You are on page 1of 13

TUGAS MAKALAH PERALATAN PEMBORAN & PRODUKSI:

PERALATAN SUMUR PRODUKSI ARTIFICIAL


GAS LIFT DAN SUCKER ROD PUMP

NAMA KELOMPOK:
Owen Konda 1601013
Renanda Ayu Faradilla 1601043
Tampan Fikran Nur Kahfi 1601199
Dadi Chandra Paembonan 1601231

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI


BALIKPAPAN
2019
1. TEORI DASAR
Sumur-sumur minyak yang laju produksinya (sudah) rendah atau bahkan sudah
tidak mampu mengalirkan minyak ke permukaan dapat ditingkatkan/ dihidupkan
kembali dengan menggunakan pompa atau gas (gas lift).
Pemakaian pompa dan gas lift pada suatu lapangan perlu memperhatikan :
- Karakteristik fluida yang akan diproduksi
- Kemiringan sumur
- Rata produksi yang diinginkan
- Kekompakan formasi
- Dan lain-lain
Khususnya yang akan dibicarakan di bawah ini adalah cara produksi dengan gas lift.
Gas lift merupakan salah satu metode pengangkatan buatan di samping metode
pemompaan, setelah cara sembur alam tidak dapat dilakukan.
1.1. Gas lift
Didefinisikan sebagai suatu proses/ metode pengangkatan fluida dari lubang
sumur dengan cara menambahkan gas/ menginjeksikan gas yang relative bertekanan
tinggi ke dalam kolom fluida.
Pada gas lift ini diperlukan tekanan injeksi yang tinggi, sehingga diperlukan juga
kompresor yang mempunyai horse power yang tinggi pula, oleh karenanya dibuat agar
horse power kompresor kecil tetapi tekanannya tinggi, yaitu dengan menggunakan
valve.
Syarat-syarat suatu sumur dapat di gas lift :
1. Tersedianya gas yang memadai untuk injeksi, baik dari reservoir itu sendiri
maupun dari tempat lain.
2. Fluid level masih tinggi
Pada proses gas lift, pengangkatan fluida didasarkan pada salah satu cara sebagai
berikut:
1. Pengurangan gradient fluida
2. Pengembangan dari pada gas yang diinjeksikan
3. Pendorongan fluida oleh gas
Proses dari gas lift dapat diterangkan dari sebagai berikut :
Cairan yang ada pada annulus ditekan oleh gas injeksi, akibatnya permukaan
cairan sekarang berada di bawah valve, pada saat ini valve yang pertama membuka
sehingga gas akan masuk pada tubing, sehingga density minyak turun akibatnya
gradient tekanan kecil dan minyak dapat diangkat ke atas.
Beberapa kelebihan gas lift dibandingkan dengan metode pengangkatan buatan
lain, yaitu :
1. Biaya peralatan awal biasanya lebih tinggi karena harus pakai kompresor
2. Pasir yang ikut terproduksi tidak merusak kebanyakan instalasi gas lift. Sifat pasir
abrasive.
3. Gas lift tidak tergantung/ dipengaruhi oleh design sumur. Mau vertical atau
directional well bisa dipakai.
4. Umur peralatan lebih lama.
5. Biaya operasi biasanya lebih kecil.
6. Ideal untuk sumur-sumur dengan GOR tinggi.
Meskipun demikian metode gas lift mempunyai batasan-batasan berikut :
1. Gas harus tersedia.
2. Sentralisasi kompresor sulit untuk sumur-sumur dengan jarak terlalu jauh.
3. Gas yang tersedia sangat korosif, kecuali diolah sebelum digunakan.
Peralatan Gas Lift
Peralatan gas lift dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu peralatan di atas
permukaan dan peralatan di bawah permukaan, dimana peralatan-peralatan tersebut
saling berhubungan dalam kelancaran proses gas lift. Peralatan-peralatan tersebut
dijelaskan seperti dibawah ini:
 Peralatan di Atas Permukaan
Peralatan di atas permukaan adalah peralatan instalasi gas lift mencakup :
1. Well Head
Well head sebenarnya bukan alat khusus bagi gas lift saja tetapi juga
merupakan salah satu alat yang digunakan pada metode sumur sembur alam,
dimana dalam periode masa produksi, alat ini berfungsi untuk menggantungkan
tubing atau casing disamping itu well head merupakan tempat dudukan x-mass
tree.
2. X-mass Tree
Gas diinjeksikan ke dalam annulus sesudah melalui motor yang berfungsi
mengatur jumlah gas yang masuk ke dalam sumur dan tekanan gas injeksi dijaga
agar konstan.

