You are on page 1of 4

Sejarah dan perkembangan perbankan

syariah di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan dunia perbankan sekarang ini sangat pesat pertumbuhannya di
Indonesia. Para pelaku perbankan berlomba-lomba mengeluarkan produk-produk
jasa pebankan yang semakin inovatif. Dari jasa berbayar sampai jasa gratis yang
diberikan oleh bank kepada nasabahnya.
Salah satunya perbankan syariah yang kian mewarnai kegiatan perbankan di
Indonesia. Perbankan syariah dan perbankan konvensional bersaing secara sehat
dalam rangka pembangunan perekonomian Indonesia. Dalam hal ini penulis
menekankan pembahasan pada bidang perbankan syariah.
Lahirnya bank syariah menandai lahirnya perbankan syariah di Indonesia,
ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia. Dengan momentum itu
pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia tumbuh pesat diterima masyarakat. Hal
ini melatar belakangi penulis menyusun makalah ini guna memberikan pengetahuan
tentang perbankan syariah dan Bank Muamalat Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa bank syariah ?
2. Bagaimana perkembangan perbankan syariah di Indonesia ?
3. Bagaimana sejarah Bank Muamalat Indonesia?
4. Apa produk-produk Bank Muamalat Indonesia ?
C. Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian dari perbankan syariah.
2. Mahasiswa mampu mengetahui perkembangan perbankan syariah di Indonesia.
3. Mahasiswa mengetahui sejarah Bank Muamalat Indonesia serta produk-
produknya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Bank Syariah

Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan


Hindi-Belanda. Pada saat itu terdapat beberapa bank yang memegang peranaan
penting di Hindia-Belanda.
Bank syariah adalah bank yang melaksanakan seluruh kegiatannya
berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Rintisan perbankan syariah mulai mewujud
di Mesir pada dekade 1960-an dan beroperasi sebagai rural-social bank (semacam
lembaga keuangan unit desa di Indonesia) di sepanjang delta Sungai Nil. Lembaga
dengan nama Mit Ghamr Bank binaan Prof. Dr. Ahmad Najjar tersebut hanya
beroperasi di pedesaan Mesir dan berskala kecil, namun institusi tersebut mampu
menjadi pemicu yang sangat berarti bagi perkembangan sistem finansial dan
ekonomi Islam.
Perbedaan antara Bank Konvensional dan Bank Syariah yaitu, Bank
Konvensional menerapkan sistem Riba sedangkan Bank Syariah menerapkan
sistem bagi hasil, pada Bank Syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS)
yang mengawasi jalannya operasional bank sehari-hari agar selalu sesuai dengan
ketentuan-ketentuan syariah sedangkan pada Bank Konvensional tidak ada.
Di Indonesia wacana pendirian bank Islam baru dilakukan pada tahun 1990.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990
menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa
Barat. Hasil lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada musyawarah
nasional IV MUI yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya, 22-25 agustus
1990.Berdasarkan amanat Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja untuk
mendirikan bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja tersebut disebut Tim
Perbankan MUI.
Hasil kerja Tim Perbankan MUI adalah lahirnya Bank Muamalat Indonesia,
pada awal pendiriannya keberadaan bank syariah belum mendapat perhatian yang
optimal dalam industri perbankan nasional. Landasan hukum operasi bank yang
menghunakan sistm syariah ini hanya dikategorikan sebagai “bank dengan sistem
bagi hasil”; tidak terdapat rincian landasan hukumnya serta jenis-jenis usaha yang
diperbolehkan, hal ini sangat tercermin dari UU no.7 tahun 1992.
Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan
disetujuinya undang-undang no.10 tahun 1998. Dalam undang-undang tersebut
diatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat
dioperisakan dan diimplememtasikan oleh bank syariah. Undang-undang tersebut
juga memberikan arahan bagi bank-bank konvansionel untuk membuka cabang
syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.

Bank syariah pertama di Indonesia adalah Bank Muamalat Indonesia, yang


berdiri pada tanggal 1 November 1991 dan mulai beroperasi tanggal 1 Mei 1992.
Dalam perkembangannya hingga Maret 2013 BMI sudah memiliki 79 kantor
cabang, 158 kantor cabang pembantu, 121 kantor kas yang tersebar di seluruh
Indonesia.
B. Produk Bank Syariah

1. Produk Penghimpunan Dana (funding)


a. Prinsip Wadiah
Wadiah merupakan titipan atau simpanan pada bank syariah. Prinsip
wadiah merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik peroangan
maupun badan hokum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja bila si
penitip menghendaki. Karena dalam prinsip wadiah pemilik dana dapat
mengambil dananya sewaktu-waktu, sehingga bank tidak berhak untuk
menggunakan dana tersebut untuk investasi.
Dalam kegiatan ini, bank tidak wajib memberikan imbal jasa kepada
nasabah karena dana wadiah tidak dapat diinvestasikan oleh bank sehingga
bank tidak mendapatkan manfaat dari dana wadiah. Prinsip wadiah ini cocok
digunakan bagi nasabah atau individu yang memiliki dana tidak banyak atau
dananya sering diambil untuk modal usaha. Contoh dari prinsip wadiah adalah
tabungan dan giro.
b. Prinsip Mudharabah
Secara bahasa mudharabah berarti bagi hasil. Menurut istilah secara umum
mudharabah adalah kerja sama antara pemilik dana atau penanam modal dan
pengelola modal untuk melakukan usaha tertentu dengan pembagian
keuntungan berdasarkan nisbah. Nisbah bagi hasil antara bank dengan nasabah
biasanya 40:60 atau 30:70 sesuai dengan kesepakan yang disetujui bersama.

