You are on page 1of 21

PEMBAHASAN

2.1. AKUN-AKUN DAN KELOMPOK TRANSAKSI DALAM SIKLUS PEROLEHAN DAN


PEMBAYARAN
Tujuan keselururhan di dalam audit siklus perolehan dan pembayaran yaitu
untuk mengevaluasi apakah akun yang dipengaruhi oleh perolehan barang dan jasa
dan apakah pengeluaran kas untuk perolehan tersebut secara wajar disajikan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang diterima umum. Ada tiga kelompok transaksi yang
termasuk ke dalam siklus itu;
1. Perolehan barang dan jasa
2. Pengeluaran kas
3. Retur dan cadangan pembelian serta potongan pembelian
2.1.1. AKUN DAN KELAS TRANSAKSI DALAM SIKLUS AKUISISI DAN PEMBAYARAN
Tujuan dari audit atas siklus akuisisi dan pembayaran adalah mengevaluasi
apakah akun-akun yang dipengaruhi oleh akuisisi barang dan jasa serta
pengeluaran kas bagi akuisisi tersebut disajikan secara wajar sesuai dengan
standar akuntansi.Tiga kelas transaksi yang dimasukkan dalam siklus:
1. Akuisisi barang dan jasa
2. Pengeluaran kas
3. Retur dan pengurangan pembelian serta diskon pembelian
2.1.2. AKUN DAN KELOMPOK TRANSAKSI DI DALAM SIKLUS PEROLEHAN DAN
PEMBAYARAN
Tujuan keselururhan di dalam audit siklus perolehan dan pembayaran
yaitu untuk mengevaluasi apakah akun yang dipengaruhi oleh perolehan barang
dan jasa dan apakah pengeluaran kas untuk perolehan tersebut secara wajar
disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.

1. Perolehan barang dan jasa

2. Pengeluaran kas

3. Retur dan cadangan pembelian serta potongan pembelian

1
2.2. FUNGSI BISNIS DALAM SIKLUS PERSEDIAAN DAN DOKUMEN TERKAIT

Persediaan dapat beragam bentuknya, tergantung pada sifat bisnisnya. Untuk


bisnis eceran atau grosir, persediaan yang terpenting adalah persediaan barang
dagangan. Untuk rumah sakit, makanan dan obat – obatan. Perusahaan manufaktur
memiliki persediaan bahan baku, suku cadang dan perlengkapan yang dibeli untuk
produksi, barang dalam proses, dan barang jadi yang tersedia untuk dijual.
Siklus persediaan dan pergudangan dapat dianggap terdiri dari dua sistem yang
terpisah tapi erat terkait, yang satu melibatkan arus pisik barang yang sebenarnya,
yang lain biaya terkait. Karena persediaan berpindah melalui perusahaan, harus ada
pengendalian yang memadai atas pergerakan pisik maupun biaya yang terkait.
Fungsi yang membentuk siklus persediaan dan pergudangan, diantaranya adalah:
1. Proses Pembelian
Siklus ini dimulai dengan permintaan bahan baku untuk produksi. Permintaan diawali
oleh pegawai gudang atau komputer jika persediaan mencapai tingkat yang
ditentukan sebelumnya, pemesanan dilakukan atas bahan baku yang dibutuhkan untuk
memproduksi pesanan pelanggan, atau pemesanan diawali atas dasar perhitungan
periodic oleh orang yang berwenang.
2. Menerima Bahan baku
Bahan baku yang diterima harus diinspeksi kuantitas dan kualitasnya. Bagian
penerimaan menghasilkan laporan penerimaan yang menjadi dokumentasi penting
sebelum pembayaran dilakukan. Setelah inspeksi, bahan baku dikirim ke gudang dan
dokumen penerimaan atau notifikasi elektronik tentang penerimaan barang biasanya
dikirim ke bagian pembelian, gudang, dan hutang usaha.
3. Menyimpan bahan baku
Sewaktu bahan baku diterima, bahan baku tersebut disimpan di gudang sampai
diperlukan oleh bagian produksi. Bahan baku dikeluarkan dari persediaan atas
penunjukan permintaan bahan baku, pesanan pekerjaan, dokumen yang sama atau
pemberitahuan elektronik yang layak disetujui yang menunjukkan jenis dan kuantitas
bahan baku yang diperlukan. Dokumen permintaan ini digunakan untuk

2
memperbaharui berkas induk persediaan perpetual dan membukukan pemindahan dari
akun bahan baku ke barang dalam proses.

