You are on page 1of 12

BAB II

KAJIAN TEORI
A. Pengertian Sikap

Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa.Hal ini
mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Sikap mungkin dihasilkan dari perilaku
tetapi sikap tidak sama dengan perilaku.

Menurut Fishbein dalam Ali (2006:141) “Sikap adalah predisposisi emosional yang
dipelajari untuk merespons secara konsisten terhadap suatu objek”. Sedangkan menurut
Secord dan Backman dalam Saifuddin Azwar (2012:88) “Sikap adalah keteraturan tertentu
dalamhal perasaan (afeksi), pemikiran (kognitif), dan predisposisi tindakan (konasi)
seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya”.

Menurut Randi dalam Imam (2011:32) mengungkapkan bahwa “Sikap merupakan


sebuah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri atau orang lain atas
reaksi atau respon terhadap stimulus (objek) yang menimbulkan perasaan yang disertai
dengan tindakan yang sesuai dengan objeknya”.

Selanjutnya Menurut Ahmadi dalam Aditama (2013:27)“Orang yang memiliki sikap


positif terhadap suatu objek psikologi apabila ia suka (like) atau memiliki sikap yang
favorable, sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap negativeterhadap objek psikologi
bila tidak suka (dislike) atau sikapnya unfavorableterhadap objek psikologi”.Sikap yang
menjadi suatu pernyataan evaluatif, penilaian terhadap suatu objek selanjutnya yang
menentukan tindakan individu terhadap sesuatu.

Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, tetapi berdasarkan pendapat -


pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan dalam diri manusia
yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan
tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu
sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap
obyek atau situasi.

a. Sikap Memengaruhi Pemikiran Sosial


Sikap merefleksikan fondasi penting, sekaligus sebagai awal dari pemikiran sosial
seseorang. Dalam interaksi sosial, baik sadar ataupun tidak disadari, sering melakukan
evaluasi terhadap orang lain. Hasil evaluasi tersebut kadang menimbulkan like-dislike
terhadap seseorang. Dari proses inilah menandakan bahwa selama proses terbentuknya
sikap, melibatkan kognisi. Dari proses kognisi yang super kompleks inilah akhirnya
akan memengaruhi sikap dan perilaku kita.

Menariknya, meskpipun sikap melibatkan proses kognitif, tapi terbentuknya sikap


seringkali tanpa dipelajari. Dengan kata lain sikap dapat terjadi dengan cepat, bahkan
sebelum kita mampu memahami arti dari stimulus yang kita terima.

b. Sikap Memengaruhi Perilaku

Sikap memang erat kaitannya dengan perilaku. Naumn tidak berlaku untuk
kebalikannya. Saat kita menyukai presiden A, maka saat pemilihan presiden tiba,
perilaku kita akan mendukung dan memberikan suara untuk presiden A. Sebaliknya,
ketika kita tidak menyukai presiden B, maka saat pemilihan presiden tiba, kita pun tidak
akan memilihnya sama sekali. Dengan mempelajari sikap seseorang seperti itu, dapat
mendorong kita untuk memprediksi perilaku seseorang.

Berawal dari mempelajari perilaku seseorang lewat sikap yang mereka rasakan
itulah, yang mendorong para psikologi sosial mengembangkan dan meneliti bagaimana
proses terbentuknya sikap. Dulu, barangkali tidak tahu jawaban kenapa seseorang
bersikap tertentu, dan motif apa yang diinginkan sebenarnya. Namun kini, dengan
adanya kiprah para ilmuan psikologi sosial, kita pun mampu memahami.

