You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

Guru adalah profesi yang mempersiapkan sumber daya manusia untuk


menyongsong pembangunan bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Guru dengan
segala kemampuannya dan daya upayanya mempersiapkan pembelajaran bagi
peserta didiknya. Sehingga tidak salah jika kita menempatkan guru sebagai salah
satu kunci pembangunan bangsa menjadi bangsa yang maju dimasa yang akan
datang. Dapat dibayangkan jika guru tidak menempatkan fungsi sebagaimana
mestinya, bangsa dan negara ini akan tertinggal dalam kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang kian waktu tidak terbendung lagi perkembangannya.

Serangkaian masalah yang meliputi dunia kependidikan dewasa ini masih


perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Mulai dari kualitas tenaga pendidik
yang belum mencapai target hingga masalah kesejahteraan guru. Fakta di lapangan,
permasalahan jauh lebih kompleks dalam lingkungan pendidikan kita. Boleh
dikatakan tingkat kualitas dan kompetensi guru menjadi kendala utamanya, mulai
dari guru yang tidak memiliki kelayakan kompetensi untuk mengajar mata
pelajaran tertentu, hingga rendahnya tingkat profesionalisme guru itu sendiri.

Pemerintah pada 2 Desember 2004 telah mencanangkan guru sebagai


profesi. Artinya, guru saat ini dituntut bukan hanya sekadar pekerjaan datang-
mengajar lalu pulang. Tapi dituntut untuk mencapai serangkaian kualifikasi dalam
pencapaian mutu profesionalisme yang telah ditetapkan.

Guru yang profesional minimal memiliki kualifikasi pendidikan profesi


yang memadai, memiliki kompetensi keilmuan sesuai bidang yang ditekuninya,
memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didik, berjiwa kreatif
dan produktif, memiliki etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya serta
melakukan pengembangan diri yang terus-menerus. Guru sekarang diharapkan
beranjak dari metode lama yang hanya mengandalkan komunikasi satu arah, di
mana guru menjadi sentral pembelajaran menjadi pembelajaran dengan komunikasi
dua arah dengan murid yang menjadi fokus utama pembelajaran.

Guru yang ideal adalah guru yang terus-menerus berinovasi untuk meneliti
masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran. Kemudian mencari solusi dan
melakukan tindakan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Guru diharapkan terus

1
bereksperimen menemukan metode dan teknik pembelajaran yang cocok dan
efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Guru hendaknya terus membuka wawasan dan kreatif untuk membuat murid
bergairah dalam proses belajar dan bisa mengaplikasikan prinsip belajar
menyenangkan serta belajar yang tak terbatas ruang dan waktu. Belajar tidak lagi
diartikan guru menjelaskan, siswa menerima, dan dilakukan di ruang kelas. Namun
paradigma belajar bergeser menjadi proses penemuan pengetahuan yang dilakukan
oleh murid sebagai fokus utama pembelajaran dengan bantuan guru dalam
peranannya sebagai fasilitator dan pembimbing.

Untuk mencapai proses pembelajaran ideal yang menjadi tujuan dan arah
dalam pencapaian profesionalisme guru, fasilitas dan dukungan juga wajib menjadi
perhatian utama pemerintah. Dengan sekian banyak tuntutan dalam mencapai
keprofesionalannya, guru harus membuka diri terhadap pengetahuan dan wawasan
baru serta berupaya mengembangkan diri. Aktif dalam organisasi yang dapat
mengasah kompetensinya, mengikuti pelatihan yang meningkatkan mutu dan
kualitas, meningkatkan pengetahuan melalui buku, internet, seminar dan
semacamnya.

Semua guru pasti merasa senang saat diberi apresiasi sebagai GURU
PROFESIONAL. Berbagai usaha dilakukan agar pekerjaan ini diakui sebagai
sebuah profesi yang profesional. Usaha tersebut seperti melanjutkan pendidikan S1-
S2, mengikuti sertifikasi, sering mengikuti pelatihan lokal/nasional/internasional,
menulis buku/jurnal, memberi pelatihan dan lain sebagainya. Tapi apakah
profesionalisme hanya diukur melalui itu semua? Harus diakui bahwa semua hal
yang telah disebutkan di atas masih belum terlihat bukti di lapangan. Kadang
sebagai pendidik saya sering tergelitik melihat statusprofesionalisme identik
dengan naiknya gaji/tunjangan fungsional atau posisi struktural seorang guru di
tempat mengajar/administrasi pemerintah. Tidak mengherankan progres kualitas
pendidikan Indonesia sangat lambat.

