Вы находитесь на странице: 1из 27

PEDOMAN ETIK RUMAH SAKIT

DI RS. MARDI WALUYO METRO

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Rumah sakit adalah bagian dari suatu lembaga pelayanan kesehatan yang melakukan rawat
jalan, inap, pemeriksaan penunjang dan sebagainya, yang meliputi usaha-usaha promotif,
preventif, kuratif dan rahabilitatif. Untuk menjalankan roda organisasi rumah sakit dengan baik,
diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan sarana serta prasarana yang memadai.
Oleh karena itu perilaku tenaga medis, paramedis, non medis harus baik serta dapat menjaga
dan mempertahankan etik, baik etik rumah sakit, etik kedokteran maupun etik keperawatan,
serta hukum kesehatan pada khususnyadan etik hukum lain pada umumnya.

B. PENGERTIAN
Etik adalah suatu norma atau nilai (value) mengenai sikap batin dan perilaku manusia. Oleh
sebab itu, sifatnya masih abstrak, belum tertulis. Kalau sudah tertulis disebut sebagai Kode
Etik.
Karena norma tergantung pada tempat, situasi dan kurun waktu tertentu, maka etik sebagai
suatu norma/nilai dapat berubah-ubah. Jika tempatnya berlainan, maka etiknya dapat pula
berlainan, karena akibat pengaruh sejarah, kultur serta adat istiadat setempat. Demikian juga,
walaupun tempatnya sama, tetapi kurun waktunya berlainan, norma/etik dapat pula berlainan.
Kode etik berarti : himpunan norma-norma yang disepakati dan ditetapkan oleh dan untuk para
pengemban profesi tertentu. Dalam hal ini profesi kesehatan perumah sakitan, kedokteran,
perawatan dan sebagainya.
Kode Etik bersifat : apa yang kita cita-citakan. Bukan menguraikan akan apa adanya sekarang
ini. Oleh karena sifatnya yang normatif, maka perumusan suatu Kode Etik harus memakai
istilah-istilah : harus, seharusnya, wajib, tidak boleh, anjuran atau larangan, sehingga diketahui
apa yang dianggap baik atau buruk sebagai kewajiban atau tanggung jawab sifat-sifat
kehidupan yang baik. Bahkan dalam bidang etik kesehatan masalahnya lebih serius, sehingga
pilihannya bisa antara baik atau lebih baik atau antara buruk atau lebih buruk.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 1


C. LANDASAN HUKUM
Pada waktu itu boleh dikatakan bahwa tidak ada bidang kehidupan masyarakat yang tidak
tersentuh oleh hukum, demikian juga halnya dengan rumah sakit. Pertambahan/perpindahan
penduduk yang cepat, perkembangan Iptek (terutama di bidang medis), masuknya kebudayaan
asing, memberikan dampak terhadap norma serta pandangan hidup masyarakat Indonesia,
sehingga masyarakat sudah mulai mengetahui hak dan kewajibannya. Akibat hal itu, maka
pengelolaan rumah sakit, tidak boleh lagi hanya didasarkan atas norma-norma etis dan moral
saja, tetapi harus berpedoman pada peraturan yang lebih pasti, yaitu : Hukum Rumah Sakit
(Hospital Law).

Untuk mengatasi masalah etik yang dihadapi oleh semua pihak yang ada di rumah sakit, maka
di setiap rumah sakit dibentuk : Komite Etik Rumah Sakit, yang akan berusaha untuk
menyelesaikan masalah-masalah etik yang timbul di dalam rumah sakit. Demikian juga di
dalam RS. Mardi Waluyo, telah dibentuk Komite Etik Rumah Sakit Mardi Waluyo.

Komite Etik RS. Mardi Waluyo harus peka terhadap permasalahan etik yang timbul di dalam
rumah sakit, dan harus menyadari bahwa segala informasi yang didapat dari pasien dan tentang
pasien (dari Rekam Medis) merupakan previledge information. Oleh karena itu, kerja Komite
Etik RS. Mardi Waluyo haruslah dilandasi oleh kerangka kerja etis.

Sebagai landasan Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo Metro adalah :
1. Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila.
2. United Nation Universal Declaration of Human Right, tahun 1948 tentang :
a. Hak atas pemeliharaan kesehatan.
b. Hak untuk menentukan nasib sendiri.
3. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1966, tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.
4. Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1981, tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat
Analogis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia.
5. Kepmenkes RI Nomor 434/Menkes/SK/X/1983, tentang Berlakunya Kode Etik Kedokteran
Indonesia bagi para Dokter Indonesia.
6. Kepmenkes RI Nomor 924/Menkes/SK/XII/1986, tentang Berlakunya Kode Etik Rumah
Sakit Indonesia bagi Rumah Sakit di seluruh Indonesia.
7. Permenkes RI Nomor 159b/Menkes/Per/II/1989, tentang Rumah Sakit.
8. Permenkes RI Nomor 575/Menkes/Per/IX/1989, tentang Persetujuan Tindakan Medis.
9. Permenkes RI Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989, tentang Rekam Medis Medical Record.
10. KUHAP pasal 170.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 2


11. Undang-undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
12. Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996, tentang Tenaga Kesehatan.
13. Draft Surat Edaran Dirjen tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah
Sakit.
14. Keputusan Konggres VI PERSI tanggal 21-25 Nopember 12993 di Jakarta tentang Kode
Etik Rumah Sakit Indonesia.
15. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga YAKKUM.

D. FUNGSI
Fungsi Komite Etik RS. Mardi Waluyo Metro adalah :
1. Memberi nasehat atau konsultasi melalui diskusi dan berperan dalam menilai
peraturan/kebijakan rumah sakit serta menilai cara penyelesaian masalah dalam rumah
sakit.
2. Berhubungan dengan semua pihak di dalam rumah sakit secara khusus dan memberikan
saran pada kasus-kasus yang terjadi.
3. Melaksanakan sosialisasi dan pendidikan etik rumah sakit kepada semua pihak.

