You are on page 1of 1

RADAR SURABAYA O RABU, 27 FEBRUARI 2013 HALAMAN 2

OPINI Lawan Pengaruh Globalisasi dengan Wawasan Kebangsaan


Penegakan Hukum Kunci SURABAYA–Sebanyak
500 pemuda dari berbagai
dan Olah Raga (Dispora)
Kota Surabaya Sigit Sugi-
lisasi. Diharapkan dengan
wawasan kebangsaan dan
ngakses informasi maupun
memantau kejadian terkini
bangsaan, mental, dan ke-
imanan itu, ke depan me-
Tumbuhnya Wawasan Kebangsaan elemen organisasi kepe-
mudaan digembleng ten-
harso mengatakan, ke 500
pemuda itu diberi wawasan
pembinaan mental para ge-
nerasi muda, mereka bisa
lewat internet. Jika para
pemuda tidak diberi bekal,
reka diharapkan bisa
menjadi pioner untuk me-
tang wawasan kebangsaan kebangsaan di gelanggang membentengi diri dari pe- dikhawatirkan tidak ada lagi ngedepankan nilai-nilai

A
langkah indah-
nya negeri ini dan mental spiritual. Mere- remaja Dispora di kawasan ngaruh negatif globalisasi,” filter untuk mereka dan bisa kebangsaan. Termasuk bisa
bila semuanya ka mendapatkan pembi- Tambaksari. Selain wawa- ujar Sigit Sugiharso ke- terpengaruh arus globalisasi. menjaga kondisi stabilitas
hidup serba naan mental generasi muda san kebangsaan, mereka pada Radar Surabaya, Se- ”Setidaknya dengan pem- hubungan antar pemuda.
teratur. Hukum menjadi itu sebagai langkah antisi- juga diberi pembinaan men- lasa (26/2). bekalan itu mereka bisa “Agar tidak ada kejadian
panglima dan penega-
kan hukum berjalan pasi agar membentengi diri tal spiritual. “Langkah ini Diakuinya, dengan gen- memfilter sendiri,” tegasnya. tawuran massa antar
secara konsisten. Semua dari arus globalisasi. dilakukan sebagai antisi- carnya arus globalisasi pa- Dari 500 pemuda yang pemuda di Kota Surabaya,”
orang tidak perlu Kepala Dinas Pemuda pasi gencarnya arus globa- ra pemuda bisa leluasa me- digembleng wawasan ke- harap Sigit. (rud/opi)
memertanyakan ka-
pabilitas lembaga
penegakan hukum
ataupun aturan
perundang-undangan- Oleh:
nya. Mereka yang BAMBANG ARIYANTO, SH, MH*
terjerat kasus pidana
korupsi misalnya, tidak
perlu memberikan penegakan hukum

Belajar Bikin Ekstasi Asli Rp 400 Ribu, Racikan Rp 100 Ribu


sinyalemen bahwa menjadi kunci bagi
kasusnya berkait erat tumbuhnya peradaban
dengan tekanan politik. bangsa dan meningkat-
Atau muncul istilah nya wawasan kebang-

