You are on page 1of 33

M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

MODUL PEMBELAJARAN
ASUHAN KEPERAWATAN
COMBUSTIO
(LUKA BAKAR)

Tim Penyusun :
Rofiatun Nisha (P1337420316001)
Nurul Janah (P1337420316014)
Winarsih Ayu M (P1337420316023)
Ratna Dwi Budiarti (P1337420316030)
Anisa Ulya (P1337420316035)
Nur Rahmawati S (P1337420316039)
Dwi Oktaviani GOUT
(P1337420316043)
Nur Susiyamti N (P1337420316048)
Naufal Ghozy (P1337420316052)

Prodi DIII Keperawatan Pekalongan

1
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

VISI DAN MISI PRODI DIII K E P E R AWATA N


PEKALONGAN

VISI: Menjadikan Prodi Keperawatan Pekalongan yang


menghasilkan tenaga keperawatan unggul dalam
keperawatan gawat darurat berbasis kearifan lokal dan
diakui internasional 2025

MISI:

1. Meaksanakan tri dharma perguruan tinggi sesuai


perkembangan dan kebutuhan masyarakat
berdasarkan sistem penjamin mutu poltekkes
kemenkes semarang

2. Melaksanakan, mengembangkan pengelolaan program


studi secara terus menerus dalam menghasilkan
lulusan yang berkualitas, berdaya saing tingi dan
berbudi pekerti luhur

2
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

3. Menghasilkan lulusan D III Keperawatn yang


kompeten yang unggul dalam pengelolaan
keparawatan kegawat daruratan

4. M e n g e m b a n g k a n jejaring dengan pengguna lulusan,


baik berskala lokal, regional, nasional maupun
internasional

SASARAN MUTU:

Sarmut I

a . Te r w u j u d n y a penyelenggaraan pendidikan sesuai


standar pelayanan pendidikan (standar ISO
9001:2008)

b . Te r s e l e n g g a r a n y a p e n g e m b a n g a n S D M

Sarmut II

a . Te r l a k s a n a n y a kegiatan penelitian kesehatan oleh


setiap dosen minimal sekali dalam satu tahun

b. Keikutsertaan kegiatan proceeding penelitian baik


tingkat nasional minimal setahun sekali

c . Te r s e l e n g g a r a n y a sosialisasi hasil penelitian dan


implementasinya kepada mahasiswa dan masyarakat

d . Te r s u s u n n y a r o a d m a p p e n e l i t i a n p r o g r a m s t u d i

Sarmut III

3
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

a . Te r s u s u n n y a rencana program pengabdian kepada


masyarakat

b . Te r l a k s a n a n y a kegiatan pengabdian kepada


masyarakat minimal sekali setiap semester

c . Te r b a n g u n n y a k e r j a s a m a l i n t a s p r o g r a m d a n s e k t o r a l
dalam program pemerintah untuk pembangunan
kesehatan masyarakat

d. Mengadakan pelatihan workshop terkait hasil


penelitian pada kegiatan pengabdian masyarakat

Sarmut IV

a . Te r c i p t a n y a kegiatan pembelajaran dengan aman,


tertib, bebas dari suasana keributan / kebisingan

b. Meningkatnya motivasi belajar mahasiswa di


lingkungan kampus

c. Berjalannya kegiatan kemahasiswaan yang dapat


meng-akomodir terhadap kreativitas mahasiswa

d . Te r s e d i a n y a s i s t e m k e a m a n a n d a n k e s e l a m a t a n b a g i
seluruh civitas akademika

e. Te r c i p t a n y a pegaulan sosial akademik yang


menyensangkan bagi seluruh civitas akademika.

