You are on page 1of 9

MESIN DIESEL DAN CARA KERJANYA

RISKI DEWA SAMUDRA


2017.01.2.0018
TEKNIKA 1A
rdewasamudra5@yahoo.com

ABSTRAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Karburator adalah sebuah alat yang mencampur udara dan bahan bakar untuk
sebuah mesin pembakaran dalam. Karburator pertama kali ditemukan oleh Karl Benz pada
tahun 1885 dan dipatenkan pada tahun 1886. Pada tahun
1893 insinyur kebangsaan Hungaria bernama János Csonka dan Donát Bánki juga mendesain
alat yang serupa. Adalah Frederick William Lanchester dari Birmingham, Inggris yang
pertama kali bereksperimen menggunakan karburator pada mobil. Pada tahun 1896 Frederick
dan saudaranya membangun mobil pertama yang menggunakan bahan bakar bensin di
Inggris, bersilinder tunggal bertenaga 5 hp (4 kW), dan merupakan mesin pembakaran dalam
(internal combution). Tidak puas dengan hasil akhir yang didapat, terutama karena kecilnya
tenaga yang dihasilkan, mereka membangun ulang mesin tersebut, kali ini mereka
menggunakan dua silinder horisontal dan juga mendisain ulang karburator mereka. Kali ini
mobil mereka mampu menyelesaikan tur sepanjang 1.000 mil (1600 km) pada tahun 1900.
Hal ini merupakan langkah maju penggunaan karburator dalam bidang otomotif.Karburator
umum digunakan untuk mobil berbahan bakar bensin sampai akhir 1980-an. Setelah banyak
kontrol elektronik digunakan pada mobil, penggunaan karburator mulai digantikan oleh
sistem injeksi bahan bakar karena lebih mudah terintegrasi dengan sistem yang lain untuk
mencapai efisiensi bahan bakar.Injeksi bahan bakar atau EFI (Electronic Fuel
Injection )adalahsistem injeksi bahan bakar yang dikontrol secara elektronik. Sistem ini
merupakan salah satu jenis sistem bahan bakar pada motor bensin.Penggunaan injeksi bahan
bakar akan meningkatkan tenaga mesin bila dibandingkan dengan penggunaan karburator.
Dan injeksi bahan bakar juga dapat mengontrol pencampuran bahan bakar dan udara yang
lebih tepat, baik dalam proporsi dan keseragaman. Injeksi bahan bakar dapat berupa
mekanikal, elektronik atau campuran dari keduanya. Sistem awal berupa mekanikal namun
sekitar 1980 mulai banyak menggunakan sistem elektronik.Sistem elektronik modern
menggunakan banyak sensor untuk memonitor kondisi mesin, dan sebuah unit kontrol
elektronik (electronic control unit, ECU) untuk menghitung jumlah bahan bakar yang
diperlukan. Oleh karena itu injeksi bahan
bakar dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi polusi, dan juga
memberikan tenaga keluaran yang lebih.
Dizaman sekarang banyak orang yang kurang mengerti tentang perbedaan sistem
karburator dan sistem EFI (Electronic Fuel Injection) dan kebanyakan orang mengabaikan
perbedaan itu mereka tidak tahu bahwa sisitem EFI lebih irit bahan bakar dari pada sistem
karburator.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang
semakin pesat dewasa ini menimbulkan dampak pada dunia pendidikan
dengan makin besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan.
Dunia pendidikan sekarang ini makin dituntut untuk dapat menghasilkan
sumber daya manusia yang handal, yang mampu menjawab dan
mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia
pendidikan harus dapat mewujudkan hal itu, maka perlu adanya peningkatan
dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Salah satu upaya peningakatan dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan
pendidikan khususnya dibidang teknik mesin khususnya
otomotif Aplikasi Sistem Pengaturan Elektronik pada kendaraan telah demikian pesatnya,
seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan global yang mensyaratkan baik aspek
pemenuhan pengguna teknologi maupun aspek dampak lingkungannya, sehingga rancang
bangun kendaraan modern dengan Advance Technology memiliki kelebihan/keunggulan
yang mampu meningkatkan antara lain:
· Unjuk kerja
· Efisiensi penggunaan bahan bakar
· Penanggulangan dampak lingkungan
· Kenyamanan dan keamanan
Kendaraan dengan fasilitas control elektronik dibandingkan dengan kendaraan
konvensional memiliki perbedaan pada piranti elektroniknya yang pada dasarnya terdiri dari
beberapa komponen, yaitu Sensor, Electronik Control Unit (ECU), dan Unit Actuator.
1.2 Rumusan Masalah
1. Menjelaskan tentang mesin diesel kapal?
2. Material mesin diesel kapal?
3. Operasional mesin diesel kapal?
4. Keuntungan dan kerugian mesin diesel?
5. Proses kerja dari sebuah mesin diesel?
1.3 Tujuan
Tujuan dibentuknya artikel ini agar pembaca dan kususnya penulis bisa
mengetahui dan menambah pengetahuan tentang mesin diesel kapal.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Ditulis oleh: Tjoeng Billy, Penghemat Bahan Bakar Solar pada Mesin Diesel Dengan
Memanfaatkan Air Radiator

