You are on page 1of 8

CASE STUDY 4 “FRAKTUR”

BLOK HTS TA 2018-2019

PENUGASAN MAHASISWA:

Buatlah Self Learning Report yang berisi analisa kasus, laporan diketik dengan
komputer sesuai dengan kaidah dasar penulisan laporan pada umumnya dan dijilid
mika kuning serta dikumpulkan sesaat sebelum CS berlangsung, dengan
ketentuan:

1. Diagnosa kasus dan rencana perawatan pada masing-masing kasus


2. Etiologi pada masing-masing kasus
3. Rencana perawatan (tata laksana) terhadap kasus

SKENARIO 4A

Seorang pasien laki-laki berusia 26 tahun datang ke tempat praktek anda


setelah mengalami kecelakaan lalulintas 1 hari yang lalu. Menurut cerita pasien,
gigi depannya goyah dan gigi seri pertama kanan atas agak masuk kedalam gusi.
Berdasarkan pemeriksaan intraoral menunjukkan palpasi (+) sakit pada gigi 11
yang intrusi disertai luksasi derajat 2, gigi 12 fraktur mengenai ½ mahkota
bagian mesial dan luksasi derajat 1, serta gigi 21 luksasi derajat 1. Berdasarkan
pemeriksaan radiografi menunjukkan fraktur pada tulang alveolar sisi distal gigi
11. Anda memutuskan untuk melakukan perawatan pada kasus tersebut.

A. Diagnosa :

1. Pemeriksaan Subjektif :

a. Nama : tidak ada keterangan


b. Usia : 34 tahun
c. Jenis kelamin : laki-laki
d. Chief complain : Pasien mengeluh gigi depannya goyah dan
gigi seri pertama kanan atas agak masuk kedalam gusi
e. Present illness : Pasien telah mengalami kecelakaan
lalulintas 1 hari yang lalu
2. Pemeriksaan Objektif :

a. Palpasi (+) sakit pada gigi 11 yang intrusi disertai luksasi derajat 2
b. Gigi 12 fraktur mengenai ½ mahkota bagian mesial dan luksasi
derajat 1
c. Gigi 21 luksasi derajat 1
3. Pemeriksaan Radiografi :
fraktur pada tulang alveolar sisi distal gigi 11

4. Diagnosa :

a. Fraktur pada tulang alveolar sisi distal gigi 11


b. Gigi 11 yang intrusi disertai luksasi derajat 2
c. Gigi 12 fraktur mengenai ½ mahkota bagian mesial dan luksasi
derajat 1
d. Gigi 21 luksasi derajat 1
5. Rencana Perawatan :
a. Mengembalikan posisi gigi yang mengalami ekstrusi
b. Menstabilkan gigi yang luksasi pada posisi normal dengan
melakukan splinting
c. Splinting dilepas setelah 3-5 minggu
d. Amati perlekatan ulang ligamen periodintal dan kondisi pulpa

B. Etiologi :

Luksasi gigi serta fraktur gigi dan tulang alveolar yang diakibatkan oleh
trauma kecelakaan lalu lintas.

C. Rencana Perawatan (tata laksana):

a. Intrusi

Perawatan kasus intrusi bervariasi bergantung pada perkembangan


akar gigi dan beratnya intrusi yang terjadi (Andreasen, 1994). Ada 3
cara perawatan intrusi yaitu reposisi pasif, reposisi secara bedah dan
reposisi dengan ortodontik yang disebut sebagai reposisi aktif.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa intrusi mencapai 3mm masih
mempunyai prognosis yang baik, tetapi > 6mm memiliki prognosis
yang buruk. (Torabinejad dan Walton, 2009)

Keuntungan reposisi secara bedah yaitu dapat memberikan akses


ke dalam saluran akar dengan cepat, selain mencegah kemungkinan
terjadinya resorbsi inflamasi atau resorpsi pengganti (ankilosis).
Perawatan kasus intrusi selalu merupakan tantangan bagi para dokter
gigi dan adanya pendekatan multidisiplin seperti dengan bedah mulut,
ortodontis, endodontis sangatlah penting agar tercapai hasil yang
memuaskan. (Al-Badri dkk., 2002)