B. Struktur Sikap

Menurut Azwar S (2012:33) struktur sikap dibedakan atas 3 komponenyang saling


menunjang, yaitu:

1) Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik
sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype yang dimiliki individu mengenai
sesuatu dapat disamarkan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau
problem yang kontroversal.Contoh kognitif:kemampuan menilai perilaku yang patut dan
tidak untuk ditiru.kemampuan untuk menilai cantik atau tidak cantik
2) Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek
emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan
merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah
mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki
seseorang terhadap sesuatu.Contoh afektif:perasaan mencintai seseorang (sudah melibatkan
emosi
3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan
sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak/
bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu dan berkaitan dengan objek yang
dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan
dalam bentuk tendensi perilaku. Contoh konatif :menyatakan cinta kepada lawan jenis

C. Fungsi Sikap

Menurut Katz (1964) dalam buku Wawan dan Dewi (2010) sikap mempunyai beberapa
fungsi, yaitu:
a) Fungsi instrumental (fungsi penyesuaian/fungsi manfaat)
Fungsi ini berkaitan dengan sarana dan tujuan. Orang memandang sejauh mana obyek
sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka mencapai tujuan. Bila obyek
sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersifat
positif terhadap obyek tersebut. Demikian sebaliknya bila obyek sikap menghambat
pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap obyek sikap yang
bersangkutan.
b) Fungsi pertahanan ego
Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego
atau akunya. Sikap ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan
terancam keadaan dirinya atau egonya.
c) Fungsi ekspresi nilai
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk
mengekspresikan nilai yang ada pada dirinya. Dengan mengekspresikan diri seseorang
akan mendapatkan kepuasan dapat menunjukkan kepada dirinya. Dengan individu
mengambil sikap tertentu akan menggambarkan keadaan sistem nilai yang ada pada
individu yang bersangkutan.
d) Fungsi pengetahuan
Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan pengalaman-
pengalamannya. Ini berarti bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu obyek,
menunjukkan tentang pengetahuan orang terhadap obyek sikap yang bersangkutan.

D. Ciri-Ciri Sikap

Ciri-ciri sikap menurut Heri Purwanto (1998) dalam buku Notoadmodjo (2003) adalah :

1)Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang
perkembangan itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini yang
membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan
istirahat.

2)Sikap dapat berubahpada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat


tertentu yang mempermudah sikap orang itu.

3)Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu
objek dengan kata lain sikap itu terbentuk dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan
suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

4)Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari
hal-hal tersebut.

5)Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang
membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang
dimiliki orang.

E. Pembentukan Sikap
Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui empat macam:
1) Adopsi
Kejadian - kejadian dan peristiwa - peristiwa yang terjadi berulang - ulang dan terus
menerus, lama - kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan
mempengaruhi terbentuknya suatu sikap.
2) Diferensiasi
Dengan berkembangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan
bertambahnya usia, maka ada hal - hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang
tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri
pula.
3) Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai
pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tentu sehingga akhirnya terbentuk sikap
menegenal hal tersebut.
4) Trauma
Trauma adalah pengalaman yang tiba - tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan
mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman - pengalaman yang traumatis
dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap.