Mesin Diesel adalah salah satu jenis mesin pembakaran dalam yang paling
banyak digunakan di dunia.Efiesiensi yang tinggi serta fleksibelitas jenis bahan bakar
yang dapat digunakan menjadi keunggulanmesin Diesel dibandingkan mesin pembakaran
dalam lainnya. Unjuk kerja mesin Diesel dengan dantanpa pemanasan awal bahan
bakar mesin Diesel yang digunakan dibahas dalam penelitian ini.Temperatur pemanasan awal
yang dilakukan pada penelitian ini ialah 40 ºC, 50 ºC, dan 60 ºC. Unjukkerja yang didapat
meliputi: torsi, daya poros, konsumsi bahan bakar, konsumsi bahan bakar spesifik,dan
tekanan efektif rata-rata, serta efisiensi dari mesin diesel. Dari hasil penelitian
didapatkan Torsiyang dihasilkan dengan menggunakan pemanasan awal lebih baik
dibandingkan kondisi tanpapemanasan awal. Secara umum, dengan menggunakan pemanasan
awal kurva karakteristik yangdihasilkan akan lebih baik.

2.2 Penulis: Rudolf diesel, 1893, Theory and Construction of A Rational Heat Engine for
Substitution of the Steam Engines and that Today Admitted Combustion Engines.
Pada tahun 1893, mesin diesel pertama kali ditemukan oleh Rudolf Diesel dari
jerman. Sebelum adanya mesin diesel sudah ditemukan terlebih dahulu motor bakar yang
beroperasi dengan bahan bakar murah yang ditemukan oleh dua orang Amerika Meltz dan
Weiss. Mesin tersebut mengubah panas menjadi energi mekanik, disertai tekanan udara
murni dalam silinder.
Pada mesin diesel, udara didalam silinder dikompresikan hingga menjadi panas.
Bahan bakar diesel yang terbentuk kabut kemudian disemprotkan kedalam silinder. Oleh
karena itu, mesin diesel perbandingan kompresinya dibuat (15:1-22:1) lebih tinggi daripada
mesin bensin.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat Pengumpulan Data


1. Metode yang digunakan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, suatu
metode yang dapat memberikan gambaran suatu fenomena atau gejala dari suatu keadaan
tertentu baik yang berupa keadaan sosial, sikap, pendapat, maupun cara yang meliputi
berbagai aspek. Dengan metode deskriptif ini juga bisa di ketahui perbedaan-perbedaan dan
dapat menemukan sebab-sebab dari suatu akibat.

2. Pendekatan penelitian
Dalam penelitian, pendekatan penelitian yang kami gunakan adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif mengutamakan kualitas data. Oleh karena itu, dalam
penelitian kualitatif tidak digunakan analisis statistika.

