Вы находитесь на странице: 1из 72

GAMBARAN KARAKTERISTIK ANAK OBESITAS DI KELAS 4-6 SDN III CIRENDEU

Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) OLEH : TRISNA SYAHFITRI NIM
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
OLEH :
TRISNA SYAHFITRI
NIM : 1111104000004
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1436 H / 2015 M

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

NURSING STUDY PROGRAM

SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA Bachelor’s Thesis, July 2015 Trisna Syahfitri, NIM :
SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA
Bachelor’s Thesis, July 2015
Trisna Syahfitri, NIM : 1111104000004
The
characteristic feature of obese children in grades 4-6 SDN III Cirendeu.
Xvii
+ 42 pages + 5 Tables + 2 Chart + 2 attachment
ABSTRACT
Obesity should be addressed early on because of the many adverse effects
caused by obesity. A variety of food to a food habit is formed when school age and
prior periods and form the basis for forming lifelong habits of food and nutrition.
Three factors are known to play a major role increases the risk of overweight and
obesity in children, namely genetic factors (heredity), patterns of activity, and diet.
This research aimS to know description the characteristics of childhood obesity class
III Cirendeu SDN 4-6. This type of research is quantitative descriptive with cross
sectional approach. Sample of this study were 35 elementary school children in SDN
III Cirendeu with total sampling technique. Respondents who follow this study most
male sex (68.6%) the majority of obese parents have as many (71.4%). The pattern of
activity of the respondents who do low activity with a percentage of 51.4% and a high
activity with the percentage of 48.6%. Poor diet with 48.6% while the percentage of
respondents with excessive eating patterns with a percentage of 51.4%.

Keywords : Obesity, child

iii

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, Juli 2015

Trisna Syahfitri, NIM : 1111104000004 Gambaran karakteristik anak obesitas di kelas 4-6 SDN III Cirendeu.
Trisna Syahfitri, NIM : 1111104000004
Gambaran karakteristik anak obesitas di kelas 4-6 SDN III Cirendeu.
xviii + 42 halaman + 5 Tabel + 2 Bagan + 2 Lampiran
ABSTRAK
Obesitas harus diatasi sejak dini karena banyaknya dampak buruk yang
disebabkan obesitas. Berbagai kebiasaan makanan terhadap suatu makanan dibentuk
saat usia sekolah dan periode sebelumnya dan membentuk dasar seumur hidup untuk
membentuk kebiasaan makanan dan asupan gizi. Tiga faktor yang diketahui berperan
besar meningkatkan risiko terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak, yakni faktor
genetik (keturunan), pola aktivitas, dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran karakteristik obesitas pada anak kelas 4-6 SDN III Cirendeu.
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional.
Sample penelitian ini adalah 35 anak SD di SDN III Cirendeu dengan teknik total
sampling. Responden yang mengikuti penelitian ini paling banyak berjenis kelamin
laki-laki (68,6%) sebagian besar memiliki orang tua gemuk sebanyak (71,4%). Pola
aktivitas responden yang melakukan aktivitas rendah dengan persentase 51,4% dan
yang melakukan aktivitas tinggi dengan persentase 48,6%. Pola makan yang kurang
dengan persentase 48,6% sedangkan responden dengan pola makan berlebih dengan
persentase 51,4%.

Kata kunci:Obesitas, anak

iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : TRISNA SYAHFITRI Tempat, tanggal Lahir : Bahorok 30 juni 1994 Jenis Kelamin :
Nama
:
TRISNA SYAHFITRI
Tempat, tanggal Lahir
:
Bahorok 30 juni 1994
Jenis Kelamin
:
Perempuan
Agama
:
Islam
Status
:
Belum Menikah
Alamat
:
Jl. Perintis kemerdekaan Bahorok Langkat
Sumatera Utara
HP
:
+6287794247999 dan +6281281092532
E-mail
:
syahfitritrisna@yahoo.co.id
Fakultas / Jurusan
:
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan/
Program Studi Ilmu Keperawatan
PENDIDIKAN
1. TK AL Husna
1998 – 1999
2. SDN 1 No. 050643 Bahorok Langkat
1999 – 2005
3. Islamic International School Darul Ilmi Murni Medan
2005 – 2008

4. Madrasah Aliyah Negeri Binjai Sumatera Utara

5. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

ORGANISASI

1.

2.

Osis

Rohis

vii

2008 2011

2011 sekarang

2008 2009

20092011

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Subhanahuwata’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan
Segala
puji
hanya
milik
Allah
Subhanahuwata’ala,
kita
memuji,
meminta
pertolongan dan memohon pengampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada
Allah dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Atas berkat rahmat,
karunia,
dan
ridha-Nya
penulis
dapat
menyelesaikan
skripsi
yang
berjudul
“Gambaran Karakteristik Anak Obesitas di Kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu”.
Sholawat serta salam juga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Penulis telah berusaha untuk menyajikan suatu tulisan ilmiah yang rapi dan
sistematik
sehingga mudah
dipahami
oleh pembaca.
Penulis
menyadari
bahwa
penyajian skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
berguna untuk menyempurnakan skripsi ini akan penulis terima dengan hati terbuka
dan rasa terima kasih.
Sesungguhnya banyak pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuan yang
tak
terhingga
nilainya
hingga
skripsi
ini
dapat
penulis
selesaikan
tepat
pada

waktunya. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. H. Arif Sumantri, S.KM., M.Ke, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan

Ilmu

Kesehatan,

Fakultas

Hidayatullah Jakarta.

Kedokteran

viii

dan

Ilmu

Kesehatan

UIN

Syarif

2. Maulina

Handayani,

S.Kp,

M.Sc,

selaku

Ketua

Program

Studi

dan

Pembimbing Akademik. Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku Sekretaris

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Karyadi M. Kep. Ph.D dan Ibu Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep. selaku
Dosen Pembimbing, terima kasih sebesar-besarnya untuk beliau yang telah
meluangkan waktu serta memberi arahan dan bimbingan dengan sabar kepada
penulis selama proses pembuatan skripsi ini.
4. Bapak / Ibu dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan
kepada penulis serta seluruh staf dan karyawan di lingkungan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Ayah saya, Syahril Effendi, Ibu saya, Ertika sahari Spd, yang telah mendidik,
mencurahkan
semua
kasih
sayang
tiada
tara,
mendo’akan
keberhasilan
penulis, serta memberikan bantuan baik moril maupun materil kepada penulis
selama proses menyelesaikan proposal skripsi ini. Tak lupa, Adikku Satria
Erdinda,
M.
Avizal
Ramadhan
dan
Diraz
Dwi
Syahfira
dan
seluruh

keluargaku yang selalu memberikan semangat tanpa pamrih.

6. Seluruh siswa SD III Cirendeu yang bersedia menjadi responden dalam

penelitian ini.

7. Sahabat

tercinta,

Andika,

Ilyati,

Dayang,

Audy,

dan

Dewi

yang selalu

menyemangati, menghibur, membantu serta memberi referensi terbaik bagi

penelitian ini.

ix

8.

Teman-teman PSIK 2011, yang telah berjuang bersama selama 4 tahun di

bangku kuliah ini dan memotivasi dalam mencapai cita -cita.

Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun penulis harapkan
Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari
sempurna, namun penulis harapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang
memerlukannya.
Ciputat, Juli 2015
Trisna Syahfitri

x

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul Pernyataan Keaslian Karya Abstract Abstrak Pernyataan Persetujuan Lembar Pengesahan Daftar Riwayat
Halaman Judul
Pernyataan Keaslian Karya
Abstract
Abstrak
Pernyataan Persetujuan
Lembar Pengesahan
Daftar Riwayat Hidup
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Singkatan
Daftar Bagan
Daftar Tabel
Daftar Lampiran
i
ii
iii
iv
v
vi
viii
ix
xi
xv
xvi
xvii
xviii
BAB I PENDAHULUAN
A.
1
B.
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Pertanyaan Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
3
C.
4
D.
4
E.
5
F.
6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Usia Sekolah

7

1. Pengertian Anak Usia Sekolah

7

2. Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah

8

3. Karakteristik tumbuh kembang anak usia sekolah

8

4. Kebutuhan nutrisi pada anak usia sekolah

9

xi

B.

Status Gizi

9

1. Angka Kecukupan Gizi

9

C. Obesitas 10 1. Definisi Obesitas 10 2. Cara Pengukuran Obesitas 11 D. Faktor-Faktor Obesitas
C. Obesitas
10
1. Definisi Obesitas
10
2. Cara Pengukuran Obesitas
11
D. Faktor-Faktor Obesitas Pada Anak
12
1. Faktor Genetik
13
2. Faktor Pola Aktivitas 15
3. Faktor Pola Makan 17
E. Penelitian Terkait
20
F. Kerangka Teori
21
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
22
B. Definisi Operasional
23
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
24
B. Tempat dan Waktu Penelitian
24
C. Populasi dan Sample
24
1. Populasi
24
2. Sampel
25
D. Instrumen Penelitian
25
E. Uji Validitas dan Reabilitas
26

F. Langkah langkah Pengumpulan Data

27

G. Etika Penelitian

28

H. Pengolahan Data

29

I. Analisis Data

30

J. Penyajia Data

30

xii

BAB V HASIL PENELITIAN

A.

Analisis Univariat

31

1. Karakteristik Demografi 32 2. Pola aktivitas 32 3. Pola Makan 32 BAB VI PEMBAHASAN
1. Karakteristik Demografi
32
2. Pola aktivitas
32
3. Pola Makan
32
BAB VI PEMBAHASAN
A. Hasil Analisis Univariat
34
1. Data Demografi responden
34
a. Jenis Kelamin
34
b. Orang Tua Gemuk
35
2. Pola Aktivitas
36
3. Pola Makan
38
B. Keterbatasan Penelitian
40
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
41
B. Saran
41
Daftar Pustaka

Lampiran

xiii

DAFTAR SINGKATAN

SGOT

: Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase

SGPT : Serum Glutamic PyruvicTransaminase WHO : World Health Organitation AKG : Angka Kecukupan Gizi
SGPT
: Serum Glutamic PyruvicTransaminase
WHO
: World Health Organitation
AKG
: Angka Kecukupan Gizi
IMT
: Indeks Masa Tubuh
RMR
: Resting Metabolic Rate
PAQ-C
: Physical Activity Questionnaire for Children
CNQ
: Child Nutrition Questionnaire

xiv

DAFTAR BAGAN

Halaman 2.1 Kerangka Teori 21 3.1 Kerangka Konsep 23
Halaman
2.1
Kerangka Teori
21
3.1
Kerangka Konsep
23

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Angka Kecukupan Gizi (AKG) Anak Usia Sekolah 10 Tabel 3.1 Definisi Operasional 23
Tabel 2.1
Angka Kecukupan Gizi (AKG) Anak Usia Sekolah
10
Tabel 3.1
Definisi Operasional
23
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin dan
Orang Tua Gemuk
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pola Aktivitas
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pola Makan
31
Tabel 5.2
32
Tabel 5.5
32

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 2. Hasil Olah SPSS
Lampiran 2.
Hasil Olah SPSS

Lampiran 1.