Pada dasarnya sikap bukan merupakan suatu pembawaan, melainkan hasil interaksi
antara individu dengan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis. Sikap dapat pula
dinyatakan sebagai hasil belajar, karenanya sikap dapat mengalami perubahan.
Sesuai yang dinyatakan oleh Sheriff & Sheriff (1956), bahwa sikap dapat berubah
karena kondisi dan pengaruh yang diberikan. Sebagai hasil dari belajar, sikap tidaklah
terbentuk dengan sendirinya karena pembentukan sikap senantiasa akan berlangsung dalam
interaksi manusia berkenaan dengan objek teretntu (Hudaniah, 2003).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, antara lain:
1. Faktor internal
yaitu cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif sehingga tidak semua
yang datang akan diterima atau ditolak.
a. Faktor Genetik dan Fisiologik
Faktor ini berperan penting dalam pembentukan sikap melalui kondisi – kondisi
fisiologik.
Misalnya waktu masih muda, individu mempunyai sikap negatif terhadap obat-obatan,
tetapi ia menjadi biasa setelah menderita sakit sehingga secara rutin harus
mengkonsumsi obat – obatan tertentu.
b. Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus
meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila
pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang
melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama
berbekas. Menurut Oskamp, dua aspek yang secara khusus memberi sumbangan dalam
membentuk sikap.
Pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan kuat pada individu (salient incident),
yaitu peristiwa traumatik yang merubah secara drastis kehidupan individu, misalnya
kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan.
Kedua yaitu munculnya objek secara berulang - ulang (repeated exposure). Misalnya,
iklan kaset musik. Semakin sering sebuah musik diputar di berbagai media akan
semakin besar kemungkinan orang akan memilih untuk membelinya.
c. Kebudayaan
B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk
kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada
pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan,
ganjaran) yang dimiliki.
Contoh : Sikap orang kota dan orang desa berbeda terhadap kebebasan dalam
pergaulan.
d. Faktor Emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi
seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari
oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu
begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten
dan lebih tahan lama.
Contoh: Prasangka (sikap tidak toleran, tidak fair)
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yaitu keadaan – keadaan yang ada di luar individu yang merupakan
stimulus untuk membentuk atau mengubah sikap.
a. Pengaruh orang tua
Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak-anaknya. Sikap
orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya.
Misalnya, orang tua pemusik, akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang
musik.
b. Kelompok sebaya atau kelompok masyarakat
Pada umumnya, individu bersikap konformis (sesuai) atau searah dengan sikap
orang orang yang dianggapnya penting. Ada kecenderungan bahwa seorang individu
berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya. Kecenderungan ini antara lain
dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik
dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Misalnya seorang anak nakal yang bersekolah dan berteman dengan anak - anak santri
kemungkinan akan berubah menjadi tidak nakal lagi.
c. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio,
mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi
tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan
menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
Misalnya, media massa banyak digunakan oleh partai politik untuk mempengaruhi
masyarakat dalam pemilihan umum.
d. Institusi / Lembaga Pendidikan dan Agama
Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam
pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep
moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat
keagamaan serta ajaran - ajarannya.

F. Perubahan Sikap

Menurut Kelman dalam Azwar S (2012:55) ada tiga proses yang berperan dalam proses
perubahan sikap yaitu :

1)Kesedihan (Compliance)

Terjadinya proses yang disebut kesedihan adalah ketika individu bersedia menerima
pengaruh dari orang lain atau kelompok lain dikarenakan ia berharap untuk memperoleh
reaksi positif,seperti pujian, dukungan, simpati, dan semacamnya sambil menghindari hal –
hal yang dianggap negatif. Tentu saja perubahan perilaku yang terjadi dengan cara seperti itu
tidak akan dapat bertahan lama dan biasanya hanya tampak selama pihak lain diperkirakan
masih menyadari akan perubahan sikap yang ditunjukkan.

2)Identifikasi (Identification)

Proses identifikasi terjadi apabila individu meniru perilaku tau sikap seseorang atausikap
sekelompok orang dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yangdianggapnya sebagai
bentuk hubungan menyenangkan antara lain dengan pihak yang dimaksud. Pada dasarnya
proses identifikasi merupakan sarana atau cara untuk memelihara hubungan yang diinginkan
dengan orang atau kelompok lain dan cara menopang pengertiannya sendiri mengenai
hubungan tersebut.

3)Internalisasi (Internalization)

Internalisai terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia menuruti pengaruh
itu dikarenakan sikap tersebut sesuai 17dengan apa yang ia percaya dan sesuai dengan
system nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, maka isi dan hakekat sikap yang diterima itu
sendiri dianggap memuaskan oleh individu. Sikap demikian itulah yang biasnya merupakan
sikap yang dipertahankan oleh individu dan biasanya tidak mudah untuk berubah selama
sistem nilai yang ada dalam diri individu yang bersangkutan masih bertahan.