3.2 Teknik Pengumpulan Data


Dalam penulisan artikel mesin diesel ini, untuk mendapatkan data dan informasi
yang diperlukan, saya menggunakan metode studi pustaka. Metode studi pustaka atau
literatur ini dilakukan dengan cara mendapatkan data atau informasi tertulis yang bersumber
dari buku-buku, koran, dan berbagai artikel di internet yang menurut saya dapat mendukung
penelitian ini.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Mesin Diesel kapal

Pada tahun 1893, mesin diesel pertama kali ditemukan oleh Rudolf Diesel dari
jerman. Sebelum adanya mesin diesel sudah ditemukan terlebih dahulu motor bakar yang
beroperasi dengan bahan bakar murah yang ditemukan oleh dua orang Amerika Meltz dan
Weiss. Mesin tersebut mengubah panas menjadi energi mekanik, disertai tekanan udara
murni dalam silinder.

Pada mesin diesel, udara didalam silinder dikompresikan hingga menjadi panas.
Bahan bakar diesel yang terbentuk kabut kemudian disemprotkan kedalam silinder. Oleh
karena itu, mesin diesel perbandingan kompresinya dibuat (15:1-22:1) lebih tinggi daripada
mesin bensin.

Mesin diesel kapal (Marine engine ) mempunyai perbedaan dengan Mesin Diesel
yang dipakai didaratan ( konvensional ). Kenapa untuk melayani operasional, perawatandan
perbaikan - perbaikan kecil mesin - mesin diesel kapal, para masinisnya (Engineer), ada yang
setingkat D3 ( ATT III ), S1 ( ATT II ), bahkan ada yang setara dengan S2 ( ATT I / M,Mar
Eng ). Sementara mesin - mesin diesel di daratan cukup dilayani oleh tamatan SMK s/d D3
mesin saja.

Prinsip kerja mesin diesel baik di darat maupun di kapal - kapal sama saja, tak
ada perbedaan yang signifcan. Sedangkan letak perbedaannya, antara lain ada pada:

1. Material mesin diesel kapal


Material mesin diesel kapal ( Marine engine ) dibuat lebih tangguh dari pada
mesin - mesin yang ada didarat, agar tidak mudah mengalami kerusakan / keropos bila
bersinggungan dengan air laut yang mempunyai kadar garam sangat tinggi dan mengandung
unsur - unsur mineral dan biota laut perusak lainnya. Untuk mengantisipasi terjadinya hal -
hal yang demikian, maka di lakukan tindakan - tindakan pada mesin diesel kapalsebagai
berikut :
Melakukan pengecatan " Anti Faulant ", memasang Zink Anode pada sea chest
air laut masuk dan pada cooler-cooler mesin diesel kapal untuk mencegah pengkeroposan
material.
Memasang system dosis Alkytrimethylene Diamenes, suatu cairan Anti faulant
Marine Chemical Corrosive Liquid Basic Organic, sebelum pendistribusian air laut dari sea
chest kepemakaian Sedangkan mesin diesel di darat tidak pernah mengalami hal - hal seperti
ini.

2. Operasional mesin diesel kapal


Selama pengoperasiannya ( Engine running ), mesin diesel darat hanya mendapat
getaran dari mesin itu sendiri ( internal vibration ), tidak pernah menerima getaran dari luar (
external vibration ), kecuali bila terjadi gempa bumi. Tidak demikian halnya dengan Marine
engine, selain mendapat getaran mesin itu sendiri, mesin - mesin diesel kapal juga
mendapatkan getaran perlawanan dari luar, karena guncangan dari badan kapal yang diterpa
ombak laut. Terjangan ombak yang begitu dahsyat terhadap badan kapal bisa membuat mesin
mengalami kemiringan sampai sekitar 60 derajat. Bila hal ini terjadi bisa mengakibatkan
mesin mengalami, sebagai berikut:
Tekanan lubricating oil akan mengalami kekosongan ( hampa ), bila hal ini
terjadi, maka tekanan lub. oil akan menurun ( lubricating oil low pressure ), mesin akan mati
secara mendadak ( Shutdown immediately ), atau mesin mengalami rusak berat ( break down
). Untuk mengantisipasi terjadinya hal - hal seperti ini, maka pada saat rancang bangun,
marine engine dipasang dua buah pipa isap lubricating oil kapal didepan dan dibelakang agak
kekanan, atau kekiri lub oil carter engine. Sehingga bila mesin kapal mengalami kemiringan
kearah manapun dan berapa derajatpun, lubricating oil tetap akan terisap oleh pompa minyak
lumas.Sedangkan pada mesin - mesin darat pipa isap minyak lumas cukup satu saja.