Kuesioner Penelitian

xvii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Obesitas merupakan permasalahan gizi berlebih yang sering dijumpai, dan potensial untuk mengakibatkan
A. Latar Belakang
Obesitas merupakan permasalahan gizi berlebih yang sering dijumpai,
dan potensial untuk mengakibatkan gangguan kesehatan akibat berbagai
komplikasi. Terdapat berbagai macam faktor
risiko dan etiologi
yang
multifaktorial untuk terjadinya obesitas. Faktor risiko dan eiologi tersebut
diantaranya asupan makanan, aktifitas fisik yang kompleks dan proses
sosial. Hal ini penting untuk diperhatikan mengingat obesitas mempunyai
risiko
komorbiditas
tinggi
yang
pada
akhirnya
akan
dapat
pula
meningkatkan mortalitas (Faiza, 2004). Dengan mengetahui etiologi serta
faktor
risiko
tersebut
dapat
dilakukan
upaya
pencegahan
maupun
pengelolaan terpadu yang melibatkan semua aspek terkait, maka pada
akhirnya diharapkan dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Lebih dari 90% anak-anak yang obesitas, mengalami kelebihan berat

badan akibat makan berlebihan. Kurangnya aktivitas mempunyai peran

penting dalam menyebabkan obesitas (Powell, 2007). Untuk mencapai dan

mempertahankan berat badan yang sehat, kebanyakan orang cenderung

kurang

dukungan

untuk

mendapatkan

informasi

terkait

gizi

sehingga

berakibat pada berat badan yang berlebih (Lee, 2012).

Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain asupan

makanan berlebih yang berasal dari jenis makanan olahan serba instan,

1

2

minuman soft drink, makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger,

pizza, hot dog) dan makanan siap saji lainnya, yang

menunjukkan bahwa

anak-anak yang sering mengkonsumsi makanan fast food lebih dari 3 kali

perminggu berisiko mengalami obesitas sebesar 3,28% (Badjeber, 2012). Padahal, kebutuhan kalori anak usia 10-12 tahun
perminggu berisiko mengalami obesitas sebesar 3,28% (Badjeber, 2012).
Padahal, kebutuhan kalori anak usia 10-12 tahun dari porsi makanan
normalnya adalah 1.800 kalori ( Soenardi, 2011).
Obesitas harus diatasi sejak dini karena banyaknya dampak buruk
yang disebabkan
obesitas.
Dampak buruk obesitas
terhadap
kesehatan
sangat berhubungan erat dengan penyakit serius, seperti tekanan darah
tinggi, jantung, diabetes mellitus dan penyakit pernafasan. Dampak lain
yang sering diabaikan adalah obesitas yang dapat mengganggu kejiwaan
pada anak, yakni sering merasa kurang percaya diri apalagi jika anak
nantinya memasuki masa remaja. Biasanya akan menjadi pasif dan depresi
karena sering tidak dilibatkan pada kegiatan yang dilakukan oleh teman
sebayanya (Manuaba, 2004).
Anak juga bisa mengalami gangguan fungsi
hati dimana terjadi
peningkatan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT

(Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) serta hati yang membesar. Bisa

juga terbentuk penyakit hati, penyakit empedu dan penyakit kencing manis

(diabetes mellitus). Pada sistem pernafasan dapat terjadi gangguan fungsi

paru, mendengkur saat tidur, dan sering mengalami tersumbatnya jalan

nafas (obstructive sleep apnea. Gangguan lainnya yang akan dialami oleh

anak yaitu berkurangnya konsentrasi karena mengantuk sehingga pelajaran

yang diterima di sekolah tidak maksimal akibatnya prestasi sekolah anak

3

menjadi

terganggu

dan

nantinya

dikhawatirkan

bisa

mempengaruhi

prestasinya disekolah (Palilingan, 2010). Selain itu obesitas pada usia anak

akan meningkatkan risiko obesitas pada saat dewasa (Haines, 2007).

Berdasarkan data WHO (2014), obesitas telah mencapai proporsi epidemik global yang mana sedikitnya 2,8 juta
Berdasarkan data WHO (2014), obesitas telah mencapai proporsi
epidemik global yang mana sedikitnya 2,8 juta orang meninggal setiap
tahunnya akibat dari obesitas. Sedangkan di Indonesia sendiri, prevalensi
status gizi gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8% yang
terdiri dari gemuk 10,8% dan sangat gemuk (obesitas) 8,8%, dimana
prevalensi tersebut ditemukan di 15 provinsi, salah satunya di provinsi
Banten (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan
penjelasan
diatas
mengenai
obesitas,
menunjukkan
bahwa tingginya prevalensi obesitas pada anak usia sekolah disebabkan oleh
banyak faktor. Karena itu, penting untuk diketahui faktor-faktor
yang
berhubungan dengan obesitas pada anak usia 10-11 tahun, sehingga upaya
pencegahan dapat dilakukan agar prevalensi obesitas pada anak usia sekolah
dapat dikendalikan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 didapatkan bahwa secara

nasional masalah gemuk pada anak usia 5-12 tahun masih tinggi yaitu

sebesar 18,8 %, terdiri dari gemuk 10,8% dan obesitas 8,8%. Provinsi

Banten termasuk salah satu dari 15 Provinsi dengan prevalensi obesitas

4

Berdasarkan latar belakang masalah obesitas harus diatasi sejak dini

karena banyaknya dampak buruk yang disebabkan obesitas. Oleh karena itu

peneliti tertarik untuk meneliti Gambaran Karakteristik Anak Obesitas di

Kelas 4-6 SDN III Cirendeu. C. Pertanyaan Peneliti 1. Bagaimana gambaran karakteristik demografi (jenis kelamin,)
Kelas 4-6 SDN III Cirendeu.
C. Pertanyaan Peneliti
1. Bagaimana gambaran karakteristik demografi (jenis kelamin,) pada
anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu?
2. Bagaimana gambaran obesitas berdasarkan faktor genetik pada anak
kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu?
3. Bagaimana gambaran obesitas berdasarkan faktor pola aktivitas pada
anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu?
4. Bagaimana gambaran obesitas berdasarkan faktor pola makan pada
anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya Gambaran Karakteristik Anak Obesitas di Kelas 4-6

SDN III Cirendeu.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran karakteristik demografi (jenis kelamin) pada

anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu.

5

b. Mengidentifikasi obesitas berdasarkan faktor genetik pada anak

kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu.

c. Mengidentifikasi obesitas berdasarkan faktor pola makan pada

anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu. d. Mengidentifikasi obesitas berdasarkan faktor pola aktivitas
anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu.
d. Mengidentifikasi obesitas berdasarkan faktor pola aktivitas pada
anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk mengetahui bagaimana gambaran karakteristik anak obesitas
di kelas 4-6 SDN III Cirendeu.
2. Bagi Sekolah
Untuk memberikan informasi kepada pihak sekolah dan dapat
dijadikan sebagai sumber pengetahuan tentang gambaran karakteristik
obesitas pada anak usia sekolah .
3. Bagi Pendidikan Kesehatan
Untuk
lebih
mengaplikasikan
teori
tentang
kesehatan
anak
terutama tentang obesitas pada anak usia sekolah.

4. Bagi Pelayanan Keperawatan

Untuk memberikan pedoman pendidikan kesehatan pada orang tua,

kerluarga dan sekolah untuk mencegah terjadinya obesitas pada anak-

anak

dan

ikut

berpartisipasi

dalam

upaya

melakukan

pencegahan

terjadinya obesitas pada anak kemudian dapat memberikan intervensi

pada anak dengan obesitas.

6

F. Ruang lingkup

Subjek dari penelitian ini adalah anak kelas 4-6 di sekolah SDN III

Cirendeu, waktu dan tempat penelitian yaitu pada bulan maret-mei 2015 di sekolah SDN III Cirendeu.
Cirendeu, waktu dan tempat penelitian yaitu pada bulan maret-mei 2015 di
sekolah SDN III Cirendeu. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi
deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Usia sekolah 1. Pengertian anak usia sekolah Anak sekolah menurut definisi WHO ( 2010)
A. Usia sekolah
1. Pengertian anak usia sekolah
Anak sekolah menurut definisi WHO ( 2010) yaitu golongan anak
yang berusia antara 7-15 tahun, Menurut Wong (2009), usia sekolah
adalah
anak
pada
usia
6-12
tahun,
yang
artinya
sekolah
menjadi
pengalaman
inti
anak.
Periode
ketika
anak-anak
dianggap
mulai
bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan
orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia sekolah
merupakan
masa
anak
memperoleh
dasar-dasar
pengetahuan
untuk
keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa
dan memperoleh
keterampilan tertentu.
Batasan anak usia sekolah mengacu kepada anak usia sekolah
dasar yaitu anak usia tujuh sampai dua belas tahun. Pada rentang usia ini
memiliki
tingkat
konsistensi
pertumbuhan
fisik
yang
relatif
lambat

setelah melewati periode pertumbuhan cepat pada saat balita. Mereka

terus mendapatkan pematangan dalam keterampilan motorik halus dan

kasar

dan

menunjukkan

hasil

kognitif,

sosial

dan

emosional.

yang

signifikan

dalam

keterampilan

Berbagai

kebiasaan

makanan,

suka

maupun tidak suka terhadap suatu makanan dibentuk saat usia sekolah

atau periode sebelumnya, untuk membentuk dasar seumur hidup pada

7

8

kebiasaan makanan dan asupan gizi. Pilihan makanan secara signifikan

terutama dipengaruhi oleh teman sebaya selain pengaruh dari keluarga

(Wortington & Sue, 2000).

2. Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,
2. Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
Pertumbuhan
adalah
suatu
proses
alamiah
yang
terjadi
pada
individu, yaitu secara bertahap berat dan tinggi badan anak akan
semakin bertambah yang berkaitan dengan kuantitas fisik individu.
Sedangkan perkembangan adalah suatu proses yang menghasilkan
peningkatan kemampuan untuk berfungsi pada tingkat tertentu yang
dihasilkan
melalui
proses
pematangan
dan
proses
belajar
dari
lingkungannya. (Supartini, 2004).
Tumbuh kembang anak usia sekolah dimulai dari 6-12 tahun, pada
masa ini anak akan mengalami beberapa perubahan baik dari aspek
fisik maupun emosional (Hockenbery & Wilson, 2007).
3. Karakteristik Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
a. Mulai bertumbuh sedikitnya 5 cm dalam setahun.

b. Gigi insisi lateral (maksilar) dan kaninus manibular muncul

c. Anak mulai selalu terburu-buru melompat dan berlari

d. Mulai suka melakukan sesuatu secara berlebihan, sukar diam

setelah istirahat

e. Anak laki-laki tumbuh lambat dalam tinggi dan penambahan

berat badan cepat, dapat menjadi kegemukan dalam periode ini.

9

f. Anak perempuan perubahan daerah pubis mulai tampak, garis

tubuh menghalus dan menonjol (Wong, 2004).

4. Kebutuhan Nutrisi Pada Anak Usia Sekolah Kebutuhan nutrisi setiap anak berbeda, mengingat kebutuhan untuk
4.
Kebutuhan Nutrisi Pada Anak Usia Sekolah
Kebutuhan
nutrisi
setiap
anak
berbeda,
mengingat
kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel atau organ
pada
anak
berbeda.
Perbedaan
ini
menyebabkan
jumlah
dan
komponen zat gizi yang dibutuhkan anak juga berlainan ( Hidayat,
2008)
Untuk kebutuhan nutrisi anak usia sekolah dimulai dari
kebiasaan
makan
anak
bergantung
pada
kehidupan
sosial
di
sekolah dan di rumah. Kadang-kadang anak malas makan dirumah
karena kondisi yang tidak disukai, stres atau sakit, sehingga perlu
pemantauan orang tua. Di lain waktu, anak cenderung senang
makan bersama-sama dengan teman sekolahnya (Hidayat, 2008).
B.
Status Gizi
1. Angka Kecukupan Gizi

Anak

membutuhkan

makanan

yang

bervariasi

yang

dapat

mencukupi kebutuhan zat gizi untuk tumbuh kembang yang optimal, berikut

tabel angka kecukupan gizi

(AKG) tahun 2004 untuk anak sekolah.

Kebutuhan kalori anak usia 10-12 tahun dari porsi makanan normalnya

adalah 1.800 kalori ( Soenardi, 2011).

10

Tabel 2.1.Angka Kecukupan Gizi (AKG) Anak Usia Sekolah Kelompok Umur BB TB( Energi Protein Karbohidrat
Tabel 2.1.Angka Kecukupan Gizi (AKG) Anak Usia Sekolah
Kelompok Umur
BB
TB(
Energi
Protein
Karbohidrat
Lemak
(Kg)
Cm)
(kkal)
(gram)
(gram)
(gram)
Laki-laki & Wanita
25
120
1800
45
225-292
50
7 - 9 tahun
Laki-laki 10-12 tahun
35
138
2050
50
256-333
57
Wanita
10-12 tahun
37
145
2050
50
256-333
57
Sumber : Almatsier, Sunita. 2001
C. Obesitas
Obesitas pada anak akan meningkatkan risiko obesitas pada
saat dewasa. Penyebab obesitas dinilai sebagai „multikausal‟ dan
sangat multidimensional karena tidak hanya terjadi pada golongan
sosio-ekonomi tinggi, tetapi juga sering terjadi pada sosio-ekonomi
menengah hingga menengah ke bawah. Obesitas lebih dominan di

pengaruhi oleh faktor lingkungan dibandingkan faktor genetik

(Haines, Sztainer, Wall, Story, 2007) . Jika obesitas terjadi pada

anak sebelum 5-7 tahun, maka kemungkinan risiko obesitas dapat

terjadi pada saat dewasa. Anak obesitas biasanya lebih besar

kemungkinan

terjadi

karena

dari

keluarga

yang

mempunyai

11

riwayat

obesitas

juga

Sartika, 2011).

(Maffeis;

Talamini;

Tato,

1998

dalam

1. Definisi Obesitas Obesitas di definisikan sebagai indeks masa tubuh (IMT) > 30 kg/m 2
1. Definisi Obesitas
Obesitas di definisikan sebagai indeks masa tubuh (IMT) > 30
kg/m 2 (IMT = berat badan (kg)/[tinggi badan 2 (m 2 )]). Normal = 20-25;
berlebih = 25-30; obesitas > 30 (Davey, 2006). Obesitas mengacu
kepada
keadaan
ketika
kelebihan
lemak
disimpan
dalam
jaringan
adiposa (Gibney, 2009). Menurut WHO (2014), Obesitas didefinisikan
sebagai akumulasi lemak berlebih atau abnormal yang dapat merusak
atau mengganggu kesehatan.
2. Cara Pengukuran Obesitas
Penggunaan pengukuran antropometrik, khususnya pengukuran
berat badan merupakan prinsip dasar pengkajian status gizi secara
akurat, beberapa pengukuran ini mencangkup indeks massa tubuh
(IMT), serta lingkar perut (Hartono, 2006).
IMT dihitung dengan pembagian berat badan (dalam kilogram)

oleh tinggi

badan

(dalam

meter pangkat

dua).

Kini

IMT

banyak

digunakan di rumah sakit untuk mengukur status gizi pasien karena

IMT dapat memperkirakan ukuran lemak tubuh yang sekalipun hanya

estimasi tetapi lebih akurat daripada pengukuran berat badan saja.

Pengukuran IMT lebih banyak dilakukan saat ini karena orang yang

kelebihan berat atau

yang

gemuk lebih beresiko untuk menderita

12

penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, hipertensi, osteoatritis dan

beberapa bentuk penyakit kanker. Namun, The National Institute of

Diabetes and Digestive and Kidney Diseases bahwa orang yang berotot

dan bertulang besar dapat memiliki IMT yang tinggi tetapi tetap sehat. Begitu pula, orang berusia
dan bertulang besar dapat memiliki IMT yang tinggi tetapi tetap sehat.
Begitu pula, orang berusia lanjut, orang dengan massa otot yang rendah
dan pasien malnutrisi bisa memiliki IMT yang nomal tetapi tidak tepat
(Hartono, 2006).
Indeks massa tubuh (body mass index):
D. Faktor-Faktor Obesitas pada Anak
Secara umum
penyebab kegemukan dan obesitas pada anak belum
diketahui
secara
pasti
hingga
saat
ini.
Namun,
penelitian
ilmiah
menunjukkan bahwa penyebab kegemukan dan obesitas pada anak bersifat
multifaktor (Wahyu, 2009). Ada tiga faktor yang diketahui berperan besar
meningkatkan risiko terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak, yakni

(1) genetik (keturunan), (2) pola aktivitas, dan (3) pola makan (Wahyu,

2009). Sedangkan menurut (Nugraha, 2009) faktor yang lebih berhubungan

dengan kejadian obesitas adalah faktor perilaku, faktor lingkungan yang

lebih dominan dibandingkan Genetik, faktor aktifitas fisik dan Pendidikan

bapak maupun ibu.

13

1. Genetik (Keturunan)

Banyak gen yang berkaitan dengan terjadinya obesitas, namun

sangat jarang yang berkaitan dengan gen tunggal. Sebagian besar

berkaitan dengan kelainan pada banyak gen. Setiap peptida atau neurotransmiter yang merupakan sinyal neural
berkaitan
dengan
kelainan
pada
banyak
gen.
Setiap
peptida
atau
neurotransmiter
yang
merupakan
sinyal
neural
dan
humoral
yang
mempengaruhi otak memiliki sendiri gen yang mengkodenya. Setiap
mutasi
pada
gen-gen
tersebut
akan
menyebabkan
kelainan
pada
produksi neuropeptida atau neurotransmiter yang mempengaruhi otak,
sehingga juga akan mempengaruhi respon otak baik akan meninggalkan
asupan
makanan
ataupun
menghambat
asupan
makanan.
Setiap
neuropeptida tersebut memiliki reseptor diotak, dan setiap reseptor
memiliki gen tersendiri pula. Setiap mutasi pada gen tersebut akan
menyebabkan kelainan reseptor yang akan mempengaruhi pula respon
otak terhadap asupan makanan (Syarif, 2003).
Kegemukan dan obesitas pada anak merupakan konsekuensi dari
asupan kalori (energi) yang melebihi jumlah kalori yang dibakar pada
proses metabolisme di dalam tubuh. Keterlibatan faktor genetik dalam
meningkatkan
faktor
risiko
kegemukan
dan
obesitas
diketahui

berdasarkan fakta adanya perbedaan kecepatan metabolisme tubuh

antara satu individu dan individu lainnya. Individu yang memiliki

kecepatan

metabolisme

lebih

lambat

memiliki

risiko

lebih

besar

menderita

kegemukan

dan

obesitas.

Berbagai

penelitian

mengungkapkan

fakta

bahwa beberapa

gen

terlibat

dalam

hal

ini

(Wahyu, 2009).