E. TUGAS
Tugas Komite Etik RS. Mardi Waluyo Metro adalah untuk membantu tenaga medis,
perawat/penunjang dan non medis serta pihak-pihak lain dalam menghadapi masalah-masalah
etik dalam rumah sakit.

F. MANFAAT
Manfaat Komite Etik RS. Mardi Waluyo Metro :
Komite Etik merupakan sumber informasi yang relevan untuk mengambil keputusan yang
menyangkut etik serta penyelesaian masalah etik rumah sakit. Mengidentifikasi masalah-
masalah etik, sehingga Komite etik sekaligus dapat memberikan gambaran tentang cara
penyelesaiannya. Komite Etik dapat memberikan rekomendasi kepada Direksi Rumah Sakit
apakah suatu masalah etik diteruskan atau tidak ke pengadilan.

G. PEDOMAN ETIK KOMITE ETIK RS. MARDI WALUYO METRO


Agar semua Komite Etik RS. Mardi Waluyo dapat bekerja melaksanakan tugasnya, maka ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Ada kerangka kerja etik yang telah disepakati oleh semua pihak (Organ YAKKUM,
Direksi dan Staf Medis Fungsional RS. Mardi Waluyo).
2. Adanya legitimasi/pakar dalam keahliannya masing-masing dan anggota dari masyarakat
awam yang mewakili pasien.
Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 3
3. Keputusan Komite Etik dianggap sah apabila disetujui 50% + 1 anggota.
4. Komite bertanggungjawab kepada Direktur. Keputusan Komite Etik diteruskan kepada
Direktur untuk ditindaklanjuti.
5. Anggaran Belanja Komite Etik, dibebankan kepada Anggaran Belanja RS. Mardi Waluyo
Metro.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 4


BAB II
ETIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN DATA PASIEN/REKAM MEDIK

A. Kepemilikan Data Pasien/Rekam Medik di RS. Mardi Waluyo


Data pasien sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749a/Menkes/Per/XII/1989,
adalah : data pasien/rekam medik yang terdiri dari berkas berbentuk catatan, dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien, pada
sarana pelayanan kesehatan. Fisik data pasien yang berbentuk rekam medik, sebagaimana
diuraikan di atas adalah milik RS. Mardi Waluyo, sedangkan isi dari data rekam medis tersebut
adalah milik pasien.

B. Kebenaran Data
Data rekam medik merupakan alat informasi dan komunikasi seorang pasien kepada
dokter/perawat yang merawatnya atau pihak kepolisian, pihak peradilan maupun terhadap pihak
keluarga pasien.
Oleh sebab itu, semua pihak (dari RS. Mardi Waluyo) yang bertugas untuk mengisi membuat
rekam medik tersebut, harus jujur dan benar mengisi data pasien, hasil pemeriksaan,
pengobatan, tindakan, frekuensi konsultasi, pembiayaan dan sebagainya, agar tidak
menimbulkan kerugian baik kepada pihak rumah sakit (sebagai penyelenggara) maupun kepada
pasien/keluarganya/masyarakat (sebagai konsumen).

C. Penyimpanan Data
Karena data pasien/rekam medik tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting bagi banyak
pihak, maka data pasien/rekam medik tersebut harus disimpan di tempat yang aman dan baik,
agar tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu (pihak rumah sakit/dokter/maupun pihak pasien
dan keluarganya). Untuk itu dibuat prosedur tetap cara pengisian, penyimpanan dan
pengambilan data pasien/rekam medik tersebut.

D. Etik dan Perilaku Tenaga Medik Rumah Sakit


Sesuai dengan keahliannya, maka seorang dokter merupakan petugas rumah sakit yang paling
besar andilnya dalam mengisi data/rekam medik baik bagi pasien yang sedang dirawat maupun
bagi pasien yang sedang berkonsultasi. Oleh sebab itu maka dokter dalam mengisi rekam medis
harus benar-benar berpegang teguh pada hal-hal yang diketahuinya, sesuai dengan ilmu
pengetahuan yang didapatnya, jujur dan selalu berpegang teguh pada sumpah jabatannya
sebagai seorang dokter.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 5


E. Etik dan Perilaku Tenaga Perawat dan Penunjang Rumah Sakit
Selain dokter, maka perawat dan penunjang rumah sakit merupakan petugas rumah sakit yang
memiliki andil besar dalam mengisis data pasien/rekam medik tersebut. Oleh sebab itu, mereka
dalam mengisi data pasien/rekam medik harus sesuai dengan kewenangan yang diberikan
kepada mereka, sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Juga dalam mengisi data-
data tindakan/perencanaan asuhan keperawatan, harus sesuai dengan prosedur yang telah
ditetapkan. Jika yang mengisi data rekam medis itu seorang siswa perawat yang masih dalam
pendidikan, maka selain harus memenuhi kriteria tersebut di atas seluruh data yang mereka
cantumkan harus diketahui/dibawah pengawasan atasan perawat.

F. Etik dan Perilaku Tenaga Administrasi Rumah Sakit


Salah satu petugas rumah sakit yang juga mempunyai andil dalam pengisian data pasien/rekam
medik adalah tenaga administrasi rumah sakit, khususnya pengisian data-data non medis, sejak
pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Khususnya pencatatan data biaya yang harus dibayar
oleh pasien, haruslah dicatat secara tepat dan benar, sehingga tidak merugikan rumah sakit
maupun pasien. Oleh sebab itu, maka manajemen RS. Mardi Waluyo mengharuskan
mengkomunikasikan, terbuka terhadap tarif layanan yang diberikan oleh pihak RS. Mardi
Waluyo kepada pasien. Keluarganya dan masyarakat luas. Hal ini akan merupakan pengawasan
yang efektif terhadap kebenaran data/rekam medik, khususnya data biaya yang harus dibayar
oleh pasien.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 6