Buritan kapal terangkat, sehingga baling-baling terbebas dari tekanan air laut,
secara logika akan terjadi putaran lebih ( over speed ) pada mesin induk kapal, atau bisa juga
terjadi kerusakan yang fatal ( break down ). Tetapi hal sudah diantisipasi oleh perancang
Marine engine dengan memasang pengaman pada Governoor, agar putaran mesin tetap
menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu. Alat pengaman ini dikenal dengan nama "
Over Speed Trip ". Pada mesin - mesin darat tidak dilengkapi dengan peralatan ini.

3. Penempatan dan penataan mesin kapal ( Arrange & install )


Pemasangan dan penataan pada mesin-mesin di darat sangat simpel dan
sederhana. Buat pondasi mesin yang kokoh, rata, pasang engine mounting untuk perendam
getar, bila mesin beroperasi. Install, cooling system, exhause gas system, On / Off system,
memakai angin penjalan atau battery. Allignment dengan kebutuhan pemakaian, apakah
untuk pembangkit atau lainnya, selesai sudah. Pada saat pembangunan kapal, yang paling
sulit dan penuh kehati-hatian adalah pembuatan pondasi mesin kapal, terutama mesin induk
kapal, tidak cukup dengan rata saja, tetapi harus memperhitung semua yang berkaitan dengan
mesin kapal tersebut. Harus memperhitungkan titik berat kapal, kelurusan dengan gear
box, propulsion, momen - momen yang kemungkinan akan terjadi saat kapal telah beroperasi,
dan pengendalian mesin kapal untuk kebutuhan manouvering. Apalagi, bila kapal tersebut
memakai dua mesin ( twin engine ).
Ini semua belum termasuk, pengoperasian, perawatan dan perbaikan, bila kapal
telah dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Jadi, wajarlah bila engineer - engineer
kapal ada yang setara dengan S2 jenis mesin yang ada di kapal.
Agar kapal dapat bergerak dan berlayar diperlukan tenaga penggerak kapal.
Berbagai bentuk tenaga penggerak kapal seperti dayung, layer,mesin diesel kapal, mesin uap
bahkan tenaga nuklir di gunakan. Penggunaan motor diesel menempati urutan pertama
untuk kapal komersial selanjutnya pemakaian mesin uap lebih diutamakan untuk kapal –
kapal berukuran sangat besar seperti Super Tanker.
Pemakaian mesin diesel pada kapal lebih disenangi karena lebih praktis dalam
pengopersiannya, persiapan untuk menghidupkan sebuah mesin induk hanya diperlukan lebih
kurang satu jam, sedangkan untuk mesin uap diperlkan waktu tidak kurang dari empat jam.
Sebuah kapal dengan tenaga penggerak mesin diesel, biasanya mencantumkan
KM (kapal motor), MS (motor ship), MV (motor Vessel) sebelum nama kapalnya, Sedangkan
kapal dengan tenaga penggerak mesin uap mencantumkan KU (kapal uap), SS (steam ship)
sebelum menunjukan nama kapal tersebut.
Untuk jenis mesin – 2 yang terdapat disebuah kapal dibagi atas 3 kelompok yaitu :
a. Motor Induk / Main Engine.
Mesin kapal yang berfungsi sebagai tenaga penggerak kapal, nantinya mesin ini
bertugas untuk menggerakan propeller / baling – baling kapalyang selanjutnya mendorong air
dan menggerakan kapal maju atau mundur.
Kapal dengan satu propeller hanya mempunyai satu mesin induk sedangkan kapal
yang mempunyai dua propeller atau twin screw digerakan oleh dua mesin induk.
b. Diesel Generator atau D/G.
Nama lainnya Mesin Diesel / Motor Bantu / Generator adalah mesin yang
berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik. Ukuran motor bantu lebih kecil dari motor
induk. Dalam sebuah kapal terdapat lebih dari satu motor bantu yang masing – masing
berfungsi menggerakan generator. Generator akan menghasilkan listrik, nantinya digunakan
untuk penerangan dan power supply bagi pesawat – pesawat bantu lainnya. Apabila kapal
sandar didermaga maka mesin diesel kapal dapat juga digunakan untuk mengerakan mesin
bagi Derek / alat bongkar muat.
c. Pesawat Bantu/alat bantu kapal.
Pesawat Bantu/alat bantu kapal Adalah jenis mesin – mesin diatas kapalyang
berfungsi sebagai sarana penunjang pokok dalam pengoperasian kapal. Secara standar / biasa
untuk sebuah kapal akan ditemukan jenis – jenis pesawat Bantu yaitu :

