You are on page 1of 2

Aku membuka mataku pelan. Lalu menghembuskan napas.

Sekali lagi pagi baru di negara


yang baru. Aku menatap langit langit kamar agak lama, lalu beralih menatap jam yang tergantung di
dinding. Jam 7 tepat. Dan itu berarti aku telat. Dan 5 detik lagi bang Gabi bakal ketuk pintu sambil
teriak. Lima, empat, tiga, dua..

“Dek ngapain sih di kamar lama banget??” pintu digedor beberapa kali. Aku menghela
napas lalu membukakan pintu. Masih seperti yang kuduga, bang Gabi menganga melihatku yang
belum siap sama sekali.

“Ahh bodo amat lah dek,” dia menepuk dahi. “Abang pergi luan. Kunci mobil di meja makan.
Bye.” Katanya lalu berlari pergi sambil menyeret tas sekolahnya.

“Eh bang jang—“ dia tak mendengarkan. Aku harus pergi, ada ulangan fisika di jam ke empat.
Dengan malas aku menyeret kaki menuju kamar mandi.

Ini hari keempat aku memasuki sekolah itu. Juga sejak kepindahanku ke negara ini.
Perubahan lingkungan tidak berpengaruh besar, hanya saja disini lebih panas. Aku juga tak perlu
banyak mengejar ketertinggalan pelajaran. Awal kepindahan yang tergolong santai. Aku
berterimakasih kepada Mom dan Dad yang telah mengurus semuanya. Walaupun 6 jam setelah
mengurus semuanya mereka kembali terbang keluar negeri—untuk mengurus pekerjaannya.

“Loh Eira? Kamu terlambat?” langkahku terhenti di depan gerbang, aku menggaruk kepalaku
yang tidak gatal.

“eh? Enggak buk, Eira udah masuk tadi, terus ada barang yang ketinggalan, jadi Eira balik
deh.” Jawabku lalu menyunggingkan senyum kecil. Miss Fia mengernyitkan dahi. aku mengeratkan
genggamanku pada jaket hoodie yang kupegang sejak tadi.

“oh oke, masuklah.” Aku tersenyum lalu berjalan masuk. Setelah masuk ke lobi, aku
mengeluarkan tas kecil yang sejak tadi kusembunyikan di balik hoodie, lalu berjalan ke kantin. Aku
akan dibunuh jika masuk ke kelas saat pelajaran sedang berlangsung, jadi lebih baik aku masuk
setelah istirahat berakhir.

Aku duduk di tribun penonton lapangan basket sambil menikmati eskrim yang baru saja
kubeli. Sambil menonton bang Gabi yang berkali kali melakukan shooting ke ring. Kelasnya memang
sedang olahraga, berbeda denganku yang sedang membolos kelas. Wah lihat laki laki itu. Berani
sekali dia mengibaskan rambut yang kujambak hampir setiap harinya. Dan konyolnya beberapa
perempun yang duduk di pinggir lapangan berteriak. Wah wah. Pintar sekali dia.

Seorang laki laki berambut cokelat masuk ke lapangan lalu melakukan tos dengan Bang Gabi.
Dia tak mengenakan seragam sekolah. berarti dia sedang tak dalam pelajaran olahraga. Apa dia juga
membolos? Belum sempat aku memikirkan tentang itu, kedua manik matanya menatap kerarahku.
Aku melotot. Padahal aku telah memilih tempat paling tersembunyi. Eh, tapi dia mengalihkan
pandangannya seolah tak pernah melihatku. Apa apaan itu tadi? Aku memutuskan untuk mengambil
tas dan beberapa snack yang kubeli tadi lalu pergi dari sana.
“lo bolos?” aku menghentikan langkahku. Lalu merapatkan bibir membentuk garis lurus.
Aku baru saja ketahuan. Dan sekarang cepat atau lambat, aku harus membalikkan adanku,
menghadap si empunya suara berat yang berdiri di belakangku.

Tbc:D

Aku membalikkan badan sambil menundukkan kepala. Dia laki laki berambut cokelat tadi.

“lo bolos?” aku tak menjawab, lalu dia berdecih. Dan mengambil langkah mendekat.

“sama. Gue juga.” Jawabnya santai. Aku mengangkat kepala untuk menatap wajahnya yang
tersenyum. Oh. Kukira dia panitia osis atau semacamnya. Rupanya dia juga sedang bolos.

“temenin gue ke kantin kuy, nanggung bentar lagi break.” Katanya lalu berjalan lebih dulu.
Anak ini siapa sih? Kelakuannya benar benar aneh. Aku mendengus lalu melangkah dibelakangnya.

Kami keluar dari kantin dengan tanan memegang eskrim. Berjalan dengannya cukup
membuatku risih. Pertama karena fakta bahwa aku tak mengenalnya. Yang kedua, kupikir dia
bukanlah tipe orang yang suka berbasa-basi. Ini benar benar canggung. Apa tujuannya mengajakku
menemaninya di kantin? Bahkan dia tak mengenalku.

Bel berbunyi setelah kami berjalan beberapa langkah. Lalu dia menatapku sambil tersenyum.
Apa hobinya tersenyum? Kenapa dia tersenyum sepanjang waktu?

“ah, sudah break, kalau begitu gue duluan ya!” dia berlari pergi.

Aku menganga.

Apa yang baru saja kulakukan 5 menit yang lalu??

“woi!” 3 orang perempuan berjalan ke arahku. Mereka Alicia, Lisa dan Alexa. Aku mengirim
pesan kepada Alicia tentang aku yang terlambat dan membolos hingga istirahat. Wajar jika mereka
tahu posisiku.

“Duduk dulu.” Mereka menarikku duduk. Alicia bertanya “kok bisa telat?”