You are on page 1of 6

Nama : Raditya Prabawatmi

NIM : 16308144021
Kelas : Biologi E
Tema : Aplikasi Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan dalam Upaya
Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Indonesia.
Tanggal : 14 Mei 2018 2:36

Pemanfaatan Limbah Plastik untuk Campuran Aspal di Indonesia Sebagai Wujud


Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan

Masalah sampah plastik di Indonesia hingga kini masih sangat meresahkan. Berbagai
upaya untuk mengurangi sampah plastik yang dilakukan baik aktivis maupun pemerintah tidak
sebanding dengan bertambahnya volume sampah plastic yang terus menerus. Sehingga,
berdasarkan data Jambeck (2015), data sampah plastic di lautan Indonesia mencapai 187,2 juta
ton yaitu kedua terbesar setelah China. Hingga kini, para aktivis yang peka terhadap
lingkungan, misalnya oleh seorang mahasiswi IPB, Ranitya Nurlita mengemukakan dalam
seminar MARSS UNY April lalu, sejak 2010 beliau memulai kampanye untuk mengurangi
penggunaan plastic sebagai kantung dan menggantinya dengan reusable bag. Upaya ini telah
mencapai tingkat ASEAN dan telah berkampanye di lebih dari 5 negara. Upaya sederhana yang
diajarkan orangtua kepada kita diantaranya perilaku membuang sampah pada tempatnya,
mengenalkan daur ulang sejak dini hingga pengetahuan tentang ramah lingkungan memang
perlu dilestarikan. Karena hal ini lah yang paling krusial untuk ditegakkan demi keberhasilan
dalam mengurangi sampah plastic yang setiap tahun selalu bertambah, sampai sampai perlu
bantuan militer untuk ikut turun tangan.
Menurut data Menko Maritim, Luhut Panjaitan mengungkapkan pada tahun 2017
bahwa pertambahan jumlah sampah plastik di lautan Indonesia mencapai 0,48-1,29 juta ton per
tahun. Sampah plastic itu berasal dari daratan, dan tentunya tidak hanya berasal dari Indonesia
saja. Berbagai upaya pemerintah diantaranya, mulai dari kampanye 3R (Reuse, Reduce
Recycle) yang dimasukkan dalam pelajaran sekolah dasar, hingga menjajaki kerjasama dengan
Belanda untuk berbagi teknologi mengelola sampah plastic dan belajar di India bagaimana
memanfaatkan sampah plastic dalam skala besar telah dilakukan. Pemerintah Indonesia telah
optimis, dalam 8 tahun ke depan, sampah plastic akan berkurang sampai 70% dan
mengalokasikan dana hingga USD 1 miliar.
Hasil dari belajar Indonesia ke negri asing, menghasilkan ide baru dalam pemanfaatan
sampah plastic secara cepat dan efisien, tentunya sebagai upaya konservasi lingkungan dan
mengurangi penggunaan sumberdaya alam. Satu usaha, dua-tiga masalah terlampaui. Yaitu
mengembangkan aspal atau jalan dari bahan plastic. Kesempatan ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pemanfaatan sampah plastic sebagai pengganti bahan bitumen dari alam
untuk pembuatan aspal dalam rangka pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan.
Berdasarkan kesepakatan para pemimpin bangsa antara lain dalam Deklarasi Rio pada
KTT Bumi tahun 1992, Deklarasi Millenium PBB tahun 2000, dan Deklarasi Johannesburg
pada KTT Bumi tahun 2002, diantaranya telah direncanakan konsep pembangunan
berkelanjutan. Pembangunan itu sendiri merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas
hidup secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara bijaksana.
Sumberdaya itu bisa saja berupa sumber daya alam (air, tanah, udara, dan biota alam),
sumberdaya manusia (penduduk, ketrampilan, kebudayaan) dan ilmu pengetahuan teknologi
(komunikasi, rekayasa, hasil-hasil penelitian, IPTEK).