Adapun tujuan dari pembuatan dan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :

a. Agar kita mengetahui makna professional dalam literature kita sebagai guru
yang memang dituntut untuk memiliki jiwa professional dalam pelaksanaan
pembelajaran.

2
b. Agar kita tahu beragam tantangan dalam profesi sebagai guru sekaligus
memberikan solusi terhadap tantangan itu.

3
BAB II

PROFESIONALITAS GURU, TANTANGAN DAN SOLUSI

Kemunculan masalah kultural/tradisi bertitik tolak dari permasalahan


waktu. Lamanya kondisi guru berada dalam ketidaksejahteraan telah membentuk
tradisi-tradisi yang terinternalisasi dalam kehidupan guru sampai sekarang.
Konkretnya, tradisi itu lebih mengacu pada ranah akademis.

Minimnya kesejahteraan guru telah menyebabkan konsentrasi guru terpecah


menjadi beberapa sisi. Di satu sisi seorang guru harus selalu menambah kapasitas
akademis pembelajaran dengan terus memperbarui dan berinovasi dengan media,
metode pembelajaran, dan kapasitas dirinya. Di sisi lain, sebagai efek demonstrasi
dari minimnya kesejahteraan, seorang guru dituntut memenuhi kesejahteraannya
secara berbarengan.

Dalam praktiknya, seorang guru sering kali lebih banyak berjibaku (baca:
berkonsentrasi) dengan usahanya dalam memenuhi kesejahteraan keluarga.
Akhirnya, seiring dengan perjalanan waktu, sisi-sisi peningkatan kualitas akademis
menjadi tersisihkan dan hal ini terus berlangsung sampai sekarang. Minimnya
kesejahteraan guru dalam jangka waktu lama telah menggiring budaya/tradisi
akademis menjadi terpinggirkan.

Permasalahan moral muncul hampir berbarengan dengan permasalahan


kultural. Hemat penulis, permasalahan moral ini bisa disamakan dengan
permasalahan watak dari guru itu sendiri. Akar masalahnya sama, muncul sebagai
efek demonstrasi dari minimnya kesejahteraan guru. Minimnya kesejahteran guru
secara tidak langsung telah menggiring guru-guru dalam ruang-ruang sempit
pragmatisme. Yang terbayang oleh seorang guru ketika melaksanakan proses
pendidikan adalah bagaimana seorang guru bisa dengan cepat menyelesaikan target
studi yang telah dirancang. Setelah itu guru bisa langsung beralih profesi sejenak
demi mendapatkan tambahan pendapatan karena kesejahteraannya minim.
Akhirnya, pendidikan yang seyogianya diselenggarakan melalui proses memadai
terabaikan. Hasil akhir menjadi target utama dibandingkan dengan proses yang
dilaksanakan. Inilah wujud nyata dari watak-watak pragmatis.

4
Permasalahan struktural lebih mengacu pada kondisi atau struktur sosial
seorang guru di luar proses pendidikan (baca: lingkungan sosial). Jika mengacu
pada sumber masalah, hal ini berasal dari minimnya kesejahteraan yang dimiliki
seorang guru. Minimnya tingkat kesejahteraan secara materialistis dari seorang
guru telah menyebabkan posisi sosial guru di masyarakat tersubordinasi. Mulyani
AN menyebut bahwa pendidikan di Indonesia secara kuantitatif dapat dikatakan
telah mengalami kemajuan. Indikatornya dapat dilihat pada kemampuan baca tulis
masyarakat yang mencapai 67.24%. [1]

