You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


MENINGITIS DIRUANG SANDAT RSUD
KABUPATEN BULELENG
12-OKTOBER-2018

OLEH
WIRA BUDHAWANGSA (16089014121)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
2018
A. Konsep dasar penyakit
1. Pengertian
Meningitis adalah radang pada meningens (membran yang mengelilingi otak
dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur, (brunner and
suddarth, 2001)
Meningitis adalah suatu infeksi puluren lapisan otak yang pada orang dewasa
biasanya hanya terbatas didalam ruang subaraknoid, namun pada bayu cenderung
meluas sampai keroangga subdural sebagai suatu efusi atau empiema subdural
(leptomeningitis), atau bahkan kedalam otak (meningoensefalitis). (NANDA
NIC-NOC,2015)
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan dari
salah satu mikroorganisme pneumokok, meningokok stafilokok, streptokok,
hemophilus, infleuenza dan bahan aseptis (andra dan yessie KMB2,2013)

2. Epidemiologi
Daerah ini yang sering disebut juga sebagai (meningitis belt) meliputi kurang
lebih 10 negara di antaranya adalah Burkina Faso, Ghana, Togo, Benin, Niger,
Nigeria, Chad, Cameroon, Republik Afrika Tengah, dan Sudan. Di daerah ini,
infeksi meningokok yang disebabkan oleh serogrup A timbul secara berulang
setiap tahun sebagai suatu gelombang. Derajat serangan penyakit meningkat pada
akhir musim kering dan secara cepat menurun setelah musim hujan mulai. Pada
saat puncak terjadinya epidemi, insidens penyakit dapat mencapai 1000/100.000
penduduk.

3. Etiologi
1. Pada orang dewasa bakteri penyebab tersering adalah diplacoccus
pneumonia dan neireia meningitidis, stafilokakus, dan gram negative.
2. Pada anak-anak bakteri tersering adalh hemophylus influenza, neiseria
meningitides dan diplococcus pneomonia.
(Nanda nic-noc,2015)

4. Klasifikaasi
a. Berdasarkan perubahan pada cairan otak
 Meningitis serosa
 Radang selaput otak araknoid dan piameter (cairan otak
jernih)
 Penyebab : M. TB, virus, toxoplasma gandhi, riketsia
 Maningitis purulenta
 Radang bernanah pada araknoid dan piameter yang
meliputi otak dan M. Spinalis
 Penyebab : pneomokokus, meningokokus, streptokokus
hemolitikus, stapilokokus, hemopilus influensa, E. coli
b. Berdasarkan penyebab
 Meningitis aseptik
Mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan
iritasi meningens yang disebabkan oleh abses otak, ensepalitis,
limpoma, leukemia, atau darah diruang sub aracnoid
 Meningitis sepsis
Menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme
bakteri seperti meningokokus, stapilokokus, atau basilus
influensa
 Maningitis tuberkulosa disebabkan oleh basilus tuberkelS
5. Tanda dan gejala
Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas
mendadak, letargi, muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan
pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal.
Meningitis karena virus ditandai dengancairan serebrospinal yang
jernih serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis
yang disebabkan oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan
malaise, kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi
kuman ke susunan saraf pusat. Pada meningitis yang disebabkan oleh
Echovirusditandai dengan keluhan sakit kepala, muntah, sakit tenggorok,
nyeri otot, demam, dan disertai dengan timbulnya ruam makopapular yang
tidak gatal di daerah wajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas.
Meningitis bakteri biasanyadidahului oleh gejala gangguan alat
pernafasan dan gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi
secara akut dengan gejala panas tinggi, mual, muntah, angguan pernafasan,
kejang, nafsu makan berkurang, dehidrasi dan konstipasi, biasanya selalu
ditandai dengan fontanella yang mencembun.

6. Patofisiologi terjadinya penyakit

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan
septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media,
mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf
baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis.

Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan
saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen, semuanya
ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam
meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan
penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan
metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat
purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis.

Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis


bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari
peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema
serebral dan peningkatan TIK.

Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi
meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps
sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada
sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel
dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.
7. Web of Caution (WOC)
Penyebab meningitis seperti faktor maternal; ruptur membran fatal, infeksi
maternal. Bakteri: meningococcl, pneumocaccal , E. Coli, streptococcus dll. Faktor
imunologi; defisiensi mekanisme imune, defisiensi imunoglobulin. Virus;
toxoplasma, ricketsia.
Organisme masuk ke aliran darah

Reaksi radang dalam meningen bawah cortek

meningitis

Trombus, aliran darah cerebral

Eksudat puluran menyebar ke dasar otak & medula spinalis

Kerusakan neurologis

Kaku kuduk

Gangguan Aktifitas
pola Co2 Peningkatan TIK
makrofag virus
nafas meningkat

Gangguan
Pelepasan kesadaran
Transudasi Permeabilitas
zat pirogen
cairan vascular pada serebri
endogen
Intake nutrisi
kurang
Edema serebri Vol. Tekanan otak Merangsang
kerja
Nyeri TIK meningkat berlebihan Gangguan ketidak
dari PG EO di seimbangan
hipotalamus nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Instabil
Suhu tubuh
termogulasi
sistemik

kejang hipertermi

Gangguan
mobilitas fisik
8. Pemeriksaan fisik
 Tingkat kesadaran apatis sampai koma
 TTV meningkat
 Leti/lesu, kejang
 Kaku kuduk, nyeri pada leher, kepala brudzinski, kernig (+)
 Dilatasi pupil, papila edema, potofobia, pupil anisikir, reflek pupil
lambat, nistagmus.
 Pernapasan tidak teratur, kadang terjadi chyne strokes tachypnoe,
napas cepat dan dangkal
 Bradikardi pada TIK

9. Pemeriksaan diagnostik/penunjang
a. Fungsi lumbal dan kultur css: jumlah leukosit (CBC) meningkat, kadar
glukosa darah menurun, protein meningkat, tekanan cairan meningkat,
asam laktat meningkat, glukosa serum meningkat, identifikasi
organisme penyebab
b. Kultur darah, untuk menetapkan organisme penyebab
c. Kultur urin, untuk menetpkan organisme penyebab
d. Kultur nasofaring, untuk menetapkan organisme penyebab
e. Elektrolit serum, meningkat jika anak dehidrasi ; Na + naik dan K +
turun
f. Osmolaritas urin, meningkat dengan sekresi ADH
g. MRI, CT-scan/angiografi