BAB III
ETIK TENTANG HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER
DI RS. MARDI WALUYO METRO

A. Kewajiban Umum Seorang Dokter RS. Mardi Waluyo


1. Setiap Dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Dokter.
2. Harus senantiasa melaksanakan tugas profesinya menurut ukuran yang tertinggi (sesuai
standar profesi medik).
3. Dalam melakukan pekerjaan kedokteran, tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan
keuntungan pribadi.
4. Dalam melakukan pekerjaan, harus mengutamakan kepentingan pasien, keluarga dan
masyarakat serta memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan
holistik (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif).
5. Setiap tindakan dan informasi yang mungkin menurunkan semangat hidup pasien baik
jasmani maupun rohani, hanya diberikan demi kepentingan pasien.
6. Harus berhati-hati dalam menerapkan setiap teknik atau metode pengobatan baru yang
belum diuji kebenarannya.
7. Hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.
8. Harus mampu memberikan edukasi dan pengabdian masyarakat.
9. Harus mampu bekerjasama dengan pihak lain di bidang kesehatan/lainnya.
10. Harus selalu memperhatikan dan tidak melanggar Bioetik.
11. Tanpa alasan medis yang benar dan tepat, maka dilarang :
a. Memperpanjang lenght of stay pasien.
b. Menggunakan peralatan medis secara berlebihan (over utilization).
c. Melakukan tindakan yang mempunyai implikasi/akibat kriminal, misalnya : abortus
provocatus criminalis.
d. Menahan pasien/tidak merujuk sedangkan RS. Mardi Waluyo tidak mempunyai
peralatan diagnostik/terapi yang dibutuhkan.
e. Menolak pasien tidak mampu.
12. Tidak diperbolehkan untuk :
a. Melakukan perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri dan atau menjelekkan teman
sejawat lain.
b. Menerima imbalan lain di luar imbalan yang seharusnya.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 7


B. Kewajiban Dokter Terhadap Pasien
1. Harus selalu berusaha melindungi dan mempertahankan hidup insani.
2. Harus bersikap tulus ikhlas mempergunakan ilmunya untuk kepentingan pasien. Jika ia
tidak mampu melaksanakan pemeriksaan dan pengobatan, ia wajib merujuk pasien ke
dokter/rumah sakit lain yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
3. Wajib datang dan melakukan pertolongan darurat, sebagai suatu tugas kemanusiaan.
4. Wajib merahasiakan sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia.
5. Memberikan kesempatan kepada pasien agar dapat berhubungan dengan keluarganya dan
untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya.
6. Dalam memberikan pengobatan harus memperhatikan kemampuan ekonomi pasien.
7. Hubungan dokter dan pasien harus selaras secara empatis, tetapi jangan sampai
menimbulkan masalah di luar bidang medis, sebagai akibat hubungan yang tidak
proporsional.
8. Dokter wajib memberikan pelayanan medik sesuai dengan standar profesi, yang
diberlakukan di RS. Mardi Waluyo Metro.
9. Dokter wajib memberikan informasi dengan benar dan lengkap (inform consent) kepada
pasien/keluarganya jika akan melakukan tindakan medik pada pasien tersebut.
10. Dokter wajib membuat rekam medik tentang penyakit/keadaan pasien dengan baik,
lengkap, benar secara berkesinambungan.

C. Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat


1. Teman sejawat hendaklah dianggap sebagai saudara sendiri dan diperlakukan sebagaimana
ia menghargai dan memperlakukan diri sendiri.
2. Tidak boleh mengambil pasien dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya.
3. Melakukan kerjasama yang serasi secara profesional dengan sejawat lainnya, agar dapat
memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada pasien.

D. Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri


1. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya agar dapat bekerja dengan baik dan menjadi
teladan bagi pasien.
2. Harus senantiasa menambah dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap setia
kepada janji dan cita-citanya yang luhur sebagai dokter.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 8


E. Tanggung Jawab dan Kewajiban Seorang Dokter
Di RS. Mardi Waluyo terdapat dokter yang purna waktu yang merupakan karyawan tetap
Yakkum dan dokter paruh waktu yang bukan karyawan tetap Yakkum. Ada sedikit perbedaan
dalam hak kewajiban dan tanggungjawab antara dokter purna waktu dan dokter paruh waktu.
Tanggungjawab dokter paruh waktu adalah sebagai berikut :
1. Dokter paruh waktu (spesialis/bukan spesialis) harus juga menaati segala kewajiban seperti
yang tercantum pada Pedoman Etik Kedokteran di RS. Mardi Waluyo seperti di atas.
2. Dokter paruh waktu, sesuai dengan bidang keahliannya bertanggungjawab penuh atas
segala tindakan mediknya.
3. Harus bersedia datang jika pasien dalam keadaan gawat darurat.
4. Harus selalu teratur mengunjungi (visite) pasien yang menjadi tanggungjawabnya.
5. Jika terjadi Kejadian Yang Tidak Diharapkan akibat kelalaian dokter yang menimbulkan
tuntutan dari pasien/keluarga/masyarakat, hal itu menjadi tanggung jawab dokter yang
bersangkutan.
6. Pihak RS. Mardi Waluyo bertanggung jawab, jika Kejadian Yang Tidak Diharapkan
disebabkan karena ketidakmampuan RS. Mardi Waluyo dalam menyiapkan
sarana/prasarana yang memadai.

F. Hak Dokter di RS. Mardi Waluyo Metro


1. Dokter berhak mendapat jaminan dan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
sesuai dengan profesinya.
2. Dokter berhak untuk bekerja sesuai standar profesinya.
3. Dokter berhak menolak permintaan pasien untuk melakukan tindakan medik yang tidak
sesuai dengan standar profesi dan hukum.
4. Dokter berhak untuk menghentikan jasa profesinya kepada pasien, apabila (misalnya)
hubungan dengan pasien sudah berkembang begitu buruk, sehingga kerjasama yang baik
tidak mungkin dapat diteruskan lagi. Kecuali untuk pasien gawat darurat.
5. Dokter berhak atas privacy, beristirahat, mengambil cuti sesuai peraturan yang berlaku.
6. Dokter berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dengan ucapan atau
tindakan yang melecehkan atau memalukan.
7. Dokter berhak diperlakukan adil dan jujur, dan berhak mendapat informasi atau
pemberitahuan pertama dalam menghadapi pasien yang tidak puas atas pelayanannya.
8. Dokter berhak mendapatkan informasi lengkap sehubungan dengan penyakit pasien yang
dirawatnya, baik dari pasien sendiri atau dari keluarganya.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 9


9. Dokter berhak mendapatkan imbalan atas jasa profesi yang diberikannya berdasarkan
perjanjian dengan pasien, dan atau ketentuan/peraturan yang berlaku di RS. Mardi Waluyo.
10. Dokter berhak menolak memberikan keterangan tentang pasien di pengadilan (sesuai pasal
170 ayat 1 KUHP).