4. Memproses Barang
Porsi pemrosesan pada siklus persediaan dan pergudangan sangat bervariasi.
Penentuan jenis barang dan kuantitas yang diproduksi biasanya berdasarkan pesanan
tertentu dari pelanggan, peramalan penjualan, tingkat persediaan barang jadi yang
ditentukan lebih dulu, dan volume produksi yang paling hemat.
5. Menyimpan barang jadi
Setelah barang jadi selesai dikerjakan bagian produksi, penyimpanan dilakukan
digudang sambil menunggu pengiriman. Dalam perusahaan dengan sistem
pengendalian intern yang baik, dilakukan pengendalian pisik atas barang jadi dengan
memisahkannya ke dalam beberapa bidang terpisah dengan akses terbatas.
6. Mengirim barang jadi
Pengiriman barang jadi merupakan bagian integral dari siklus penjualan dan
penerimaan kas. Tiap pengiriman atau pengeluaran barang jadi harus didukung
dokumen pengiriman atau pengeluaran barang jadi harus didukung dokumen
pengiriman yang diotorisasi dengan memadai.

Jenis-Jenis Dokumen Dan Catatan


Dokumen dan catatan yang terdapat dalam proses persediaan dan penyimpanan:
- Jadwal Produksi (Production Schedule)
Jadwal produksi biasanya disiapkan secara berkala berdasarkan permintaan yang
diperkirakan untuk produk entitas.
- Laporan penerimaan (receiving report)
Laporan penerimaan mencatat penerimaan barang dari vendor.
- Permintaan bahan baku (materials requisition)
Permintaan bahan baku biasanya digunakan oleh perusahaan manufaktur untuk
menelusuri bahan baku selama proses produksi.
- Arsip induk persediaan (inventory master file)

3
Arsip induk persediaan berisi semua informasi penting yang terkait dengan persediaan
entitas.
- Berkas induk persediaan perpetual
Berkas induk persediaan perpetual hanya memasukkan informasi mengenai jumlah
unit persediaan yang dibeli, dijual, dan disimpan, atau informasi mengenai biaya per
unit. Untuk pembelian bahan baku, berkas induk persediaan perpetual diperbarui
secara otomatis pada saat perolehan persediaan diproses sebagai bagian dari
pembukuan transaksi perolehan.
- Informasi data produksi (production data information)
Dalam perusahaan manufaktur, informasi produksi mengenai transfer barang dan
akumulasi biaya yang terkait di tiap produksi harus dilaporkan.
- Laporan akumulasi biaya dan varians (cost accumulation and varians report)
Sebagian besar system pengendalian persediaan dalam lingkungan manufaktur
menghasilkan laporan yang serupa dengan laporan akumulasi biaya dan varians. Bahan
baku, tenaga kerja, dan biaya overhead dibebankan ke persediaan sebagai bagian dari
proses pabrikasi.
- Laporan status persediaan (inventory status report)
Laporan status persediaan memperlihatkan jenis dan jumlah produk di tangan.
- Order pengiriman (shipping order)
Dokumen ini dibahas kembali di sini karena salinan dokumen ini digunakan untuk
memindahkan barang dari catatan persediaan perpetual.

2.2.1. FUNGSI-FUNGSI BISNIS DALAM SIKLUS DAN DOKUMEN DAN


PENCATATAN TERKAIT
Siklus akuisisi dan pembayaran meliputi keputusan dan proses yang
diperlukan untuk menyediakan barang dan jasa dalam pelaksanaan usaha.
Siklus ini biasanya diawali dengan tindakan pembelian oleh pegawai yang
membutuhkan barang atau jasa dan berakhir dengan pembayaranutang dagang.

Klasifikasi Akun Fungsi-fungsi Dokumen dan


Transaksi Bisnis Pencatatan

4
Akuisisi Persediaan Pemprosesan Permintaan pembelian
Aset Tetap pesanan Pesanan pembelian
Beban dibayar di pembelian
muka Laporan penerimaan
Peningkatan sewa Penerimaan
guna barang dan jasa Faktur dari vendor
Utang dagang Pengakuan utang Memo debet
Beban manufaktur Voucher
Beban penjualan Berkas transaksi
Beban administrasi akuisisi
Jurnal atau daftar
akuisisi
Berkas utama utang
dagang
Neraca saldo utang
dagang
Laporan dari vendor
Pengeluar Kas di bank (dari Pemrosesan dan Cek
an kas penegluaran kas) pencatatan Berkas transaksi
Utang dagang pengeluaran kas pengeluaran kas
Diskon pembelian Jurnal atau daftar
pengeluaran kas

Pemrosesan Pesanan Pembelian


Titik awal dari siklus ini adalah permintaan terhadap barang dan
jasa oleh klien. Bentuk formulir permintaan dan lembar persetujuan
bergantung pada sifat barang dan jasa dan juga kebijakan perusahaan.
Dokumen tersebut meliputi:
1. Permintaan Pembelian