Beberapa penelitan menyatakan bahwa gigi dengan apeks tertutup


yang mengalami intrusi, 100% akan terjadi nekrosis pulpa, sedangkan
gigi dengan apeks terbuka hanya 62,5%. Oleh karena itu bila gigi
menjadi nekrotik akibat intrusi perawatan endodontik menjadi pilihan,
dan perawatannya sangat bervariasi bergantung pada pertumbuhan
apeks gigi apakah sudah terbentuk sempurna atau masih terbuka. Bila
terjadi nekrosis dan apeks sudah tertutup, maka perawatan endodontik
harus dimulai 2-3 minggu setelah trauma. (Andreasen dkk., 2006)

b. Luksasi

Perawatan gigi goyang (luksasi) berkisar dari hanya berupa


pemeriksaan sampai dengan stabilitas yakni dengan menggunakan
splint. Digital molding dari alveolus yang fraktur bisa dilakukan bila
memungkinkan. Diusahakan untuk mengembalikan posisi gigi yang
mengalami ekstruksi, kemudian menstabilkannya pada posisi normal.
Secara umum, gigi yang mengalai luksasi dibebaskan dari oklusi.
Splinting dilakukan dengan memasang pita atau braket dengan cara
etsa asam atau bonding, membonding pesawat (bonded apliance), dan
pengawatan atau ligasi terhadap archbar. Rontgen periapikal dibuat
sesudah stabilisasi untuk dipakai sebagai pedoman pemeriksaan
rdiografis jangka panjang. Durasi pemasangan splint tergantung pada
individunya, berkaitan erat dengn derajat awal kegoyangan gigi, dan
luasnya kerusakan alveolar, tetapi biasanya dilepas setelah 3-5 minggu.
Pemeriksaan klinis pada kunjungan berikutnyasangat penting untuk
gigi yang mengalami luksasi yaitu untuk mengamati perlekatan ulang
ligamentum periodontal dan kondisi pulpa. (Pedersen, 1996)

SKENARIO 4B

Seorang pasien anak laki-laki berusia 8 tahun diantar orang tuanya datang
ke Poli Gigi RS Sehat dengan keadaan menangis dan mulut yang penuh dengan
darah. Menurut cerita ibunya, sang anak baru saja jatuh dari sepeda di halaman
depan rumahnya dan gigi depan atasnnya lepas. Kemudian sang ibu
mengeluarkan plastik yang berisi gigi yang telah lepas tersebut dan
menginginkan gigi tersebut dipasang kembali. Berdasarkan pemeriksaan
intraoral terdapat avulsi pada gigi 11. Setelah dilakukan pemeriksaan radiografi
tidak menunjukkan adanya fraktur tulang alveolar.

A. Diagnosa :

1. Pemeriksaan Subjektif :

a. Nama : tidak ada keterangan


b. Usia : 9 tahun
c. Jenis kelamin : laki-laki
d. Chief complain : Pasien datang dengan gigi lepas dan ingin
giginya dipasang kembali.
e. Present illness : terjadi perdarahan pada rongga mulut dan
gigi anterior atas pasien terlepas

2. Pemeriksaan Objektif :

Terdapat Alvulsi pada gigi 21

3. Pemeriksaan Radiografi :
Tidak ada fraktur pada tulang Alveolar
4. Diagnosa :

Alvulsi pada gigi 21


5. Rencana Perawatan :
a. Menghilangkan jaringan lunak yang nekrotik dengan kain
b. Perawatan kanal akar dapat dilakukan 7-10 hari setelah replantasi
c. Menghilangkan koagulum dari soket dengan salin. Periksa soket
alveolar, jika terdapat fraktur dinding soket lakukan reposisi
dengan instrumen yang sesuai.
d. Rendam gigi di larutan sodium flouride 2% selama 20 menit.
e. Replantasi gigi tersebut secara perlahan dengan tekanan digital.
Jahit jika ada laserasi. Pastikan posisi sudah kembali normal secara
klinis dan radiografi.
f. Stabilisasi gigi tersebut dengan alat stabilisasi fleksibel selama 4
minggu