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 10


BAB IV
ETIK TENTANG HAK, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB PERAWAT
DI RS. MARDI WALUYO METRO

A. Hak-Hak Perawat
1. Mendapat perlindungan hukum.
2. Bekerja menurut standar profesi.
3. Menolak permintaan atau desakan pasien maupun keluarga untuk melaksanakan tindakan
yang bertentangan dengan standar profesi maupun hukum yang berlaku atas privacy.
4. Mendapat informasi lengkap dari pasien yang dirawat untuk kepentingan perawatannya.
5. Mendapat perlakuan yang adil dan jujur.
6. Mendapat imbalan jasa atas profesi yang diberikan, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

B. Kewajiban Perawat
1. Mematuhi undang-undang dan peraturan rumah sakit sesuai dengan kepegawaiannya.
2. Mematuhi kode etik keperawatan yang berlaku.
3. Memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi mencakup kebutuhan
biopsikososio religius.
4. Memberikan informasi kepada pasien atas tindakan yang akan dilakukan.
5. Memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan
keluarganya.
6. Melindungi privacy pasien.
7. Merahasiakan rahasia jabatan.

C. Tanggung Jawab Terhadap Tugas


1. Setiap perawat harus senantiasa meningkatkan dan memelihara mutu pelayanan
keperawatan setinggi-tingginya, disertai sifat profesional sesuai dengan kebutuhan pasien,
keluarga dan masyarakat.
2. Harus merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas yang
dipercayakan kepadanya.
3. Tidak boleh menggunakan pengetahuan dan ketrampilan keperawatannya untuk tujuan yang
bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan/susila/etik dan hukum.
4. Dalam melaksanakan pekerjaannya tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan kebangsaan,
kesukuan, ras, sosial, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama dan kepercayaan pasien.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 11


5. Setiap perawat harus mengisi data pasien/rekam medis/asuhan keperawatan dengan baik
dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6. Setiap perawat harus mengutamakan perlindungan keselamatan pasien.

D. Tanggung Jawab Terhadap Sesama Perawat dan Petugas Lainnya


1. Setiap perawat harus memelihara hubungan baik dengan sesama perawat dan petugas
lainnya, sehingga tercapai suasana harmonis di dalam lingkungan kerja maupun dalam
mencapai tujuan pelayanan sesuai visi, misi dan falsafah RS. Mardi Waluyo Metro.
2. Harus selalu bersedia untuk menyebarkan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman
profesionalnya kepada sesama perawat/petugas lainnya, dalam rangka meningkatkan
kemampuan lain bidang keperawatan.
3. Bersedia selalu membimbing dan mendidik siswa perawat agar mereka dapat berkembang
menjadi perawat yang baik dan terampil.

E. Tanggung Jawab Terhadap Profesi Perawat


1. Setiap perawat harus selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya, baik
secara perorangan maupun bersama-sama, dengan menambah ilmu, ketrampilan dan
pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawatan.
2. Harus selalu menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan menunjukkan
perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur dan bermartabat.
3. Harus selalu membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawat sebagai sarana
pengabdiannya.
4. Berperan dalam pembakuan dan pembaruan pendidikan dan pelayanan perawatan.

F. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien, Keluarga dan Masyarakat


1. Dalam melaksanakan kewajibannya, seorang perawat harus melaksanakan pengabdiannya
dan senantiasa berpedoman dan bertanggung jawab akan kebutuhan perawat untuk individu,
keluarga dan masyarakat.
2. Harus selalu memelihara suasana lingkungan yang serasi dengan menghormati nilai-nilai
budaya, adat istiadat, agama, kepercayaan pasien, keluarga dan masyarakat.
3. Perawat harus bersedia mengambil prakasa dan menjalin hubungan yang baik, ramah, jujur
dan ikhlas, sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.
4. Tidak menyalahgunakan kemampuannya untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 12


BAB V

KODE ETIK KEBIDANAN

A. PENDAHULUAN
Pola pikir manusia Indonesia dari tahun ke tahun terus berkembang sejalan dengan
pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dari hari ke hari
semakin cepat sehubungan dengan derasnya era informasi.

Kemajuan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan antara lain mahalnya


pelayanan medik. Selain itu terjadi pula perubahan tata nilai dalam masyarakat. Yaitu
masyarakat semakin kritis memandang masalah yang ada termasuk menilai pelayanan yang
diperolehnya.

Saat ini masyarakat acap kali merasakan ketidakpuasan terhadap pelayanan bahkan
tidak menutup kemungkinan mengajukan tuntutan dimuka pengadilan. Apabila seorang
bidan dan merugikan pasien dan dituntut oleh pasien tersebut akan merupakan berita
menarik dan tersebar luas di masyarakat melalui media elektronik dan media massa lainnya.
Hal tersebut menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan. Untuk itu dibutuhkan sebuah
pedoman yang menyeluruh dan intregatif tentang sikap dan perilaku yang harus dimiliki
oleh seorang bidan. Pedoman ini sudah ada yaitu Kode Etik Bidan.

B. PENGERTIAN
1. Definisi Bidan
Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan bidan
yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku, dicatat
(register), diberi izin secara sah untuk menjalankan praktek.

2. Definisi Kode Etik


Kode etik merupakan suatu cirri profesi yang bersumber dari Nilai-nilai internal dan
eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi
yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.