4
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

K
R
A

N
A

N
E

A
P
T

T
Alhamdulillah dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan
Yang Maha Kuasa, Modul Pembelajaran Keperawatan Medikal Bedah
dengan Asuhan Keperawatan Combusti (Luka Bakar) telah dapat
diselesaikan. Modul pembelajaran ini disusun untuk memfasilitasi mahasiswa
dalam membantu dan mengarahkan belajar mahasiswa sehingga memiliki
kemampuan internal untuk belajar secara mandiri.
Modul pembelajaran ini akan mengkondisikan mahasiswa belajar secara
mandiri karena dikemas secara interaktif yang didalamnya tersedia alat ukur
(soal-soal latihan dan tugas uji kompetensi), sekaligus ber-feedback
langsung terhadap kesalahan yang dijawabkan mahasiswa, dan mampu
mengoreksi secara cepat berkenaan seberapa tinggi keberhasilan
mahasiswa dalam mempelajari unit materi tertentu.
Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada semua
pihak yang terlibat dalam penyusunan modul ini. Akhirnya, penulis berharap
modul pembelajaran ini dapat digunakan untuk mendukung belajar
mahasiswa secara optimal dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Pekalongan, 25 maret 2018

Kelompok 5

5
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

IS
R
A

A
D
F
T
I
Visi & Misi Poltekkes Kemenkes Semarang… ..............2
Kata Pengantar ......................................................5
Daftar Isi ...............................................................6
Ti n j a u a n U m u m M a t a k u l i a h … … … … … … … … … . . . … … … . . 7
M AT E R I I N T I M O D U L … … … … … … … … . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 3
M O D U L M AT E R I 1 : A S U H A N K E P E R AWATA N C O M B U S T I O
Deskripsi singkat..............................................
Tu j u a n / K o m p e t e n s i . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Indikator belajar .................................................
Kegiatan Pembelajaran.........................................
Uraian Materi......................................................
Pokok Bahasan & Sub Pokok Bahasan 1
Latihan ............................................................... ..
Rangkuman .......................... ................... ...........
Pokok bahasan & Sub pokok bahasan 2............. .....
Latihan..............................................................
Rangkuman ........................................................
Te s F o m a t i f . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Daftar referensi ....................................................... .

6
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

TI
M
M

M
K

U
N
A
U
A

N
J
Keperawatan medikal bedah II merupakan pelayanan profesional yang
didasarkan Ilmu dan teknik Keperawatan Medikal Bedah berbentuk
pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yg komprehensif ditujukan pada orang
dewasa dgn atau yg cenderung mengalami gangguan fisiologi dgn atau tanpa
gangguan struktur akibat trauma. Keperawatan medical bedah merupakan
bagian dari keperawatan, dimana keperawatan itu sendiri adalah : Bentuk
pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprihensif
ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat
yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan
berupa bantuan yang diberikan dengan alasan : kelemahan fisik, mental,
masalah psikososial, keterbatasan pengetahuan, dan ketidakmampuan
dalam melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri akibat gangguan
patofisiologis, (CHS,1992).
Pengertian keperawatan medikal bedah mengandung empat hal seperti di
bawah ini:
1. Pelayanan Profesional

Seorang perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada


pasien, selalu memandang pasien secara holistic/menyeluruh baik Bio-
Psiko-sosial-kultural-Spiritual. Dalam setiap tindakan, perawat dituntut
untuk memberikan asuhan keperawatan secara professional sesuai
dengan standarisasi profesi keperawatan. Pelayanan ini diberikan oleh

7
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

seorang perawat yang berkompetensi dan telah menyelesaikan


pendidikan profesi keperawatan pada jenjang yang lebih tinggi.

2. Berdasarkan Ilmu Pengetahuan

Perawat dalam melaksanakan tugasnya sudah melalui jenjang


Pendidikan Formal yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Ilmu
pengetahuan terus berubah dari waktu ke waktu (dinamis), sehingga
dalam memberikan Asuhan keperawatan pada Klien berdasarkan
perkembangan ilmu pengetahuan terbaru

3. Menggunakan scientific Metode

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan melaui tahap-tahap dalam


proses keperawatan berdasarkan pendekatan ilmiah. Dengan
menggunakan standarisasi asuhan keperawatan yang ada (NANDA,
NIC, NOC).

4. Berlandaskan Etika Keperawatan

Perawat dalam melaksanakan tugasnya, dituntut untuk dapat


menerapkan asas etika keperawatan yang ada, meliputi asas
Autonomy (menghargai hak pasien/ kebebasan pasien), Beneficience
(menguntungkan bagi pasien), Veracity (kejujuran), Justice (keadilan)

8
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

TI
M

M
O
U
D

R
L

E
T
A
I
I
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu
sumber panas pada tubuh, panas dapat dipindahkan oleh hantaran/radiasi
electromagnet.

Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat

meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara
langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa
keadaan yang mengancam kehidupan. Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka
bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan
pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup
kurang dari 50%. Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75%
mempunyai harapan hidup 50%. dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk
memulangkanpasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan. Pengurangan
waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah
komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik
rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan
hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.
Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan
khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab(etiologi) dan
anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar atau
yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih
intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang
disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis

9
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau
paparan radiasi ionisasi. Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan
yang berbeda dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api.
Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan resiko nifeksi yang lebih besar
daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada kaki atau
tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan
tehnik pengobatan
yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat
tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk
mengenal perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk
mengantisipasi harapan hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang
menyertai.

M O D U L M AT E R I 1
ASUHAN KEPERAWATAN COMBUSTIO

10
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

D E S K R I P S I S I N G K AT

Mata kuliah ini akan membahas tentang Keperawatan Medikal Bedah II,
yaitu Asuhan Keperawatan COMBUSTIO Mata kuliah ini akan dibagi 1,
menguraikan tentang :pengertian, etiologi, manifestasi
klinis,klasifikasi,pemeriksaan penunjang, pathway, patofisiologi, asuhan
keperawatan pada gout

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Pembelajaran Umum;
Setelah memplajai modul Keperawatan Medikal BedahII diharapkan
mahasiswa dapat memahami dan dapat melaksanakan asuhan keperawatan
combustio
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah memplajari modul Keperawatan Medikal Bedah II gout diharapkan
mahasiswa dapat:
1. Mengetahui pengertian combustio (luka bakar)
2. Mengetahui etiologi combustio (luka bakar)
3. Mengetahui manifestasi klinis pada combustio (luka bakar)
4. Mengetahui Klasifikasi pada combustio (luka bakar)
5. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada combustio (luka bakar)
6. Mengetahui pathway pada combustio (luka bakar)
7. Mengetahui patofisiologi pada combustio (luka bakar)
8. Mengetahui asuhan keperawatan pada combustio (luka bakar)
.

11
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Indikator Pembelajaran

Kompetensi Dasar Indikator
Asuhan Keperawatan 1. Pengertian combustio (luka bakar)
2. Etiologi combustio (luka bakar)
Medikal Bedah II
3. Manisfestasi klinis combustio (luka
dengan combustio bakar)
4. Klasifikasi combustio (luka bakar)
5. Pemeriksaan penunjang combustio
(luka bakar)
6. Pathway combustio (luka bakar)
7. Patofisiologi combustio (luka bakar)
8. Asuhan Keperawatan combustio
(luka bakar)

Kegiatan pembelajaran

Pada modul ini, mahasiswa akan melakukan kegiatan dalam
pembelajaran yaitu :
1. Mempelajari tujuan Asuhan Keperawatan Medikal Bedah II
combustio (luka bakar)
2. Melakukan praktek dan memahami Prosedur Keperawatan
Medikal Bedah II combustio (luka bakar)
3. Merangkum dan mengevaluasi tindakan Keperawatan Medikal
Bedah II g combustio (luka bakar)

12
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

URAIAN MATERI

A S U H A N K E P E R AWATA N C O M B U S T I O

A. Pengertian
Combustio adalah luka yang terjdi akibat sentuhan permukaan tubuh
dengan benda-benda yang menghasilkan panas ( api, air panas, listrik ) atau
zat yang bersifat membakar ( asam kuat asam basa).
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus
listrik bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang
lebih dalam. Luka bakar bisa berasal dari berbagai sumber, dari api, matahari,
uap, listrik, bahan kimia, dan cairan atau benda panas. Luka bakar bisa saja
hanya berupa luka ringan yang bisa diobati sendiri atau kondisi berat yang
mengancam nyawa yang membutuhkan perawatan medis yang intensif

13
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh pengalihan energi dari
suatu sumber panas pada tubuh, panas dapat dipindahkan oleh hantaran/radiasi
electromagnet (Brunner & Suddarth, 2002).
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontrak dengan sumber panas seperti api, air, panas, bahan kimia,
listrik dan radiasi (Moenajar, 2002).

