You are on page 1of 6

MODUL 1

1. Koefisien Friksi
1.1 Perhitungan Nilai Koefisien Friksi
Dilakukan perhitungan nilai koefisien friksi menggunakan sampel
Aluminium 1xxx dengan permukaan halus tanpa pelumas. Perhitungan nilai
koefisien friksi adalah sebagai berikut :
(hi) = 5.16 mm
(hf) = 4.25 mm
(R) = 52 mm
Maka koefisien friksi dapat didapatkan dengan cara:
∆ℎ = 𝜇2𝑅
ℎ𝑖 − ℎ𝑓 = 𝜇2 × 52 𝑚𝑚
5.16 − 4.25 = 𝜇2 × 52 𝑚𝑚
𝜇 = 0.1323
Nilai koefisien friksi dari sampel Al 1xxx tanpa pelumas dengan permukaan halus
adalah sebesar 0,1323.

1.2 Analisis Perbedaan Nilai Koefisien Friksi


Perbandingan dilakukan dengan cara membandingkan data yang didapat
oleh kelompok 19 dengan data dari kelompok 17, 18, dan 20. Diketahui koefisien
friksi kelompok 17 dengan permukaan halus dan penggunaan pelumas adalah
sebesar 0.127. Koefisien friksi kelompok 19 dengan permukaan kasar dan
penggunaan pelumas adalah sebesar 0.1248. Koefisien friksi kelompok 20 dengan
permukaan kasar dan tanpa penggunaan pelumas adalah sebesar 0.136
Semakin besar nilai koefisien friksi maka tekanan yang harus diberikan
pada mesin canai semakin besar. Nilai koefisien friksi dipengaruhi oleh keadaan
permukaan dan adanya pelumas. Semakin kasar dan tidak menggunakan pelumas
maka nilai koefisien friksi saat dilewatkan pada mesin canai akan semakin besar.
Pada kelompok 19, didapatkan data berupa koefisien gesek 0.1323 dengan
permukaan halus. Dari data diatas dapat diketahui bahwa semakin besar koefisien
gesek. Data tersebut sesuai dengan literature dimana semakin besar koefisien
gesek maka gaya penekanan yang dibutuhkan akan semakin besar. Sementara dari
hasil perbedaan kondisi permukaan, yaitu halus dan kasar. Koefisien gesek akan
semakin besar yang berpengaruh terhadap delta h, hal ini sesuai dengan literature
dimana semakin kasar permukaan maka semakin besar koefisien geseknya
dikarenakan kontak antara material dan rolling akan semakin besar. Dapat dilihat
bahwa pemberian pelumasan pada material meningkatkan koefisien friksi dari
material dan sesuai dengan literatur.

2. Percobaan Persen Reduksi


2.1 Perhitungan ∆H dan Jumlah Pass yang dibutuhkan untuk semua
Persen Reduksi
Pada percobaan kelompok 19 digunakan sampel Al 1xxx dengan variable
pelumas. Pencanaian yang dilakukan merupakan metode cold roll. Untuk
percobaan persen reduksi ini kelompok 19 memiliki ketebalan awal sampel
sebesar 5.10 mm dengan %reduksi yang diinginkan adalah sebesar 20% dan 40%.
Perhitungan tebal akhir pada sampel dengan reduksi 20% adalah sebagai berikut
:
ℎ𝑖 − ℎ𝑓
% 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 = 𝑥 100%
ℎ𝑖
5.10 − ℎ𝑓
20% = 𝑥 100%
5.10
Hf = 4.08 mm
Berdasarkan perhitungan, didapatkan tebal akhir yaitu 4.08 mm. setelah
itu, dilakukan perhitungan nilai pengurangan ketebalan setiap proses pencanaian
menggunakan rumus :
𝐹 = 2𝜇 𝜎𝑦 𝑤 √𝑅 ∆𝐻
Dimana:
F = Rolling load (asumsi 18x103 KgF)
σy = Yield strength (misalkan sampel Al dengan asumsi σy = 170 Mpa)
w = lebar sample (14.75 mm)
R = Jari-jari roll (52 mm)
ΔH = Ketebalan yang dapat direduksi satu kali pass
Dari perhitungan diatas, dapat dicari nilai dari ΔH yaitu :
18000 = 2 𝑥 0.1323 𝑥 170 𝑥 14.75 √52 ∆𝐻
ΔH = 14.154