3. Kode Etik Bidan


Kode etik bidan Indonesia pertama kali disusun pada tahun 1986 dan disyahkan dalam
Kongres Nasional Ikatan Bidan Indonesia X tahun 1988. sedangkan petunjuk
pelaksanaannya disyahkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rankernas) IBI tahun 1991.
sebagai pedoman berperilaku, Kode Etik Bidan Indonesia mengandung beberapa
ketentuan yang semuanya tertuang dalam mukadimah tujuan dan bab.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 13


C. KODE ETIK BIDAN INDONESIA
MUKADIMAH II

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur demi
tercapainya:

1. Masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
2. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
3. Tingkat kesehatan yang optimal bagi setiap warga Negara Indonesia.

Maka ikatan bidan Indonesia sebagai organisasi profesi kesehatan yang menjadi wadah
persatuan dan kesatuan para bidan di Indonesia menciptakan Kode Etik Indonesia yang
disusun atas dasar penekanan keselamatan klien diatas kepentingan lainnya.

Terwujudnya kode etik ini merupakan bentuk kesadaran dan kesungguhan hati dari
setiap bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara professional dan sebagai
anggota tim kesehatan demi tercapainya cita-cita pembangunan nasional di bidang
kesehatan pada umumnya, KIA, KB dan kesehatan keluarga pada khususnya.

Mengupayakan segala sesuatu agar kaumnya pada detik-detik yang sangat menentukan
pada saat menyambut kelahiran insan generasi secara selamat dan nyaman merupakan tugas
sentral daripada para bidan.

Menelusuri tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang terus meningkat


sesuai perkembangan zaman dan Nilai-nilai sosial budaya yang berlaku dalam masytarakat.
Sudah sewajarnya kode etik bidan ini berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 sebagai landasan ideal dan garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai landasan
operasional.

BAB I

KEWAJIBAN TERHADAP KLIEN DAN MASYARAKAT

1. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah


jabatan dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
2. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan
martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.
3. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran tugas dan
tanggungjawab sesuai kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 14


4. Setiap bidan dlam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien,
menghormati hak klien dan menghormati Nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
5. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien,
keluarga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan kemampuan yang dimiliki.
6. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan
tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajat
kesehatannya secara optimal.
BAB II

KEWAJIBAN TERHADAP TUGASNYA

1. Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan
masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan
klien, keluarga dan masyarakat.
2. Setiap bidan berhak memberikan pertolongan dan mempunyai kewenangan dalam
mengambil keputusan dalam tugasnya termasuk keputusan mengadakan konsultasi dan
atau rujukan.
3. Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan atau
dipercayakan kepadanya kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan
sehubungan dengan kepentingan kita.

BAB III

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP SEJAWAT DAN TENAGA KESEHATAN LAINNYA

1. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan
suasana kerja yang serasi.
2. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling mengobati baik terhadap
sejawat maupun tenaga kesehatan lainnya.

BAB IV

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP PROFESINYA

1. Setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya dengan
menampilkan kepribadian yang tinggi memberikan pelayanan yang bermutu kepada
masyarakat.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 15


2. Setiap bidan harus senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan
profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya
yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.

BAB V

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP DIRI SENDIRI

1. Setiap bidan harus menjaga kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan
baik.
2. Setiap bidan seyogyanya berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB VI

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP PEMERINTAH NUSA BANGSA DAN TANAH AIR

1. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan


pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayanan KIA/KB dan kesehatan
keluarga.
2. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikirannya kepada
pemerintah untuk meningkatkan mutu jangkauan pelayanan kesehatan terutama
pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga.

BAB VII

PENUTUP

Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari senantiasa menghayati dan


mengamalkan Kode Etik Bidan Indonesia.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 16


BAB VI

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA

A. Kewajiban Apoteker Terhadap Masyarakat


1. Harus berbudi luhur dan memberikan contoh yang baik di dalam lingkungan kerjanya.
2. Harus bersedia untuk mengembangkan keahlian dan pengetahuannya.
3. Harus selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan.
4. Hendaknya selalu melibatkan diri dari Pembangunan Nasional khususnya di bidang
kesehatan.
5. Harus menjadi sumber informasi bagi masyarakat dalam rangka pelayanan dan pendidikan
kesehatan.
6. Hendaknya menjauhkan diri dari usaha-usaha untuk mencari keuntungan dirinya semata-
mata.

B. Kewajiban Apoteker Terhadap Teman Sejawat


1. Harus selalu mengganggap teman sejawat kerja sebagai saudara kandung yang selalu saling
mengingatkan dan menasihati.
2. Harus menjauhkan diri dari setiap tindakan yang dapat merugikan teman sejawat baik moril
maupun material.
3. Harus menggunakan setiapa kesempatan untuk dapat meningkatkan kerjasama yang baik,
mempertebal rasa saling mempercayai di dalam menunaikan tugasnya.

C. Kewajiban Apoteker Terhadap Sejawat dan Petugas Kesehatan Lainnya


1. Harus menggunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan hubungan profesi saling
menghargai, menghormati dan mempercayai sejawat yang berkecimpung dalam bidang
kesehatan.
2. Hendaknya menjauhkan diri dari tindakan/perbuatan yang dapat mengakibatkan
berkurangnya atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan
lainnya.