G. Sikap Perawat dalam Merawat Pasien

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa alasan mahasiswa keperawatan
untuk menjadi seoarang perawat. Sebagian besar mahasiswa (69,47%)mengatakan alasan
menjadi perawat adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, ingin mengenal
ilmu kesehatan dengan baik (28,42%), masa depan yang baik (8,42%) professional (7,36%),
membahagiakan orang tua dan menciptakan generasi yang sehat (6,31%).Hasil penelitian ini
masih bersifat normative, artinya alasan subjek masih bersifat umum.”Menjadi Bermanfaat
bagi Masyarakat” tampaknya salah satu aspek dominan yang mendorong subjek menjadi
perawat. Subjek melihat bahwa profesi perawat erat kaitannya dengan hubungan dengan
orang lain (pasien). Dalam artian aspek humanitas dalam profesi perawat sangat tinggi.
Sementara itu, alasan yang kedua dan ketiga lebih kepada pemahaman akan keilmuaan dan
profesionalitas dalam profesi perawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik
perawat ideal menurut subjek terdiri dari beberapa komponen, yaitu:

1). Kognitif (pengetahuan)


Perawat ideal harus memiliki pengetahuan luas terutama yang berkaitan dengan bidang
kesehatan dan praktek keperawatan. Perawat ideal bertindak berdasarkan kaidah keilmuaan
yang ditetapkan. Perawat ideal (profesional) harus berlandaskan ilmu pengetahuan dan
kebutuhan masyarakat. Artinya seseorang perawat dikatakan ideal apabila dia mampu
melakukan pekerjaannya secara baik dan benar sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang
praktek keparawatan

2). Emosi (psikologis)


Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek, dalam hal ini yaitu perawat lebih
menggunakan aspek emosi (psikologis) dalam menggambarkan karakteristik perawat ideal.
3). Psikomotor (skill)
Psikomotor (skill) merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan dalam pelayanan
keperawatan. Skill tidak hanya berkaitan dengan standar kompetensi perawat (hard skill),
tetapi juga kemampuan dalam memahami kondisi psikologis perawat (soft skill).Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa etika memiliki peran yang penting dalam praktek
keperawatan. Perawat yang memiliki etika yang bagus, memiliki sopan santun dalam
melakukan keperawatan, tentunya akan mendapat respek dari pasiennya. Bila kondisi ini
dapat dijaga akan menguntungkan kedua belah pihak (perawat dan pasien).
4).Fisik
Menurut hasil penelitian ini, seorang perawat harus memiliki kebersihan dan kerapihan
dalam berpakaian. Hal ini penting karena perawat berkaitan dengan pelayanan terhadap
pasien. Kalau perawat berpenampilan tidak menarik, atau kotor dan kurang rapi, tentunya
akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap perawat. Hal tersebut berdampak pada
kualitas pelayanan khususnya kenyamanan pasien. Bahkan bisa jadi pasien tidak mau
dilayani perawat yang tidak memperhatikan penampilan fisiknya.
5).Spritualitas
Spritualitas adalah segala bentuk perilaku dan tuntunan yang mengarahkan manusia
untuk selalu dengan dengan Tuhan. Salah satu sumber spritualitas adalah Agama. Agama
mengajarkan manusia bagaimana berinteraksi dengan Tuhan, manusia dan lingkungan
sekitar. Dalam konteks Indonesia, peran agama sangat penting khusunya dalam berinteraksi
dengan orang lain. Demikian pula dalam pelayanan pada pasien.Perawat harus memiliki
pemahaman agama yang memadai guna membantu dalam pelaksanaan tugas keperawatan.
Sering sekali nasehat-nasehat agama membantu pasien dalam menghadapi penyakitnya.
6). Dapat Berkomunikasi secara efektif
7). Disiplin
Disiplin merupakan salah satu karakteristik perawat ideal yang sangat berguna dalam
pelayan keperawatan. Seoarang perawat dituntut untuk disiplin dalam menjalankan
tugasnya. Dispilin berangkat dari keinginan untuk dapat menjalankan tugas secara baik dan
tepat. Dengan dispilin pelayanan akan maksimal dan target pekerjaan akan tercapai dan
kelima, rendah hati. Dalam menjalankan tugas, perawat harus mempunyai sifat rendah hati.
Perawat harus dapat menerima masukan atau saran dari lengkungan kerja, sehingga kinerja
selalu dapat ditingkatkan.
8). Ramah
Ramah yaitu suatu kondisi psikologis yang positif dengan ditunjukkan dengan perilaku
dan eksperesi muka yang selalu murah senyum, perhatian dan suka menyapa. Ramah
merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki perawat. Perawat yang ramah tentunya akan
disukai pasien, dan secara tidak langsung dapat membatu kesembuhan pasien.
9). Sabar
Sabar berarti menahan dan menerima segala kondisi dengan ikhlas dan ridho. Sifat
sabar merupakan salah satu yang terpuji dan sangat berguna bagi perawat khususnya dalam
melayani pasien. Profesi perawat rentan dengan stress yang diakibatkan beban kerja atau
perilaku dari pasien dan keluarga pasien. Oleh karena itu, sifat sabar membantu perawat
dalam mengatasi beban psikologis dalam bekerja. Dengan sabar, perawat akan tetap
konsisten dalam menjalankan tugasnya, tanpa dipengaruhi kondisi kerja. Sabar juga
membuat perawat lebih tegar, kuat , dan mampu memahami sitiuasi dengan hati dan pikiran
jernih.
10). Baik
Baik merupakan salah satu sifat positif yang ditandai dengan perilaku yang bermanfaat
bagi orang lain, seperti senang membantu, perhatian, dan berkata baik. Sifat baik dalam diri
perawat dapat terwujud jika perawat memahami dengan baikapa tugas dan fungsi seorang
perawat. Seorang perawat dituntut untuk mempunyai sifat baik terhadap pasien. Perawat
harus mampu memberikan pertolongan secara fisik, dan psikologis kepada pasiennya.
Intinya perawat harus mampu menjalin hubungan baik dengan pasien dan keluarga pasien.