g. Berikan antibiotik

6. Etiologi :

Alvulsi Gigi 21 yang diakibatkan oleh trauma pasien yang terjatuh


dari sepeda

7. Rencana Perawatan (tata laksana):

Rekomendasi bagi dokter gigi dalam menangani pasien fraktur


dentoalveolar pada anak sebagai pertolongan pertama adalah sebagai
berikut (Flores, et.al., 2007) :
1. Tetap tenang dan fokus
2. Lakukan pembersihan pada luka dengan air
3. Hentikan perdarahan dengan mengompres dengan kain atau kapas
selama 5 menit
4. Lakukan perawatan darurat.
Prinsip umum penatalaksanaan pada trauma dentoalveolar anak adalah
restorasi dengan dan tanpa perawatan pulpa, ekstraksi, dan reposisi-
replantasi Pilihan ini berdasarkan tingkat keparahan trauma dan jumlah
jaringan yang terlibat.
Penanganan avulsi pada gigi permanen adalah dengan replantasi
sesegera mungkin dan menstabilisasi gigi tersebut sesuai dengan lokasi
anatominya. Hal ini dilakukan untuk mengoptimasi penyembuhan ligamen
periodontal dan suplai neurovaskular selama pemeliharaan estetik dan
fungsinya. Replantasi menjadi tindakan yang kontraindikasi ketika masih
dalam tahap perkembangan dental pada anak (risiko ankylosis saat
pertumbuhan alveolar), kondisi medical compromise, membahayakan
integritas gigi avulsi atau jaringan pendukung. Prognosis pada gigi
permanen bergantung pada formasi perkembangan akar dan lamanya gigi
berada di luar (extraoral dry time). Gigi dapat disimpan dalam sebuah
media jika lebih dari 5 menit berada di luar soket. Risiko ankylosis dapat
terjadi apabila extraoral dry time-nya lebih dari 15 menit. (American
Academy of Pediatric Dentistry, 2010).
Vitalitas ligamen periodontal dan sementum sangat penting dalam
keberhasilan replantasi dalam jangka waktu yang lama. Media
penyimpanan yang tersedia harus dapat mempertahankan atau
meningkatkan vitalitas sel ketika gigi di luar soket alveolar. Perendaman
gigi yang baik dapat mengurangi risiko ankylosis dan membantu
debridemen sel nekrotik, benda asing, dan bakteri (American Academy of
Pediatric Dentistry, 2010).
Keberhasilan penanganan avulsi selain media penyimpanan adalah
kondisi dan durasi waktu pasca trauma yang harus diperhatikan oleh orang
tua. Andreasen menyatakan bahwa ada beberapa kondisi yang harus
diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi,
yaitu sebagai berikut (Fonseca, 2005) :
1. Gigi tersebut tidak memiliki penyakit periodontal
2. Soket alveolar dapat menyediakan tempat untuk gigi avulsi
3. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodonti,
seperti gigi yang berjejal
4. Berapa lama gigi tersebut berada di luar soket alveolar berpengaruh
terhadap indikasi replantasi yang baik. Gigi yang berada di luar soket
gusi kurang dari 30 menit merupakan indikasi replantasi yang baik,
sedangkan jika lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi
komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi akan menjadi non
vital, kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik
terlebih dahulu
5. Tahap perkembangan akarnya. Ketahanan pulpa dengan akar yang
belum lengkap akan berhasil direplantasi jika penanganan kurang dari
2 jam.
6. Langkah replantasi dapat dilakukan jika pasien tersebut cukup
kooperatif.
Daftar Pustaka

Andreasen FM, Andreasen JO. Luxation injuries. In: Textbook and color atlas of
traumatic injuries to the teeth. 3rd ed. Copenhagen, Munksgaard. 1994.
p. 315-78.
Torabinejad M, Walton RE. Management of traumatic dental injuries. In:
Endodontics principles and practice. 4th ed. St. Louis, Missouri. 2009.
p.163-84.
Al-Badri S, Kinirons M, Cole BO, Welbury RR. Factors affecting resorption in
traumatically intruded permanent incisors in children. Dent Traumatol.
2002;18:73-6.
American Academy of Pediatric Dentistry, 2010
Pedersen, G.W., 1996, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut 1nd.ed., Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Andreasen JO, Bakland LK, Andreasen FM. Traumatic intrusion of permanent
teeth. Part 3. A clinical study of the effect of treatment variables such as
treatment delay, method of repositioning, type of splint, length of
splinting and antibiotics on 140 teeth. Dent Traumatol. 2006;22:99-111.