You are on page 1of 8

KEEFEKTIFAN CERITA BERGAMBAR UNTUK PENDIDIKAN NILAI DAN

KETERAMPILAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Umi Faizah
STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta (HP 087834021000)

Abstract
Effectiveness of Picture Stories in Value Education and Language Skills in
Indonesian Language Learning. This study aims to investigate the effectiveness of
picture stories to improve learning achievement in value education (honesty,
patience, and religious worship) and language skills (listening and reading) in
Indonesian language learning. This study was a quasi-experimental study
employing the pretest-posttest control group design. The population comprised all
114 Year II students of MIN Tempel Sleman Yogyakarta. The sample, selected by
the random sampling technique, consisted of 70 students, divided into the
experimental group and the control group. The results show that (1) the learning
achievement in value education of the students in the experimental group is higher
than that of the students in the control group, and (2) the learning achievement in
language skills of the students in the experimental group is higher than that of the
students in the control group. It can be concluded that the use of picture stories is
effective for value education and Indonesian language skills.

Keywords: picture stories, value education, language skills

A. Pendahuluan dan budi pekerti serta akhlakul karimah


Berbagai konflik yang muncul dan yang sebaiknya diintegrasikan dalam
semakin tingginya kasus asusila/amoral mata pelajaran di sekolah sepertinya
yang terjadi di Indonesia, mulai dari harus menjadi perhatian yang serius.
korupsi, kolusi, penggunaan narkoba Pendidikan di sekolah harus mampu
sampai dengan tawuran antarsekolah, membangkitkan nilai-nilai kehidupan,
antarpelajar dan budaya anarkis telah serta menjelaskan implikasinya terhadap
merusak jalinan sesama warga negara. kualitas hidup masyarakat. Lickona
Dalam kondisi seperti ini, dunia pen- (1992:3) menyatakan bahwa sekolah
didikan menjadi sorotan. Pendidikan mempunyai dua tujuan utama, yakni
dinyatakan telah gagal mencetak gene- menfasilitasi peserta didik agar menjadi
rasi yang cerdas secara intelegensi, individu yang cerdas sekaligus baik.
emosional dan spiritual. Hal ini tentu Para pakar pendidikan yang telah
saja menjadi keprihatinan seluruh kom- menunjukkan kepeduliannya terhadap
ponen bangsa Indonesia. kondisi masyarakat Indonesia yang
Suara kepedulian yang meneriak- memprihatinkan tersebut dengan cara
kan kembali pendidikan nilai, moral membenahi sistem pendidikan dan ku-

249
250

rikulum dengan menawarkan pendi- sungguhnya sangat diperlukan siswa. Hal


dikan berbasis karakter. Pendidikan ini tampak dengan penggunaan bu-ku
berbasis karakter diharapkan mampu paket pelajaran sebagai satu-satunya
menjadi solusi bagi keterpurukan bang- sumber belajar yang digunakan. Pada-
sa Indonesia saat ini. Pendidikan ber- hal, pelajaran bahasa Indonesia dengan
basis karakter yang diterapkan di lebih jam pelajaran yang mencapai 8 jam
dari 200 lembaga pendidikan yang ada pelajaran (@ 35 menit) memiliki potensi
di Indonesia, mulai diikuti dengan akti- besar untuk penyampaian pendidikan
vitas secara nasional termasuk adanya nilai, selain juga ketercapaian kompe-
deklarasi pada awal tahun 2009 di kota tensi berbahasa.
Yogyakarta dengan tema ”Membangun Untuk itu perlu adanya pembaha-
Karakter Bangsa melalui Cerita”. Yog- ruan dan perbaikan dalam proses pem-
yakarta sebagai kota pertama yang di- belajaran Bahasa Indonesia, yakni de-
deklarasikan sebagai kota dongeng . ngan mengintegrasikan pendidikan ni-
Deklarasi Yogyakarta sebagai kota lai. Pendidikan nilai di sekolah perlu
dongeng di awal tahun 2009 tersebut secara sadar dirancang dan dikelola se-
sudah seharusnya diikuti gerakan se- demikian rupa sehingga dalam proses
luruh komponen masyarakat, termasuk pembelajarannya terjadi pula proses
lembaga pendidikan. Pada lembaga pen- pembentukan sikap dan perilaku yang
didikan, misalnya madrasah ibtidaiyah/ baik. Upaya yang dapat dilakukan sa-
sekolah dasar harus mulai mengupaya- lah satunya dengan memanfaatkan me-
kan pelaksanaan pendidikan karakter dia cerita bergambar agar dapat me-
agar seluruh komponen sekolah memi-liki nunjang tujuan pembelajaran bahasa
karakter yang baik atau berakhlak mulia. Indonesia terutama di madrasah ibti-
Namun, ternyata deklarasi ter-sebut daiyah.
belum banyak menginspirasi lem-baga
pendidikan untuk segera meran-cang B. Metode Penelitian
penggunaan cerita/dongeng seba-gai Penelitian ini merupakan penelitian
sarana penyampai pesan moral/ kuantitatif dengan pendekatan eksperi-
pendidikan nilai. men semu (quasi experimental). Variabel
Selama ini, pembelajaran bahasa bebas (X) adalah media pembelajaran
In-donesia masih bersifat kurikulum yang berupa cerita bergambar. Desain
sen-tris, yaitu sebatas pada pencapaian eksperimen berbentuk pretest-posttest
ke-terampilan berbahasa sebagaimana control group design (Campbell & Stanley,
yang terdapat dalam SK/KD yang telah 1966:13). Desain penelitian ini dapat
ditentukan, tanpa dikembangkan pada digambarkan seperti berikut.
unsur-unsur pendidikan nilai yang se-