2. Produk Pembiayaan (financing)


a. Pembiayaan modal kerja
Kebutuhan modal kerja usaha yang beragam, seperti untuk membayar
tenaga kerja; rekening listrik dan air; dan sebagainya, dapat dipenuhi dengan
pembiayaan berpola bagi hasil dengan akad mudharabah atau musyarakah.
Kedua belah pihak mendapatkan manfaat dari pembagian hasil yang adil.
Contohnya seperti usaha rumah makan, usaha bengkel, usaha kelontong, dan
pertanian.
Dalam hal ini, bank syariah menyuplai mereka dengan kebutuhan yang
mereka inginkan sesuai perjanjian pembiayaan yang disepakati sejak awal.
Sedangkan nasabah wajib mengembalikan modal usaha dengan nisbah yang
disepakati.
b. Pembiayaan investasi
Kebutuhan investasi secara umum dapat dipenuhi dengan pembiayaan
berpola bagi hasil dengan akad mudhorobah atau musyarakah. Kebutuhan
investasi sebagiannya juga dapat dipenuhi dengan pembiayaan berpola jual beli
dengan akad murobahah.[8]Contohnya pembuatan pabrik percetakan baru
yang membutuhkan banyak mesin cetak.
c. Pembiayaan konsumtif
Pembiayaan konsumtif diperlukan oleh pengguna dana untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi dan akan habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.kebutuhan konsumsi dapat dibedakan atas kebutuhan primer dan
sekunder. Sumber pembayaran kembali atas pembiayaan tersebut berasal dari
sumber pendapatan lain dan bukan dari eksploitasi barang yang dibiayai dari
fasilitas ini.
Pembiayaan konsumtif tersebut biasanya digunakan untuk pemenuhan
kebutuhan sekuder. Adapun kebutuhan primer tidak dapat dipenuhi dengan
pembiayaan komersil, karena orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan
primer disebut fakir dan miskin. Contohnya pembiayaan pembelian rumah
dengan syarat memiliki ijin dari suami atau istri dan menunjukan slip gaji
selama enam bulan terakhir sebagai bukti nasabah mampu membayar cicilan
pembiayaan.
3. Produk Jasa
a. Wakalah
Wakalah (deputyship), atau biasa disebut perwakilan, adalah pelimpahan
kekuasaan oleh satu pihak (muwakil) kepada pihak lain (wakil) dalam hal-hal
yang boleh diwakilkan. Atas jasanya, maka penerima kekuasaan dapat meminta
imbalan tertentu dari pemberi amanah.
Contoh penggunaan wakalah dalam jasa perbankan, adalah transfer dan
inkaso yaitu jasa yang diberikan bank untuk mewakili nasabah dalam
pemindahan dana dari rekening nasabah (transfer) atau melakukan penagihan
untuk rekening nasabah. Contoh jasa yang lainnya sebagai berikut:L/C (Leter
of credit), kliring, dan pembayaran gaji.
b. Kafalah
Kafalah (guaranty) adalah jaminan, beban atau tanggungan yang diberikan
oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak
kedua atau yang ditanggung (makful). Contoh penggunaan jasa perbankan
antara lain bank garansi.
Mekanisme dari produk ini adalah Bank Garansi diberikan dalam jangka
waktu tertentu terhadap objek penjaminan yang jelas spesifikasi, jumlah dan
nilainya. Kontrak jaminan memuat kesepakatan antara pihak bank dan pihak
kedua yang dijamin dan dilengkapi dengan persaksian pihak penerima jaminan.
Dalam hal pihak kedua tidak dapat memenuhi kewajibannya, bank syariah
mengeksekusi garansi dengan melakukan pembayaran dalam skema akad lain
(misalnya qard) yang menyertai akad kafalah.
c. Hawalah
Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang berutang kepada
orang lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan
beban utang dari satu pihak kepada lain pihak. Contoh penggunaan hawalah
dalam jasa perbankan adalah anjak piutang atau factoring.
Sebagai penerapan dalam perbankan syariah dicontohkan seorang pegusaha
mendapat fasilitas kredit dari bank konvensional sebesar 1Milyar. Karena
tertarik dengan penawaran yang diajukan bank syariah, pengusaha setuju
untuk memindahkan fasilitas kreditnya kepada bank syariah. Maka bank
syariah melakukan take over fasilitas kredir sejumlah 1Milyar. Utang
pengusaha kepada bank konvensional berakhir dan menimbulkan utang
piutang baru kepada bank syariah. Dari peristiwa tersebut, maka seorang
pengusaha terbebas dari riba.