10. Penatalaksanaan
a. Obat anti inflamasi
1) Maningitis tuberkulosa
 Isoniazid 10-20 mg/kg/24 jam oral, 1 kali sehari
maksimal 500 gr selama 1 1/2 tahun.
 Rifamfisin 10-15 mg/kg/24 jam oral, 1 kali sehari
selama 1 tahun.
 Streptomisin sukfat 20-40 mg/kg/24 jam sampai 1
minggu, 1-2 kali sehari, selama 3 bulan.
2) Meningitis bakterial, umur < 2 bulan
 Sefalosporin generasi ke-3
 Ampisilin 150-200mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4-6 kali
sehari
3) Manginitis bakterial, umur > 2 bulan
 Ampisilin 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali
sehari.
 Sefalosforin generasi ke 3/
b. Pengobatan simtomatis
1) Diazepam IV 0.2-0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4-
0.6/mg/kg/dosis kemudian dilanjutkan dengan fenitoin 5
mg/kg/24 jam, 3kali sehari.
2) Turunkan demam dengan anti piretik parasetamol atau salisilat
10mg/kg/dosis sambil dikompres air.
c. Pengobatan suportif
1) Cairan intravena
2) Pemberian O2 agar konsentrasi O2 berkisar antara 30-50%.
11. komplikasi
a. Hidrosefalus obstruktif
b. MeningococcL septicemia (mengingocemia)
c. Sindrome water-friderichen (septik syok. DIC, perdarahan adrenal
bilateral)
d. SIADH (syndrome inappropriate antidiuretic hormone)
e. Efusi subdural
f. Kejang
g. Edema dan herniasi serebral
h. Celebral palsy
i. Gangguan mental
j. Gangguan belajar
k. Attention deficit disorder
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian keperawatan
a) Biodata
 meliputi Nama, Umur, Jenis kelamin, alamat, pendidikan,
pekerjaan, nomor regitrasi, status pekawinan, agama, tanggal MR
b) Keluhan Utama
 Kejang dan kesadaran menurun.
c) Riwayat Penyakit sekarang
 Gejala infeksi akut : keadaan umum lemah, nafsu makan
menurun,muntah serta pada anak sering mengeluh sakit kepala.
 Gejala tekanan intra kranial :anak sering muntah, nyeri kepala(pada
orang dewasa), pada neonatus kesadaran menurun dari apatis sampai
koma, kejang umum.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
 Tuberkulosa, trauma kepala.
e) Riwayat Penyakit Keluarga
 Dalam keluarga ada yang menderita penyakit tuberkulosis paru pada
meningentuberkulosis.
f) ADL
 Nutrisi : Menurunnya nafsu makan, mual, muntah dan klien
mengalami kesukaran/tidak dapat menelan, dampak dari penurunan
kesadaran.
 Aktivitas : Mengalami kelumpuhan dan kelemahan yang
mengakibatkan gerak serta ketergantungan dalam memenuhi
kebutuhan.
 Tidur : Terdapat gangguan akibat nyeri kepala yang dialami.
 Eliminasi : Terjadi obstipasi dan inkontinensia urin.
 Hygiene : Sangat tergantung dalam hal perawatan diri karena
penurunan kesadaran.
g) Pemeriksaan
 Pemeriksaan Umum
- Suhu tubuh lebih dari 38 C.
- Nadi cepat, tapi jika terjadi peningkatan tekanan intra kranial nadi
menjadi cepat.
- Nafas lebih dari 24 x/menit
 Pemeriksaan Fisik
- Kepala dan leher : Ubun-ubun besar dan menonjol, strabismus
dan nistagmus (gerakan bola mata capat tanpa disengaja, diluar
kemauan), pada wajah ptiachiae, lesi purpura, bibir kering,sianosis
serta kaku kuduk.
- Thorak / dada : Bentuk simetris, pernafasan tachipnea, bila koma
pernafasan cheyne stokes, adanya tarikan otot-otot pernafasan,
jantung S1-S2.
- Abdomen : Turgor kulit menurun, peristaltik usus menurun.
- Ekstremitas : pada kulit ptiachiae, lesi purpura dan ekimosis,
reflek Bruzinsky dan tanda Kernig positif, tanda hemiparesis.
- Genetalia : Inkontinensia uria pada stadium lanjut.
 Pemeriksaan Penunjang
- Pungsi lumbal.
- Kultur darah.
- CT-scan
2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan kelelahan,
kelemahan dan penurunan tingkat kesadaran.
b) Perubahan perfusi jaringan (otak) berhubungan dengan proses inflamasi
adanya peningkatan tekanan intra kranial.
c) Perubahan volume cairan (defisit) berhubungan dengan inadekuatnya
intake dan kehilangan yang abnormal.
d) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh)
berhubungan dengan anoreksia, kelemahan, mual, muntah.
e) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilitas, diaforesis
dan defisit neurologis.
f) Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan istirahat yang lama
dan infasi meningeal.

