You are on page 1of 20

PENGARUH BEBAN SIKLKIK TERHADAP KAPASITAS DUKUNG

TANAH PASIR YANG DIPERKUAT DENGAN ANYAMAN BAN KARET


(The Effect of Cyclical Loads to the Bearing Capacity of Sand which is
Reinforced by Waste Rubber Tire)
Reza Nanda Pradana1), Sumiyanto2), Arwan Apriyono3)
1)Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto
2)3)Dosen Pembimbing Teknik Sipil, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokero
Email: ortonsmack@gmail.com

Abstrak
Kerusakan pada jalan raya dapat diakibatkan karena adanya beban
kendaraan yang terlalu berlebihan atau kapasitas dukung tanahnya yang memang
kurang baik. Dalam dunia konstruksi, geogrid merupakan bahan yang biasa
digunakan untuk meningkatkan daya dukung tanah. Penggunaan anyaman karet ban
bekas diharapkan dapat menjadi bahan alternatif pengganti geogrid. Penelitian
dilakukan di laboratorium menggunakan pemodelan, yang terdiri dari kotak
pengujian dan anyaman karet ban bekas. Dimensi kotak pengujian yaitu 100 cm x
100 cm x 80 cm dengan ketinggian tanah pada saat pengujian 50 cm. Anyaman
karet ban bekas yang digunakan memiliki ketebalan 2 mm dengan lebar 3 cm,
panjang helai anyaman 100 cm, dan jarak antar helai anyaman 10 cm. Anyaman ini
ditimbun 10 cm dari atas permukaan tanah. Variasi yang digunakan pada penelitian
ini yaitu berupa persen beban siklik yang didapatkan dari uji beban statis pada tanah
pasir tanpa perkuatan, diantaranya 20%, 40%, 60%, dan 80% dengan penumbukan
menggunakan 5% energi proctor. Uji yang dilakukan antara lain pengujian
karakteristik tanah, uji proctor, dan pengujian kapasitas dukung tanah. Setelah
pengujian selesai, didapatkan beberapa hasil sebagai jawaban atas tujuan yang ingin
dicapai. Hasil dari pengujian didapat beban maksimum pada beban siklik 20%
sebesar 380,656 kg, 40% sebesar 545,607 kg, 60% sebesar 602,705 kg, dan 80%
sebesar 697,869 kg. Itu berarti semakin besar beban siklik yang diberikan pada
tanah pasir, semakin besar pula kapasitas dukung tanah pasir. Kesimpulannya
adalah beban siklik yang diberikan lebih cenderung bersifat memadatkan. Dan jika
dibandingkan dengan tanah pasir tanpa perkuatan, penggunaan anyaman karet ban
bekas dapat meningkatkan kapasitas dukung.
Kata Kunci: Tanah pasir, karet ban, geogrid, beban siklik, kapasitas dukung.

Abstract
Damage in the highway can be caused by the excessive load of vehicles or
the capacity of the soil is not good support. In the world of construction, geogrid is

1
a material commonly used to increase the carrying capacity of the soil. The use of
waste rubber tires is expected to be an alternative substance replacement geogrid.
This research was conducted in the laboratory using modeling, which consisted of
a test box and waste rubber tire. The dimensions of the test box are 100 cm x 100
cm x 80 cm with a soil height at the test time is 50 cm. Waste rubber tire used has
a thickness of 2 mm with a width of 3 cm, the length of strands webbing 100 cm,
and the distance between the strands of webbing 10 cm. This plaited is buried 10
cm above the ground. The variation used in this research is in the form of percent
cyclic load obtained from static load test on sand soil without reinforcement, such
as 20%, 40%, 60%, and 80% by using 5% proctor energy. Tests conducted include
soil characteristics test, proctor test, and soil capacity testing. After the test is
finished, some results are obtained in response to the goals to be achieved. The
results of the test obtained the maximum load on 20% cyclic load is 380.656 kg,
40% is 545.607 kg, 60% is 602.705 kg, and 80% is 697.869 kg. That means, more
greater of the cyclic load given to the sand, more greater the soil support capacity.
The conclusion is that the cyclical load given is more likely to be compact. And
when compared to the sand without reinforcement, the use of waste rubber tires can
increase the support capacity.
Keyword: sand, rubber tires, geogrid, cyclic load, support capacity.
I. PENDAHULUAN
Jalan merupakan sarana transportasi yang sering sekali dilewati oleh
berbagai macam kendaraan dengan berat yang berbeda-beda. Pondasi jalan
merupakan komponen yang sangat penting, dikarenakan bagian inilah yang
menahan beban kendaraan di atasnya. Kerusakan pada permukaan jalan bisa
diakibatkan karena adanya beban kendaraan yang terlalu berlebihan atau daya
dukung tanahnya yang memang kurang baik untuk dilewati beban kendaraan yang
direncanakan. Jika kerusakan diatasi dengan hanya memperbaiki bagian
permukaannya saja, maka sampai kapanpun jalan tersebut akan tetap rusak, maka
dari itu diciptakan berbagai inovasi perkuatan untuk meningkatkan daya dukung
tanah. Prasenda, dkk (2015), mengatakan bahwa permasalahan akan kekuatan dan
ketahanan tanah merupakan salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam
suatu perencanaan dan pekerjaan suatu konstruksi bangunan sipil. Hal ini
dikarenakan tanah yang dimaksud berfungsi sebagai media yang menahan beban
atau aksi dari konstruksi yang dibangun di atasnya.
Kerusakan jalan diakibatkan karena kondisi tanah dasar yang tidak stabil,
proses pemadatan di atas lapisan tanah dasar yang kurang baik dan tonase atau
muatan kendaraan berat yang melebihi kapasitas serta volume kendaraan yang
semakin meningkat (Farida dan Ikhwanudin, 2017). Menurut data Direktoral
Jenderal Bina Marga, pada tahun 2017 di pulau Jawa menunjukan kondisi jalan
rusak di setiap provinsi bervariasi. Di Banten, terdapat 14,5 kilometer jalan rusak
berat dan 31,1 km jalan rusak ringan. Di Jawa Barat, terdapat 60,94 km jalan rusak
berat dan 54,72 km jalan rusak ringan. Di Jawa Tengah 40,34 km jalan rusak berat