B. Etiologi
Combustio disebabkan oleh 3 golongan yaitu :
1. Panas ( thermis ) misalnya :
a. Api
b. Pasir
c. Air panas
d. Aliran listrikk
e. Minyak panas
f. Suhu yang tinggi
g. Logam panas
2. Zat kimia ( Chemist ) misalnya :
a. Lisol
b. Prostek
c. Alkohol
d. Zat phosper
e. Kreolin
f. Pepsida
g. Nitrat argentin
h. Asam kuat
3. Sinar ( Radiasi ) misalnya :

14
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

a. Sinar matahari
b. Sinar laser
c. sinar X (Rongen)

C. Manifestasi Klinis
Kedalaman Bagian Gejala Penampilan Luka Perjalanan
dan Kulit Yang Kesembuh
Penyebab terkena an
Luka Bakar

Derajat Satu Epidermis Kesemuta Memerah;menjadi Kesembuha


Tersengat Hiperestesia putih jika ditekan n lengkap
matahari (super Minimal atau tanpa dalam
Terkena Api sensitive) edema waktu satu
dengan Rasa nyeri minggu
intensitas mereda jika Pengelupasa
rendah didinginkan n kulit

Derajat Dua Epidermis Nyeri Melepuh, dasar Kesembuha


Tersiram air dan Bagian Hiperestesia luka berbintik – n luka
mendidih Dermis Sensitif bintik dalam
Terbakar oleh terhadap merah,epidermis waktu 2 – 3
nyala api udara yang retak, permukaan minggu
dingin luka basah Pembentuka
Edema n parutdan
depigmenta
si
Infeksi
dapat
mengubahn
ya menjadi
derajat tiga

Derajat Tiga Epidermis, Tidak terasa Kering ;luka Pembentuka

15
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Terbakar Keseluruha nyeri bakarberwarna n eskar


nyala api n Dermis Syok putih seperti badan Diperlukan
Terkena dan kadang Hematuri kulit atau berwarna pencangkok
cairan – kadang dan gosong. an
mendidihdala jaringan kemungkina Kulit retak dengan Pembentuka
m waktu yang subkutan n hemolisis bagian kulit yang n parut dan
lama Kemungkin tampak hilangnya
Tersengat arus terdapat Edema kountur
listrik luka masuk serta fungsi
dan keluar kulit.
(pada luka Hilangnya
bakar jari tangan
listrik)a atau
ekstermitas
dapat terjadi

D. Pathway

COMBUSTIO

KERUSAKAN KERUSAKAN
PEMBULUH KULIT DAN
DARAH SARAF

VOLUME
PERMEABILITAS RESIKO NYERI
CAIRAN
KAPILER TINGGI
HILANG
MENINGKAT INFEKSI
BERLEBIHA
N
CAIRAN
DAN KEKAKUAN Gg DEHIDRASI KERUSAKA
PROTEIN SENDI,KERU AKTIVITAS N GINJAL
MEREMBES SAKAN
KELUAR KULIT
16
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

KEJANG SYOK Gg AKTIVITAS OEDEMA


HIPOVOLEMIK

PRODUKSI URIN
Gg NUTRISI
BERKURANG

E. Patofisiologi
Akibat yang terlihat pada individu yang mengalami luka bakar
merupakan hasi dari penyebab efek panas itu sendiri terhadap kulit, efek dari
panas terhadap elemen darah atau pembuluh darah serta kelainan metabolik
yang terjadi secara umum.
Efek terhadap kulit adalah merusak lapisan kulit sehingga mudah
terjadi infeksi menyebabkan panas dan cairan tubuh yang hilang bertambah
banyak.
Efek terhadap pembuluh darah adalah berupa permeabilitas kapiler
yang meningkat sehingga cairan dan protein merembes menyebabkan
hipovolemi dan syok. Fase syok sering terjadi dalam 24 jam pertama

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :

