak di ujung kantin. Spot ternyaman mereka. Kantin belum terlalu
ramai, hanya ada beberapa orang karena bel istirahat belum berbunyi. Sambil menunggu Eira dan
Alicia datang, Alexa membuka handphonenya untuk mencari cari rekomendasi drama yang pas
ditonton nanti malam.

“Ciaaaa baik banget kawan gue heran ututu sayang dibeliin makanan lopyu deh” Alicia
datang lalu mendekatkan wajahnya ke Alexa, dengan santai Alexa mencubit bibir Alicia yang sejak
tadi dimajukan. Cukup untuk membuatnya meringis.

“udah dingin cuk.” Kata Eira sambil mengaduk aduk sotonya.

“Bagus juga gue beliin.” Ujar Alexa pelan lalu mengantungi handphonenya kembali. Eira
tersenyum.

Alicia menyuap kuah sotonya, lalu bertanya. “sekolah kita ga parah parah banget kan?”
Alexa menggeleng sambil mengunyah. “tapi Lexa, lo nggak capek apa lari keliling lapangan tiap hari
karena telat? Lo nggak berkeringat tuh.” Alexa tersedak. Lalu dengan terburu buru menyambar
minumannya. Dia berkali kali menepuk dadanya sambil terbatuk.

Sebenarnya, selain para guru, tak ada yang tahu bahwa ayahnya Alexa adalah salah satu dari
pemilik yayasan sekolah tempatnya bersekolah sekarang. Atau lebih tepatnya. Mereka tidak tahu
siapa ayah Alexa. Saat pertama kali masuk sekolah, Alicia sempat bertanya kenapa namanya mirip
sekali dengan nama pemilik yayasan, dan Alexa mengatakan itu hanya kebetulan. Dia tak punya
niatan untuk memberitahu mereka siapa ayahnya. Itu juga menjadi salah satu syaratnya sebelum
pindah ke sekolah ini. Tak ada yang boleh tau.

Setelah sedikit tenang, Alexa meletakkan gelas minumnya.

“siapa yang bilang gue masuk lewat gerbang?” tanya Alexa menantang. Alicia memberinya
senyuman jahat. Lalu mereka bertiga tertawa bersama. Tanpa sadar dalah hati Alexa benar benar
lega. Dengan sedikit kebohongan kecil Alicia tak curiga lebih jauh.

“wuahh kenyangnyaa” Alexa menyandarkan tubuhnya. “Beli dessert kuy.” Eira menatapnya
lalu menyodorkan uang.

“beliin.” Ujarnya singkat. Alexa berdecak. Lalu berdiri.

Alexa tidak tau entah sampai kapan dia harus menyembunyikan fakta tentang keluarganya
dari Eira dan Alicia. Satu satunya yang mereka tahu adalah Alexa punya kakak laki laki bernama
Gabriel yang merupakan sarana cuci mata yang baik. Mereka berdua pernah meminta untuk
berkunjung ke rumah Alexa. Untuk bermain sekaligus cuci mata dengan memandangi wajah
kakaknya. Tapi saat itu ayah dan ibu sedang ada dirumah. Dan pada akhirnya Alexa mengatakan
bahwa dia punya jadwal lain dan dia akan sibuk selama beberapa hari ini.

Bruk! Alexa terjatuh. Seseorang berlari dari belakangnya dan menabraknya.

“Auh,” Alexa meringis. Lalu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berperan besar
atas tragedi jatuhnya dia di koridor.

Laki laki itu berambut cokelat. Tak tahu alami atau bukan. Sepertinya di cat. Entahlah. Dan
wajahnya cukup tampan. Alexa bukanlah tipe orang yang menilai lewat wajahnya, tapi dia mengakui
laki laki itu memang cukup tampan. Dia tersenyum, lalu menyodorkan tangannya.

“Maaf, eskrimnya bakal gue ganti deh, lo mau duduk di lantai? Diliatin loh.”