2
dan 136,18 km jalan rusak ringan. Di Jawa Timur, 11,12 km jalan rusak berat dan
92,63 km jalan rusak ringan.
Struktur tanah yang berada di bawah suatu konstruksi harus dapat memikul
beban yang ada di atasnya. Tanah- tanah granuler seperti pasir dan kerikil mampu
memberikan kuat geser yang tinggi dengan sedikit perubahan volume sesudah
dipadatkan dan material tanah ini dapat secara efektif dipadatkan dengan
menggunakan mesin pemadat dengan getaran. (Hardiyatmo, 2010). Itu artinya
ketika tanah pasir dipadatkan, dapat memiliki kemungkinan besar untuk
mendapatkan kapasitas dukung yang tinggi, namun jika tanah pasir memiliki
gradasi yang buruk, maka akan sulit dipadatkan dan efeknya kapasitas dukungnya
pun menjadi rendah. Permukaan jalan raya yang buruk dipengaruhi oleh beban lalu
lintas kendaraan yang cenderung bersifat siklik, siklik yang dimaksud yaitu beban
yang berulang-ulang. Beban siklik ini berpengaruh pada kekuatan dan deformasi
pada struktur tanah jalan raya.
Dalam meningkatkan kapasitas dukung tanah, dalam dunia konstruksi biasa
menggunakan bahan yang disebut geogrid. Geogrid adalah bahan yang dibuat
dengan bahan dasar karet. Geogrid sendiri memiliki berbagai jenis, antara lain
triaxial, biaxial, dan unaxial yang bergantung pada jumlah arah lembaran. Material
ini biasa digunakan dalam bidang konstruksi sebagai material pendukung dalam
meningkatkan daya dukung tanah. Selain awet, material ini juga kuat dan tahan
lama. Namun memang harga geogrid sendiri tidak murah, maka dari itu material ini
hanya digunakan dalam proyek yang memiliki nilai yang besar.
Semakin lama, jumlah kendaraan di Indonesia semakin banyak, begitu pula
dengan jumlah ban yang dibuang karena aus atau tidak layak digunakan lagi. Ban
bekas yang dibuang akan menjadi polusi pada lingkungan. Jika ban dibakar, akan
mengakibatkan polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Dan
jika ditimbun, ban merupakan material yang sulit terurai. Menurut Asosiasi
Pengusaha Ban Indonesia (APBI), produksi ban nasional pada tahun 2016 untuk
roda empat mencapai 63 juta unit dan produksi ban roda dua mencapai 65-66 juta
unit. Itu artinya jumlah produksi ban di Indonesia sendiri sangatlah melimpah.
Dikarenakan harga geogrid yang mahal, maka dari itu penulis menggunakan ban
bekas sebagai alternatif pengganti geogrid. Sifat ban sendiri sulit terurai di dalam
tanah, sehingga dapat dipercaya sebagai material yang tahan lama, dan juga harga
ban bekas yang cukup terjangkau jika dibandingkan dengan geogrid.
Sebenarnya, untuk meningkatkan daya dukung tanah tidak harus dengan
biaya yang besar. Ban bekas pun bisa disusun seperti geogrid pada umumnya,
dianyam lalu diperlakukan sama layaknya penggunaan geogrid di lapangan.
Menggunakan karet ban bekas pun tergolong pekerjaan yang mudah. Sebuah
keuntungan apabila anyaman karet ban bekas ini terbukti memiliki kekuatan yang
sama atau bahkan lebih baik daripada geogrid yang dijual di pasaran. Untuk itu
penelitian ini akan lebih memanfaatkan anyaman dari karet ban bekas, dan penulis
hanya akan berfokus pada analisis pengaruh beban siklik terhadap daya dukung
tanah pasir yang diperkuat dengan anyaman karet ban bekas tersebut.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA
Tanah Sebagai Bahan Bangunan
Tanah merupakan material bangunan yang sangat penting dalam bidang
ketekniksipilan yang jumlahnya berlimpah di dunia. Selain digunakan sebagai
fondasi, material tanah juga digunakan pada campuran dalam pembuatan beton,
batako, bahkan batu bata. Dalam bidang konstruksi, penggunaan material tanah
seminimum mungkin biasa disebut urugan. Urugan tanah harus ditimbun
sedemikian rupa sehingga diperoleh kekuatan tanah yang maksimal. Hal tersebut
dapat dicapai dengan memadatkan material tanah selama proses pengurugan pada
tingkat yang optimum. Pemadatan tanah berfungi untuk membatasi rembesan air
hingga mencapai jumlah yang minimum. Apabila suatu bangunan didirikan di atas
tanah yang lunak, maka hal tersebut bisa dianggap sebagai beban selama dan
sesudah rancang bangun, maka dari itu pemeriksaan di lapangan merupakan hal
yang sangat penting dalam pekerjaan tanah.
Komponen Tanah
Apabila menguji segenggam tanah pasir dengan mata telanjang, dapat
diketahui bahwa tanah tersebut terdiri dari beberapa komposisi partikel padat.
Partikel-partikel tersebut tidak terikat erat seperti pada beton, tetapi dapat bergerak
satu sama lain dikarenakan adanya rongga udara diantaranya. Tetapi partikel-
partikel tersebut tidak sebebas pertikel cair, karena partikel di dalam tanah
cenderung bersifat saling menahan secara timbal balik yang disebut kekuatan geser.
Klasifikasi Tanah
Ada dua sistem klasifikasi tanah yang sering digunakan, antara lain yaitu
Unified Classification System (USCS) dan American Association of State Highway
and Transportation Officials (AASHTO). Menurut Unified Classification System
(USCS), klasifikasi tanah dapat dikatakan masuk jenis tanah berbutir kasar (kerikil
dan pasir) jika kurang dari 50% lolos saringan nomor 200. Sedangkan
pengklasifikasian menurut American Association of State Highway and
Transportation Officials (AASHTO) tanah dibagi ke dalam 8 kelompok, yaitu A-1
sampai A-8 dan termasuk sub-sub kelompok. Jika tanah yang lolos saringan nomor
200 adalah kurang dari 35%, maka tanah tersebut baru dapat dikatakan sebagai
material granuler (berbutir kasar). Pengujian yang dilakukan adalah analisis gradasi
dan batas-batas Atterberg (Hardiyatmo, 2006).
Sistem klasifikasi berdasarkan Unified Soil Classification System mengacu pada
hasil-hasil percobaan laboratorium dan dipakai secara meluas. Analisis
laboratorium yang digunakan yaitu analisa ukuran butiran dan batas-batas
konsistensi. Klasifikasi berdasarkan Unified Soil Classification System, tanah
dikelompokkan menjadi:
a) Tanah Berbutir Kasar (Coarse Grained Soil)
Tanah berbutir kasar yaitu tanah kerikil dan pasir dimana kurang dari 50%
berat total sampel tanah yang lolos ayakan no. 200. Simbol dari kelompok
ini dimulai dengan huruf awal G atau S. G adalah kerikil (gravel) atau dapat
berarti tanah berkerikil, dan S adalah pasir (sand) atau tanah berpasir.