Tabel 1. Desain Penelitian


Kelompok Pre Test Perlakuan Post Test
E O1 X O2
R
K O3 - O4

Cakrawala Pendidikan, November 2009, Th. XXVIII, No. 3


251

Keterangan: Hasil pengujian hipotesis pertama


R : Random (acak) dengan menggunakan uji MANOVA
E : Kelompok eksperimen menyatakan adanya perbedaan yang
K : Kelompok kontrol signifikan pada hasil belajar pendidikan
X : Perlakuan/treatment (menggunakan nilai terbukti dengan harga Fhitung 29.212
cerita bergambar) (p = 0,000) untuk nilai kejujuran, Fhitung
O1 : pre test kelompok eksperimen 17.191 (p = 0,000) untuk kesabaran,
O2 : post test kelompok eksperimen dan Fhitung 5.592 (p = 0,021) untuk nilai
O3 : pre test kelompok kontrol ke-taatan beribadah. Oleh karena p <
O4 : post test kelompok kontrol Populasi 0,05, maka hipotesis penelitian
dalam penelitian ini selu- diterima. De-ngan perkataan lain,
ruh siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah penggunaan cerita bergambar berisi
Negeri Tempel Sleman Yogyakarta pendidikan nilai ke-jujuran, kesabaran,
yang berjumlah 114 siswa yang terbagi dan ketaatan ber-ibadah efektif untuk
dalam 3 kelas. Sampel berjumlah 70 pembelajaran ba-hasa Indonesia yang
sis-wa yang terbagi dalam 2 kelas, terintegrasi pen-didikan nilai, sehingga
yakni kelas eksperimen (n=35) dan dapat mening-katkan kejujuran,
kelas kon-trol (n=35). kesabaran, dan ke-taatan beribadah
Penelitian ini menggunakan instru- siswa kelompok eks-perimen. Hal ini
men dalam bentuk tes dan nontes. Tes terbukti dengan mem-perhatikan dan
digunakan untuk mengetahui hasil be- membandingkan pe-ningkatan hasil
lajar keterampilan berbahasa siswa, se- belajar pendidikan nilai kejujuran pada
dangkan instrumen nontes berupa ang- kelas eksperimen se-besar 15,71 atau
ket dan pengamatan, yaitu untuk me- sebesar 21,07%, se-dangkan kenaikan
ngetahui pemahaman dan pengamalan skor rerata pada kelas kontrol sebesar
nilai-nilai kejujuran, kesabaran dan ke- 4,57 atau sekitar 5,99 %.
taatan beribadah. Hipotesis penelitian kedua yang di-
uji adalah terdapat perbedaan hasil be-
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan lajar keterampilan berbahasa (menyi-
1. Hasil Penelitian mak dan membaca) antara peserta di-
Hipotesis penelitian pertama yang dik yang menggunakan media cerita
diuji dalam penelitian ini adalah ter- bergambar dan peserta didik yang tan-
dapat perbedaan hasil belajar pendidik- pa menggunakan cerita bergambar.
an nilai (kejujuran, kesabaran, dan ke- Hasil pengujian hipotesis kedua de-
taatan beribadah) antara peserta didik ngan menggunakan uji MANOVA me-
yang menggunakan cerita bergambar nyatakan adanya perbedaan yang sig-
dan peserta didik yang tanpa menggu- nifikan pada hasil belajar keterampilan
nakan cerita bergambar dalam pembe- berbahasa (menyimak dan membaca).
lajaran bahasa Indonesia yang terinte- Hal ini terbukti dengan harga Fhitung
grasi pendidikan nilai. 13,765 (p= 0,000) untuk keterampilan
menyimak dan harga Fhitung 5.278 (p=