3. Stasiun Kompressor
Alat ini berfungsi untuk menaikan tekanan gas injeksi sesuai dengan
keperluan. Di dalam stasiun kompressor ini terdapat beberapa buah kompressor
yang dihubungkan dengan manifold. Dari stasiun kompressor ini, gas bertekanan
tinggi dikirim ke sumur-sumur gas lift melalui stasiun distribusi.
4. Stasiun Distribusi
Dalam menyalurkan gas injeksi dari kompressor ke sumur terdapat
beberapa cara, antara lain :
a. Sistem Distribusi Langsung
Di dalam stasiun ini terdapat system manifold yang menuju ke sumur-
sumur secara langsung, system ini kurang effisien karena mempunyai beberapa
kelemahan, anatra lain :
1. Penggunaan stasiun pusat compressor yang tidak rasionil karena kebutuhan
gas yang tidak sama untuk setiap sumur.
2. Pemakaian pipa transport gas yang panjang sehingga tidak ekonomis.
b. Sistem Distribusi dengan Pipa Induk
Sistem ini lebih ekonomis karena panjang pipa dapat diperkecil, tetapi
adanya hubungan langsung antara satu sumur dengan sumur lainnya, jika salah
satu sumur sedang diinjeksikan gas maka sumur lain sumur lain bisa terpengaruh.
c. Sistem Distribusi dengan Stasiun Distribusi
Sistem ini sangat rasional dan banyak dipakai, gas dibawa dari pusat
compressor ke stasiun distribusi kemudian dibagi ke sumur-sumur dengan
menggunakan pipa.
5. Peralatan Kontrol
Peralatan control yang digunakan dalam operasi gas lift adalah :
A. Choke control dan regulator
Choke control adalah alat yang berfungsi untuk mengatur jumlah gas yang
diinjeksikan, sehingga dalam waktu tertentu (saat valve terbuka) gas tersebut dapat
mencapai suatu harga tekanan yang dibutuhkan. Choke control ini dilengkapi pula
dengan regulator yang berfungsi untuk membatasi gas injeksi yang dibutuhkan. Bila
gas injeksi cukup maka regulator akan menutup. Choke control dan regulator hanya
khusus dipergunakan untuk intermittent gas lift.
B. Time cycle control
Alat ini berfungsi untuk mengontrol aliran gas injeksi dalam intermittent gas
lift untuk interval waktu tertentu. Time cycle control dapat diatur sesuai dengan yang
diinginkan.
 Peralatan di Bawah Permukaan
Peralatan di bawah permukaan dari metode gas lift tidak berbeda jauh dengan
peralatan pada sumur sembur alam, hanya pada gas lift ditambah dengan valve gas lift.
Secara umum pemakaian katup gas lift berfungsi:
1. Untuk mengosongkan sumur dari fluida workover atau kill fluid supaya injeksi gas
dapat mencapai titik optimum di dalam sumur.
2. Mengatur aliran injeksi gas ke dalam tubing baik proses unloading maupun proses
pengangkatan fluida.
Industri gas lift telah mengkategorikan katup gas lift tergantung pada mana yang
paling sensitive berpengaruh terhadap proses membuka katup (valve), apakah tekanan
casing (Ps) yang disebabkan oleh kolom gas injeksi dalam casing atau tekanan tubing
(Pt) yang ditentukan oleh kolom fluida dalam tubing. Sensitivitas ini ditentukan oleh
konstruksi mekanik dari katup gas lift. Tekanan yang bekerja pada bagian yang paling
luas dari katup (valves) merupakan tekanan yang paling dominan berpengaruh pada
valve tersebut.
Peralatan Gas Lift di Bawah Permukaan
1. Gas Lift Valve
Katup ini akan membuka dan menutup secara mekanis dan operasinya dipengaruhi
oleh tekanan injeksi gas, tekanan tubing, tekanan dome dan geometri peralatandalam
katup. Secara umum prinsip kerja katup gas lift ini adalah elemen yang merupakan alat
pengontrol untuk membuka dan menutup valve yang disebut bellow. Jika tekanan
tubing lebih besar dari pada tekanan bellow akan tertekan ke atas dan stem akan ditahan
diatas oleh pegas (spring) sehingga valve terbuka.
Berdasarkan pemasangannya, gas lift valve dapat pula dibedakan menjadi dua macam,
yaitu :
A. Standard gas lift valve, merupakan valve yang dipasang bersama-sama dengan
tubing dan tidak dapat diambil tanpa menggunakan tubing.
B. Retrivable gas lift valve, merupakan valve yang dipasang dengan menggunakan
metode wire line.
2. Check Valve
Gas Lift valve bekerja dengan akibat adanya pengaruh tekanan baik dari tubing
maupun casing annulus.
A. Harus dihindari aliran berlawanan arah.
B. Untuk mencegah hal ini maka dipasanng Reverse Flow Check Valve baik menjadi kesatuan
3. Mandrel
Merupakan suatu bagian dari rangkaian pipa produksi yang setiap satu valve,
memerlukan satu mandrel. Mandrel dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
conventional mandrel dan slide pocket mandrel