4
b) Tanah Berbutir Halus (Fine Grained Soil)
Tanah berbutir halus yaitu tanah dimana lebih dari 50% berat total sampel
tanah yang lolos ayakan no. 200. Kelompok tanah ini memiliki simbol
dimulai dengan huruf M untuk lanau (silt) anorganik, C untuk lempung
(clay) anorganik, dan O untuk lanau organik dan lempung organik. Terdapat
simbol lain berupa huruf PT yang berarti tanah gambut (peat), muck, dan
tanah-tanah lain dengan kadar organik yang tinggi.
Terdapat simbol tambahan yang merujuk pada sifat fisik tanah sampel yang
duji, antara lain W yang berarti gradasi baik (well), P yang berarti gradasi buruk
(poor), L yang berarti tanah dengan tingkat plastisitas rendah (low plasticity), dan
H yang berarti tanah dengan tingkat plastisitas tinggi (high plasticity). Sementara
untuk sistem klasifikasi tanah AASHTO berbeda dengan USCS, dimana sistem ini
mengelompokkan tanah dari A-1 sampai A-8. Ada kriteria pengujian yang harus
dilakukan untuk mendapatkan jenis tanah pada klasifikasi ini, antara lain analisis
ukuran butiran, batas cair, batas plastis, Indeks Plastisitas, batas susut, ekivalen
kelembaban lapangan, dan ekivalen kelembaban sentrifugal.
Geosintetik
Geosintetik adalah suatu produk berbentuk lembaran yang terbuat dari
bahan polimer lentur yang digunakan dengan tanah, batuan, atau material geoteknik
lainnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari suatu pekerjaan, struktur atau
sistem (ASTM D 4439). Geosintetik merupakan istilah yang diambil dari dua kata,
yaitu geo yang berarti suatu hal yang berhubungan dengan tanah dan sintetik yang
berarti bahan buatan manusia. Berbagai macam jenis bahan geosintetik digunakan
di Indonesia sejak tahun 1980-an. Diantaranya produk geotekstil, geomembran, dan
geogrid. Ban bekas juga merupakan bahan buatan manusia yang memiliki tekstur
hampir sama dengan geotekstil, namun bentuk fisik dari ban sangat berbeda jauh
dengan geotekstil pabrikan.

