You are on page 1of 7

ARTIKEL LULUR KRIM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK DERIVAT

Disusun Oleh:
Nama : Siti Musrifah
NIM : 161710101085
Kelompok/Kelas : 5 / THP C

Asisten: 1. Rina Kartika Wati 082340144468


2. Lutfi Putri Yusviani 082346057858
3. Dwi Cahya Putra 081217280695
4. Seno Dwi Pratama P 082233842560

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
Lulur Krim

Menurut permenkes RI no. 445/Menkes/Permenkes/1998, kosmetik adalah


sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan
(epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga
mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan,
melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak
dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan
Larifah, 2007). Lulur adalah sediaan kosmetik tradisional yang diresepkan dari turun-
tenurun (Tranggono. 2007: 8), digunakan untuk mengangkat sel kulit mati, kotoran
dan membuka pori-pori sehingga pertukaran udara bebas dan kulit menjadi lebih
cerah dan putih (Nursiah, dkk., 2009: 1341).
Pada praktikum pembuatan lulur ini, kami menggunakan beberapa bahan di
antaranya adalah :
Trietanolamin (TEA)
Karakteristik berupa cairan kental bening atau berwarna kuning pucat, jernih, tidak
berbau atau hampir tidak berbau, bersifat higroskopis. Bahan ini mudah larut dalam
air, metanol dan aseton. Titik lebur antara 20-21°C. Bahan ini berfungsi sebagai
pengemulsi dan pengatur pH pada bahan berbentuk krim (Rowe., et al, 2009).
Aquades (Air suling)
Air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum. Pemerian cairan jernih,
tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. BM 18,02. Penyimpanan dalam
wadah tertutup baik. Aquades digunakan sebagai pelarut (Depkes RI, 1979).
Tepung beras
Bahan dasar pembuatan lulur tradisional adalah tepung beras. Tepung beras dapat
membantu meningkatkan produksi kolagen yang berfungsi untuk meningkatkan
elastisitas kulit. Kandungan yang terdapat pada tepung beras adalah gamma oryzanol.
Kandungan senyawa ini mampu memperbaharui pembentukan pigmen melanin,
sebagai antioksidan dan juga efektif menangkal sinar ultraviolet. Berdasarkan uji
laboratorium BPKI (Badan Peneliti dan Konsultasi Industri) gamma oryzanol yang
terkandung dalam tepung beras sebanyak 0,14%.
Metil paraben
Metil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 101,0 %
C8H8O3. Pemerian serbuk hablur halus, putih, hamper tidak berbau, tidak mempunyai
rasa. Jika didinginkan larutan tetap jernih. Suhu lebur 1250C sampai 1280C.
Kegunaan dan khasiat sebagai zat tambahan juga sebagai zat pengawet (Depkes RI,
1979).
Asam stearat
Asam stearat merupakan asam lemak jenuh yang digunakan untuk formulasi oral dan
topikal dalam sediaan farmasi. Asam stearat digunakan sebagai bahan pengemulsi
pada bahan berbentuk krim. Kelarutan mudah larut dalam benzena, kloroform, eter,
dan etanol 95% serta tidak larut dalam air (Rowe et al., 2009).
Propil paraben
Propil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 101,0 %
C10 H12O3. Mudah larut dalam larutan alkali hidroksida. Khasiat dan kegunaan
sebagai zat pengawet (Depkes RI, 1979).
Propilen glikol
Pemerian cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis,
higroskopik. Kelarutan dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P, dan dengan
kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan eter minyak
tanah P, dan dengan minyak lemak. Jarak didih pada suhu 1850C sampai 1890C
tersuling tidak kurang dari 95,0 % v/v. Khasiat dan kegunaan sebagai zat tambahan,
juga sebagai pelarut (Depkes RI, 1979).
Susu bubuk
Keunggulan dari susu bubuk adalah masa simpannya yang paling baik dibandingkan
dengan bentuk pengawetan susu yang lain, tidak membutuhkan pendinginan selama
penyimpanan dan transportasi. Kadar air lebih sedikit yaitu hanya seperdelapan berat
dan seperempat volume dari susu cair sehingga menghemat transportasi dan dapat
diaplikasikan pada semua produk akhir. Susu bubuk juga dapat sebagai pemberi
aroma dan rasa pada semua produk akhir yang dihasilkan (Town 2005).
Setil alkohol
Setil alkohol dalam krim digunakan sebagai bahan pengemulsi dan bahan pengeras
dalam sediaan topical (krim). Setil alkohol dapat meningkatkan viskositas krim dan
meningkatkan kestabilan sediaan pada emulsi minyak dalam air dengan
mengkombinasikannya dengan emulgator yang larut dalam air. Sebagai bahan
pengeras, konsentrasi umum yang digunakan adalah 2-10 % dan sebagai bahan
pengemulsi digunakan konsentrasi 2-5%. Bahan ini sangat mudah larut dalam etanol
95% dan eter. Kelarutannya akan meningkat jika suhunya dinaikkan. Titik
lelehnya adalah 45-52% (American Pharmaceutical Association, 2001).
VCO
VCO yaitu minyak yang diperoleh dari daging buah kelapa (Cocos nucifera L) tua
yang segar dan diproses dengan diperas dengan atau tanpa penambahan air, tanpa
pemanasan atau pemanasan tidak lebih dari 60oC dan aman dikonsusmsi manusia.
Apabila diamati dari definisi-definisi tersebut, maka suatu produk disebut virgin
apabila dalam proses pembuatannya tidak menggunakan proses pemurnian secara
kimiawi dan tidak secara tersirat menyebutkan tidak boleh menggunakan panas.
Minyak yang dihasilkan jernih tidak berwarna, sehingga akan lebih bagus kalau
digunakan sebagai bahan baku kosmetik, farmasi serta untuk lulur.
Proses Pembuatan Lulur Krim
Alat dan Bahan
Alat
a Spatula
b. Beaker glass
c. Pot plastic sebagai wadah
d. Waterbath
e. Hot Plate
f. Termometer
Bahan
a Tepung beras (12 g)
b.VCO (0,1,3,5,7)mL
c. Cetil alkohol (1 g) Fase Minyak
d. Propil paraben (0,1 g)
e. Asam stearat (3 g)
f. Propilen glikol (0,1 g)
g. Metil paraben (0,1 g) Fase Air
h. Aquadest (100 g)
i. TEA (0,5 ml)
j. Susu Bubuk (5 g)
Skema Kerja