3. Rencana asuhan keperawatan

no Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional


keperawatan evaluasi
1 Ketidakefekti Setelah diberikan Nic:
fan bersihan asuhan Airway suction
jalan nafas keperawatan O:
berhubungan selama ...X 24 jam - Ukur vital - mengetahui
dengan diharapkan sign setiap keadaan umum
kelelahan, Bersihan jalan 6 jam pasien
kelemahan nafas efektif, - Observasi - mengetahui
dan pemenuhan keadaan efektivitas
penurunan kebutuhan O2 umum perawatan dan
tingkat sesuai kebutuhan. pasien perkembangan
kesadaran Keriteria evaluasi N: pasien
Noc: - Dengarka - Timbulnya
Respiratory status: n suara akumulasi
ventilation nafas segera pada
setiap 4 saluran nafas
1) Tidak ada jam, ditandai dengan
suara nafas segera adanya suara
tambahan laporkan nafas tambahan.
2) Frekwensi adanya
pernafasan suara
dalam batas nafas
normal (20-24 tambahan
x/menit) seperti
3) Kebersihan whezing
jalan nafas dan
terjaga. ronchi.
- Jaga
kebersiha - Penempatan
n jalan peralatan
nafas, suscion didekat
persiapka pasien
n merupakan salah
peralatan satu alternatif
suction untuk kecepatan
didekat dalam
pasien. pemberian
E: tindakan.
- Ajarkan
pasien - Nafas dalam
latihan memudahka
nafas n ekspansi
dalam dan maksimum
batuk paru-paru
efektif atau jalan
C: nafas lebih
- Lakukan kecil
program
kolaborasi - Pemberian
dan terapi O2
pemberian sesuai
O2 sesuai dengan
dengan kebutuhan
kebutuhan akan
. mencegah
timbulnya
hipoksia
jaringan.
2 Perubahan Setelah diberikan Nic:
perfusi asuhan Peripheral
jaringan keperawatan sensation
(otak) selama ...X 24 jam management
berhubungan diharapkan Perfusi (manajemen
dengan jaringan keotak sensasi perifer)
proses dapat terjaga. O:
inflamasi Noc: - Observasi - Peningkatan
adanya Circulation status gejala- tekanan intra
peningkatan Kriteria evaluasi: gejala dari kranial
tekanan intra 1) Individu dapat peningkat merupakan
kranial. mengidentifik an tekanan salah satu
asi faktor- intra penyebab
faktor yang kranial. terjadinya
meningkatkan - Observasi syok
sirkulasi TTV tiap - Perubahan
perifer. 1 jam. jalan nafas,
2) Terhindar dari meningkatny
trauma. a denyut
3) Keluarga nadi tanda
dapat dari tekanan
melaporkan intra kranial
perubahan N: meningkat
pasien dalam - Monitor
peningkatan tanda-tanda - Mendeteksi
kenyamanan. peningkatan tanda-tanda
intracranial syok
selama
perjalanan
penyakit (nadi
lambat, TD
meningkat,
kesadaran
menuru, nafas
ireguler,
refleks pupil
menurun,
kelemahan).
E:
- Anjurkan
pasien
untuk - Aktivitas
bedrest. menyebabka
n
meningkatny
a
metabolisme
yang dapat
memperburu
- Anjurkan k keadaan
klien dan TIK.
berbaring
minimal - Mencegah
4-6 jam nyeri kepala
setelah yang
lumbal menyertai
fungsi perubahan
C: tekanan
- Kolaborasi intracranial.
pemberian
analgetik
- Mencegah
terjadinya
inflamasi
3 Perubahan Setelah diberikan Nic:
volume asuhan Fluid
cairan keperawatan management
(defisit) selama ...X 24 jam O:
berhubungan diharapkan - Obsevasi - Perubahan
dengan Tercapai TTV tiap suhu tubuh
inadekuatnya keseimbangan 4 jam. dan
intake dan cairan dan peningkatan
kehilangan elektrolit dalam nadi
yang darah. merupakan
abnormal. Noc: salah satu
Fluid balance tanda terjadi
Keriteria evaluasi: N: dehidrasi
1) Keadaan - Deteksi
serum dan tanda- - Pengawasan
elektrolit tanda dari an terjadi
darah dalam dehindrasi dehidrasi
batas normal. seperti sangat
2) TTV normal. membran membantu
3) Kulit lembab, mukosa menentukan
turgor kulit kering,ras output yang
kembali dalam a haus , abnormal
waktu 1 detik. penurunan dan kriteria
4) Suhu normal BB, beratnya
(36,5C- penurunan dehidrasi.
37,5C). produksi
urine.
- Monitor
stats - Mengetahui
cairan terjadinya
termasuk dehidrasi
intake dan
output
cairan.
E: - keluarga
- Jelaskan dapat
tentang mengetahui
pentingny pentingnya
a kebutuhan
kebutuhan cairan dalam
cairan tubuh.
dalam
tubuh bagi
pasien
kepada
keluarga
C:
- Kolaboras
i - memenuhi
bemberian kebutuhan
cairan iv cairan dalam
- Kolaboras tubuh
i dengan - memaksimal
dokter kan dalam
memberikan
pengobatan
4 Gangguan Setelah diberikan Nic:
pemenuhan asuhan Nutritional
kebutuhan keperawatan managenent
nutrisi selama ...X 24 jam O:
(kurang dari diharapkan Nutrisi - Observasi - Peningkatan
kebutuhan sesuai dengan peningkat BB
tubuh) kebutuhan tubuh. an BB. merupakan
berhubungan Noc: salah satu
dengan Nutritional status tanda
anoreksia, Keriteria hasil: keberhasilan
kelemahan, 1) Pasien tidak dari program
mual, muntah mual dan tidak - Monitor yang
muntah. TTV dilakukan.
2) Pasien pasien - Untuk
mengkonsumsi - Monitor mengetahui
75% nutrisi jumlah keadaan
sesuai dengan nutrisi umum
umur. pasien pasien.
3) Menunjukkan N: - Untuk
peningkatan - Berikan menentukan
BB. makanan intake pasien
dalam
porsi
sedikit - Pengkajian
tapi makanan
sering. mempengaru
- Bantu i selera
pasien makan dan
dalam proses
mekan ogertif.
dan - Agar
minum kebutuhan
peroral nutrisi
E: pasien
- Beri terpenuhi
penjelasan
tentang
pentingny
a - Pasien dan
kebutuhan keluarga
nutrisi dapat
bagi tubuh mengerti
dengan
kebutuhan
C: nutrisi bagi
- Kolaboras tubuh
i dengan - Agar
ahli gizi kebutuhan
untuk pasien
menentuk terpenuhi
an jumlah
nutrisi
yang
dibutuhka
n pasien
5 Kerusakan Setelah diberikan Nic:
integritas asuhan Pressure
kulit keperawatan management
berhubungan selama ...X 24 jam O:
dengan diharapkan Tidak - Observasi - Mengetahui
immobilitas, terjadi kerusakan kulit keadaan
diaforesis kulit. pasien kulit pasien
dan defisit Noc: N:
neurologis. Tissue integrity - Jaga kulit - Keadaan
Kriteria hasil: dalam kulit yang
1) . Perubahan keadaan kotor dan
posisi secara bersih dan basah
teratur. kering. mempengaru
2) Dapat hi sirkulasi
mengidentifika yang
si kerusakan menyebabka
kulit. - Ubah n
3) Kulit selalu posisi kematian
dalam keadaan tidur jaringan dan
kering. pasien terjadi ulkus.
setiap 2 - Penekanan
jam. yang lama
pada kulit
akan
mempengaru
hi sirkulasi
yang
menyebabka
- Lakukan n kematian
masase jaringan dan
pada terjadi ulkus.
daerah - Masase pada
kulit yang daerah kulit
terjadi yang terjadi
penekanan penekanan
tiap 4 jam. akan
E: membantu
- Anjurkan sirkulasi
untuk darah.
mengguna
kan - Pakaian
pakaian yang tipis
tipis dan dan tidak
menyerap
menyerap
panas akan
panas. membantu.