17
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

i. Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran darah yang


banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya
cedera
ii. Ht (Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan
sedangkan Ht turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang
diakibatkan oleh panas terhadap pembuluh darah.
iii. Leukosit : Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi
atau inflamasi
iv. GDA (Gas Darah Arteri) : Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera
inhalasi. Penurunan tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan
karbon dioksida (PaCO2) mungkin terlihat pada retensi karbon
monoksida.
v. Elektrolit Serum : Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan
dengan cedera jaringan dan penurunan fungsi ginjal, natrium pada awal
mungkin menurun karena kehilangan cairan, hipertermi dapat terjadi
saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis.
vi. Glukosa Serum : Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon stress.
vii. Albumin Serum : Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada
edema cairan.
viii. BUN atau Kreatinin : Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau
fungsi ginjal, tetapi kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan.
ix. Ureum
x. Protein
xi. Hapusan Luka
xii. Urine Lengkap, dllRontgen : Foto Thorax, dll
2. EKG : Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau distritmia.
3. CVP : Untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka bakar
lebih dari 30% dewasa dan lebih dari 20% pada anak

G. Komplikasi
1. Gagal jantung kongestif dan edema pulmonal

18
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

2. Sindrom kompartemen
Sindrom kompartemen merupakan proses terjadinya pemulihan integritas
kapiler, syok luka bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali ke
dalam kompartemen vaskuler, volume darah akan meningkat. Karena
edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar. Tekanan
terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal
menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia.
3. Adult Respiratory Distress Syndrome
Akibat kegagalan respirasi terjadi jika derajat gangguan ventilasi dan
pertukaran gas sudah mengancam jiwa pasien.
4. Ileus Paralitik dan Ulkus Curling
Berkurangnya peristaltic usus dan bising usus merupakan tanda-tanda ileus
paralitik akibat luka bakar.Distensi lambung dan nausea dapat
mengakibatnause. Perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat stress
fisiologik yang massif (hipersekresi asam lambung) dapat ditandai oleh
darah okulta dalam feces, regurgitasi muntahan atau vomitus yang
berdarha, ini merupakan tanda-tanda ulkus curling.
5. Syok sirkulasi terjadi akibat kelebihan muatan cairan atau bahkan
hipovolemik yang terjadi sekunder akibat resusitasi cairan yang adekuat.
Tandanya biasanya pasien menunjukkan mental berubah, perubahan status
respirasi, penurunan haluaran urine, perubahan pada tekanan darah, curah
janutng, tekanan cena sentral dan peningkatan frekuensi denyut nadi.
6. Gagal ginjal akut
Haluran urine yang tidak memadai dapat menunjukkan resusiratsi cairan
yang tidak adekuat khususnya hemoglobin atau mioglobin terdektis dalam
urine.

19
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

H. Penatalaksanaan
Proses yang kemudian pada jaringan rusak ini adalah penyembuhan luka yang
dapat dibagi
dalam 3 fase:
1. Fase inflamasi
Fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca luka
bakar.Dalam fase ini terjadi perubahan vaskuler dan proliferasi
seluler.Daerah luka mengalami agregasi trombosit dan mengeluarkan
serotonin, mulai timbul epitelisasi.
2. Fase proliferasi
Fase proliferasi disebut fase fibroplasia karena yang terjadi proses
proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung sampai minggu ketiga.Pada
fase proliferasi luka dipenuhi sel radang, fibroplasia dan kolagen,
membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan berbenjol
halus yang disebut granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal
terlepas dari dasar dan mengisi permukaan luka, tempatnya diisi sel baru
dari proses mitosis, proses migrasi terjadi ke arah yang lebih rendah atau
datar. Proses fibroplasia akan berhenti dan mulailah proses pematangan.
3. Fase maturasi
Terjadi proses pematangan kolagen. Pada fase ini terjadi pula penurunan
aktivitas seluler dan vaskuler, berlangsung hingga 8 bulan sampai lebih
dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada tanda-tanda radang.Bentuk
akhir dari fase ini berupa jaringan parut yang berwarna pucat, tipis, lemas
tanpa rasa nyeri atau gatal.