Gambar 2.1 Klasifikasi Geogrid

5
Geogrid
Geogrid berbentuk seperti lembaran rakit berlubang-lubang yang
dihamparkan di dalam tanah untuk menciptakan struktur tanah yang lebih kuat.
Berbeda dengan geotekstil, geogrid lebih berfungsi sebagai tulangan atau
perkuatan, dan tidak mempunyai sifat yang terkait dengan pemisah, drainase,
filtrasi dan penghalang air (Hardiyatmo, 2008). Pada struktur jalan raya, tanah pasir
digunakan sebagai tanah dasar yang berfungsi untuk menahan timbunan atau
bangunan yang berada di atasnya. Beban yang terjadi menyebar secara lateral akibat
tekanan horisontal yang bekerja. Hal tersebut mengakibatkan tegangan geser
horisontal pada dasar timbunan. Apabila tanah tidak memiliki daya dukung yang
mumpuni maka bisa terjadi keruntuhan. Penambahan geogrid pada lapisan tanah
yang direncanakan dengan tepat dapat berfungsi sebagai perkuatan dalam rangka
meningkatkan stabilitas atau daya dukung tanah serta meminimalisir terjadinya
keruntuhan. Sifat fisik geogrid yang diutamakan dari segi pelaksanaannya yaitu
pada segi kekakuannya (stiffness). Geogrid dengan bahan Polyester (PET) memiliki
modulus elastisitas sebesar 12 – 18 MPa (Modul Pelatihan Geosintetik vol. 1),
sementara ban bekas memiliki modulus elastisitas sebesar 0,77 – 1,13 MPa
(Maryoto, 2010). Hal ini menjadikan kelemahan ban bekas jika dibandingkan
dengan geogrid yang biasa digunakan dalam bidang konstruksi. Namun dari segi
fisik, ban bekas juga dapat disusun seperti anyaman layaknya geogrid.

Gambar 2.2 Geogrid


Pemadatan
Tanah dalah material yang dapat dipadatkan. Di dalam tanah terdiri dari tiga
komponen, yaitu air, udara, dan butiran padat. Untuk menekan butiran-butiran
tanah serta mengisi pori-pori tanah yang kosong, dapat dilakukan dengan cara
pemadatan. Menurut Hardiyatmo, (2010), maksud pemadatan tanah adalah untuk
mempertinggi kuat geser tanah, mengurangi sifat mudah mampat, mengurangi
permeabilitas, dan mengurangi perubahan volume akibat adanya perubahan kadar
air. Maksud tersebut dapat dicapai dengan pemilihan tanah yang tepat, cara
pemadatan, pemilihan mesin pemadat, dan jumlah lintasan yang sesuai. Tingkat
kepadatan dapat diukur dari nilai berat volume keringnya (γd).
1. Uji Proctor
Ada dua tipe uji proctor, yaitu uji proctor standar dan uji proctor
dimodifikasi (modified Proctor). Alat uji pada proctor disebut dengan

6
mould. Mould pada dua tipe uji proctor ini memiliki volume yang sama yaitu
berdiameter 10,2 cm dan tinggi 11,68 cm. Untuk alat tumbuk pada proctor
standar, memiliki penumbuk dengan diameter 5 cm yang beratnya 2,5 kg
dengan tinggi jatuh 30,5 cm. Sementara untuk alat tumbuk pada proctor
modified memiliki diameter yang sama yaitu 5 cm dengan berat 4,54 kg
dengan tinggi jatuh penumbuk sebesar 45,7 cm. Pada uji proctor standar,
tanah dipadatkan menjadi tiga lapisan, dan tiap lapisan ditumbuk sebanyak
25 kali. Untuk uji proctor modified tanah dipadatkan menjadi 5 lapisan
dengan jumlah tumbukan sama, yaitu 25 kali. Untuk menghitung energi
pada pemadatan uji proctor dapat menggunakan rumus seperti pada
Persamaan 1.
𝑁𝑏.𝑁𝑙.𝑊.𝐻
𝐸= ............................................................................Persamaan 1
𝑉
Dengan,
Nb : jumlah pukulan per lapisan,
Nl : Jumlah lapisan,
W : Berat Pemukul (kg),
H : Tinggi jatuh pemukul (cm),
V : Volume mould (cm3)

Gambar 2.3 Alat uji proctor

2. Uji Beban Pelat


Selain uji proctor, ada berbagai cara lain untuk mengetahui kapasitas
dukung tanah, antara lain SPT (Standard Penetration Test), Sondir atau
CPT (Cone Penetration Test), Beban Pelat (Plate Load Test), dan lain-lain.
Pengujian dilakukan tergantung pada kondisi tanah dan ketersediaan tanah
di lapangan. Pada pengujian ini menggunakan uji beban pelat. Uji ini biasa
dilakukan untuk menyelidiki kerikil atau batuan yang terkandung di dalam
tanah. Dalam pengujian ini ada dua pengamatan yaitu besarnya beban dan
penurunan yang terjadi. Pengujian beban pelat ini dilakukan sampai tanah