di Lapas Pamekasan
intervensi dan kons- saan di masyarakat. DICETAK DI KLAKER... Sinambela, Selasa (26/2). lam sehari membuat 200
pirasi. Mereka memaha- Seperti yang diungkap- Dengan modal sebesar butir ekstasi yang akan
mi bila hukum sudah kan Ketua Mahkamah Dari penangkapan itu, itu, selanjutnya residivis dijual per butirnya Rp 100
berjalan on the track, Konsitusi Mahfud MD, polisi menyita barang Reskoba Polda Jatim ter- ribu. Dengan begitu omzet
sebagai warga negara bahwa penegakan
hukum merupakan tolok SIAPA sebenarnya Su- tersebut lalu mencari pin- bukti ekstasi tanpa logo kait kasus serupa itu mem- yang didapatkan Suyitno
mereka harus mema- warna hijau yang sudah beli bahan-bahan pembuat mencapai Rp 20 juta. Bah-
tuhinya dan menjalani ukur bangsa ini menjadi yitno, mungkin orang tak jaman uang hingga men-
proses hukum yang ada. maju atau mundur. percaya kalau dia paham dapatkan modal Rp 1 juta. siap jual sebanyak 175 bu- ekstasi. Di antaranya am- kan, ekstasi buatan Suyit-
Itulah harapan yang Atau dalam pemikiran dan mampu membuat eks- “Saya membuat ekstasi tir. Sedangkan, dari peng- phethamine, sabu, pil kina no tersebut akan dijual
selalu muncul bagi Talcott Parsons menge- akuan Suyitno, 25 butir dan alkohol 95 persen. kembali oleh pengedarnya
nai teori sistem, hukum tasi meski kualitasnya bi- sebulan lalu, dan telah
segenap rakyat lainnya sudah terjual. Selajutnya, tersangka me- mencapai Rp 350 ribu hing-
Indonesia. Namun, merupakan salah satu asa. Pria yang pernah ma- mendapatkan uang dari
sub-sistem. Jika suk penjara, juga gara-ga- hasil penjualan tersebut. Meski pembuatan pil ge- racik dan mencetak bahan ga Rp 400 ribu per butir.
hingga saat ini harapan
itu masih belum wawasan kebangsaan ra narkoba itu mengaku Karena banyak yang butuh dek tersebut sangatlah se- tersebut di lubang klaker Padahal kualitasnya tak se-
terwujud. Di tengah merupakan falsafah mendapatkan ilmu terse- ekstasi, dagangan saya se- derhana, tapi penjualan- (tempat gotri di gir motor) dahsyat yang berlogo. “Pem-
situasi ekonomi dan hidup atau merupakan nya laris manis bak kacang hingga terbentuk tablet beli kan tidak tahu kalau
kerangka/peta penge- but karena iseng. Dari ke- benarnya laris hingga
politik yang stabil, isengan itu, Suyitno yang tertangkap polisi,” ujarnya. goreng. Terkait kepiawaian yang dicetak tersangka ekstasi itu racikan sendiri.
dunia hukum di negeri tahuan yang mendorong
terwujudnya tingkah ditangkap, Senin (25/2) se- Suyitno lalu membeber- membuat ekstasi, pria ber- hingga ratusan butir. “Se- Terpenting, ekstasi yang
ini masih terus gaduh.
Gaduh oleh berbagai laku dan digunakan kitar pukul 13.30, mampu kan cara pembuatan eksta- kumis tebal itu menda- ngaja tak diberi logo agar ditenggak tersebut mampu
macam kasus hukum sebagai acuan bagi membuat ratusan pil ge- si. Awalnya, dia membeli patkannya secara otodidak. pembelinya akan mengira membuat mereka fly, maka
yang melibatkan tokoh seseorang untuk meng- “Dalam pengakuannya ekstasi jenis baru. Padahal akan dibelinya meski
hadapi dan meng- dek. “Waktu di penjara sa- amphetamine per pul se-
politik, pejabat negara, ya berkenalan dengan harga Rp 500 ribu, pil kina kepada penyidik, tersang- aslinya itu racikan dari pil mahal,” kata Sudamiran.
hingga ketidakadilan interpretasi lingkungan-
nya, maka jelaslah teman hingga berbagi pe- seharga Rp 6 ribu per 10 ka hanya belajar dari te- kina. Proses terakhir buti- Akibat tindakannya itu,
hukum yang dialami
oleh masyarakat kecil. bahwa wawasan ngalaman. Dia ngomong butir. Dia membutuhkan mannya ketika sama-sama ran ektasi akan dikering- Suyitno dijerat pasal 113