Keefektifan Cerita Bergambar untuk Pendidikan Nilai dan Keterampilan Berbahasa


252

0,025) untuk keterampilan membaca. adalah buku yang di dalamnya ter-


Jika p < 0,05, maka hipotesis nihil di- dapat gambar dan kata-kata, di mana
tolak dan hipotesis penelitian diterima. gambar dan kata-kata tersebut tidak
Dengan kata lain, dinyatakan bahwa berdiri sendiri-sendiri, melainkan sal-ing
penggunaan cerita bergambar efektif bergantung agar menjadi sebuah
untuk meningkatkan hasil belajar kete- kesatuan cerita.
rampilan berbahasa (menyimak, mem- Pendapat lain yang dikemukakan
baca) dalam pembelajaran bahasa oleh Sutherland and Arbuthnot sebagai
Indo-nesia yang terintegrasi pendidikan berikut.
ni-lai. Hal ini terbukti dengan memper- “….A picture storybook as one having a
hatikan perbandingan peningkatan skor “structured, if minimal plot that “really tell a
rerata keterampilan membaca pada ke- story”. Sutherland and Arbuthnot (1984) note
that the illustrations in picture storybooks are
las eksperimen sebesar 10,86 atau se-
just s important as text. According to Suther-
besar 14,96%, sedangkan pada kelas
land and Arbuthnot (1991), picture storybooks
kontrol kenaikan skor rerata sebesar share the following characteristic: (1). They are
2,29 atau sebesar 3,18%. brief and straightforward, (2). They contain a
limited number of concepts, (3). They contain
2. Pembahasan concepts that children and comprehend, (4).
Cerita bergambar sebagai media They are writtwn in a style that is direct and
grafis yang dipergunakan dalam proses simple, (5). They include illustrations that
complement the text (Owen&Nowel, 2001: 33).
pembelajaran, memiliki pengertian prak-
tis, yaitu dapat mengkomunikasikan fakta- Pendapat di atas mengandung mak-
fakta dan gagasan-gagasan secara jelas na bahwa buku cerita bergambar me-
dan kuat melalui perpaduan an-tara miliki alur yang benar-benar bercerita,
pengungkapan kata-kata dan gam-bar ilustrasi dalam buku cerita bergambar
(Sudjana dan Rivai, 2002:27). Secara memiliki peran yang sama pentingnya
lebih spesifik, cerita bergambar disebut dengan teksnya. Beberapa karakteristik
sebagai komik. Komik dapat didefini-sikan buku ceirta bergambar menurut Suther-
sebagai suatu bentuk kartun yang land antara lain adalah: (1) buku cerita
mengungkapkan karakter dan meme- bergambar bersifat ringkas dan lang-
rankan suatu cerita, dalam urutan yang sung; (2) buku cerita bergambar berisi
erat yang dihubungkan dengan gambar konsep-konsep yang berseri; (3) konsep
dan dirancang untuk memberikan hi- yang ditulis dapat difahami oleh anak-
buran kepada para pembaca. (Sudjana anak; (4) gaya penulisannya sederhana;
dan ARivai, 2002:64). (5) terdapat ilustrasi yang melengkapi
Mitchell (2003:87) mengatakan, “Pic- teks.
ture storybooks are books in which the Rothlein dan Meinbach (1991:90)
pic-ture and text are tightly intertwined. mengemukakan bahwa a picture story-
Neither the pictures nor the words are books conveys its message through illus-
self-sufficient; they need each other to tell trations and written text; both elements are
the story”. Pernyataan tersebut memiliki equally important to the story. Ungkapan ini
makna bahwa buku cerita bergambar mengandung pengertian bahwa bu-