Kompresor Udara / Air Compressor Fungsinya untuk menghidupkan motor


diesel / mesin Bantu karena pada umumnya mesin tersebut hanya dapat dihidupkan dengan
menggunakan tenaga / tekanan udara.

Pompa air pendingin / Cooling water pump Terdapat 2 jenis yaitu, pompa air
tawar pendingin (tertutup) adalah pompa yang mensirkulasikan air tawar pendingin dari
motor ke cooler untuk selanjutnya kembali ke motor, sedangkan pompa air laut pendingin
(terbuka) adalah pompa yang memasukan air laut ke dalam cooler yang selanjutnya mengalir
kembali ke laut.
 pompa ballast kapal/ Ballast pump yaitu Pompa air laut yang digunakan untuk
memompa air laut ke dalam / ke laur tangki – tangki ballast kapal.
 Pompa Sanitary / Sanitair pump yaitu Pompa air laut / tawar untuk mencukupi
kebutuhan air tawar bagi air pendingin mesin – mesin kapal, serta kebutuhan lainnya
seperti dapur, kamar mandi, WC dsb.
 Pompa Got / Bilge pump yaitu Untuk menampung air kondesat / air got yang
kemudian di buang keluar kapal.
 Pompa Dinas Umum yaitu Pompa yang digunakan untuk menggantikan fungsi pompa
air laut pendingin, pompa ballast atau pompa got.
 Pompa Transfer bahan bakar kapal digunakan untuk memindahkan bahan bakar dari
tangki ke tangki lainnya dan untuk persiapan bunker dan untuk pengaturan stabilitas
kapal.
 Separator Ada 2 jenis yaitu, purifier untuk memisahkan air dengan minyak dan
clearifier untuk memisahkan benda lainnya yang terbawa dalam minyak.
 Ketel Bantu / DonkeyBoiler Digunakan untuk menghasilkan uap air untuk
memanaskan bahan bakar sebelum masuk kedalam motor diesel. Uap tersebut dapat
dipergunakan untuk memasak, pemanas air mandi dan pemanas untuk air condition.
 Mesin Kemudi Untuk menggerakan daun kemudi ke kiri / kanan atau untuk
mempertahankannya pada posisi yang diinginkan.
 Mesin Jangkar atau Winch / Derek jangkar digunakan untuk menaikan / heave
up jangkar kapal sewaktu kapal akan berlayar.
 Winch / Derek untuk alat B/M Berfungsi untuk alat bongkar muat kapal sewaktu
kapal sandar di dermaga.

4.2 Keuntungan dan kerugian mesin diesel


1. Keuntungan mesin diesel
 Mempunyai efisiensi panas yang lebih besar, penggunaan bahan bakar lebih
ekonomis.
 Lebih tahan lama dan tidak memerlukan elektrik igniter.
 Momen tidak berubah pada rentang tingkat kecepatan yang luas.