Terkait dengan guru, secara umum tantangan yang dihadapi guru di era
globalisasi dan multicultural ini adalah bagaimana pendidikan mampu mendidik
dan menghasilkan siswa yang memiliki daya saing tinggi (qualified), atau justru
malah “mandul” dalam menghadapi gempuran berbagai kemajuan yang penuh
dengan kompetensi dalam berbagai sector, mampu menghadapi tantangan di bidang
politik dan ekonomi, mampu melakukan risett secara koperhensif di era reformasi
serta mampu membangun kualitas kehidupan sumber daya manusia. Di samping
itu, dilihat dari segi aktualisasinya pendidikan merupakan proses interaksi antara
guru (pendidik) dengan siswa (peserta didik) untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan yang telah ditentukan. Guru, siswa dan tujuan pendidikan merupakan
komponen utama pendidikan. Ketiganya membentuk triangle, yang jika hilang
salah satunya, maka hilang pulalah hakikat pendidikan. Namun demikian, dalam
situasi tertentu tugas guru dapat dibantu oleh unsur lain, seperti media teknologi
tetapi tidak dapat digantikan. Oleh karena itulah, tugas guru sebagai pelaku utama
pendidikan merupakan pendidik professional. [2] Peranan guru sebagai pendidik
profesional akhir-akhir ini mulai dipertanyakan eksistensinya secara fungsional
karena munculnya fenomena para lulusan pendidikan yang secara moral cenderung
merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap untuk memasuki
lapangan kerja atau bahkan dalam bersaing untuk memasuki dunia pendidikan
tinggi. Jika fenomena ini dijadikan tolok ukur, maka peranan guru sebagai pendidik
profesional baik langsung maupun tidak langsung menjadi dipertanyakan.

Semua tantangan itu mengharuskan adanya SDM yang berkualitas dan


berdaya saing tinggi secara komperhensif dan kooperatif yang berwawasan
keunggulan, keahlian professional, berpandangan jauh ke depan (visioner), rasa
percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan yang memadai
sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar bebas. Selain tantangan tersebut, tersedia

5
juga peluang atau kesempatan untuk merevitalisasi berbagai komponen yang
terdapat dalam pepndidikan agar sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman.

Posisi sosial guru menjadi terkesan lebih rendah daripada masyarakat lain
yang berprofesi bukan guru, katakanlah itu seorang konsultan, manajer, pengacara,
dan lainnya. Padahal, seperti kita ketahui, secara hakikat, profesi yang digeluti
seseorang adalah sama, tidak saling menyubordinasi. "Inferiority complex"

Yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam hal ini adalah efek dari
subordinasi sosial tersebut. Efek tersebut adalah perasaan rendah diri dari seorang
guru, atau dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer sebagai inferiority complex. Bagi
seorang guru, perasaan rendah diri seperti ini merupakan hal yang harus dihindari.
Fungsi guru sebagai pentransformasi sosial kepada peserta didik memerlukan
kepercayaan diri yang besar. Bukan tidak mungkin perasaan-perasaan rendah diri
tersebut akan menular kepada peserta didik. Hal ini tentu saja sangat berbahaya.

Simpulan sederhana dari ketiga masalah tersebut adalah bahwa akar


permasalahan guru kontemporer adalah tingkat kesejahteraan. Minimnya tingkat
kesejahteraan guru menjadi permasalahan pokok. Di luar kontroversi tentang UU
Guru dan Dosen tersebut, kita mendapatkan pembenaran dari UU Guru dan Dosen
tersebut, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

Lima tahun pascapengesahan UU Guru dan Dosen merupakan masa transisi


menuju profesionalisme guru seutuhnya. Oleh karena itu, dalam konteks menuju
profesionalisme guru seutuhnya tersebut, masalah-masalah di atas seyogianya
diposisikan sebagai sebuah tantangan yang harus segera dijawab.

Guru sebagai profesi merupakan pekerjaan atau karir yang bersifat


pelayanan bantuan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk
kebahagiaan pengguna berdasarkan norma yang berlaku. Kekuatan dan eksistensi
profesi muncul sebagai akibat interaksi timbal balik antara kinerja tenaga
profesional dengan kepercayaan publik (public trust). Studi tentang mutu
pendidikan dasar di Indonesia menunjukkan bahwa mutu pendidikan yang lebih
tinggi di daerah perkotaan ditandai dengan lebih besarnya efek faktor luar sekolah
dibandingkan dengan faktor sekolah, sedangkan di pedesaan mutu pendidikannya
cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor sekolah. [3]

Masyarakat percaya pelayanan yang diperlukannya itu hanya dapat


diperoleh dari orang yang dipersepsikan sebagai seorang guru yang berkompeten

6
untuk memberikan pelayanan yang dimaksudkan. Kepercayaan publik akan
mempengaruhi konsep profesi dan memungkinkan anggota profesi berfungsi
dengan cara-cara profesional.