14

Namun, tidak sedikit ahli kesehatan yang menilai bahwa faktor

genetik bukanlah hal utama dalam peningkatan risiko kegemukan dan

obesitas pada anak. Hal ini mengacu pada fakta bahwa tidak terdapat

perubahan genetik yang bermakna pada manusia selama kurun waktu tiga dasawarsa terakhir, sedangkan peningkatan prevalensi
perubahan genetik yang bermakna pada manusia selama kurun waktu
tiga dasawarsa terakhir, sedangkan peningkatan prevalensi kegemukan
dan
obesitas
diseluruh
dunia
menunjukkan
fenomena
sebaliknya
(Wahyu, 2009).
Fakta
bahwa
genetik
bukanlah
faktor
risiko
utama
bagi
kegemukan dan obesitas pada anak, memberi pesan kuat bagi para
orangtua di seluruh dunia untuk tidak bersikap pasif dan cenderung
menyalahkan garis keturunan terkait obesitas pada anak. Sebaliknya,
para orangtua mesti lebih aktif mencegah obesitas pada anak-anak
mereka dengan cara membatasi asupan kalori dalam menu hariannya,
serta memotivasi mereka untuk lebih aktif bergerak dan berolahraga
(Wahyu, 2009).
Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperan besar.
Bila kedua orangtua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas, bila salah
satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua

orang

tua

tidak

obesitas,

prevalensi

menjadi

14%.

Mekanisme

kerentanan

genetik

terhadap

obesitas

melalui

efek

pada

resting

metabolic rate (RMR), proses pembakaran dalam tubuh di luar kegiatan

olah raga (thermogenesis non exercise), kecepatan oksidasi lipid dan

kontrol nafsu makan yang jelek. RMR

adalah pengukuran yang lebih

umum dilakukan untuk mengukur metabolisme tubuh saat istirahat.

15

Dengan

demikian

kerentanan

terhadap

obesitas

ditentukan

secara

genetik sedang lingkungan menentukan ekspresi fenotip (Hidayati et.al

2006).

2. Pola Aktivitas Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala pergerakan tubuh yang dilakukan oleh muskuloskeletal
2. Pola Aktivitas
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala pergerakan tubuh yang
dilakukan
oleh
muskuloskeletal
yang
membutuhkan
pengeluaran
energi. Istilah “aktifias
fisik” berbeda dengan “olah raga”. Olah raga
adalah subkategori dari aktifitas fisik yang direncanakan, terstruktur,
berulang dan bertujuan untuk meningkatkan atau menjaga salah satu
atau lebih komponen kebugaran fisik. Aktifitas fisik meliputi olah raga
serta kegiatan lainnya yang melibatkan gerakan tubuh dan dilakukan
sebagai bagian dari bermain, bekerja, berkendaraan aktif, mengerjakan
tugas-tugas rumah dan rekreasi (WHO, 2015).
Anak akan
banyak berada di luar rumah untuk jangka waktu
antara 4-5 jam. Aktivitas fisik anak semakin meningkat seperti pergi
dan
pulang
sekolah,
bermain
dengan
teman,
akan
meningkatkan
kebutuhan
energi.
Apabila
anak
tidak
memperoleh
energi
sesuai

kebutuhannya maka akan terjadi pengambilan cadangan lemak untuk

memenuhi kebutuhan energi, sehingga anak menjadi lebih kurus dari

sebelumnya (Khomsan, 2010).

Pola aktivitas yang minim berperan besar dalam peningkatan

risiko

kegemukan

dan

obesitas

pada

anak.

Sebagaimana

telah

dikemukakan

sebelumnya,

kegemukan

dan

obesitas

lebih

mudah

16

diderita oleh anak yang kurang beraktivitas fisik maupun olahraga

(Wahyu, 2009).

Kegemukan dan obesitas pada anak yang kurang beraktivitas fisik

maupun berolahraga disebabkan oleh jumlah kalori yang dibakar lebih sedikit dibandingkan kalori yang diperoleh dari
maupun berolahraga disebabkan oleh jumlah kalori yang dibakar lebih
sedikit
dibandingkan
kalori
yang
diperoleh
dari
makanan
yang
dikonsumsi
sehingga
berpotensi
menimbulkan
penimbunan
lemak
berlebih di dalam tubuh (Wahyu,2009).
Pola aktivitas anak dapat diukur dengan menggunakan kuesioner
Physical
Activity
Questionnaire
for
Children
(PAQ-C).
PAQ-C
merupakan kuesioner yang digunakan untuk mengkaji tingkat aktivitas
anak usia sekolah atau umur 8-14 tahun selama 7 hari (Richardson D,
Cavill N; Ells L; Roberts K, 2011). PAQ-C dapat digunakan dalam
situasi ruang kelas. Kuesioner ini terdiri dari 1 item pertanyaan dengan
menggunakan skor setiap item adalah skor 1-5.
3. Pola Makan
Pola
makan
juga
berperan
besar
dalam
peningkatan
risiko
terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak. Anak yang obesitas

cenderung memiliki kebiasaan pola makan berlebih serta mengonsumsi

makanan dalam jumlah lebih banyak setiap kalinya. Anak yang obesitas

sangat menyukai aktivitas makan. Anak makan lebih banyak daripada

kebutuhan energi sesungguhnya yang mereka butuhkan. Mengunyah

makanan dalam jumlah yang sama dalam sehari dapat menyebabkan

17

sistem

enzim

tubuh

untuk

menggunakan

energi

lebih

efisien

dan

akhirnya disimpan menjadi lemak ( Anonymous, 2004).

Makanan yang termasuk makanan yang tidak memiliki nutrisi

yang baik seperti makanan siap saji (fast food) yang mengandung lemak tinggi, seperti humburger, pizza,
yang baik seperti makanan siap saji (fast food) yang mengandung lemak
tinggi, seperti humburger, pizza, makaroni, spagheti dan cemilan seperti
gorengan, kentang goreng, keripik, kue, roti keju, coklat serta minuman
bersoda yang memiliki kalori tinggi, sedangkan kebutuhan kalori anak
normalnuya 1.800 kalori dari porsi makan (Nurmala. 2011).
Secara umum kandungan energi, kolesterol dan garam pada fast
food
tinggi
namun
sangat
miskin
serat.
Dalam
100
gram
burger
mengandung
261
kkal,
kentang
goreng
342kkal,
pizza
yang
mengandung keju 268 kkal dan minuman soft drink atau minuman
bersoda mengandung 150 kkal (Purwaningsih, 2005).
Para orang tua berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan
pola makan anak-anak mereka. Anak sering kali bersikap pasif dan
hanya mengonsumsi makanan yang disediakan oleh orangtuanya. Oleh
karena itu, alangkah baiknya bila para orangtua aktif menggali berbagai
informasi mengenai bahan-bahan makanan maupun produk olahan

makanan yang aman dan sehat bagi anak (Wahyu, 2009).

Peran

faktor

nutrisi

dimulai

sejak

dalam

kandungan

dimana

jumlah lemak tubuh dan pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu.

Kenaikan berat badan dan lemak anak dipengaruhi oleh waktu pertama

kali mendapatkan makanan padat, asupan tinggi kalori dari karbohidrat

dan lemak serta ke biasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung

18

energi tinggi (Syarif, 2003). Penelitian di Amerika dan Finlandia

menunjukkan

bahwa

kelompok

dengan

mempunyai

risiko

peningkatan

berat

badan

asupan

lebih

tinggi

lemak

besar

dibanding

kelompok dengan asupan rendah lemak. Penelitian lain menunjukkan peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan
kelompok dengan asupan rendah lemak. Penelitian lain menunjukkan
peningkatan
konsumsi
daging
akan
meningkatkan
risiko
obesitas
sebesar 1,46 kali (Fukuda, 2001).
Keadaan ini disebabkan karena makanan berlemak mempunyai
energy density lebih besar dan lebih tidak mengenyangkan serta tidak
mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan
yang banyak mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak
juga mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera
makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan (Kopelman,
2000).
Selain itu kapasitas penyimpanan makronutrien juga menentukan
keseimbangan
energi.
Protein
mempunyai
kapasitas
penyimpanan
sebagai protein tubuh dalam jumlah erbatas dan metabolisme asam
amino di regulasi dengan ketat, sehingga bila intake protein berlebihan
dapat dipastikan akan di oksidasi sedangkan karbohidrat mempunyai

kapasitas penyimpanan dalam bentuk glikogen hanya dalam jumlah

kecil. Asupan dan oksidasi karbohidrat diregulasi sangat etat dan cepat,

sehingga

perubahan

oksidasi

karbohidrat

menyebabkan

perubahan

asupan karbohidrat. Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan

karbohidrat berlebihan maka kelebihan energi dari karbohidrat sekitar

60-80% disimpan dalam

bentuk

lemak

tubuh.

Lemak mempunyai

19

kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak

tidak diiringi peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak

akan disimpan dalam jaringan lemak (WHO 2000).

Badjeber et.all (2012), mengatakan bahwa beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain asupan makanan
Badjeber
et.all
(2012),
mengatakan
bahwa
beberapa
faktor
penyebab obesitas pada anak antara lain asupan makanan berlebih yang
berasal dari jenis makanan olahan serba instan, minuman soft drink,
makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger, pizza, hot dog)
dan makanan siap saji lainnya, yang
menunjukkan bahwa anak-anak
yang
sering
mengkonsumsi
makanan
fast
food
lebih
dari
3
kali
perminggu berisiko mengalami obesitas sebesar 3,28%.
Pola makan anak dapat dinilai dengan menggunakan kuesioner
Modified
Child
Nutrition
Questionnaire
(CNQ).
CNQ
merupakan
kuesioner tentang tingkat konsumsi makanan, buah, sayur, yang diisi
oleh
anak
dan
didampingi
guru
sebagai
fasilitator.
Kuesioner
ini
dikembangkan
untuk
mengetahui
adanya
pola
diet
yang
dapat
meningkatkan resiko kegemukan dan obesitas (Richardson D; Cavill N;
Ells L; Roberts K, 2011). Kuesioner ini mengukur pola makan anak
dalam 7 hari terakhir dan digunakan untuk anak usia 10-12 tahun dan

terdiri dari 2 item pertanyaan (Magarey, 2008).

4. Penelitian Terkait

1.

Hasil penelitian Yamin (2013) menunjukkan bahwa terdapat

hubungan anatara asupan energi dengan kejadian obesitas yang

hasil nilai p sebesar = 0,002, jumlah asupan energi yang tinggi

20

maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 4,058 (95% CI =

1,320-2,417).

