You are on page 1of 5

Resume Jurnal

Judul Jurnal : Khasiat dan Keamanan Kombinasi Tetap Travoprost


dan Timolol Dibandingkan dengan Travoprost pada
Pasien dengan Glaukoma Sudut Terbuka Primer dan
Okular Hipertensi
Latar Belakang : Glaukoma adalah penyakit okular multifaktorial
yang umum dan berpotensi membutakan. Hal ini
ditandai dengan hilangnya sel ganglion retina yang
progresif yang menyebabkan atrofi saraf optik dan
defisit lapang pandang. Diperkirakan 60,5 juta orang
akan mengalami glaukoma sudut terbuka dan sudut
tertutup pada tahun 2010, meningkat menjadi 79,6
juta pada tahun 2020. Peningkatan tekanan
intraokular (TIO) merupakan faktor risiko penting dan
dapat dimodifikasi untuk pengembangan dan
perkembangan glaukoma. Glaukoma sudut terbuka
primer (POAG) adalah neuropati optik kronis yang
dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati.
Obat berperan pada garis depan dalam
pengurangan TIO pada glaukoma dan selama
bertahun-tahun, β –blocker adalah obat utama yang
digunakan karena kapasitasnya untuk memperlambat
tingkat produksi humor aqueous. Di Uni Eropa dan di
tempat lain, kelas analog prostaglandin sebagai obat
penurun TIO telah menjadi yang paling umum
digunakan. Banyak pasien memerlukan lebih dari satu
pengobatan untuk mencapai target TIO dan beta-
blocker sebagai prostaglandin analog secara umum
digunakan sebagai adjunctive terapi pada pasien yang
membutuhkan rejimen multi-obat.
Di tahun sebelumnya, The Ocular Hypertension
Treatment Trial telah menunjukkan bahwa
pengurangan TIO dapat mencegah perkembangan
glaucoma di antara individu dengan hipertensi okular
dan dapat mengurangi risiko progresi glaucoma.
Kebaruan dari studi ini adalah periode
pengobatan yang pajang lebih dari 2 tahun dengan
obat tetes mata yang sama tanpa beralih ke yang lain.
Tujuan : Untuk membandingkan kemanjuran dan keamanan
penurunan TIO dari travoprost 0,004% dan larutan
kombinasi tetap tetes mata travoprost 0,004% dan
beta-blocker 0.5% pada pasien dengan glaukoma
sudut terbuka dan hipertensi okular.
Metodologi : Dalam percobaan klinis prospektif multisenter
ini, 62 pasien menerima travoprost 0,004% (n = 31)
atau kombinasi tetap travoprost 0,004% dan beta-
blocker 0,5% (n = 31). Penurunan TIO dan efek
samping yang merugikan diperiksa pada 3, 6, 12 dan
24 bulan untuk setiap kelompok.
Kriteria diagnostik dari glaukoma sudut terbuka
dan hipertensi okuler diputuskan setelah melakukan
goniscopy, pemeriksaan kepala saraf optik dan lapisan
serat saraf retina dan perimetri.
Subjek yang memenuhi kriteria diagnostik
ditindaklanjuti selama 2 tahun. Satu tetes travoprost
0,004% atau kombinasi tetap travoprost 0,004% /
timolol 0,5% diteteskan ke kantong konjungtiva dari
satu atau kedua mata pasien sekali sehari.
TIO diukur dengan menggunakan tonometer
applanation Goldmann untuk setiap mata antara pukul
8 pagi dan 10 pagi pada awal (hari 0) dan empat
kunjungan kontrol: kontrol 1 (setelah 3 bulan), kontrol
2 (setelah enam bulan), kontrol 3 (setelah 1 tahun)
dan kontrol 4 (setelah 2 tahun).
Kriteria eksklusi: riwayat hipersensitivitas
terhadap β-bloker atau kondisi dimana β –blocker
dikontraindikasikan (misalnya asma bronkial, gagal
jantung yang dikontrol dengan cukup); Infeksi uveal
bersamaan, kronis atau berulang, peradangan skleral,
atau herpes kornea; riwayat trauma okular, operasi
mata internal dalam waktu 3 bulan sebelum
pemeriksaan awal; kesulitan dalam menjalani
tonometri applanasi; penggunaan larutan tetes
kortikosteroid; komplikasi okuler serius; wanita
hamil atau menyusui; dan demensia berat.
Subjek yang memenuhi kriteria inklusi
mendapatkan penjelasan yang cukup mengenai studi
dan perlakuan. Informed Consent didapatkan dari
semua pasien yang masuk dalam studi ini.
Pengolahan data dilakukan dengan paket
statistik SPSS 22.0. Pengujian data kualitatif
2
menggunakan uji X atau uji Fisher, pengujian data
kuantitatif dengan uji T-test atau Mann-
Whitney. Pengujian verifikasi dilakukan dengan
reliabilitas 95% (P <0,05).
Pembahasan :
Kesimpulan : Dalam penelitian kami, efek penurunan TIO dari fixed-
combination travoprost 0,004% / timolol 0,5% lebih
baik dibandingkan dengan monoterapi travoprost
0,004% saja, secara statistik hasil ini menunjukkan
adanya perbedaan signifikan pada rata-rata nilai TIO
setelah satu dan dua tahun terapi.
Rangkuman dan : Berdasarkan jurnal yang diambil dari Open Journal
Hasil Pembelajaran Ophtalmology yang dipublikasikan pada tanggal 7
Februari 2018, didapatkan kesimpulan setelah 2 tahun
pengobatan, travoprost 0,004% / timolol 0,5%
menghasilkan pengurangan TIO yang relevan secara
klinis pada pasien dengan glaukoma sudut terbuka
atau hipertensi okuler.
Tekanan intraokular (TIO) adalah tekanan cairan
didalam bola mata yang nilainya ditentukan oleh
kecepatan pembentukan aqueous humor dan tahanan
terhadap aliran keluarnya dari mata.
Konsensus Oftalmologi mendefinisikan TIO
normal adalah antara 10 dan 21 mmHg.
Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan
produksi humor aqueous, tahanan terhadap aliran
keluarnya humor aqueous dari mata dan tekanan pada
vena-vena episklera.

