You are on page 1of 8

BAB 1.

UNIT PENYEDIAAN DAN PENGOLAHAN AIR

1.1 Kebutuhan Air


Air merupakan kebutuhan utama dalam pabrik selulosa asetat mulai dari
kebutuhan umu, proses, maupun pembangkit steam dan pendingin. Berikut
rincian kebutuhan air dalam pabrik selulosa asetat:
a. Air untuk kebutuhan umum
Kebutuhan umum meliputi kebutuhan untuk memenuhi perkantoran,
laboratorium, pemukiman, dan pertamanan. Kebutuhan tersebut dirincikan
dalam tabel berikut:

Tabel 1.1 Kebutuhan Air untuk Kebutuhan Umum

Jenis Kebutuhan Jumlah, kg/jam

Perkantoran 300 orang dengan kebutuhan 100 1250


kg/orang/hari
Perumahan 150 KK dengan kebutuhan 650 4062,5
kg/KK/hari
Taman 10% perumahan 406,25
Laboratorium 80% perkantoran 1000
Jumlah 6718,75
Overdesign 20% 8062,5

b. Air untuk kebutuhan hydrant


Air kebutuhan hydrant merupakan kebutuhan situasional untuk memenuhi
kebutuhan air untuk pemadam kebakaran sehingga bersifat tidak kontinyu.
Diambil kebutuhan hydrant sebesar 20% dari total kebutuhan umum yakni
sebanyak 1612,5 kg/jam dengan overdesign kebutuhan 20% maka jumlah
kebutuhan air untuk hydrant sebanyak 1935 kg/jam

c. Air pendingin
Pada pabrik selulosa asetat, air pendingin digunakan sebagai fluida
pendingin di beberapa alat. Air yang telah digunakan sebagai pendingin
akan didinginkan kembali didalam cooling tower agar dapat digunakan
kembali. Selama proses berlangsung dan di dalam cooling tower terjadi
kehilangan air, sehingga perlu dilakukan make up air. Berdasarkan
perhitungan cooling tower diperoleh kebutuhan make up air sebesar
108383,224.

Adapun rincian kebutuhan air pendingin sebagai berikut:


Tabel 1.2 Kebutuhan air untuk pendingin

Alat Jumlah , kg/jam Suhu, 0C


Reaktor R-01 15598,47375 30
HE-03a 43664,6712 30
HE-03b 16695,3432 20
HE-04a 114690,8319 30
HE-04b 81762,5195 20
Condenser (CD- 30
1374316,7103
01)
Total air 118149,4352 20
pendingin suhu
20 (Overdesign
20%)
Total air 1857924,825 30
pendingin suhu
30

d. Air umpan boiler


Pada pabrik selulosa asetat ini, steam digunakan sebagai fluida panas
proses . Kebutuhan steam untuk pemanas ditampilkan sebagai berikut:
Tabel 1.3 Kebutuhan air untu pemanas

Alat Jumlah, kg/jam


HE-01 346,307
HE-02 7198,2037
Kettle Reboiler (KR-01) 27779,3633
Heater Rotary Dryer 340,8567634
Evaporator Desalinasi 100000

e. Air proses

Alat Kebutuhan air, kg/jam


Precipitator (P-01) 36857,05
Rotary Screen Washer (RS-01) 3964,26
Mixer (M-01) 4001,68
Total 44822,99
Overdesign 20% 53787,5880
1.2 Sumber air
Pabrik selulosa asetat terletak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sumber
air untuk keperluan utilitas dipasok dari sungai bengawan solo karena sungai
ini memiliki Debit yang cukup besar dan stabil untuk memenuhi kebutuhan
pabrik.
Kebutuhan air untuk keperluan utilitas sebesar m3/jam dengan debit rata-
rata sebesar m3/s.
1.3 Pengolahan air
Pengolahan air disini merupakan proses untuk mengolah air agar sesuai
dengan syarat kualitas tertentu yang dibutuhkan tiap alat proses. Adapun
sistem pengolahan air sungai untuk proses sebagai berikut :

1. Proses ekualisasi dan sedimentasi


Proses sedimentasi bertujuan untuk memisahkan suspended solid dari air
dengan cara pengendapan memanfaatkan gaya gravitasi. Sebelum masuk
ke proses sedimentasi, air dialirkan terlebih dahulu ke kolam ekualisasi
dengan tujuan agar aliran air yang masuk sama. Kecepatan settling
menjadi poin utama untuk menentukan jumlah suspended solid yang ingin
dipisahkan. Adapun settling velocity dipengaruhi oleh densitas, ukuran,
luas penampang kolam sedimentasi.