Berdasarkan perhitungan didapatkan nilai ΔH sebesar 14.154 yang akan


terjadi setiap kali proses pencanaian dilakukan pada sampel dengan reduksi 20%.
Perhitungan jumlah pass dilakukan dengan membagi total pengurangan ketebalan
dengan nilai ΔH yang telah didapatkan. Perhitungan jumlah pass dapat dilakukan
dengan cara berikut :
ℎ𝑖 − ℎ𝑓
Jumlah 𝑝𝑎𝑠𝑠 =
ΔHmax
5.10 − 4.08
Jumlah 𝑝𝑎𝑠𝑠 =
14.154
Jumlah pass = 0.072
Nilai total pass yang dibutuhkan untuk mencapai ketebalan yang 4.08 mm
secara teoritis adalah 0.072 pass. Nilai ini menunjukan bahwa untuk mendapatkan
ketebalan reduksi sebesar 20% dari Al 1xxx hanya dibutuhkan satu kali proses
pencanaian. Hal ini sesuai dengan apa yang praktikan lakukan yaitu hanya
dibutuhkan satu kali pencanaian untuk mendapat ketebalan sesuai yang
diinginkan
Perhitungan tebal akhir pada sampel dengan reduksi 40% adalah sebagai
berikut :
ℎ𝑖 − ℎ𝑓
% 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 = 𝑥 100%
ℎ𝑖
5.16 − ℎ𝑓
40% = 𝑥 100%
5.16
Hf = 3.87 mm
Berdasarkan perhitungan, didapatkan tebal akhir yaitu 3.87 mm. setelah
itu, dilakukan perhitungan nilai pengurangan ketebalan setiap proses pencanaian
menggunakan rumus :
𝐹 = 2𝜇 𝜎𝑦 𝑤 √𝑅 ∆𝐻
Dimana :
F = Rolling load (asumsi 18x103 KgF)
σy = Yield strength (misalkan sampel Al dengan asumsi σy = 170 Mpa)
w = lebar sample (15.3 mm)
R = Jari-jari roll (52 mm)
ΔH = Ketebalan yang dapat direduksi satu kali pass
Dari perhitungan diatas, dapat dicari nilai dari ΔH yaitu :
18000 = 2 𝑥 0.1323 𝑥 170 𝑥 15.3 √52 ∆𝐻
ΔH = 13.96
Perhitungan jumlah pass dapat dilakukan dengan cara berikut :
ℎ𝑖 − ℎ𝑓
Jumlah 𝑝𝑎𝑠𝑠 =
ΔHmax
5.16 − 3.87
Jumlah 𝑝𝑎𝑠𝑠 =
13.96
Jumlah pass = 0.092
2.2 Analisis Proses Pencanaian
Pencanaian merupakan proses deformasi yang bertujuan untuk mereduksi
ketebalan material dengan gaya tekan dari dua canai atau lebih. Hasil pencanaian
akan mengalami sedikit pertamabhan lebar sebagai hasil dari reduksi tebal. Pada
percobaan ini dilakukan dengan menggunakan material Al 1xxx dengan %reduksi
sebesar 20% dan 40% melalui proses pencanaian dingin.
Langkah pertama yaitu kedua sampel di ukur terlebih dahulu ketebalan
awalnya dan di catat. Kemudian dilakukan perhitungan secara teori untuk
mengetahui berapa jumlah pass yang harus dilakukan. Dengan acuan pada
perhitungan teori tersebut dilakukan pengaturan gap pada mesin canai. Proses
canai dilakukan terus menerus hingga didapatkan material dengan tebal tereduksi
yang diinginkan proses pencanaian yang digunakan pada percobaan ini adalah
pencanaian dingin, maka terjadi perubahan struktur mikro dari sampel yang
semula berbentuk equiaxed menjadi butir yang terelongasi akibat adanya gaya
dari proses pencanaian. Untuk mendapatkan data dari percobaan, digunakan
rumus – rumus yang telah dituliskan pada subbab sebelumnya.

2.3 Analisis Teori Hasil Perhitungan dengan hasil akhir


Menurut perhitungan teori, reduksi 20% dibutuhkan 1 kali pass dan pada
pelaksanaannya sudah sesuai dengan teori. Berbeda dengan %reduksi 40%,
menurut teori hanya dibutuhkan 1 kali pass tetapi pada pelaksaannya dibutuhkan
2 kali jumlah pass sehingga hal ini tidak sesuai dengan perhitungan teori.
Ketidaksesuaian pelaksanaan dengan perhitungan teori ini dapat disebabkan oleh
beberapa kemungkinan. Yang pertama adalah adanya fenomena spring back
dimana adanya gaya balik yang terjadi sehingga material mengalami pelebaran
setelah melewati mesin canai. Yang kedua adalah kondisi sampel yang tebalnya
tidak merata sehingga akan mempengaruhi kemampuan material dalam melwati
mesin canai tersebut. Yang ketiga adalah peletakkan sampel dan proses
pendorongan sampel dengan alat bantu untuk dilewatkan oleh mesin canai yang
tidak lurus. Hal ini menyebabkan besar tekanan roll yang terjadi pada sampel tidak
seragam.