BAB VII

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 17


ETIK TENTANG HAK DAN KEWAJIBAN PETUGAS ADMINISTRASI
DI RS. MARDI WALUYO METRO

1. Petugas administrasi harus selalu mengisi data pasien/rekam medis dengan baik dan benar
sesuai ketentuan yang berlaku, khususnya mengenai masalah non medik (keuangan dan
sebagainya).
2. Petugas administrasi harus selalu memegang rahasia jabatan.
3. Petugas Rekam Medik harus selalu menjaga rahasia pasien, dan menjaga bahwa semua
dokumen rekan medik tidak diambil/diberikan kepada orang yang tidak berhak.
4. Petugas keuangan harus mengisi data biaya perawatan/pengobatan dengan benar. Sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
5. Petugas keuangan tidak boleh mengganti jumlah biaya dalam kuitansi apapun alasannya.
6. Petugas keuangan dilarang membuat rangkap kuitansi asli.
7. Jika pasien benar-benar terbukti tidak mampu, maka dilarang melakukan penyanderaan pasien
dan dilarang untuk menerima tanggungan/jaminan.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 18


BAB VIII
KODE ETIK PROFESI REKAM MEDIK
DI RS. MARDI WALUYO METRO

A. Kewajiban Umum
1. Didalam melaksanakan tugas profesi, tiap pelaksana rekam medik dan selalu bertindak
demi kehormatan profesi dan organisasi.
2. Setiap pelaksana rekam medis dan selalu menjalankan tugas berdasarkan ukuran profesi
yang tertinggi.
3. Setiap pelaksana rekam medik lebih mengutamakan pelayanan daripada keuntungan pribadi
dan selalu berusaha memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan kesehatan yang
bermutu bagi pasien.
4. Setiap pelaksana rekam medik selalu menyimpan dan menjaga berkas rekam medik serta
informasi yang terkandung di dalamnya sesuai ketentuan prosedur dan peraturan
perundangan yang berlaku.
5. Setiap pelaksana rekam medik selalu menjunjung tinggi kerahasiaan pasien dalam
memberikan informasi.
6. Setiap pelaksana rekam medik dan selalu melaksanakan tugas yang dipercayakan pimpinan
kepadanya dengan penuh tanggung jawab, teliti dan akurat.
7. Berusaha untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan profesional melalui
upaya peningkatan diri secara berkelanjutan dan melalui penerapan ilmu dan teknologi
mutakhir rekam medik.
8. Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etik :
a. Menerima ajakan kerjasama seseorang untuk melakukan pekerjaan yang menyimpang
dari ketetapan/peraturan yang berlaku.
b. Menyebarluaskan informasi yang terkandung dalam laporan rekam medik yang dapat
merusak citra profesi rekam medik, profesi lain dan institusi.
c. Menerima imbalan jasa yang melebihi ketentuan yang berlaku.

B. Kewajiban Hubungan Antara Sesama Anggota Profesi


1. Melindungi masyarakat dan profesi rekam medik dari penyimpangan Kode Etik Profesi
Rekam Medik dengan melaporkan setiap penyimpangan kepada Majelis Kehormatan Etik
Profesi Rekam Medis.
2. Selalu berusaha menciptakan suasana kerjasama tim antar anggota profesi rekam medik
untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 19


3. Berpartisipasi dalam upaya mengemban dan memperkuat anggota profesi untuk mewakili
penampilan profesi.
4. Menyerahkan jabatan/kedudukan dalam suatu posisi dalam organisasi secara terhormat
kepada pejabat baru yang dipilih.

C. Kewajiban dalam Berhubungan dengan Organisasi Profesi dan Instansi Lain


1. Secara jujur memberikan informasi tentang identitas diri, profesi, pendidikan dan
pengalaman dalam setiap pengadaan perjanjian kerja atau pemberitahuan yang berkaitan
dengan tugasnya.
2. Menjalin hubungan baik dengan organisasi pemerintah dan organisasi profesi lainnya dalam
rangka peningkatan mutu profesi rekam medik dan mutu pelayanan kesehatan.

D. Kewajiban Terhadap Diri Sendiri


1. Setiap pelaksana rekam medik selalu menjaga kesehatan dirinya agar dapat bekerja dengan
baik.
2. Setiap pelaksana rekam medik harus selalu mengikuti perkembangan rekam medik
khususnya, dan praktek kesehatan pada umumnya.
3. Setiap pelaksana rekam medik wajib menghayati dan mengamalkan Kode Etik Profesi
Rekam Medik demi pengabdian yang tulus dalam pembangunan bangsa dan negara.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 20


BAB IX
ETIK TENTANG HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN
DI RS. MARDI WALUYO METRO

A. Hak Pasien
1. Pasien berhak memperoleh informasi tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah
sakit.
2. Pasien berhak memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien .
3. Pasien berhak memperoleh pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur tanpa
diskriminasi.
4. Pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar
profesi kedokteran dan standar prosedur operasional.
5. Pasien berhak memperoleh layanan yang efektif dan efesien sehingga pasien terhindar
dari kerugian fisik dan materi.
6. Pasien berhak mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
7. Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
sesuai dengan peraturan yang berlaku dirumah sakit.
8. Pasien berhak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter
yang mempunyai Surat Ijin Praktek (SIP) baik didalam maupun diluar Rumah sakit.
9. Pasien berhak atas “ privacy “ dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data –
data medisnya.
10. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi :
Diagnosisdan tatacara tindakan medis, tujuan tindakan medis, komplikasi yang mungkin
terjadi, prognosisterhadap tindakan yang dilakukan, perkiraan biaya pengobatan.
11. Pasien berhak menyetujui atau penolakan atas tindakan yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
12. Pasien berhak didampingi keluarga dalam keadaan kritis .
13. Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai dengan agama/ kepercayaan yang dianutnya
selama hal itu tidak mengganggu pasien lainya.
14. Pasien berhak atas keamanan dan kesalamatan dirinya selama dalam perawatan dirumah
sakit.
15. Pasien berhak mengajukan usul, saran perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap
dirinya.
16. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan
agama dan kepercayaan yang dianut.
17. Pasien berhak menggugat dan atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata maupun
pidana.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 21


18. Pasien berhak mengeluh atas pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar
melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang –
undangan
B. Kewajiban Pasien RS. Mardi Waluyo
1. Pasien dan keluarga berkajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib rumah
sakit.
2. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dan perawat dalam
pengobatannya.
3. Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya tentang
penyakit yang diderita kepada dokter yang merawat.
4. Pasien dan atau penangung berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa
pelayanan rumah sakit / dokter.
5. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban memenuhi hal – hal yang telah disepakati
dalam perjanjian yang telah dibuat
nya.