2. Proses Klarifikasi
Suspended solid yang berukuran lebih kecil membutuhkan waktu lama
untuk mengendap. Maka untuk mempercepat proses pengendapan
digumpalkan menjadi butiran-butiran yang lebih besar dengan
penambahan koagulan. Proses ini disebut dengan Koagulasi . Sebagai
koagulan umumnya digunakan aluminium sulfat (Al2(SO4)3) dan soda abu
(Na2CO3) dengan reaksi sebagai berikut:

𝐴�2(𝑆�4)3+3𝑁�2𝐶�3+3�2�→2𝐴�(��)3+3𝑁�2𝑆�4+3𝐶�2
Pada proses ini, ion positif dari koagulan akan diapsorp oleh partikel
bermuatan negatif sehingga membentuk partikel netral. Akibatnya partikel
tidak lagi tolak menolak akan tetapi cenderung bergabung akibat adanya
gaya vander waals. Partikel yang bergabung disebut dengan floc yang
selanjutnya diteruskan dalam proses Flokulasi. Proses flokulasi adalah
proses penghilangan pengotor padat dengan cara menggumpalkan partikel
– partikel koloid menjadi partikel yang lebih besar dan berat atau disebut
flok. Pada proses ini dilakukan pengadukan dengan lambat (slow mixing).
Penggunaan pengadukan lambat bertujuan agar flok yang telah terbentuk
tidak terurai kembali dan dapat membentuk gumpalan yang lebih besar.
Flok yang bergabung membentuk gumpalan yang lebih besar memiliki
densitas yang lebih besar dibanding air, maka proses pengendapan akan
kembali berlangsung. Sementara partikel yang masih memiliki ukuran
kecil akan diproses lebih lanjut pada proses filtrasi.

3. Proses Filtrasi
Partikel yang lolos dari proses klarifikasi akan diproses dalam proses
filtrasi. Pada dasarnya, proses ini bekerja dengan menahan partikel yang
memiliki ukuran lebih besar dibanding ukuran saringan filter. Pada utilitas
pabrik selulosa asetat ini digunakan dua jenis filter berupa pasir dan
karbon aktif. Sand filter dapat menyaring partikel dengan ukuran 0,5 – 2,0
mm, sementara karbon aktif akan menyerap ion zat organik.

4. Proses Demineralisasi
Ion-ion yang terkandung di dalam air, meskipun konsentrasinya rendah
tetapi sangat berpengaruh terhadap kualitas air umpan boiler, banyaknya
ion ini dikenal dengan kesadahan. Tingkat kesadahan ditunjukkan oleh
jumlah kandungan kalsium dan magnesium di dalamnya. Kesadahan dapat
menyebabkan terjadinya pertukaran panas yang tidak sempurna dan
overheating pada titik – titik tertentu yang dapat menyebabkan kebocoran
pada tube. Proses demineralisasi bertujuan untuk menghilangkan ion – ion
yang terkandung pada air umpan dengan menggunakan prinsip pertukaran
ion. Terdapat dua tahapan proses demineralisasi, yaitu kation exchange
dan anion exchange.

Cation exchange merupakan pertukaran ion – ion positif pada air umpan
dengan ion positif H+ dari asam. Secara umum asam yang digunakan
adalah asam kuat. Ion – ion positif yang dapat ditukarkan antara lain Ca2+,
Na+, Mg2+, Al3+, K+, Mn+, dan Fe2+. Secara sederhana reaksi pertukaran ion
positif ditunjukkan sebagai berikut.

Ion logam positif akan ditukarkan dengan ion H+ dari resin sehingga air
yang dihasilkan akan bersifat asam. Setelah digunakan pada jangka waktu
tertentu, resin akan menjadi jenuh yang ditandai dengan pH air melebihi
batas toleransi. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses regenerasi dengan
mengalirkan larutan HCl atau H2SO4 secara backwash untuk
menggantikan ion H+ yang hilang.
Anion exchange merupakan pertukaran ion – ion negatif pada air umpan
dengan ion positif OH- dari basa. Secara umum basa yang digunakan
adalah basa kuat. Ion – ion negatif yang dapat ditukarkan antara lain
HCO3-, SO42-, Cl-, CO3-, NO3-, dan SiO3-. Secara sederhana reaksi
pertukaran ion negatif ditunjukkan sebagai berikut.

Ion negatif akan ditukarkan dengan ion OH- dari resin sehingga air yang
sebelumnya bersifat asam akan bersifat netral. Setelah digunakan pada
jangka waktu tertentu, resin akan menjadi jenuh yang ditandai dengan pH
air melebihi batas toleransi. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses
regenerasi dengan mengalirkan larutan NaOH secara backwash untuk
menghilangkan

5. Proses Disinfection
Proses disinfection merupakan proses penghilangan mikroorganisme di
dalam air. Desinfektan yang baik harus mampu membunuh mikroba
dengan syarat tidak berbahaya bagi kesehatan manusia, selain itu juga
harus dapat bertahan lama dalam air, serta dapat mencegah kembali
timbulnya mikroba. Beberapa desinfektan yang sering digunakan antara
lain: Chlorine, Sinar UV, Ozone, Chlorine Dioxide. Pada pabrik ini dipilih
Chlorine sabagai disinfektan karena daya bunuh yang cukup efektif dan
harga yang relatif murah.