5
Permintaan pembelian digunakan dalam permintaan akan
dibelinya barang dan jasa oleh karyawan yang terotorisasi.
Permintaan pembelian ini bisa saja merupakan permintaan akuisisi
material dari mandor atau penyelia bagian penyimpanan, permintaan
perbaikan dari pihak kantor atau pabrik, atau permintaan asuransi
dari wakil direktur penanggung jawab aset tetap. Perusahaan
biasanya bergantung pada spesifikasi pencatatan pesanan yang
terkomputerisasi untuk mengawali permintaan pembelia persediaan
secara otomastis.
2. Pesanan Pembelian
Pesanan pembelian merupakan dokumen yang digunakan
untuk memesan barang dan jasa dari vendor. Dokumen tersebut
meliputi deskriptif kuantitas, dan informasi terkait lainnya dari
produk dan jasa yang ingin dibeli oleh perusahaan. Dokumen tersebut
mengidentifikasikan otorisasi pembelian. Perusahaan biasanya
menyerahkan pesanan pembelian secara elektronik kepada vendor
yang menyediakan pertukaran data elektronik (Elektronic Data
Interchange/EDI).
3. Penerimaan Barang dan Jasa
Penerimaan barang dan jasa oleh perusahaan merupakan titik
kritis dalam siklus ini karena pada waktu inilah biasanya perusahaan
mengakui adanya akuisisi dan utang yang terkait dalm pencatatan
mereka. Saat barang diterima, dibutuhkan pengendalian yang
memadai untuk menguji deskriptif, kuantitas, waktu tiba, dan
kondisi barang yang dibeli.
4. Laporan penerimaan
Adalah selembar kertas atau dokumen elektronik yang
disiapkan pada saat barang diterima. Laporan tersebut mencakup
deskriptif barang jumlah diterima, data yang diterima, dan data
penting lainnya.
5. Pengakuan Utang

6
Pengakuan yang memadai atas munculnya utang pada saat
penerimaan barang dan jasa membutuhkan pencatatan yang tepat
dan akurat. Pencatatan awal memengaruhi laporan keuangan dan
pengeluaran kas akrual; oleh karena itu, perusahaan harus berhati-
hati dalam memasukkan seluruh transaksi pembelian, yaitu hanya
mencatat pembelian yang benar-benar terjadi dan pada jumlah yang
benar. Dokumen dan pencatatan pada umumnya meliputi:
a. Faktur Vendor
Faktur vendor merupakan dokumen yang diterima dari vendor
dan menunjukan jumlah terutang atas transaksi pembelian. Faktur
tersebut berisi deskripsi dan jumlah barang dan jasa yang diterima,
harga (termasuk ongkos angku), persyaratan diskon tunai, tanggal
penagihan, dan jumlah total. Faktur vendor sangat penting karena
menunjukan jumlah yang tercatat dalam berkas transaksi pembelian.
Untuk perusahaan yang menggunakan EDI, faktur vendor dikirimkan
secara elektronik, sehingga cara mengauditnya akan berbeda.
b. Memo Debet
Memo debet juga merupakan dokumen dari vendor yang berisi
pengurangan atas jumlah terutang kepada vendor, karena adanya
barang yang diretur atau cadangan yang diberikan. Memo debet
biasanya menggunakan formulir yang sama dengan faktur vendor,
tetapi informasi didalamnya adalah tentang pengurangan dalam
utang dagang, bukan penambahan.
c. Voucher
Voucher biasanya digunakan oleh organisasi untuk
menerbitkan pencatatan dan pengendalian akuisisi secara formal,
terutama dengan menyusun setiap transaksi pembelian dalam suatu
urutan nomor. Voucher meliputi lembaran kertas atau suatu bundel
berisi dokumen terkait, seperti pesanan pembelian, salinan berkas
pengepakan, laporan penerimaan dan faktur vendor. Setelah

7
pembayran, salinan cek, ditambahkan ke dalam bundel voucher
tersebut.
d. Berkas Transaksi Akuisisi
Berkas ini merupakan berkas terkomputerisasi yang mencakup
seluruh transaksi pembelian yang diproses oleh sistem akuntansi
pada suatu periode, seperti harian, mingguan, atau bulanan. Berkas
tersebut berisi seluruh informasi yang dimasukkan dalam sistem dan
meliputi informasi untuk setiap transaksi, seperti nama vendor,
tanggal, jumlah, klasifikasi akun, dan deskripsi serta jumlah barang
dan jasa yang dibeli. Berkas transaksi akuisisi juga meliputi retur dan
cadangan pembelian atau berkas terpisah untuk transaksi tersebut.
Informasi dalam berkas ini sangat bergantung pada kebutuhan
perusahaan, menggunakan bermacam-macam pencatatan, daftar
atau laporan, seperti jurnal akuisisi, berkas utama utang dagang, dan
transaksi untuk saldo akun atau divisi tertentu.
e. Jurnal atau Daftar Akuisisi
Daftar atau laporan yang dibuat dari berkas transaksi akusisi
dan berkas terkait meliputi nama vendor, tanggal, jumlah dan
klasifikasi akun atau klasifikasi untuk setiap transaksi, seperti
perbaikan dan pemeliharaan, persediaan atau peralatan. Jurnal atau
daftar akuisisi meliputi total setiap nomor akun dalam setiap
periode. Transaksi yang sama dalam jurnal atau daftar tersebut juga
di-posting secara simultan ke buku besar dan juka termasuk utang,
maka dimasukkan dalam berkas utama utang dagang.
f. Berkas Utama Utang Dagang
Berkas utama utang dagang mencatat pembelian, pengeluaran
kas, dan transaksi retur dan cadangan pembelian untuk setiap
vendor. Berkas utama diperbarui dari berkas komputer untuk
transaksi pembelian, retur dan cadangan dan pengeluaran kas. Total
masing-masing saldo akun utang dagang dalam buku besar. Hasil
cetak berkas utama utang dagang menunjukan, diurutkan per