Bagi pejabat dan tokoh kebangsaan akan bisa membuat (ekstasi), sekitar 450 butir. Selanjut- berada di penjara waktu di kan dengan lampu sebesar ayat (2) dan sub pasal 114
politik, mereka tumbuh sesuai penga- meski hanya berbekal per- nya, tersangka juga mem- Lapas Pamekasan tahun lima watt,” imbuh mantan ayat (2) sub pasal 112 ayat
berusaha berjuang agar laman yang dialami oleh 2009 lalu. Setelah bebas, Kapolsek Genteng tersebut. (2) UU RI nomor 35 tahun
seseorang. Pengalaman alatan sederhana. Yang beli sabu seharga Rp 200
bisa terhindar dari tersangka coba-coba mem- Meski mengandalkan 2009 tentang Narkotika.
hukuman. Tapi di sisi ini merupakan penting ada modalnya,” ribu. “Pil kina itu saya tum-
lain, bagi masyarakat akumulasi dari proses aku Suyitno di mapolres, buk, terus dicampur sabu buat ekstasi tersebut dengan peralatan sangat sederha- Ancaman hukumannya di
kecil berharap agar tataran sistem lainnya, Selasa (26/2). dan amphetamine serta al- modal hanya Rp 1 juta,” tan- na, tersangka sanggup da- atas 15 tahun penjara. (opi)
hukum bisa tegas tanpa yakni sub-sistem sosial, Terbayang mendapatkan kohol. Diaduk, hingga se- das Kasatreskoba Polresta-
pandang bulu. sub-sistem ekonomi, bes Surabaya AKBP Suda-
sub-sistem politik dan uang besar tanpa harus lanjutnya dicetak di tempat
Membangun hukum bekerja keras, membuat gotri motor,” akunya. miran didampingi Waka-
sebagai panglima sub-sistem hukum.
Dari perspektif inilah, Suyitno bertekad untuk da- Proses terakhir, ratusan satreskoba Kompol Leonard
bukanlah hal yang
mudah. Di negara- pengalaman masyarakat pat membuat sendiri eks- ekstasi yang dicetak satu-
negara maju, terhadap ketidakadilan tasi lalu dijual ke teman- satu tersebut dikeringkan
membangun hukum sosial, ketidakadilan
ekonomi dan ketidaka- temannya. Maka dari itu, dengan lampu 5 watt hingga
membutuhkan waktu selepas dari penjara pria mengeras. (nov/opi)
ratusan tahun dan dilan hukum yang
sangat tergantung dari dialaminya akan mem-
perkembangan berikan penilaian
masyarakatnya. Tapi terhadap semangat
ada juga yang tidak wawasan kebangsaan
membutuhan waktu yang ada di dalam
hingga ratusan tahun. dirinya. Jika nilai-nilai
Singapura adalah ketidakadilan ini sering
contohnya. Di bawah mendominasi, maka bisa
kepemimpinan Perdana dipastikan semangat
Menteri Lee Kwan Yee, wawasan kebangsaan
Singapura menjadi yang tumbuh di
negara yang tertib dan masyarakat juga rendah.
masyarakatnya taat Lain halnya bila
terhadap hukum. Lee ketidakadilan ini dapat
Kwan Yee yang diselesaikan dengan baik
merupakan mantan dan memiliki kepastian
pengacara berhasil hukum, wawasan
membangun hukum kebangsaan akan
sebagai panglima hanya tumbuh dengan dina-
dalam waktu puluhan mika yang tinggi. Hal ini
tahun. Ketaatan hukum menunjukkan memba-
warga Singapura ngun wawasan
berjalan di semua kebangsaan di tengah-
bidang. Mulai dari hal tengah masyarakat
kecil, seperti membuang Indonesia yang plural,
sampah di tempatnya harus diimbangi dengan
dan berjalan kaki di menghilangkan segala
trotoar. Ketaatan bentuk ketidakadilan
hukum membawa yang ada di masyarakat.
implikasi pada Termasuk memberikan
terwujudnya karakter keadilan dan kepastian
masyarakatnya dan hukum dalam setiap
kebanggaan sebagai persoalan yang ada di
warga negara masyarakat. (*)
Singapura.
Lalu, bagaimana
dengan Indonesia.
Bisakah kita
membangun hukum Penulis adalah:
dengan jangka waktu Wakil Ketua
singkat. Dengan Formacida Jatim dan
komitmen yang tinggi,
cita-cita itu bisa Dosen FH Universitas
terwujud. Sebab, Hang Tuah

