You are on page 1of 10

Harga Minyak Dunia Naik, Ekonomi Indonesia di 2018 Lebih Menantang

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga Minyak Dunia Naik, Ekonomi
Indonesia di 2018 Lebih Menantang",
http://biz.kompas.com/read/2017/12/26/214230728/harga-minyak-dunia-naik-ekonomi-
indonesia-di-2018-lebih-menantang.

Selama dua tahun terakhir harga minyak dunia terus menurun. Bahkan, harga sempat
tersungkur hingga 30 dollar AS per barrel pada awal 2016 lalu. Sebelum anjlok harga minyak
dunia berada di kisaran 100 dollar AS per barrel. Namun kini, secara perlahan harga minyak
dunia terus merangkak naik dalam satu tahun terakhir. Saat ini harga minyak mentah menurut
standar WTI Crude Oil berada pada kisaran 57 dollar AS per barrel. Perbaikan harga minyak
dunia diperoleh berkat adanya kesepakatan dari negara-negara penghasil minyak untuk
memangkas produksi dan ekspor sebesar 1,8 juta barrel per hari. Pemangkasan produksi dan
ekspor dimulai pada November 2016 dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga kuartal
pertama tahun depan. Harga minyak dunia yang mengalami pemulihan memberi angin segar
bagi negara-negara produsen minyak dan tentunya pelaku industri migas di tanah air. Namun
sebenarnya, bagi Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir menjadi negara net importir,
kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan Produk
Domestik Bruto (PDB) nasional. Harga minyak pada 2018 diperkirakan akan terus meningkat
karena selain pemangkasan yang dilakukan oleh negara-negara produsen minyak, permintaan
juga bertambah. Saat ini konsumsi minyak di Amerika Serikat, Eropa, China, dan India juga
meningkat. Tim ekonom DBS, Suvro Sarkar, Pei Hwa Ho, Glenn Ng, William Simadiputra,
dan Janice Chua menyebut dalam laporan DBS Group Research Regional Industry Focus
yang bertajuk Regional Industry Focus: Oil and Gas, yang dirilis November 2017 lalu bahwa
konsumsi minyak mentah dunia akan tumbuh 1,4-1,5 juta bpd di 2017 hingga 2018. Menurut
tim riset DBS, dengan memperhitungkan kenaikan permintaan minyak mentah pada 2017,
maka tahun depan harga minyak dunia diperkirakan terkerek ke posisi 60 dollar AS hingga
65 dollar AS per barrel. Kenaikan harga minyak dunia akan secara otomatis memicu
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tanah air. Harga barang pokok pun akan ikut
meningkat karena biaya produksi akan ikut menjadi mahal. Meskipun bisa saja pemerintah
Indonesia tidak menaikkan harga bahan bakar untuk menjaga biaya operasional. Tapi,
kebijakan untuk mempertahankan harga BBM harus mempertimbangkan ketersediaan
anggaran untuk subsidi. Efek domino ini akan berujung pada tingginya inflasi. Berdasarkan
Consumer Price Index (CPI), indikator penghitungan tingkat inflasi di suatu negara, sektor
transportasi dan listrik menjadi kontributor terbesar dalam menentukan di Indonesia.
Keduanya berkontribusi 25 persen dari seluruh kategori CPI yang ada. Oleh sebab itu, DBS
memprediksi tiap 10 persen kenaikan harga minyak mentah dunia, akan berdampak terhadap
peningkatan inflasi sebesar 0,6. Kondisi ini akan menjadi tantangan untuk pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan daya saing untuk menarik investor. Inflasi merupakan elemen
penting yang mempengaruhi rating investasi sebuah negara. Lebih lanjut, dalam hal
pemberian subsidi untuk mempertahankan harga BBM dan menekan inflasi, pemerintah
harus melalui pertimbangan yang matang, tidak hanyaterkait dengan ketersediaan anggaran,
tetapi juga dampaknya bagi upaya pengembangan energi terbarukan. Namun, di tengah
tantangan tersebut masih ada hal positif yang bisa diambil. Tim riset DBS menyatakan
peningkatan harga minyak mentah akan berdampak positif terhadap anggaran pemerintah
Indonesia. Pendapatan pajak dan non pajak dari sektor migas yang diperkirakan Rp 113
triliun masih 10 persen lebih tinggi dibanding subsidi energi 2018.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga Minyak Dunia Naik, Ekonomi
Indonesia di 2018 Lebih Menantang",
http://biz.kompas.com/read/2017/12/26/214230728/harga-minyak-dunia-naik-ekonomi-
indonesia-di-2018-lebih-menantang.
MAKALAH PEREKONOMIAN
INDONESIA “ANALISIS KENAIKAN
HARGA BBM DAN PENGARUHNYA
TERHADAP PERKONOMIAN
DI INDONESIA”
BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Sejak awal pemerintahan orde baru hingga di era reformasi sekarang ini, perkembangan
perekonomian Indonesia tampaknya selalu dipengaruhi oleh gejolak harga bahan bakar
minyak dunia. Selama periode pertama fluktuasi harga minyak dunia berpengaruh terhadap
perkembangan perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah dicapai selama dua puluh lima tahun pembangunan
Indonesia sejak tahun 1969, antara lain telah dipacu oleh melimpahnya penerimaan devisa
dari ekspor minyak bumi akibat naiknya harga ekspor minyak dunia. Hal itu dimungkinkan
karena pangsa ekspor minya bumi saat itu merupakan sebagian besar dari total ekspor
Indonesia. Pada tahun 1970 pangsa ekspor minyak bumi masih 40,3%, terus meningkat
mencapai tertinggi pada tahun 1982, sebesar 82,4 %. Menjelang reformasi, tahun 1997,
pangsa ekspor minyak bumi tinggal sekitar 22% dari total ekspor Indonesia. (Dumairy, 1997,
hal. 183)