20
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian
1. Data biografi
Terdiri atas nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamt,
tnggal MRS, dan informan apabila dalam melakukan pengkajian klita perlu
informasi selain dari klien.
2. Keluhan utama
Keluhan utama yang dirasakan oleh klien luka bakar (Combustio) adalah
nyeri, sesak nafas dan keluhan yang lain yang dirasakan pasien.
3. Riwayat penyakit sekarang
Gambaran keadaan klien mulai tarjadinya luka bakar, penyabeb lamanya
kontak, pertolongan pertama yang dilakuakn serta keluhan klien selama
menjalan perawatan ketika dilakukan pengkajian.
4. Riwayat penyakit masa lalu
Merupakan riwayat penyakit yang mungkin pernah diderita oleh klien
sebelum mengalami luka bakar.
5. Riwayat penyakit keluarga
Merupakan gambaran keadaan kesehatan keluarga dan penyakit yang
berhubungan dengan kesehatan klien.
6. Riwayat psiko sosial
a. Bernafas
Pada klien yang terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama
(kemungkinan cedera inhalasi).
b. Makan dan Minum
Meliputi kebiasaan klien sehari-hari dirumah dan di RS.
c. Eliminasi
d. Gerak dan Aktifitas :

21
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang


sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.
e. Istirahat dan Tidur
f. Pengaturan Suhu
Klien dengan luka bakar mengalami penurunan suhu pada beberapa jam
pertama pasca luka bakar, kemudian sebagian besar periode luka bakar
akan mengalami hipertermia karena hipermetabolisme meskipun tanpa
adanya infeksi
g. Kebersihan diri
h. Rasa Aman – Nyaman
i. Sosial
Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan. Sehingga
klien mengalami ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal,
menarik diri, marah.
j. Pengetahuan
k. Pengetahuan yang dimiliki oleh klien.

7. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
b. TTV
c. Pemeriksaan kepala dan leher
1. Kepala dan rambut
Catat bentuk kepala, penyebaran rambut, perubahan warna rambut
setalah terkena luka bakar, adanya lesi akibat luka bakar, grade dan
luas luka bakar
2. Mata
Catat kesimetrisan dan kelengkapan, edema, kelopak mata, lesi
adanya benda asing yang menyebabkan gangguan penglihatan serta
bulu mata yang rontok kena air panas, bahan kimia akibat luka bakar
Catat adanya perdarahan, mukosa kering, sekret, sumbatan dan bulu
hidung yang rontok.
3. Mulut

22
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Sianosis karena kurangnya supplay darah ke otak, bibir kering karena


intake cairan kurang
4. Telinga
Catat bentuk, gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan
dan serumen
5. Leher
Catat posisi trakea, denyut nadi karotis mengalami peningkatan
sebagai kompensasi untuk mengataasi kekurangan cairan

d. Pemeriksaan kulit
1) Luas luka bakar
2) Kedalaman luka bakar
3) Lokasi/area luka

J. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan .
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan melalui ruteabnormal luka.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer
tidak adekuat ; kerusakan perlindungan kulit
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan dan
ketahanan
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
status hipermetabolik
K. Perencanaan
Dx1 : Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan
Kriteria hasil :
1. Menyatakan nyeri berkurang atau terkontrol
23
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

2. Menunjukkan ekspresi wajah atau postur tubuh rileks


3. Berpartisipasi dalam aktivitas dari tidur atau istirahat dengan tepat
Intervensi :
1. Tutup luka sesegera mungkin, kecuali perawatan luka bakar metode
pemejanan pada udara terbuka
Rasional :
Suhu berubah dan tekanan udara dapat menyebabkan nyeri hebat pada
pemajanan ujung saraf.
2. Ubah pasien yang sering dan rentang gerak aktif dan pasif sesuai indikasi
Rasional :
Gerakan dan latihan menurunkan kekuatan sendi dan kekuatan otot tetapi
tipe latihan tergantung indikasi dan luas cedera.
3. Pertahankan suhu lingkungan nyaman, berikan lampu penghangat dan
penutup tubuh
Rasional :
Pengaturan suhu dapat hilang karena luka bakar mayor, sumber panas
eksternal perlu untuk mencegah menggigil.
4. Kaji keluhan nyeri pertahankan lokasi, karakteristik dan intensitas (skala
0-10)
Rasional :
Nyeri hampir selalu ada pada derajat beratnya, keterlibatan jaringan atau
kerusakan tetapi biasanya paling berat selama penggantian balutan dan
debridement.
5. Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri
Rasional :
Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan
mekanisme koping.
6. Dorong penggunaan tehnik manajemen stress, contoh relaksasi, nafas
dalam, bimbingan imajinatif dan visualisasi.
Rasional :