7
mengalami keruntuhan, atau dapat dihentikan ketika tekanan telah mencapai
2 kali nilai kapasitas dukung pondasi yang dirancang.
Beban Siklik
Beban siklik atau cyclic load merupakan pembebanan berulang, seperti
tekanan berulang yang teratur pada suatu bagian, yang kadang-kadang
menyebabkan fraktur kelelahan (fatigue). Deformasi selama pembebanan siklik
akan tergantung pada kepadatan tanah, besar dan durasi beban siklik, serta jumlah
pembalikan tegangan geser. Beban siklik termasuk dalam kategori beban dinamis.
Dalam dunia konstruksi, merancang sebuah bangunan, tidak dapat dihindarkan dari
suatu beban yang disebut beban gempa. Beban gempa merupakan beban dinamis,
dimana terjadi sejumlah perubahan beban yang bersifat siklik (Nur, 2010). Hampir
serupa dengan bangunan, struktur tanah pun dapat dikenai beban dinamis yang
bersifat siklik seperti pada jalan raya yang dikenai beban lalu lintas secara terus
menerus.
Pemodelan Geoteknik
Pemodelan dilakukan untuk menyesuaikan berbagai macam faktor di
laboratorium dengan yang ada di lapangan. Faktor tersebut antara lain, luasan kotak
uji dan pembebanan. Adapun jenis pembebanan yang akan diberikan yaitu beban
mati langsung dan beban dari alat beban sendiri. Beban mati langsung diberikan
secara langsung pada model yang besarnya sesuai dengan yang sudah direncanakan.
Proses pembebanan dilakukan secara bertahap. Setelah dilakukan pembebanan,
didapatlah besarnya penurunan yang terjadi, metode ini disebut dengan metode load
control. Terdapat metode lain dalam pembebanan. Metode ini menggunakan alat
beban berupa jack. Prinsip alat ini mendorong piston pada model dengan membaca
besarnya gaya yang diterima dengan perlatan tertentu misalnya proving ring,
tekanan dari jack menyebabkan terjadinya deformasi pada ring berupa
pemendekan, sehingga besarnya deformasi akan sebanding dengan beban yang
bekerja pada model. Metode ini disebut dengan metode strain control. Besarnya
beban dapat diketahui dengan rumus pada Persamaan 2.
𝑃 = 𝐾 𝑥 𝛿........................................................................... Persamaan 2
Dimana,
P : beban (kg)
K : kekakuan (kg/cm)
δ : deformasi (cm)
III. METODE PENELITIAN
Bagan Alur Penelitian
Alur penelitian dibuat supaya penelitian yang dilakukan dapat sesuai dengan
rencana dan sesuai dengan tujuan yang ingin diperoleh. Berikut adalah bagan alur
kegiatan yang direncanakan pada penelitian ini.

8
Gambar 3.1 Bagan alur penelitian.
Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Jenderal
Soedirman. Di lokasi ini akan dilakukan beberapa pengujian, diantaranya pengujian
karakteristik tanah pasir yang digunakan sebagai bahan penelitian, pengujian
pembebanan pelat untuk mendapatkan kapasitas dukung tanah pasir, dan lain-lain.
Bahan
Bahan yang dibutuhkan pada penelitian ini disesuaikan dengan tujuan dan
metode yang dilakukan. Adapaun bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
tanah pasir,karet ban bekas, dan air. Sampel pasir yang digunakan dibeli dari toko
bangunan di sekitaran Kabupaten Banyumas. Sampel pasir disini sudah dalam
keadaan terganggu, artinya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan.
Sementara air berguna untuk pengujian karakteristik. Diantaranya pengujian
pemadatan, berat jenis, dan pemeriksaan kadar air. Air yang didapat bersal dari
laboratorium Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman.
Peralatan
Peralatan dalam penelitian ini berasal dari Laboratorium Teknik Sipil
Universitas Jenderal Soedirman. Baik berupa peralatan pengujian karakteristik
tanahnya, maupun peralatan pengujian utama.

9
1. Peralatan Pengujian Karakteristik Tanah
Peralatan pada tahap ini disesuaikan dengan pengujian yang dilakukan,
pengujian tersebut diantaranya adalah pengujian kadar air, berat jenis tanah, analisis
butiran, dan uji proctor sebagai uji pemadatan. Peralatan yang digunakan yaitu
piknometer, cawan, timbangan, oven, satu set saringan, penggetar saringan, tabung
ukur 1000 ml, mould dan pemukul.
2. Peralatan Pengujian Pembebanan Pelat
Pembuatan alat uji terdiri dari dua macam, yaitu pembuatan anyaman karet
ban bekas dan pembuatan kotak kayu. Pembuatan anyaman karet ban bekas dibuat
sesuai dengan rencana dan dilakukan di laboratorium teknik sipil Unsoed. Sebelum
dianyam, karet ban bekas terlebih dahulu dipotong-potong dengan ukuran yang
sudah ditentukan. Setelah dipotong, karet ban bekas mulai dianyam.
Penyambungan anyaman menggunakan lem cair, dikarenakan lem jenis ini
memiliki daya rekat yang cukup kuat dan cocok untuk bahan karet. Anyaman ban
bekas ini dibuat 1 buah sampel saja, karena 1 buah sampel saja sudah cukup untuk
melakukan 4 kali pengujian. Proses pembuatan anyaman dapat dilihat pada Gambar
3.2