Alih-alih menurun, sejak kini hingga masa depan tantangan profesi


keguruan semakin meningkat. Dalam Mengangkat Citra dan Martabat Guru (Dedi
Supriadi, 1999:73-74) mengangkat suatu tantangan yang harus siap dihadapi guru
dan pada saat yang sama harus dicarikan solusinya oleh berbagai pihak terkait
(birokrasi dan organisasi kependidikan). Salah satunya berkaitan dengan masalah
ekologi profesi bagi guru. Pekerjaan guru (mendidik) yang mulia dan seharusnya
menyenangkan, seringkali malah menjadi sumber ketegangan lantaran iklim dan
kondisi kerja yang terlalu sarat dengan beban tugas-tugas birokrasi, beban sosial-
ekonomi dan tantangan kemajuan karir yang terkait erat dengan jaminan hak-hak
kesejahteraan guru.

Dalam hal beban birokrasi, guru harus berhadapan dengan pekerjaan-


pekerjaan rutin administrasi yang bukan tugas-tugas profesional. Beban sosial
antara lain terkait dengan tuntutan masyarakat yang masih memandang bahwa guru
adalah sosok manusia serba tahu dan serba bisa. Tidak sedikit orangtua yang
memiliki tuntutan yang melampaui kemampuan guru agar anak mereka menjadi
serba bisa sebagaimana yang diharapkan. Selain itu, kondisi objektif di lapangan
sangat mungkin guru menghadapi pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan,
informasi, dan teknologi -termasuk masalah kependidikan, yang menuntut dirinya
harus lebih profesional dan bahkan siap 'bersaing' dengan peserta didik dalam hal
itu. Beban-beban yang sudah berat itu, makin menjadi kompleks manakala guru
(SD) -terutama yang hidup dikota - juga harus berjuang meningkatkan kemampuan
finansial dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang memang masih jauh
dapat dipenuhi dengan gaji mereka. Kondisi semua ini, dapat diprediksi kuat akan
sangat berpengaruh timbal balik terhadap profil psikologis guru.

Profesi guru dewasa ini sangat jauh berbeda profesi guru zaman
kemerdekaan sampai tahun 1906-an atau bahkan 1970-an. Mengapa? dulu orang
ditawari untuk menjadi guru atau bahkan mau diangkat menjadi PNS dia lebih
memilih kata “tidak”. Entah kenapa? mungkin yang jelas, dan semoga jawaban ini
salah gaji saat itu masih terbilang sangat minim (rendah). Bahkan terkadang dia
mencibir dengan kata-kata yang kurang mengenakkan. “Ah … lebih baik narik
becak atau cari pekerjaan lain”.

7
Demikian katanya. Juga kata-kata yang sinistik lainnya. figur seorang guru
hanya diukur dengan rupiah.Guru mendapat penilaian termasuk golongan kelas
bawah. Bukan dinilai vigur yang mulia yang biasa menjadi salah satu penentu maju
mundurnya suatu bangsa.Karena bagaimanapun Sumber Daya Manusia (SDM)
sanat diperlukan bagi suatu bangsa atau Negara. Dan gurulah yang bias mewarnai
anak bangsa untuk menjadi individu yang berkualitas, siap baik lahir maupun
batin.Pemberian transfer ilmu pengetahuan, pendidkan ketrampilan dan lain-lain
diberikan guru dengan tanpa pamrih untuk kebaikan dan keberhasilan anak
didiknya. [4]

Lain halnya dengan profesi guru dewasa ini. Sejak pemerintah sudah mulai
ada perhatian khusus di dunia pendidikan. Bantuan-bantuan untuk operasional,
gedung, sarana prasarana dengan berbagai macam bantuan kebutuhan pendidikan.
Termasuk bantuan untuk guru itu sendiri baik yang berbentuk insentif, kesra
tunjangan fungsional dan tunjangan profesi. Guru
sepertinya “dininabobokkan” dan “dimaja”. Sehingga profesi guru sekarang ini
menjadi tarjet rebutan manyarakat Indonesia. Sehingga banyak mayarakat yang
tadinya enggan untuk kuliah lagi, mereka giat penuh semangat melanjutkan kuliah
walaupun setangah dipaksakan. Ada yang mengambil D II, ada yang dari D II
transfer melanjutkan S 1 –nya dan ada pula yang mengambil akta-IV. Dengan
harapan mereka bias mengambil celah masuk menjadi tenaga pendidikan yang titik
kulminasinya adalah “PNS”. Wacana ini mungkin saja tidak sepenuhnya benar.
Karena masih banyak kita jumpai guru-guru dipedesaan, pinggiran ataupun
pedalaman dengan gaji yang pas-pasanatau bahkan sangat minim namun mereka
jalani dengan penuh kesabaran dan ketelatenan serta punya etos dan dedikasi
sebagai pendidik tanpa pengaruh oleh berbagai berita yang berkembang di dunia
pendidikan Indonesia.