Penurunan harga minyak mentah dunia saat ini seharusnya memberikan kesempatan untuk
pertumbuhan perekoinomian Indonesia yang lebih baik dibandingkan ketika harga minyak
dunia yang tinggi. Akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia justru
menaikkan harga BBM. Hal ini pasti menimbulkan dampak yang sangat signifikan bagi
rakyat Indonesia. Seperti yang kita kethaui semua harga barang-barang kebutuhan di
pengaruhi oleh harga minyak. Apabila dinaikkan maka rakyat kecil yang akan menderita. Ini
merupakan suatu polemic dan juga tantangan bagi pemerintahan presiden Jokowi dan JK
untuk mengatsi segala dampak yang timbul akaibat kenaikan BBM di saat harga minyak
mentah dunia turun.

 Rumusan Masalah

 Bagaimana dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap pertumbuhan


perekonomian Indonesia?
 Apakah alasan-alasan yang mendasari pengurangan subsidi BBM di Indonesia?
 Tujuan

Untuk mengetahui penyebab kenaiakan harga BBM dan pengaruhnya terhadap perekonomian
Indonesia di kala harga minyak mentah dunia mengalami penurunan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Penetapan Harga Minyak

Menurut mazhab ekonomi klasik, mekanisme pasar akan membentuk suatu keseimbangan
(ekuilibrium). Harga terbentuk atas dasar permintaan konsumen dan penawaran penjual.
Permintaan dan penawaran tersebut akan bertemu pada suatu titik keseimbangan pada suatu
tingkat harga tertentu. Menurut OPEC, harga minyak mentah bereaksi terhadap permintaan
dan penawaran untuk jangka pendek dan tingkat investasi untuk jangka yang lebih panjang.

Permintaan akan minyak, sama seperti permintaan akan energi pada umumnya, berhubungan
erat dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pada saat ekonomi tumbuh, maka lebih banyak
energi yang dikonsumsi, baik untuk proses produksi dan distribusi hasil produksi kepada
konsumen, maupun meningkatnya konsumsi oleh sektor rumah tangga seiring dengan
meningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor. Meningkatnya permintaan akan
mengakibatkan naiknya harga minyak. Sebaliknya, saat ekonomi mengalami kontraksi
permintaan akan minyak dan energi lainnya cenderung menurun, sehingga harga minyak pun
ikut turun.

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi penawaran akan minyak:

 Kebijakan kuota produksi OPEC yang ditetapkan untuk anggotanya.


 Strategi negara-negara non-OPEC mengurangi produksi untuk menaikkan harga
minyak.
 Keadaan politis yang tidak stabil pada negara-negara penghasil minyak di Timur
Tengah seperti Irak dan Iran yang menghambat produksi minyak.