4. Standing Valve
Dipasang pada instalasi intermittent flow gas lift yang berfungsi sebagai penahan
fluida yang telah masuk ke dalam tubing agar tidak kembali lagi ke formasi pada saat
injeksi dihentikan.
1.2. SUCKER ROD PUMP
Merupakan metoda artificial lift tradisional dan biasanya digunakan pada sumur
dangkal kurang dari 200 meter, Menggunakan pompa elektrikal-mekanikal yang
dipasang di permukaan. Menggunakan prinsip Katup searah (check Valve), pompa ini
akan menggangkat fluida formasi ke permukaan. Karena pergerakan naik turun seperti
menggangguk, pompa ini dikenal juga dengan julukan Pompa Angguk.
Keuntungan dan Kerugian Pompa Sucker Rod
Kelebihan Pompa Sucker Rod adalah :
1. Tidak mudah rusak.
2. Mudah diperbaiki di lapangan.
3. Fleksibel terhadap laju produksi, jenis fluida dan kecepatan bisa diatur.
4. Keahlian orang di lapangan sangat baik.
5. Dari jauh akan terlihat tidak ada gerakan kalau pompa mati.
6. Harganya relatif murah.
Kekurangan Pompa Sucker Rod adalah
1. Berat dan butuh tempat luas, transportasi sulit.
2. Tidak baik untuk sumur miring / off shore.
3. Butuh unit besar sekali untuk laju produksi besar dan sumur dalam.

Penjelasan mengenai komponen alat ini adalah sebagai berikut :