Perawat harus menghargai kepentingan orang di atas kepentingan diri sendiri. Perawat
mempunyai sifat kemanusiaan terhadap sesama, untuk mampu memberikan perawatan yang
berkualitas, maka diperlukan lima langkah sebagai berikut (Dwidiyanti, 2007):

1. Perawat seharusnya mengerti apa yang akan terjadi

Perawat mengkaji pasien dan memahami bahwa pengetahuan dan pengalamannya tidak
boleh mempengaruhi keismpulan yang dibuat untuk pasien, untuk itu perawat harus
mempersiapkan diri dengan baik kalau akan mengkaji pasien, artinya perawat mengetahui
kelebihan dan kekurangannya sebagai perawat.

2. Perawat mengetahui kata hatinya


Kata hati atau nurani merupakan bagian yang sangat penting dalam memahami
situasi/kondisi atau masalah yang sedang dialami pasien. Dengan nurani atau hati perawat
mampu mengerti secara keseluruhan masalah yang sebenarnya terjadi pada pasien.

3. Perawat mengetahui ilmunya

Perawat bergerak dari nurani ke analisa data yang memerlukan ilmu, karena data harus
dibandingkan dan diinterpretasi yang akan menghasilkan masalah pasien dengan tepat.

4. Perawat mengetahui bagaimana mensintesa pengetahuan untuk memahami pasien

Perawat seharusnya mengetahui mengapa masalah itu terjadi, dan mampu


menghubungkan kondisi atau fenomena satu dengan yang lain. Sehingga perawat
mempunyai cara pandang yang luas tentang masalah pasien.

5. Kesukesan perawat adalah datang dari hal-hal yang kadang tidak mungkin.

Keberhasilan perawat dalam melakukan pendekatan terhadap pasien terkadang dapat


dilakukan dengan melakukan hal-hal yang sepele seperti memberi salam, menanyakan kabar
dan sebagainya.