Terkait dengan investasi, jika investasi tidak dilakukan jauh sebelumnya, persediaan minyak
menjadi terbatas untuk jangka waktu yang lebih panjang, sehingga akan menaikkan harga.
Sentimen juga merupakan faktor penting: jika para pelaku pasar minyak percaya bahwa akan
ada penurunan penawaran minyak maka mereka akan menaikkan harga bahkan sebelum hal
tersebut benar-benar terjadi.

Faktor lainnya yang mempengaruhi harga minyak menurut OPEC adalah kecelakaan, cuaca
yang buruk, menaiknya permintaan, transportasi minyak yang diragukan dari produsen,
pemogokan karyawan, serta gangguan terhadap produksi lainnya, termasuk perang dan
bencana alam.

Ada beberapa elemen yang terkandung dalam harga suatu komoditas. Elemen-elemen yang
terkandung dalam harga minyak menurut US Department of Energy’s Energy Information
Administration (EIA) antara lain:

 Harga minyak mentah


 Pajak
 Penyulingan
 Distribusi

2.2. Subsidi Bahan Bakar Minyak

Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menunjukkan tingkat harga produk BBM dari
perusahaan dalam negeri masih di bawah tingkat harga di pasar dunia. Selain itu, subsidi
silang juga sering diterapkan melalui pemindahan beban dari suatu produk BBM seperti
minyak tanah ke produk BBM lainnya. Pemberian subsidi BBM dimaksudkan untuk menjaga
kestabilan harga BBM di dalam negeri dari fluktuasi harga minyak di pasar dunia.

Formula perhitungan subsidi BBM sesuai dengan Peraturan Presiden No. 71 tahun 2005
tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu adalah:

Subsidi BBM = Q BBM x (Harga Patokan BBM – Harga Jual BBM Setelah Pajak)

Harga patokan menurut Perpres No. 71 tahun 2005 adalah harga yang dihitung setiap bulan
berdasarkan MOPS rata-rata pada periode 1 bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan
margin.

Subsidi diberikan kepada jenis BBM tertentu, yaitu premium (P), kerosene (K), dan solar (S),
serta golongan konsumen tertentu, yaitu rumah tangga, usaha kecil, usaha perikanan,
transportasi, dan pelayanan umum.

Beberapa variabel yang mempengaruhi perhitungan subsidi BBM antara lain:

 Harga minyak mentah

Subsidi BBM dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah Indonesia, mengingat sebagian
besar biaya produksi BBM dari operator subsidi BBM merupakan biaya untuk pengadaan
minyak mentah, yang harganya mengikuti tingkat harga di pasar internasional. Dengan
demikian, apabila harga BBM bersubsidi tidak disesuaikan dengan perkembangan harga
pasar, maka dengan penerapan pola public service obligation (PSO), dimana subsidi BBM
merupakan selisih antara harga patokan (harga MOPS + alpha), sebagai harga jual operator
BBM (PT Pertamina), dengan harga jual BBM bersubsidi yang telah ditetapkan pemerintah,
setiap terjadi perubahan ICP akan menyebabkan beban subsidi BBM berubah dengan arah
yang sama dengan perubahan selisih harga tersebut.

 Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Dewasa ini Indonesia termasuk net importir minyak, sehingga makin melemahnya nilai tukar
rupiah terhadap dolar AS, maka akan semakin memperbesar harga beli minyak yang pada
akhirnya akan mempengaruhi besaran subsidi BBM yang akan membebani APBN.

 Konsumsi BBM di dalam negeri


Subsidi BBM akan meningkat apabila terjadi kenaikan ICP melalui kenaikan konsumsi BBM
bersubsidi. Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan disparitas harga domestik
dengan harga internasional. Disparitas harga BBM yang terlalu besar dapat memicu kenaikan
konsumsi BBM bersubsidi melalui, potensi penyelundupan BBM, pencampuran BBM
bersubsidi dengan non subsidi dan beralihnya masyarakat pengguna BBM non subsidi ke
BBM bersubsidi.

 Harga BBM di dalam negeri

Penentuan harga jual BBM bersubsidi dipatok pada suatu tingkat harga tertentu. Dengan
kondisi demikian maka akan menimbulkan konsekuensi jika harga minyak mentah dunia
naik, maka beban subsidi BBM juga akan semakin meningkat.