Cakrawala Pendidikan, November 2009, Th. XXVIII, No. 3


253

ku cerita bergambar adalah buku yang berikan pemahaman yang menyeluruh/


memuat pesan melalaui ilustrasi yang lengkap (comprehension), dan 2) mem-
berupa gambar dan tulisan. Gambar berikan rangsangan imajinasi.
dan tulisan tersebut merupakan kesatu- Selain fungsi umum tersebut, me-
an. nurut Sadiman, dkk. (2008:28), secara
Berdasarkan beberapa definisi di khusus grafis berfungsi untuk menarik
atas jelas bahwa cerita bergambar ada- perhatian, memperjelas sajian ide, meng-
lah sebuah cerita ditulis dengan gaya ilustrasikan atau menghiasi fakta yang
bahasa ringan, cenderung dengan gaya mungkin akan cepat dilupakan dan di-
obrolan, dilengkapi dengan gambar abaikan bila tidak digrafiskan. Dengan
yang merupakan kesatuan dari cerita menambah visual pada pelajaran ber-arti
untuk menyampaikan fakta atau ga- menaikkan ingatan dari 14% ke 38%.
gasan tertentu. Cerita dalam cerita ber- Penelitian ini juga menunjukkan perbaikan
gambar juga seringkali berkenaan de- sampai 200% ketika kosakata diajarkan
ngan pribadi/pengalaman pribadi se- dengan menggunakan alat vi-sual.
hingga pembaca mudah mengidentifi- Bahkan waktu yang diperlukan un-tuk
kasikan dirinya melalui perasaan serta menyampaikan konsep berkurang sampai
tindakan dirinya melalui perwatakan 40% ketika visual digunakan untuk
tokoh-tokoh utamanya. menambah prestasi verbal. Se-buah
Buku cerita bergambar memuat pe- gambar barangkali tidak bernilai ribuan
san melalui ilustrasi dan teks tertulis. Ke kata, namun tiga kali lebih efektif daripada
dua elemen ini merupakan elemen hanya kata-kata saja. (Silberman,
penting pada cerita. Buku-buku ini me- 2002:3).
muat berbagai tema yang sering di- Menurut Davis (1997:1), cerita ber-
dasarkan pada pengalaman kehidupan gambar sebagai suatu alat pendidikan
sehari-hari anak. Karakter dalam buku sangat menarik untuk digunakan dise-
ini dapat berupa manusia dan binatang. babkan karena: (a) built in desire to learn
Kualitas manusia, karakter, dan kebu- through comics; (b) easy accessibility in
tuhan, ditampilkan dalam komik se- daily newspaper and bookstand; (c) the
hingga anak-anak dapat memahami no-vel and ingenious way in which this au-
dan menghubungkan dengan pengala- thentic medium depicts real-life language
man pribadinya. and very facet of people and society"; and
Cerita bergambar dapat mendorong (d) the variety of visual and linguistic
bagi anak terhadap kecintaan membaca, element and codes tahet appeal to
sebagimana yang diungkapkan oleh Liz student with different learning style.
Rothlein dan Anita Meyer Meinbach Pernyataan tersebut bermakna bah-
(1991:86), “picture books encourage an ap- wa alasan cerita bergambar dijadikan
preciation and love for reading as they allow sebagai alat pendidikan yang menarik
children to participate in the literate com- adalah: (a) mendorong semangat bela-
munity. Menurut Sheu Hsiu-Chih (2008: 51), jar; (b) mudah didapatkan di koran dan
fungsi gambar dalam cerita setidak-nya toko buku; (c) berisi cerita tentang ke-
memiliki dua fungsi, yakni: 1) mem-