8
vendor, saldo awal utang dagang, setiap pembelian, retur dan
cadangan pembelian, pengeluaran kas, dan saldo akhir.
g. Neraca saldo Utang Dagang
Daftar ini meliputi jumlah utang setiap vendor atau setiap
tagihan atau voucher pada suatu waktu. Daftar ini dibuat langsung
dari berkas utang dagang
h. Laporan Vendor
Laporan vendor merupakan dokumen yang dibuat bulanan oleh
vendor dan berisi informasi saldo awal, pembelian, retur dan
cadangan, pembayaran kepada vendor, dan saldo akhir. Saldo akhir
dan aktivitas ini merupakan representasi vendor dalam transaksi
periode tertentu, bukan reprensentasi klien.
6. Proses dan Pencatatan Pengeluaran Kas
Pembayaran untuk barang dan jasa merupakan aktivitas
penting bagi seluruh entitas. Aktivitas tersebut secara langsung
mengurangi saldo akun utang, terutama utang dagang. Dokumen
yang berhubungan dengan proses pengeluaran kas yang harus
diperiksa auditor terdiri atas:
a. Cek
Dokumen ini biasanya digunakan untuk membayar pembelian
ketika tagihan telah jatuh tempo. Banyak perusahaan menggunakan
cek berbasis komputer berdasarkan informasi yang dimasukkan dalam
berkas transaksi akuisisi pada saat barang dan jasa diterima. Cek
tersebut biasanya disiapkan dalam banyak salinan, dengan lembar
asli diberikan kepada pihak yag dibayar, satu salinan disimpan
bersama dengan faktur vendor dan dokumen terkait lainnya dan
salinan lainnya disimpan secar urut nomor.
Setelah cek ditandatangani pihak yang berwenang, cek
terebut menjadi aset. Oleh karenanya, cek yang telah
ditandatangani seharusnya dikirimkan oleh pihak yang
menandatangani atau pihak yang berada dibawah kendalinya. Ketika

9
diuangkan oleh vendor dan dikliring oleh bank klien, cek ini disebut
cek yang dibatalkan. Pada saat itu, cek bukan lagi menjadi aset,
tetapi mejadi dokumen
b. Berkas Transaksi Pengeluaran Kas
Berkas ini dikeluarkan oleh komputer dan memasukkan seluruh
transaksi pengeluaran kas yang diproses dalam sistem akuntansi
untuk satu periode, sepeti harian, mingguna, dan bulanan. Berkas ini
memiliki jenis informasi yang sama seperti yang dibahas dalam
berkas transaksi akuisisi.

2.3. BAGAIMANA DAMPAK E-COMMERCE TERHADAP SIKLUS PEROLEHAN DAN


PEMBAYARAN
Tujuan perusahaan menggunakan internet dan e-commerce untuk
merampingkan proses akuisisi barang dan jasa serta proses lainnya seputar
manajemen mata rantai suplai. Perusahaan-perusahaan menggunakan opsi Internet
dan e-commerce lain untuk mempersingkat proses yang mengelilingi perolehan barang
dan jasa, sehingga membantu perkembangan revolusi di dalam proses yang
menyangkut manajemen saluran pasokan (supply-chain management). Informasi
mengenai deskripsi produk, penetapan harga, skedul pengiriman, dan syarat lainnya
telah tersedia di internet melalui website vendor dan database yang dapat diakses
dengan mudah lainnya. Agen-agen pembelian mengakses informasi mengenai produk-
produk yang diperlukan dari suatu penyedia layanan kelompok, sehingga dapat
memotong proses pembelian tradisional yang berbasis kertas. Beberapa perusahaan
menggunakan ekstranet, yang merupakan jaringan kerja pribadi yang dibangun atas
dasar teknologi internet, yang memungkinkan pemasok dan pelanggan bisnis
mengkomunikasikan serta melakukan bisnis secara langsung dalam lingkungan yang
aman.