Namun, Sumberdaya tersebut sifatnya sangat terbatas. Sehingga siapapun yang akan
mengguanakannya harus cermat dan hati-hati. Ketidakcermatan akan menimbulkan masalah-
masalah khususnya dalam lingkungan. Contohnya, timbul polusi berupa pencemaran air, tanah,
atau udara, kerusakan hutan, kepunahan satwa, sanitasi, permukiman kumuh, dan masalh
hingga ke ranah kesehatan. Hal ini mendorong adanya pengajuan suatu usaha untuk
memadukan antara pembangunan dengan lingkungan. Dalam hal lain karena lingkungan
berfungsi sebagai penopang pembangunan secara berkelanjutan. Jika pembangunan dijalankan
apaadanya terusmenerus tanpa adanya perhatian kepada lingkungan, maka lingkungan hidup
akan rusak dan keberlanjutan pembangunan itu sendiri akan terancam.
Jadi, pembangunan berkelanjutan adalah upaya peningkatan kualitas manusia secara
bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan. Pada prosesnya pembangunan ini
mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumberdaya manusia serta IPTEK
dengan menserasikan tiga komponen sehingga terdapat kebersinambungan. Sesuai dengan
hasil KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, di dalamnya terkandung dua gagasan penting,
yaitu gagasan kebutuhan dan gagasan keterbatasan. Gagasan kebutuhan mengenai kebutuhan
pokok manusia untuk menopang hidup khususnya diprioritaskan kebutuhan kaum miskin.
Gagasan keterbatasan menyangkut keterbatasan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik
masa kini maupun masa yang akan datang.
Maka dari itu, hal yang penting dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan
hendaknya berlangsung terus menerus dengan didukung oleh kualitas lingkungan dan manusia
yang berkembang secara berkelanjutan. Lingkungan hidup memiliki keterbatasan sehingga
pengurangan akan pemanfaatannya harus dilakukan, misalnya sumberdaya alam yang tidak
dapat diperbarui digunakan sehemat mungkin. Demikian bila semakin baik kualitas
lingkungan, maka akan semakin baik pula kualitas hidup sehingga akan mengurangi angka
kematian dan meningkatnya usia harapan hidup. Hal ini juga harus memungkinkan terjadi
kesejahteraan manusia di masa kini tanpa mengurangi kesejahteraan generasi yang berikutnya.
Maka, Pembangunan berkelanjutan berusaha menyatukan tiga dimensi, yaitu dimensi
ekonomi, dimensi social dan ekologi. Dimensi ekonomi memfokuskan kepada pertumbuhan,
pemerataan, stabilitas, dan eko-efisiensi. Dimensi social mencakup pemberdayaan, peranserta,
kebersamaan, mobilitas, kebudayaan, dan pembinaan kelembagaan dalam rangka pengentasan
kemiskinan. Dimensi ekologi, menujukkan integritas ekosistem, ramah lingkungan, hemat
sumberdaya alam, pelestarian keanekaragaman hayati, dan tanggapan isu global.
Dimensi yang ditekankan secara nyata pada pembangunan berkelanjutan berkaitan
dengan factor lingkungan. Sehingga factor lingkungan akan mendukung pembangunan
berkelanjutan, salahsatunya bila terjadinya proses ekologi, ketersediaannya sumber daya, dan
dukungan sumberdaya khusunya dukungan lingkungan social budaya. Sehingga, untuk
mendukung keberhasilan factor tersebut, diperlukan dalam setiap proyek pembangunan
dilakukan dengan tidak merusak lingkungan, yaitu dengan mengadakan AMDAL dan AMRIL.
AMDAL dilakukan di awal pembangunan untuk memeriksa kelayakan suatu proyek yang akan
berjalan, diatur oleh UU No 4 tahun 1982 pasal 16 yaitu “setiap rencana yang diperkirakan
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai
dampak lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah”. Selanjutnya
dilakukan AMRIL atau analisis yang ditujukan bagi proyek-proyek yang telah berlangsung,
bila proyek berlangsung secara berbatas.