Keefektifan Cerita Bergambar untuk Pendidikan Nilai dan Keterampilan Berbahasa


254

hidupan sehari-hari; dan (d) memberi- The most efficient way to learn is through
kan gaya belajar yang bervariasi. doing something you love. People tend to learn
Hurlock (1978:338) mengemukakan & remember information better if they are
bahwa anak-anak usia sekolah menyu-kai having fun while learning and simply just can’t
cerita bergambar karena beberapa hal di get enough of it. Remem-ber learning the
antaranya: (1) anak memperoleh alphabet song? I imagine you can still recall
kesempatan yang baik untuk mendapat that song today. That’s because you had fun
wawasan mengenal masalah pribadi dan learning it. Your brain has a special place for
sosialnya. Hal ini akan membantu such learning—long term memory.
memecahkan masalahnya; (2) menarik http://www.learningimpulse-.com/index-2.html
imajinasi anak dan rasa ingin tahu ten-
tang masalah supranatural; (3) mem-beri Menurutnya, untuk mencapai hasil
anak pelarian sementara hiruk pi-kuk belajar yang paling efisien adalah de-
hidup sehari-hari; (4) mudah di-baca, ngan menyukai yang dipelajari atau da-
bahkan anak yang kurang mampu ya tarik pembelajaran itu. Orang cen-
membaca dapat memahami arti dari derung belajar dan mengingat infor-
gambarnya; (5) tidak mahal dan juga masi lebih baik jika mereka menyukai
ditayangkan di televisi sehingga semua (tertarik) pada saat mereka belajar dari
anak mengenalnya; (6) mendorong anak apa yang mereka pelajari dan seder-
untuk membaca yang tidak banyak di- hana saja itu tak akan pernah cukup
berikan buku lain; (7) memberi sesuatu (sehingga mereka cenderung untuk
yang diharapkan (bila berbentuk serial); mengulangi/meningkatkan minat bela-
(8) tokoh sering melakukan atau me- jar). Otak manusia memiliki tempat
ngatakan hal-hal yang tidak berani di- khusus untuk sejumlah pembelajaran—
lakukan sendiri oleh anak-anak, walau- yang disebut ingatan jangka panjang.
pun mereka ingin melakukannya, ini Dari ungkapan tersebut dapat disim-
memberikan kegembiraan; (9) tokohnya pulkan bahwa daya tarik dalam belajar
dalam cerita sering kuat, berani, dan mampu meningkatkan minat belajar dan
berwajah tampan, jadi memberikan to- memperpanjang ingatan terhadap
koh pahlawan bagi anak untuk meng- pelajaran.
identifikasikannya; (10) gambar dalam Daya tarik terhadap proses belajar
cerita bergambar berwarna-warni dan terbukti berpengaruh positif untuk
cukup sederhana untuk dimengerti mencapai hasil belajar yang efektif.
anak-anak. Oleh karena itu, dalam pembuatan ce-
Para siswa pada sekolah dasar me- rita bergambar perlu diupayakan ke-
miliki ketertarikan yang tinggi terhadap mampuannya dalam menarik perhatian
gambar visual, dan juga terhadap ce- siswa sebagai pembelajar.
rita. Ketertarikan tersebut sangat pen- Beberapa pendapat di atas mem-
ting bagi ketercapaian tujuan pem- berikan gambaran bahwa kaitannya de-
belajaran sebagaimana yang disampai- ngan kegiatan pembelajaran bahasa
kan oleh Cris F. Berikut. Indonesia dengan menggunakan cerita
bergambar secara tidak langsung akan

Cakrawala Pendidikan, November 2009, Th. XXVIII, No. 3


255

menarik minat siswa setidaknya pada terkait dengan ketertarikan dan ke-
keinginan untuk menyimak dan mem- aktifan para siswa dalam mengikuti
baca, serta membantu siswa memahami proses pembelajaran bahasa Indo-
konsep yang bersifat abstrak dalam hal ini nesia yang menggunakan cerita ber-
berupa nilai-nilai kejujuran, kesabar-an, gambar, mereka memiliki ketertarik-
dan ketaatan beribadah. an dan keaktifan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang
C. Simpulan dan Implikasi mengalami proses pembelajaran ba-
1. Simpulan hasa Indonesia tanpa menggunakan
Berdasarkan hasil penelitian dan cerita bergambar.
pembahasan dapat disimpulkan hal-hal
seperti berikut. 2. Implikasi
a. Hasil belajar pendidikan nilai (ke- Berdasarkan kesimpulan di atas,
jujuran, kesabaran, dan ketaatan ber- dapat dikemukakan implikasi secara
ibadah) siswa yang diberi pelajaran teoretis dan praktis sebagai berikut.
dengan menggunakan cerita ber-
gambar lebih tinggi dibandingkan a. Implikasi Teoretis
dengan siswa pada kelompok yang Hasil penelitian ini menunjukkan
diberi pelajaran tanpa menggunakan bahwa penggunaan cerita bergambar
cerita bergambar. memberi pengaruh yang signifikan
b. Hasil belajar keterampilan berbaha- terhadap hasil belajar bahasa Indonesia
sa (menyimak, membaca) siswa dalam hal ini keterampilan menyimak
yang diberi pelajaran dengan meng- dan keterampilan membaca, serta nilai-
gunakan cerita bergambar lebih ting- nilai kejujuran, kesabaran dan ketaatan
gi dibandingkan dengan siswa pada beribadah sesuai dengan isi cerita yang
kelompok yang diberi pelajaran tan- ditampilkan. Hal ini memberikan pe-
pa menggunakan cerita bergambar. tunjuk bahwa dalam pembelajaran ba-
c. Adapun kesimpulan secara keselu- hasa Indonesia, penggunaan cerita ber-
ruhan dari hasil penelitian ini ada-lah gambar dengan muatan pendidikan ni-
bahwa pembelajaran bahasa In- lai lebih tepat untuk diterapkan dari-
donesia yang mengintegrasikan pen- pada pembelajaran yang hanya meng-
didikan nilai (kejujuran, kesabaran, andalkan buku paket sebagai satu-satu-
dan ketaatan beribadah) dengan nya sumber belajar (konvensional).
menggunakan cerita bergambar da- Penerapan pembelajaran
pat meningkatkan keterampilan ber- menggunakan cerita bergambar
bahasa berupa keterampilan menyi- berimplikasi terhadap perencanaan dan
mak dan keterampilan membaca, se- pengembangan model pembelajaran.
kaligus dapat meningkatkan nilai
kejujuran, kesabaran, dan ketaatan b. Implikasi Praktis
beribadah, sehingga siswa tidak ha- Hasil penelitian ini secara praktis
nya cakap/pandai tapi juga santun dan dapat digunakan sebagai bahan pertim-
berakhlak mulia. Demikian juga bangan bagi para guru, terutama guru