Pengguna ekstranet dapat meningkatkan kemampuan untuk melakukan bisnis


dengan rekan bisnis yang jauh lokasinya, yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.
Perusahaan lainnya menggunakan lelang business-to-business yang diselenggarakan

10
melalui internet untuk menegosiasikan pembelian perlengkapan dan jasa yang
diperlukan dalam lelang terbuka. Lelang berbasis Internet ini sering membawa
sekelompok pemasok dan pelanggan besar bernegosiasi melalui portal lelang untuk
pembelian barang dan jasa. Ada macam-macam gaya lelang, dengan beberapa di
antaranya diselenggarakan oleh spesialis pihak ketiga yang independen sedangkan
lainnhya diselenggarakan sendiri oleh pemasok perusahaan. Banyak yang berpendapat
bahwa penggunaan internet untuk memperoleh barang dan jasa menimbulkan efisiensi
pasar dan harga yang lebih murah karena pasar online akan memungkinkan jumlah
pemasok dan pelanggan yang lebih besar untuk menegosiasikan pembelian serta
penjualan produk dan jasa.

2.4. METODOLOGI UNTUK MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI
Pada audit khusus, akun yang paling banyak menyita waktu untuk diverifikasi
oleh pengujian atas rincian saldo ialah akun piutang usaha, persediaan, aset tetap,
utang usaha dan beban. Empat dari lima akun tersebut berhubungan langsung dengan
siklus akuisisi dan pembayaran. Apabila auditor dapat mengurangi pengujian atas
rincian saldo akun dengan menggunakan pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi untuk memverifikasi efektifitas pengendalian internal
terhadap akuisisi serta pengeluaran kas, waktu bersih yang dapat dihemat sangatlah
besar.

Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk siklus


akuisisi dan pembayaran dibagi ke dalam dua bidang yang luas:

1. Pengujian akuisisi, meliputi tiga dari empat binsins yang dibahas dalam
pemrosesan pesanan pembelian, menerima barang dan jasa serta mengakui
utang usaha (kewajiban).

2. Pengujian pembayaran, yang menyangkut proses dan pencatatan


pengeluaran kas.

Memahami Pengendalian Internal

11
Auditor harus memahami pengendalian internal untuk siklus akuisisi dan
pembayaran sebagai bagian dari pelaksanaan prosedur penilaian risiko dengan
mempelajari bagan arus klien, mereview kuesioner pengendalian internal, serta
melaksanakan pengujian walkthrough untuk transaksi akuisisi dan pengeluaran kas.

Menilai Risiko Pengendalian yang Direncanakan

1. Otorisasi pembelian

Otorisasi pembelian merupakan otorisasi yang tepat untuk melakukan akuisisi


yang memastikan bahwa barang dan jasa yang diperoleh adalah demi
memenuhi tujuan perusahaan yang diotorisasi dan menghindari akuisisi item
yang berlebihan atau tidak diperlukan.

2. Pemisahan Penyimpanan Aset dari Fungsi Lainnya

Sebagian besar perusahaan meminta departemen penerimaan untuk mulai


membuat laporan penerimaan sebagai bukti penerimaan dan pemeriksaan
barang. Satu salinan biasanya diserahkan ke gudang bahan baku dan yang
lainnya ke departemen utang usaha yang memerlukan informasinya. Untuk
mencegah pencurian dan penyalahgunaan, barang tersebut harus dikendalikan
secara fisik dari saat penerimaannya hingga penggunaan atau pelepasannya.
Personil di departemen penerimaan haruslah independen dari personi ruang
penyimpanan dan departemen akuntansi. Terakhir, catatan akuntansi harus
mentransfer tanggung jawab atas barang setiap kali barang itu dipindahkan,
dari penerimaan ke penyimpanan, dari penyimpanan ke manufaktur dan
seterusnya.

3. Pencatatatan yang Tepat Waktu dan Review Independen atas Transaksi

Departemen utang usaha umumnya bertanggung jawab untuk memverifikasi


kelayakan akuisisi. Hal ini dilakukan dengan membandingkan rincian pada
pesanan pembelian, laporan penerimaan, dan faktur vendor untuk menentukan
bahwa deskripsi, harga, kuantitas, syarat dna ongkos angkut yang ada dalam
faktur vendor sudah benar. Pada umumnya, departemen utang usaha juga

12
memverifikasi perkalian, footing, dan distribusi akun. Dalam beberapa kasus,
perangkat lunak komputer akan menandingkan dokumen dan memverifikasi
keakuratan faktur tersebut secara otomatis. Departemen utang usaha juga
harus memperhitungkah semua laporan penerimaan untuk memastikan bahwa
tujuan kelengkapan dipenuhi.