Era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam


konteks ini, Khaerudin Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan
pendidikan menghadapi ufuk globalisasi.

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana


meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan
ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan
berkelanjutan (continuing development).

8
Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap
terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat
tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi,
serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas
kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu


meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang
berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.

Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di


bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan
ekonomi.

Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan


berdaya saing di bidang-bidang tersebut secara komprehensif dan komparatif yang
berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan
(visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan
yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar.[5] Beberapa modal maya
yang sangat diperlukan untuk mewujudkan kesejahteraan hidup guru adalah modal
intelektual, modal sosial, kredibilitas dan semangat.[6]

Menurut Arief Rahman (2002), setidaknya ada sembilan titik lemah dalam
aplikasi sistem pendidikan di Indonesia:

1. Titik berat pendidikan pada aspek kognitif

2. Pola evaluasi yang meninggalkan pola pikir kreatif, imajinatif, dan inovatif

3. Sistem pendidikan yang bergeser (tereduksi) ke pengajaran

4. Kurangnya pembinaan minat belajar pada siswa

5. Kultur mengejar gelar (title) atau budaya mengejar kertas (ijazah).

6. Praktik dan teori kurang berimbang

7. Tidak melibatkan semua stake holder, masyarakat, institusi pendidikan,

dan pemerintah

8. Profesi guru/ustadz sekedar profesi ilmiah, bukan kemanusiaan

9
9. Problem nasional yang multidimensional dan lemahnya political will
pemerintah.[7]

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, terjadinya revolusi


teknologi informasi merupakan sebuah tantangan yang harus mampu dipecahkan
secara mendesak. Adanya perkembangan teknologi informasi yang demikian akan
mengubah pola hubungan guru-murid, teknologi instruksional dan sistem
pendidikan secara keseluruhan. Kemampuan guru dituntut untuk menyesuaikan hal
demikian itu. Adanya revolusi informasi harus dapat dimanfaatkan oleh bidang
pendidikan sebagai alat mencapai tujuannya dan bukan sebaliknya justru menjadi
penghambat.

Untuk itu, perlu didukung oleh suatu kehendak dan etika yang dilandasi oleh
ilmu pendidikan dengan dukungan berbagai pengalaman para praktisi pendidikan
di lapangan. Perkembangan teknologi (terutama teknologi informasi) menyebabkan
peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai bergeser. Sekolah tidak
lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak
lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran guru juga tidak akan menjadi satu-
satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang
mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. [8]

Guru, sebuah profesi yang semangatnya sudah tercabik-cabik oleh


perjalanan panjang sejarah bangsa. Kadangkala mereka dipuja dengan gelar
“pahlawan tanpa tanda jasa” Guru-pun agak tersanjung meski gaji tidak juga
kunjung naik karena mereka bukanlah pengatur buget negara. Ketika Rezim
berganti, gelarpun diganti “Pahlawan tanpa pamrih “guru-pun tersenyum karena
memang mereka dihargai tanpa pamrih, sementara disana korupsi semakin
menjadi-jadi. Sekali lagi itulah potret guru masa lalu, namun saat ini seiring dengan
perjalanan sejarah semua itu telah berubah.

Saat ini diera reformasi, dalam usia yang begitu tua dan matang Guru
sedang memasuki momentum yang baru dimana berbagai kebijakan pemerintah
lahir yang semuanya mengarah kepada Guru sebagai Profesi yang bermartabat baik
secara Norma (Nilai) maupun peningkatan kesejahteraan (Renumerasi).
Diantaranya adalah lahirnya UU. Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan
Nasional, UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan Dosen dimana Guru dan
Dosen mempunyai kedudukan yang strategis dalam pembangunan Nasional dalam

10
bidang pendidikan perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.
Peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan
yang mencakup: isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan,
sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaaan dan penilaian pendidikan. Sedangkan
peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 18 tahun 2007 Tentang sertivikasi
Guru dalam jabatan yang ditetapkan dengan memperhatikan surat menteri hukum
dan HAM nomor I.UM.01.02-253 tanggal 23 maret 2007 tentang fatwa hukum,
dimana sertifikasi Guru dilaksanakan melalui uji Kompetensi untuk memperoleh
sertifikat pendidik Yang dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio. Bagi Guru
PNS daerah, PNS pusat atau non PNS yang telah lulus sertifikasi akan diberi nomor
registrasi Guru dan melaksanakan beban kerja Guru sekurang-kurangnya 24 jam
tatap muka dalam satu minggu berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar satu
kali gaji pokok.