2.4 Analisis Perbedaan Proses Pencanaian dengan material Al 1xxx dan


Al 5xxx
Material Al 1xxx merupakan logam Aluminium dengan kadar 99% atau
bisa dibilang merupakan Aluminium Murni sedangkan Al 5xxx merupakan
paduan antara Aluminium dengan Magnesium. Adanya paduan pada Al 5xxx
menyebabkan semakin kuatnya suatu material Aluminium. Hal ini terjadi karena
akan terbentuk presipitat sesuai diagram fasa Al-Mg yang membuat material akan
lebih sulit untuk dicanai. Karena semakin kuat nya suatu material Aluminium
maka diperlukan pembebanan yang lebih besar pada saat proses pencanaian
Kelompok Material %Red ∆H Jumlah Pass
20% 14.154 0.072
19 Al 1xxx
40% 13.96 0.092
20% 2.741 0.46
20 Al 5xxx
40% 2.405 1.05
Logam aluminium yang lebih lunak akan memiliki nilai keuletan yang
tinggi. Logam aluminium yang memiliki keuletan tinggi akan lebih mudah
deformasi sehingga dalam proses pencanaian lebih mudah dilakukan. Logam
aluminium yang memiliki kekerasan tinggi akan membuat aluminium menjadi
lebih sulit untuk mengalami deformasi sehingga sulit untuk dilakukan proses
pencanaian.
Bedasarkan hasil praktikum yang dimuat dalam tabel diatas, indikasi yang ditulis
telah sesuai dengan keadaan aktual dimana material Al 5xxx membutuhkan
jumlah pass yang lebih banyak dibandingkan dengan Al 1xxx.
2.5 Analisis Pengaruh Pelumasan
Salah satu variabel yang diberikan kepada kelompok 19 adalah tidak
menggunakan pelumas pada material dan membandingkan dengan 17 dengan
penggunaan pelumas dengan tujuan untuk mengetahui apakah gaya gesek akan
berkurang atau tidak. Bedasarkan literatur, gaya gesek akan berkurang ketika
diberikan kepada sampel pada saat pencanaian dan canai akan lebih rendah.
Bedasarkan tabel yang sebelumnya, didapatkan bahwa penggunaan logam Al
1xxx untuk %reduksi yang sama dengan perbedaan ada tidaknya pelumas akan
menghasilkan jumlah pass yang bebeda pula. Pelumas yang ditambahkan untuk
mengurangi gaya gesek akan menyebabkan material memiliki nilai jumlah pass
teori yang lebih kecil dibandingkan dengan material yang tidak ditambahkan
pelumas. Kelompok 17 dengan pelumas memiliki koef friksi 0,127 lebih kecil
dibanding kelompok 19 0,1323.
2.6 Analisis Cacat(apabila terbentuk) sertakan hasil rolling(persen
reduksi)
Benda kerja kelompok 19 mengalami cacat wavy edge dimana permukaan
melengkung pada sepanjang pencanaian. Hal ini dapat terjadi akibat posisi canai
yang tidak sejajar pada mesin pencanaian, posisi sampel tidak sejajar. Faktor lain
yang dapat menyebabkan wavy edge ialah ketidakseragaman antara ukuran dari
ujung-ujung sampel sehingga deformasi pada setiap ujung berbeda, akibatnya
pada saat proses deformasi, regangan tidak merata

3. Kesimpulan
 Material yang di tambahkan pelumas akan memiliki nilai koefisien gesek
yang lebih kecil dari material tanpa pelumas.
 Koefisien gesek yang besar menignkatkan kemungkinan terjadinya cacar
edge crackin
 Ketidaksesuaian jumlah pass actual dengan jumlah pass teori salah satunya
disebabkan oleh fenomena spring back
 Al 1xxx yang lebih lunak akan lebih mudah di canai dibandingkan Al 5xxx
yang lebih keras
 Pemberian pelumas akan memudahkan material untuk direduksi.
4. Saran
 Diperlukan pelumasan untuk mengurangi gesekan dan mendinginkan
spesimen saat proses pencanaian
 Dilakukan percobaan jenis pelumas
5. Referensi
- Modul Praktikum Teknik Pengubahan Bentuk 2019, Laboratorium Metalurgi
Mekanik 2019
- J.A. Schey: Tribology in Metalworking – Friction Lubrication and Wear.
American Society for Metals, Metals Park, Ohio, ISBN: 0-87170-155-3
(1984)
- Saptono, Rahmat. 2018. Rolling. Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas
Teknik Unversitas Indonesia.
- http://digilib.unila.ac.id/2084/8/BAB%20II.pdf
6. Lampiran

%REDUCTION DATA SHEET

L/D = 140/104
ONO ROLL 20
v = 8 MM/MIN R = 52 GREASED/NOT DATE: 20 – 04 - 2019
TONF MAX.
∆hmax = 15 w= 10,9

∆h
hasil INITIAL FINAL
Pass σy % ∆h hasil SETTING
MATERIAL μ Greased/Not aktual THICKNESS THICKNESS
ke- (MPa) RED. perhitungan GAP (mm)
(initial- (mm) (mm)
final)

DATA SAMPEL KELOMPOK 19


1 1XXX 170 0.1323 NOT 20 14.154 0.96 5.10 4.10 4.14

1 1.04 5.16 4.08 4.12


1XXX 170 0.1323 NOT 40 13.96
2 0.24 4.12 3.88 3.88

PERBANDINGAN %REDUKSI (KELOMPOK 15)


1 0.83 5.13 4.3
1XXX 170 0.137 NOT 30 11.953
2 0.56 4.3 3.74

1 1.23 5.13 3.9

2 0.27 3.9 3.63


1XXX 170 0.137 NOT 50 12.763
3 0.77 3.63 2.86

4 0.23 2.86 2.63