2. Hasil penelitian Thasim (2013) menunjukkan bahwa asupan

serat sebelum dan sesudah pemberian edukasi gizi adalah sama, walaupun terlihat ada kenaikan asupan serat
serat sebelum dan sesudah pemberian edukasi gizi adalah sama,
walaupun terlihat ada kenaikan asupan serat sebanyak 0,66
gram namun hasil uji statistik menunjukkan bahwa tida ada
pengaruh antara edukasi gizi dengan perubahan asupan serat
responden.
3. Menurut penelitian, kecenderungan obesitas terjadi pada anak
yang mengemil gorengan dan biskuit. Terdapat 92,9% anak
obesitas yang biasa mengemil gorengan. Hasil uji statistik
menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara
kebiasaan mengemil gorengan dengan status gizi obesitas anak
(P = 0,000). Epidemiologi obesitas anak-anak jelas berkaitan
dengan kelebihan energi yang dikonsumsi anak setiap harinya
saat
mengemil.
Terdapat
76,7%
anak
obesitas
yang
biasa
mengemil
biskuit
mengalami
obesitas
hasil
uji
statistik
menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan

mengemil biskuit dengan status gizi obesitas anak (Popkin,

2007).

5.

Kerangka teori

Penelitian

ilmiah

menunjukkan

bahwa

penyebab

kegemukan

dan

obesitas pada anak bersifat multifaktor. Ada tiga faktor yang diketahui

berperan besar meningkatkan risiko terjadinya kegemukan dan obesitas

21

pada anak, yaitu faktor genetik, pola aktivitas, dan pola makan (Wahyu,

2009). Menurut (Nugraha, 2009) faktor yang lebih berhubungan dengan

kejadian obesitas adalah faktor perilaku, faktor lingkungan yang lebih

dominan dibandingkan Genetik, faktor aktifitas fisik dan Pendidikan bapak maupun ibu. Dari uraian di atas
dominan dibandingkan Genetik, faktor aktifitas fisik dan Pendidikan bapak
maupun ibu.
Dari uraian di atas dapat digambarkan model kerangka teori secara
sederhana seperti gambar 2.1
Karakteristik :
- Genetik
(keturunan)
Obesitas
- Pola aktivitas
- Pola makan
- Perilaku
- Lingkungan
- Pendidikan
ayah dan ibu
Keterangan :

: Faktor yang di teliti

: Faktor yang tidak diteliti

Diagram 2.1 kerangka teori

Wahyu (2009), Nugraha (2009)

22

22
A. Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur
A.
Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel
Definisi
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
Jenis kelamin
Perbedaan
antara
Angket
Kuesioner
1= laki-laki
Nominal
perempuan dan laki-laki
2= perempuan
secara biologis sejak
seseorang lahir.
Riwayat obesitas keluarga
Riwayat dari ayah yang
mengalami obesitas dan
ibu yang mengalami
obesitas
Angket
kuesioner
1= Gemuk
0= Tidak Gemuk
Nominal
Pola aktivitas anak
Jenis kegiatan fisik anak
berdasarkan quesioner
PAQ-C
Angket
Kuesioner
< mean (22.20) = rendah
Nominal
PAQ-C
> mean (22.20) = tinggi
Pola makan anak
Jenis makanan yang sering
Angket
Kuesioner
<median(23.00) = kurang
Nominal
dikonsumsi
anak
modified CNA
>median(24.00) = berlebih
berdasarkan quesiner
modifed CNA
Obesitas
sebagai akumulasi lemak
berlebih atau abnormal
yang dapat merusak atau
mengganggu kesehatan
Menimbang
berat
Timbangan
dan
tinggi
badan.
indeks masa tubuh (IMT)
> 30 kg/m 2 (IMT = berat
badan (kg)/[tinggi badan 2
(m 2 )]). Normal = 20-25;
berlebih = 25-30; obesitas
> 30
Ordinal
badan
dan Meteran
mengukur

23

BAB III

Kerangka Konsep dan Definisi Operasional

A. Kerangka konsep Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep
A. Kerangka konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan
atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara
variabel yang satu dengan variabel yang lainnya dari masalah yang ingin
diteliti (Notoatmodjo, 2010). Oleh karena itu penelitian ini membuat
kerangka konsep sebagai berikut:
Karakteristik anak obesitas :
- Genetik (keturunan)
- Pola aktivitas
- Pola makan

Gambar 3.1 kerangka konsep gambaran karakteristik obesitas pada anak.

22

A.

B.

C.

BAB IV

METODELOGI PENELITIAN

Desain penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crosssectional. Pada desain
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan
crosssectional.
Pada
desain
crosssectional,
pengukuran
informasi
mengenai status penyakit dan faktor-faktor risikonya dilakukan pada waktu yang
bersamaan, sehingga kasus penyakit yang teridentifikasi merupakan kasus prevalen
karena kita mengetahui bahwa kasus tersebut ada di populasi namun kita tidak
mengetahui durasinya. Alasan ini juga yang membuat studi crosssectional sering
disebut dengan studi prevalensi (Gordis, 2004). Selain itu, karena studi crosssectional
memotret gambaran populasi dalam satu waktu, maka hubungan yang diteliti bukan
merupakan
hubungan
kausal
(sebab-akibat)
karena
tidak
diketahui
urutan
kejadiannya, pajanan terlebih dahulu atau kasus penyakit terlebih dahulu (Aschengrau
dan Seage, 2003).
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan bulan Maret-Mei
tahun 2015 di sekolah SDN III
Cirendeu Ciputat Timur Tangerang Selatan. Alasan peneliti memilih sekolah tersebut
adalah karena belum terdapat penelitian yang terkait di sekolah tersebut dan adanya

responden yang mengalami obesitas.

Populasi dan Sampel

1.

Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek atau individu yang akan diteliti memiliki

karakteristik tertentu, jelas dan lengkap (Johar, 2008). Populasi menurut Dharma

(2011) adalah unit dimana suatu hasil penelitian akan diterapkan,

idealnya

penelitian dilakukan pada populasi, karena dapat melihat gambaran seluruh

24

25

populasi sebagai unit dimana hasil penelitian dapat diterapkan. Populasi dalam

D.

penelitian ini adalah anak

kelas 4-6

sebanyak 143 anak di sekolah SDN III

Cirendeu dan yang obesitas sebanyak 35 anak .

2. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih melalui cara tertentu yang mewakili karakteristik
2.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih melalui cara tertentu yang
mewakili
karakteristik
tertentu,
jelas
dan
lengkap
yang
dianggap
mewakili
populasi (Johar, 2008). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan
tekhnik total sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sample dimana
jumlah
sample
sama
dengan
populasi
(Sugiyono,
2007).
Alasan
peneliti
mengambil teknik total sampling karena hanya mengambil responden
yang
IMTnya > 3Sd / mengalami obesitas dan karena sedikitnya populasi maka sampel
diambil semuanya.
Sampel dalam penelitian ini menggunakan kriteria inklusi sebagai berikut :
1. Siswa/siswi SDN III Cirendeu kelas 4-6.
2. Memiliki IMT >3SD
3. Bersedia menjadi responden dalam penelitian.

Instrumen Penelitian

Kuesioner penelitian ini terdiri dari: data demografi (no. responden, inisial

responden, jenis kelamin, keluarga yang mengalami obesitas). Kuesioner tentang pola

aktivitas anak dan kuesioner tentang pola makan anak. Dimensi pola aktivitas anak

menggunakan kuesioner Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C) for

Elementary School, yang terdiri dari 1 item pertanyaan dengan menggunakan skala

26

(3), 4 kali (4), dan 5 kali atau lebih (5)). Semua kode pada seluruh item pertanyaan

akan dikalkulasikan dan didapatkan nilai rata-rata 1-5, dengan nilai 1 menyatakan

aktivitas dalam kategori sangat rendah, dan nilai 5 menyatakan aktivitas sangat tinggi.

E.

Dimensi pola makan anak menggunakan kuesioner Modified Child Nutrition Questionnaire (CNQ). Kuesioner ini terdiri dari
Dimensi pola makan anak menggunakan kuesioner Modified Child Nutrition
Questionnaire (CNQ). Kuesioner ini terdiri dari 2 item pertanyaan yang diisi oleh
anak dengan didampingi guru dalam pengisiannya (Magarey, 2008). Pemberian kode
pada kuesioner berbeda-beda pada setiap itemnya. Skala yang digunakan dalam
penelitian ini adalah skala likert.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner tentang pola aktivitas (PAQ-C) telah dilakukan uji validitas dan uji
reliabilitas oleh Richardson D, Cavill N, Ells L, Roberts K (2011) yang menyatakan
bahwa kuesioner PAQ-C telah valid dan reliabel untuk digunakan dalam suatu
penelitian.
Kuesioner
pola
makan
anak
yaitu
Modified
Children
Nutrition
Questionnaire (CNQ) telah dinyatakan valid dalam mengukur pola makan anak dalam
7 hari. Uji reliabilitas yang digunakan adalah test-retest reliability yang menhasilkan
nilai yang baik. Selain itu Cronbach's alpha pada kuesioner ini adalah berkisar 0.50–
0.80. Oleh karena itu, 2 kuesioner ini layak untuk digunakan kembali pada penelitian

ini.

27

F. Langkah-langkah Pengumpulan Data

1. Setelah proposal penelitian disetujui oleh pembimbing,

peneliti mengajukan

permohonan izin akan melakukan penelitian ke Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Peneliti menyerahkan surat permohonan izin penelitian
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Peneliti menyerahkan surat permohonan izin penelitian kepada Kepala Sekolah
SDN III Cirendeu.
3. Setelah izin penelitian di setuju oleh Kepala Sekolah SDN III Cirendeu, peneliti
langsung melakukan penelitian, diawali dengan mengukur BB dan TB untuk
melihat IMT calon pada responden.
4. Setelah didapatkan data IMT peneliti menentukan 35 orang anak yang termasuk
ke dalam kriteria inklusi
5. Setelah
mendapatkan
calon
responden
sesuai
dengan
kriteria
yang
telah
ditentukan, peneliti melakukan informed consent kepada calon responden.
6. Selanjutnya responden diberikan penjelasan mengenai cara pengisian kuesioner
dan responden dianjurkan
bertanya apabila ada pertanyaan atau pernyataan yang
kurang jelas.
7. Waktu pengisian kuesioner adalah selama kurang lebih 30 menit untuk masing-
masing responden, sedangkan proses pengambilan data dilakukan selama 15 hari

dan disesuaikan dengan kondisi sekolah.