PIMPINAN REDAKSI/PENANGGUNG JAWAB: Sumarno. WAKIL PEMIMPIN REDAKSI: Nofilawati Anisa. REDAKTUR: HM Choirul Shodiq, Wijayanto, Rahmat Adhy Kurniawan, Yuli Setiyo Budi, Hendarmono Al Sidarto, Asikin, Ahmad Syaiku, Lambertus
Lusi Hurek, Heti Palestina Yunani, Risang Bima Wijaya. ASISTEN REDAKTUR: Agung Nugroho, Eko Yudiono, Rochman Arief. SEKRETERIS REDAKSI: Khurotul Chofifah. STAF REDAKSI SURABAYA: M Nasaruddin Ismail, M Zainuddin, Roudlon, Novi
Triawan, Lainin Nadziroh, Wahyu Setya Darmawan, Rudianto, Umi Hani Akasah, Nurista Purnamasari. FOTOGRAFER: Abdullah Munir, Andy Satria, Ahmad Khusaini. BIRO JAKARTA: Poeji Rahardjo (Kepala), M Nur Asikin. SIDOARJO: Jaini, Agung
Nugroho, Vega Dwi Ariesta, Satria Nugraha. GRESIK: Aries Wahyudianto, Ratno Dwi Santo, Sandhi Nurhartanto, Januar Adi Sagita. IKLAN: Lilik Widyantoro (Manager), M Afik MS, M Fail, Bambang Sukoco, Agoes Hari Noeswantoro, Budi Susetyo, Rini
Sujarwo, Suyadi. IKLAN BARIS: Dwi Retno Wahyuningtyas, Dian Respati, Winarti. PEMASARAN: Ferry Sujimat (Manager), Ibnu Rusydi Sahara, Heri Santoso, Irano, Fanny Ferdyan, Indra Wijanarko. LANGGANAN: Rp 65.000/bulan (Surabaya, luar kota plus ongkos kirim);
TARIF IKLAN: Halaman 1: Rp 60.000/mm kolom, Halaman 3: Rp 50.000/mm kolom, Full Colour: Rp 42.500/mm kolom, Black White: Rp 35.000/mm kolom. ALAMAT REDAKSI: Lantai IV Graha Pena, Jl Ahmad Yani 88 Surabaya, Telp: (031) 8202277, 8202278. Fax: (031)
8202191, IKLAN: (031) 8202017, 8202280, 8202290, PEMASARAN: (031) 8202282, 08123180201, JAKARTA: Lantai VII Graha Pena, Jl Kebayoran Lama 12 Jakarta Selatan, TELP (021) 53699523, FAX (021) 53661854. GRESIK: Jl Pahlawan No. 34 Gresik, Telp: (031)
3978740, Fax: (031) 3970230. SIUPP: Nomor 073/MENPEN SIUPP/47/1986, tgl 8 Maret 1986, PENERBIT: PT. Radar Media Surabaya. DIREKTUR: Leak Kustiya. WAKIL DIREKTUR: Lilik Widyantoro.

REDAKSI MENERIMA:
Artikel oipini dan surat pembaca. Kirimkan ke Radar Surabaya, Gedung Graha Pena Lt IV jalan A. Yani 88 Surabaya. Atau faksimili (031) 8202191. E-mail: radarsurabaya@yahoo.com.
Semua surat harus dilengkapi identitas, foto, NPWP. Sertakan nomor telepon bila mengirim lewat e-mail. Panjang naskah opini kurang lebih 1.500 karakter atau 250 kata/words.

layouter: nuryono