Inilah bentuk Renumerasi pemerintah terhadap peningkatan kesejahtraan


Guru. Akibat dari semua itu Guru mesti berbenah diri karena renumerasi tersebut
harus seiring dengan tuntutan masyarakat untuk mendapatkan mutu pendidikan
yang berkwalitas.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka Drs. H. Imam Pramudia,
M.Pd (pada Talk opening MGMP SMK) mengungkapkan bahwa kedepan Guru
harus menjadi corong perubahan dalam dunia pendidikan oleh karena itu guru harus
memiliki Kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kalau kita merujuk kepada Peraturan pemerintah nomor 19 / 2005 tentang


standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 setidaknya Guru harus mempunyai 4
kompetensi yang meliputi: Kompetensi Paedagogik, kompetensi personal,
kompetensi profesional dan kompetensi Sosial. [9]

Guru adalah suatu profesi yang bermartabat, oleh karena itu perlu didukung
oleh pelayanan yang tepat dan bermanfaat, pelaksana yang bermandat, dan
pengakuan yang sehat dari berbagai pihak yang terkait. Untuk dapat melaksanakan
profesinya guru harus memiliki visi dan misi mendalam dalam bidang profesinya,
dapat melakukan aksi pelayanan secara tepat dan akurat, disertai dedikasi yang
tinggi untuk kepentingan pengguna.

Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan
keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di

11
luar bidang pendidikan. Jadi, guru adalah orang dewasa yang secara sadar
bertangung jawab dalam mendidik, mengajar dan membimbing peserta didik.
Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang
program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik
dapat belajar, memahami dan mengamalkan ilmunya sesuai dengan nilai-nilai
ajaran Islam. Peningkatan mutu pendidikan Islami sangat ditentukan oleh kualitas
pengetahuan dan keterampilan serta kualitas kehadiran guru dalam proses belajar
mengajar.

Salah satu aspek penting dalam reorientasi pengembangan profesionalitas


guru di sini adalah terletak pada kemampuannya meningkatkan modal intelektual,
modal sosial, kredibilitas dan semangatnya dalam mengemban tugas sebagai guru.
Ada tiga tugas utama guru, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan
dan tugas dalam bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi
mendidik dalam arti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar
dalam arti meneruskan dan mengembangkan IPTEK, sedangkan melatih berarti
mengembangkan keterampilan pada peserta didik. Tugas guru dalam bidang
kemanusiaan meliputi bahwa di sekolah harus dapat menjadi orang tua kedua, dapat
memahami peserta didik dengan tugas perkembangannya mulai dari sebagai
makhluk bermain (homoludens), sebagai makhluk remaja/berkarya (homopither),
dan sebagai makhluk berpikir/dewasa (homosapiens). Guru juga bertugas
membantu peserta didik dalam menstransformasikan dirinya sebagai upaya
pembentukan sikap dan mengidentifikasikan diri sebagai peserta didik.

12
KESIMPULAN

Permasalah guru harus diselesaikan secara komprehensif yang menyangkut


dengan semua aspek yang terkait, yaitu aspek kualifikasi, kualitas, pembinaan,
training profesi, perlindungan profesi, manajemen, kesejahteraan guru, dan
tersedianya fasilitas yang memadai. Sungguh berat tugas guru, tetapi penghargaan
pada profesi guru kurang optimal, tetapi para guru selalu dinilai kinerjanya rendah
dan kurang optimal. Perlu ada perhatian yang serius kepada para guru, yaitu mereka
harus selalu mendapatkan pelatihan dalam bidang pengetahuan dan keterampilan
baru yang diperlukan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Perlu ada
sistem peningkatan pengetahuan bagi guru secara tersistem dan berkelanjutan atau
ada inservice training yang baik bagi para guru. Para guru harus siap untuk
mempebaiki dan meningkatkan mutu kinerjanya agar memiliki kompetensi yang
optimal dalam usaha membimbing siswa agar siap menghadapi kenyataan hidup
[the real life] dan bahkan mampu memberikan contoh tauladan bagi siswa,
memiliki pribadi dan penampilan yang menarik, mengesankan dan menjadi
dambaan setiap orang.