2. Kerugian mesin diesel


 Tekanan pembakaran mksimum hampir dua kali mesin bensin, suara dan getaran
mesin diesel lebih besar karena tekanan pembakaran yang tinggi maka mesin diesel
harus dibuat dari bahan yang tahan terhadap tekanan tinggi dan harus mempunyai
struktur yang kuat, jauh lebih berat dan biaya pembuatannya lebih mahal.
 Memerlukan sistem injeksi yang presisi.
 Mempunyai kompresi yang tinggi dan membutuhkan gaya yang lebih besar untuk
memutarnya, perlu motor starter dan batery dengan kapasitas yang lebih besar.
Panas tinggi yang dimiliki oleh udara yang dikompresi sanggup untuk
membakar sendiri bahan bakar yang disemprotkan tadi. Namun karena hasil yang
kurang memuaskan, maka bahan bakar diganti dengan bahan bakar cair yang
disemprotkan kedalam silinder pada akhir langkah kompresi, dngan menggunakan
udara tekan.
Pada saat ini motor diesel tidak lagi menggunakan sistem penyemprotan
udara tekan, melainkan dengan digunakan pompa yang menyemprotkan bahan
bakar kedalam silinder melalui suatu iject.
4.3 Proses Kerja Dari Sebuah Mesin Diesel
Proses kerja dari sebuah mesin diesel terbagi menjadi 4 proses yaitu:
a. Intake Stroke
Pada langkah hisap, udara dimasukkan kedalam silinder. Piston membentuk
kevakuman didalam silinder. Piston bergerak kebawah dari titik mati atas ke titik mati bawah.
Katup hisap terbuka selama langkah ini dan katup buang tertutup.

b. Compression stroke
Udara yang dihisap kedalam silinder kemudian dimampatkan, posisi kedua katup
baik hisap maupun buang tertutup, sehingga suhunya naik.

c. Langkah kerja (Power Stroke)


Pada akhir langkah kompresi, bahan bakar disemprotkan kedalam ruang bakar.
Posisi kedua katup masih tertutup,karena suhu tinggi dari udara yang dimampatkan tadi maka
bahan bakar akan terbakar. Suhunya semakin tinggi diikuti dengan tekanannya tinggi juga
sehingga mendorong piston turun menuju TMB.

d. Langkah buang (Exhaust Stroke)


Setelah sampai di TMB piston bergerak naik menuju TMA, katup buang terbuka,
sehingga sisa gas hasil pembakaran dibuang keluar. Proses ini terjadi secara berulang-ulang
sehingga dihasilkan putaran yang kontinu.
Persyaratan agar mesin dapat bekerja dengan baik :

 Tekanan kompresi yang tinggi

 Waktu penyemprotan bahan bakar yang tepat.

 Campuran bahan bakar dan udara yang tepat.

5.1 Simpulan
Artikel ilmiah berisi tentang suatu masalah yang penyampaiannya disertakan
bukti dan argumentasi yang mendukung, kemudian diakhiri dengan ringkasan dan
kesimpulan. Artikel disajikan dengan bahasa yang relative sederhana, sehingga dapat
dimengerti oleh semua lapisan masyarakat. Pembuatan artikel ilmiah harus memperhatikan
langkah-langkah pembuatan artikel ilmiah yang benar. Tidak hanya sekedar menyampaikan
pendapat tetapi harus mencapai aturan-aturannya.
5.2 Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Rudolf_Diesel
http://mesinpokok.blogspot.com/2012/03/mesin-diesel-kapal.html#more
http://bestmechanic.blogspot.com/2012/11/dasar-teori-diesel.html
https://agussuwasono.com/artikel/teknologi/mechanical/426-teori-dasar-mesin-diesel.html
http://www.academia.edu/4695735/Judul_Penghemat_Bahan_Bakar_Solar_pada_Mesin_Die
sel_Dengan_Memanfaatkan_Air_Radiator_PREHEATER_MINYAK_SOLAR_DENGAN_E
FEK_PANAS_AIR_RADIATOR_UNTUK_MENINGKATKAN_EFISIENSI_MOTOR_BA
KAR_DIESEL
http://autobild.co.id/Tips/Knowledge/sejarah-mesin-diesel
Panjaitan M Subaja, 2004, Engine Colt Diesel FE 3 dan 4 Series, Yogyakarta.