Gambar 3.2 Proses pembuatan anyaman


Pada pengujian pembebanan ini dibutuhkan alat berupa kotak kayu 1m x
1m x 0,8m sebagai tempat pemadatan sampel tanah pasir, proving ring yang
berfungsi menahan tekanan dari dongkrak dan alat pembacaan beban saat
pengujian, dongkrak hidrolis untuk memeberikan tekanan pada beban, dua buah
angkur untuk menahan reaksi yang disebabkan oleh dongkrak, arloji pengukur
penurunan (dial gauge), penumbuk, pelat ukuran 15 x 15 cm, dan alat pertukangan
sebagai alat bantu dalam proses pemadatan benda uji.

10
Gambar 3.3 Peralatan pengujian utama
Tahapan Pengujian
Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini meliputi pengujian karakteristik
tanah, pembuatan kotak kayu dan anyaman karet ban sebagai media penelitian, serta
pengujian tanah menggunakan metode pembebanan pelat.
1. Pengujian persiapan
Pada tahap ini, pengujian yang dilakukan meliputi pengujian karakteristik
tanah, pembuatan anyaman karet ban bekas, dan pembuatan kotak kayu sebagai
media penelitian. Pengujian karaktersitik tanah dilakukan untuk mengetahui berat
jenis, kadar air, analisis butiran dan kadar air optimum pada sampel tanah yang
telah diambil. Sementara pembuatan kotak kayu dilakukan sebagai media atau
tempat dimana tanah diletakkan untuk pengujian. Ukuran kotak kayu yang
digunakan yaitu 1 m x 1 m x 0,8 m yang akan diisi tanah setinggi 0,5 m. Selanjutnya
dilakukan pembuatan anyaman karet ban bekas dengan menggunakan potongan ban
bekas dengan ukuran yang sama. Tiap helainya direkatkan menggunakan lem karet.
Untuk tebal karet anyaman dipilih 2 mm dengan lebar 3 cm. Kemudian jarak setiap
helainya sekitar 10 cm. Rencana anyaman karet ban bekas yang akan dibuat dapat
dilihat pada Gambar 3.4.

11
Gambar 3.4 Rencana anyaman karet ban bekas yang akan digunakan.

2. Pengujian Utama
Pengujian ini terdiri dari persiapan benda uji, dan pengujian benda uji.
Kegiatan tersebut harus dilakukan secara berurutan, karena saling berkaitan satu
sama lain.
a) Penumbukan Sampel Benda Uji
Tahapan ini bertujuan untuk memadatkan tanah pada kotak uji. Sebelum
dipadatkan, harus dilakukan perhitungan untuk menentukan jumlah
tumbukan pada benda uji. Hal ini dilakukan sebagai penyesuaian energi
yang akan diberikan. Berdasarkan Persamaan 1, dengan jumlah lapisan pada
kotak uji sebanyak 3 lapis, jumlah pukulan sebanyak 25 kali, berat pemukul
2,5 kg, tinggi jatuh pemukul sekitar 30 cm, dan volume mould sebesar
848,67 cm3, didapatkan energi sebesar 6,738 kg/cm2. Perhitungan tersebut
disesuaikan, dengan volume tanah 1 m x 1 m x 0,5 m yang dibagi menjadi
3 lapis, berat pemukul sebesar 4,5 kg dan tinggi jatuh sekitar 40 cm, serta
pemberian energi sebesar 5 %, maka tumbukan yang didapatkan sebanyak
103,989 kali per lapis atau 104 kali per lapis.

b) Pengujian Pembebanan Pelat


Sebelum dilakukan pengujian pembebanan, tanah pada kotak uji diberi
anyaman karet. Anyaman karet tersebut diletakkan 40 cm dari dasar
permukaan tanah pada kotak uji. Contoh sampel pengujian dapat dilihat

12
pada Gambar 3.5. Pengujian pembebanan ini merupakan pendekatan untuk
mengetahui kapasitas dukung tanah di lapangan. Setelah semua bahan dan
peralatan sudah siap, selanjutnya adalah pemberian beban. Beban yang
diberikan pada penelitian ini bervariasi, yaitu sebesar 20%, 40%, 60%, dan
80% dari beban ultimit yang diperoleh dari pengujian pelat beban statis.
Dikarenakan pembebanan yang dilakukan berupa pembebanan secara
siklik, maka pembebanan dilakukan dengan cara loading dan unloading
dengan interval waktu tertentu, namun dongkrak yang sudah dipasang tidak
dilepas, hanya melepas kunci pada dongkrak untuk mengembalikan jarum
pada arloji dalam posisi unloading atau pada saat tidak membebani. Setelah
diberi beban, dilakukan pembacaan arloji penurunan dan arloji proving ring.
Pengujian ini akan memberikan dua kemungkinan, yaitu tanah akan
mengalami keruntuhan atau justru tanah akan memadat.