Rencana pemerintah untuk melakukan sertifikasi guru perlu dihargai


sebagai wujud perhatian terhadap nasib guru yang terpinggirkan. Tetapi,
pemerintah harus mengikutsertakan guru-guru atau tenaga kependidikan sebagai
variabel penting dalam ”badan independen sertifikasi guru” tersebut dan badan
tersebut tetap berada dalam Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan [LPTK]
atau pemerintah tidak perlu membentuk badan baru untuk melakukan sertifikasi
tetapi akan lebih baik jika Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan [LPTK] atau
universitas keguruan eks IKIP diberdayakan untuk melakukan sertifikasi guru.
Lembaga-lembaga kependidikan yang menyelenggarakan program Akta IV sebagai
upaya untuk sertifikasi guru, perlu ditingkatkan kualitasnya baik dari sisi
profesional penyelenggaraan, kurikulum, metode pembelajaran, sistem peneilaian
dan manajemennya, sehingga memiliki ”kualifikasi” untuk dapat mendidik para
calon guru yang profesional.

13
DAFTAR REFERENSI

Ace Suryadi dan Wiana Mulyana, (1992), Kerangka Konseptual Mutu Pendidikan
dan Pembinaan Kemampuan Profesional Guru, Bandung: Candimas Metropole
Kurniawan, Khaerudin, “Arah Pendidikan Nasional Memasuki Milenium Ketiga”,
Suara Pembaharuan, Januari 1999.
Mulyani A.N., (1999), Pokok-Pokok Pikiran mengenai Implikasi Pelaksanaan UU
No. 22 dan 25 Tahun 1999, Makalah disajikan pada Semiloka di UNJ pada
tanggal 3 November 1999 di UNJ Jakarta.
Nana Syaodih Sukmadinata, (1997), Pengembangan Kurikulum Teori dan
Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya
Arief, Kualitas Pendidikan Harus Dimaksimalkan, Media Indonesia, 30 Mei 2002
Rahman, Editor, (2006), Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan
Mutu Pendidikan, Jatonangor Bandung: Alqaprint Jatinangor
http://www.bekasinews.com/berita/opini/1051-guru-antara-renumerasi-dan-
profesionalisme.html
Sumber: Harian Kompas, Kamis 22 Januari 2009
http://gemapendidikan.com/2010/05/antara-harapan-dan-tantangan/
http://www.fendy-science.co.cc/2010/11/profesi-guru.html

[1] Mulyani A.N., (1999), Pokok-Pokok Pikiran mengenai Implikasi Pelaksanaan


UU No. 22 dan 25 Tahun 1999, Makalah disajikan pada Semiloka di UNJ pada
tanggal 3 November 1999 di UNJ Jakarta.
[2] Nana Syaodih Sukmadinata, (1997), Pengembangan Kurikulum Teori dan
Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 191.
[3] Ace Suryadi dan Wiana Mulyana, (1992), Kerangka Konseptual Mutu
Pendidikan dan Pembinaan Kemampuan Profesional Guru, Bandung: Candimas
Metropole, hal. 1.
[4] http://gemapendidikan.com/2010/05/antara-harapan-dan-tantangan/
[5] Kurniawan, Khaerudin, “Arah Pendidikan Nasional Memasuki Milenium
Ketiga”, Suara Pembaharuan, Januari 1999. Hal 43
Rahman, Editor, (2006), Rahman, Editor, (2006), Peran Strategis Kepala Sekolah
dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan, Jatonangor Bandung: Alqaprint
Jatinangorhal. Hal 3.
[7] Rachman, Arief, Kualitas Pendidikan Harus Dimaksimalkan, Media
Indonesia, 30 Mei 2002. Hal 24
[8] http://www.fendy-science.co.cc/2010/11/profesi-guru.html

14
[9] http://www.bekasinews.com/berita/opini/1051-guru-antara-renumerasi-dan-
profesionalisme.html
[10] Rahman, Editor, (2006), Peran Strategis Kepala Sekolah dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan, Jatonangor Bandung: Alqaprint Jatinangor, hal.
2.

15