Kemudian pembangunan tersebut haruslah memikirkan generasi masa kini dan generasi
yang akan datang. Agar hal tersebut dapat terwujud, maka harus dilakukan pembangunan
berkelanjutan berwawasan lingkungan. Dalam UU no 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup,
dikatakan dalam pasal 1(3) bahwa ”pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan
hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber
daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu
hidup generasi masa kini dan generasi masa depan”. Dari segi lingkungan, pembangunan
berwawasan lingkungan dapat diartikan sebagai paduan antara pembangunan dan upaya
menjaga lingkungan agar sumber daya alam di sekitar tidak hilang atau musnah serta dapat
digunakan kembali di kemudian hari. Penggunaan SDA yang rakus oleh manusia, suatu ketika
akan menjadi kesulitan bagi manusia pula terutama di generasi yang akan datang. Maka dari
itu, pembangunan macam ini bila ingin sukses, haruslah didukung dengan pemeliharaan
lingkungan. Pemeliharaan lingkungan dapat dilaksanakan apabila ada kecukupan dana dan
teknologi. Dana dan teknologi dapat bersumber dari pemanfaatan sumber daya manusia (misal
social budaya dan IPTEKS). Hal ini dapat berupa siklus yang tetap, dalam pola pembangunan
berkelanjutan berwawasan lingkungan.
Contoh upaya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan di Indonesia
yaitu pembuatan aspal (jalan) dengan memanfaatkan sampah plastic yang mengotori lautan
kita. Pembangunan ini dari segi fungsi dicapai dengan tujuan meningkatkan akses dan kualitas
jalan di Indonesia seiring dengan bertambahnya mobilitas dari penduduk. Setiap tahunnya
bahkan jumlah kendaraan mengalami peningkatan, hal ini tentunya juga menjadi alasan
ditegakkannya pembangunan jalan. Selain itu, juga mengurangi penggunaan bitumen (aspal)
dari alam sebagai upaya konservasi sumberdaya alam dan membrantas masalah lingkungan
berupa sampah plastic.
Penelitian pada bulan Juni 2016 oleh mahasiswa jurusan Teknik Sipil Universitas
Lampung, Suhardi mengungkapkan bahwa penelitiannya berhasil dan membuktikan bahwa
dengan adanya penambahan PET (polyethylene terephthalate) dari limbah botol plastik pada
campuran AC-BC (Asphalt Concrete-Binder Course) berpengaruh terhadap karakteristik
Marshall atau kualitas aspal dalam presentase penambahan sekitar 6,44 %, semakin tinggi
kadar penambahan PET maka nilai stabilitas akan meningkat tetapi untuk nilai kadar rongga
dalam campuran semakin tinggi presentasenya. Hal ini artinya memiliki nilai postif untuk
dilakukannya proyek secara massal untuk pembangunan jalan di Indonesia.
Aspal atau bitumen merupakan material berwarna hitam kecoklatan yang bersifat
viskoelastis, sehingga akan melunak dan mencair bila mendapat cukup pemanasan (Sukirman,
2003). Pada dasarnya, aspal terdiri dari rantai hidrokarbon yang disebut bitumen, makan dari
itu, aspal juga disebut material berbituminous. Sehingga, aspal bisa merekatkan agregat atau
batu atau granular material berbutir yang keras dan kompak. Bitumen sendiri berasal dari
proses distilasi minyak bumi (Zulfa, 2003:6). Dimana minyak bumi merupakan sumber daya
alam yang tidak dapat diperbaharui. Sementara itu, setiap tahun, sekitar 400 sampai 500 ribu
ton bitumen digunakan dalam pembuatan jalan. Maka dari itu, apabila material ini dapat
digantikan oleh substansi yang dapat diperbaharui, maka dampak buruk pada lingkungan dapat
dihindari.