Beban subsidi BBM yang terus meningkat akan menganggu keberkelanjutan (sustainability)
anggaran pemerintah, yang pada gilirannya dapat mengancam stabilitas perekonomian dan
mengurangi kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Erosi kepercayaan berisiko
mendorong arus modal keluar, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan melemahnya nilai
tukar rupiah. Jika nilai tukar rupiah melemah, harga-harga domestik akan ikut melonjak
karena imported inflation. Jika harga-harga naik, maka beban perekonomian rakyat akan
semakin berat. Situasi tersebut akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melemah,
pengangguran meningkat dan kemiskinan semakin tinggi. Selain itu, peningkatan beban
subsidi BBM dan listrik akan membawa akibat kepada pengurangan anggaran pemerintah
untuk berbagai program penting untuk kesejahteraan rakyat, seperti alokasi untuk kemiskinan
dan infrastruktur.

2.3. Alasan Bahan Bakar Minyak Harus Naik

Presiden Joko Widodo akhirnya mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
bersubsidi pada Senin malam, 17 November 2014. Dalam pengumuman tersebut, harga BBM
bersubsidi jenis solar dan premium naik masing-masing Rp 2.000 per liter.

Jika dirunut, ada beberapa alasan yang memancing Jokowi menaikkan harga BBM pada
pertengahan November. Salah satu yang mengemuka adalah rekomendasi Faisal Basri, Ketua
Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Faisal menganjurkan pemerintah
menaikkan harga BBM pada November, saat harga barang-barang konsumsi menurun.
“Dampak inflasinya tidak akan terlalu besar,” kata Faisal

Hal serupa diutarakan Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menyarankan agar harga BBM
bersubsidi naik pada November karena secara historis nilai inflasinya rendah. BPS
menyatakan, inflasi Januari-Oktober 2014 mencapai 4,19 persen. Jika harga BBM naik Rp
3.000 per liter, ada tambahan inflasi 1,7 persen pada November 2014. Masih memenuhi
asumsi Anggaran pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014.

Menurut perhitungan Danamon, penurunan harga minyak dunia dan kenaikan harga BBM
sebesar Rp 2.000 bisa menghemat anggaran pemerintah sekitar RP 14,3 triliun dahun ini
(dampak hanya bisa dirasakan dua bulan terakhir yaitu November dan Desember). Namun
untuk tahun depan, APBN 2015 yang masih bisa direvisi, bisa menghasilkan penghematan
sebesar Rp 92 triliun yang dapat dialihkan untuk pos yang lain. Dengan kenaikan Rp 2.000,
inflasi diperkirakan mencapai 7-7,5 persen akhir tahun.
Faktor eksternal yang memperkuat alasan kenaikan harga BBM di bulan November adalah
turunnya harga minyak mentah dunia, sehingga harga minyak Indonesia (ICP) ikut turun.
Pada Oktober, ICP hanya US$ 83,72 per barel, jauh di bawah ICP Juli yang sebesar US$
104,3 per barel. Begitu pula Mean of Platts Singapore (MOPS), turun ke bawah US$ 100 per
barel. Dengan demikian, subsidi yang dihemat pemerintah bisa jauh lebh besar ketimbang
saat ICP tinggi.

2.4. Pengaruh Kenaikan Harga BBM Terhadap Perekonomian Indonesia

Perkembangan harga minyak yang terus melonjak akhir-akhir ini akan membawa pengaruh
terhadap kehidupan iklim berinvestasi.Yang paling utama apakah pemerintah akan turut
menyesuaikan harga minyak/BBM di dalam negeri atau tidak. Jika ya ,tentu saja tentu saja
kondisi perekonomian bisa sangat berbeda. Biasanya kenaikan BBM, akan mengakibatkan
naiknya biaya produksi,naiknya biaya distribusi dan menaikan juga inflasi.

Harga barang-barang menjadi lebih mahal, daya beli merosot,kerena penghasilan


tetap. Ujungnya perekonomian akan stagnan dan tingkat kesejahteraan terganggu. Di sisi
lain, kredit macet semakin kembali meningkat, yang paling parah adalah semakin sempitnya
lapangan kerja karena dunia usaha menyesuaikan produksinya sesuai dengan kenaikan harga
serta penurunan permintaan barang.

Hal-hal di atas terjadi jika harga BBM dinaikkan, Bagaimana jika tidak? Subsidi pemerintah
terhadap BBM akan semakin meningkat juga,mengapa? Meskipun negara kita merupakan
penghasil minyak, dalam kenyataannya untuk memproduksi BBM kita masih membutuhkan
impor bahan baku minyak juga.