Prinsip kerja alat ini terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama adalah sumber tenaga, kedua
adalah bagian permukaan dan ketiga adalah bagian bawah permukaan
1. Prime Mover
Fungsinya dari prime mover adalah mengalirkan sumber tenaga yang dapat
menggerakkan pompa sehingga fluida dapat naik ke permukaan.
2. Surface Equipment
Fungsi dari surface equipment adalah memindahkan sumber energi dari prime
mover ke unit peralatan pompa di dalam sumur sehingga gerak putar prime mover
diubah menjadi gerak naik turun sucker rod dan diperoleh kecepatan pompa yang
diinginkan.
Adapun bagian-bagian dari surface equipment:
a. Gear reducer, merupakan rangkaian roda gigi yang berfungsi untuk
mengurangi kecepatan prime mover. Hal ini penting karena kecepatan putar
motor pada prime mover akan mempengaruhi kecepatan pompa.
b. V-Belt, merupakan sabuk untuk memindahkan gerak dari prime mover ke gear
reducer.
c. Crank, fungsinya menghubungkan crank shaft pada gear reducer dengan
counter weight untuk mengatur stroke length dengan mengubah posisi dari
pitman bearing
d. Counter weight, berfungsi sebagai menyeimbangkan gerakan saat upstroke dan
downstroke dengan cara menyimpan tenaga prime mover pada saat down
stroke dimana tenaga yang diperlukan minimum dan mengeluarkan tenaga
pada saat upstroke sehingga terjadi perataan pembebanan.
e. Pitman, fungsinya untuk menghubungkan pitman bearing dengan walking
beam yang berfungsi mengubah gerak putar menjadi gerak naik turun.
f. Walking beam, fungsinya untuk meneruskan gerak naik turun yang dihasilkan
oleh rangkaian pitman-counter weight-crank ke rangkaian yang ada di dalam
sumur melalui polished rod.
g. Carrier bar, fungsinya sebagai tempat bergantungnya polished rod dan
rangkaian sucker rod yang ada di dalam sumur
h. Polished Rod, merupakan bagian teratas dari rangkaian rod yang muncul di
permukaan dan berfungsi menghubungkan antara rangkaian rod di dalam
sumur dengan peralatan-peralatan dipermukaan
i. Stuffing box, merupakan tempat kedudukan polished rod sehingga polished rod
dapat naik turun dengan bebas dan berfungsi untuk mengisolasi sumur dan
mencegah agar fluida tidak ikut keluar waktu naik turunnya polished rod.
j. Sampson Post, sebagai penyangga walking beam.
k. Briddle , tempat menggantungkan carrier bar.
l. Flow Tee, untuk mengalirkan fluida ke flowline.
m. Flow line, fungsinya sebagai tempat mengalirnya fluida hasil pemompaan.
3. Subsurface Equipment
Peralatan bawah permukaan berfungsi sebagai pompa untuk mengangkat fluida
pada formasi ke permukaan. Bagian peralatan bawah permukaan sebagai berikut :
a. Working Barrel merupakan tempat dimana plunger dapat bergerak naik turun
dan berfungsi sebagai tempat menampung fluida sebelum fluida diangkat
plunger pada saat upstroke.
b. Plunger merupakan bagian dari pompa yang terdapat di dalam working barrel
yang berfungsi untuk mengangkat fluida dari reservoir ke permukaan .
c. Travelling Valve merupakan katup yang berada di bawah plunger yang
bergerak sesuai dengan pergerakan plunger, dimana posisinya akan terbuka
pada saat downstroke sehingga fluida dapat masuk ke dalam plunger.
Posisinya akan tertutup pada saat upstroke sehingga dapat menahan fluida
yang sudah masuk ke dalam plunger agar tidak keluar.
d. Standing Valve merupakan katup yang berada pada bagian bawah working
barrel dimana posisinya akan terbuka pada saat upstroke sehingga fluida dari
dalam sumur dapat masuk ke dalam working barrel. Posisinya akan tertutup
pada saat downstroke sehingga menahan fluida yang sudah masuk ke dalam
working barrel agar tidak keluar.
e. Sucker rod merupakan batang besi yang menjadi tempat bergantungnya
plunger dan berfungsi meneruskan gerak naik turun dari surface equipment ke
unit pompa di bawah permukaan. Dalam perencanaan sucker rod diusahakan
agar rod yang dipakai ringan sehingga untuk kedalaman yang besar pemakaian
rod harus dikombinasikan (tapered rod string).
f. Seating nipple merupakan tempat dudukan dari standing valve sehingga
standing valve tidak terlepas pada saat upstroke atau downstroke.
g. Tubing berfungsi mengalirkan fluida dari dasar sumur ke permukaan dimana
fluida mengalir melalui ruang antar sucker rod dan tubing
Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari sucker rod pump (Gambar 4) adalah sebagai berikut:
1. Pada saat downstroke dimana plunger bergerak turun ke bawah sehingga
posisi traveling valve semakin mendekati standing valve. Hal ini
mengakibatkan tekanan pada ruang antara traveling valve dan standing valve
lebih besar dibandingkan tekanan di atas traveling valve dan di bawah
standing valve sehingga ball pada traveling valve akan terdorong ke atas
(traveling valve terbuka) sedangkan ball pada standing valve akan turun ke
bawah (standing valve tertutup). Dengan demikian fluida yang ada pada
ruang antara traveling valve dan standing valve akan masuk ke dalam plunger.
2. Pada saat upstroke dimana plunger bergerak naik ke atas sehingga posisi
traveling valve semakin menjauh dari standing valve. Hal ini mengakibatkan
tekanan di atas traveling valve semakin besar dan ball pada traveling valve
akan terdorong ke bawah (traveling valve tertutup). Dengan demikian fluida
tidak bisa keluar dari plunger dan ikut terangkat ke atas menuju tubing.
Dikarenakan tekanan pada ruang antara traveling valve dan standing valve
lebih kecil dibandingkan tekanan di bawah standing valve maka ball pada
standing valve akan naik ke atas (standing valve terbuka) didorong oleh fluida
yang ada di dalam sumur sehingga fluida tersebut mengisi ruang antara
traveling valve dan standing valve.