8. Responden diharapkan menjawab seluruh pertanyaan di dalam kuesioner dan

setelah selesai, lembar kuesioner dikembalikan kepada peneliti.

9. Kuesioner yang telah diisi selanjutnya akan diolah dan dianalisa oleh peneliti.

28

G. Etika Penelitian

Menurut Hidayat (2008) masalah etik yang harus diperhatikan dalam sebuah

penelitian antara lain, sebagai berikut: 1. Informed Consent Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara
penelitian antara lain, sebagai berikut:
1. Informed Consent
Informed
consent
merupakan
bentuk
persetujuan
antara
peneliti
dengan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan informed consent
tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar
persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar
subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika
subjek tersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika
responden
tidak
bersedia,
maka
peneliti
harus
menghormati
hak
pasien.
Beberapa informasi yang harus ada dalam informed consent tersebut antara lain:
partisipasi pasien, tujuan dilakukan tindakan, jenis data yang dibutuhkan,
komitmen, prosedur pelaksanaan, potensial masalah yang akan terjadi, manfaat,
kerahasiaan, informasi yang mudah dihubungi, dan lain-lain.
2. Anonimity (tanpa nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan

dalam

penggunaan

subjek

penelitian

dengan

cara

tidak

memberikan

atau

mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan

kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan

hasil

penelitian,

baik

informasi

maupun

masalah-masalah

lainnya.

Semua

29

informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

H. Pengolahan data

Hidayat (2008) mengungkapkan bahwa dalam penelitian terdapat langkah- langkah pengolahan data yang harus ditempuh,
Hidayat (2008) mengungkapkan bahwa dalam penelitian terdapat langkah-
langkah pengolahan data yang harus ditempuh, diantaranya:
1. Editing
Editing
merupakan
upaya
untuk
memeriksa
kembali
kebenaran
data
yang
diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pentagumpulan
data atau setelah data terkumpul. Kegiatan yang dilakukan dalam editing adalah
pengecekan
dari
sisi
kelengkapan
relevansi,
dan
konsistensi
jawaban.
Kelengkapan data diperiksa dengan cara memastikan bahwa jumlah kuesioner
yang terkumpul sudah memenuhi jumlah sampel minimal yang ditentukan dan
memeriksa apakah setiap pertanyaan dalam kuisioner sudah terjawab dan jelas.
Relevansi dan konsistensi jawaban diperiksa dengan cara melihat apakah ada data
yang bertentangan dengan data lain.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang

terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan

dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat

juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code 53 book) untuk memudahkan

kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel. Dalam coding, data

yang berbentuk huruf diubah menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Misal,

untuk jawaban Tidak Pernah diberi kode 0, jawaban Kadang-kadang diberi kode

1, dan seterusnya.

30

3. Entry

Entry merupakan kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam

master tabel atau data base komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi

sederhana atau bisa dengan membuat tabel kontingensi 4. Melakukan teknik analisis Dalam melakukan teknik analisis,
sederhana atau bisa dengan membuat tabel kontingensi
4. Melakukan teknik analisis
Dalam
melakukan
teknik
analisis,
khusunya
terhadap
data
penelitian
akan
menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak
dianalisis. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik, sehingga
analisis
yang
digunakan
statistika
inferensial
(menarik
kesimpulan)
yaitu
statistika yang digunakan untuk menyimpulkan parameter (populasi) berdasarkan
statistik (sampel) atau lebih dikenal dengan proses generalisasi dan inferensial.
Analisis
deskriptif
berfungsi
untuk
meringkas,
mengklasifikasikan,
dan
menyajikan data. Analisis ini merupakan langkah awal untuk melakukan analisis dan
uji statistik lebih lanjut (Hidayat, 2008). Analisis univariat pada penelitian ini
meliputi gambaran faktor genetik, faktor pola aktivitas dan faktor pola makan pada
anak kelas 4-6 SD di SDN III Cirendeu.

I. Analisis Data Univariat

J. Penyajian Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan bentuk tabel dan dijabarkan dalam

bentuk tulisan.

BAB V

Hasil Penelitian

Bab ini akan memaparkan secara lengkap hasil penelitian gambaran karakteristik obesitas pada anak SD kelas
Bab ini akan memaparkan secara lengkap hasil penelitian
gambaran
karakteristik obesitas pada anak SD kelas 4-6 di SDN III Cirendeu. Penelitian ini
dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan april sampai mei 2015. Pembagian
kuesioner dilakukan di SDN III Cirendeu. Peneliti menyebarkan 35 kuesioner di
SDN III Cirendeu
berdasarkan kriteria inklusi yang termasuk ke dalam sample
penelitian.
1. Karakteristik Demografi
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin dan
Orang Tua Gemuk
No
Karakteristik
Frekuensi (n)
Persentase (%)
1 Jenis Kelamin
Laki-laki
24
68,6
Perempuan
11
31,4
2 Bapak/ibu gemuk

Gemuk

25

71,4

Tidak Gemuk

10

28,6

Dari tabel 5.1 persentase terbanyak yang mengalami obesitas dari

jenis kelamin laki-laki (68,6%). sebanyak (7,1%) anak dengan obesitas

memiliki orang tua Gemuk.

31

32

2. Distribusi Pola Aktivitas

Tabel 5.2 Karakteristik frekuensi responden menurut Pola Aktivitas olah raga

Karakteristik Frekuensi Persentase(%) Rendah 18 51,4 Tinggi 17 48,6 Total 35 100 pada tabel 5.2
Karakteristik
Frekuensi
Persentase(%)
Rendah
18
51,4
Tinggi
17
48,6
Total
35
100
pada tabel 5.2 menggambarkan bahwa karakteristik pola aktivitas responden
yang melakukan aktivitas rendah sebanyak 18 orang dengan persentase 51,4% dan
yang melakukan aktivitas tinggi sebanyak 17 orang dengan persentase 48,6%.
3. Distribusi Pola Makan
Tabel 5.3
Karakteristik frekuensi responden menurut pola Makan
Karakteristik
Frekuensi
Persentase(%)
Kurang
17
48,6

Berlebih

18

51,4

Total

35

100

Pada tabel 5.3 menggambarkan bahwa karakteristik

responden dengan

pola makan yang kurang sebanyak 17 orang dengan persentase 48,6% sedangkan

33

responden dengan pola makan berlebih sebanyak 18 orang dengan persentase

51,4%.

33 responden dengan pola makan berlebih sebanyak 18 orang dengan persentase 51,4%.

BAB VI PEMBAHASAN

Pembahasan pada penelitian ini difokuskan pada pembahasan tentang gambaran karakteristik anak obesitas di kelas 4-6
Pembahasan pada penelitian ini difokuskan pada pembahasan tentang
gambaran karakteristik anak obesitas di
kelas 4-6 SDN III Cirendeu. Pada akhir
pembahasan peneliti juga menyertakan keterbatasan dari penelitian.
A. Analisis Univariat
1. Data Demografi Responden
a. Jenis kelamin
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki
lebih banyak sebesar 68,6%, sedangkan perempuan sebesar 31,4%.
Hal ini menunjukkan bahwa persentase anak laki-laki lebih besar
dibandingkan dengan anak perempuan. Besarnya persentase anak
laki-laki kemungkinan disebabkan oleh populasi yang ada di SDN III
Cirendeu proporsi jenis kelamin laki-laki jauh lebih besar daripada
perempuan.
Hal ini sejalan dengan laporan Nasional Riskesdas 2007 yang
menunjukkan bahwa prevalensi nasional gizi lebih pada penduduk

umur 6-14 tahun berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki 9,5%, dan

perempuan 6,4%. Riskesdas 2010 juga menunjukkan hasil yang

sama dimana masalah kegemukan pada anak usia 6-12 tahun untuk

jenis kelamin laki-laki sebesar 10,7% dan perempuan 7,7%. Selain

itu berdasarkan penelitian Ariefiyanto` (2004) didapatkan hasil dari

68 anak yang obesitas terdapat 40 anak (29,4%) laki-laki, dan 28

anak (20,5) perempuan.

34

35

b. Orang tua gemuk

Keterlibatan

faktor

genetik

dalam

meningkatkan

faktor

risiko

kegemukan dan obesitas diketahui berdasarkan fakta adanya perbedaan kecepatan metabolisme tubuh antara satu individu dan
kegemukan dan obesitas diketahui berdasarkan fakta adanya perbedaan
kecepatan metabolisme tubuh antara satu individu dan individu lainnya.
Individu yang memiliki kecepatan metabolisme lebih lambat memiliki
risiko lebih besar menderita kegemukan dan obesitas (Wahyu, 2009).
Hasil
penelitian
ini
menunjukkan
berdasarkan
faktor
genetik
bahwa anak yang memiliki orang tua gemuk lebih banyak sebesar 71,4%,
sedangkan anak yang memiliki orang tua tidak gemuk sebesar 28,6%. Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian Faizah (2004) tentang faktor risiko
obesitas
pada
murid
sekolah
dasar
usia
6-7
tahun
di
semarang
rmemperlihatkan berat badan ayah (p<0,001) tinggi badan ayah (p=0,01)
berat badan ibu (p<0,001) dan tinggi badan ibu (p=0,003) yang artinya ada
hubungan bermakna dari faktor genetik terhadap obesitas. Sejalan dengan
penelitian Sartika (2011) yang meneliti tentang Faktor risiko obesitas pada
anak
5-15
tahun
di
Indonesia
dengan
menggunakan
uji
bivariat
menunjukkan bahwa anak yang memiliki ayah obesitas memiliki peluang

obesitas sekitar 1,2 kali dibandingkan dengan anak yang memiliki ayah

yang tidak obesitas.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian

Hamel (2013) yang

meneliti tentang analisis riwayat orang tua sebagai faktor risiko obesitas

pada anak SD di kota Manado yang menunjukkan hasil bahwa terdapat

hubungan antara riwayat orang tua obesitas dengan kejadian obesitas pada

36

anak menggunakan uji chi-square didapatkan prevalensi obesitas pada

anak SD di kota Manado tahun 2013 padaorang tua obesitas ayah 27 orang

(19,9%) dan Ibu 31 orang (22,8%).