C:
- Kolaboras
i dengan - Agar
keluarga keluarga
untuk mampu
menjaga melakukan
kebersiha perawatan
n pasien dengan
mandiri
6 Gangguan Setelah diberikan Nic:
rasa nyaman asuhan Paint
(nyeri) keperawatan management
berhubungan selama ...X 24 jam O:
dengan diharapkan Pasien - Observasi - Adanya
istirahat yang menunjukkan tanda- infasi
lama dan peningkatan rasa tanda meningeal
infasi nyaman. infasi akan
meningeal. Noc: meningeal meningkatka
Paint level . n rasa nyeri.
Keriteria evaluasi: - Adanya
1) Tidak - Observasi peningkatan
menunjukkan tanda- TIK dapat
tanda-tanda tanda menyebabka
kaku kuduk peningkat n syok
dan infasi an TIK. meningeal.
meningkat.
2) Tidak terdapat
nyeri kepala,
kekuatan dan N: - Posisi
fotofobia. - Atur nyaman
3) TTV normal. posisi mengurangi
pasien penekanan
senyaman pada saraf
mungkin. perifer.
E: - Mengurangi
- Ajarkan ketegangan
teknik pada otot
relaksasi
dan
distraksi.
C: - Kolaborasi
- Kolaboras pada tim
i pada tim medis untuk
medis pemberian
untuk analgesik.
pemberian
analgesik.

4. Implementasi
Implementasi dibuat sesuai dengan intervensi yang sudah dibuat sesuai
diagnosa keperawatan

5. Evaluasi
Evaluasi dibuat dengan melihat perkembangan pasien selama diberikan
asuhan keperawatan sesuai diagnosa keperawatan dan tujuan evaluasi
dibuat menggunakan SOAP
S: subjektif
O: objektif
A: analisis
P: (plan) perencanaan
Daftar pustaka

Nurarif hudaanim, 2015 Nanda Nic-Noc(jilid2). Jogjakarta:medation jogja

Saferi andra, mariza yessie, 2013, keperawatan Medical Bedah 2.


Yogyakarta:NuhaMedica

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/23705/Chapter%20II.pdf?

sequence=4 (diakses pada tanggal 12-10-2018)

http://www.kalbemed.com/Portals/6/06_224Diagnosis%20dan%20Tatalaksana%20

Meningitis%20Bakterialis.pdf (diakses pada tanggal 12-10-2018)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/23705/Chapter%20II.pdf?
sequence=4 (diakses pada tanggal 12-10-2018)