Dengan tidak adanya kenaikan BBM, subsidi yang harus disediakan pemerintah juga semakin
besar. Dari mana menutupi sumber subsidi tersebut? Salah satunya adalah kenaikan
pendapatan ekspor. Mengapa dapat seperti itu?Karena kenaikan harga minyak dunia juga
mendorong naiknya harga ekspor komoditas tertentu, seperti kelapa sawit karena minyak
sawit mentah (CPO) merupakan subsidi minyak bumi. Income dari naiknya harga CPO tidak
akan sebanding dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk subsidi minyak.

Jika harga BBM dinaikkan, citra pemerintah secara politik akan terganggu, rakyat tentu tidak
setuju jika harga-harga menjadi mahal, jika pemerintah terganggu dampaknya menjadi sangat
luas,jadi, jika mengacu pada hal tersebut kemungkinan harga BBM tidak akan dinaikkan.

Tetapi masalah belum selesai sampai di sini, walaupun harga BBM tidak dinaikkan, tetap saja
dampak kenaikan harga minyak dunia berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia termasuk
didalamnya iklim investasi.

Kenaikan harga minyak dunia membuat biaya produksi meningkat. Itu berarti harga jual
barang-barang impor impor juga akan mahal yang akan berdampak pada inflasi karena
kenaikan harga impor barang.

Dampak dari hal ini pertama,tingkat bunga dana dan kredit belum akan turun dalam waktu
dekat, kedua tingkat bunga yang bertendensi meningkat atau minimal tetap akan berbanding
terbalik terbalik dengan harga obligasi. Artinya jika tingkat bunga meningkat, harga obligasi
berkemungkinan akan turun. Ketiga,t ingkat bunga yang tidak berubah juga memberikan
perbedaan tingkat bunga di dalam negeri dengan luar negeri yang relatif tetap atau ikut
mengalami perubahan.

Baik langsung maupun tidak langsung kenaikan harga Bahan Bakar Minyak bersubsidi akan
berdampak pada angka inflasi sehingga dapat mengoreksi pertumbuhan ekonomi yang
nantinya juga akan berpengaruh pada kinerja perekonomian secara agreagat. Menaikan harga
BBM adalah sesuatu yang kebijakan yang dilematis, namun hal ini menjadi pil pahit bagi
pemerintah untuk menyehatkan anggaran negara.

Selama ini kita dapat menikmati harga BBM dengan murah karena adanya subsidi BBM oleh
Pemerintah. Namun dengan menaikknya harga minyak dunia, pemerintah tidak bisa menjual
BBM dengan harga yang sama dengan harga minyak dunia. Oleh karena itu pengeluaran
APBN untuk subsidi semakin tinggi.

Namun resiko yang mau tidak mau dialami oleh bangsa Indoensia yaitu dengan kenaikan
harga BBM ini akan berpengaruh pada berbagai sektor baik rumah tangga sampai sektor
industri. Semua sektor yang kena dampak kenaikkan harga BBM tersebut karena mempunyai
ketergantuangan pada konsumsi BBM. Misalnya ongkos angkutan umum, barang-barang
kebutuhan pokok, harga bahan-bahan bangunan dan masih banyak lagi. Hampir semua sektor
akan terkoreksi dengan kenaikan harga BBM ini.

Banyak kalangan termasuk para ahli eknomi menilai jika subsidi BBM merupakan sesuatu
yang memberatkan anggaran negara. Untuk itu kenaikan BBM dipandang sebagai sesuatu hal
untuk menyehatkan kembali anggaran negara.

Memang hal ini menjadi dilema bagi pemerintah, karena disisi lain, kenaikan yang mencapai
Rp. 2.000 bisa berdampak pada berbagai sektor, termasuk inflasi harga maupun pada bidang
sosial. Oleh karena itu pemerintah selalu tak mau buru-buru untuk mengambil kebijakan yang
dilematis ini.