Menurut Hidayati (2006), bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas, bila salah satu
Menurut Hidayati (2006), bila kedua orang tua obesitas, 80%
anaknya menjadi obesitas, bila salah satu orang tua obesitas kejadian
obesitas
menjadi
40%
dan
apabila
kedua
orang
tua
tidak
obesitas
prevalensi menjadi 14%. Perubahan lingkungan gizi dalam kandungan
menyebabkan
gangguan
perkembangan
organ-organ
tubuh
terutama
kerentanan terhadap pemprograman janin yang nantinya berpengaruh pada
diet dan stres, lingkungan merupakan predisposisi timbulnya berbagai
penyakit
dikemudian
hari.
Pada
faktor
genetik
kegemukan
dapat
diturunkan dari generasi ke generasi di dalam sebuah keluarga. Orang tua
yang gemuk cenderung memiliki anak yang gemuk pula. Faktor genetik
ikut berperan dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam lemak
yang berjumlah besar dan melebihi ukuran norma yang akan diturunkan
kepada bayi selama dalam kandungan.
2. Pola aktivitas

Aktifitas

fisik

merupakan

olah

raga

serta

kegiatan

lainnya

yang

melibatkan

gerakan

tubuh

dan

dilakukan

sebagai

bagian

dari

bermain,

bekerja, berkendaraan aktif, mengerjakan tugas-tugas rumah dan rekreasi

(WHO, 2015). Penelitian Nurmalina ( 2011) mengenai aktivitas fisik terbagi

menjadi tiga golongan yaitu aktivitas fisik ringan seperti berjalan, duduk,

nonton TV, main komputer kemudian aktivitas sedang dimana aktivitas

37

sedang disini termasuk aktivitas yang membutuhkan tenaga dan gerakan otot

seperti

joging,

berenang,

bersepeda,

berlari

kecil,

dan

bermain

musik

selanjutnya

aktifitas

berat

yang

mana

aktivitas

berat

disini

biasanya

berhubungan dengan kegiatan yang membutuhkan energi tinggi dan kekuatan seperti bermain sepak bola, aerobik, bela
berhubungan dengan kegiatan yang membutuhkan energi tinggi dan kekuatan
seperti bermain sepak bola, aerobik, bela diri, badminton, bola basket dan
permainan bola lainnya yang membutuhkan kekuatan dan membuat keringat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola aktivitas dengan persentase
terbanyak adalah responden yang melakukan aktivitas rendah atau melakukan
sedikit
gerakan
dimana
yang
hanya
memerlukan
energi
sedikit
seperti
berjalan,
joging,
bersepeda
sebanyak
(51,4%).
Berdasarkan
penelitian
Oktariza (2011) mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap kejadian obesitas
pada murid SD 2 Palembang yang menunjukkan nilai OR=2,4 dimana
aktivitas fisik mempengaruhi kejadian obesitas pada murid sekolah dasar,
kelopok murid
yang memiliki aktivitas fisik ringan kemungkinan menderita
obesitas 2,4 kali dibandingkan kelompok murid yang memiliki aktivitas fisik
berat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ruiz, et al (2006)
bahwa aktivitas fisik yang lebih berat pada anak usia 9-10 tahun di Eropa
memberikan
efek
dalam
mencegah
terjadinya
kegemukan
dibandingkan

dengan anak yang beraktivtas lebih ringan. Penelitian Vogels, et al (2006)

menjelaskan

terkait

rendahnya

aktivitas

fisik

merupakan

faktor

yang

berpengaruh terhadap timbulnya obesitas selama masa anak-anak usia 7-12

tahun di Belanda.

38

Pola aktivitas yang minim berperan besar dalam peningkatan risiko

kegemukan dan obesitas pada anak. Hal ini sejalan dengan

penelitian yang

meneliti tentang faktor faktor yang mempengaruhi obesitas pada anak TK

providensia Manado yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik responden yang mengalami obesitas paling banyak dalam kategori
providensia Manado yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik responden yang
mengalami obesitas paling banyak dalam kategori rendah dengan persentase
(56,7%) dan hasil uji statistik nilai (p value= 0,04) yang berarti bahwa ada
hubungan
bermakna
antara
aktivitas
fisik
responden
dengan
obesitas
(Rumajar et al, 2015). Obesitas lebih mudah diderita oleh anak yang kurang
beraktivitas fisik maupun olahraga yang disebabkan oleh jumlah kalori yang
dibakar lebih sedikit dibandingkan kalori yang diperoleh dari makanan yang
dikonsumsi sehingga berpotensi menimbulkan penimbunan lemak berlebih di
dalam tubuh (Wahyu, 2009).
3. Pola Makan
Pola
makan
berperan
besar
dalam
peningkatan
risiko
terjadinya
kegemukan dan obesitas pada anak (Anonymous, 2004). Hasil penelitian ini
menunjukkan pola makan yang kurang dengan persentase 48,6% sedangkan
responden dengan pola makan berlebih atau banyak mengkonsumsi makanan

jung food maupun fast food dengan persentase 51,4%.

Penelitian

Badjeber et.all (2012), meneliti tentang konsumsi fast food

sebagai faktor risiko terjadinya gizi lebih pada siswa SD Negeri 11 Manado

mengatakan bahwa beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain

asupan makanan berlebih mengandung kalori tinggi yang berasal dari jenis

makanan olahan serba instan seperti fast food minuman soft drink, dan

39

mengkonsumsi makanan manis seperti permen dan dari hasil penelitian

dengan

menggunakan

uji

odds

ratio

menunjukkan

terdapat

hubungan

bermakna bahwa siswa-siswi yang mengkonsumsi fast food lebih dari 3 kali

per minggu mempunyai risiko 3,28 kali lebih besar menjadi gizi lebih dibandingkan dengan siswa-siswi yang
per minggu mempunyai risiko 3,28 kali lebih besar menjadi gizi lebih
dibandingkan dengan siswa-siswi yang jarang mengkonsumsi fast food atau
kurang dari 3 kali per minggu. Hal ini sejalan dengan penelitian Dewi et al
(2010), mengenai Pola makan dan aktivitas fisik pada siswa gizi lebih di SDK
kuta bali yang menunjukkan hasil sebagian besar siswa (74,3%) memiliki
kebiasaan makan dengan menu tidak seimbang. Selain makan- makanan
utama,
siswa
juga
memiliki
kebiasaan
mengkonsumsi
makanan
manis,
cemilan, minuman manis dalam kaleng (bersoda) dan mengkonsumsi fast
food.
Paramitha (2013) dalam penelitian mengenai hubungan pola makan anak,
aktivitas fisik anak, dan status ekonomi orang tua dengan obesitas anak di
sekolah dasar kecamatan pontianak selatan.
yang menunjukkan terdapat
hubungan yang bermakna antara pola makan dengan obesitas pada anak
sekolah dasar di pontianak selatan yang dilihat dari nilai p=0.000. Menurut
Misnadiarly (2007), makan makanan siap saji dan minuman kaleng (bersoda)

menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan. Makanan dan minuman

seperti ini biasanya memiliki kandungan kalori dan gula atau garam yang

tinggi apalagi memiliki kebiasaan mengkonsumsi fast food, jenis fast food

yang paling disukai dan sering dikonsumsi selama satu bulan terakhir adalah

friedchiken, french fries, humberger, dan pizza.

40

B.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang dapat

mempengarui hasil penelitian . keterbatasan-keterbatasan tersebut, yaitu:

1. Kurang kondusifnya peneliti mengambil data terhadap responden karena responden masih anak-anak dan agak sulit
1. Kurang kondusifnya peneliti mengambil data terhadap responden karena
responden masih anak-anak dan agak sulit di kondusifkan.
2. Peneliti tidak meneliti tentang asupan kalori anak.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan yang
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bab-bab
sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Responden
yang
mengikuti
penelitian
ini
paling
banyak
berjenis
kelamin laki-laki (68,6%).
2. besar
Sebagian
responden
memiliki
orang
tua
gemuk
sebanyak
(71,4%).
3. yang
Responden
melakukan
aktivitas
rendah
sebanyak
18
orang
dengan
persentase
51,4%
dan
yang
melakukan
aktivitas
tinggi
sebanyak 17 orang dengan persentase 48,6%.
4. Karakteristik responden dengan pola makan yang kurang sebanyak 17
orang dengan persentase 48,6% sedangkan responden dengan pola
makan berlebih sebanyak 18 orang dengan persentase 51,4%.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya,

maka

saran

yang

dapat

diberikan

demi

meningkatkan

status

kesehatan

masyarakat, terutama mencegah terjadinya obesitas pada anak, antara lain

adalah:

41

42

1. SDN III Cirendeu Pisangan Ciputat

Pihak sekolah dapat memantau status gizi anak dan memberikan

pembelajaran dalam lingkup masalah gizi dan berbagai makanan yang dikonsumsi di area sekitar sekolah agar
pembelajaran dalam lingkup masalah gizi dan berbagai makanan yang
dikonsumsi di area sekitar sekolah agar anak memahami tentang makanan
sehat dan baik dikonsumsi.
2. Profesi Keperawatan
Bagi
profesi
keperawatan
bisa
melakukan
intervensi
dalam
penanganan obesitas pada anak dan dapat melakukan penyuluhan dalam
lingkup masalah obesitas.
3. Peneliti Selanjutnya
Peneliti
menyarankan
untuk
peneliti
selanjutnya
agar
dapat
melakukan penelitian yang lebih lengkap yang belum di teliti oleh peneliti
sebelumnya agar lebih menyempurnakan dan mendapatkan hasil yang
lebih baik untuk hasil penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:

Gramedia. Ariefiyanto, Emil. 2004. Beberapa Faktor Risiko Kejadian Obesitas pada Anak. Universitas Brawijaya, Malang.
Gramedia.
Ariefiyanto, Emil. 2004. Beberapa Faktor Risiko Kejadian Obesitas
pada Anak. Universitas Brawijaya, Malang.
Anonymous.
2004.
Obesitas
Mengancam
Anak-anak.
[terhubungberkala]. www.kompas.com. [14 Mei 2008].
Aschengrau A. George R Seage. 2003. Essentials of Epidemiologi in
Public Health. London.: John and Bartlett Publishers.
Badjeber Fauzul, Kapantouw H. Nova, Punuh Maureen. 2012.
Konsumsi Fast Food Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gizi
Lebih pada Siswa SD Negeri 11 Manado: Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi.
Budiarto Eko.2004. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.
Biro FM, Wien M. 2010. Chilhood obesity and adult morbidities. The
American Journal of Clinical Nutrition.
Danim Sudarwan.2003.Riset Keperawatan dan Metodologi. Jakarta:
EGC.