24
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Memfokuskan kembali perhatian, memperhatikan relaksasi dan


meningkatkan rasa control yang dapat menurunkan ketergantungan
farmakologi.
7. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional :
Dapat menghilangkan nyeri

Dx2: Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan


kehilangan cairan melalui rute abnormal luka.
Kriteria Hasil :
Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh haluaran urine
individu, tandatanda vital stabil, membran mukosa lembab.
Intervensi :
1. Awasi tanda-tanda vital, perhatikan pengisian kapiler dan kekuatan nadi
perifer.
Rasional :
Memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon
kardiovaskuler .
2. Awasi haluaran urine dan berat jenis, observasi warna dan hemates sesuai
indikasi
Rasional :
Secara umum penggantian cairan harus difiltrasi untuk meyakinkan rata-
rata haluaran urine 30-
50 ml / jam (pada orang dewasa).Urine bisa tampak merah sampai hitam
pada kerusakan otot
massif sehubungan dengan adanya darah dan keluarnya mioglobin.
3. Perkirakan deranase luka dan kehilangan yang tak tampak
25
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Rasional :
Peningkatan permeabilitas kapiler, perpindahan protein, proses inflamasi
dan kehilangan
melalui evaporasi besar mempengaruhi volume sirkulasi dan haluaran
urine, khususnya selama
24-72 jam pertama setelah terbakar.
4. Timbang berat badan tiap hari
Rasional :
Pergantian cairan tergantung pada berat badan pertama dan perubahan
selanjutnya. Peningkatan
berat badan 15-20% pada 72 jam pertama selama pergantian cairan dapat
diantisipasi untuk
mengembalikan keberat sebelum terbakar kira-kira 10 hari setelah
terbakar.
5. Selidiki perubahan mental
Rasional :
Penyimpangan pada tingkat kesadaran dapat mengindikasikan
ketidakadekuatan volume sirkulasi
atau penurunan perfusi serebral.
6. Observasi distensi abdomen, hematemesess, feses hitam, hemates
drainase NG dan feses secara
periodik.
Rasional :
Stress (curling) ulkus terjadi pada setengah dan semua pasien pada luka
bakar berat (dapat terjadi
pada awal minggu pertama).

26
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

7. Kolaborasi kateter urine


Rasional :
Memungkinkan observasi ketat fungsi ginjal dan menengah stasis atau
reflek urine, potensi urine dengan produk sel jaringan yang rusak dapat
menimbulkan disfungsi dan infeksi ginjal.

Dx3 :Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan


primer tidak adekuat ; kerusakan
perlindungan kulit
Kriteria Hasil :
Tidak ada tanda-tanda infeksi :
Intervensi :
1. Implementasikan tehnik
isolasi yang tepat sesuai indikasi
Rasional :
Tergantung tipe atau luasnya luka untuk menurunkan resiko kontaminasi
silang atau terpajan
pada flora bakteri multiple.
2. Tekankan pentingnya tehnik cuci tangan yang baik untuk semua
individu yang datang kontak ke
pasien
Rasional : Mencegah kontaminasi silang
3. Cukur rambut disekitar area yang terbakar meliputi 1 inci dari
batas yang terbakar
Rasional : Rambut media baik untuk pertumbuhan bakteri

27
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

4. Periksa area yang tidak terbakar (lipatan paha, lipatan leher,


membran mukosa )
Rasional :
Infeksi oportunistik (misal : Jamur) seringkali terjadi sehubungan dengan
depresi sistem imun
atau proliferasi flora normal tubuh selama terapi antibiotik sistematik.
5. Bersihkan jaringan nekrotik yang lepas (termasuk pecahnya lepuh)
dengan gunting dan forcep.
Rasional : Meningkatkan penyembuhan
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi

Dx4 : Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan


kekuatan dan ketahanan
Kriteria Hasil :
Menyatakan dan menunjukkan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas,
mempertahankan posisi, fungsi dibuktikan oleh tidak adanya kontraktor,
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi yang sakit dan atau
menunjukkan tehnik atau perilaku yang memampukan aktivitas.
Intervensi :
a. Pertahankan posisi tubuh tepat dengan dukungan atau khususnya untuk
luka bakar diatas sendi.
Rasional :
Meningkatkan posisi fungsional pada ekstermitas dan mencegah
kontraktor yang lebih mungkin
diatas sendi.