VCO, Asam stearate, cetil Aquades


alkohol, minyak zaitun

Pemanasan hingga suhu 700C


Pemanasan hingga suhu 700C

+ Propilen glikol
+ Propil paraben + Metil paraben

Pengadukan hingga homogen

Pendinginan hingga suhu 600C

Pencampuran (fase air dituang dalam fase minyak)

Pencampuran dengan kecepatan lambat


hingga terbentuk lulur krim

+ tepung beras, susu bubuk, TEA

Lulur herbal

Gambar diagram alir proses pembuatan lulur krim


DAFTAR PUSTAKA

American Pharmaceutical Association, The National Professional Society of


Pharmacicts, The Final Report of the Task Force on Pharmacy education,
Washington DC.
Departemen Kesehatan RI. (1979). Farmakope Indonesia, Edisi III, Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.
Nursiah, dkk.,. 2009. Formulation of Cacao Bean (Theobroma cacao Lim) in Scrub
Cream. Jurnal Internasional
Putra, A. A. M. M. 2016. ‘Bauran Pemasaran Lulur Di UD. Sekar Jagat Denpasar’,
Skripsi.
Rowe, et al., (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients, sixth edition, The
Pharmaceutical Press, London
Tranggono, Retno Iswari dan Latifah, F. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan
Kosmetik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Town L. 2005. Milk Powder Manufacture. Di dalam Milk Powder Packing and Dry
Blending Handbook. New Zealand.