Keefektifan Cerita Bergambar untuk Pendidikan Nilai dan Keterampilan Berbahasa


256

mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar Allyn & Bacon: A Longwood


lebih dapat memperhatikan kebutuhan Professional Book.
siswanya. Siswa memerlukan pende-
Lickona, T. 1992. Educating for
katan belajar yang lebih variatif dan da-
Character: How Our School can
pat melibatkan siswa secara aktif, se-
Teach Respect and Responsibility.
hingga pembelajaran lebih bermakna.
New York: Bantam Books.
Dengan diketahui bahwa penggunaan
cerita bergambar efektif untuk pendi- Mitchell, Diana. 2003. Children’s Litera-
dikan nilai dan keterampilan berbahasa ture an Imitation to the Word. Mi-
dalam pembelajaran bahasa Indonesia chigan State University.
yang terintegrasi pendidikan nilai, guru
perlu menggunakannya dan memper- Rothlein, Liz & Meinbach, Anita Meyer.
banyak koleksi cerita bergambar untuk (1995). Literature Connection Using
kepentingan pembelajaran bahasa Children’s Book in the Classroom.
Indo-nesia. Hal ini sangat diperlukan London: Foresman and company.
agar terjadi proses pembelajaran yang
Sadiman, Arief S. dkk. 2008. Media Pen-
ko-munikatif dan fungsional.
didikan, Pengertian, Pengembangan
dan Pemanfaatannya, Jakarta: PT.
Daftar Pustaka
Raja Grafindo Persada.
Campbell D.T & Stanley J.C. 1966. Ex-
perimental and Quasi Experimental Santrock, John W. 2004. Life-Span
Designs for Research, Chicago: Development. 9th ed. New York:
Rand Mc,Nally & Company. McGraw-Hill.

Cris F. dari http://www.learningimpulse- Sheu Hsiu-Chih. 2008. The Value of Eng-


com/index-2.html diakses pada lish Picture Story Books. Oxford
26 Agustus 2009. University Press. Versi web.

Davis, RS. 1997. Comics; a Multi Dimen- Silberman, Melvin L. 2002. Active
sional Teaching in Integrated-Skill Learning: 101 Strategi
Classes. Nagoyama University: Pembelajaran Aktif (Terjemahan
Japan. Dari http://www.esl-lab.com dari Sarjuli , et. Al.) Yogyakarta:
/research/ comics.htm. YAPPENDIS.

Sudjana, Nana & Riva’i, Ahmad. 2002.


Harlocck, EB. 1978. Perkembangan Anak.
Media Pengajaran. Jakarta: Sinar
(Terjemahan dari Med. Meitasari
Baru Algensindo.
Tjandrasa & Muslichah Zarkasi).
Jakarta: Erlangga.

Kirschenbaum, H. 1995. 100 Ways to En-


hance Values and Morality in
Schools and Youth Settings. Boston:

Cakrawala Pendidikan, November 2009, Th. XXVIII, No. 3