6. Proses pendinginan air dengan cooling tower


Umumnya, air pendingin yang telah digunakan tidak akan dibuang ke
lingkungan. Air pendingin tersebut akan didinginkan lebih lanjut dengan
menggunakan cooling tower sehingga mengurangi kebutuhan make up air
sungai dan mengurangi biaya proses pengolahan air. Mekanisme kerja
cooling tower adalah air pendingin yang bersuhu tinggi dialirkan ke bagian
atas cooling tower dan udara kering dialirkan melalui bagian samping
cooling tower. Karena adanya kontak antara air dengan udara kering akan
mengakibatkan suhu air turun, sehingga dapat digunakan kembali untuk
proses pendinginan.

7. Proses Pendinginan Air dengan cooling tower


Pada pabrik ini, air pendingin yang telah digunakan tidak akan dibuang ke
lingkungan. Air pendingin tersebut akan didinginkan lebih lanjut dengan
menggunakan cooling tower sehingga mengurangi kebutuhan make up air
sungai dan mengurangi biaya proses pengolahan air. Mekanisme kerja
cooling tower adalah air pendingin yang bersuhu tinggi dialirkan ke bagian
atas cooling tower dan udara kering dialirkan melalui bagian samping
cooling tower. Karena adanya kontak antara air dengan udara kering akan
mengakibatkan suhu air turun, sehingga dapat digunakan kembali untuk
proses pendinginan.

8. Proses Deaerasi
Deaerasi dilakukan guna menyiapkan air umpan boiler. Tujuan utam
proses ini adalah unuk mengambil dissolved gas terdiri dari oksigen dan
CO2dalam air umpan boiler untuk menghindari korosi.
Dalam proses deaerasi, secara garis besar proses terbagi menjadi proses fisis
dan proses kimia. Proses fisis berlangsung dengan pelucutan O2 dalam air
dengan stripping agent. Prinsip pelucutan adalah dengan pemanasan, karena
kelarutan oksigen akan semakin kecil dengan meningkatnya suhu. Proses kimia
dilakukan dengan penambahans senyawa hydrogen scavenger. Proses ini
umumnya lebih disukai karena hydrazine mudah didapat dan murah. Adapun
reaksi yang terjadi sebagai berikut:
N2H4+O2→𝑁2+2H2O

BAB 2. UNIT PEMBANGKIT STEAM


Pada pabrik selulosa asetat ini, steam berperan penting dalam proses.
Steam secara keseluruhan digunakan sebagai fluida panas dalam pabrik
ini. Kebutuhan steam secara keseluruhan di sajikan dalam tabel berikut :

Tabel 2.1 Kebutuhan Steam untuk Alat Proses


Alat Kebutuhan
Pada proses
HE-01 346,307
ini, total steam
HE-02 7198,2037
yang Kettle Reboiler (KR-01) 27779,3633
Heater Rotary Dryer 340,8567634
Kebutuhan lain (Deaerator, dll) 3566,4731
(10 % total kebutuhan steam)
Total 39231
Overdesign 20% 47077,44
diproduksi sebanyak 47077,44 kg/jam
Semakin tinggi suhu steam yang dihasilkan, air yang masuk menjadi
umpan boiler memiliki kemurnian yang semakin tinggi. Tabel berikut
menunjukan spesifikasi yang harus dimiliki produk steam dari boiler.

Parameter Satuan Batas


pH 10,5 – 11,5
Konduktivit μmhos/cm max 5000
as
TDS ppm max 3500
Alkalinitas ppm max 800
Silika ppm max 150
Besi ppm max 2
Phospat ppm 20 – 50
Sulphur ppm 20 – 50

Perhitungan Boiler

Neraca massa di boiler


Massa Air masuk – Massa Air Blowdown = Massa Steam Dihasilkan
47077,4 kg/jam – 4707,744 kg/jam = 42369,7 kg/jam
Diperoleh massa steam yang dihasilkan sebesar 42369,7 kg/jam

Neraca panas di boiler

m¿ cp air ( T ¿−T ref ) +Q=m b cpair ( T b −T ref ) + ms λ s + ms cpair ( T s−T ref )


Q=mb cp air ( T b−T ref ) +ms λ s + ms cpair ( T s−T ref )−m¿ cpair ( T ¿ −T ref )

Q = 1,3707 kg/s x 4,2 kj/kg x (180,54-0) 0C + 11,77 x 1962,56 kj/kg x


(180,54-0) 0C -13,07 kg/s x 4,2 kj/kg x (30-0) 0C

Q = 991,59 kj/s + 32022,4 kj/s -1647,71 kJ/s


Q = 31366,28
Q = 112918640 kj/jam

Heat Heating Value Batu bara : 36877,78 kJ/kg


Diasumsikan efisiensi Boiler 0,7
Maka, diperoleh kebutuhan Bahan Bakar sebesar 4374,24 kg/jam.