Pengendalian dari departemen utang usaha dan informasi adalah persyaratan


bahwa personil yang mencatat akuisisi tidak boleh memiliki akses ke kas,
sekuritas dan aset lainnya. Dokumen dan catatan yang memadai, prosedur yang
tepat untuk menyimpan catatan dan pengecekkan independen atas kinerja juga
merupakan pengendalian penting.

4. Otorisasi Pembayaran
Pengendalian yang paling penting terhadap pengeluaran kas termasuk:
 Penandatanganan cek oleh individu yang memiliki wewenang yang tepat.
 Pemisahan tanggung jawab untuk menandatangani cek dan melaksanakan
fungsi utang usaha.
 Pemeriksaan yang cermat atas dokumen pendukung oleh si penandatangan
cek pada saat cek ditandatangani.

Cek harus dipranomori agar jauh lebih mudah memperhitungkan semua cek dan
dicetak pada kertas khusus agar sulit untuk mengubah payee atau penerima
pembayaran atau jumlah. Perusahaan harus memiliki metode pembatalan
dokumen pendukung agar tidak bisa digunakan lagi sebagai pendukung cek
lainnya pada waktu nanti. Metode yang umum digunakan adalah menuliskan
nomor cek pada dokumen pendukung.

Tabel berikut mengikhtisarkan pengendalian internal kunci, pengujian


pengendalian yang umum, dan pengujian substantif atas transaksi yang umum
untuk setiap tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi. Empat dari enam
tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi akuisisi memerlukan perhatian
khusus sehingga harus diperiksa secara lebih teliti.

13
14
2.5. METODOLOGI UNTUK MERANCANG PENGUJIAN ATAS RINCIAN SALDO UTANG
USAHA
Utang usaha adalah kewajiban yang belum dibayar atas barang dan jasa yang
diterima dalam peristiwa bisnis yang biasa. Utang usaha mencakup kewajiban akuisisi
bahan baku, peralatan, utilitas, reparasi, serta banyak jenis barang dan jasa lainnya
yang diterima sebelum akhir tahun. Sebagian besar utang usaha juga dapat
diidentifikasi oleh keberadaan faktur vendor menyangkut kewajiban.

Utang usaha harus dibedakan dari kewajiban akrual dan kewajiban berbunga.
Kewajiban akan dianggap sebagai utang usaha hanya jika total jumlah kewajiban itu
diketahui dan terutang pada tanggal yang sama. Jika kewajiban mencakup
pembayaran bunga, hal tersebut harus dicatat sebagai wesel bayar, utang kontrak,
utang hipotik atau utang obligasi.
Jika pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi terkait
menunjukkan bahwa pengendalian telah beroperasi secara efektif dan jika hasil
prosedur analitis memuaskan, auditor mungkin akan mengurangi pengujian atas
rincian saldo utang usaha. Akan tetapi, karena utang usaha cenderung material bagi
sebagian besar perusahaan, auditor hampir selalu melaksanakan sejumlah pengujian
atas rincian saldo.
1. Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Utang Usaha (Tahap
I)
Usaha untuk merampingkan proses pembelian barang dan jasa, termasuk
penekanan yang lebih besar pada pembelian persediaan just-in-time, pembagian

15
informasi yang meningkat dengan pemasok, dan penggunaan teknologi serta e-
commerce untuk melakukan transaksi bisnis, telah mengubah semua aspek siklus
akuisisi dan pembayaran bagi banyak perusahaan. Pengaturan dan sistem tersebut
dapat menjadi kompleks.
Risiko bisnis klien yang signifikan dapat saja berasal dari perubahan tersebut. Sebagai
contoh, pemasok mungkin memiliki akses yang lebih besar ke catatan utang usaha,
yang memungkinkannya untuk terus memonitor status saldo utang dan untuk
melaksanakan rekonsiliasi transaksi yang terinci. Akses oleh pihak eksternal, seperti
pemasok, ke catatan akuntansi meningkatkan kemungkinan terjadinya salah saji jika
akses tersebut tidak dikendalikan secara layak. Auditor harus memahami sifat
perubahan sistem tersebut untuk mengidentifikasi apakah risiko bisnis klien dan
pengendalian manajemen yang terkait mempengaruhi kemungkinan salah saji yang
material dalam utang usaha.
2. Menetapkan Material Kinerja dan Menilai Risiko Inheren (Tahap I)
Sejumlah besar transaksi dapat mempengaruhi utang usaha. Saldonya seringkali
berjumlah besar dan terdiri dari sejumlah besar saldo vendor serta relatif mahal
untuk mengaudit akun tersebut. Karena alasan tersebut, auditor umumnya
menetapkan materialitas kinerja yang relatif tinggi untuk utang usaha. Untuk alasan
yang sama, auditor sering kali menilai risiko inheren sebagai sedang atau tinggi.