C. Tata Tertib Pasien dan Pengunjung Instalasi Rawat Inap (Tambahan Bukan Termasuk
Etik)
I. PERAWATAN
1. Setiap pasien yang dirawat dan atau penanggung jawabnya di minta menunjukkan Bukti
Diri berupa KTP / SIM atau Kartu Tanda Pengenal yang masih berlaku.
2. Pasien Karyawan RS. Mardi Waluyo atau Unit Kerja YAKKUM Metro harus membawa
Kartu Berobat/Kartu kepesertaan BPJS
3. Pasien yang ditanggung Instalasi / Perusahaan, harus menunjukkan Surat Pengantar
( Kecuali dalam keadaan darurat, Surat Pengantar menyusul ).
4. Bagi pasien yang mempunyai Kartu diskon, harus menunjukkan Kartu Diskon yang
masih berlaku, pada saat periksa.
5. Pasien bebas memilih dokter RS. Mardi Waluyo yang merawat atau dokter
konsultannya.
6. Setiap Pasien hanya boleh ditunggu oleh 2 ( dua ) orang penunggu yang mendapat
2 ( dua ) Kartu Tunggu.
7. Tidak diperbolehkan membawa atau memberikan obat-obatan untuk pasien, selain yang
sudah disediakan Rumah sakit, serta tidak diperbolehkan memberikan tindakan
perawatan / pengobatan lain.
8. Rumah Sakit tidak menerima cucian pasien maupun keluarganya.

II. ADMINISTRASI PERAWATAN DAN PENGOBATAN


1. Pasien Rawat Inap TIDAK DIWAJIBKAN membayar Uang Muka.
2. Semua biaya perawatan dan pengobatan akan ditanggung dahulu oleh Rumah Sakit.
3. Semua pembayaran hanya dilakukan di Bagian Kasir RS. Mardi Waluyo.
4. Pasien diijinkan pulang setelah semua biaya diselesaikan / dilunasi.
5. Waktu Check Out pasien pulang (pasien meninggalkan ruangan) adalah 2 (dua) jam
setelah administrasi diselesaikan.

III. WAKTU KUNJUNGAN PASIEN

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 22


1. DIMOHON DENGAN SANGAT AGAR BERKUNJUNG PADA JAM
BERKUNJUNG, karena pasien memerlukan istirahat dan ketenangan yang cukup.
2. JAM BERKUNJUNG :
Pagi hari Pkl. 10.00 – 12.00 wib.
Sore hari Pkl. 16.00 – 20.00 wib.

KHUSUS RUANG PERAWATAN INTENSIF


Pagi hari Pkl. 10.00 – 14.00 wib.
Sore hari Pkl. 16.00 – 20.00 wib.
3. TIDAK DIIJINKAN MEMBAWA ANAK DIBAWAH USIA 12 TAHUN KE DALAM
RUANG PERAWATAN, agar anak tidak tertular penyakit.
4. Tidak diijinkan merokok, berbicara keras, bersendau gurau, dan makan di dalam Ruang
Perawatan.

IV. KEAMANAN / KETERTIBAN & LAIN-LAIN


1. JANGAN MENINGGALKAN BARANG BERHARGA / UANG DI KAMAR
PASIEN. Kehilangan barang bukan menjadi Tanggung Jawab RS. Mardi Waluyo.
2. Pasien tidak diperkenankan membawa :
a. Barang Elektronik, kecuali Kipas Angin kecil.
b. Barang Berharga ( perhiasan )
( Bila membawa, sebaiknya dititipkan ke Kasir.
3. Mohon pesawat TV, AC dan air dimatikan apabila tidak digunakan lagi.
4. RS. Mardi Waluyo tidak menyediakan Mobil Jenazah.
5. Periksalah Barang-barang anda sebelum pulang, agar tidak ada yang ketinggalan.
6. Hal-hal yang belum jelas, bisa ditanyakan kepada masing-masing Kepala Ruang atau
Petugas Informasi.

BAB X
ETIK RUMAH SAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN ETIK KRISTEN
DI RS. MARDI WALUYO METRO

RS. Mardi Waluyo sebagai rumah sakit Kristen, maka ajaran, pendidikan dan iman Kristen
harus menjadi dasar dalam mengambil keputusan dan melakukan suatu tindakan. Oleh sebab itu,
setiap karyawan yang bekerja di RS. Mardi Waluyo baik purna waktu atau paruh waktu harus
menyadari dan tidak melakukan tindakan/perbuatan yang melanggar Etika Kristen, khususnya
dalam pelayanan terhadap pasien.
Seluruh karyawan RS. Mardi Waluyo memperhatikan beberapa ketentuan Etika Kristen,
mengenai hal-hal sebagai berikut :
1. Abortus : tidak diperkenankan untuk melakukan Abortus Provocatus Criminalis, kecuali
untuk menyelamatkan jiwa si ibu (Abortus Provocatus Medicinalis)
2. Eutanasia : tidak diperbolehkan dengan alasan apapun.
3. Ketentuan mati : lihat ketentuan selanjutnya.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 23


BAB XI
MASALAH ETIK MEDIS DI RS. MARDI WALUYO METRO

A. Ketentuan Mati
1. Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti dan irreversibel atau telah
terjadi kematian batang otak.
2. Pada penyakit akut atau kronik berat, dapat terjadi fungsi pernafasan dan jantung berhenti.
Pada kenyataan ini denyut jantung dan nadi berhenti secara pasti, sehingga upaya resusitasi
tidak berguna.
3. Upaya resusitasi hanya dilakukan pada mati klinis, yaitu bila denyut nadi besar dan nafas
berhenti, tapi masih diragukan apakah kedua fungsi spontan jantung dan paru telah benar-
benar berhenti secara irreversibel.
4. Upaya resusitasi darurat dapat diakhiri :
a. Bila ternyata pasien berada dalam stadium suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan
kembali.
b. Bila dapat dipastikan, bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali fungsi
serebralnya.
c. Terdapat tanda-tanda klinis mati otak (pupil tetap dilatasi setelah 15-30 menit, reflek
gag/muntah tidak ada, setelah resusitasi tidak timbul nafas spontan dan tidak timbul
reflek gag/muntah). Kecuali pada keadaan hipotermis atau pasien dibawah pengaruh
barbiturat/anestesia.
d. Terdapat tanda-tanda mati jantung (garis datar pada EKG), paling sedikit setelah 30
menit dilakukan resusitasi.
e. Penolong terlalu lelah sehingga tidak dapat melanjutkan upaya resusitasi.

