You are on page 1of 3

Pagi yang luar biasa. Mama dan Papa pergi ke London, dan sialnya dia lupa.

Dan itu semua


berujung pada alarm yang nggak bunyi. Dan disinilah dia sekarang, lari lari di koridor kaya anak bego
sambil meluk tumpukan bahan untuk kerja kelompok yang tingginya hampir nutupin penglihatannya.
Dan sialnya, dia nabrak orang. Dan jatuh terduduk di lantai.

“Ugh, sial—“sebelum dia habis bicara, anak yang menabaknya tadi udah pergi gitu aja. Benar
benar pagi yang luar biasa. Gadis itu hanya mendengus lalu merangkak untuk memungut barang
barangnya yang berserakan.

“Anjir untung masih jam literasi, kalo engga bakalan gepeng lo digencet sama Bu Chucky.”
Seseorang berkata. Gadis yang menjadi lawan bicaranya hanya nyengir, lalu meletakkan tumpukan
barang yang dibawanya di rak. Sebelum akhirnya dia duduk di samping gadis itu, di seragamnya
tertulis ‘Leona Annisa’, yang merupakan nama lengkapnya.

“ya gimana, gue lupa.” Jawabnya sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit
berantakan.

Leona mencibir. “gue telpon lo sekitar lima puluhan kali. Heran. Cecan kok tukang molor.”
Ujarnya dibalas oleh gelak tawa dari teman sebangkunya dan dua orang yang duduk di depan
mereka, Lucia dan Maudy. “btw lo bawa apa aja? Gue yang nyuruh lo bawa semuanya kok gue malah
kasian ya..” potong Maudy, yang duduk tepat didepan gadis berambut panjang itu.” Kaya yang kalian
minta, hasil kerja kalian kemaren, terus beberapa tambahan yang gue pikir bakal diperluin.” Jawab
gadis itu dibalas anggukan Maudy, Leona, dan Lucia.

Tiba tiba seseorang menggebrak pintu kelas. Itu adalah laki laki paling hancur di kelas, David.

“WOI UDAH SIAP PEER FISIKA GA LU PADA?”

“Sial. Dobel sial. Tripel sial. Kecoa bunting. Kuda bertelur. Dinosaurus. GUE LUPA ANJIR.”
Gadis itu berteriak lalu mengacak acak rambut panjangnya yang sudah dirapikan tadi.

“Mampus lu. Nggak ada yang namanya dispensasi. Lo udah masuk dua pertemuan.” Kata
David lagi dengan intonasi lebih tenang dibanding sebelumnya. Lalu kembali ke tempat duduknya.
Leona dengan santainya mengeluarkan buku tugasnya dari tas. Tanpa ada tanda tanda untuk berbagi.
“Leona cantik, Leona Annisa primadona sekolah, kebersamaan dung.” Katanya dengan nada
memelas. Leona berdecih.

Dia memberikan bukunya. Dan langsung disambar oleh gadis itu. “Kalo sempat. Si chucky
masuk jam pertama.” Seketika raut wajah gadis itu berubah.

Maniac. Empat kali. Sekali lagi buat dapetin savage. Dia dikeluarin dari kelas sama si Chucky
bernyawa itu. Dan kayanya dia nggak mau balik lagi. Males. Nanggung juga. Mendingan bolos.
Akhirnya dia berjalan pergi meninggalkan kelas sambil menghentak hentakin kaki di koridor menuju
perpustakaan. Lumayan disana. Sudut bacanya ada bantal. Adem juga. Enak buat tidur. Pikirnya.

“Loh, Lexa?” itu kak Nara. Penjaga perpustakaan. Raut wajahnya seolah mengerti habis liat
wajah gadis yang melangkah masuk itu. Dan dia nggak nanya apa apa lagi. Setelah sampai di sudut
baca incaranya, dia ngerebahin badan dan mejamin mata.

Sebelum dia sempat tertidur, suara petikan gitar terdengar beberapa meter darinya.
Mungkin selang dua atau tiga rak. Dia mengenali lagunya. Entah siapa yang memetik senar demi
senar itu, tapi Lexa tau orang itu melakukannya dengan sangt baik. Tenang, dan sederhana. Kiss The
Rain memang lagu paling pas untuk penghantar tidur. Siapapin yang memainkan gitar itu. Lexa benar
benar merasa berterima kasih karena sudah memainkannya. Dan pada akhirnya, Lexa tertidur pulas
disana. Sejenak melupakan bahwa dirinya dihukum oleh guru yang berwajah mirip seperti Chucky,
dan berbagai kesialannya hari ini.

***

“Kamu mau mainin lagu yang mana?” tanya seorang gadis berambut hitam sebahu kepada
laki laki di hadapannya yang sedang memangku sebuah gitar. Lalu jari kecilnya mengetik sesuatu di
handphone dan menunjukkannya ke laki laki itu.

Laki laki itu melihatnya, sepertinya sedang memilih sesuatu. “oh, yang ini aja.” Katanya lalu
memilih satu lagu. Beberapa detik kemudian terdengar suara petikan gitar darinya, sambil sesekali
menatap handphone untuk melihat kuncinya. Gadis itu pun merebahkan dirinya lalu menatap langit
musim semi . Seakan akan mereka tidak sedang duduk di sebuah sofa yang terletak di balkon.
Hingga kemudian dia tertidur.
Gadis itu terbangun diatas tempat tidur. Dia mendudukkan tubuhnya, lalu melihat jam.
Sudah malam. Matanya beralih pada nakas, dan melihat selembar sticky notes tertempel disana.

Aku pergi, sampai jumpa!

Aku akan menghafal kunci untuk lagu itu, dan aku akan menunjukkannya padamu nanti!

Beristirahatlah, kau kelelahan. Siapkan energimu untuk besok. Ya?

-Youmustbeknowwhoiam

Wajah gadis itu cerah hanya karena membaca secarik kertas. Lalu sesuai permintaan sang
penulis surat sticky notes itu, dia kembali merebahkan tubuhnya untuk kembali tidur.