3. Menilai Risiko Pengendalian dan Merancang serta Melaksanakan Pengujian


Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi (Tahap I dan Tahap II)
Setelah menetapkan materialitas kinerja dan risiko inheren untuk utang usaha,
auditor menilai risiko pengendalian berdasarkan pemahaman terhadap pengendalian
internal. Pengujian substantif auditor akhirnya bergantung kepada keefektifan
pengendalian internal yang berhubungan dengan utang usaha. Karena itu, auditor
harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang bagaimana pengendalian tersebut
berhubungan dengan utang usaha.

Prosedur Analitis Kemungkinan salah saji


Membandingkan saldo akun beban
dengan akuisisi dengan tahun Salah saji utang usaha dan beban
sebelumnya
Mereview daftar utang untuk melihat
Klasifikasi salah saji untuk kewajiban
utang yang tidak biasa, nonvendor dan
nondagang
utang lainnya
Membandingkan utang usaha individu Akun yang tidak tercatat atau tidak ada,

16
dengan tahun sebelumnya atau salah saji
Menghitung rasio, seperti pembelian
Akun yang tidak tercatat atau tidak ada,
dibagi dengan utang usaha dan utang
atau salah saji
usaha dibagi dengan kewajiban lancar

4. Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis (Tahap III)


Auditor harus membandingkan total beban tahun berjalan dengan tahun
sebelumnya untuk mengungkapkan salah saji utang usaha serta akun beban. Karena
akuntansi double-entry, salah saji akun beban biasanya juga menimbulkan salah saji
yang sama pada utang usaha. Karena itu, membandingkan beban saat ini seperti sewa,
utilitas dan tagihan lainnya yang terjadwal secara teratur dengan tahun sebelumnya,
merupakan prosedur yang efektif untuk menganalisis utang usaha apabila beban dari
tahun ke tahun diharapkan relatif stabil.
5. Merancang dan Melaksanakan Pengujian atas Rincian Saldo Utang Usaha
(Tahap III)
Tujuan audit atas utang usaha secara keseluruhan adalah menentukan apakah
saldo utang usaha telah dinyatakan secara wajar dan diungkapkan secara layak.
Terdapat perbedaan penekanan yang penting dalam audit atas kewajiban dan aset.
Ketika memverifikasi aset, auditor menekankan lebih saji melalui verifikasi dengan
konfirmasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan dokumen pendukung. Auditor tidak
boleh mengabaikan kemungkinan aset mengalami kurang saji tetapi harus lebih
memperhatikan lebih saji. Pendekatan yang berlawanan ini diambil ketika
memverifikasi saldo kewajiban yaitu fokus utamanya adalah pada kewajiban yang
kurang saji atau dihilangkan.
6. Pengujian Kewajiban Setelah Periode
Karena menekankan pada kurang saji dalam akun kewajiban, pengujian
kewajiban setelah periode ini merupakan hal yang penting bagi utang usaha. Luas
pengujian untuk mengungkapkan utang usaha yang belum tercatat, yang seringkali
disebut pencarian utang usaha yang belum tercatat sangat tergantung pada penilaan
risiko pengendalian dan materialiyas saldo akun yang potensial. Prosedur audit yang
sama digunakan untuk mengungkapkan utang yang belum tercatat dapat diterapkan
pada tujuan keakuratan.
7. Memeriksa Dokumentasi yang Mendasari Pengeluaran Kas Selanjutnya
Auditor memeriksa dokumen pendukung menyangkut pengeluaran kas setelah
tanggal neraca guna menentukan apakah pengeluaran kas dilakukan untuk kewajiban
periode berjalan. Jika memang untuk kewajiban periode berjalan, auditor harus