B. Diagnosis Mati Batang Otak


1. Pada fungsi batang otak yang menghilang, terdapat tanda-tanda :
a. Koma.
b. Tidak ada sikap abnormal (dekortikasi, desebrasi).
c. Tidak ada sentakan epileptik.
d. Tidak ada reflek batang otak.
e. Tidak ada nafas spontan.
2. Bila memang tanda-tanda fungsi batang otak yang hilang ada semua, maka perlu
dilanjutkan untuk memeriksa 5 reflek batang otak, yaitu :
a. Tidak ada respons terhadap cahaya.
b. Tidak ada reflek kornea.
Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 24
c. Tidak ada reflek vestibulo-okular.
d. Tidak ada respons motorik terhadap rangsangan adekuat pada area somatik.
e. Tidak ada reflek muntah (gag) atau reflek batuk jika kateter dimasukkan dalam trakhea.
3. Jangan dibuat diagnose mati batang otak, jika dokter ragu-ragu tentang diagnosis primer
dan kausa disfungsi batang otak yang reversibel. Sebaiknya obati gangguan metabolik dan
lengkapi tes klinis.

C. Eutanasia
1. Eutanasia berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kematian yang harus diakhiri, yang
sekarang banyak diartikan sebagai pengakhiran kehidupan karena kasihan atas
penderitaannya.
2. Ada 2 macam Eutanasia, yaitu :
a. Eutanasia Aktif : mempercepat kematian melalui tindakan medis yang direncanakan.
Eutanasia ini merupakan tindakan yang dapat dihukum karena melanggar KUHP pasal
304, 344 dan 345.
b. Eutanasia Pasif : penghentian segala upaya dan pengobatan yang tidak berguna lagi,
baik atas permintaan maupun tidak. Hal ini dapat dikenai sanksi sesuai Fatwa IDI
dengan memakai Triase Gawat Darurat (Critical Care Triage) yang dikeluarkan oleh
IDI.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 25


BAB XII
PROTAP PENYELESAIAN MASALAH PELANGGARAN ETIK
DI RS. MARDI WALUYO METRO

A. Tujuan
Menyelesaikan masalah pelanggaran etik yang timbul di RS. Mardi Waluyo secara tepat, cepat
dan bijaksana.

B. Kebijakan
1. RS. Mardi Waluyo harus membentuk Komite Etik untuk menangani kasus pelanggaran etik
di RS. Mardi Waluyo Metro.
2. Komite Etik diberi kewenangan untuk menerima laporan pengaduan, menyidik, membahas
dan menyampaikan saran, tindakan pemecahan masalah etik kepada Direktur.
3. Semaksimal mungkin setiap masalah yang timbul diselesaikan secara musyawarah
kekeluargaan.

C. Prosedur
1. Bila ada laporan pengaduan kepada Direktur tentang terjadinya pelanggaran etik yang
disampaikan baik secara lisan/tertulis baik dari pasien, keluarga, masyarakat atau dari
karyawan RS. Mardi Waluyo, maka Direktur akan memberikan disposisi kepada Komite
Etik untuk menyelesaikan masalah tersebut.
2. Komite Etik mencatat pelanggaran yang terjadi, saran, kritik tersebut dalam buku khusus,
dengan dilengkapi data yang lengkap, waktu, tempat kejadian, masalah yang timbul, nama
karyawan yang terlibat, saksi serta nama, alamat, pekerjaan pelapor/pengirim surat.
3. Jika identitas si pelapor jelas, maka Komite Etik memanggil yang bersangkutan untuk
dimintai keterangan/penjelasan yang lebih lengkap.
4. Komite Etik kemudian memanggil karyawan RS. Mardi Waluyo yang terlibat untuk
dimintai keterangan.
5. Komite Etik memanggil saksi/pihak ke III yang mengetahui peristiwa tersebut untuk
mendapatkan keterangan yang lengkap.
6. Komite Etik mengadakan pertemuan/rapat untuk membahas pengaduan tersebut dan
mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya.
7. Hasil rapat disampaikan kepada Komite Medik untuk dimintakan pendapat dan saran.
8. Komite Medik memberikan rekomendasi kepada Direktur RS. Mardi Waluyo beserta saran
penyelesaiannya.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 26


9. Jika karyawan RS. Mardi Waluyo tidak terbukti bersalah melakukan pelanggaran seperti
yang diadukan, maka Direktur RS. Mardi Waluyo akan memanggil pihak pelapor untuk
menyampaikan hasil penyelidikan yang telah dilakukan Komite Etik.
10. Jika kesalahan ada di pihak karyawan RS. Mardi Waluyo, maka Direktur akan memberikan
sanksi kepada mereka sesuai dengan peraturan. Direktur juga memberitahukan sanksi
tersebut kepada pihak pelapor/pengadu.
11. Jika pihak pelapor/pengadu sudah puas dan menerima keputusan Direktur, maka persoalan
dianggap selesai.
12. Jika pihak pelapor/pengadu walaupun sudah dilakukan musyawarah masih tidak puas
dengan keputusan Direktur RS. Mardi Waluyo, maka masalah ini oleh Direktur diteruskan
ke Pengurus Ikatan Profesi yang bersangkutan, dan melaporkan masalah ini kepada Organ
Yakkum.
13. Jika ternyata dengan prosedur musyawarah kekeluargaan masalah belum terselesaikan,
maka sebagai langkah terakhir diselesaikan dengan menempuh jalur hukum/pengadilan.

Pedoman Etik Rumah Sakit di RS. Mardi Waluyo 27