Menurut Winarta (2007), ternyata dalam pembuatan jalan sepanjang 1 km dengan lebar
7 m maka membutuhkan partikel plastic sekitar 2,5-5 ton. Setelah diuji coba 6 kriteria yang
harus dipenuhi, uji coba berhasil memenuhi ke 6 kriteria, diantaranya termasuk stabilitas.
Campuran dengan plastic kresek ini pun dinilai lebih tahan terhadap deformasi dan keretakan
dibandingkan dengan aspal biasa. Aspal plastic ini juga dinilai cukup ramah lingkungan,
dimana saat proses pencairan plastic hanya membutuhkan suhu 150-180℃ lebih rendah
daripada suhu yang dibutuhkan plastic untuk mengeluarkan racun yaitu sekitar 250-280℃
(Putri, 2018). Selain itu ongkosnya juga lebih murah sekitar 7-10% (Daniel, 2017). Menurut
Ariyanti (2018), Penggunaan aspal campuran ini pun telah diuji coba pada beberapa ruas jalan
nasional di Jakarta, Makassar, Bekasi, Denpasar, dan Tol Tangerang-Merak.
Berdasarkan literatur, diperoleh suatu kesimpulan bahwa penggunaan sampah plastic
untuk campuran aspal, dinilai efektif. Pembangunan ini akan meningkatkan kualitas jalan di
Indonesia seiring dengan bertambahnya mobilitas dari penduduk. Setiap tahunnya bahkan
jumlah kendaraan mengalami peningkatan, hal ini tentunya juga menjadi alasan ditegakkannya
pembangunan jalan. Selain itu, juga mengurangi penggunaan bitumen (aspal) dari alam sebagai
upaya konservasi sumberdaya alam dan membrantas masalah lingkungan berupa sampah
plastic.
DAFTAR PUSTAKA
Daniel, Wahyu. 2017. RI Penghasil Sampah Terbesar. Diakses di
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3522647/ri-penghasil-sampah-
plastik-terbesar-mau-dijadikan-aspal. tanggal 14 Mei 2018 pukul 7:58.
Edison, Lampu. 2017. Aspal Ramah Lingkungan. Diakses di https://kumparan.com/lampu-
edison/aspal-ramah-lingkungan. tanggal 14 Mei 2018 pukul 7:58.
Guru IPS. 2016. Konsep Pembangunan Berkelanjutan. Diakses di guruips.com tanggal 14 Mei
2018 pukul 7:58.
Jambeck, J.R., Andrady, A., Geyer, R., Narayan, R., Perryman, M., Siegler, T., Wilcox, C.,
Lavender Law, K. 2015. Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean. Science.
347:768-771.
Putri, Melisa Riska. 2018. Campuran Limbah Plastik Ternyata Buat Aspal Lebih Kuat. Diakses
di http://trendtek.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/18/02/22/p4jmer368-
campuran-limbah-plastik-ternyata-buat-aspal-lebih-kuat tanggal 14 Mei 2018 pukul 7:58
Suhardi., Pratomo, Priyo., Ali, Hadi. 2016. Studi Karakteristik Marshall Pada Campuran
Aspal Dengan Penambahan Limbah Botol Plastik. JRSDD. 4(2):284-293.
UU No. 23 tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Winarta, I Ketut Yadnya. 2017. Pemanfaatan Sampah Plastik Untuk CAmpuran Pengerasan
Aspal Jalan. Diakses di http://birohumas.baliprov.go.id/index.php/berita-
detail/3512/Podium-Bali-Bebas-Bicara-Apa-Saja:--Pemanfaatan-Sampah-Plastik-
Untuk-Campuran-Pengerasan-Aspal-Jalan/. tanggal 14 Mei 2018 pukul 7:58.
Zuhra, Cut Fatimah. 2003. Penyulingan, Pemrosesan, dan Penggunaan Minyak Bumi.
Sumatera Utara: USU.