17
menelurusi neraca saldo utang usaha untuk memastikan bahwa pembayaran tersebut
telah dilakukan. Laporan penerimaan menunjukkan tanggal persediaan diterima
sehingga merupakan dokumen yang berguna. Auditor seringkali memeriksa
dokumentasi pengeluaran kas yang dibuat pada periode selanjutnya selama beberapa
minggu setelah tanggal neraca, terutama apabila klien tidak membayar tagihan secara
tepat waktu.
8. Memeriksa Dokumentasi yang Mendasari Tagihan yang Belum Dibayar
Beberapa Minggu Setelah Akhir Tahun
Auditor melaksanakan prosedur ini dengan cara yang sama seperti sebelumnya
dan untuk tujuan yang sama pula. Prosedur ini berbeda karena dilakukan kewajiban
yang belum dibayar mendekati akhir audit dan bukan untuk kewajiban yang telah
dibayar.
9. Pengujian Utang Lewat Waktu
Oleh kerana fokus pada akun utang terletak pada kurang saji, maka pengujian
utang lewat waktu merupakan hal yang penting dalam audit utang dagang lingkup
pengujian untuk mengungkap tidak tercatatnya suatu utang (sering di sebut sebagai
pencarian utang dagang yang tidak tercatat) sangat tergantung pada pengendalian
risiko yang dinilai dan materialitas saldo pontensial pada akun.
10. Pengujian Pisah Batas
Pengujian lewat batas untuk utang dagang dilakukan untuk menentukan apakah
transaksi yang dicatat sebelum atau sesudah tanggal neraca dimasukan dalam periode
yang benar.tetapi pengujian ini menekankan pada kurang saji, untuk menguji jumlah
kurang saji pada pisah batas, auditor haru menelusuri laporan tagihan yang di
terbitkan setelah akhir tahun untuk memastikan bahwa tagihan tidak dimasukan
sebagai utang dagang (jika tidak termasuk dalam pengiriman barang dalam
perjalanan.
11. Hubungan antara Pisah Batas dengan Pengamatan Fisik Persediaan
Untuk menentukan apakan pisah batas sudah benar dilakukan, auditor perlu
melakukan pengujian pisah batas sesuai dengan pengamatan fisik atas persediaan
misalnya, diasumsikan bahwa pembeliaan persediaan sebesar Rp 400.000.000 di
terima pada tanggal 31 desember sore, setelah pengitungnan fisik perediaan
dilakukan. Jika pembelian temasuk dalam utang dagang dan pembeliaan yang di
catat, tetapi tidak termasuk dalam persediaan, maka laba bersih akan kurang saji
Rp400.000.000.
12. Persediaan dalam Perjalaan
Dalam utang usaha, auditor harus membedakan antara pembelian persediaan
yang berbasis FOB tujuan dan FOB tempat asal. Untuk FOB tujuan, pemilikan

18
berpindah kembali saat kiriman barang di terima, dan pada saat pembeliaan berbasis
FOB tempat asal, perusahaan harus mencatat persediaan dan utang dagang terkait
pada periode berjalan jika pengiriman terjadi atau sebelum tanggal neraca dan ketika
pengiriman dilakukan pada atau sebelum tanggal neraca, persediaan dan utang
dagang yang terkait harus dicatat pada periode berjalan jika jumlahnya material.

2.5.1. RELIABILITAS BUKTI


1. Perbedaan antara Faktur Vendor dan Laporan Vendor Auditor
Harus membedakan antara faktur vendor dengan laporan vendor
dalam melakukan verifikasi jumlah yang dinyatakan dalam vendor
tersebut. Laporan vendor lebih baik dalam melakukan verifikasi utang
dagang karena memasukkan saldo akhir. Faktur vendor lebih baik dalam
melakukan verifikasi transaksi satu persatu dan faktur tersebut
menunjukkan perincian pembelian.

2. Perbedaan antara Faktur Vendor, Laporan Vendor dan Konfirmasi


Auditor haru membedakan antara faktur vendor dan laporan
vendor dalam melakukan verifikasi jumlah yang dinyatakan oleh vendor

19
tersebut. Auditor akan mendapatkan bukti yang kuat atas transaksi
ketika memriksa faktur vendor dan dokumen terkait, seperti laporan
penerimaan dan pesanan pembelian. Laporan fendor tidak sepenting
faktur dalam melakukan verifikasi transaksi individual karana dalam
laporan tersebut terdapat total jumlah transaksi.laporan tersebut tidak
memasukan jumlah unit yang di beli, harga, biaya angkut atau data
lainya. Disini juga terdapat antara perbedaan laporan vendor dan
konfirmasi. Perbedaan utama anatara laporan vendor dan konfirmasi
utang dagang adalah informasinya. Laporan vendor dibuat oleh vendor
atau pihak ketiga yang independen, tetapi ada di tangan klien pada saat
di priksa auditor. Klien memiliki kesempatan untuk mengganti laporan
vendor atau menahan laporan vendor tertentu agar tidak di temukan
oleh auditor. Oleh karena ketersediaan laporan vendor dan faktur
vendor, di mana keduanya merupakan bukti andal karana berasal dari
pihak ketiga, maka konfirmasi utang dagang menjadi tidak umum
dibandingkan dengan konfirmasi piutang dagang.

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Auditing terhadap siklus pembayaran dan penerimaan sangatlah penting
terutama bagi keberlanjutan perusahaan, karena siklus pembayaran dan penerimaan
adalah hal yang amat sangat kompleks sehingga sebelum dilakukan proses pengujian
setiap elemen siklus tersebut diperlukan perancangan prosedur yang sangat rinci dan
matang. Banyaknya dokumen dan surat surat yang digunakan membuat siklus tersebut
menjadi sangat rentan terhadap fraud dan juga pelanggaran-pelanggaran lainnya.
Maka dari itu, dokumen dan surat-surat tersebut dapat dijadikan bukti kuat dalam
audit apabila seorang auditor membuat temuan dalam proses auditnya.

20
21