Untuk mengendalikan laju inflasi sebagai dampak kenaikan BBM sudah seyogyanya
pemerintah harus bisa memastikan kecukupan stok pangan, serta program sosial yang bisa
mempertahankan daya beli masyarakat. Tanpa itu daya beli masyarakat akan semakin
menurun dan dipastikan pertumbuhan ekonomi akan semakin melemah. Tanpa kenaikan
BBM pun saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,1 % jauh dari target 5,5 %

Beberapa ekonom sependapat dengan kebijakan pemerintah ini, meskipun awalnya pahit
namun dampak positif kedepan akan bisa dirasakan. Diantaranya anggaran lebih hemat,
sehingga bisa dialokasikan untuk pembangunan dibidang lainnya.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Setelah menganalisis beberapa artikel yang di muat di berbagai media, baik media cetak
maupun media online kami mendapat kesimpulan sebagai berikut :
1. Indonesia Negara Boros Subsidi

Indonesia tergolong boros energy di asia karena mengalokasikan anggaran subsidi energy
sangat besar, 3% PDB pada 2012. Itu hanya dikalahan oleh Pakistan dan Bangladesh.

2. Neraca Defisit, Rupiah Terpukul

Harga murah BBM menyebabkan lonjakan konsumsi dan impor BBM. Akibatnya, neraca
perdagangan defisit dan nilai rupiah terpukul.

3. 53% Subsidi Dinikmati Mobil Pribadi

Lebih dari separuh subsidi BBM pada 2013 dinikmati oleh pengendara mobil pribadi.
Sedangkan 40% lagi dinikmati oleh pengguna sepeda motor.

4. Indonesia Bukan Kaya Minyak

Cadangan minyak hanya tinggal 3,7 milyar baret, namun Indonesia di urutan ke-16 negara
dengan harga BBM termurah dunia. Bahkan lebih murah dari Negara kaya minyak, seperti
Irak dan Kazakhtan.

5. Indonesia Bukan Lagi Eksportir Minyak

Pada masa orde baru, Indonesia dikenal sebagai salah satu net exporter minyak terkemuka.
Namun sejak 2003, Indonesia bukan lagi menjadi net exporter, melainkan berubah menjadi
net importer seiring dengan lonjakan konsumsi BBM nasional.

6. Rezim Subsidi BBM Kian Ditinggalkan

Semakin banyak Negara meninggalkan rezim subsidi BBM, ketika sejumlah Negara net
exporter minyak tak lagi member subsidi Indonesia sebagai Negara net importer masih
mengucurkannya. Padahal banyak Negara net importer lainnya justru mengenakan pajak dari
BBM.

7. Negara Petrodollar Siap Pangkas Subsidi

Pengurangan subsidi juga mulai dilakukan oleh Negara-negara kaya minyak. Bahkan, Iran
berniat menaikkan BBM secara bertahap agar sesuai harga pasar.

8. Dana Migas Tekor Untuk Subsidi Energi

Di masa orde baru, dana migas andalan pembiayaan pembangunan dan subsidi energy.
Namun kemudian pendapatan migas terus merosot, sementara beban subsidi kian naik hingga
Rp 350 triliun (2014). Sejak 2 tahun lalu, dana migas bahkan tak lagi bisa menutup ongkos
subsidi.

9. Ketimpangan Subsidi Energy

Anggaran yang dialokasikan untuk membiayai subsidi energy sangat timpang jika
dibandingkan dengan anggaran untuk infrastruktur, kesehatan dan pengentasan kemiskinan.
10. Menghambat Tumbuhnya Energy Alternative

Harga BBM yang terlalu murah menghambat pengembangan sumber energy


lainnya, Contohnya gas alam. Jika harga BBM dinaikkan, gas alam sangat potensial
dikembangkan.

3.2. Saran

1. Pemerintah lebih memperhatikan peredaran subsidi BBM agar tidak disalahgunakan


oleh oknum tertentu.
2. Pengurangan dana subsidi BBM hendaknya di alihkan untuk sector lain yang
bermanfaat bagi masyarakat serta mengawasi penggunaanya.
3. Pemerintah tetap menjadi regulator dalam penetapan harga di pasaran agar tidak
terjadi lonjakan harga bahan makanan pokok ketika BBM naik.
4. Masyarakat hendaknya mendukung kebijakan-kebijakan yang telah di tetapkan
pemerintah untuk menjaga iklim yang kondusif bagi kehidupan di Indonesia.

https://nuraqmala.wordpress.com/2016/03/23/makalah-perekonomian-indonesia-analisis-
kenaikan-harga-bbm-dan-pengaruhnya-terhadap-perkonomian-di-indonesia/