Davey, Patrick. 2006. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga.

Departemen Kesehatan. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI. 2010. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan Medik.

Dharma, Kelana Kusuma.2011. Metodologi Penelitian Keperawatan:

Panduan Melaksanakan dan Menerapkan Hasil Penelitian. Jakarta: Trans info media.

Fukuda S, Takeshita T, MorimotoK. 2001. Obesity and Lifestyle. Asian Med.J.;44; 97-102.

Gibney, Michael J. 2009. Gizi Kesehatan masyarakat.Jakarta : EGC.

3 rd Gordis, L.2004. Epidemiologi Edition. Philadelphia: Elsevier Sounders. Griwijoyo,S. 2005. Manusia dan
3 rd
Gordis,
L.2004.
Epidemiologi
Edition.
Philadelphia:
Elsevier
Sounders.
Griwijoyo,S. 2005. Manusia dan Olahraga. Bandung: Penerbit ITB.
Haines J, Sztainer DM, Wall M, Strory M. 2007. Personal Behavior,
and Environmental risk and Protective Faktor for Adolescent
Overweight. Int.J.Obes.2007; 15:2748-2760.
Hartono, Andry.2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit, Ed.2.
jakarta: EGC.
Heir, W.C. Parental Feeding Behavior and Children’s Fat Mass. Am J
Clin Nutr, 2002; 75: 451-452.
Hidayat, A Aziz Alimul. 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan
Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat, A Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak
Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Hidayati, Siti N, Irawan R dan Hidayat B. 2006. Obesitas pada Anak.
Hungu. 2007. Demografi kesehatan indonesia. Jakarta: Grasindo.

Johar arifin. 2008. Statistik Bisnis Terapan. Jakarta.

Kementrian

2013.

(RISKESDAS) 2013. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Kesehatan

RI.

Riset

Kesehatan

Dasar

Khomsan,

Ali,

2010.Pangan

dan

Gizi

Kompas.Rajawali Sport. Jakarta.

untuk

Kesehatan.

Kliegman R.M., Jenson H.B., Marcdante, K.J., & Behrman. R.E.

2006.

Saunder.

Essentials

of

pediatrics.

Philadelphia:

Elseiver

as

NATURE,2002;404;635-43.

Manuaba, I.A. 2004. Dampak Buruk Obesitas. Online. Available at

Problem,

Kopelman,G.D.

Obesity

a

Medical

http://www.balipost.co.id/balipost/2004/3/7/cez.htm.

[accessed 4/1/2015]. Misnadiarly. 2007. Obesitas Sebagai Faktor Risiko Beberapa Penyakit. Jakarta: Pustaka Obor
[accessed 4/1/2015].
Misnadiarly.
2007.
Obesitas
Sebagai
Faktor
Risiko
Beberapa
Penyakit. Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Mustelin L et al. 2009. Physical a activity reduces the in influence of
genetic effects on MBI and waist circumference: a study in
young adult twins. Int J Obes. 33:29-36.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta
: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2010.
Rineka Cipta.
Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :
Pingkan Palilingan. 2010. Apakah Anak Anda Obesitas?. Betterhealth
Tahun II / Edisi 3 / Triwulan/September 2010 Online.
Available
at
http://www.ekahospital.com/uploads/bulletins/final/%/20/dra
ft.pdf\ [accessed 4/1/2015].
Popkin B. 2007. Ubah kebiasaan ngemil anak sekarang juga.

Powell, L.M., Szczypka, G., Chaloupka, F.J. (2007). Adolescent Exposure to Food Advertising on Television. American Journal of Preventive Medicine. Vol.33 (4), S251 S256

Reilly, John J, Julie A, Dorosty AR, Emmett PM, Steer C and Sherrif A. 2005. The Avon Longitudinal Study of Parents and

Children Study Team

childhood: cohort study. British Medical Journal 2005; 330:

Early. life risk factors for obesity in

1357

Richardson D, Cavill N, Ells L, Roberts K. 2011. Physical Activity Questionnaire for Children.

Richardson D, Cavill N, Ells L, Roberts K. 2011. Child Nutrition Questionnaire.

Sartika, R Ayu Dewi. 2011. Faktor Risiko Obesitas pada Anak 5 15 Tahun di Indonesia.Makara, Kesehatan, Vol.15, No.1, Juni 2011: 37,43. Available at www.journal.iu.ac.id. Diakses tanggal 7 desember 2014.

Sawello Meirlyn Andiny, Malonda S Nancy.2012. Analisis Aktivitas Ringan Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Obesitas Pada
Sawello Meirlyn Andiny, Malonda S Nancy.2012. Analisis Aktivitas
Ringan Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Obesitas Pada
Remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Manado.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ratulangi
Manado.
Setiadi.2013.
Konsep
&
praktek
penulisan
Riset
Keperawatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Simatupang MR. 2008. Pengaruh Pola Konsumsi terhadap kejadian
obesitas pada siswa Sekolah Dasar Swasta di Kecamatan
Medan Baru. Tesis dipublikasikan. Medan: Universitas
Sumatera Utara.
Sulistyoningsih, Hariyani. 2011. Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Syarif D.R. Childhood Obesity: Evaluation and Management, Dalam
Naskah Lengkap National Obesity Symposium II, Editor: Adi
S., dkk. Surabaya, 2003; 123-139.

Obesitas Pada Anak.Jakarta : seri

kesehatan

Wan AMW. 2011. Dietary Practice Among Overweight and Obese Chinese Children in Kota Bharu. Mal J Nutr 17(1)

Wahyu,

Genisginanjar.2009.

World Health Organization (WHO). 2000. Obesity: Preventing and Managing The Global Epidemic, WHO Technical Report Series;894, Geneva.

World Health Organization (WHO). Global Strategy on Diet, Physical

Activity

and

Health.

Di

akses dari:

tanggal

21

Wood,

G.

Method and Critical Appraisal. Mosby Elsevier Medica.

LoBiondo,

Judith

Haber.

(2006).

Nursing

Research:

Worthington, B.S. dan Sue R.W. 2000. Nutrition Througout The Life Cycle 4th Edition. Singapore: Mc
Worthington, B.S. dan Sue R.W. 2000. Nutrition Througout The Life
Cycle 4th Edition. Singapore: Mc Graw Hill.
.

KUESIONER

GAMBARAN KARAKTERISTIK ANAK OBESITAS DI KELAS 4-6 SDN III CIRENDEU

No. Responden : Inisial Responden : Jenis kelamin : L / P Alamat rumah :
No. Responden
:
Inisial Responden
:
Jenis kelamin
:
L / P
Alamat rumah
:
Berat bada ayah
:
Berat badan ibu
:

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2015

Quesioner Pola Aktivitas (Sekolah Dasar)

1.

Kegiatan fisik diwaktu luang anda: Apakah anda melakukan aktivitas olah raga berikut di minggu lalu Jika iya, berapa kali? ( tandai hanya satu lingkaran perbaris).

1 kali 2 kali 3 kali 4 kali 5 atau lebih a skipping b Jalan
1 kali
2 kali
3 kali
4 kali
5 atau
lebih
a skipping
b Jalan sehat
c Joging atau lari
d berenang
e Bola voly
f Sepak bola
g badminton
h bersepeda
i Bola basket
j Bola kasti
QUESIONER POLA MAKAN dan MINUM
1.
Dalam 7 hari terakhir apa yang anda biasa makan di setiap waktu?
1-3
4-6
Setiap hari
Kategori
kali/minggu
kali/minggu
3
2
a Snack
b Cokelat
c Lolipop
d Roti
e Kue
f Ice cream
g Makaroni
h Kentang goreng i Burger j Pizza k Sandwich l Spagheti m Keripik buah 2.
h Kentang goreng
i Burger
j Pizza
k
Sandwich
l
Spagheti
m
Keripik buah
2.
Dalam 7 hari terakhir apa yang anda biasa minum di setiap waktu?
1-3
4-6
Setiap hari
Kategori
kali/minggu
kali/minggu
a
Jus buah
b
Minuman bersoda
c
Susu
d
Yogurt
LAMPIRAN
LAMPIRAN
Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. total.olh.raga .119 35
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov a
Shapiro-Wilk
Statistic
df
Sig.
Statistic
df
Sig.
total.olh.raga
.119
35
.200 *
.928
35
.024
Pola Makan
.085
35
.200 *
.977
35
.661
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Descriptives Statistic Std. Error total.olh.raga Mean 22.20 1.393 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound
Descriptives
Statistic
Std. Error
total.olh.raga
Mean
22.20
1.393
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
19.37
Upper Bound
25.03
5% Trimmed Mean
21.70
Median
21.00
Variance
67.871
Std. Deviation
8.238
Minimum
10
Maximum
43
Range
33
Interquartile Range
10
Skewness
.881
.398
Kurtosis
.903
.778
Pola Makan
Mean
23.97
1.197
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
21.54
Upper Bound
26.40
5% Trimmed Mean
23.78
Median
24.00
Variance
50.146
Std. Deviation
7.081
Minimum
11
Maximum
40
Range
29
Interquartile Range
9
Skewness
.394
.398
Kurtosis
-.158
.778
mean_olhraga Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid rendah 18 51.4 51.4 51.4 tinggi 17
mean_olhraga
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
rendah
18
51.4
51.4
51.4
tinggi
17
48.6
48.6
100.0
Total
35
100.0
100.0
medianmakanminum
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
kurang
17
48.6
48.6
48.6
berlebih
18
51.4
51.4
100.0
Total
35
100.0
100.0