Gambar 3.5 Contoh sampel uji


Analisis hasil
Hasil dari pengujian akan disajikan dalam bentuk grafik hubungan antara
variasi beban yang diberikan dengan nilai penurunan yang terjadi. Dengan nilai y
adalah beban yang diberikan dan nilai x adalah penurunan yang terjadi. Kapasitas
dukung maksimum diperoleh dengan cara melakukan pembacaan, jika pembacaan
pembebanan pada proving ring bernilai sama sebanyak 3 kali, maka beban itu lah
yang menjadi kapasitas dukung maksimum pada tanah yang diuji pada masing-
masing pemberian variasi beban.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengujian Utama
Sebelum melakukan pengujian utama dengan menggunakan pembebanan
siklik, dilakukan terlebih dahulu pengujian pembebanan statis pada tanah pasir
tanpa perkuatan sebagai acuan terhadap persentase beban yang akan digunakan
pada pembebanan siklik. Hasil uji pembebanan statis dapat dilihat pada Gambar
4.1.

13
Gambar 4.1 Hasil pengujian pembebanan statis pada tanah pasir tanpa
perkuatan.
Pada pengujian pembebanan statis menghasilkan beban maksimum sekitar 210 kg.
Hasil beban maksimum tersebut dibagi menjadi 20%, 40%, 60%, dan 80% dan
menghasilkan beban sebesar 45 kg, 90 kg, 135 kg, dan 180 kg yang digunakan
dalam pengujian pembebanan siklik.
Pengujian pembebanan siklik dilakukan dengan cara loading unloading.
Output dari pengujian ini adalah nilai penurunan dan nilai beban yang diberikan
pada sampel tanah. Bacaan arloji dari proving ring dikalikan dengan nilai kalibrasi
yang tertera pada alat.
Bentuk penyajian hasil uji pembebanan pelat berupa grafik nilai penurunan
dalam satuan mm dan beban dalam satuan kilogram. Untuk mencari nilai kapasitas
dukung maksimum pada tanah yang diuji dapat menggunakan berbagai macam
metode, salah satunya adalah metode beban maksimum. Metode ini digunakan
dengan cara melakukan pembacaan, jika pembacaan pembebanan pada proving
ring bernilai sama sebanyak 3 kali, maka beban itu lah yang menjadi kapasitas
dukung maksimum pada tanah yang diuji. Namun sebelum itu, dilakukan terlebih
dahulu pembebanan secara siklik. Untuk lebih jelasnya, grafik hasil pengujian ini
dapat dilihat pada Gambar 4.2.

14
Gambar 4.2 Grafik hasil pengujian dengan beban siklik sebesar 45 kg.
Grafik di atas (Gambar 4.2) menggunakan pembebanan siklik sebesar 45 kg
dan dilanjutkan dengan uji pembebaban statis untuk mengetahui kapasitas dukung
tanahnya setelah diberikan beban siklik. Pembebanan diberikan sebesar 20%, 40%,
60%, dan 80% yang diambil dari pengujian statis pada tanah pasir tanpa perkuatan.

15
Untuk lebih lengkapnya, hasil dari pengujian beban siklik dapat dilihat pada
Gambar 4.3

Gambar 4.3 Hasil pengujian beban siklik 45 kg, 90 kg, 135 kg, dan 180 kg.
Setiap persen beban yang diberikan menghasilkan nilai kapasitas dukung
tanah yang berbeda-beda. Untuk satu strip penurunan sama dengan 1/100 mm,
sementara untuk beban sudah dikalikan dengan nilai kalibrasi pada alat agar
menjadi satuan kilogram. Pemberian beban siklik terdiri dari 45 kg, 90 kg, 135 kg,
dan 180 kg. Dari hasil yang didapat, semakin besar beban siklik yang diberikan,
semakin besar pula beban maksimum yang terjadi. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada grafik hubungan antara beban siklik dengan beban maksimum yang
tertera pada Gambar 4.4.

16
Gambar 4.4 Grafik hubungan antara beban siklik dengan beban maksimum.
Disamping mendapatkan beban maksimum yang semakin tinggi, di setiap
pembacaan yang dilakukan pada saat pembebanan siklik terdapat pula nilai
penurunan yang semakin tinggi. Grafik selanjutnya menunjukan hubungan antara
pembacaan dengan penurunan yang terjadi. Penurunan yang disajikan pada grafik
terjadi saat loading pembacaan 3 kali, 6 kali, 9 kali, dan 12. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar 4.5

Gambar 4.5 Grafik hubungan antara beban siklik dengan penurunan pada variasi
jumlah siklik.

17
Perbandingan dengan Tegangan di Lapangan
Hasil dari beban maksimum yang didapat dari masing-masing percobaan
dibandingkan dengan keadaan yang terdapat di lapangan. Setiap kendaraan
memiliki luas kontak ban dan berat yang berbeda-beda. Luas kontak yang dimaksud
adalah luas tapak ban yang menempel pada permukaan jalan. Sebagai asumsi kita
ambil kendaraan terbesar sebagai acuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 4.6 berikut.