28
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

b. Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali pasif kemudian


aktif
Rasional :
Mencegah secara progresif, mengencangkan jaringan parut dan
kontraktor, meningkatkan
pemeliharaan fungsi otot atau sendi dan menurunkan kehilangan kalsium
dan tulang.
c. Instruksikan dan Bantu dalam mobilitas, contoh tingkat walker secara
tepat.
Rasional : Meningkatkan keamanan ambulasi

Dx5 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan status hipermetabolik
Kriteria Hasil :
Menunjukkan pemasukan nutrisi adekuat untuk memenuhi kebutuhan
metabolik dibuktikan oleh berat badan stabil atau massa otot terukur,
keseimbangan nitrogen positif dan regenerasi jaringan.
Intervensi :
1. Auskultasi bising usus, perhatikan hipoaktif atau tidak ada bunyi
Rasional :
Ileus sering berhubungan dengan periode pasca luka bakar tetapi biasanya
dalam 36-48 jam
dimana makanan oral dapat dimulai.
2. Pertahankan jumlah kalori berat, timbang BB / hari, kaji ulang persen area
permukaan tubuh

29
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

terbuka atau luka tiap minggu.


Rasional :
Pedoman tepat untuk pemasukan kalori tepat, sesuai penyembuhan luka,
persentase area luka
bakar dievaluasi untuk menghitung bentuk diet yang diberikan dan
penilaian yang tepat dibuat.
3. Awasi massa otot atau lemak subkutan sesuai indikasi
Rasional :
Mungkin berguna dalam memperkirakan perbaikan tubuh atau kehilangan
dan keefektifan terapi.
4. Berikan makan dan makanan sedikit dan sering
Rasional :
Membantu mencegah distensi gaster atau ketidaknyamanan dan
meningkatkan pemasukan.

30
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

LATIHAN

I. PILIHAN GANDA
1. Rusaknya kesatuan atau komponen jaringan dimana secara spesifik
terdapat jaringan yang rusak atau hilang merupakan definisi dari..
a. Perdarahan
b. Fraktur
c. Abses
d. Luka

2. Berikut ini yang bukan merupakan penyebab terjadinya luka bakar


adalah..
a. Air panas
b. Tergores benda tajam
c. Zat kimia
d. Radiasi

3. Pada luka bakar dengan luka melepuh, dasar luka berbintik merah,
epidermis retak, permukaan luka basahserta edema merupakan luka bakar
dalam derajat...
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4

4. Berikut ini adalah fase-fase dalam penyembuhan luka, kecuali..


a. Fase inflamasi
b. Fase poliferasi
c. Fase granulasi
d. Fase maturasi

II. JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI !


1. Sebutkan Diagnosa Keperawatan yang ssering muncul pada kasus
Combustio!

31
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

a. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan .


b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan melalui ruteabnormal luka.
c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer
tidak adekuat ; kerusakan perlindungan kulit
d. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan
dan ketahanan
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
status hipermetabolik

RANGKUMAN

Combustio adalah luka yang terjdi akibat sentuhan permukaan tubuh


dengan benda-benda yang menghasilkan panas ( api, air panas, listrik ) atau
zat yang bersifat membakar ( asam kuat asam basa).
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus
listrik bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang
lebih dalam. Luka bakar bisa berasal dari berbagai sumber, dari api, matahari,
uap, listrik, bahan kimia, dan cairan atau benda panas. Luka bakar bisa saja
hanya berupa luka ringan yang bisa diobati sendiri atau kondisi berat yang
mengancam nyawa yang membutuhkan perawatan medis yang intensif

DAFTAR PUSTAKA

32
M at a K ul i a h: K E P E RAWATAN M E DIK A L B E DA H II

Ahmadsyah I, Prasetyono TOH. 2005. Luka. Dalam: Sjamsuhidajat R, deJong W,


editor. Buku ajar ilmu bedah.Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Crowin,E.J.2003. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Moenadjat Y. 2003. Luka bakar.Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003.
Sjamsudiningrat, R & Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC

33