Hipertensi okuli adalah suatu keadaan dimana


tampak kriteria seperti di bawah ini :
1. TIO ˃ 21 mmHg pada satu / kedua mata yang
diukur dengan tonometer applanasi pada 2 atau
lebih kunjungan pemeriksaan.
2. Tidak ada efek glaukomatous pada pemeriksaan
lapang pandangan.
3. Optic disc dan lapisan serabut saraf normal.
4. Sudut-sudut terbuka pada gonioscopy, tanpa ada
riwayat sudut tertutup.
5. Tidak adanya penyakit mata lain yang dapat
menyebabkan peningkatan tekanan.

Faktor Resiko
 Bertambahnya usia
 Jenis kelamin wanita, terutama wanita usia
menopause
 Ras kulit hitam
 Riwayat glaukoma dalam keluarga
 Riwayat miopia
 Diabetes melitus
 Penyakit kardiovaskular dalam keluarga

Terjadinya peningkatan resistensi dari outflow


aqueous humor disangkakan dengan berbagai teori,
termasuk diantaranya:
1. Obstruksi trabecular meshwork oleh benda-
benda asing.
2. Hilangnya sel-sel endothel trabecula.
3. Mengecilnya densitas dan ukuran pori-pori
trabecula pada dinding bagian dalam
endothelium canalis schlemm.
4. Hilangnya giant vacuoles pada dinding bagian
dalam endothelium canalis schlemm.
5. Hilangnya aktifitas normal phagocytic.
Gangguan dari mekanisme feedback neurologic.

Diagnosis
I. Anamnesa
Anamnesa pertama sangat penting dalam
evaluasi hipertensi okuli untuk mendeteksi glaukoma
atau penyakit mata yang lain yang secara sekunder
menyebabkan peninggian TIO. Hal-hal yang harus
diperhatikan adalah :
1. Riwayat penyakit mata terdahulu: riwayat
sakit pada mata atau mata merah, halos yang
berwarna-warni, sakit kepala, penyakit mata
sebelumnya termasuk katarak, uveitis,
diabetic retinopathy, oklusi pembuluh darah,
riwayat operasi mata sebelumnya
(photocoagulasi atau prosedur refractive),
atau trauma pada mata atau kepala.
2. Riwayat pengobatan terdahulu: tindakan
bedah atau penyakit vasculopathic systemic.
3. Riwayat obat-obatan, termasuk obat-obat
antihipertensi (yang mana secara langsung
menyebabkan fluktuasi TIO) atau
corticosteroid topical/sistemik.
4. Faktor resiko untuk neuropathy optik akibat
glaukoma.

II. Pemeriksaan Fisik


1. Visual acuity: normal.
2. Pemeriksaan slit lamp dari segmen
anterior: normal
3. Gonioskopi: BDM terbuka
4. Tonometri: TIO ˃21 mmHg pada salah
satu/kedua mata
5. Lapang pandang: normal

Sekarang ini sebagian ahli menyarankan


observasi ketat tanpa pengobatan karena kebanyakan
pasien hipertensi okuli beresiko rendah terhadap
kehilangan penglihatan.