Gambar 4.6 Distribusi beban dan luas kontak pada truk 500 kN
(sumber: Pembebanan untuk jembatan SNI 1725:2016)
Tegangan yang dihasilkan dari distribusi beban pada truk berbeda dengan hasil
penelitian ini. Pelat yang digunakan pada penelitian ini memiliki dimensi 15 x 15
cm, sementara luas kontak ban truk berdimensi 75 x 25 cm. Luas kontak ban pada
permukaan aspal didistribusikan ke tanah dasar dengan tebal perkerasan rata-rata di
Indonesia sekitar 50 cm. Perhitungan dilakukan dengan cara pendekatan kasar
untuk penambahan tegangan akibat beban permukaan yang diusulkan oleh
Boussinesq yaitu garis penyebaran 2V : 1H. Untuk lebih jelasnya, distribusi
penyebaran beban dapat dilihat pada Gambar 4.7 berikut.

18
Gambar 4.7 Distribusi penyebaran beban truk
Setelah dilakukan perhitungan, ternyata tegangan tanah dasar yang dihasilkan
pada pemodelan skala laboratorium lebih besar dibandingkan keadaan di lapangan.
Hasil dari perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel Error! No text of specified style in document..1 Perbandingan tegangan
pada laboratorium dan lapangan

Laboratorium Tegangan Rasio


Beban siklik Beban Kapasitas Lapangan (Kapasitas/
(kg) maksimum (kg) (kg/cm2) (kg/cm2) Tegangan)

Statis 209.361 0.930 0.775


45 380.656 1.692 1.410
90 545.607 2.425 1.20 2.021
135 602.705 2.679 2.232
180 697.869 3.102 2.585

V. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan berkaitan
dengan pengaruh beban siklik pada kapasitas dukung tanah pasir yang diperkuat
dengan anyaman ban karet adalah sebagai berikut.
a) Pembebanan secara siklik memberikan efek yang cukup baik pada tanah
pasir, selisih nilai penurunan semakin kecil yang berarti tanah pasir semakin
padat.
b) Berdasarkan hasil pengujian, semakin besar beban siklik yang diberikan
semakin besar pula beban maksimum dan nilai penurunan yang didapat.

19
c) Perkuatan dengan anyaman karet ban bekas memberikan dampak yang baik
untuk meningkatkan kapasitas dukung tanah.
d) Semakin besar beban siklik yang diberikan, semakin besar penurunan yang
terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. “Modul Pelatihan Geosintetik Vol. 1 Klasifikasi dan Fungsi
Geoteknik”. Kementerian Pekerjaan Umum.
Anonim, 2016. “Modul Ajar Politeknik Negeri Malang Jurusan Teknik Sipil”,
Politeknik Negeri Malang.
Apriyono, A; Sumiyanto. 2015. “Buku Petunjuk Praktikum Mekanika Tanah”,
Purbalingga: Laboratorium Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman.
Barokah, C.A, 2015. “Perkuatan Tanah Menggunakan Anyaman Karet Ban Bekas
Pengganti Geogrid deangan Variasi Kedalaman pada Tanah Lunak
Daerah Gunung Tugel Purwokerto”. Skripsi, Fakultas Teknik Universitas
Jenderal Soedirman.
Gusmawan, D.D. 2015 “Perkuatan Tanah Lempung Lunak Menggunakan
Anyaman Karet Ban Bekas Pengganti Geogrid Dengan Variasi Jarak
Anyaman”, Skripsi, Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman.
Hardiyatmo, H.C. 2010. “Mekanika Tanah 1-edisi kelima”, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Hardiyatmo, H.C. 2010. “Mekanika Tanah 2-edisi kelima”, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Hardiyatmo, H.C. 2011. “Analisis dan Perancangan Fondasi 1-edisi kedua”,
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ikhwanudin dan Yudaningrum F. 2017. “Identifikasi Jenis Kerusakan Jalan (Studi
Kasus Ruas Jalan Kedungmundu-Meteseh)”. Jurnal. Universitas PGRI
Semarang.
Maryoto, A. dan Pamudji G. 2007. “Pengaruh Penggunaan Viscocrete-10 dan
Serat Ban Bekas Terhadap Nilai Slump dan Kuat Tekan Beton Serat”.
Jurnal. Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman.
Nur, O.F. 2010. “Kajian Eksperimental Pola Retak pada Portal Beton Bertulang
Akibat Beban Quasi Cyclic”. Jurnal. Fakultas Teknik Universitas Andalas.
Prasenda, C; Setyanto; Iswan. 2015. “Pengaruh Penambahan Pasir Terhadap
Tingkat Kepadatan dan Daya Dukung Tanah Lempung Lunak”. Jurnal.
Fakultas Teknik Universitas Lampung.
Putra, H.G. 2009. “Analisa Potensi Likuifaksi Berdasarkan Data Pengujian Sondir
(Studi Kasus Gor Haji Agus Salim dan Lapai, Padang)”. Jurnal. Fakultas
Teknik Universitas Andalas.
Staff Kementrian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 2005. “Pedoman
Kontruksi dan Bangunan”, Departemen Pekerjaan Umum Republik
Indonesia.
Tjerita P.R. “Definisi Beban Siklik atau Cyclic Load” 5 Januari 2013.
http://tukangbata.blogspot.com/2013/01/definisi-beban-siklik-atau-
cyclic-load.html

20